Pendidikan Merdeka Belajar
3.35K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Episode1: Apakah Boleh Menyogok untuk Mengajarkan Anak Berpuasa?

Menyogok anak agar mau berpuasa tak jarang dilakukan guru dan orangtua, misalnya: menjanjikan uang Rp. 10.000 untuk 1 hari puasa, Rp. 20.000 untuk 2 hari puasa, dst. Meski dianggap "mudah", tapi jalan pintas seperti ini tidak direkomendasikan. Mengapa?

M. Quraish Shihab menjawab pertanyaan tsb dari perspektif makna puasa dalam Al-Qur'an dan Najelaa Shihab memberikan pandangannya dari sudut psikologi dan pendidikan.

Simak video lengkapnya di >> http://bit.ly/Ep1RamadhanSMSG

Produksi Kolaborasi:
Keluarga Kita
Islam Edu
Pusat Studi Al-Qur'an

Untuk mengikuti episode selanjutnya, subscribe youtube: bit.ly/semuamuridsemuaguru
Merdeka Belajar: Pancasila dan Ruang yang Kita Ciptakan

Najelaa Shihab (Pendidik)

Pemahaman Pancasila seringkali jadi pengalaman membosankan sewaktu kita sekolah. Segala macam bentuk pelajaran berkait kewarganegaraan misalnya PMP, PSPB, PPKN, Kewiraan dianggap sebagai pengetahuan yang hanya bermanfaat untuk ujian belum berkait pengamalan.

Yang menarik, dalam percakapan beberapa bulan terakhir ini, banyak pendidik- guru dan orangtua, yang semula merasa "menjadi korban" berbagai penataran kemudian menyatakan pentingnya hal ini disampaikan kembali kepada anak-anak. Tantangan kita bersama, bagaimana membiasakan pengamalan relevan untuk generasi masa depan - bukan sekedar pengulangan dokumen yang tidak berhubungan dengan kehidupan.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dulu diajarkan di pelajaran Pancasila atau agama dengan menghafalkan nama agama "resmi" yang diakui pemerintah. Anak sekarang pengalamannya berbeda tentang kebebasan beragama. Sumber informasi tersedia di mana-mana, tentang banyaknya agama dan kepercayaan yang berbeda, bahkan di dalam "nama" yang sama. Pengamalan akhlak dalam agama dan antar agama, sekarang seharusnya lebih ditekankan, bukan hanya memberikan pengetahuan hukum atau hafalan ibadah.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Dua puluh tahun lalu, dunia digital dan globalisasi hanya menjadi paparan segelintir masyarakat. "Jenis" kemanusiaan yang dihadapi anak sekarang jauh lebih menantang. Teman main game online dari negeri yang namanya tidak pernah didengar, avatar atau selebritas yang mewakili identitas. Pengalaman adab dan peradaban yang dihadapi anak sekarang jauh lebih banyak. Sopan di jalan raya, rekayasa genetika dan efek rumah kaca, adalah contoh pilihan harian yang menuntut kematangan.

3. Persatuan Indonesia.
Sila favorit yang dilafalkan lantang anak saat upacara, karena terpendek dan termudah diucapkan. Mungkin karena itu penghargaan atau pertanyaan dari anak-anak mengenai makna sila ketiga, bukan hal yang sering jadi percakapan. Padahal sejarah dan perjalanan bangsa kita begitu panjang dan sulit dalam mewujudkannya. Kenyataannya banyak kita dididik dengan membicarakan tentang orang lain dan bukan berbicara dengan orang lain. "Bicara tentang" adalah belajar dalam situasi yang aman dalam balon kita sendiri, "bicara dengan" seringkali diawali ketidaknyamanan karena perjumpaan yang melintasi batasan. Anak-anak butuh pelajaran berkelanjutan, karena menjadi "satu" dan menjadi "Indonesia" butuh penghayatan bukan hanya di atas kertas atau di dalam kelas. Anak-anak perlu menghadapi pengalaman keragaman yang penuh kecanggungan, namun lama kelamaan menjadi menyenangkan karena dibiasakan.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dalam perwakilan.

