Selamat pagi para pendidik merdeka ππΌ
Proses belajar kita bersama anak-anak di kelas sangat bernilai dan perlu disampaikan hasilnya dengan cara yang penuh penghargaan.
Menghargai anak-anak dan usahanya.
Menghargai guru sebagai pendamping proses belajarnya.
Menghargai hasil kerja tidak hanya berupa angka.
Apa yang perlu diterapkan dalam pelaporan hasil belajar?
Bagaimana menyampaikan hasil belajar dengan penuh penghargaan?
Bagaimana anak dan guru bekerjasama untuk menyampaikan proses belajar mereka pada orang tua?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan dengan tema "Mengkomunikasikan Hasil Belajar".
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Shanti, dari Komunitas Guru Belajar Surabaya, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Nidiah, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Proses belajar kita bersama anak-anak di kelas sangat bernilai dan perlu disampaikan hasilnya dengan cara yang penuh penghargaan.
Menghargai anak-anak dan usahanya.
Menghargai guru sebagai pendamping proses belajarnya.
Menghargai hasil kerja tidak hanya berupa angka.
Apa yang perlu diterapkan dalam pelaporan hasil belajar?
Bagaimana menyampaikan hasil belajar dengan penuh penghargaan?
Bagaimana anak dan guru bekerjasama untuk menyampaikan proses belajar mereka pada orang tua?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan dengan tema "Mengkomunikasikan Hasil Belajar".
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Shanti, dari Komunitas Guru Belajar Surabaya, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Nidiah, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Telegram
TIDAK DIPAKAI - Temu Pendidik Mingguan
GRUP INI TIDAK DIGUNAKAN LAGI!
Silahkan bergabung di kanal #GuruBelajar
Klik
https://t.me/GuruBelajar
Silahkan bergabung di kanal #GuruBelajar
Klik
https://t.me/GuruBelajar
Pelatihan Guru Merdeka Belajar Berbeasiswa
Guru belajar seringkali disalahartikan sebagai kegiatan di kelas, dimotivasi sogokan dan hukuman (reward & punishment), hanya bisa belajar dari pakar, menduplikasi resep mengajar, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Sejumlah miskonsepsi tersebut yang membuat guru terbelenggu yang gagap dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.
Kampus Guru Cikal hadir untuk berjuang melawan miskonsepsi pengembangan guru tersebut. Dengan menggunakan Model Pendidikan Guru Cikal dari hasil refleksi 18 tahun mendampingi Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal menyediakan beragam aktivitas bagi guru melakukan pengembangan diri. Pintu masuknya adalah Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang diluncurkan pada Pesta Pendidikan 2017 - Bandung.
Dalam pelatihan tersebut, para guru diajak mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan kompetensi merdeka belajar. Dari pemahaman itu, peserta diajak menganalisis kondisi yang dibutuhkan guru dan murid untuk merdeka belajar. Setelah itu, guru diajak untuk merancang pengembangan diri sebagai guru merdeka belajar dan membuat rancangan untuk memulai kelas dengan semangat merdeka belajar.
Pelatih Kampus Guru Cikal akan memandu pelatihan dengan diferensiasi strategi belajar, mendapatkan pemahaman bermakna dari pengalaman, diperkaya dengan praktik dan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks peserta pelatihan. Dalam 6 jam, peserta diajak untuk aktif belajar, mendapatkan pelajaran sekaligus berbagi pelajaran dengan peserta yang lain. Setelah pelatihan, peserta pelatihan belajar melalui grup WA dengan mentor dari Kampus Guru Cikal dan berbagi praktik dengan Komunitas Guru Belajar.
Bila Anda adalah seorang guru yang bersemangat belajar, ingin merdeka belajar dan mendapatkan komunitas yang kondusif buat belajar, maka penting bagi Anda untuk mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar di Pesta Pendidikan 2017 - di Jakarta.
Sabtu, 20 Mei 2017
08.00 - 16.30 WIB
Kompleks Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat
Info Beasiswa dan Pendaftaran di http://bit.ly/GMBPekan
Silahkan sebarkan informasi ini ke rekan dan grup guru yang lain
Ada beasiswa 100% khusus untuk Penggerak dan anggota KGB daerah. Nantikan informasinya, hanya di grup WA Komunitas Guru Belajar
Guru belajar seringkali disalahartikan sebagai kegiatan di kelas, dimotivasi sogokan dan hukuman (reward & punishment), hanya bisa belajar dari pakar, menduplikasi resep mengajar, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Sejumlah miskonsepsi tersebut yang membuat guru terbelenggu yang gagap dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.
