Salafy Bandung
6.17K subscribers
2.91K photos
156 videos
160 files
4.95K links
Website resmi:
www.SalafyBandung.com

Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Download Telegram
to view and join the conversation
Al Haq Bagaikan Emas Murni
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
MENIKAHLAH!
(Sebab Jernihnya Pikiran)

Asy-Syaikh Munir As-Si'dy hafizhahullah

Rubrik: #faidah_umum_04


↘️ Gabung Dan Bagikan:

📚 WhatsApp Salafy Bandung 1
https://chat.whatsapp.com/IJTQfV0qJDQ8jPkNg8jvcx
(khusus laki-laki/pria)

📚 WhatsApp Salafy Bandung 2
https://chat.whatsapp.com/CY6IXGceBtX5buGAv6GYML
(khusus laki-laki/pria)

🌎 Telegram:
https://t.me/SalafyBandung

📡 Website:
www.SalafyBandung.com

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Berpaling dari Bimbingan Ulama Salaf
Al Haq Bagaikan Emas Murni
Agar Umat Bersatu dan Tidak Berseteru
PENYIMPANGAN AQIDAH DAN METODE UNTUK SELAMAT DARINYA

Rubrik : #serial_aqidah_05

Artikel sebelumnya:
https://t.me/SalafyBandung/9524

Penyimpangan dari aqidah yang benar merupakan suatu kebinasaan dan kerugian, karena aqidah yang benar adalah stimulus yang kuat untuk amalan yang bermanfaat.

Seseorang yang tidak memiliki aqidah yang benar akan menjadi korban angan-angan dan keraguan yang bisa jadi angan-angan dan keraguan tersebut akan semakin menumpuk padanya.

Akibatnya penglihatan yang benar menjadi tertutupi dari jalan menuju kehidupan yang bahagia, sampai-sampai kehidupan terasa semakin sempit baginya, kemudian diapun berusaha untuk menghilangkan kesempitan ini dengan mengakhiri hidupnya walaupun dengan bunuh diri sebagaimana realitas yang terjadi dari kebanyakan orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar.

Masyarakat yang tidak terbimbing oleh aqidah yang benar maka mereka adalah masyarakat yang bahiimi (seperti hewan), telah hilang darinya seluruh elemen kehidupan bahagia, walaupun memiliki banyak harta, justru kebanyakannya mengantarkan kepada kehancuran.

Sebagaimana hal ini bisa disaksikan pada orang-orang kafir dikarenakan elemen kehidupan berupa materi butuh kepada arahan dan bimbingan, agar dapat memperoleh manfaat dari kekhususan dan manfaatnya. Maka tidak ada arahan yang terbaik kecuali aqidah yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ياأيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّباتِ واعْمَلُوا صالِحًا﴾ [المؤمنون ٥١]

"Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik dan beramal salehlah kalian." (QS. Al Mu'minun :51)

Allah Ta'ala juga berfirman :

﴿ولَقَدْ آتَيْنا داوُدَ مِنّا فَضْلًا ياجِبالُ أوِّبِي مَعَهُ والطَّيْرَ وألَنّا لَهُ الحَدِيدَ أنِ اعْمَلْ سابِغاتٍ وقَدِّرْ فِي السَّرْدِ واعْمَلُوا صالِحًا إنِّي بِما تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ولِسُلَيْمانَ الرِّيحَ غُدُوُّها شَهْرٌ ورَواحُها شَهْرٌ وأسَلْنا لَهُ عَيْنَ القِطْرِ ومِنَ الجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإذْنِ رَبِّهِ ومَن يَزِغْ مِنهُمْ عَنْ أمْرِنا نُذِقْهُ مِن عَذابِ السَّعِيرِ يَعْمَلُونَ لَهُ ما يَشاءُ مِن مَحارِيبَ وتَماثِيلَ وجِفانٍ كالجَوابِ وقُدُورٍ راسِياتٍ اعْمَلُوا آلَ داوُدَ شُكْرًا وقَلِيلٌ مِن عِبادِيَ الشَّكُورُ﴾ [سبأ ١٠- ١٣].