Semua kita adalah rakyat. Sebagian menjadi pemimpin dan sebagian dipimpin. Semua kita perlu bijaksana, semua perlu terlibat musyawarah. Sebagian memilih atau dipilih sebagai wakil. Begitu banyak persyaratan bernegara, begitu sedikit peran yang dilatihkan pada anak-anak kita. Pemahaman hak dan kewajiban sebagai anggota komunitas diajarkan lewat tata tertib, bukan kesepakatan bersama di sekolah atau keterlibatan warga di rukun tetangga. Pelatihan kepemimpinan bukan jadi kesempatan bagi setiap murid, tapi menjadi kemewahan terbatas untuk sekelompok elit di sekolah yang kebetulan mendapat dukungan.

5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pengalaman anak (dan orang dewasa) tentang ketimpangan banyak sekali didasarkan pada asumsi pribadi yang diwariskan antar generasi. Anak mengamati apakah Ibu adil pada si sulung dan si bungsu di saat kesakitan, murid menilai guru yang memberikan les tambahan dengan bayaran, penumpang mengikuti antrian di terminal atau membiarkan pengamen yang mencopet di pemberhentian. Semua interaksi sejak dini, menjadi awal dari persepsi tentang keadilan. Anak membangun interpretasi tentang kemiskinan - apakah disebabkan kemalasan atau sistem yang memperbesar kesenjangan. Anak menumbuhkan keyakinan tentang penting/tidaknya layanan kesehatan universal.
Banyak perubahan pendekatan yang perlu kita lakukan di pendidikan. Tanpa terasa, anak-anak kita akan menjadi warganegara Indonesia dan warga dunia yang dewasa. Sebagian gagal berkontribusi, tapi tidak sepantasnya dipersalahkan karena memang belum pernah dipersiapkan atau mendapat suri teladan.

Pendidikan Pancasila bukan isu partisan, dan tidak seharusnya jadi pertarungan kepentingan. Pancasila tidak sakti dengan sendirinya, hidupnya dikuatkan dan dipatahkan di berbagai ruang yang kita ciptakan, dalam percakapan dan perdebatan.

#SemuaMuridSemuaGuru
Selamat sore para pendidik merdeka! 🙋🏻
Sudah tahu kan tiap Jumat kita ngapain? 😉
Iyessss....!
Mudik daring Komunitas Guru Belajar Nusantara 😍

Tidak ada murid yang bodoh!
Adanya adalah guru yang tak paham bagaimana mendampingi murid-murid dengan keunikan masing-masing.

Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi Temu Pendidik dengan Tema *"Penerapan Strategi Multiple Intelligence".*

Kita akan bersama-sama membahas tentang.....
Bagaimana guru bisa memahami dan menerapkan multiple intelligence 📚
Bagaimana guru bisa mendampingi tiap-tiap anaknya belajar sesuai kebutuhan 👥👥👥👥
Bagaimana anak-anak mendapat ruang dan kesempatan yang tepat untuk berkembang 🏡🏘🏠

Menghadirkan narasumber dari KGB Pekalongan, Bapak Risa Faradisa. Diskusi ini dimoderatori oleh Ibu Heni Surya dari KGB Solo Raya.

Catat waktunya
*14.00-16.00 WIB*
*15.00-17.00 WITA*
*16.00-18.00 WIT*
Hanya di https://t.me/mudikmingguan 📲

Sampai jumpa..... 👋🏼
Merdeka!
Channel photo updated
Hidup bersama Al-Qur'an Ep. 3
M. Quraish Shihab & Najelaa Shihab

Pertanyaan: Sering mendengar anak boleh dipukul bila tidak mau salat. Benarkah al-Qur'an menyatakan demikian?

"Kita harus bijak memaknai berbagai arti kata memukul, " papar M. Quraish Shihab. "Ancaman dan pukulan tidak sejalan dengan kebutuhan akan salat yang mau dibiasakan," jelas Najelaa Shihab. Simak video lengkap obrolannya di sini >> http://bit.ly/Ep3RamadhanSMSG

Produksi Kolaborasi:
Keluarga Kita
IslamEdu
Pusat Studi Al-Qur'an

Untuk mengikuti episode selanjutnya, subscribe youtube: bit.ly/semuamuridsemuaguru
Membaca HOAX pangkal pandai:
Memperbaiki salah kaprah, mengembangkan belajar membaca

Ih kok suka sih baca HOAX? Emang beneran baca HOAX bisa bikin pandai?

