Banyak orang menganggap pengembangan bakat anak hanya bagi anak kota. Keliru, anak desa juga membutuhkannya. Ini penjelasannya
Untuk menjawab apakah bakat anak hanya kebutuhan anak kota dan bukan kebutuhan anak desa, kita perlu memahami pengertian bakat anak. Sebagaimana saya tulis di buku Bakat Bukan Takdir,
Bakat adalah aktivitas atau karya anak yang sesuai potensinya dan dihargai masyarakat
Bakat bukan sekedar keterampilan atau kemampuan. Bakat bukan dinilai dari menang lomba atau jumlah piala. Bakat adalah aktivitas atau karya yang dihasilkan anak yang memberi manfaat pada masyarakat sehingga masyarakat pun menghargainya.
Bakat adalah perpaduan antara potensi anak dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Bakat selalu melekat pada suatu sistem budaya. Suatu bakat bisa jadi tidak dihargai di suatu daerah tapi dihargai di daerah lain. Aktivitas menyelam dihargai di daerah pantai tapi tidak ada gunanya di daerah gunung. Album piano akan lebih dihargai di kota dibandingkan di desa.
Apakah anak desa butuh pengembangan bakat? Anak desa jauh lebih membutuhkan pengembangan bakat dibandingkan anak kota. Tanpa pengembangan bakat, anak desa belajar pengetahuan dan keterampilan umum yang seringkali tidak relevan dengan potensi dan kesempatan di desanya. Tak heran bila banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi cenderung memilih meninggalkan desanya untuk mencari kelompok masyarakat yang menghargai pengetahuan dan keterampilan umum tersebut.
Sebaliknya bila anak desa mengembangkan bakatnya. Dengan potensinya, anak desa akan mengenali berbagai potensi di sekitar desanya dan mengubahnya menjadi karya yang dihargai masyarakat desa itu sendiri maupun masyarakat daerah lain.
Semisal di daerah yang mempunyai hutan bambu. Bayangkan paduan kecerdasan musik dengan alat musik bambu menghasilkan musik bambu yang merdu. Bayangkan paduan kecerdasan alam dengan beragam bambu menghasilkan kajian jenis-jenis bambu. Bayangkan paduan kecerdasan imaji dengan bahan bambu yang menghasilkan lukisan atau prakarya bambu yang indah. Bayangkan paduan kecerdasan diri dengan bambu sebagai bahan renungan menghasilkan tulisan mengenai refleksi bambu.
Bayangkan paduan kecerdasan tubuh dengan peralatan bambu menghasilkan sepeda bambu. Bayangkan paduan kecerdasan aksara dengan bambu sebagai metafor akan menghasilkan puisi bambu. Bayangkan paduan kecerdasan sosial dengan bambu akan menghasilkan pebisnis yang memahami industri bambu. Bayangkan paduan kecerdasan logika dengan bambu akan menghasilkan perangkat bambu yang penting bagi kehidupan. Bayangkan bila paduan tersebut digabung atau dikolaborasikan maka kemungkinan kombinasinya menjadi tidak terbatas.
Apa contohnya? Anda bisa membaca kisah William Kamkwamba dengan kecerdasan logika membangun kincir pembangkit listrik dan irigasi di desa. Anda bisa membaca kisah Mikail Kaysan yang menekuni bakat sebagai pengamat burung. Anda bisa membaca kisah Sang Puan Daulat yang mempunyai kegemaran Menggambar untuk Petani.
Lalu siapa guru yang akan memfasilitasi pengembangan bakat anak desa? Berbeda dengan sekolah formal, pengembangan bakat dapat difasilitasi oleh siapapun selama mempunyai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak desa dalam mengembangkan bakatnya. Sumber pengetahuan dan “ahli” desa yang selama ini diabaikan justru bisa menemukan kembali peran pentingnya.
