Mengapa penting mendengar Suara Anak? Presentan yang tampil adalah anak-anak yang telah menekuni suatu bakat atau kegemarannya lebih dari satu tahun. Bila anda ingin belajar cara membuat anak tekun belajar, maka sudah sepatutnya belajar dari pelaku ketekunan belajar. Kita boleh belajar dari ahli atau dari orang lain, tapi tentu tidak lengkap bila tidak belajar dari anak-anak yang sudah berhasil tekun belajar. Baca lengkapnya di http://bit.ly/SuaraAnakKelima
Mau buku Bakat Bukan Takdir? Yuk ikutan #GiveAway seru ini
1. Like Facebook Page Bakat Bukan Takdir & TemanTakita.com atau Follow instagram @TemanTakita
2. Anda bisa ikut di Facebook, Instagram atau keduanya
3. Akun Facebook anda harus bisa diakses oleh publik dan akun instagram Anda tidak diprivate
4. Share atau repost foto ini dengan tag ke 5 orang teman anda dan menuliskan 3 kriteria anak sukses versi anda.
5. Sertakan tagar #TujuanMendidik #BakatBukanTakdir
6. Tiga pemenang yang beruntung akan mendapatkan buku Bakat Bukan Takdir
7. Pemenang diumumkan pada 23 April di Facebook dan Instragram TemanTakita
8. Selamat berbagi inspirasi. Semoga beruntung menjadi pemenang
1. Like Facebook Page Bakat Bukan Takdir & TemanTakita.com atau Follow instagram @TemanTakita
2. Anda bisa ikut di Facebook, Instagram atau keduanya
3. Akun Facebook anda harus bisa diakses oleh publik dan akun instagram Anda tidak diprivate
4. Share atau repost foto ini dengan tag ke 5 orang teman anda dan menuliskan 3 kriteria anak sukses versi anda.
5. Sertakan tagar #TujuanMendidik #BakatBukanTakdir
6. Tiga pemenang yang beruntung akan mendapatkan buku Bakat Bukan Takdir
7. Pemenang diumumkan pada 23 April di Facebook dan Instragram TemanTakita
8. Selamat berbagi inspirasi. Semoga beruntung menjadi pemenang
Buat saya, film How To Train Your Dragon itu menarik. Bukan tentang cara melatih naga, tapi justru tentang pendidikan anak. Kok bisa? http://temantakita.com/pendidikan-anak/
Kemiskinan dan kelaparan tidak menghentikan anak usia 14 tahun ini menciptakan pembangkit listrik tenaga angin yang menerangi desanya. Namanya, William Kamkwamba. http://temantakita.com/pembangkit-listrik/
TemanTakita.com
Meski Miskin, Anak 14 Tahun ini Menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Kemiskinan dan kelaparan tidak menghentikan anak usia 14 tahun ini menciptakan pembangkit listrik tenaga angin yang menerangi desanya. | TemanTakita.com
Pesan dari Mas Menteri.
Selamat Hari Pendidikan untuk anak muda yang belajar di perantauan.
=========================
Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.
Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.
Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.
Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!
Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.
Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.
Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.
Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.
Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.
Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!
Salam,
Anies Baswedan
Cilandak, 1 Mei 2016, 23.07
Selamat Hari Pendidikan untuk anak muda yang belajar di perantauan.
=========================
Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.
Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.
Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.
Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!
Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.
Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.
Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.
Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.
Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.
Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!
Salam,
Anies Baswedan
Cilandak, 1 Mei 2016, 23.07
Wawancara pendiri TemanTakita.com di Majalah Intisari edisi Mei yang khusus membahas bakat anak. Silahkan dapatkan
Nanti jam 10 WIB ngobrol yuk dengan Bukik Setiawan, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir tentang calistung di Basa-basi Trans TV
LAYAR TANCAP & PELUNCURAN
SINEMA EDUKASI (sinedu.id)
Halo!
Perkenalkan, kami adalah Sinema Edukasi (sinedu.id), sebuah online platform pertama di Indonesia yang menyediakan film sebagai media belajar untuk siswa, guru, dan orangtua.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pesta Pendidikan 2016, kami mengajak semua untuk datang ke peluncuran sinedu.id yang akan diadakan pada:
Selasa, 24 Mei 2016
16.00 (Registrasi)
17.00 - 20.00 (Peluncuran & Layar Tancap)
Lokasi: TAMAN MENTENG (Lap. Basket)
Bersama:
Angga Sasongko
Ernest Prakasa
Najelaa Shihab
Gina S. Noer
Prameshwari Sugiri
Guru dan siswa SMP & SMA
Dinas Pendidikan DKI Jakarta
Nonton Bareng Film Pendek dan Diskusi:
1. SEPATU BARU (Aditya Ahmad)
Special Mention untuk Film Pendek Terbaik kategori Generation KPlus di Festival Film Berlin “Berlinale”.
2. LEMBAR JAWABAN KITA (Sofyana Ali)
Sinema Terbaik Festival Film Jawa Barat 2015, Festival Sinema Prancis.
3. LAWUH BOLED (Misyatun)
Film Pendek Terbaik di South to South (StoS) Film Festival 2014.
Akan diramaikan dengan kuis seru seputar film. Yuk, piknik sore di Taman Menteng sambil nonton film. Datang, yaaa!
Salam hangat,
Sinedu.id
Acara ini disponsori oleh:
Wardah - Inspiring Beauty
Dan didukung oleh:
Ayahbunda & Parenting Indonesia
SINEMA EDUKASI (sinedu.id)
Halo!
Perkenalkan, kami adalah Sinema Edukasi (sinedu.id), sebuah online platform pertama di Indonesia yang menyediakan film sebagai media belajar untuk siswa, guru, dan orangtua.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pesta Pendidikan 2016, kami mengajak semua untuk datang ke peluncuran sinedu.id yang akan diadakan pada:
Selasa, 24 Mei 2016
16.00 (Registrasi)
17.00 - 20.00 (Peluncuran & Layar Tancap)
Lokasi: TAMAN MENTENG (Lap. Basket)
Bersama:
Angga Sasongko
Ernest Prakasa
Najelaa Shihab
Gina S. Noer
Prameshwari Sugiri
Guru dan siswa SMP & SMA
Dinas Pendidikan DKI Jakarta
Nonton Bareng Film Pendek dan Diskusi:
1. SEPATU BARU (Aditya Ahmad)
Special Mention untuk Film Pendek Terbaik kategori Generation KPlus di Festival Film Berlin “Berlinale”.
2. LEMBAR JAWABAN KITA (Sofyana Ali)
Sinema Terbaik Festival Film Jawa Barat 2015, Festival Sinema Prancis.
3. LAWUH BOLED (Misyatun)
Film Pendek Terbaik di South to South (StoS) Film Festival 2014.
Akan diramaikan dengan kuis seru seputar film. Yuk, piknik sore di Taman Menteng sambil nonton film. Datang, yaaa!
Salam hangat,
Sinedu.id
Acara ini disponsori oleh:
Wardah - Inspiring Beauty
Dan didukung oleh:
Ayahbunda & Parenting Indonesia
Banyak orang menganggap pengembangan bakat anak hanya bagi anak kota. Keliru, anak desa juga membutuhkannya. Ini penjelasannya
Untuk menjawab apakah bakat anak hanya kebutuhan anak kota dan bukan kebutuhan anak desa, kita perlu memahami pengertian bakat anak. Sebagaimana saya tulis di buku Bakat Bukan Takdir,
Bakat adalah aktivitas atau karya anak yang sesuai potensinya dan dihargai masyarakat
Bakat bukan sekedar keterampilan atau kemampuan. Bakat bukan dinilai dari menang lomba atau jumlah piala. Bakat adalah aktivitas atau karya yang dihasilkan anak yang memberi manfaat pada masyarakat sehingga masyarakat pun menghargainya.
Bakat adalah perpaduan antara potensi anak dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Bakat selalu melekat pada suatu sistem budaya. Suatu bakat bisa jadi tidak dihargai di suatu daerah tapi dihargai di daerah lain. Aktivitas menyelam dihargai di daerah pantai tapi tidak ada gunanya di daerah gunung. Album piano akan lebih dihargai di kota dibandingkan di desa.
Apakah anak desa butuh pengembangan bakat? Anak desa jauh lebih membutuhkan pengembangan bakat dibandingkan anak kota. Tanpa pengembangan bakat, anak desa belajar pengetahuan dan keterampilan umum yang seringkali tidak relevan dengan potensi dan kesempatan di desanya. Tak heran bila banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi cenderung memilih meninggalkan desanya untuk mencari kelompok masyarakat yang menghargai pengetahuan dan keterampilan umum tersebut.
Sebaliknya bila anak desa mengembangkan bakatnya. Dengan potensinya, anak desa akan mengenali berbagai potensi di sekitar desanya dan mengubahnya menjadi karya yang dihargai masyarakat desa itu sendiri maupun masyarakat daerah lain.
Semisal di daerah yang mempunyai hutan bambu. Bayangkan paduan kecerdasan musik dengan alat musik bambu menghasilkan musik bambu yang merdu. Bayangkan paduan kecerdasan alam dengan beragam bambu menghasilkan kajian jenis-jenis bambu. Bayangkan paduan kecerdasan imaji dengan bahan bambu yang menghasilkan lukisan atau prakarya bambu yang indah. Bayangkan paduan kecerdasan diri dengan bambu sebagai bahan renungan menghasilkan tulisan mengenai refleksi bambu.
Bayangkan paduan kecerdasan tubuh dengan peralatan bambu menghasilkan sepeda bambu. Bayangkan paduan kecerdasan aksara dengan bambu sebagai metafor akan menghasilkan puisi bambu. Bayangkan paduan kecerdasan sosial dengan bambu akan menghasilkan pebisnis yang memahami industri bambu. Bayangkan paduan kecerdasan logika dengan bambu akan menghasilkan perangkat bambu yang penting bagi kehidupan. Bayangkan bila paduan tersebut digabung atau dikolaborasikan maka kemungkinan kombinasinya menjadi tidak terbatas.
Apa contohnya? Anda bisa membaca kisah William Kamkwamba dengan kecerdasan logika membangun kincir pembangkit listrik dan irigasi di desa. Anda bisa membaca kisah Mikail Kaysan yang menekuni bakat sebagai pengamat burung. Anda bisa membaca kisah Sang Puan Daulat yang mempunyai kegemaran Menggambar untuk Petani.
Lalu siapa guru yang akan memfasilitasi pengembangan bakat anak desa? Berbeda dengan sekolah formal, pengembangan bakat dapat difasilitasi oleh siapapun selama mempunyai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak desa dalam mengembangkan bakatnya. Sumber pengetahuan dan “ahli” desa yang selama ini diabaikan justru bisa menemukan kembali peran pentingnya.
Pengembangan desa yang selama ini hanya memperhitungkan potensi alam, mendapat kemungkinan unik yang lebih kaya bila mempertimbangkan keunikan bakat, sumber pengetahuan dan “ahli lokal” yang ada di suatu desa. Kemungkinan unik yang bisa digunakan sebagai dasar untuk membangun “brand” dari suatu desa.
Dengan pengembangan bakat anak yang mengacu pada buku Bakat Bukan Takdir, anak desa justru lebih cepat dan lebih fokus menemukan kecerdasan dirinya, menemukan bakat yang ingin dikembangkan dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Pengembangan bakat dibutuhkan baik oleh anak kota maupun anak desa.
Sumber: http://temantakita.com/anak-desa/
Untuk menjawab apakah bakat anak hanya kebutuhan anak kota dan bukan kebutuhan anak desa, kita perlu memahami pengertian bakat anak. Sebagaimana saya tulis di buku Bakat Bukan Takdir,
Bakat adalah aktivitas atau karya anak yang sesuai potensinya dan dihargai masyarakat
Bakat bukan sekedar keterampilan atau kemampuan. Bakat bukan dinilai dari menang lomba atau jumlah piala. Bakat adalah aktivitas atau karya yang dihasilkan anak yang memberi manfaat pada masyarakat sehingga masyarakat pun menghargainya.
Bakat adalah perpaduan antara potensi anak dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Bakat selalu melekat pada suatu sistem budaya. Suatu bakat bisa jadi tidak dihargai di suatu daerah tapi dihargai di daerah lain. Aktivitas menyelam dihargai di daerah pantai tapi tidak ada gunanya di daerah gunung. Album piano akan lebih dihargai di kota dibandingkan di desa.
Apakah anak desa butuh pengembangan bakat? Anak desa jauh lebih membutuhkan pengembangan bakat dibandingkan anak kota. Tanpa pengembangan bakat, anak desa belajar pengetahuan dan keterampilan umum yang seringkali tidak relevan dengan potensi dan kesempatan di desanya. Tak heran bila banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi cenderung memilih meninggalkan desanya untuk mencari kelompok masyarakat yang menghargai pengetahuan dan keterampilan umum tersebut.
Sebaliknya bila anak desa mengembangkan bakatnya. Dengan potensinya, anak desa akan mengenali berbagai potensi di sekitar desanya dan mengubahnya menjadi karya yang dihargai masyarakat desa itu sendiri maupun masyarakat daerah lain.
Semisal di daerah yang mempunyai hutan bambu. Bayangkan paduan kecerdasan musik dengan alat musik bambu menghasilkan musik bambu yang merdu. Bayangkan paduan kecerdasan alam dengan beragam bambu menghasilkan kajian jenis-jenis bambu. Bayangkan paduan kecerdasan imaji dengan bahan bambu yang menghasilkan lukisan atau prakarya bambu yang indah. Bayangkan paduan kecerdasan diri dengan bambu sebagai bahan renungan menghasilkan tulisan mengenai refleksi bambu.
Bayangkan paduan kecerdasan tubuh dengan peralatan bambu menghasilkan sepeda bambu. Bayangkan paduan kecerdasan aksara dengan bambu sebagai metafor akan menghasilkan puisi bambu. Bayangkan paduan kecerdasan sosial dengan bambu akan menghasilkan pebisnis yang memahami industri bambu. Bayangkan paduan kecerdasan logika dengan bambu akan menghasilkan perangkat bambu yang penting bagi kehidupan. Bayangkan bila paduan tersebut digabung atau dikolaborasikan maka kemungkinan kombinasinya menjadi tidak terbatas.
Apa contohnya? Anda bisa membaca kisah William Kamkwamba dengan kecerdasan logika membangun kincir pembangkit listrik dan irigasi di desa. Anda bisa membaca kisah Mikail Kaysan yang menekuni bakat sebagai pengamat burung. Anda bisa membaca kisah Sang Puan Daulat yang mempunyai kegemaran Menggambar untuk Petani.
Lalu siapa guru yang akan memfasilitasi pengembangan bakat anak desa? Berbeda dengan sekolah formal, pengembangan bakat dapat difasilitasi oleh siapapun selama mempunyai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak desa dalam mengembangkan bakatnya. Sumber pengetahuan dan “ahli” desa yang selama ini diabaikan justru bisa menemukan kembali peran pentingnya.
Pengembangan desa yang selama ini hanya memperhitungkan potensi alam, mendapat kemungkinan unik yang lebih kaya bila mempertimbangkan keunikan bakat, sumber pengetahuan dan “ahli lokal” yang ada di suatu desa. Kemungkinan unik yang bisa digunakan sebagai dasar untuk membangun “brand” dari suatu desa.
Dengan pengembangan bakat anak yang mengacu pada buku Bakat Bukan Takdir, anak desa justru lebih cepat dan lebih fokus menemukan kecerdasan dirinya, menemukan bakat yang ingin dikembangkan dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Pengembangan bakat dibutuhkan baik oleh anak kota maupun anak desa.
Sumber: http://temantakita.com/anak-desa/
Bulan Mei adalah Bulan Pendidikan
Bulan Mei adalah Milik Kita
Jangan Biarkan Terlewat Tanpa Makna
Anda tahu, kita tahu;
Anda merasakan, kita merasakan,
bahwa
pendidikan bukan lomba lari jarak pendek.
Pendidikan adalah penjelajahan panjang yang menyenangkan sekaligus menantang.
Meski kita berusaha membuat sasaran belajar tapi kenyataannya tujuan pendidikan sebenarnya jauh di depan kita.
Wajar bila kita kadang merasa lelah.
Normal bila kita pernah bingung entah mau kemana.
Pada titik itu, penting berjumpa dengan teman seperjalanan.
Berjumpa, berbicara, berbagi cerita.
Merayakan capaian, bukan sebagai ekspresi berpuas diri,
tapi upaya menambah bekal
untuk melanjutkan penjelajahan panjang kita
hingga tahun depan kita berjumpa kembali.
Bulan Mei adalah Bulan Pendidikan
Bulan Mei adalah Milik Kita
Ayo Rayakan di Pesta Pendidikan
Bersama ribuan orang, bersama ratusan komunitas dan organisasi
Berjumpa untuk berbagi cerita, saling belajar, saling dukung, membangun jejaring & berkolaborasi.
Karena Pendidikan Adalah Urusan Semua Orang. Mari Rayakan dan Belajar dari Semua Orang
Minggu, 29 Mei 2016
FX Sudirman - Jakarta
Info Acara, Klik http://bit.ly/1TCVp2b
Bulan Mei adalah Milik Kita
Jangan Biarkan Terlewat Tanpa Makna
Anda tahu, kita tahu;
Anda merasakan, kita merasakan,
bahwa
pendidikan bukan lomba lari jarak pendek.
Pendidikan adalah penjelajahan panjang yang menyenangkan sekaligus menantang.
Meski kita berusaha membuat sasaran belajar tapi kenyataannya tujuan pendidikan sebenarnya jauh di depan kita.
Wajar bila kita kadang merasa lelah.
Normal bila kita pernah bingung entah mau kemana.
Pada titik itu, penting berjumpa dengan teman seperjalanan.
Berjumpa, berbicara, berbagi cerita.
Merayakan capaian, bukan sebagai ekspresi berpuas diri,
tapi upaya menambah bekal
untuk melanjutkan penjelajahan panjang kita
hingga tahun depan kita berjumpa kembali.
Bulan Mei adalah Bulan Pendidikan
Bulan Mei adalah Milik Kita
Ayo Rayakan di Pesta Pendidikan
Bersama ribuan orang, bersama ratusan komunitas dan organisasi
Berjumpa untuk berbagi cerita, saling belajar, saling dukung, membangun jejaring & berkolaborasi.
Karena Pendidikan Adalah Urusan Semua Orang. Mari Rayakan dan Belajar dari Semua Orang
Minggu, 29 Mei 2016
FX Sudirman - Jakarta
Info Acara, Klik http://bit.ly/1TCVp2b
Jangan sampai salah kaprah mengembangkan bakat anak. Dapatkan buku #BakatBukanTakdir di toko buku terdekat atau di toko.temantakita.com :)
Toko Takita
Tempat Belanja Alat Belajar & Bakat Anak - Toko Takita
Ekspresikan Keistimewaan | Anak dan Keluarga Indonesia