Pendidikan Merdeka Belajar
3.34K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Melatih Anak Belajar Berpuasa? Inilah 6 Tips untuk Ayah Ibu. Baca di http://temantakita.com/tips-anak-belajar-berpuasa/
Lebaran mudik kemana?

Yuk bawa oleh-oleh produk kece dari Toko TemanTakita.com.
Pas pula ada diskon 20% untuk SEMUA produk.
Dan enaknya, TIDAK ada minimum belanja

Jadi tunggu apalagi, buruan KLIK Toko.TemanTakita.com

Pilih produk yang disuka, ada buku, kaos, tas, & mainan edukatif
Gunakan kode kupon ketupatlebaran
Dapatkan diskon 20%

Cara belanja bisa dilihat di http://bit.ly/CaraBeliTokoTakita

Berlaku untuk periode belanja 20 - 27 Juni 2016.
Tahap Tumbuh Kembang Bakat Anak
http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/tahap-tumbuh-kembang-bakat-anak

Pernah merasa khawatir dengan masa depan anak Anda? Apa pekerjaannya kelak? Apa profesi yang tepat untuknya? Bukik Setiawan, ahli bakat anak, penulis buku Bakat Bukan Takdir, menuturkan pengalamannya menemani tumbuh kembang bakat putrinya, Ayunda Damai (10). Berikut kisahnya.

Asyiknya Eksplorasi
Sejak Damai kecil, kami memberi banyak stimulasi dalam bentuk permainan. Permainan yang kami maksud adalah aktivitas menantang tanpa target khusus. Semangatnya lebih pada eksplorasi, agar anak mendapat kesempatan mencoba beragam aktivitas. Kami membacakan cerita dari buku, agar anak mengeksplorasi kecerdasan aksara. Kami ajak bermain lego, agar anak mengeksplorasi kecerdasan logika dan imajinasinya. Di lain kesempatan, Damai melihat latihan menari agar dia mengeksplorasi kecerdasan tubuh dan musik. Kami juga mengenalkannya tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar, agar dia mengeksplorasi kecerdasan alam. Bermain flying fox? Ya! Agar anak merasakan kecerdasan tubuhnya. Agar mengenal kecerdasan musiknya, Damai kami ajak bermain gamelan.

Sementara, agar dia mengenal kebutuhan dan aspirasinya, serta kecerdasan diri, kami banyak mengajukan pertanyaan dan meminta pendapatnya. Saya mendongeng interaktif agar Damai bisa merasakan kecerdasan aksara dan kecerdasan relasi. Dan, masih banyak lagi pilihan aktivitas yang kami kenalkan kepadanya. Meski bertujuan eksplorasi, manfaat aktivitas-aktivitas bermain sebenarnya lebih besar lagi. Bermain mungkin terkesan tidak serius. Tapi melalui permainan, perilaku alami anak justru muncul. Selain anak gembira bermain, kami pun jadi lebih memahami anak.

Siklus Perkembangan Bakat Anak
Setelah eksplorasi, lalu apa yang harus saya lakukan? Bingung. Lalu, saya mencoba mencari bermacam referensi lewat buku dan internet. Sampai suatu ketika saya menemukan penjelasan dari Howard Gardner, seorang profesor psikologi pendidikan sekaligus konseptor dari teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Gardner menjelaskan tahapan sejak awal anak mengenali kecerdasan majemuk hingga tahap kreatif. Sayangnya, penjelasannya terlalu singkat, hanya dua halaman. Penjelasan pokok-pokoknya saja, tapi tidak menjabarkan apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua dalam menyiapkan anak untuk berkarier cemerlang.

Berdasar kesulitan tersebut, saya menyusun sebuah konsep yang saya sebut sebagai Siklus Perkembangan Bakat. Fase awal dari siklus ini telah kami praktikkan pada anak. Fase akhir dari konsep ini sudah saya praktikkan sendiri, sehingga saya pun berani mundur sebagai PNS (Dosen). Siklus perkembangan bakat, terdiri dari 4 fase. Diawali dari fase eksplorasi (0 - 7 tahun), belajar mendalam (7 - 13 tahun), arah karier (Di atas 13 tahun) hingga fase berkarier (di atas 18 tahun).

