Pendidikan Merdeka Belajar
3.35K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Kebijakan tanpa melalui proses mendengarkan cenderung jadi polemik.

Sembilan Alasan Mengapa Kebijakan Sekolah Lima Hari Ditolak

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rencana pemberlakuan kegiatan belajar mengajar lima hari mulai tahun ajaran baru 2017/2018 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, diminta untuk dicabut.

"Terkait kebijakan itu, kami minta dicabut. Sebab ada beberapa alasan mengapa harus dicabut. Ini atas aspirasi dari masyarakat melalui kegiatan reses yang kami lakukan di berbagai daerah di Jateng," Anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen, Minggu (11/6/2017).

Menurutnya, dikeluarkannya kebijakan itu tidak melalui proses adanya masukan dari berbagai stakeholder, baik di tingkat pendidikan dasar maupun menengah.

"Saya yakin kebijakan itu dibuat oleh tim, tapi tim itu tidak mendengar masukan semua stakeholder di Indonesia. Jika mendengar langsung maupun tidak langsung, pemerintah pasti tidak gegabah," ungkapnya.

Ia mengatakan, memang PP nomor 19 tahun 2005 itu tidak wajib dijalankan untuk daerah tertentu, tapi pada dasarnya akan menjadi kewajiban. Karena kepala sekolah yang tak menjalankan biasanya mendapat ancaman.

Sedikitnya terdapat Sembilan alasan, mengapa kebijakan sekolah lima hari itu mesti dicabut.

Pertama, aspek psikologis. Komisi E DPRD Jateng pernah melakukan dengar pendapat dengan sejumlah pakar psikologi dari beberapa perguruan tingi di Jateng.

"Hasilnya bahwa anak usia SD setelah jam 13.00 daya serap ilmunya tidak maksimal, hanya 60 persen. Artinya, kalau kegiatan belajar mengajar sampai jam 16.00 maka keterserapan pendidikan di anak usia dini tidak tercapai," ungkapnya.

Kedua, aspek sarana dan parasara (sarpras). Bahwa harus diakui 40 persen sarpras berupa musala ataupun masjid di sekolah belum representatif. Bahkan tempat wudlu di SMA N 1 Kota Semarang saja, hanya mampu menampung sepertiga dari total jumlah siswa. "Kantin juga belum semua siap," ujarnya.

Ketiga, aspek ekonomi, tentunya beban orangtua untuk uang saku akan bertambah, bahkan bisa dua kali lipat dari hari biasanya. Keempat, aspek keamananan, ketika siswa pulang sore hari tentu akan bertaruh dengan para pekerja di jalan raya, bahkan di Wonosobo ada yang baru pulang pukul 20.00.

Kelima, aspek akademik. Kurikulum yang lama tentu belum sesuai dengan aturan sekolah lima hari. Padahal hal itu terkait dengan tingkat keterserapan materi pada siswa. Jika belum diubah tentu akan sulit menyesuaikan.

Keenam, aspek kompetensi non akademik. Konsep lima hari sekolah, akan memutus kreatifitas anak dalam penguatan ilmu non akademik. Semisal, anak yang memiliki keunggulan bidang seni, budaya, olahraga, tentu harus ikut kegiatan les sore hari. Saat ini tentu tidak mungkin bisa mengikutinya.

"Termasuk dunia sosial anak dengan sesame umurnya juga hilang. Maka, negara telah melanggar hak asasi anak untuk mengembangkan psikomotorik dan afektif calon generasi bangsa," tandasnya.

Ketujuh, aspek geografis. Untuk sekolah di daerah pegunungan masih sulit terakses angkutan umum, hal ini banyak yang dikeluhkan masyarakat, terlebih untuk anak perempuan di malam hari.

Kedelapan, aspek mental spiritual. Di Jateng terdapat 10.127 madrasah diniyah (madin) dan TPQ, padahal 90 persen siswanya adalah anak usia SD dan SMP. Madin dan TPQ biasanya masuk pukul 14.00, jika sekolah diberlakukan sampai sore maka praktis mereka tak bisa mengikutinya.

"Ini secara tak langsung negara telah melakukan upaya penghilangan cita-cita nawacita revolusi mental itu sendiri," ungkapnya.

Kesembilan, aspek ketahanan keluarga. Siswa yang berasal dari keluarga tak mampu, biasanya usai pulang sekolah selalu membantu orangtua, ada yang menjadi buruh tani, berdagang, nelayan, dan sebagainya. Komisi E juga sering mendapat masukan dari para kepala desa di Jateng.