"Dan sungguh telah kami berikan kepada Dawud karunia dari kami,(kami berfirman) "wahai gunung-gunung dan burung-burung bertasbihlah berulang ulang bersama daud dan kami telah melunakkan besi untuknya. Yaitu buatlah baju besi yang besar besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah kebajikan, sungguh Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan kami tundukan (angin) bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanannya sebulan pula, dan kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja dihadapannya (dibawah kekuasan-Nya) dengan izin _Rabb_nya. Dan siapa yang menyimpang diantara mereka dari perintah Kami, kami rasakan kepadanya adzab neraka yang apinya menyala nyala. Mereka para jin itu berkerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya diantara ya gedung gedung yang tinggi, patung patung, piring piring yang besarnya seperti kolam dan periuk periuk yang tetap berada diatas tungku. Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada-Nya. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba : 10-13)

Akidah yang kokoh tidak boleh dilepaskan dari kekuatan finansial (material). Jika Anda melepasnya dengan menyimpang kepada akidah yang bathil, maka kekuatan finansial akan berubah menjadi sarana kehancuran dan kemunduran. Sebagaimana dapat disaksikan saat ini di negara-negara kafir yang mereka memiliki finansial (yang banyak), namun tidak memiliki akidah yg benar.


Disadur dari :

عقيدة التوحيد وبيان ما يضادها أو ينافيها من الشرك الأكبر والأصغر والتعطيل والبدع وغير ذلك. { صالح بن فوزان الفوزان }

Aqidatut Tauhidi Wa Bayanu Ma Yudhoddiha Minasy Syirkil Akbari Wal Ashgari Wal Ta'thil Wal Bida' Wa Ghoiri Dzalika, Shalih Al Fauzan, hal 10-11

Penyusun:
Tim SalafyBandung.com

🌎 Telegram:
https://t.me/SalafyBandung

📡 Website:
www.SalafyBandung.com

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
💥 KEMBALI KEPADA ULAMA KIBAR ADALAH KEAMANAN DAN KESELAMATAN

Al'Allamah Rabi' bin Hadi Al-Madkholi Hafidzahullah berkata,

📍"Wajib bagi para penuntut ilmu untuk memandang segala sesuatu dengan teliti kemudian mendatangi para ulama kibar yang memiliki keluasan ilmu dan telah menghabiskan umur mereka dalam menuntut ilmu dan menyebarkannya.

Mereka memiliki banyak pengalaman.
Terkadang dalam satu pertemuan saja, mereka bisa memberikan kepadamu faidah yang tidak bisa kamu dapatkan bertahun-tahun lamanya. Mereka akan memberikan kepadamu sebuah ringkasan ilmiyah yang seandainya engkau sendiri berupaya mencarinya bersama gurumu yang masih muda (umur dan ilmunya), niscaya kalian tidak akan bisa sampai kepadanya".

📚 Marhaban Ya Tholibal Ilmi, hal 229.


🌿الرجوع للعلماء الكبار سلامة ونجاة🌿

🎙قال العلامة اﻹمام ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله ورعاه : -

" يجب أن يتبصر طلاب العلم ، وأن يتجهوا 👈 إلى العلماء الكبار أهل العلم الواسع، الذين أفنوا حياتهم في طلب العلم وفي نشره، ولهم خبرات ، وقد يعطيك في الجلسة الواحدة ما لا تصل إليه بعد سنين، يعطيك خلاصة علمية،

لو ذهبت بنفسك تبحث أنت وشيخك الصغير ما تصلون إليها

📔مرحبا يا طالب العلم
ص 229



🌎 WhatsApp Salafy Cirebon
Channel Telegram || https://t.me/salafy_cirebon

📳 Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah


✋🏻💥 MANUSIA YANG TIDAK MENGHORMATI AKALNYA

✍🏻 Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya Az Zahrani hafizhahullah

‏بعض الناس لا يحترم عقله ،ولا العقلاء من الناس فيتبع هواه !

