Anda peduli pendidikan? Ingin menjadi teman belajar keluarga Indonesia? Tapi tidak mempunyai media yang tepat?
Kami membuka kesempatan buat Anda! Menjadi teman belajar keluarga Indonesia dengan media buku bermutu sekaligus Anda bisa mendapatkan keuntungan finansial. Tidak tanggung-tanggung, anda bisa mendapatkan 25%.
Tunggu apalagi, pelajari dan daftarkan diri menjadi Agen Buku TemanTakita.com. Klik http://bit.ly/PanduanAgenBukuTakita
Kami membuka kesempatan buat Anda! Menjadi teman belajar keluarga Indonesia dengan media buku bermutu sekaligus Anda bisa mendapatkan keuntungan finansial. Tidak tanggung-tanggung, anda bisa mendapatkan 25%.
Tunggu apalagi, pelajari dan daftarkan diri menjadi Agen Buku TemanTakita.com. Klik http://bit.ly/PanduanAgenBukuTakita
TemanTakita.com
Portal Bakat Anak
Portal Bakat Anak TemanTakita.com adalah sebuah wadah untuk memberikan informasi seputar Bakat Anak di Indonesia, tips pengembangan bakat anak, mengetahui bakat anak
Suara Anak #5 Jakarta menghadirkan anak-anak yang menekuni kegemaran atau bakatnya. Ayo hadir dan belajar perjuangan mereka dalam menekuni kegemaran atau bakat.
Nama presentan anak yang akan tampil:
Amazing Grace - Menyanyi
Gavryel Griffin Denel - Wushu
Mikail KAYSAN Leksmana - Pengamat burung
Mikayla Karissa Denel - Wushu
Rahma Azzahra - Membuat Kue
Zaky Mubarak - Wedha's Pop Art Portrait
TIKET bisa didapatkan di Suara-Anak.TemanTakita.com
Nama presentan anak yang akan tampil:
Amazing Grace - Menyanyi
Gavryel Griffin Denel - Wushu
Mikail KAYSAN Leksmana - Pengamat burung
Mikayla Karissa Denel - Wushu
Rahma Azzahra - Membuat Kue
Zaky Mubarak - Wedha's Pop Art Portrait
TIKET bisa didapatkan di Suara-Anak.TemanTakita.com
Temantakita
Suara Anak | Gerakan untuk menghargai ketekunan anak dalam menekuni kegemarannya
Suara Anak adalah gerakan untuk menghargai ketekunan anak dalam menekuni kegemarannya
IMAGE INSPIRES ACTION!
Meski telah banyak upaya, citra guru tetaplah sebagai Oemar Bakrie. Citra yang melemahkan semangat. Citra itu yang ingin diubah #UntukGuru, Kontes Desain Motif Baju Guru bagi pelajar dan mahasiswa usia 17 – 21 tahun.
Apa yang terbayang pertama kali ketika mendengar kata guru? Bagi banyak orang, guru kerap diasosiasikan dengan Oemar Bakrie, lagu karya Iwan Fals yang diluncurkan pada tahun 1981. Pada zamannya, citra guru Oemar Bakrie memang bermakna. Guru naik sepeda butut menggambarkan kondisi guru yang serbakekurangan, baik kesejahteraan maupun kualitas.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan maupun kualitas guru. Kampus Guru Cikal sebagai salah satu pihak yang peduli telah mengadakan pelatihan guru dan menginisiasi Komunitas Guru Belajar yang secara berkala mengadakan Temu Pendidik. Inisiatif yang dilandasi keyakinan bahwa guru pada dasarnya mau dan mampu belajar.
Sayangnya di lapangan, citra guru sebagai Oemar Bakrie sering kali melemahkan semangat banyak guru untuk mengembangkan kualitas diri. Guru acap dipersepsikan sebagai sosok yang membosankan, ketinggalan zaman, dan enggan belajar. Citra yang melemahkan semangat itu sudah waktunya diubah dengan citra yang lebih memberdayakan.
Berdasarkan pemikiran itu, Tim Kampus Guru Cikal berkeinginan untuk berkolaborasi dengan komunitas guru. Kami menemui Mel Ahyar yang menyambut gembira tawaran kolaborasi tersebut. Pada pertemuan pertama, ide yang muncul adalah lomba desain seragam guru. Tapi, Mel memberi saran untuk menemui desainer yang ahli dalam merancang seragam.