"Kan, anak Indonesia tidak semua orangtuanya PNS. Banyak sekeluarga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, apa negara tega dengan kondisi ini? Prinsipnya, madlorotnya lebih banyak dari manfaatnya," katanya.(*)
Selamat hari Jumat, para Pendidik Merdeka!
Selamat harinya diskusi mingguan Komunitas Guru Belajar πŸ™πŸΌ

Pendidikan karakter sedang marak didengungkan sebagai agenda besar dunia pendidikan kita.
Namun apakah cukup pembelajaran tentang karakter melalui cerita dan buku-buku?

Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan Temu Pendidik Mingguan dengan tema *"Menumbuhkan Kembali Budi Pekerti"*.
Kita akan membahas bersama, bagaimana memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan budi pekertinya.
Bagaimana peranan kita sebagai guru untuk mendampingi sepenuhnya proses tumbuhnya budi pekerti anak.
Bagaimana dampak kegiatan sosial pada pengembangan budi pekerti anak.

Diskusi kali ini menghadirkan _Bapak Huda Sensei_, penggerak KGB Malang. Dengan moderator _Bapak JC Pramudia Natal_ dari KGB Jakarta Selatan.
Materi diskusi seperti yang dituliskan Pak Huda dalam Surat Kabar Guru Belajar Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 mengenai Pendidikan Budi Pekerti.

Catat waktunya πŸ•°
*14.00 - 16.00 WIB*
*15.00 - 17.00 WITA*
*16.00 - 18.00 WIT*

Sampai jumpa di https://telegram.me/mudikmingguan
Merdeka!
[UNDANGAN KONSOLIDASI]

*Tolak Kebijakan Full Day School*

Kemendikbud RI telah menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mewajibkan anak-anak usia sekolah untuk bersekolah selama 8 jam sehari, selama 5 hari dalam seminggu, atau setara dengan jam kerja orang dewasa.

Kebijakan ini bertentangan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional yang memberikan otonomi bagi sekolah untuk mengelola kurikulumnya secara mandiri, sesuai dengan kebutuhan anak. Anak-anak yang menjadi peserta didik juga berpotensi mengalami pelanggaran hak, mengingat kekerasan di sekolah masih marak, keseimbangan antara waktu bermain dan belajar, juga jangkauan sekolah di masing-masing daerah yang kondisinya sangat berbeda satu sama lain akan merugikan anak-anak yang tinggal di kawasan pelosok.

Karenanya, kami mengajak rekan-rekan masyarakat sipil untuk berkumpul membahas sikap dan langkah advokasi bersama untuk membatalkan kebijakan tersebut. Kami mengundang rekan-rekan untuk hadir pada:


*Hari, Tanggal: Senin, 19 Juni 2017*
*Jam: 13.00-14.00 WIB*
*Tempat: Lantai 1 LBH Jakarta, Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat*

Agenda ini terbuka untuk seluruh rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama. Kami mengharapkan kehadiran dan dukungan anda untuk turut serta dalam advokasi ini.

Atas perhatian dan kerjasamanya, kami mengucapkan terima kasih.

Salam,
LBH Jakarta


Kontak:
1. Alldo Fellix Januardy (087878499399)
2. Nelson Nikodemus Simamora (081396820400)
Setelah meredup, isu waktu sekolah seharian penuh kembali menyeruak. Disertai keputusan 5 hari sekolah saja. Kondisi yang sudah diterapkan pada sekolah non-negeri dan berbagai kota besar ini, layakkah diterapkan bagi seluruh negeri?

Populi Center dan Smart FM Network akan membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan topik: "Full Day School, Jadi?"

Bersama:
- Antarina F. Amir (Pengelola Sekolah Highscope Indonesia
- Ahmad Rizali, MSc (Mantan Staf Khusus Mendiknas, Pendiri Center for Betterment Education)
- Tatang Muttaqin, PhD (Penekun Kajian Pendidikan, Anggota The James Coleman Associations)
- Karina Adistiana, M.Psi. (Psikolog Pendidikan, inisiator Gerakan Peduli Musik Anak)

Host:
Ichan Loulembah

Hari: Sabtu, 17 Juni 2017‎
Jam: 09.00 -11.00 WIB‎
Tempat:  GADO-GADO BOPLO‎
Jl. Gereja Theresia No. 41 Menteng, Jakarta Pusat.