Sebagian manusia tidak menghormati akalnya, tidak pula dia menghormati orang-orang yang berakal, sehingga dia mengikuti hawa nafsunya!

ويتعمد مخالفة العلماء الكبار، ولا يستجيب للنصائح!

Dia sengaja menyelisihi ulama kibar dan tidak menyambut nasihat!

وهذا النوع يضل ويضل غيره

Orang semacam ini tersesat dan menyesatkan orang lain.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ

"Tidakkah engkau melihat orang yang menuhankan hawa nafsunya, dan Allah menyesatkannya di atas ilmu, dan menutup pendengaran dan kalbunya." (QS. Al-Jatsiyah : 23)

🌏 Sumber || https://twitter.com/AlahmadiZahrani/status/1010232218235662336?s=08

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
💊🔍🪞 ORANG BODOH MENILAI KEBENARAN DENGAN MAYORITAS PENGIKUT

💎 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

"Jika Islam akan kembali seperti awal mula (Islam yang asing), alangkah bodohnya orang yang berdalil bahwa kebenaran dinilai dengan banyaknya orang yang mengikutinya."

📚 [Ad-Durar As-Saniyyah, 1/41]

▪️▪️▪️

قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله،

"إذا كان الإسلام يعود كما بدأ، فما أجهل من استدل بكثرة الناس. "

[الدرر السنية ،٤١/١]


📝 Ambil Faedahnya Dan Amalkan
📥 https://t.me/sabilulanbiya
📲 Join • Save • Share ll

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
📚 NASIHAT EMAS DI MASA FITNAH (UJIAN/PERSELISIHAN)

💡 Diriwayatkan pula oleh beliau (Imam Abu Dawud) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’ (dari sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam),

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ عَمْيَاءُ، مَنْ أَشْرَفَ لَهَا اسْتَشْرَفَتْ لَهُ، وَإِشْرَافُ اللِّسَانِ فِيهَا كَوُقُوعِ السَّيْفِ

“Akan terjadi fitnah (ujian, perselisihan), (orang yang terkena fitnah tersebut) tidak bisa mendengar (tuli dari kebenaran), bisu (dari menjelaskan kebenaran), dan buta (dari mengetahui kebenaran). Barang siapa mencoba untuk mendekati fitnah tersebut, ia akan tertarik ke dalamnya. Akibat (buruk) dari mengumbar lisan (ucapan) pada saat fitnah, seperti tebasan pedang.”[1]

Ya. Hadits ini semisal dengan hadits (pada pembahasan) sebelumnya.

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ عَمْيَاءُ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ

“Akan terjadi fitnah, (orang yang terkena fitnah tersebut) menjadi buta, tuli, bisu.”

Maksudnya, para pelakunya tidak mau mendengarkan dan tidak mau berucap dengan perkataan yang baik. Demikian pula tidak mempertimbangkan apa yang menjadi maslahat bagi manusia. Yang mereka lakukan justru terus-menerus menyebarkan fitnah tersebut, tanpa mau kembali kepada kebenaran atau menerima nasihat. Bahkan, mereka justru terburu-buru menyebarkannya.

☑️ Ini yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Apabila kita memperhatikan realitas saat ini, bisa jadi termasuk apa yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu fitnah-fitnah (ujian, perselisihan), yang para pelakunya/pengusungnya tidak bisa menerima penjelasan dan nasihat. Mereka justru terburu-buru menyebarkan kejelekan mereka dan mewujudkan keburukan mereka, tanpa mau kembali (kepada kebenaran).

❗️Pada keadaan ini, (akibat buruk) lisan lebih berbahaya daripada pedang. Lisan sangat berbahaya, terlebih pada masa fitnah-fitnah (ujian, perselisihan).

