Pendidikan Merdeka Belajar
3.35K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Halo teman-teman pendidik, sudah daftar jadi pembicara pada ajang Konferensi Guru Tahunan bertajuk Temu Pendidik Nusantara 2017?
Sila simak https://youtu.be/NXUejrZo5bI

Ajakan ini, untuk semua pendidik bersemangat seperti teman-teman πŸ˜‰
Dari pengalaman yang sudah-sudah sih, teman-teman yang dulu berbagi, seperti mendapat inspirasi dan tambahan semangat untuk terus berbagi! 😍
Simak deh beberapa testimoni di https://youtu.be/_V2UnGgFZT0 πŸ˜‰

Kelas-kelas yang bisa teman-teman isi beragam sekali. Sesuaikan saja dengan pengalaman teman-teman yang seru-seru 😊

Contohnya bisa dilihat di sini https://youtu.be/iu8Gi8qDAYw πŸ‘©πŸ»β€πŸ’»πŸ‘¨πŸ»β€πŸ’»

Nah, gimana?
Sudah yakin dong πŸ˜‰
Daftar yuk, daftar.....
Caranya begini https://youtu.be/nxiQFFV8dQY

Jadi, jangan sampai terlewat batas pendaftaran pembicara akhir minggu ini ya.... πŸ™πŸΌ
Besok Sabtu kemana? Yuk mengupas Pendidikan Karakter ala Kampus Guru Cikal
Semua Murid Semua Guru:
Kebijakan Pendidikan adalah Keputusan Politik

Najelaa Shihab (Pendidik)

Sore ini saya tergelitik trending topic di media sosial, #stoppolitisasi8jamsekolah. Percakapan publik apapun tentang pendidikan selalu penting, karena menggambarkan paradigma yang ada di masyarakat. Dalam argumen di atas misalnya, jelas terlihat adanya miskonsepsi. Pernyataan yang mempertentangkan kebijakan pendidikan dengan politik adalah pernyataan yang salah kaprah. Semua kebijakan pendidikan adalah keputusan politik. Lanjutan pertanyaannya yang essensial. Siapa pemilik kepentingan yang dibela? Bagaimana posisi pemangku kepentingan dengan peran yang berbeda? Apa kerangka substansi dan konsekuensi yang diperjuangkan atau diabaikan dalam jangka panjang? Mengapa kebijakan ini ditetapkan pada rentang waktu tertentu?

Salah satu hambatan utama perubahan pendidikan di Indonesia adalah rendahnya pemahaman bahwa kebijakan pendidikan dipengaruhi oleh sistem di masyarakat yang sangat luas - ekonomi, budaya, sejarah dan tentunya politik. Selama ini, sudut pandang dan perdebatan kita didominasi perspektif pendidikan sebagai isu mikro - hanya berkait seorang anak atau guru, satu sekolah atau satu menteri.

Tak heran, "hak guru" mendapat perlindungan hukum dilindungi oleh asosiasi, bahkan saat ia menggunakan kekerasan fisik pada anak, sementara kemerdekaannya belajar jarang didukung anggaran pemda yang cukup untuk peningkatan kompetensi. Tak aneh, kalau orangtua berpikir zonasi penerimaan murid sangat merugikan anaknya, tanpa memahami tanggungjawab sosial mempercepat pemerataan pendidikan. Tak mencengangkan, masyarakat bahkan anggota dewan berpikir pergantian (prioritas) kurikulum adalah keniscayaan saat pergantian menteri, tanpa melihat kaitan apa yang dipilih untuk diajarkan dengan demokrasi di negeri ini.

Narasi tentang kebijakan pendidikan sebagai bagian dari sistem kemasyarakatan yang lebih luas sangat esensial. Pengalaman di banyak negara yang mencapai kemajuan pendidikan menunjukkan pentingnya pemahaman konteks dalam perubahan. Kebijakan 8 jam sekolah, sama seperti semua kebijakan pendidikan - penguatan karakter, mengantar anak sekolah, kurikulum 2013 atau ujian nasional sudah seharusnya ditanggapi dengan kritis dari kacamata substansi dan implementasi.

