Forwarded from Surabaya Mengaji
DOA DIBERIKKAN TEMPAT TERBAIK
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah
Berdoalah,”Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat} pada tempat {yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”
Dikutip dari : https://tafsirweb.com/5921-surat-al-muminun-ayat-29.html
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah
Berdoalah,”Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat} pada tempat {yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”
Dikutip dari : https://tafsirweb.com/5921-surat-al-muminun-ayat-29.html
Forwarded from Hery Setyawan
Cinta atau Sekadar Rasa? Ini Ukurannya…
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman:
(1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya,
(2) ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan
(3) ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilempar ke dalam neraka.”
(HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43)
Cinta dalam Islam bukan sekadar rasa yang membuat hati nyaman, tetapi ikatan yang mengarahkan kepada iman dan ketaatan. Ukuran cinta yang benar adalah ketika Allah dan Rasul-Nya lebih didahulukan daripada siapa pun dan apa pun. Dari sinilah cinta menjadi ibadah, bukan sekadar perasaan.
Mencintai seseorang karena Allah berarti menjadikan hubungan itu bersih dari maksiat, saling menguatkan dalam kebaikan, dan sama-sama berjalan menuju ridha-Nya. Bukan cinta yang menuntut pelanggaran, bukan pula yang menjauhkan dari ketaatan.
Dan tanda kuatnya cinta kepada Allah adalah ketika seseorang sangat membenci kekufuran dan kemaksiatan, sebagaimana ia takut dilempar ke dalam api neraka. Hatinya tidak lagi nyaman dengan dosa, karena cintanya telah terikat dengan keselamatan akhirat.
Maka, jangan tertipu oleh rasa yang hanya indah di awal, namun menjauhkan dari Allah di akhir. Ukur cintamu… apakah ia mendekatkan kepada-Nya, atau justru menjauhkan darinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman:
(1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya,
(2) ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan
(3) ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilempar ke dalam neraka.”
(HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43)
Cinta dalam Islam bukan sekadar rasa yang membuat hati nyaman, tetapi ikatan yang mengarahkan kepada iman dan ketaatan. Ukuran cinta yang benar adalah ketika Allah dan Rasul-Nya lebih didahulukan daripada siapa pun dan apa pun. Dari sinilah cinta menjadi ibadah, bukan sekadar perasaan.
Mencintai seseorang karena Allah berarti menjadikan hubungan itu bersih dari maksiat, saling menguatkan dalam kebaikan, dan sama-sama berjalan menuju ridha-Nya. Bukan cinta yang menuntut pelanggaran, bukan pula yang menjauhkan dari ketaatan.
Dan tanda kuatnya cinta kepada Allah adalah ketika seseorang sangat membenci kekufuran dan kemaksiatan, sebagaimana ia takut dilempar ke dalam api neraka. Hatinya tidak lagi nyaman dengan dosa, karena cintanya telah terikat dengan keselamatan akhirat.
Maka, jangan tertipu oleh rasa yang hanya indah di awal, namun menjauhkan dari Allah di akhir. Ukur cintamu… apakah ia mendekatkan kepada-Nya, atau justru menjauhkan darinya.