Pengembangan desa yang selama ini hanya memperhitungkan potensi alam, mendapat kemungkinan unik yang lebih kaya bila mempertimbangkan keunikan bakat, sumber pengetahuan dan “ahli lokal” yang ada di suatu desa. Kemungkinan unik yang bisa digunakan sebagai dasar untuk membangun “brand” dari suatu desa.
Dengan pengembangan bakat anak yang mengacu pada buku Bakat Bukan Takdir, anak desa justru lebih cepat dan lebih fokus menemukan kecerdasan dirinya, menemukan bakat yang ingin dikembangkan dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Pengembangan bakat dibutuhkan baik oleh anak kota maupun anak desa.
Sumber: http://temantakita.com/anak-desa/
Untuk menjawab apakah bakat anak hanya kebutuhan anak kota dan bukan kebutuhan anak desa, kita perlu memahami pengertian bakat anak. Sebagaimana saya tulis di buku Bakat Bukan Takdir,
Bakat adalah aktivitas atau karya anak yang sesuai potensinya dan dihargai masyarakat
Bakat bukan sekedar keterampilan atau kemampuan. Bakat bukan dinilai dari menang lomba atau jumlah piala. Bakat adalah aktivitas atau karya yang dihasilkan anak yang memberi manfaat pada masyarakat sehingga masyarakat pun menghargainya.
Bakat adalah perpaduan antara potensi anak dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Bakat selalu melekat pada suatu sistem budaya. Suatu bakat bisa jadi tidak dihargai di suatu daerah tapi dihargai di daerah lain. Aktivitas menyelam dihargai di daerah pantai tapi tidak ada gunanya di daerah gunung. Album piano akan lebih dihargai di kota dibandingkan di desa.
Apakah anak desa butuh pengembangan bakat? Anak desa jauh lebih membutuhkan pengembangan bakat dibandingkan anak kota. Tanpa pengembangan bakat, anak desa belajar pengetahuan dan keterampilan umum yang seringkali tidak relevan dengan potensi dan kesempatan di desanya. Tak heran bila banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi cenderung memilih meninggalkan desanya untuk mencari kelompok masyarakat yang menghargai pengetahuan dan keterampilan umum tersebut.
Sebaliknya bila anak desa mengembangkan bakatnya. Dengan potensinya, anak desa akan mengenali berbagai potensi di sekitar desanya dan mengubahnya menjadi karya yang dihargai masyarakat desa itu sendiri maupun masyarakat daerah lain.
Semisal di daerah yang mempunyai hutan bambu. Bayangkan paduan kecerdasan musik dengan alat musik bambu menghasilkan musik bambu yang merdu. Bayangkan paduan kecerdasan alam dengan beragam bambu menghasilkan kajian jenis-jenis bambu. Bayangkan paduan kecerdasan imaji dengan bahan bambu yang menghasilkan lukisan atau prakarya bambu yang indah. Bayangkan paduan kecerdasan diri dengan bambu sebagai bahan renungan menghasilkan tulisan mengenai refleksi bambu.
Bayangkan paduan kecerdasan tubuh dengan peralatan bambu menghasilkan sepeda bambu. Bayangkan paduan kecerdasan aksara dengan bambu sebagai metafor akan menghasilkan puisi bambu. Bayangkan paduan kecerdasan sosial dengan bambu akan menghasilkan pebisnis yang memahami industri bambu. Bayangkan paduan kecerdasan logika dengan bambu akan menghasilkan perangkat bambu yang penting bagi kehidupan. Bayangkan bila paduan tersebut digabung atau dikolaborasikan maka kemungkinan kombinasinya menjadi tidak terbatas.
Apa contohnya? Anda bisa membaca kisah William Kamkwamba dengan kecerdasan logika membangun kincir pembangkit listrik dan irigasi di desa. Anda bisa membaca kisah Mikail Kaysan yang menekuni bakat sebagai pengamat burung. Anda bisa membaca kisah Sang Puan Daulat yang mempunyai kegemaran Menggambar untuk Petani.
Lalu siapa guru yang akan memfasilitasi pengembangan bakat anak desa? Berbeda dengan sekolah formal, pengembangan bakat dapat difasilitasi oleh siapapun selama mempunyai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak desa dalam mengembangkan bakatnya. Sumber pengetahuan dan “ahli” desa yang selama ini diabaikan justru bisa menemukan kembali peran pentingnya.
Pengembangan desa yang selama ini hanya memperhitungkan potensi alam, mendapat kemungkinan unik yang lebih kaya bila mempertimbangkan keunikan bakat, sumber pengetahuan dan “ahli lokal” yang ada di suatu desa. Kemungkinan unik yang bisa digunakan sebagai dasar untuk membangun “brand” dari suatu desa.
Dengan pengembangan bakat anak yang mengacu pada buku Bakat Bukan Takdir, anak desa justru lebih cepat dan lebih fokus menemukan kecerdasan dirinya, menemukan bakat yang ingin dikembangkan dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Pengembangan bakat dibutuhkan baik oleh anak kota maupun anak desa.
Sumber: http://temantakita.com/anak-desa/
Bulan Mei adalah Bulan Pendidikan
Bulan Mei adalah Milik Kita
Jangan Biarkan Terlewat Tanpa Makna
Anda tahu, kita tahu;
Anda merasakan, kita merasakan,
bahwa
pendidikan bukan lomba lari jarak pendek.
Pendidikan adalah penjelajahan panjang yang menyenangkan sekaligus menantang.
Meski kita berusaha membuat sasaran belajar tapi kenyataannya tujuan pendidikan sebenarnya jauh di depan kita.
Wajar bila kita kadang merasa lelah.
Normal bila kita pernah bingung entah mau kemana.
Pada titik itu, penting berjumpa dengan teman seperjalanan.
Berjumpa, berbicara, berbagi cerita.
Merayakan capaian, bukan sebagai ekspresi berpuas diri,
tapi upaya menambah bekal
untuk melanjutkan penjelajahan panjang kita
hingga tahun depan kita berjumpa kembali.
Bulan Mei adalah Bulan Pendidikan
Bulan Mei adalah Milik Kita
Ayo Rayakan di Pesta Pendidikan
Bersama ribuan orang, bersama ratusan komunitas dan organisasi
Berjumpa untuk berbagi cerita, saling belajar, saling dukung, membangun jejaring & berkolaborasi.
Karena Pendidikan Adalah Urusan Semua Orang. Mari Rayakan dan Belajar dari Semua Orang
Minggu, 29 Mei 2016
FX Sudirman - Jakarta
Info Acara, Klik http://bit.ly/1TCVp2b
Bulan Mei adalah Milik Kita
Jangan Biarkan Terlewat Tanpa Makna
Anda tahu, kita tahu;
Anda merasakan, kita merasakan,
bahwa
pendidikan bukan lomba lari jarak pendek.
Pendidikan adalah penjelajahan panjang yang menyenangkan sekaligus menantang.
Meski kita berusaha membuat sasaran belajar tapi kenyataannya tujuan pendidikan sebenarnya jauh di depan kita.
Wajar bila kita kadang merasa lelah.
Normal bila kita pernah bingung entah mau kemana.
Pada titik itu, penting berjumpa dengan teman seperjalanan.
Berjumpa, berbicara, berbagi cerita.
Merayakan capaian, bukan sebagai ekspresi berpuas diri,
tapi upaya menambah bekal
untuk melanjutkan penjelajahan panjang kita
hingga tahun depan kita berjumpa kembali.
Bulan Mei adalah Bulan Pendidikan
Bulan Mei adalah Milik Kita
Ayo Rayakan di Pesta Pendidikan
Bersama ribuan orang, bersama ratusan komunitas dan organisasi
Berjumpa untuk berbagi cerita, saling belajar, saling dukung, membangun jejaring & berkolaborasi.