Pada masa-masa fitnah (ujian, perselisihan), seorang insan wajib mengatakan yang haq (kebenaran) dan memberikan penjelasan. Apabila dia tidak memiliki kemampuan; atau dia memiliki kemampuan, tetapi terhalangi (karena suatu sebab, -pent.); hendaknya dia diam. Sebab, ucapannya tidak memberi manfaat. Demikian pula jika dia memang tidak punya kemampuan dalam menjelaskan (kebenaran), dia wajib diam dan tidak membuat fitnah (perselisihan) semakin bertambah parah dan tidak memperburuknya.

💡Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma secara marfu’ (dari sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam),

إِيَّاكُمْ وَالْفِتَنَ فَإِنَّ اللِّسَانَ فِيهَا كَوَقْعِ السَّيْفِ

“Hati-hatilah kalian dari fitnah-fitnah (ujian, perselisihan)! Sungguh, pengaruh lisan (ucapan) pada masa fitnah seperti pengaruh tebasan pedang.”

🔸 Lafaz “iyyakum” adalah kata untuk memberi peringatan.

🔸 Lafaz “al-fitan” manshub, sebagai hal yang diperingatkan darinya. Sebab, kata “iyyaka” bermakna “waspadalah engkau” dan merupakan kata benda yang beramal dengan amalan kata kerja (fi’il). (Penjelasan dalam ilmu bahasa Arab, -pent.)

📝 Hati-hatilah dari fitnah, dari berserikat mengobarkannya, dan menyebarkannya dengan lisan.

▪️(Bisa jadi,) seseorang duduk di dalam rumahnya, atau berada di studio penyiaran radio, atau melalui media-media lainnya; yang bisa menyebarkan kejelekan. Lalu dia berbicara dengan lisannya, berfatwa tanpa dilandasi kebenaran, dan menyebarkan kebatilan. Dalam keadaan dia duduk di tempatnya, dan dia terus menyebarkan kejelekan (hingga tersebar) ke timur dan barat.

Ini merupakan fitnah yang sangat berbahaya.

📢 Oleh karena itu, seorang muslim wajib menjaga lisannya pada masa terjadinya fitnah. Demikian pula, janganlah dia berbicara kecuali kebaikan, atau (kalau tidak bisa berbicara yang baik) hendaklah dia diam.

▶️ Sumber:
Potongan rekaman audio pelajaran syarah kitab al-Kabair, Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

Catatan Kaki
[1] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan”, “Bab Kafful Lisan” (4/165 no. 4264). Syaikh al-Albani menilai hadits ini dha’if. Lihat Dha’if Sunan Abi Dawud (hlm. 347 no. 4266). (-pent.)

🌏 https://asysyariah.com/nasihat-emas-di-masa-fitnah/
💥ULAMA SELALU DIBUTUHKAN KAPANPUN DAN DI MANAPUN💡🕯

🎙Penanya:
"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Semoga Allah memberkati Anda, syaikh kami yang terhormat.

📌 Ini ada pertanyaan dari salah satu anggota grup Thalabatul ilmi Indonesia. Dia mengatakan:

📌 Apakah pernyataan ini benar?

“Ulama itu ibarat bintang-bintang yang menjadi penunjuk arah kiblat, namun jika (kita) berada di depan Ka'bah, maka kita tidak lagi membutuhkan bintang-bintang itu,

dalam artian setiap kita telah mengetahui kebenaran, maka kita tidak membutuhkan ulama setelahnya. ." Apakah benar (statement) ini menurut ketentuan-ketentuan para ulama salaf?

Semoga Allah membalas kebaikan kepada Anda , Syekh kami tercinta."

💡📌asy-Syaikh As'aad az-Zaat'ari hafidzohullah menjawap :

"Wa'alaikumusssalam warahmatullahi wabarokatuh,
Ucapan ini tidak benar dan tertolak karena manusia, termasuk para penuntut ilmu, sangat membutuhkan para ulama yang membimbing mereka dan memberikan fatwa kepada mereka dalam tragedi dan peristiwa yang terjadi serta menjelaskan urusan agama kepada mereka.

Allah Ta'ala berfirman:

"(maka bertanyalah kepada ahlul ilmu jika kalian tidak mengetahuinya)"

Maka tidak sepatutnya seorang penuntut ilmu datang dan mengatakan : saya mengetahui kebenaran dan saya memiliki ilmu, sehingga tidak butuh lagi kepada ulama.

Sikap seperti ini jelas bertentangan dengan ayat diatas, karena mau tidak mau pasti akan ada masalah-masalah yang tersamarkan dengan isu-isu lain dan terus akan muncul dan berkembang.

Maka harus selalu ada hubungan dengan ulama, kalau tidak maka kita akan terperosok ke dalam jurang kesesatan.
Waliiyadzubillah."

📡CHANNEL AL-GHUROBA'
https://t.me/alghuroba_0/104


JOIN-SHARE-AMALKAN
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
::
📬 *PARA ULAMA LAKSANA BINTANG-BINTANG YANG PANAH APINYA MEMBAKAR SETAN-SETAN, BUKAN SEKEDAR PENUNJUK ARAH KIBLAT*

🔊 Audio:
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9685

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Sholfiq Azh-Zhafiriy hafizhahullah ta'ala pada menit (25:28 - 26:51):

"Para ulama keutamaan mereka sangat besar, dan keberadaan mereka adalah cahaya yang menyinari alam semesta.

Mereka laksana bintang-bintang yang dijadikan oleh manusia sebagai petunjuk dan pembimbing dalam kegelapan di muka bumi.

Mereka adalah perhiasan bumi, sebagaimana bintang-bintang adalah perhiasan langit.

Mereka adalah pelindung agama dan akidah, serta penjaga millah (Islam) dan as-Sunnah (ajaran Nabi).

Sebagaimana bintang-bintang dijadikan (oleh Allah) sebagai panah-panah api (yang membakar) setan-setan.

Maka para ulama Rabbaniyyun, Ahlus Sunnah wal Hadits, adalah panah-panah api bagi setan-setan di kalangan manusia dari para pembuat kerusakan di muka bumi dan ahlul bid'ah serta zanadiqah (orang-orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman untuk menghancurkan Islam, pen.).

Sungguh kepergian (kematian) para ulama adalah kegelapan di muka bumi, sebagaimana bintang-bintang, jika pergi, semakin menjadikan malam gelap gulita.

Maka ketika para ulama telah tiada, kebodohan semakin merajalela, berbagai fitnah semakin merebak, para pengusung fitnah mendongakkan kepala-kepala mereka, dan manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin (rujukan dalam agama), hingga akhirnya para pemimpin yang bodoh itu menyesatkan dan membinasakan mereka."

قال الشيخ د.عبدالله بن صلفيق الظفيري حفظه الله:
الدقيقة (٢٥:٢٨ - ٢٦:٥١)

فالعلماء فضلهم عظيم، ووجودهم ضياء للعالمين، فهم كالنجوم يَستدِل بها الناسُ و يهتدون بها في ظلمات الأرض وهم زينة الأرض، كما أن النجوم زينة السماء.
وهم حماة الدين والعقيدة وحراس الملة والسنة. كما أن النجوم جُعلت رجوما للشياطين، فالعلماء الربانيون أهل السنة والحديث هم رجوم الشياطين؛ شياطين الإنس من المفسدين في الأرض ومن أهل البدع والزنادقة.
وإن ذهاب العلماء ظلمة في الارض كما أن النجوم إذا ذهبت أظلم الليل وأدمس.
فإذا ذهب العلماء كثر الجهل وكثرت الفتن وأطل أهلها برؤوسهم واتخذ الناس رؤوسا جهالا ففتنوا الناس وأهلكوهم. 


مكانة العلماء وأهل العلم
♻️ضمن برنامج دورة الإمام المجدد محمد بن عبدالوهاب بمكة المكرمة
📆اليوم الجمعة /30/ربيع الأول /1443ه۟ـ :05/11/2021m

Sumber:
https://t.me/abdulahaldafiri/2098

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 *ADA APA DENGAN “MAYORITAS”?*
Bagian Pertama

Rubrik: #manhaj #rudud #haddadiyah #mushofiqoh


Sudah menjadi sebuah manhaj dan keyakinan yang terpatri dalam sanubari Ahlussunnah bahwa "Jumlah Mayoritas" bukanlah tolok ukur sebuah kebenaran.

Betapa banyak dalil yang menegaskan manhaj dan keyakinan ini di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah serta perkataan para ulama rabbani.

Namun tak jarang ketika sebuah fitnah terjadi, manhaj dan keyakinan yang sudah terpatri ini menjadi terlupakan, bahkan ditinggalkan.

Bukan karena kejahilan, namun hawa nafsu dan berbagai kepentingan ternyata menjadikan banyak pihak melupakannya, bahkan mendorong mereka untuk bersikap tidak adil dan tidak ilmiah.

Tak luput orang yang pernah dianggap dan diposisikan sebagai orang yang berilmu ‘sekaliber’ Muhammad bin Hadi yang telah menyimpang dan jatuh dalam jerat-jerat manhaj al-Haddadiyah yang ekstrim.

Demikian pula Abul Hasan al-Ma’riby yang kemudian menjadi seorang yang bermanhaj Ikhwanul muslimin, tak urung berhujjah dengan "Jumlah Mayoritas" dalam membela kesalahan dan penyimpangannya.

Demi mengingatkan saudara-saudara kami yang lupa terhadap prinsip penting ini terkhusus di masa fitnah yang sedang berkecamuk, maka berikut ini kami sajikan sebuah ilmu dan nasehat dari salah satu ulama kibar umat yaitu *asy-Syaikh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, dari kitab karya beliau yang berjudul, “al-Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid”, pada bab “Man Haqqaqat Tauhid...”*

Beliau rahimahullah berkata,

الخامسة عشرة: ثمرة هذا العلم، وهو عدم الاغترار بالكثرة.. إلخ، فإن الكثرة قد تكون ضُلالاً

"Permasalahan ke Lima Belas :

Buah dari ilmu (hadits) ini adalah tidak tertipu oleh jumlah (pengikut) yang banyak (mayoritas)… dst karena jumlah (pengikut) yang banyak (mayoritas) bisa jadi justru mereka adalah orang-orang yang sesat.

قال الله تعالى: { وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ  } [الأنعام: 116]

Allah berfirman yang artinya,
_"Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." [al-An’am : 116]_

وأيضاً الكثرة من جهة أخرى إذا اغتر الإنسان بكثرة وظن لن يغلب أو أنّه منصور، فهذا أيضاً سبب للخذلان. فالكثرة إن نظرنا إلى أن أكثر أهل الأرض ضلال لا تغتر بهم، فلا تقل: إن الناس على هذا، كيف أنفرد عنهم؟

Juga jumlah yang banyak (mayoritas) -dari sisi lain- jika seseorang tertipu dengannya dan menyangka bahwa dirinya tidak akan terkalahkan atau akan menang (karena merasa mayoritas), maka sungguh ini juga merupakan sebab tertelantarkannya dari pertolongan (Allah).

Maka jumlah (pengikut) yang banyak, jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi di atas kesesatan, janganlah Anda tertipu dengan mereka. Maka jangan anda mengatakan *“(Mayoritas) manusia berada di atas prinsip ini, bagaimana mungkin saya bersendirian berbeda dengan mereka?!”*

كذلك أيضاً لا تغتر بالكثرة إذا كان معك أتباع كثيرون على الحق، فكلام المؤلف له وجهان:
الوجه الأول: أن لا نغتر بكثرة الهالكين فنهلك معهم.
الوجه الثاني: أن لا نغتر بكثرة الناجين فيلحقنا الإعجاب بالنفس وعدم الزهد في القلة، أي أن لا نزهد بالقلة فقد تكون القلة خيراً من الكثرة. اهـــ

Demikian pula, janganlah Anda tertipu dengan jumlah yang banyak ketika bersama Anda ada pengikut yang banyak di atas kebenaran. Maka pernyataan penulis (al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) ada dua sisi:

⬜️ Sisi Pertama: Janganlah kita tertipu dengan banyaknya jumlah orang-orang yang binasa (pengikut kebatilan), sehingga kita pun ikut binasa bersama mereka.

⬜️ Sisi Kedua: Janganlah kita tertipu dengan banyaknya orang-orang yang selamat (pengikut kebenaran), kemudian sifat ‘Ujub (berbangga diri) menimpa kita, dan janganlah mengabaikan (tidak mempedulikan) jumlah yang sedikit, yakni janganlah kita mengabaikan jumlah (pengikut kebenaran) yang sedikit, karena bisa jadi yang sedikit itu ternyata lebih baik dibanding yang banyak."

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📑 JADWAL DURUS DAURAH HAFR AL-BATHIN 22-27 Rabiul Akhir 1443 H

1️⃣ Bada Shubuh (± jam 9.40 WIB)
Sabtu sampai Kamis
📗 Syarah Manhaj al-Haq fi al-Aqidah wa al-Akhlaq
🎙️ asy-Syaikh DR Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah

2️⃣ Bada Zhuhur (± jam 16:10 WIB)
Sabtu sampai Kamis
📕 Syarh al-Arbain fi al-Ahkam (li al-Hafizh al-Mundziri)
🎙️asy-Syaikh DR Khalid bin Qasim ar-Raddadi hafizhullah

3️⃣ Ba'da Ashr (± jam 19.05 WIB)
a. Sabtu sampai Senin
📘 Syarh Kitab as-Sunnah li al-Muzani
🎙️ asy-Syaikh DR Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah

b. Selasa sampai Kamis*"
📙 Adab Thalib al-Ilmi wa Wajibuhu Nahwa Wathanihi
🎙️ asy-Syaikh Ahmad bin Yahya az-Zahrani hafizhahullah

4️⃣ Bada Magrib (± Jam 21:20 WIB)
Sabtu sampai Kamis**
📒 Syarh Kitab Risalah ila ahli al-Qashim
🎙️ asy-Syaikh DR. 'Azzam bin Muhammad asy-Syuwai'ir hafizhahullah

📝 NB: Jam yang tersebut di atas hanya perkiraan dalam WIB


========

Disiarkan LIVE di:
📟 Radio Utama Miratsul Anbiya: http://miraath.net/radio/1/
📟 Radio Sabilul Anbiya:
http://aldafiri.com/radio

~~~

Relay di:
📡 Radio Manhajul Anbiya
(dalam aplikasi Radio Syariah)

📡 Radio Minhajul Atsar
Dalam aplikasi RMA
Versi Web di
http://radiosalafy.com/atsar
atau
Download Aplikasi di
https://minhajulatsar.com/radio

📡 Channel Manhajul Anbiya: https://t.me/ManhajulAnbiya?voicechat

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~
Forwarded from 🔰 Sunny Salafy 🔰
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
🎥 VIDEO FAWAID

📝 KENAPA DIA BERUBAH

🎙 Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah

Durasi: 06 : 26 menit


================

🔰 Gabung dan Bagikan Faedahnya
🌐 https://t.me/sunnysalafy
Sumber:
https://t.me/jadilah_salafy_sejati/117

🔷 🔷 🔷 🔷 🔷 🔷