Absolute EUY!
8 subscribers
247 photos
32 videos
37 files
35 links
Hobi gue bersin
Download Telegram
The Ghost of Your Eyes.

Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah kerai kamar mandi utama kediaman Soesastro, menyorot tajam pada sebuah mahakarya kehancuran di atas lantai marmer Bianco Carrara.

Fioren Arvid masih berada di sana. Pria itu tergeletak dengan punggung bersandar pada kabinet wastafel, kedua kakinya terjulur kaku di antara genangan air yang bercampur dengan warna merah kecokelatan. Darah dari buku-buku jarinya yang robek telah mengering, meninggalkan sensasi kebas yang berdenyut seiring dengan detak jantungnya yang melambat. Cermin raksasa di atasnya hanya menyisakan pecahan-pecahan tajam yang menempel pada bingkai, tak lagi mampu memantulkan bayangan utuh seorang pewaris tahta; hanya menyisakan serpihan-serpihan pria yang telah mati rasa.

Arvid perlahan membuka matanya. Kepalanya berdenyut hebat, sisa efek dari Macallan dan pukulan emosional yang menguras seluruh serotonin di otaknya. Ia menatap telapak tangan kanannya yang masih menggenggam kotak beludru biru tua. Cincin berlian Harry Winston itu kini ternoda pekat oleh darahnya sendiri.
Dengan sisa tenaga yang mengendap di otot-ototnya, Arvid memaksa dirinya berdiri. Tubuhnya limbung, kakinya terasa seperti terbuat dari jeli. Ia meletakkan kotak cincin itu di atas meja wastafel yang utuh, mengabaikan serpihan kaca yang menggores telapak tangannya. Pria itu menyalakan keran air dingin, membiarkan alirannya membasuh luka-luka robek di buku jarinya.

​Rasa perih yang menyengat langsung merayap naik ke saraf pusatnya, namun Arvid tidak mendesis. Ia bahkan tidak berkedip. Matanya yang memerah dan kosong hanya menatap aliran air kemerahan yang berputar masuk ke dalam lubang pembuangan.

​Pria itu melucuti kemeja birunya yang sudah hancur, melemparkannya ke sudut ruangan, menyusul celana bahannya. Dengan tubuh telanjang yang dipenuhi memar imajiner akibat kekalahannya sendiri, Arvid melangkah masuk ke dalam bilik shower kaca. Ia memutar tuas air ke suhu paling dingin.

​Guyuran air es menghantam kulit punggungnya, membuat napas Arvid tersentak sesaat. Ia menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada ubin marmer yang dingin, membiarkan air membilas sisa-sisa malam paling jahanam dalam hidupnya. Namun, tak peduli sekeras apa pun ia menggosok kulitnya, bau keputusasaan itu menempel permanen di pori-porinya.

​Pikirannya, yang biasanya begitu brilian dan terstruktur, kini berubah menjadi ruang penyiksaan yang memutar proyeksi masa depan tanpa henti.

​Desember. Enam bulan lagi.
Setelah Desember, ibunya pasti akan mulai mendesaknya lagi. Keluarga Soesastro tidak akan membiarkan pewaris tunggalnya melajang selamanya. Ibunya akan membawa deretan nama, mengatur makan malam konyol, memaksanya untuk membangun masa depan dengan wanita yang kastanya setara. Mereka akan menuntutnya untuk move on. Mereka akan menyuruhnya mencari pengganti Ivory Sona.

​Membayangkan hal itu, perut Arvid bergejolak hebat. Rasa mual yang pekat menyerangnya hingga ia terbatuk, memuntahkan cairan asam lambung ke lantai shower. Ia mencengkeram dinding kaca dengan napas tersengal.
​"Nggak akan," bisik Arvid parau, suaranya teredam oleh suara guyuran air. "Fucking never."

​Ia menatap telapak tangannya sendiri. Tangan yang selalu ia gunakan untuk mengusap kepala Ivy, untuk menarik kursi wanita itu, untuk membawakan buku-bukunya. Bagaimana mungkin ia menggunakan tangan ini untuk menyentuh wanita lain?
Arvid memejamkan matanya kuat-kuat. I don't wanna get undressed for a new person all over again.

​Ia tidak ingin menelanjangi dirinya—baik secara fisik maupun emosional—untuk orang baru. Membangun keintiman dari nol, menceritakan kembali ketakutannya, menunjukkan bekas lukanya pada seseorang yang bukan Ivy, terasa seperti sebuah pengkhianatan yang menjijikkan. Selama tiga belas tahun, seluruh kepingan jiwanya telah ia cetak agar hanya bisa pas dengan Ivy. Jika ia memaksakan diri bersama wanita lain, ia hanya akan menjadi cangkang kosong.
I don't wanna kiss someone else's neck... and have to pretend it's yours instead.

​Pria itu merosot turun, berlutut di bawah guyuran air dingin shower. Ia menyilangkan lengan di atas lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana. Tubuhnya kembali bergetar hebat.
Jika takdir memaksanya untuk memeluk wanita lain suatu hari nanti, Arvid tahu persis apa yang akan terjadi. Ia hanya akan memejamkan mata di ceruk leher wanita itu, dan di dalam kegelapan imajinasinya, ia akan mati-matian memanggil nama Ivy. Ia akan mencari-cari tekstur kulit Ivy, mencari lekuk bahu yang selalu menjadi tempat favoritnya bersandar. Betapa tidak adilnya itu. Betapa brengseknya ia kelak, menjadikan wanita lain sekadar proyektor untuk menampilkan hantu dari satu-satunya wanita yang ia cintai.
​"Aku cuma mau kamu, Vy..." isak Arvid, suaranya pecah dan menyedihkan. "Aku nggak mau yang lain."
And I don't wanna learn another scent.