Karena Pendidikan Adalah Urusan Semua Orang. Mari Rayakan dan Belajar dari Semua Orang
Minggu, 29 Mei 2016
FX Sudirman - Jakarta
Info Acara, Klik http://bit.ly/1TCVp2b
Jangan sampai salah kaprah mengembangkan bakat anak. Dapatkan buku #BakatBukanTakdir di toko buku terdekat atau di toko.temantakita.com :)
Toko Takita
Tempat Belanja Alat Belajar & Bakat Anak - Toko Takita
Ekspresikan Keistimewaan | Anak dan Keluarga Indonesia
Video 10 Mitos Kompetisi | https://www.facebook.com/BakatBukanTakdir/videos/489929394547966/
Melatih Anak Belajar Berpuasa? Inilah 6 Tips untuk Ayah Ibu. Baca di http://temantakita.com/tips-anak-belajar-berpuasa/
Lebaran mudik kemana?
Yuk bawa oleh-oleh produk kece dari Toko TemanTakita.com.
Pas pula ada diskon 20% untuk SEMUA produk.
Dan enaknya, TIDAK ada minimum belanja
Jadi tunggu apalagi, buruan KLIK Toko.TemanTakita.com
Pilih produk yang disuka, ada buku, kaos, tas, & mainan edukatif
Gunakan kode kupon ketupatlebaran
Dapatkan diskon 20%
Cara belanja bisa dilihat di http://bit.ly/CaraBeliTokoTakita
Berlaku untuk periode belanja 20 - 27 Juni 2016.
Yuk bawa oleh-oleh produk kece dari Toko TemanTakita.com.
Pas pula ada diskon 20% untuk SEMUA produk.
Dan enaknya, TIDAK ada minimum belanja
Jadi tunggu apalagi, buruan KLIK Toko.TemanTakita.com
Pilih produk yang disuka, ada buku, kaos, tas, & mainan edukatif
Gunakan kode kupon ketupatlebaran
Dapatkan diskon 20%
Cara belanja bisa dilihat di http://bit.ly/CaraBeliTokoTakita
Berlaku untuk periode belanja 20 - 27 Juni 2016.
Tahap Tumbuh Kembang Bakat Anak
http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/tahap-tumbuh-kembang-bakat-anak
Pernah merasa khawatir dengan masa depan anak Anda? Apa pekerjaannya kelak? Apa profesi yang tepat untuknya? Bukik Setiawan, ahli bakat anak, penulis buku Bakat Bukan Takdir, menuturkan pengalamannya menemani tumbuh kembang bakat putrinya, Ayunda Damai (10). Berikut kisahnya.
Asyiknya Eksplorasi
Sejak Damai kecil, kami memberi banyak stimulasi dalam bentuk permainan. Permainan yang kami maksud adalah aktivitas menantang tanpa target khusus. Semangatnya lebih pada eksplorasi, agar anak mendapat kesempatan mencoba beragam aktivitas. Kami membacakan cerita dari buku, agar anak mengeksplorasi kecerdasan aksara. Kami ajak bermain lego, agar anak mengeksplorasi kecerdasan logika dan imajinasinya. Di lain kesempatan, Damai melihat latihan menari agar dia mengeksplorasi kecerdasan tubuh dan musik. Kami juga mengenalkannya tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar, agar dia mengeksplorasi kecerdasan alam. Bermain flying fox? Ya! Agar anak merasakan kecerdasan tubuhnya. Agar mengenal kecerdasan musiknya, Damai kami ajak bermain gamelan.
Sementara, agar dia mengenal kebutuhan dan aspirasinya, serta kecerdasan diri, kami banyak mengajukan pertanyaan dan meminta pendapatnya. Saya mendongeng interaktif agar Damai bisa merasakan kecerdasan aksara dan kecerdasan relasi. Dan, masih banyak lagi pilihan aktivitas yang kami kenalkan kepadanya. Meski bertujuan eksplorasi, manfaat aktivitas-aktivitas bermain sebenarnya lebih besar lagi. Bermain mungkin terkesan tidak serius. Tapi melalui permainan, perilaku alami anak justru muncul. Selain anak gembira bermain, kami pun jadi lebih memahami anak.