Membaca apapun bisa bikin kita jadi pandai, termasuk membaca HOAX. Tapi bila kemampuan membaca sekedar mengeja kata, adanya HOAX bisa membuat kita termakan atau bahkan menyebarkan fitnah dan kebencian. Dibutuhkan kemampuan membaca pada tahapan paling kompleks, membaca merdeka, untuk bisa mendapatkan pelajaran dari membaca HAX. Mereka yang mampu menafsir, menyelidiki sumber berita, menganalisis dan membandingkan, serta mengkritisi bahan bacaan. Kemampuan membaca HOAX bisa menjadi acuan sederhana seberapa jauh kemampuan membaca di zaman media sosial.

Sayangnya, kenyataan beberapa waktu terakhir menunjukkan penyebaran HOAX yang begitu marak. Kenyataan yang membuat kita patut mempertanyakan kemampuan kita sebagai orang dewasa dalam membaca, sekaligus merefleksikan bagaimana proses belajar membaca kita pada masa anak-anak dahulu kala. Lebih jauh lagi, apakah kita telah melakukan perubahan cara belajar membaca pada anak-anak di masa kini? Bila tidak ada perubahan, maka buramnya kenyataan masa kini akan berlipatganda di masa depan. Karena kemampuan membaca adalah kemampuan yang tumbuh berkembang dari kecil hingga dewasa.

Praktik belajar membaca pada masa kini seringkali berpijak pada anggapan bahwa membaca itu mudah. Namun bila slogan tersebut adalah sebuah kenyataan, mengapa minat baca Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara yang mengikuti survey oleh Central Connecticut State Univesity (2012)? Mengapa skor kemampuan membaca anak-anak kita masih menempati rangking 60 dari 65 negara pada PISA 2012?

Sejumlah temuan tersebut yang mendorong Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar ingin mengulik lebih jauh mengenai salah kaprah belajar membaca agar kita memperbaiki kesalahan, mengupas strategi belajar membaca agar anak-anak mendapat pengalaman belajar membaca yang kaya, dan mengungkap praktik baik belajar membaca agar semakin banyak pihak yakin akan perubahan belajar membaca secara mendasar.

Mari membaca ulang pelajaran membaca agar anak-anak kita mampu menjadikan HOAX sebagai kesempatan belajar agar terhindar dari menyebarkan fitnah dan kebencian.

Temu Pendidik Bulanan
Jumat, 9 Juni 2017
14.00 - 16.00 WIB

Najelaa Shihab, Pendiri Kampus Guru Cikal
Chusnul Chotimah, Dosen Kampus Guru Cikal

Ikuti di Facebook: Kampus Guru Cikal
Klik https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/
Kebijakan tanpa melalui proses mendengarkan cenderung jadi polemik.

Sembilan Alasan Mengapa Kebijakan Sekolah Lima Hari Ditolak

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rencana pemberlakuan kegiatan belajar mengajar lima hari mulai tahun ajaran baru 2017/2018 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, diminta untuk dicabut.

"Terkait kebijakan itu, kami minta dicabut. Sebab ada beberapa alasan mengapa harus dicabut. Ini atas aspirasi dari masyarakat melalui kegiatan reses yang kami lakukan di berbagai daerah di Jateng," Anggota Komisi E DPRD Jateng, Muh Zen, Minggu (11/6/2017).

Menurutnya, dikeluarkannya kebijakan itu tidak melalui proses adanya masukan dari berbagai stakeholder, baik di tingkat pendidikan dasar maupun menengah.

"Saya yakin kebijakan itu dibuat oleh tim, tapi tim itu tidak mendengar masukan semua stakeholder di Indonesia. Jika mendengar langsung maupun tidak langsung, pemerintah pasti tidak gegabah," ungkapnya.

Ia mengatakan, memang PP nomor 19 tahun 2005 itu tidak wajib dijalankan untuk daerah tertentu, tapi pada dasarnya akan menjadi kewajiban. Karena kepala sekolah yang tak menjalankan biasanya mendapat ancaman.