Kami pun menemui Era Soekamto untuk mengelaborasi ide lomba desain seragam guru. Era bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi juri di sebuah lomba desain seragam. Kami baru tahu bahwa mendesain seragam tergolong pekerjaan yang sulit, bahkan bagi mereka yang sudah belajar desain sekalipun. Berbeda dengan mendesain baju untuk perseorangan, mendesain seragam berarti harus mempertimbangkan karakteristik semua pemakainya.
Lebih jauh lagi, Era Soekamto menekankan pada ide perubahan citra guru. Tidak bisa hanya sekadar mengubah seragam guru, tapi perlu merancang ulang simbol yang menggambarkan citra guru. Ia mengusulkan kontes desain motif yang mengundang para pelajar untuk mewujudkan imajinasinya tentang guru ideal. Usulan ini kami bawa pulang untuk dibahas lebih lanjut.
Hingga kemudian pada pertemuan ketiga yang dihadiri Mel Ahyar dan Era Soekamto yang menajamkan usulan desain motif. Kami fokus pada konsekuensi dari usulan tersebut. Apa manfaat praktis dari motif yang terpilih? Pertemuan yang dimulai sore hari pun berlanjut hingga malam. Kami bersepakat dengan sebuah mimpi besar yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang bermanfaat praktis.
Kabar gembiranya adalah Mel Ahyar dan Era Soekamto bersedia mendesain baju guru. Motif yang terpilih dari kontes akan diaplikasikan pada desain rancangan mereka. Untuk itu, desainer motif yang menang akan dibimbing oleh Era Soekamto dan Mel Ahyar untuk membuat variasi motif hingga aplikasi motif tersebut menjadi baju guru.
Baju guru tersebut akan dilelang pada pemerintah daerah, yayasan pendidikan, dan sekolah. Dana hasil lelang nantinya akan digunakan untuk membiayai Temu Pendidik dan Pelatihan Guru di berbagai daerah yang diadakan oleh Komunitas Guru Belajar.
Meski berawal dari perubahan citra guru, hasil akhirnya tetap berdampak pada perubahan secara subtansial: menstimulasi dan memberi kesempatan pada guru untuk meningkatkan kompetensinya. Image inspire action!
Tertarik? Kunjungi http://bit.ly/UntukGuru2016
Meski telah banyak upaya, citra guru tetaplah sebagai Oemar Bakrie. Citra yang melemahkan semangat. Citra itu yang ingin diubah #UntukGuru, Kontes Desain Motif Baju Guru bagi pelajar dan mahasiswa usia 17 – 21 tahun.
Apa yang terbayang pertama kali ketika mendengar kata guru? Bagi banyak orang, guru kerap diasosiasikan dengan Oemar Bakrie, lagu karya Iwan Fals yang diluncurkan pada tahun 1981. Pada zamannya, citra guru Oemar Bakrie memang bermakna. Guru naik sepeda butut menggambarkan kondisi guru yang serbakekurangan, baik kesejahteraan maupun kualitas.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan maupun kualitas guru. Kampus Guru Cikal sebagai salah satu pihak yang peduli telah mengadakan pelatihan guru dan menginisiasi Komunitas Guru Belajar yang secara berkala mengadakan Temu Pendidik. Inisiatif yang dilandasi keyakinan bahwa guru pada dasarnya mau dan mampu belajar.
Sayangnya di lapangan, citra guru sebagai Oemar Bakrie sering kali melemahkan semangat banyak guru untuk mengembangkan kualitas diri. Guru acap dipersepsikan sebagai sosok yang membosankan, ketinggalan zaman, dan enggan belajar. Citra yang melemahkan semangat itu sudah waktunya diubah dengan citra yang lebih memberdayakan.
Berdasarkan pemikiran itu, Tim Kampus Guru Cikal berkeinginan untuk berkolaborasi dengan komunitas guru. Kami menemui Mel Ahyar yang menyambut gembira tawaran kolaborasi tersebut. Pada pertemuan pertama, ide yang muncul adalah lomba desain seragam guru. Tapi, Mel memberi saran untuk menemui desainer yang ahli dalam merancang seragam.
Kami pun menemui Era Soekamto untuk mengelaborasi ide lomba desain seragam guru. Era bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi juri di sebuah lomba desain seragam. Kami baru tahu bahwa mendesain seragam tergolong pekerjaan yang sulit, bahkan bagi mereka yang sudah belajar desain sekalipun. Berbeda dengan mendesain baju untuk perseorangan, mendesain seragam berarti harus mempertimbangkan karakteristik semua pemakainya.
Lebih jauh lagi, Era Soekamto menekankan pada ide perubahan citra guru. Tidak bisa hanya sekadar mengubah seragam guru, tapi perlu merancang ulang simbol yang menggambarkan citra guru. Ia mengusulkan kontes desain motif yang mengundang para pelajar untuk mewujudkan imajinasinya tentang guru ideal. Usulan ini kami bawa pulang untuk dibahas lebih lanjut.
Hingga kemudian pada pertemuan ketiga yang dihadiri Mel Ahyar dan Era Soekamto yang menajamkan usulan desain motif. Kami fokus pada konsekuensi dari usulan tersebut. Apa manfaat praktis dari motif yang terpilih? Pertemuan yang dimulai sore hari pun berlanjut hingga malam. Kami bersepakat dengan sebuah mimpi besar yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang bermanfaat praktis.
Kabar gembiranya adalah Mel Ahyar dan Era Soekamto bersedia mendesain baju guru. Motif yang terpilih dari kontes akan diaplikasikan pada desain rancangan mereka. Untuk itu, desainer motif yang menang akan dibimbing oleh Era Soekamto dan Mel Ahyar untuk membuat variasi motif hingga aplikasi motif tersebut menjadi baju guru.
Baju guru tersebut akan dilelang pada pemerintah daerah, yayasan pendidikan, dan sekolah. Dana hasil lelang nantinya akan digunakan untuk membiayai Temu Pendidik dan Pelatihan Guru di berbagai daerah yang diadakan oleh Komunitas Guru Belajar.
Meski berawal dari perubahan citra guru, hasil akhirnya tetap berdampak pada perubahan secara subtansial: menstimulasi dan memberi kesempatan pada guru untuk meningkatkan kompetensinya. Image inspire action!
Tertarik? Kunjungi http://bit.ly/UntukGuru2016
Surat Kabar Guru Belajar Edisi Ketiga
Kesadaran & Disiplin
Kita seringkali terlalu cepat menuntut kedisiplinan, tapi terlalu lambat menumbuhkan kesadaran pada anak.
Sadar atau tidak, kita sebagai pendidik seringkali banyak dan sering menuntut anak-anak untuk berdisiplin. Hari pertama masuk kelas kita sudah berharap anak-anak tahu dan paham peraturan. Karena itu kita menuntut mereka untuk berperilaku sesuai aturan.
Kita menuntut anak-anak seolah anak adalah robot yang sekali diberi instruksi akan langsung jalan. Kita seringkali abai dan tidak sabar membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya berdisiplin.
Anak-anak itu manusia sebagaimana juga kita yang butuh waktu untuk belajar mengembangkan suatu perilaku. Kita, anak-anak maupun pendidik, belajar bila apa yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan kehidupan kita. Kita belajar bisa merasa berdaya untuk melakukan tindakan.
Kisah-kisah guru pada Surat Kabar Edisi Ketiga ini menceritakan berbagai upaya menumbuhkan kedisiplinan dari kesadaran dalam diri anak. Disiplin bukan karena patuh pada perintah, takut kena hukuman atau mengejar ganjaran. Disiplin yang tumbuh dari kesadaran anak-anak kita. Itulah Disiplin Positif.
Dengan disiplin positif, anak-anak akan lebih mencintai belajar, lebih tangguh menghadapi kesulitan, keterampilan berpikirnya berkembang hingga bisa mencapai prestasi akademik lebih baik. Lebih jauh lagi, disiplin positif mendukung terbentuknya interaksi dan budaya sekolah yang positif.
Semoga kisah-kisah pada edisi kali ini dapat memicu kesadaran kita untuk membangun kesadaran anak-anak sejak dini. Mari belajar bersama!
Berani belajar, siap mengajar!
Salam hangat dari kami,
Dewan Redaksi:
Najelaa Shihab dan Bukik Setiawan
GuruBelajar.org
Grup Facebook: Komunitas Guru Belajar
Silahkan unduh Surat Kabar Edisi Ketiga di http://bit.ly/SKGuruBelajar3
Kesadaran & Disiplin
Kita seringkali terlalu cepat menuntut kedisiplinan, tapi terlalu lambat menumbuhkan kesadaran pada anak.
Sadar atau tidak, kita sebagai pendidik seringkali banyak dan sering menuntut anak-anak untuk berdisiplin. Hari pertama masuk kelas kita sudah berharap anak-anak tahu dan paham peraturan. Karena itu kita menuntut mereka untuk berperilaku sesuai aturan.
Kita menuntut anak-anak seolah anak adalah robot yang sekali diberi instruksi akan langsung jalan. Kita seringkali abai dan tidak sabar membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya berdisiplin.
Anak-anak itu manusia sebagaimana juga kita yang butuh waktu untuk belajar mengembangkan suatu perilaku. Kita, anak-anak maupun pendidik, belajar bila apa yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan kehidupan kita. Kita belajar bisa merasa berdaya untuk melakukan tindakan.
Kisah-kisah guru pada Surat Kabar Edisi Ketiga ini menceritakan berbagai upaya menumbuhkan kedisiplinan dari kesadaran dalam diri anak. Disiplin bukan karena patuh pada perintah, takut kena hukuman atau mengejar ganjaran. Disiplin yang tumbuh dari kesadaran anak-anak kita. Itulah Disiplin Positif.
Dengan disiplin positif, anak-anak akan lebih mencintai belajar, lebih tangguh menghadapi kesulitan, keterampilan berpikirnya berkembang hingga bisa mencapai prestasi akademik lebih baik. Lebih jauh lagi, disiplin positif mendukung terbentuknya interaksi dan budaya sekolah yang positif.
Semoga kisah-kisah pada edisi kali ini dapat memicu kesadaran kita untuk membangun kesadaran anak-anak sejak dini. Mari belajar bersama!
Berani belajar, siap mengajar!
Salam hangat dari kami,
Dewan Redaksi:
Najelaa Shihab dan Bukik Setiawan
GuruBelajar.org
Grup Facebook: Komunitas Guru Belajar
Silahkan unduh Surat Kabar Edisi Ketiga di http://bit.ly/SKGuruBelajar3
Mengapa penting mendengar Suara Anak? Presentan yang tampil adalah anak-anak yang telah menekuni suatu bakat atau kegemarannya lebih dari satu tahun. Bila anda ingin belajar cara membuat anak tekun belajar, maka sudah sepatutnya belajar dari pelaku ketekunan belajar. Kita boleh belajar dari ahli atau dari orang lain, tapi tentu tidak lengkap bila tidak belajar dari anak-anak yang sudah berhasil tekun belajar. Baca lengkapnya di http://bit.ly/SuaraAnakKelima
Mau buku Bakat Bukan Takdir? Yuk ikutan #GiveAway seru ini
1. Like Facebook Page Bakat Bukan Takdir & TemanTakita.com atau Follow instagram @TemanTakita
2. Anda bisa ikut di Facebook, Instagram atau keduanya
3. Akun Facebook anda harus bisa diakses oleh publik dan akun instagram Anda tidak diprivate
4. Share atau repost foto ini dengan tag ke 5 orang teman anda dan menuliskan 3 kriteria anak sukses versi anda.
5. Sertakan tagar #TujuanMendidik #BakatBukanTakdir
6. Tiga pemenang yang beruntung akan mendapatkan buku Bakat Bukan Takdir
7. Pemenang diumumkan pada 23 April di Facebook dan Instragram TemanTakita
8. Selamat berbagi inspirasi. Semoga beruntung menjadi pemenang
1. Like Facebook Page Bakat Bukan Takdir & TemanTakita.com atau Follow instagram @TemanTakita
2. Anda bisa ikut di Facebook, Instagram atau keduanya
3. Akun Facebook anda harus bisa diakses oleh publik dan akun instagram Anda tidak diprivate
4. Share atau repost foto ini dengan tag ke 5 orang teman anda dan menuliskan 3 kriteria anak sukses versi anda.
5. Sertakan tagar #TujuanMendidik #BakatBukanTakdir
6. Tiga pemenang yang beruntung akan mendapatkan buku Bakat Bukan Takdir
7. Pemenang diumumkan pada 23 April di Facebook dan Instragram TemanTakita
8. Selamat berbagi inspirasi. Semoga beruntung menjadi pemenang
Buat saya, film How To Train Your Dragon itu menarik. Bukan tentang cara melatih naga, tapi justru tentang pendidikan anak. Kok bisa? http://temantakita.com/pendidikan-anak/
Kemiskinan dan kelaparan tidak menghentikan anak usia 14 tahun ini menciptakan pembangkit listrik tenaga angin yang menerangi desanya. Namanya, William Kamkwamba. http://temantakita.com/pembangkit-listrik/
TemanTakita.com
Meski Miskin, Anak 14 Tahun ini Menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Kemiskinan dan kelaparan tidak menghentikan anak usia 14 tahun ini menciptakan pembangkit listrik tenaga angin yang menerangi desanya. | TemanTakita.com
Pesan dari Mas Menteri.
Selamat Hari Pendidikan untuk anak muda yang belajar di perantauan.
=========================
Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.
Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.
Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.
Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!
Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.
Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.
Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.
Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.
Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.
Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!
Salam,
Anies Baswedan
Cilandak, 1 Mei 2016, 23.07
Selamat Hari Pendidikan untuk anak muda yang belajar di perantauan.
=========================
Lampu belajar masih menemani. Buku masih terbuka. Berjam-jam duduk di meja belajar. Mata terus membaca, tangan mencatat di buku tulis. Di kamar yang mungil, jauh dari kampung halaman.
Ribuan, bahkan ratusan ribu anak muda tinggalkan kampung halaman, jauh dari Ibu, Ayah, dan saudara mereka. Kampung halaman yang penuh kenangan masa kecil itu mereka tinggalkan untuk satu tujuan: pendidikan.
Semua pasti masih ingat saat keluarga mengantarkan, melepas bersekolah jauh. Kristal butiran air mata Ibu saat melepas anak berangkat seakan cermin jernihnya cinta. Anak adalah cinta berbalut harapan. Ibu melepaskan anak untuk merantau jauh demi pendidikan yang lebih baik; melepaskannya dengan cinta, mengalunginya dengan harapan, dan menyematkannya doa tanpa akhir.
Buat anak-anak muda yang sedang di rantau, jauh dari Ibu, Ayah dan saudara, pada malam menjelang Hari Pendidikan ini, saya ucapkan selamat berjuang, selamat belajar.
Rute perjalanan yang kalian tempuh adalah rute yang telah mengantarkan jutaan anak muda negeri ini meraih kehidupan yang lebih baik. Jaga stamina!
Yakinlah bahwa pendidikan akan bisa mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Pendidikan jadi tangga untuk menuju cita-cita, menuju harapan. Tiap hari satu anak tangga dilewati.
Anak muda memang seharusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita.
Pada tiap lembar bacaan, ada doa Ibu dan Ayah. Pada tiap karya tulis dan pekerjaan dari guru atau dosen, ada harapan dari Ibu dan Ayah. Mereka mungkin tidak tahu satu per satu yang dikerjakan anaknya, tapi mereka tak pernah berhenti hibahkan semua yang mereka miliki untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mereka.
Teruslah belajar. Jangan biarkan waktu bergulir tanpa makna. Buka hari dengan cerahnya mata hati, dan tutup hari dengan tuntasnya asupan ilmu dan pengetahuan baru.
Janjilah kepada Ibu dan Ayah, suatu hari nanti mereka akan melihat anak mereka pulang membawa ilmu, membawa makna dan menjawab semua doa dengan melampaui harapan Ibu dan Ayah mereka. Izinkan mereka kelak menyongsongmu dengan rasa bangga dan syukur. Doa tulusnya dijawab oleh keberhasilan anaknya.
Selamat Hari Pendidikan, selamat memasuki Bulan Pendidikan, selamat meneruskan belajar, dan selamat melampaui cita-cita!
Salam,
Anies Baswedan
Cilandak, 1 Mei 2016, 23.07
Wawancara pendiri TemanTakita.com di Majalah Intisari edisi Mei yang khusus membahas bakat anak. Silahkan dapatkan
Nanti jam 10 WIB ngobrol yuk dengan Bukik Setiawan, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir tentang calistung di Basa-basi Trans TV