Siklus Perkembangan Bakat Anak
Setelah eksplorasi, lalu apa yang harus saya lakukan? Bingung. Lalu, saya mencoba mencari bermacam referensi lewat buku dan internet. Sampai suatu ketika saya menemukan penjelasan dari Howard Gardner, seorang profesor psikologi pendidikan sekaligus konseptor dari teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Gardner menjelaskan tahapan sejak awal anak mengenali kecerdasan majemuk hingga tahap kreatif. Sayangnya, penjelasannya terlalu singkat, hanya dua halaman. Penjelasan pokok-pokoknya saja, tapi tidak menjabarkan apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua dalam menyiapkan anak untuk berkarier cemerlang.
Berdasar kesulitan tersebut, saya menyusun sebuah konsep yang saya sebut sebagai Siklus Perkembangan Bakat. Fase awal dari siklus ini telah kami praktikkan pada anak. Fase akhir dari konsep ini sudah saya praktikkan sendiri, sehingga saya pun berani mundur sebagai PNS (Dosen). Siklus perkembangan bakat, terdiri dari 4 fase. Diawali dari fase eksplorasi (0 - 7 tahun), belajar mendalam (7 - 13 tahun), arah karier (Di atas 13 tahun) hingga fase berkarier (di atas 18 tahun).
Ajak Anak Mengenal Dirinya
Pada fase eksplorasi, fase yang telah saya lakukan bersama anak, ada 3 tugas yang harus dilakukan orang tua yaitu stimulasi, kenali dan refleksikan kecerdasan majemuk anak. Setelah memberikan stimulasi dan mengenali kecerdasan majemuk sebagaimana saya ceritakan di awal tulisan, saya pun lakukan refleksi bersama Damai. Prosesnya sederhana, ngobrol kecil bersama Damai, tentang maskot-maskot kecerdasan majemuk yang saya buat sendiri. Dari obrolan ringan ini, membantu anak untuk lebih mengenal kelebihan dirinya.
Fase berikutnya adalah fase belajar mendalam. Ada 4 tugas perkembangan bakat, yaitu fokus belajar, gemar belajar, tekun belajar dan belajar mendalam. Fokus belajar adalah proses memandu anak untuk menentukan sendiri bakat yang akan jadi fokus pengembangan. Dari berbagai pilihan yang kami diskusikan, Damai memilih piano dan menulis di blog sebagai fokus belajarnya. Setelah fokus belajar, tantangan perkembangan bakat anak semakin menantang, yakni menumbuhkan kegemaran belajar anak. Belajar karena suka, bukan karena ujian atau karena ikut lomba.
Mulai Merancang Arah Kariernya
Hari-hari ini kami terus bergembira menemani Damai mengembangkan bakatnya pada fase belajar mendalam. Damai menyusun portofolio bakatnya
http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/tahap-tumbuh-kembang-bakat-anak
Pernah merasa khawatir dengan masa depan anak Anda? Apa pekerjaannya kelak? Apa profesi yang tepat untuknya? Bukik Setiawan, ahli bakat anak, penulis buku Bakat Bukan Takdir, menuturkan pengalamannya menemani tumbuh kembang bakat putrinya, Ayunda Damai (10). Berikut kisahnya.
Asyiknya Eksplorasi
Sejak Damai kecil, kami memberi banyak stimulasi dalam bentuk permainan. Permainan yang kami maksud adalah aktivitas menantang tanpa target khusus. Semangatnya lebih pada eksplorasi, agar anak mendapat kesempatan mencoba beragam aktivitas. Kami membacakan cerita dari buku, agar anak mengeksplorasi kecerdasan aksara. Kami ajak bermain lego, agar anak mengeksplorasi kecerdasan logika dan imajinasinya. Di lain kesempatan, Damai melihat latihan menari agar dia mengeksplorasi kecerdasan tubuh dan musik. Kami juga mengenalkannya tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar, agar dia mengeksplorasi kecerdasan alam. Bermain flying fox? Ya! Agar anak merasakan kecerdasan tubuhnya. Agar mengenal kecerdasan musiknya, Damai kami ajak bermain gamelan.