Sedikitnya terdapat Sembilan alasan, mengapa kebijakan sekolah lima hari itu mesti dicabut.

Pertama, aspek psikologis. Komisi E DPRD Jateng pernah melakukan dengar pendapat dengan sejumlah pakar psikologi dari beberapa perguruan tingi di Jateng.

"Hasilnya bahwa anak usia SD setelah jam 13.00 daya serap ilmunya tidak maksimal, hanya 60 persen. Artinya, kalau kegiatan belajar mengajar sampai jam 16.00 maka keterserapan pendidikan di anak usia dini tidak tercapai," ungkapnya.

Kedua, aspek sarana dan parasara (sarpras). Bahwa harus diakui 40 persen sarpras berupa musala ataupun masjid di sekolah belum representatif. Bahkan tempat wudlu di SMA N 1 Kota Semarang saja, hanya mampu menampung sepertiga dari total jumlah siswa. "Kantin juga belum semua siap," ujarnya.

Ketiga, aspek ekonomi, tentunya beban orangtua untuk uang saku akan bertambah, bahkan bisa dua kali lipat dari hari biasanya. Keempat, aspek keamananan, ketika siswa pulang sore hari tentu akan bertaruh dengan para pekerja di jalan raya, bahkan di Wonosobo ada yang baru pulang pukul 20.00.

Kelima, aspek akademik. Kurikulum yang lama tentu belum sesuai dengan aturan sekolah lima hari. Padahal hal itu terkait dengan tingkat keterserapan materi pada siswa. Jika belum diubah tentu akan sulit menyesuaikan.

Keenam, aspek kompetensi non akademik. Konsep lima hari sekolah, akan memutus kreatifitas anak dalam penguatan ilmu non akademik. Semisal, anak yang memiliki keunggulan bidang seni, budaya, olahraga, tentu harus ikut kegiatan les sore hari. Saat ini tentu tidak mungkin bisa mengikutinya.

"Termasuk dunia sosial anak dengan sesame umurnya juga hilang. Maka, negara telah melanggar hak asasi anak untuk mengembangkan psikomotorik dan afektif calon generasi bangsa," tandasnya.

Ketujuh, aspek geografis. Untuk sekolah di daerah pegunungan masih sulit terakses angkutan umum, hal ini banyak yang dikeluhkan masyarakat, terlebih untuk anak perempuan di malam hari.

Kedelapan, aspek mental spiritual. Di Jateng terdapat 10.127 madrasah diniyah (madin) dan TPQ, padahal 90 persen siswanya adalah anak usia SD dan SMP. Madin dan TPQ biasanya masuk pukul 14.00, jika sekolah diberlakukan sampai sore maka praktis mereka tak bisa mengikutinya.

"Ini secara tak langsung negara telah melakukan upaya penghilangan cita-cita nawacita revolusi mental itu sendiri," ungkapnya.

Kesembilan, aspek ketahanan keluarga. Siswa yang berasal dari keluarga tak mampu, biasanya usai pulang sekolah selalu membantu orangtua, ada yang menjadi buruh tani, berdagang, nelayan, dan sebagainya. Komisi E juga sering mendapat masukan dari para kepala desa di Jateng.

"Kan, anak Indonesia tidak semua orangtuanya PNS. Banyak sekeluarga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, apa negara tega dengan kondisi ini? Prinsipnya, madlorotnya lebih banyak dari manfaatnya," katanya.(*)
Selamat hari Jumat, para Pendidik Merdeka!
Selamat harinya diskusi mingguan Komunitas Guru Belajar 🙏🏼

Pendidikan karakter sedang marak didengungkan sebagai agenda besar dunia pendidikan kita.
Namun apakah cukup pembelajaran tentang karakter melalui cerita dan buku-buku?

Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan Temu Pendidik Mingguan dengan tema *"Menumbuhkan Kembali Budi Pekerti"*.
Kita akan membahas bersama, bagaimana memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan budi pekertinya.
Bagaimana peranan kita sebagai guru untuk mendampingi sepenuhnya proses tumbuhnya budi pekerti anak.
Bagaimana dampak kegiatan sosial pada pengembangan budi pekerti anak.

