Pendidikan Merdeka Belajar
3.34K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Ada komentar di tulisan saya sebelumnya tentang kurangnya sekolah untuk orang tua agar dapat mendidik anak. Komentar yang mengingatkan saya pada suatu kelas yang pernah saya ikuti.

Kelas itu adalah pelatihan menjadi HR generalist. Pada topik "Training & Development" sang trainer menanyakan pertanyaan yang buat saya paling mendasar, yakni, "Siapa bertanggungjawab mengadakan training untuk karyawan?"

Diskusi bergulir dengan riuh argumen para peserta. Ada yang menyebut itu adalah tanggung jawab perusahaan, karena jika mau produktivitas meningkatkan maka kompetensi wajib ditingkatkan. Akur.

Ada juga yang sebut Manajer HRD-lah yang paling bertanggungjawab, karena pengelolaan SDM sepenuhnya berada di atas kendalinya. Okelah, meskipun agak... "ah sudahlah..."

Argumen lain terlontar, kalau bicara tentang tanggung jawab training tentu Training Officer yang paling bertanggung jawab. Lha wong nama jabatannya saja mengandung kata "Training". Ya sudah kita terima saja pendapat ini dengan senyum simpul.

Peserta lain mencoba kembali meluruskan bahwa atasanlah yang bertanggungjawab mengembangkan karyawan. Pasalnya, atasan mengetahui secara langsung apa yang dibutuhkan di dalam timnya karena dialah yang berinteraksi sehari-hari dengan karyawan. Interaksi membuat atasan jauh lebih paham apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan oleh anak buahnya daripada sekedar training officer atau manajer HRD. Tepuk tangan membahana.

Gegap-gempita itu redup saat dilontarkan pertanyaan kedua, "apakah kita, sebagai karyawan, mau meletakkan tanggung jawab pengembangan diri kita kepada orang lain?"

Pontang-panting peserta kembali merapikan nalarnya. Seakan terbangun dari tidur ayam, kepala para peserta mendongak mencari penjelasan lebih lanjut yang tak kunjung keluar.

Sepercik cerita itu merambati jaringan akal saya pagi ini. Bagai menemukan "eureka" untuk kesekian kalinya, saya sekali lagi mengajak setiap orang tua untuk tak pernah putus belajar. Apalagi yang berkebutuhan mengembangkan bakat anaknya. Jika kita belum menemukan referensi yang tepat minimal baca dulu buku Bakat Bukan Takdir. Hehe :)

Atau jika ingin belajar bersama, silahkan hadir di kelas pengembangan bakat. Tidak ada yang salah dengan semua itu jika kita peduli dengan masa depan anak. Poin pentingnya, bila ingin anak kita memiliki bakat dan karier cemerlang maka kita butuh mengembangkan diri dan kemampuan kita menjadi
#‎PendidikMenumbuhkan.

Salam Menggemaskan

Andrie Firdaus
Penulis buku Bakat Bukan Takdir


Sumber: http://bit.ly/296DoKB
Inilah yang Membuat Anak Anda Mudah Terkena Pengaruh Negatif

Orangtua ingin anaknya tahan terhadap pengaruh negatif, tapi tidak sadar perlakuannya justru membuat anaknya mudah terkena pengaruh negatif.

Pengaruh negatif dari lingkungan bukan sesuatu yang bisa dihilangkan. Meski berusaha menghindar, tetap saja ada kemungkinan anak kita berhadapan dengan pengaruh negatif. Tak heran banyak orangtua ingin anaknya tahan, tapi sayangnya cara yang dilakukan justru membuat anak jadi mudah terkena pengaruh negatif. Cara apa itu?

Upaya orangtua yang paling sering dilakukan adalah memberi perintah dan larangan. Seolah orangtua ingin anaknya selalu berada pada lingkungan yang steril, “kondisi suci hama”. Hasil dari perintah dan larangan pasti langsung terlihat, anaknya baik-baik saja, setidaknya pada saat ini. Contoh perintah: kamu harus belajar, kamu harus rajin sekolah, kamu harus mendengarkan nasihat orangtua. Contoh larangan: dilarang main pasir, dilarang main hujan, dilarang mendengar lagu yang aneh-aneh dan banyak lagi.