Ajak Anak Mengenal Dirinya
Pada fase eksplorasi, fase yang telah saya lakukan bersama anak, ada 3 tugas yang harus dilakukan orang tua yaitu stimulasi, kenali dan refleksikan kecerdasan majemuk anak. Setelah memberikan stimulasi dan mengenali kecerdasan majemuk sebagaimana saya ceritakan di awal tulisan, saya pun lakukan refleksi bersama Damai. Prosesnya sederhana, ngobrol kecil bersama Damai, tentang maskot-maskot kecerdasan majemuk yang saya buat sendiri. Dari obrolan ringan ini, membantu anak untuk lebih mengenal kelebihan dirinya.

Fase berikutnya adalah fase belajar mendalam. Ada 4 tugas perkembangan bakat, yaitu fokus belajar, gemar belajar, tekun belajar dan belajar mendalam. Fokus belajar adalah proses memandu anak untuk menentukan sendiri bakat yang akan jadi fokus pengembangan. Dari berbagai pilihan yang kami diskusikan, Damai memilih piano dan menulis di blog sebagai fokus belajarnya. Setelah fokus belajar, tantangan perkembangan bakat anak semakin menantang, yakni menumbuhkan kegemaran belajar anak. Belajar karena suka, bukan karena ujian atau karena ikut lomba.

Mulai Merancang Arah Kariernya
Hari-hari ini kami terus bergembira menemani Damai mengembangkan bakatnya pada fase belajar mendalam. Damai menyusun portofolio bakatnya
di dua kanal utama, yaitu blog untuk bakat menulisnya, dan kanal Youtube untuk bakat bermain pianonya. Apakah Damai akan jadi penulis? Atau, jadi pemain piano? Masih jauh. Damai belum masuk Fase Arah Karier. Pada fase itu, Damai akan mengeksplorasi ekosistem bakatnya dengan terlibat langsung di dalamnya. Meski telah mulai dilakukan sekarang, nantinya upaya mengenalkan hasil karya bakatnya pada masyarakat luas akan dilakukan lebih intensif.

Berdasarkan hasil fase belajar mendalam dan eksplorasi ekosistem bakat, Damai akan menyusun arah kariernya yang akan jadi dasar baginya dalam menentukan pilihan jurusan dan profesinya. Pilihan yang akan kami hormati, karena kami tahu pilihan itu berdasarkan proses panjang sejak kecil. Siklus perkembangan bakat menghubungkan proses tumbuh kembang anak dengan pengembangan karier di masa dewasa. Fase eksplorasi membuat anak menyadari kecerdasan majemuknya. Fase belajar mendalam membuahkan kebiasaan belajar yang tangguh dan mandiri sekaligus penguasaan satu atau lebih bakat. Capaian arah karier adalah anak mempunyai arah karier yang kuat sesuai potensi dan impiannya yang telah teruji dalam fase sebelumnya. Dengan semua capaian itu, anak lebih siap untuk berkarier.

Saya, sebagaimana orang tua lain, tidak ingin terlambat. Saya tidak ingin anak-anak kita menjelang lulus kuliah masih saja gagap menjawab setelah lulus mau jadi apa. Pengembangan bakat anak bukan aktivitas sambilan di tengah kerja keras mengejar nilai dan ijasah. Bukan pula tentang menjadi juara di berbagai lomba. Pengembangan bakat anak adalah cara kita membantu anak menyadari siapa dirinya, berkarya, dan memberi manfaat sesuai kekuatan dirinya. Pengembangan bakat anak adalah tentang masa depan anak-anak kita. Mari stimulasi, kenali, dan kembangkan bakat anak!
Ada komentar di tulisan saya sebelumnya tentang kurangnya sekolah untuk orang tua agar dapat mendidik anak. Komentar yang mengingatkan saya pada suatu kelas yang pernah saya ikuti.

Kelas itu adalah pelatihan menjadi HR generalist. Pada topik "Training & Development" sang trainer menanyakan pertanyaan yang buat saya paling mendasar, yakni, "Siapa bertanggungjawab mengadakan training untuk karyawan?"