Sementara, agar dia mengenal kebutuhan dan aspirasinya, serta kecerdasan diri, kami banyak mengajukan pertanyaan dan meminta pendapatnya. Saya mendongeng interaktif agar Damai bisa merasakan kecerdasan aksara dan kecerdasan relasi. Dan, masih banyak lagi pilihan aktivitas yang kami kenalkan kepadanya. Meski bertujuan eksplorasi, manfaat aktivitas-aktivitas bermain sebenarnya lebih besar lagi. Bermain mungkin terkesan tidak serius. Tapi melalui permainan, perilaku alami anak justru muncul. Selain anak gembira bermain, kami pun jadi lebih memahami anak.
Siklus Perkembangan Bakat Anak
Setelah eksplorasi, lalu apa yang harus saya lakukan? Bingung. Lalu, saya mencoba mencari bermacam referensi lewat buku dan internet. Sampai suatu ketika saya menemukan penjelasan dari Howard Gardner, seorang profesor psikologi pendidikan sekaligus konseptor dari teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Gardner menjelaskan tahapan sejak awal anak mengenali kecerdasan majemuk hingga tahap kreatif. Sayangnya, penjelasannya terlalu singkat, hanya dua halaman. Penjelasan pokok-pokoknya saja, tapi tidak menjabarkan apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua dalam menyiapkan anak untuk berkarier cemerlang.
Berdasar kesulitan tersebut, saya menyusun sebuah konsep yang saya sebut sebagai Siklus Perkembangan Bakat. Fase awal dari siklus ini telah kami praktikkan pada anak. Fase akhir dari konsep ini sudah saya praktikkan sendiri, sehingga saya pun berani mundur sebagai PNS (Dosen). Siklus perkembangan bakat, terdiri dari 4 fase. Diawali dari fase eksplorasi (0 - 7 tahun), belajar mendalam (7 - 13 tahun), arah karier (Di atas 13 tahun) hingga fase berkarier (di atas 18 tahun).
Ajak Anak Mengenal Dirinya
Pada fase eksplorasi, fase yang telah saya lakukan bersama anak, ada 3 tugas yang harus dilakukan orang tua yaitu stimulasi, kenali dan refleksikan kecerdasan majemuk anak. Setelah memberikan stimulasi dan mengenali kecerdasan majemuk sebagaimana saya ceritakan di awal tulisan, saya pun lakukan refleksi bersama Damai. Prosesnya sederhana, ngobrol kecil bersama Damai, tentang maskot-maskot kecerdasan majemuk yang saya buat sendiri. Dari obrolan ringan ini, membantu anak untuk lebih mengenal kelebihan dirinya.
Fase berikutnya adalah fase belajar mendalam. Ada 4 tugas perkembangan bakat, yaitu fokus belajar, gemar belajar, tekun belajar dan belajar mendalam. Fokus belajar adalah proses memandu anak untuk menentukan sendiri bakat yang akan jadi fokus pengembangan. Dari berbagai pilihan yang kami diskusikan, Damai memilih piano dan menulis di blog sebagai fokus belajarnya. Setelah fokus belajar, tantangan perkembangan bakat anak semakin menantang, yakni menumbuhkan kegemaran belajar anak. Belajar karena suka, bukan karena ujian atau karena ikut lomba.
Mulai Merancang Arah Kariernya
Hari-hari ini kami terus bergembira menemani Damai mengembangkan bakatnya pada fase belajar mendalam. Damai menyusun portofolio bakatnya