Tapi pemberian perintah dan larangan yang berlebihan justru menimbulkan dua dampak negatif. Pertama, anak kehilangan kesempatan belajar. Belajar mengenali dan mengatasi suatu pengaruh negatif. Anak hanya tahu semua baik-baik saja buat dirinya. Contoh: anak yang selalu dilarang bermain pasir tidak tahu pentingnya mencuci tangan dan kaki setelah bermain pasir. Ketika bermain pasir di luar sepengetahuan orangtua, anak pun tidak mencuci tangan dan kaki.

Kedua, anak terbiasa dikontrol pihak eksternal. Ketika terlalu banyak perintah dan larangan, maka anak berperilaku berdasarkan tuntutan orang lain. Anak bertindak karena motivasi ekstrinsik. Budi pekerti anak tidak berkembang sehingga kesulitan melakukan kontrol diri. Anak kurang mampu menetapkan tujuan, mengatur strategi dan berperilaku mengarah pada tujuannya tersebut.

Anak yang tergantung pada motivasi ekstrinsik akan tampak baik-baik saja ketika berada bersama orangtua dan guru. Pertanyaannya, apa yang terjadi ketika anak berada di lingkungan orang-orang yang menyebarkan pengaruh negatif? Ya sama persis ketika menghadapi orangtua dan guru, patuh pada orang yang berpengaruh negatif tersebut.

Ironis, orangtua ingin menghindarkan anak tapi justru membuat anak mudah terkena pengaruh negatif. Bila Anda ingin mendidik anak yang tahan terhadap pengaruh negatif, maka minimakan perintah dan larangan pada anak. Batasi perintah dan larangan pada hal-hal pokok yang sangat penting.

Tumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak. Beri kesempatan anak bertindak berdasarkan kemauannya, atau berdasarkan motivasi intrinsik sang anak. Anak yang mempunyai kemauan yang kuat adalah anak yang lebih tahan terhadap pengaruh negatif. Stimulasi anak dengan pertanyaan reflektif yang membantu anak menyadari tindakan dan akibatnya. Pancing anak agar menemukan cara-cara yang lebih efektif untuk mencapai tujuannya.

Di buku Anak Bukan Kertas Kosong, saya menguraikan contoh dan riset mengenai motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Sementara di buku Bakat Bukan Takdir, kami menyediakan latihan buat orangtua untuk berlatih mengenali motivasi ekstrinsik dan instrinsik pada perilaku anak. Selain itu, kami juga menyediakan sejumlah latihan agar orangtua menguasai keterampilan pendidik yang menumbuhkan kesadaran anak.

Ingin anak tahan terhadap pengaruh negatif? Ayo berlatih menjadi pendidik yang menumbuhkan, pendidik yang mengembangkan budi pekerti anak.

Sumber: http://temantakita.com/pengaruh-negatif/

Silahkan disebarkan tanpa perlu ijin
#‎SuaraAnak telah berlangsung enam kali. Setiap kalinya, saya menyaksikan anak-anak yang menakjubkan semangat belajarnya. Belajar bukan sebatas artian akademis, tapi mengembangkan potensinya. Mereka gemar, mereka tekun, mereka berhasil mengatasi rasa malas, bosan atau kesenangan yang lain. Mereka berhasil mengelola dirinya.

Awalnya, saya hanya berharap menyaksikan anak-anak yang tekun belajar. Tapi dari enam kali Suara Anak, saya menyaksikan anak-anak yang melampui harapan saya. Saya ingin memberi kesempatan pada mereka yang telah menunjukkan ketekunan yang lebih.