Kampus Guru Cikal hadir untuk berjuang melawan miskonsepsi pengembangan guru tersebut. Dengan menggunakan Model Pendidikan Guru Cikal dari hasil refleksi 18 tahun mendampingi Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal menyediakan beragam aktivitas bagi guru melakukan pengembangan diri. Pintu masuknya adalah Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang diluncurkan pada Pesta Pendidikan 2017 - Bandung.
Dalam pelatihan tersebut, para guru diajak mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan kompetensi merdeka belajar. Dari pemahaman itu, peserta diajak menganalisis kondisi yang dibutuhkan guru dan murid untuk merdeka belajar. Setelah itu, guru diajak untuk merancang pengembangan diri sebagai guru merdeka belajar dan membuat rancangan untuk memulai kelas dengan semangat merdeka belajar.
Pelatih Kampus Guru Cikal akan memandu pelatihan dengan diferensiasi strategi belajar, mendapatkan pemahaman bermakna dari pengalaman, diperkaya dengan praktik dan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks peserta pelatihan. Dalam 6 jam, peserta diajak untuk aktif belajar, mendapatkan pelajaran sekaligus berbagi pelajaran dengan peserta yang lain. Setelah pelatihan, peserta pelatihan belajar melalui grup WA dengan mentor dari Kampus Guru Cikal dan berbagi praktik dengan Komunitas Guru Belajar.
Bila Anda adalah seorang guru yang bersemangat belajar, ingin merdeka belajar dan mendapatkan komunitas yang kondusif buat belajar, maka penting bagi Anda untuk mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar di Pesta Pendidikan 2017 - di Jakarta.
Sabtu, 20 Mei 2017
08.00 - 16.30 WIB
Kompleks Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat
Info Beasiswa dan Pendaftaran di http://bit.ly/GMBPekan
Silahkan sebarkan informasi ini ke rekan dan grup guru yang lain
Ada beasiswa 100% khusus untuk Penggerak dan anggota KGB daerah. Nantikan informasinya, hanya di grup WA Komunitas Guru Belajar
Merdeka Belajar: Kutu Buku bukan Jaminan Mutu
Najelaa Shihab (Pendidik)
Kita sering mendengar bahwa kemampuan membaca penduduk Indonesia sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan bahkan di usia balita? Kita sering tercengang bahwa orang bergelar panjang tertutup pada perbedaan sudut pandang. Bagaimana mungkin, saat koleksi buku dan informasi media yang menceritakan perubahan begitu berlimpah?
Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, kita seringkali berlindung dibalik angka dan jumlah. Kemampuan mekanik mengeja dan membaca anak-anak kita di usia muda mendapat angka tinggi di tes internasional. Tapi saat diminta memahami bacaan dan mengaplikasikan pengetahuan di masa akhir sekolah, angkanya menjadi salah satu yang terendah diantara semua negara. Rasio jumlah bangunan perpustakaan kita dibanding jumlah penduduk adalah salah satu yang baik di dunia. Tapi bila dilihat isi raknya jarang menyimpan dan meminjamkan buku Indonesia yang berkualitas serta beragam.
Prestasi jangka pendek dan peresmian sarana, pencanangan gerakan atau penerbitan buku pesanan sesuai pencitraan, masih menjadi bagian harian dari pendidikan dan bacaan kita. Sebelumnya kita bisa diam atau hanya menggumam di belakang, tapi sekarang kita harus berani bicara dengan lantang. Semua ini bukan saja tidak cukup, tetapi harus dihentikan karena menghalangi pencapaian tujuan pendidikan berkait bacaan dalam jangka panjang.
Pendapat di atas mungkin dianggap sama dengan ekstrimitas, tapi bicara pendidikan memang membutuhkan militansi jangka panjang.
Setiap hari terbit 5000 buku di dunia. Kalau kita hanya bicara banyaknya buku yang dibaca anak indonesia - kapan kita sadar bahwa peran pendidikan tidak hanya sekedar membuat anak bisa membaca tapi juga membuat insan Indonesia mahir menulis dan mewarnai pemikiran global. Tidak ada perubahan indikator kesuksesan membaca sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. 72 tahun kita bertepuk tangan atas "kemajuan" pemberantasan buta aksara padahal ukuran literasi internasional dan tuntutan teknologi digital sudah berubah.