Diskusi kali ini menghadirkan _Bapak Huda Sensei_, penggerak KGB Malang. Dengan moderator _Bapak JC Pramudia Natal_ dari KGB Jakarta Selatan.
Materi diskusi seperti yang dituliskan Pak Huda dalam Surat Kabar Guru Belajar Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 mengenai Pendidikan Budi Pekerti.

Catat waktunya 🕰
*14.00 - 16.00 WIB*
*15.00 - 17.00 WITA*
*16.00 - 18.00 WIT*

Sampai jumpa di https://telegram.me/mudikmingguan
Merdeka!
[UNDANGAN KONSOLIDASI]

*Tolak Kebijakan Full Day School*

Kemendikbud RI telah menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mewajibkan anak-anak usia sekolah untuk bersekolah selama 8 jam sehari, selama 5 hari dalam seminggu, atau setara dengan jam kerja orang dewasa.

Kebijakan ini bertentangan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional yang memberikan otonomi bagi sekolah untuk mengelola kurikulumnya secara mandiri, sesuai dengan kebutuhan anak. Anak-anak yang menjadi peserta didik juga berpotensi mengalami pelanggaran hak, mengingat kekerasan di sekolah masih marak, keseimbangan antara waktu bermain dan belajar, juga jangkauan sekolah di masing-masing daerah yang kondisinya sangat berbeda satu sama lain akan merugikan anak-anak yang tinggal di kawasan pelosok.

Karenanya, kami mengajak rekan-rekan masyarakat sipil untuk berkumpul membahas sikap dan langkah advokasi bersama untuk membatalkan kebijakan tersebut. Kami mengundang rekan-rekan untuk hadir pada:


*Hari, Tanggal: Senin, 19 Juni 2017*
*Jam: 13.00-14.00 WIB*
*Tempat: Lantai 1 LBH Jakarta, Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat*

Agenda ini terbuka untuk seluruh rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama. Kami mengharapkan kehadiran dan dukungan anda untuk turut serta dalam advokasi ini.

Atas perhatian dan kerjasamanya, kami mengucapkan terima kasih.

Salam,
LBH Jakarta


Kontak:
1. Alldo Fellix Januardy (087878499399)
2. Nelson Nikodemus Simamora (081396820400)
Setelah meredup, isu waktu sekolah seharian penuh kembali menyeruak. Disertai keputusan 5 hari sekolah saja. Kondisi yang sudah diterapkan pada sekolah non-negeri dan berbagai kota besar ini, layakkah diterapkan bagi seluruh negeri?

Populi Center dan Smart FM Network akan membahasnya dalam Perspektif Indonesia dengan topik: "Full Day School, Jadi?"

Bersama:
- Antarina F. Amir (Pengelola Sekolah Highscope Indonesia
- Ahmad Rizali, MSc (Mantan Staf Khusus Mendiknas, Pendiri Center for Betterment Education)
- Tatang Muttaqin, PhD (Penekun Kajian Pendidikan, Anggota The James Coleman Associations)
- Karina Adistiana, M.Psi. (Psikolog Pendidikan, inisiator Gerakan Peduli Musik Anak)

Host:
Ichan Loulembah

Hari: Sabtu, 17 Juni 2017‎
Jam: 09.00 -11.00 WIB‎
Tempat:  GADO-GADO BOPLO‎
Jl. Gereja Theresia No. 41 Menteng, Jakarta Pusat.

- Broadcasting live on SMART FM Jakarta 95.9, Manado 101.2, Makasar 101.1,  Banjarmasin 101.1, Balikpapan 97.8, Surabaya 88.9, Palembang 101.8, Medan 101.8, Pekanbaru 101.8, Jogjakarta 102.1

- Review di populicenter.org
- Streaming radiosmartfm.com
- Blackberry: SmartFM via google
- Android: SmartFM via google play

Perspektif Indonesia
tajam - dalam - bermakna

SIARAN ULANG: 
Minggu, 18 Juni 2017‎
Pukul 16.00-18.00‌‎ WIB‌‌‎
Mudik Komunitas Guru Belajar (KGB) Malang
Rabu, 21 Juni 2017
16.30 - 18.00 WIB
Cafe Oase - Taman Merjosari Malang

Ngobrol #MerdekaBelajar bareng Bukik Setiawan dari Kampus Guru Cikal, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong