Pratisarā via @AnoMessBot
Kita adalah dua insan yang tidak saling mengenal. Maka dari itu, berbincang hangat denganku disini jika kau butuh sesuatu secara rahasia.
Separuh logika, separuh luka. Sang penyair tinggal di antara jeda dan makna. Kalimatnya tak butuh dibalas, ia hanya perlu dipahami.
Ada hal-hal yang tak bisa diperdebatkan dengan kata. Seperti kesetiaan, kehilangan, atau bagaimana cahaya jatuh di antara dua bayangan. Ia menulis bukan untuk menjelaskan, tapi untuk bertahan.
"Aku belajar bahwa diam bukan berarti tak tahu, hanya sedang memilih untuk tidak ikut bising."
Ada hal-hal yang tak bisa diperdebatkan dengan kata. Seperti kesetiaan, kehilangan, atau bagaimana cahaya jatuh di antara dua bayangan. Ia menulis bukan untuk menjelaskan, tapi untuk bertahan.
Dalam Diam yang Tak Pernah Hampa.
Ini bukan sekadar kumpulan foto—
melainkan serpihan waktu yang sunyi, namun mengendap dalam ingatan.
Di tengah riuh tawa dan hari-hari yang melaju cepat, ia hadir dengan cara yang berbeda: lewat tatapan yang tajam, humor yang halus, dan ketenangan yang berbicara lebih nyaring dari kata-kata.
Inilah anyaman kenangan, saat ia tak selalu di garis depan—
namun selalu nyata, selalu ada.
Forwarded from EVEN/MISSTESP'S 1,00, 'Were really just redirections have | lose all that hoped thought wanted order Un-Earth.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Ia lahir tanpa janji,
tanpa sorak langit.
Sinarnya retak, letupannya kacau,
seolah semesta ragu menerimanya.
Ia tak berani bermimpi menjadi besar.
Di antara cahaya yang menyala,
ia memilih diam,
menyusut agar tak mengganggu gelap.
Ia gagal menjaga dirinya utuh.
Rapuh seperti air dangkal,
bergetar oleh hujan kecil
yang bahkan tak berniat melukai.
Ia tak pernah melawan hujan,
tak menyalahkan matahari
saat dirinya menguap oleh terang.
Ia hanya setia pada satu kebiasaan;
menyalahkan dirinya sendiri.
Mengapa tak sekuat badai,
sedalam lautan,
seindah pelangi?
Pertanyaan-pertanyaan itu–
lagi-lagi tak pernah menemukan jalan pulang.
Dan tetap saja, ia hangat.
Dalam keterbatasannya,
ia menyentuh planet-planet sunyi,
menghidupkan dunia kecil
yang tak pernah memujinya.
Semesta tau, meski tak pernah mengaku terang.
Jika saja tanpa bintang kecil itu,
beberapa kehidupan tak akan ada.
Namun ia sendiri tak pernah percaya.
Baginya, ia tetap bintang kecil.
Terlalu lelah untuk menyala lebih jauh,
bersinar pelan, cukup untuk dirinya sendiri.
tanpa sorak langit.
Sinarnya retak, letupannya kacau,
seolah semesta ragu menerimanya.
Ia tak berani bermimpi menjadi besar.
Di antara cahaya yang menyala,
ia memilih diam,
menyusut agar tak mengganggu gelap.
Ia gagal menjaga dirinya utuh.
Rapuh seperti air dangkal,
bergetar oleh hujan kecil
yang bahkan tak berniat melukai.
Ia tak pernah melawan hujan,
tak menyalahkan matahari
saat dirinya menguap oleh terang.
Ia hanya setia pada satu kebiasaan;
menyalahkan dirinya sendiri.
Mengapa tak sekuat badai,
sedalam lautan,
seindah pelangi?
Pertanyaan-pertanyaan itu–
lagi-lagi tak pernah menemukan jalan pulang.
Dan tetap saja, ia hangat.
Dalam keterbatasannya,
ia menyentuh planet-planet sunyi,
menghidupkan dunia kecil
yang tak pernah memujinya.
Semesta tau, meski tak pernah mengaku terang.
Jika saja tanpa bintang kecil itu,
beberapa kehidupan tak akan ada.
Namun ia sendiri tak pernah percaya.
Baginya, ia tetap bintang kecil.
Terlalu lelah untuk menyala lebih jauh,
bersinar pelan, cukup untuk dirinya sendiri.
Terang yang dulu begitu hangat
kini meredup perlahan,
bukan karena kehilangan arah,
melainkan lelah menjaga cahaya
terlalu lama.
Masing-masing menyimpan letihnya sendiri,
membawa beban yang tak seluruhnya terucap.
Sesekali saling menghangatkan,
sesekali hanya mampu diam
di bawah langit yang sama.
Ada jarak yang belum dapat ditempuh,
ada waktu yang belum berpihak.
Maka harapan mereka sederhana;
sebuah jeda yang tenang,
tempat cahaya dapat beristirahat
tanpa takut padam.
Dan semesta mengerti.
Sebab yang meredup tak selalu berarti mati.
Kadang terang hanya sedang mengumpulkan dirinya kembali,
agar suatu hari nanti
dapat bersinar seperti sedia kala.
Untuk sementara,
biarlah sepasang cahaya itu beristirahat.
Dunia kecil yang mereka hangatkan
akan menunggu.
kini meredup perlahan,
bukan karena kehilangan arah,
melainkan lelah menjaga cahaya
terlalu lama.
Masing-masing menyimpan letihnya sendiri,
membawa beban yang tak seluruhnya terucap.
Sesekali saling menghangatkan,
sesekali hanya mampu diam
di bawah langit yang sama.
Ada jarak yang belum dapat ditempuh,
ada waktu yang belum berpihak.
Maka harapan mereka sederhana;
sebuah jeda yang tenang,
tempat cahaya dapat beristirahat
tanpa takut padam.
Dan semesta mengerti.
Sebab yang meredup tak selalu berarti mati.
Kadang terang hanya sedang mengumpulkan dirinya kembali,
agar suatu hari nanti
dapat bersinar seperti sedia kala.
Untuk sementara,
biarlah sepasang cahaya itu beristirahat.
Dunia kecil yang mereka hangatkan
akan menunggu.