Diskusi bergulir dengan riuh argumen para peserta. Ada yang menyebut itu adalah tanggung jawab perusahaan, karena jika mau produktivitas meningkatkan maka kompetensi wajib ditingkatkan. Akur.

Ada juga yang sebut Manajer HRD-lah yang paling bertanggungjawab, karena pengelolaan SDM sepenuhnya berada di atas kendalinya. Okelah, meskipun agak... "ah sudahlah..."

Argumen lain terlontar, kalau bicara tentang tanggung jawab training tentu Training Officer yang paling bertanggung jawab. Lha wong nama jabatannya saja mengandung kata "Training". Ya sudah kita terima saja pendapat ini dengan senyum simpul.

Peserta lain mencoba kembali meluruskan bahwa atasanlah yang bertanggungjawab mengembangkan karyawan. Pasalnya, atasan mengetahui secara langsung apa yang dibutuhkan di dalam timnya karena dialah yang berinteraksi sehari-hari dengan karyawan. Interaksi membuat atasan jauh lebih paham apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan oleh anak buahnya daripada sekedar training officer atau manajer HRD. Tepuk tangan membahana.

Gegap-gempita itu redup saat dilontarkan pertanyaan kedua, "apakah kita, sebagai karyawan, mau meletakkan tanggung jawab pengembangan diri kita kepada orang lain?"

Pontang-panting peserta kembali merapikan nalarnya. Seakan terbangun dari tidur ayam, kepala para peserta mendongak mencari penjelasan lebih lanjut yang tak kunjung keluar.

Sepercik cerita itu merambati jaringan akal saya pagi ini. Bagai menemukan "eureka" untuk kesekian kalinya, saya sekali lagi mengajak setiap orang tua untuk tak pernah putus belajar. Apalagi yang berkebutuhan mengembangkan bakat anaknya. Jika kita belum menemukan referensi yang tepat minimal baca dulu buku Bakat Bukan Takdir. Hehe :)

Atau jika ingin belajar bersama, silahkan hadir di kelas pengembangan bakat. Tidak ada yang salah dengan semua itu jika kita peduli dengan masa depan anak. Poin pentingnya, bila ingin anak kita memiliki bakat dan karier cemerlang maka kita butuh mengembangkan diri dan kemampuan kita menjadi
#‎PendidikMenumbuhkan.

Salam Menggemaskan

Andrie Firdaus
Penulis buku Bakat Bukan Takdir


Sumber: http://bit.ly/296DoKB
Inilah yang Membuat Anak Anda Mudah Terkena Pengaruh Negatif

Orangtua ingin anaknya tahan terhadap pengaruh negatif, tapi tidak sadar perlakuannya justru membuat anaknya mudah terkena pengaruh negatif.

Pengaruh negatif dari lingkungan bukan sesuatu yang bisa dihilangkan. Meski berusaha menghindar, tetap saja ada kemungkinan anak kita berhadapan dengan pengaruh negatif. Tak heran banyak orangtua ingin anaknya tahan, tapi sayangnya cara yang dilakukan justru membuat anak jadi mudah terkena pengaruh negatif. Cara apa itu?

Upaya orangtua yang paling sering dilakukan adalah memberi perintah dan larangan. Seolah orangtua ingin anaknya selalu berada pada lingkungan yang steril, “kondisi suci hama”. Hasil dari perintah dan larangan pasti langsung terlihat, anaknya baik-baik saja, setidaknya pada saat ini. Contoh perintah: kamu harus belajar, kamu harus rajin sekolah, kamu harus mendengarkan nasihat orangtua. Contoh larangan: dilarang main pasir, dilarang main hujan, dilarang mendengar lagu yang aneh-aneh dan banyak lagi.

Tapi pemberian perintah dan larangan yang berlebihan justru menimbulkan dua dampak negatif. Pertama, anak kehilangan kesempatan belajar. Belajar mengenali dan mengatasi suatu pengaruh negatif. Anak hanya tahu semua baik-baik saja buat dirinya. Contoh: anak yang selalu dilarang bermain pasir tidak tahu pentingnya mencuci tangan dan kaki setelah bermain pasir. Ketika bermain pasir di luar sepengetahuan orangtua, anak pun tidak mencuci tangan dan kaki.