Pertanyaan kunci yang selalu saya gunakan adalah apakah kebijakan pendidikan memberikan dampak yang optimal pada tiga tujuan utama - memperluas akses, mempercepat peningkatan mutu dan mengurangi kesenjangan. Sayangnya, dari penelitian kebijakan sejauh ini, jarang yang berhasil memenuhi aspek-aspek tersebut, dan karenanya jarang yang membawa dampak berkelanjutan.

Sudah puluhan tahun simplifikasi dalam melihat kebijakan pendidikan menjadi penghambat perubahan signifikan. Tanpa monitoring dan evaluasi, beasiswa bisa jadi hanyalah jembatan rapuh bagi kemiskinan. Bisa masuk sekolah, bila tidak diiringi peningkatan kualitas dan upaya sistematis mengurangi keterlambatan perkembangan, tidak akan membuat murid bertahan sampai sekolah lanjutan. Faktanya angka putus sekolah kita masih tinggi, kenyataannya banyak lulusan tidak memiliki literasi yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan.

Di tingkat sistem yang lebih kecil seperti sekolah pun, tiga pertanyaan kunci ini bisa diterapkan. Biasakan mempertanyakan segitiga akses, kualitas dan kesenjangan pada kebijakan pendidikan di lingkungan terdekat kita. Apakah pengayaan olahraga aksesnya dibatasi hanya pada calon pemenang yang penuh bakat atau tujuannya membiasakan hidup sehat, mengajarkan kerjasama dan sportivitas yang mestinya aksesnya terbuka bagi siapapun murid yang berminat? Apakah program membaca setiap hari bukan hanya dijamin terjadi dengan jumlah buku dan waktu yang cukup, tapi dibarengi dengan pemilihan buku berkualitas dari berbagai genre dan latar belakang penulis yang beragam? Apakah pengelompokan murid dibuat berdasarkan tingkat kemampuan matematika yang merugikan anak tertentu atau dengan sengaja dibuat bervariasi untuk mengurangi kesenjangan, agar yang belum siap bisa didukung teman?

Politisasi pendidikan, dalam bentu
k keterlibatan orangtua, alumni, semua bagian publik termasuk partai, bukanlah otomatis kriminalisasi atau konspirasi. Sama seperti politik bisa dilakukan dengan cara baik maupun cara yang tidak baik, kebijakan pendidikan juga ada yang efektif dan tidak efektif. Publik yang terlibat perlu menolak dimanipulasi, dan tidak hanya sekedar menjadi mitra konsultasi. Mari memahami pentingnya publik yang berdaya dalam mempengaruhi kebijakan pendidikan dari mulai tingkat sekolah, kecamatan dan daerah sampai nasional. Mari kita menjadi dewasa dalam politik pendidikan, saling menjaga janji untuk konsisten pada kepentingan anak, generasi Indonesia masa depan!

#MerdekaBelajar #SemuaMuridSemuaGuru
Selamat Pagi

Pertama, perkenakan saya Bukik Setiawan yang tahun ini dipercaya menjadi Ketua Panitia Temu Pendidik Nusantara, pertemuan tahunan yang mempertemukan pendidik dari berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan refleksi, saling berbagi praktik baik, mengembangkan kompetensi, membangun kolaborasi dan merintis karier. Ciri utamanya adalah kehadiran para guru yang penuh semangat belajar. Silahkan saksikan testimoni pembicara tahun lalu di https://www.youtube.com/watch?v=_V2UnGgFZT0


Kedua, kami ingin memberitahukan perubahan Temu Pendidik Nusantara yang mulai tahun ini menjadi kerangka dasar (platform) pengembangan guru. Karena itu, kelas di TPN 2017 dibagi menjadi 4 kelas yaitu Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi, dan Kelas Karier. Saksikan video berikut untuk mengetahui perbedaan tiap kelas di https://www.youtube.com/watch?v=iu8Gi8qDAYw


Ketiga, kami mengundang teman-teman untuk mendaftar menjadi Pembicara di Temu Pendidik Nusantara 2017. Karena kami percaya bahwa pengembangan kualitas guru merupakan tanggung jawab kita semua. Mari bekerja sama untuk memajukan kualitas guru kita, guru anak-anak Indonesia. Saksikan video undangannya di https://www.youtube.com/watch?v=NXUejrZo5bI


Bila tertarik, silahkan daftar di http://bit.ly/pembicaraTPN

Bila ingin tahu lebih detil cara pendaftaran, bisa saksikan video tutorial pendaftarannya di https://www.youtube.com/watch?v=nxiQFFV8dQY

Bila ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut, silahkan saksikan hadir di Pertemuan II Sosialisasi Pembicara Temu Pendidik Nusantara yang akan diadakan pada

Hari/Tanggal : Kamis, 10 Agustus 2017
Pukul : 18.00 - 19.30 WIB
Tempat : Rumah Main Cikal, Lantai 5 FX Sudirman


Ditunggu partisipasinya ya


Terima kasih



Bukik Setiawan
Ketua Panitia TPN 2017
Selamat hari Jumat πŸ™‹
Benarkah sebanyak 60% aktivitas di kelas didominasi oleh pertanyaan guru?
Lalu bagaimana mendayakan pertanyaan tersebut agar meningkatkan pertanyaan siswa? Membantu siswa menjadi pembelajar mandiri dan sepanjang hayat.

Temukan jawaban di *Temu Pendidik Bulanan Komunitas Guru Belajar* dengan tema *"Strategi Bertanya"*.
Menghadirkan 3 narasumber :
1. Pia Adiprima (Operation Support Manager Sekolah Cikal)
2. Anik Mulyani (Anggota KGB Depok)
3. Chusnul Chotimah (Kampus Guru Cikal)

Catat tanggal dan waktunya ya!
Juat, 11 agustus 2017
15.00-17.00 WIB.

Live di Kampus Guru Cikal, https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/

Yuk catat tanggalnya!
Ikuti Temu Pendidiknya!
dan Ajak rekan untuk mendiskusikanya!

#MenujuTPN2017
#TPN2017
#GuruBelajar
Andakah salah satunya? Atau teman Anda?

Punya pengalaman pembelajaran dan pengajaran yang asik, dan membuat anak-anak merasa tertantang?

Punya riset kelas tentang proses belajar efektif?

Bagikan di TPN, agar cerita Anda tak berhenti di kelas 😊

10 menit saja untuk menginspirasi πŸ‘Œ

http://www.kampusgurucikal.com/tpn-2017/

Semua tulisan akan dimuat dalam prosiding πŸ“‘

#GuruBelajar
#KampusGuruCikal
#TPN2017
Halo Denpasar!
Ingin menjadi guru yang berdaya untuk menghadapi tantangan pendidikan saat ini?

Kampus Guru Cikal hadir di Denpasar dengan Pelatihan Guru Merdeka Belajar.

Kita akan belajar bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar dan mengembangkan diri.
Kita akan belajar untuk memerdekakan murid dalam proses belajarnya.
Kita akan belajar mengolah pembelajaran yang bisa menghadapi tantangan masa sekarang dan masa depan.

Berlokasi di Youth Science Academy. Hanya pada hari Minggu, 27 Agustus 2017 (08.30-16.00 WITA).

Daftar sekarang juga melalui http://bit.ly/daftarGMB
Semua Murid Semua Guru:
Merdeka Belajar, Bukan (Sekadar) Wajib Belajar

Najelaa Shihab (Pendidik)

Di 72 tahun setelah kemerdekaan dari penjajahan, pendidikan mestinya bukan sekedar dilihat sebagai pemenuhan kewajiban. 9 hal berikut ini adalah hasil refleksi, kita perlu melawan miskonsepsi dan menghindari simplifikasi, bekerja barengan untuk perubahan di negeri ini.

1. Guru yang belajar dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi murid, berkolaborasi meningkatkan kompetensi dan karir bagi sesama pendidik. Bukan sekadar guru yang mengajar setengah hati, atau mengejar sertifikasi dan nilai nilai Kompetensi.

2. Murid yang sukses karena cerdas dan berbudi, berkontribusi untuk keadilan dan keberlanjutan dunia ini. Bukan sekadar murid yang terbaik di target hafalan ujian atau mengejar keterampilan yang tidak relevan untuk masa depan.

3. Kebijakan yang memperluas akses, mempercepat pencapaian mutu dan memastikan kesetaraan. Bukan hanya jembatan kertas yang meningkatkan partisipasi tapi angka putus sekolah tetap tinggi, proses yang kurang menyenangkan dan menantang serta kesenjangan antar daerah yang tidak teratasi.

4. Orangtua yang didukung untuk mencintai dengan lebih baik, terlibat pengasuhan anak, menjalin ikatan dengan sekitar untuk pengembangan keluarga. Bukan sekadar lingkungan dan orangtua yang memberikan stimulasi seadanya di usia dini, menggunakan pola disiplin dan hubungan yang menghambat kesempatan pertumbuhan anak (terutama yang hidup dalam kemiskinan).

5. Pendidikan agama oleh dan dari masyarakat yang menumbuhkan ketaqwaan dengan menekankan pemahaman esensial, menggunakan pendekatan positif, metode aktif, dan aplikasi yang relevan. Bukan sekadar pengajaran agama yang menekankan pada ritual dan perbedaan, mencetak kepatuhan tanpa kesadaran akan keragaman dan rahmat Tuhan.

6. Pemberdayaan teknologi dan penumbuhan kecerdasan digital sebagai solusi untuk proses belajar di perkotaan maupun daerah yang terpinggirkan. Bukan sekadar menggunakan teknologi canggih tanpa pengembangan kemampuan berpikir kritis dan mendapat kesempatan berkreasi.

7. Memanfaatkan film, seni dan budaya untuk memperkaya percakapan dan pengalaman literasi di ruang kelas dan keluarga. Bukan sekadar melek huruf dan layar, dipaparkan bacaan dan dibanjiri tontonan dengan kualitas seadanya.

8. Memandu pemuda untuk mengeksplorasi minat dan karir yang sesuai, aktif merancang masa depan untuk terus berkarya bagi negeri. Bukan sekadar memaksakan pilihan pekerjaan atau menyia-nyiakan kemewahan belajar di pendidikan tinggi karena salah jurusan.

9. Meningkatkan kapasitas relawan dan komunitas, organisasi dan profesional di industri untuk terus berinovasi dan menghasilkan praktik baik yang didukung oleh pemangku kebijakan. Bukan sekadar mengharapkan publik mensukseskan program pemerintah tanpa umpan balik dan pelibatan.

Mari tunjukkan bahwa kemerdekaan belajar bukan sekadar pemberian, tapi pemberdayaan publik sejak kecil hingga akhir hayat. Mari menjadi pahlawan bermakna bagi anak-anak Indonesia!
Merdeka!
Selamat berjumpa kembali πŸ™‹πŸΌ

Sudah tahu tentang Temu Pendidik Nusantara kan?
Ya, konferensi tahunan untuk guru, di mana kita para pendidik bertemu, berbagi, dan saling belajar πŸ˜‰

Kampus Guru Cikal memberi kesempatan untuk berbagi pengalaman melalui kelas-kelas di Temu Pendidik Nusantara. Karena Kampus Guru Cikal percaya, potensi belajar terbesar adalah dari pengalaman para praktisi. Dari kita, para pendidik yang setiap hari berjibaku dengan anak bangsa.

Malam ini, Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi Temu Pendidik Mingguan, dengan tema Menjadi Keren Melalui TPN
Kita akan belajar dari teman-teman guru yang sudah pernah menjadi pembicara dalam TPN tahun sebelumnya.
Bagaimana teman-teman guru belajar dalam tiap prosesnya πŸ‘©β€πŸ’»πŸ‘¨β€πŸ’»
Bagaimana teman-teman guru menjadi berdaya melalui TPN πŸ‘©β€πŸŽ“πŸ‘¨β€πŸŽ“
Bagaimana imbas berbagi di TPN pada teman-teman guru πŸ‘©β€πŸ«πŸ‘¨β€πŸ«

Narasumber utama kali ini adalah Guru Lany Rh dari Kampus Guru Cikal, didukung beberapa narasumber lain dari Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal. Diskusi dimoderasi oleh Guru Tunggul Harwanto dari KGB Banyuwangi.

Catat waktunya ⏰
Hari Jumat, 18 Agustus 2017
18.30-20.30 WIB
19.30-21.30 WITA
20.30-22.30 WIT

Hanya di https://telegram.me/mudikmingguan

Sampai jumpa πŸ‘‹