Karena itu, Suara Anak Ketujuh menghadirkan 3 kategori yaitu Kegemaran (sama seperti format awal), Karya dan Misi Sosial. Kategori Karya hadir untuk menghargai anak-anak yang tekun dan menghasilkan karya. Kategori Misi Sosial hadir untuk menghargai anak-anak yang tekun menjalankan misi yang bermanfaat buat masyarakatnya.

Apakah ada anak yang ikut ketiga kategori itu? Saya yakin ada. Dan saya percaya, kalau kita sebagai orang dewasa mempertahankan keyakinan positif maka anak-anak akan mengarah untuk mewujudkan keyakinan tersebut.

Suara Anak Ketujuh ini diadakan di Surabaya tapi bisa diikuti oleh daerah lain yang bersedia hadir secara mandiri. Suara Anak berikutnya akan hadir di daerah-daerah lain, teman-teman relawan terus bergerak di Malang, Semarang, Bandung, dan Depok. Dan semoga semakin banyak daerah yang mengadakan Suara Anak.

Bantu #SuaraAnak untuk menemukan anak-anak yang menekuni kegemaran, berkarya dan menjalankan misi sosial

Daftar di Suara-Anak.TemanTakita.com
Kami mendukung gerakan #HariPertamaSekolah. Dapatkan diskon 20% di Toko.TemanTakita.com untuk semua produk: buku, kaos, tas dan permainan edukatif anak. Buruan
Daftar di Suara-Anak.TemanTakita.com
Narahubung: Nindia Nurmayasari : 0813 3060 2885
Selamat Hari Anak Nasional!
Inilah 3 Hal Penting yang Selama Ini Diinginkan Anak.

Didengarkan
Tentu, saat berefleksi tentang Hari Anak, layaknya semua orangtua kita ingin anak kita bahagia. Namun, sebagai seorang manusia, anak juga punya suara. Seringkali orangtua lebih lantang menyuarakan pendapatnya sebelum anak sempat mengungkapkan keinginannya. Dengan mendengarkan suara anak, Ayah Ibu dapat memahami bahwa anak – yang merupakan benih kehidupan yang unik – memiliki minat, rasa ingin tahu, dan harapannya sendiri, yang bisa jadi berbeda dengan orangtua. Oleh karena itu, bagaimana jika mulai saat ini sesi mengobrol dengan anak diawali dengan mendengarkan suara mereka?

Diapresiasi
Saking seringnya fokus pada kesalahan dan kekurangan anak, orangtua luput pada kekuatan dan keberhasilan anak. Entah mengapa kita lebih peka pada nilai merah di rapor anak ketimbang nilai bagus yang bersanding dengannya. Seperti halnya manusia yang lain – termasuk kita sebagai orangtua – anak pasti punya kekurangan, namun juga kekuatan. Tidak sekadar mengoreksi tindakan anak, namun mengapresiasi usahanya, membuat anak merasa berharga sebagai manusia. Saat anak tahu usahanya dihargai, anak akan lebih percaya diri untuk meningkatkan kemampuannya.


Diberi pilihan
Memberi pilihan pada anak mungkin menjadi hal tersulit yang dilakukan oleh para orangtua, karena mungkin kita yakin bahwa pilihan yang kita sodorkan pada anak adalah hal terbaik bagi mereka. Saat kita mau belajar mendengarkan mereka, kita akan memahami bahwa anak memiliki jalan hidupnya sendiri, termasuk dalam hal yang diminati, sampai arah kariernya. Memberikan pilihan kepada anak berarti memberi kepercayaan kepadanya, sekaligus mengajar anak untuk berkomitmen atas pilihannya. Selain itu, anak yang menekuni suatu hal atas pilihannya sendiri mencerminkan dorongan belajar yang datang dari dirinya sendiri, bukan paksaan dari Ayah Ibu.


Apakah Bapak Ibu sudah memenuhi 3 Hal Penting itu?


Sumber: http://temantakita.com/hari-anak-keinginan-anak/
Surat Terakhir Menteri Anies Baswedan