Setiap detik lebih dari 10 ribu informasi baru muncul di media sosial. Kalau kita hanya bertujuan mencetak generasi pekerja yang mampu membeli dan memakai gawai terkini - kapan kita menumbuhkan anak-anak cerdas digital dan menjadi warganegara Indonesia yang karyanya di berbagai bidang mengubah dunia.
Aktif membaca tidak cukup, membaca aktif esensial. Menambah jumlah pustaka cetak ataupun elektronik tidak cukup, menambah manfaat pustaka adalah mutlak. Kutu buku bukan jaminan mutu bila cuma berlindung di balik kertas atau terpaku di depan layar. Mari bercita-cita lebih besar! Kutu buku akan menjadi manusia utuh bila kita menjadi teladan pendidik yang berdaya di setiap rumah dan kelas.
#SemuaMuridSemuaGuru
Najelaa Shihab (Pendidik)
Kita sering mendengar bahwa kemampuan membaca penduduk Indonesia sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan bahkan di usia balita? Kita sering tercengang bahwa orang bergelar panjang tertutup pada perbedaan sudut pandang. Bagaimana mungkin, saat koleksi buku dan informasi media yang menceritakan perubahan begitu berlimpah?
Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, kita seringkali berlindung dibalik angka dan jumlah. Kemampuan mekanik mengeja dan membaca anak-anak kita di usia muda mendapat angka tinggi di tes internasional. Tapi saat diminta memahami bacaan dan mengaplikasikan pengetahuan di masa akhir sekolah, angkanya menjadi salah satu yang terendah diantara semua negara. Rasio jumlah bangunan perpustakaan kita dibanding jumlah penduduk adalah salah satu yang baik di dunia. Tapi bila dilihat isi raknya jarang menyimpan dan meminjamkan buku Indonesia yang berkualitas serta beragam.
Prestasi jangka pendek dan peresmian sarana, pencanangan gerakan atau penerbitan buku pesanan sesuai pencitraan, masih menjadi bagian harian dari pendidikan dan bacaan kita. Sebelumnya kita bisa diam atau hanya menggumam di belakang, tapi sekarang kita harus berani bicara dengan lantang. Semua ini bukan saja tidak cukup, tetapi harus dihentikan karena menghalangi pencapaian tujuan pendidikan berkait bacaan dalam jangka panjang.
Pendapat di atas mungkin dianggap sama dengan ekstrimitas, tapi bicara pendidikan memang membutuhkan militansi jangka panjang.
Setiap hari terbit 5000 buku di dunia. Kalau kita hanya bicara banyaknya buku yang dibaca anak indonesia - kapan kita sadar bahwa peran pendidikan tidak hanya sekedar membuat anak bisa membaca tapi juga membuat insan Indonesia mahir menulis dan mewarnai pemikiran global. Tidak ada perubahan indikator kesuksesan membaca sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. 72 tahun kita bertepuk tangan atas "kemajuan" pemberantasan buta aksara padahal ukuran literasi internasional dan tuntutan teknologi digital sudah berubah.
Setiap detik lebih dari 10 ribu informasi baru muncul di media sosial. Kalau kita hanya bertujuan mencetak generasi pekerja yang mampu membeli dan memakai gawai terkini - kapan kita menumbuhkan anak-anak cerdas digital dan menjadi warganegara Indonesia yang karyanya di berbagai bidang mengubah dunia.
Aktif membaca tidak cukup, membaca aktif esensial. Menambah jumlah pustaka cetak ataupun elektronik tidak cukup, menambah manfaat pustaka adalah mutlak. Kutu buku bukan jaminan mutu bila cuma berlindung di balik kertas atau terpaku di depan layar. Mari bercita-cita lebih besar! Kutu buku akan menjadi manusia utuh bila kita menjadi teladan pendidik yang berdaya di setiap rumah dan kelas.
#SemuaMuridSemuaGuru
Menjadi Guru Kompeten
Pelatihan seringkali dipandang sebagai solusi tunggal bagi guru untuk menjadi kompeten. Bila guru ikut pelatihan, maka guru akan kompeten
Kompetensi seringkali dipandang dalam konteks individual. Kenyataannya, tidak ada guru yang bisa kompeten sendiri. Menjadi guru kompeten butuh dukungan rekan, kepala sekolah dan masyarakat.
Kompetensi guru seringkali dinilai dengan standar tunggal yang berlaku secara umum. Padahal menjadi guru kompeten selalu terbatas pada konteks yang spesifik. Menjadi guru kompeten dimana, pada pelajaran apa dan pada siapa.
Lalu bagaimana solusinya?
Mari kita bicarakan di Ngobrol Publik
Menjadi Guru Kompeten
Bersama
Bukik Setiawan β Kampus Guru Cikal
Yosua Philippus β Kisar Cerdas
Analisa Widyaningrum β Psikolog, Wardah
Minggu, 21 Mei 2017
12.40 β 13.25 WIB
Panggung Utama F3
FX Sudirman β Jakarta
Pendaftaran: http://googaga.co.id/pestapendidikan
Pelatihan seringkali dipandang sebagai solusi tunggal bagi guru untuk menjadi kompeten. Bila guru ikut pelatihan, maka guru akan kompeten
Kompetensi seringkali dipandang dalam konteks individual. Kenyataannya, tidak ada guru yang bisa kompeten sendiri. Menjadi guru kompeten butuh dukungan rekan, kepala sekolah dan masyarakat.
Kompetensi guru seringkali dinilai dengan standar tunggal yang berlaku secara umum. Padahal menjadi guru kompeten selalu terbatas pada konteks yang spesifik. Menjadi guru kompeten dimana, pada pelajaran apa dan pada siapa.
Lalu bagaimana solusinya?
Mari kita bicarakan di Ngobrol Publik
Menjadi Guru Kompeten
Bersama
Bukik Setiawan β Kampus Guru Cikal
Yosua Philippus β Kisar Cerdas
Analisa Widyaningrum β Psikolog, Wardah
Minggu, 21 Mei 2017
12.40 β 13.25 WIB
Panggung Utama F3
FX Sudirman β Jakarta
Pendaftaran: http://googaga.co.id/pestapendidikan
Temu Pendidik itu seperti apa?
Ini beberapa pernyataan teman-teman pendidik yang sempat mengikuti langsung Temu Pendidik April 2017 di Jogja βΊ
"Temu pendidik di Jogja itu bisa dikatakan perkumpulan orang-orang keren. Semua yg di luar logika orang biasa, bisa terpikirkan oleh mereka. Di kelas ini saya bisa yakin bahwa sebenarnya suatu keterbatasan ruang dan alat justru membuat ketidakterbatasan pemikiran kita untuk terus mengembangkan inovasi kreatif.
Temu pendidik di Jogja mengubahku menjadi guru yang tidak lagi menuntut murid mendapat nilai banyak, melainkan mewadahi murid mendapatkan banyak ilmu." Eki Nurwulandari, Dosen Stikes Muhammadiyah Pekalongan, KGB Pekalongan.
"Temu Pendidik Jogja menambah ilmu dan motivasi. Saya semakin yakin dan mantap menjadi guru untuk selalu mengabdikan diri demi anak2 dan bangsa. Dan selalu ingin belajar belajar dan belajar terus.
Ditambah dengan ikut KGB menjadikan diri harus selalu berbenah dan belajar. mengajar untuk belajarππ." Syaifullah Godi, Guru SDN Ledok 05 Salatiga
Kali ini, Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan Temu Pendidik edisi Jakarta, menghadirkan rekan-rekan guru dari area Jabodetabek dengan cerita-cerita inspiratifnya. π
Datang dan mari belajar bersama pada
π hari Minggu, 21 Mei 2017
β° pukul 10.30-13.00 WIB
Di π’ Ruang Sidang lantai 3, Gedung A Kompleks Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Daftarkan diri anda segera di http://bit.ly/MudikPekan.
Sampai jumpa..... ππΌ
Merdeka! πͺπΌ
Ini beberapa pernyataan teman-teman pendidik yang sempat mengikuti langsung Temu Pendidik April 2017 di Jogja βΊ
"Temu pendidik di Jogja itu bisa dikatakan perkumpulan orang-orang keren. Semua yg di luar logika orang biasa, bisa terpikirkan oleh mereka. Di kelas ini saya bisa yakin bahwa sebenarnya suatu keterbatasan ruang dan alat justru membuat ketidakterbatasan pemikiran kita untuk terus mengembangkan inovasi kreatif.
Temu pendidik di Jogja mengubahku menjadi guru yang tidak lagi menuntut murid mendapat nilai banyak, melainkan mewadahi murid mendapatkan banyak ilmu." Eki Nurwulandari, Dosen Stikes Muhammadiyah Pekalongan, KGB Pekalongan.
"Temu Pendidik Jogja menambah ilmu dan motivasi. Saya semakin yakin dan mantap menjadi guru untuk selalu mengabdikan diri demi anak2 dan bangsa. Dan selalu ingin belajar belajar dan belajar terus.
Ditambah dengan ikut KGB menjadikan diri harus selalu berbenah dan belajar. mengajar untuk belajarππ." Syaifullah Godi, Guru SDN Ledok 05 Salatiga
Kali ini, Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan Temu Pendidik edisi Jakarta, menghadirkan rekan-rekan guru dari area Jabodetabek dengan cerita-cerita inspiratifnya. π
Datang dan mari belajar bersama pada
π hari Minggu, 21 Mei 2017
β° pukul 10.30-13.00 WIB
Di π’ Ruang Sidang lantai 3, Gedung A Kompleks Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Daftarkan diri anda segera di http://bit.ly/MudikPekan.
Sampai jumpa..... ππΌ
Merdeka! πͺπΌ
Google Docs
Temu Pendidik Daerah - Pesta Pendidikan
Komunitas Guru Belajar (KGB) percaya bahwa belajar bisa dari siapa saja. Sumber inspirasi bukan figur yang serba tahu dan sempurna, tapi rekan seperjalanan yang realistis dengan pengalaman nyata, dan praktis, seringkali gagal sebelum berhasil. Karena ituβ¦
Refleksi Pesta Pendidikan: Dari, Oleh dan Untuk Publik
Najelaa Shihab - Inisiator Pesta Pendidikan
Pesta pendidikan bukan kegiatan dadakan, tapi perayaan DARI PUBLIK yang sudah punya kekuatan. Yang dirayakan adalah kebaikan yang sudah dipraktikkan, karya yang perlu disebarluaskan.
Rangkaian kegiatan Pesta Pendidikan 2017 berlangsung selama 87 hari, dengan kegiatan Festival Publik di 5 kota dan kegiatan Aksi Publik di lebih 67 kota, lebih dari 255 komunitas dan organisasi pendidikan dan lebih dari 27 media, 11 Kementrian dan Lembaga serta Pemerintah Daerah. Total biaya yang dihabiskan adalah 867 juta rupiah dalam bentuk dana sponsorship, dan 10 bahkan 100 kali lebih banyak dalam bentuk tenaga dan keahlian, waktu (termasuk waktu tayang) yang disumbangkan oleh lebih dari 1000 relawan dalam kepanitiaan*
Membaca angka-angka tersebut sebagian kita akan heran, karena merasa kekecilan atau kebesaran. Yang perlu dirayakan dari Pesta Pendidikan bukan sekedar jumlah, melainkan proses belajar, bergerak dan bermakna yang ada di baliknya.
Di 105 Ngobrol Publik, banyak inovasi berkait hubungan keluarga sampai teknologi luar angkasa, banyak solusi dari ibukota sampai daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kita membuktikan banyak percakapan dan pelajaran yang bisa diterapkan dan diteladankan. Dari lebih 15000 orang yang melihat Pameran Publik; ada ketua yayasan yang membawahi 400 guru di Makassar, imam masjid yang memimpin 1200 jamaah tiap jum'atan di Jakarta Selatan, Menteri yang nama departemennya tidak membawa nama pendidikan. Kita membuktikan betapa banyak banyak refleksi gerakan dan kolaborasi lanjutan yang dilipatgandakan.
Pesta Pendidikan bukan kampanye musiman, tapi keberdayaan OLEH PUBLIK yang barengan. Publik yang belajar dari sejarah, bahwa perubahan harus dimulai bukan dengan saling menyalahkan tapi dengan mengambil peran.
Kita mencontohkan bagaimana pendidik-pendidik dari Kisar menempuh 40 jam perjalanan laut menuju Festival Publik di Ambon Maret lalu, dan kemudian terbang mengisi Ngobrol Publik di Jakarta kemarin dengan biaya sendiri, tanpa iming-iming sertifikat atau tuntutan surat tugas.
Pesta Pendidikan bukan peperangan antar berbagai pemangku kepentingan, tapi jaringan UNTUK PUBLIK menuju perubahan pendidikan. Semua yang ikut barengan menunjukkan keberanian untuk kepentingan anak-anak. Kita mendengarkan pimpinan media ternama dan perusahaan terkemuka yang ikut di Janji Publik, berkenalan dengan anak yang hidup di tumpukan sampah dan menyatakan dengan lantang bahwa pertimbangan pemberitaan tidak bisa semata dikendalikan oleh iklan, tapi oleh kebutuhan anak-anak yang tidak bisa dipenuhi "kapan-kapan".
Di Pesta Pendidikan, kita tidak diikat akta tapi mengikatkan diri dengan sukarela pada cita-cita. Terimakasih teman-teman sudah ikut barengan! Kita publik berdaya yang percaya, bahwa kita adalah perubahan yang kita nanti-nantikan...
#SemuaMuridSemuaGuru
*detil semua angka yang akurat akan bisa dilihat di Buku Refleksi Pesta Pendidikan 2017, yang akan kami terbitkan. Sebagaimana setelah kegiatan tahun lalu kami juga menerbitkan Refleksi Pesta Pendidikan 2016.
Najelaa Shihab - Inisiator Pesta Pendidikan
Pesta pendidikan bukan kegiatan dadakan, tapi perayaan DARI PUBLIK yang sudah punya kekuatan. Yang dirayakan adalah kebaikan yang sudah dipraktikkan, karya yang perlu disebarluaskan.
Rangkaian kegiatan Pesta Pendidikan 2017 berlangsung selama 87 hari, dengan kegiatan Festival Publik di 5 kota dan kegiatan Aksi Publik di lebih 67 kota, lebih dari 255 komunitas dan organisasi pendidikan dan lebih dari 27 media, 11 Kementrian dan Lembaga serta Pemerintah Daerah. Total biaya yang dihabiskan adalah 867 juta rupiah dalam bentuk dana sponsorship, dan 10 bahkan 100 kali lebih banyak dalam bentuk tenaga dan keahlian, waktu (termasuk waktu tayang) yang disumbangkan oleh lebih dari 1000 relawan dalam kepanitiaan*
Membaca angka-angka tersebut sebagian kita akan heran, karena merasa kekecilan atau kebesaran. Yang perlu dirayakan dari Pesta Pendidikan bukan sekedar jumlah, melainkan proses belajar, bergerak dan bermakna yang ada di baliknya.
Di 105 Ngobrol Publik, banyak inovasi berkait hubungan keluarga sampai teknologi luar angkasa, banyak solusi dari ibukota sampai daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Kita membuktikan banyak percakapan dan pelajaran yang bisa diterapkan dan diteladankan. Dari lebih 15000 orang yang melihat Pameran Publik; ada ketua yayasan yang membawahi 400 guru di Makassar, imam masjid yang memimpin 1200 jamaah tiap jum'atan di Jakarta Selatan, Menteri yang nama departemennya tidak membawa nama pendidikan. Kita membuktikan betapa banyak banyak refleksi gerakan dan kolaborasi lanjutan yang dilipatgandakan.
Pesta Pendidikan bukan kampanye musiman, tapi keberdayaan OLEH PUBLIK yang barengan. Publik yang belajar dari sejarah, bahwa perubahan harus dimulai bukan dengan saling menyalahkan tapi dengan mengambil peran.
Kita mencontohkan bagaimana pendidik-pendidik dari Kisar menempuh 40 jam perjalanan laut menuju Festival Publik di Ambon Maret lalu, dan kemudian terbang mengisi Ngobrol Publik di Jakarta kemarin dengan biaya sendiri, tanpa iming-iming sertifikat atau tuntutan surat tugas.
Pesta Pendidikan bukan peperangan antar berbagai pemangku kepentingan, tapi jaringan UNTUK PUBLIK menuju perubahan pendidikan. Semua yang ikut barengan menunjukkan keberanian untuk kepentingan anak-anak. Kita mendengarkan pimpinan media ternama dan perusahaan terkemuka yang ikut di Janji Publik, berkenalan dengan anak yang hidup di tumpukan sampah dan menyatakan dengan lantang bahwa pertimbangan pemberitaan tidak bisa semata dikendalikan oleh iklan, tapi oleh kebutuhan anak-anak yang tidak bisa dipenuhi "kapan-kapan".
Di Pesta Pendidikan, kita tidak diikat akta tapi mengikatkan diri dengan sukarela pada cita-cita. Terimakasih teman-teman sudah ikut barengan! Kita publik berdaya yang percaya, bahwa kita adalah perubahan yang kita nanti-nantikan...
#SemuaMuridSemuaGuru
*detil semua angka yang akurat akan bisa dilihat di Buku Refleksi Pesta Pendidikan 2017, yang akan kami terbitkan. Sebagaimana setelah kegiatan tahun lalu kami juga menerbitkan Refleksi Pesta Pendidikan 2016.
Undangan Menulis tentang Pelajaran Membaca. instagram.com/p/BUdeCbrDcI3/
Instagram
Kampus Guru Cikal
Undangan Menulis tentang Pelajaran Membaca.