​Hidung Arvid sudah dikalibrasi untuk hanya mengenali satu aroma penenang di dunia ini: campuran musk dan white floral yang selalu menguar dari tengkuk Ivory. Aroma yang tertinggal di jok kursi penumpang Porsche-nya, aroma yang kadang menempel di jaketnya saat Ivy meminjamnya. Ia menolak keras untuk menghapus memori olfaktori itu. Ia menolak belajar mencintai wangi vanilla, atau rose, atau aroma apa pun dari parfum wanita lain. Dunia ini boleh menawarkan ribuan wangi bunga paling mahal, tapi paru-paru Arvid menolak bernapas jika itu bukan wangi Ivory-nya.
Namun, semua penolakan itu tidak ada artinya. Karena realita yang paling brutal, puncak dari segala kehancurannya, menantinya di bulan Desember.
​Ivy akan menikah dengan Alarik Sasongko Dewandaru.

​Arvid mencengkeram rambut ikalnya yang basah, menariknya keras-keras saat proyeksi itu memaksak masuk ke otaknya. Alarik, pria dengan tubuh besar dan wajah arogan itu, akan memiliki hak legal dan spiritual atas Ivy. Pria bajingan itu akan membawa Ivy ke ranjangnya. Alarik akan menelanjangi dewinya, menyentuh setiap inci kulit yang selama belasan tahun Arvid puja dari jauh seperti benda suci. Alarik akan menghisap bibir Ivy, mencium lehernya, dan menenggelamkan dirinya dalam aroma musk dan white floral milik Ivy setiap malam.
​"AARGHHH!"
​Arvid meraung keras, memukul lantai marmer dengan tangannya yang sudah hancur. Darah kembali mengalir, bercampur dengan air dingin, tersapu masuk ke saluran pembuangan. Siksaan visual itu menguliti kewarasannya hidup-hidup.

​Tapi bukan itu batas akhirnya. Ada satu hal lagi yang membuat napas Arvid nyaris berhenti total.

​Pernikahan berarti keturunan.

​Alarik dan Ivy akan memiliki anak.

​Arvid menghentikan isakannya, matanya melebar menatap ubin di bawahnya. Sesuatu di dalam dadanya baru saja retak hingga tak bisa disatukan lagi. Sebuah ketakutan absolut yang tertulis jelas di relung hatinya, menyuarakan kalimat terakhir dari keputusasaannya:
I don't want the children of another man... to have the eyes of the girl that I won't forget.
​"Nggak..." bisik Arvid, menggelengkan kepalanya panik, seolah berusaha mengusir bayangan itu. "Tolong, Tuhan... jangan..."

​Ia tidak sanggup. Ia berani bersumpah ia bisa gila jika hari itu tiba. Membayangkan beberapa tahun ke depan, ia mungkin tak sengaja berpapasan dengan keluarga kecil itu di acara kolega bisnis. Dan ia harus melihat seorang anak kecil—seorang putra atau putri yang menyandang nama keluarga Dewandaru, anak dari benih laki-laki lain—mendongak menatapnya.

​Dan ketika anak itu menatapnya... Arvid akan melihat mata itu.

​Mata besar yang jernih, dengan lipatan double-eyelid yang begitu tegas dan sempurna. Mata yang pertama kali mencuri dunianya saat ia berusia tiga belas tahun di ruang kelas 7-B. Mata yang selalu menatapnya dengan penuh harap. Mata yang semalam menatapnya dengan kekecewaan luar biasa sebelum Ivy berbalik pergi.

​Jika anak laki-laki lain mewarisi mata Ivy, Arvid tahu ia tidak akan pernah bisa melupakan wanita itu sampai napasnya berhenti. Setiap kali ia melihat anak itu, ia akan dipaksa mengingat kembali wajah gadis yang tak akan pernah bisa ia lupakan (the girl that I won't forget). Ia akan dipaksa melihat monumen hidup dari kegagalannya sendiri. Anak itu akan menjadi pengingat yang berjalan, bernapas, dan tertawa, bahwa mata indah itu seharusnya menatapnya dengan sebutan 'Papa', bukan menatap Alarik.
​"Harusnya anak-anak kita yang punya mata kamu, Vy..." Arvid merintih pilu, bahunya bergetar hebat tak terkendali. "Harusnya itu anak-anakku."
Pria itu meringkuk di lantai shower, memeluk dirinya sendiri dalam dingin yang membekukan tulang. Si jenius Arvid Soesastro, sang kalkulator bisnis yang tak pernah salah menebak pergerakan pasar, telah melakukan satu kesalahan perhitungan paling fatal dalam hidupnya. Ia mengira cinta adalah investasi yang bisa diendapkan dalam diam tanpa perlu ada deklarasi.
Kini ia bangkrut. Bukan secara materi, tapi secara jiwa.

Arvid menangis tanpa suara, air matanya menyatu dengan guyuran air shower yang tak kunjung ia matikan. Di dalam kepalanya yang berdengung, lirik keputusasaan itu terus berulang seperti mantra kutukan. Ia telah mengunci dirinya sendiri di dalam penjara masa lalu, menolak masa depan, dan memilih untuk membusuk bersama bayangan mata indah Ivory Sona, yang kini hanya bisa ia lihat dalam ingatan, selamanya menjadi milik laki-laki lain.