- Broadcasting live on SMART FM Jakarta 95.9, Manado 101.2, Makasar 101.1,  Banjarmasin 101.1, Balikpapan 97.8, Surabaya 88.9, Palembang 101.8, Medan 101.8, Pekanbaru 101.8, Jogjakarta 102.1

- Review di populicenter.org
- Streaming radiosmartfm.com
- Blackberry: SmartFM via google
- Android: SmartFM via google play

Perspektif Indonesia
tajam - dalam - bermakna

SIARAN ULANG: 
Minggu, 18 Juni 2017‎
Pukul 16.00-18.00β€Œ‎ WIBβ€Œβ€Œ‎
Mudik Komunitas Guru Belajar (KGB) Malang
Rabu, 21 Juni 2017
16.30 - 18.00 WIB
Cafe Oase - Taman Merjosari Malang

Ngobrol #MerdekaBelajar bareng Bukik Setiawan dari Kampus Guru Cikal, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong
Mari Mudik

Komunitas Guru Belajar lahir dengan mengusung semangat berbagi praktik baik pengajaran dan pendidikan. Semangat itu salah satunya diwujudkan dengan tradisi Temu Pendidik yang biasa disingkat dengan Mudik. Penggunaan istilah Mudik bukan tanpa kesengajaan, tapi ada maksud dibalik pilihan istilah tersebut.

Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata mudik lebaran?

Mudik lebaran seringkali dipersepsikan sebagai kampung halaman, perjalanan kembali, berkumpul, atau pun berbagi cerita dengan saudara dan teman. Meski setiap tahun terjadi pada Idul Fitri, hari raya umat Islam, tapi tradisi mudik melibatkan masyarakat dari berbagai golongan, kelas sosial dan agama. Kenyataannya, mudik adalah tradisi khas nusantara.

Apa makna Mudik? Pertama, mudik adalah JEDA dari keseharian yang kita jalani dalam setahun. Mudik menunda rutinitas sehari-hari dan menggantikan dengan kebiasaan jangka panjang. Mudik menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan makna keseharian kita. Sebagaimana Temu Pendidik, yang menjadi momen bagi pendidik untuk meninjau kembali praktik pengajaran dan pendidikan.

Kedua, mudik adalah perjalanan dari tempat kita mencari nafkah menuju tempat kita berasal. Petualangan hidup yang telah membawa kita ke berbagai tempat berhenti untuk kembali ke kampung halaman. Dari petualangan yang penuh resiko, menuju tempat yang penuh rasa kenyamanan. Sebagaimana Temu Pendidik, yang menyediakan kesempatan yang aman dan nyaman buat mencoba sekaligus buat keliru. Lebih dari itu, Temu Pendidik adalah kesempatan belajar untuk meninjau hal-hal mendasar, dan mencoba membuat terobosan. Tanpa khawatir disalahkan, apalagi cemas dapat hukuman.

Ketiga, mudik adalah perjumpaan dengan orang-orang yang bermakna dalam hidup, dengan saudara, dengan sahabat dekat kita. Kita berbagi cerita pengalaman setahun, berbagi resah, berbagi harapan, tanpa merasa khawatir dituntut berlebihan. Sebagaimana Temu Pendidik, yang menjadi tempat untuk bercerita tentang praktik baik, bercerita tentang keresahan, dan berbagi harapan. Bahkan tak jarang, para pendidik berbagi misi dan komitmen, tanpa keruwetan mengenai kontrak kerja dan hal-hal administratif lainnya.

Itulah tiga kesejajaran makna mudik lebaran dengan Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar. Karena itu, pada momen mudik lebaran sudah sepatutnya kita meninjau kembali semangat dalam mengadakan Temu Pendidik. Sudahkah kita menyebarkan semangat Temu Pendidik pada rekan-rekan pendidik di sekitar kita? Sudahkah kita mengadakan Temu Pendidik di daerah kita? Sudahkan Temu Pendidik menjadi ruang refleksi, belajar dan berbagi praktik untuk membuat pendidikan yang lebih manusiawi?

Meski berbeda nama, namun makna mudik itu terkandung pula dalam Surat Kabar Guru Belajar ini. Sejak terbitan perdana, surat kabar ini menampilkan praktik-praktik baik pengajaran dan pendidikan. Praktik baik melampui kritik paling pedas, karena langsung menunjukkan bahwa hal-hal yang dianggap mustahil di kalangan pendidik ternyata bisa dipraktikkan di ruang kelas kita.

Pada edisi ke-10 ini, kami menampilkan tulisan yang berkaitan dengan belajar membaca. Pembaca bisa merasakan kesegaran berbagai praktik dan ide belajar membaca yang disampaikan para pendidik. Mari belajar kembali belajar membaca! Karena membaca adalah pondasi dasar, kemampuan mendapatkan dan mengelola informasi. Karena apabila kualitas informasi buruk yang diserap, bagaimana kita berharap menghasilkan karya yang baik?

Ada beberapa pendidik yang mengirimkan tulisan mengenai praktik belajar membaca, praktik yang layak kita pelajari untuk bisa menghasilkan hal menarik pada pelajaran membaca di kelas kita. Ada rangkuman Temu Pendidik Bulanan yang berbicara mulai tahap perkembangan membaca, motivasi membaca dan berbagai tips agar belajar membaca tidak sebatas teknis mengeja kata, tapi juga memahami makna. Selebihnya, ada liputan mengenai Temu Pendidik dan Pelatihan Guru Belajar yang diadakan lima kali di lima daerah dalam rangka Pesta Pendidikan.

Terakhir, selamat menjalani tradisi mudik lebaran baik bagi rekan pendidik yang melakukan perjalanan
maupun yang menjadi tuan rumah mudik. Sebagai pejalan maupun tuan rumah, 3 makna mudik tetap bisa diraih. Oh ya bila berjumpa dengan sesama pendidik, sampaikan semangat dan berkas Surat Kabar Guru Belajar. Ijinkan rekan pendidik yang lain tertular virus merdeka belajar. Merdeka!

Surat Kabar Guru Belajar Edisi Ke-10: Belajar Membaca http://bit.ly/SKGuruBelajar10
Beberapa teman bertanya pada saya, bagaimana sih komunitas kita bisa ramai seramai gelas yang pecah.....πŸ˜‰
Lalu menjadi wadah seperti yang diharapkan di awal terbentuknya, tempat belajar bagi pendidik.
Di antara kita banyak guru sekolah formal, ada pendidik dari jalur pendidikan alternatif, ada pegiat komunitas bidang pendidikan, ada juga yang 'merasa bukan pendidik' dan mengaku 'hanya ingin belajar tentang pendidikan'.
Tapi kita semua yang sudah bergabung, sebetulnya secara sadar mengakui diri sebagai pendidik πŸ˜‰

Di Komunitas Guru Belajar, sudah akrab dengan Temu Pendidik kan? Ada yang mingguan di https://telegram.me/mudikmingguan, ada yang bulanan melalui Fb live, ada yang di daerah masing-masing sesuai dengan potensi teman-teman yang ada di dalam grup ☺️
Nah, selain yang banyak itu, ada yang sedang kami siapkan πŸ˜‰
Sebagai komunitas yang konsisten bergerak di bidang pendidikan, konsen terhadap apa yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, Kampus Guru Cikal akan menyelenggarakan lagi Temu Pendidik Nusantara! 😍
Informasi tentang ini, ada di Surat Kabar Guru Belajar Edisi 10 di http://bit.ly/SKGuruBelajar10
Selamat minggu-minggu awal tahun ajaran baru πŸ™‹πŸ»πŸ™‹πŸ»πŸ™‹πŸ»

Apa kabar persiapan kelasnya?
Apa kabar kesibukan tim sekolah?
Seru dan menyenangkan bukan? 😍

Senang sekali bertemu kembali dalam Temu Pendidik Mingguan Komunitas Guru Belajar 😊
Kali ini kita akan membicarakan tentang "Hari Pertama Sekolah" πŸ˜ƒ
Bagaimana merancang kegiatan yang seru dan membuat anak jatuh cinta untuk bersekolah?
Apa yang penting diperhatikan sepanjang beberapa minggu awal sekolah?

Diskusi akan menghadirkan beberapa narasumber sekaligus πŸ˜‰
Guru Nadhila dari KGB Jakarta Selatan πŸ‘©πŸ»β€πŸ«
Guru Wiwik dari Salatiga πŸ‘©πŸ»β€πŸ«
Guru Intan dari Jakarta Timur πŸ‘©πŸ»β€πŸ«
Guru Lany Rh dari Kampus Guru Cikal akan menjadi moderator diskusi πŸ‘©πŸ»β€πŸ«

Catat waktunya ⏰
Jumat, 7 Juli 2017
18.30-20.30 WIB
19.30-21.30 WITA
20.30-22.30 WIT

Sampai jumpa di https://telegram.me/mudikmingguan πŸ™πŸΌ