Kedua, anak terbiasa dikontrol pihak eksternal. Ketika terlalu banyak perintah dan larangan, maka anak berperilaku berdasarkan tuntutan orang lain. Anak bertindak karena motivasi ekstrinsik. Budi pekerti anak tidak berkembang sehingga kesulitan melakukan kontrol diri. Anak kurang mampu menetapkan tujuan, mengatur strategi dan berperilaku mengarah pada tujuannya tersebut.

Anak yang tergantung pada motivasi ekstrinsik akan tampak baik-baik saja ketika berada bersama orangtua dan guru. Pertanyaannya, apa yang terjadi ketika anak berada di lingkungan orang-orang yang menyebarkan pengaruh negatif? Ya sama persis ketika menghadapi orangtua dan guru, patuh pada orang yang berpengaruh negatif tersebut.

Ironis, orangtua ingin menghindarkan anak tapi justru membuat anak mudah terkena pengaruh negatif. Bila Anda ingin mendidik anak yang tahan terhadap pengaruh negatif, maka minimakan perintah dan larangan pada anak. Batasi perintah dan larangan pada hal-hal pokok yang sangat penting.

Tumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak. Beri kesempatan anak bertindak berdasarkan kemauannya, atau berdasarkan motivasi intrinsik sang anak. Anak yang mempunyai kemauan yang kuat adalah anak yang lebih tahan terhadap pengaruh negatif. Stimulasi anak dengan pertanyaan reflektif yang membantu anak menyadari tindakan dan akibatnya. Pancing anak agar menemukan cara-cara yang lebih efektif untuk mencapai tujuannya.

Di buku Anak Bukan Kertas Kosong, saya menguraikan contoh dan riset mengenai motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Sementara di buku Bakat Bukan Takdir, kami menyediakan latihan buat orangtua untuk berlatih mengenali motivasi ekstrinsik dan instrinsik pada perilaku anak. Selain itu, kami juga menyediakan sejumlah latihan agar orangtua menguasai keterampilan pendidik yang menumbuhkan kesadaran anak.

Ingin anak tahan terhadap pengaruh negatif? Ayo berlatih menjadi pendidik yang menumbuhkan, pendidik yang mengembangkan budi pekerti anak.

Sumber: http://temantakita.com/pengaruh-negatif/

Silahkan disebarkan tanpa perlu ijin
#‎SuaraAnak telah berlangsung enam kali. Setiap kalinya, saya menyaksikan anak-anak yang menakjubkan semangat belajarnya. Belajar bukan sebatas artian akademis, tapi mengembangkan potensinya. Mereka gemar, mereka tekun, mereka berhasil mengatasi rasa malas, bosan atau kesenangan yang lain. Mereka berhasil mengelola dirinya.

Awalnya, saya hanya berharap menyaksikan anak-anak yang tekun belajar. Tapi dari enam kali Suara Anak, saya menyaksikan anak-anak yang melampui harapan saya. Saya ingin memberi kesempatan pada mereka yang telah menunjukkan ketekunan yang lebih.

Karena itu, Suara Anak Ketujuh menghadirkan 3 kategori yaitu Kegemaran (sama seperti format awal), Karya dan Misi Sosial. Kategori Karya hadir untuk menghargai anak-anak yang tekun dan menghasilkan karya. Kategori Misi Sosial hadir untuk menghargai anak-anak yang tekun menjalankan misi yang bermanfaat buat masyarakatnya.

Apakah ada anak yang ikut ketiga kategori itu? Saya yakin ada. Dan saya percaya, kalau kita sebagai orang dewasa mempertahankan keyakinan positif maka anak-anak akan mengarah untuk mewujudkan keyakinan tersebut.

Suara Anak Ketujuh ini diadakan di Surabaya tapi bisa diikuti oleh daerah lain yang bersedia hadir secara mandiri. Suara Anak berikutnya akan hadir di daerah-daerah lain, teman-teman relawan terus bergerak di Malang, Semarang, Bandung, dan Depok. Dan semoga semakin banyak daerah yang mengadakan Suara Anak.

Bantu #SuaraAnak untuk menemukan anak-anak yang menekuni kegemaran, berkarya dan menjalankan misi sosial

Daftar di Suara-Anak.TemanTakita.com