Bermacam metode belajar bisa kita pilih dan gunakan saat mengajar. Banyak bentuk aktifitas dan materi pembelajaran yang bisa kita sesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak.
Namun bagaimana bisa menemukan metode belajar yang bisa menjawab kebutuhan anak?
Apa saja yang perlu dilakukan untuk memahami kebutuhan anak?
Siapa saja yang perlu dilibatkan untuk menganalisis kebutuhan anak?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Tosi Widya, dari Komunitas Guru Belajar Depok, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Heni Surya, penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Namun bagaimana bisa menemukan metode belajar yang bisa menjawab kebutuhan anak?
Apa saja yang perlu dilakukan untuk memahami kebutuhan anak?
Siapa saja yang perlu dilibatkan untuk menganalisis kebutuhan anak?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Tosi Widya, dari Komunitas Guru Belajar Depok, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Heni Surya, penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Anak-anak sekarang tidak asing dengan Bayu Skak, Chandra Liouw, Arief Mohammad, atau Radityadika. Mereka adalah youtubers, pembuat konten video kreatif yang diunggah di kanal Youtube.
Video kreatif menjadi marak belakangan ini, namun siswa dan guru seperti berada di dua sisi yang berbeda. Hanya melihat fenomena ini sebagai bagian yang tak berhubungan dalam proses belajar. Akibatnya, siswa harus mencuri-curi kesempatan membuka handphone dan berselancar di Internet.
Bagaimana memanfaatkan fenomena ini sebagai kesempatan untuk bisa dekat dengan anak?
Bagaimana mengintegrasikan kreatifitas dan kegemaran dalam proses belajar?
Bagaimana merancang pembelajaran jadi efektif, bermakna, menyenangkan?
Komunitas Guru Belajar menyajikan Temu Pendidik Mingguan, dengan tema
“INTEGRASI MAPEL DENGAN PEMBUATAN VIDEO KREATIF”
Menghadirkan Guru Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal), seorang video creator, sebagai narasumber. Dengan moderator Adik Christian Hartono (KGB Jakarta Selatan).
Malam ini, di https://t.me/mudikmingguan
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Merdeka!
Video kreatif menjadi marak belakangan ini, namun siswa dan guru seperti berada di dua sisi yang berbeda. Hanya melihat fenomena ini sebagai bagian yang tak berhubungan dalam proses belajar. Akibatnya, siswa harus mencuri-curi kesempatan membuka handphone dan berselancar di Internet.
Bagaimana memanfaatkan fenomena ini sebagai kesempatan untuk bisa dekat dengan anak?
Bagaimana mengintegrasikan kreatifitas dan kegemaran dalam proses belajar?
Bagaimana merancang pembelajaran jadi efektif, bermakna, menyenangkan?
Komunitas Guru Belajar menyajikan Temu Pendidik Mingguan, dengan tema
“INTEGRASI MAPEL DENGAN PEMBUATAN VIDEO KREATIF”
Menghadirkan Guru Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal), seorang video creator, sebagai narasumber. Dengan moderator Adik Christian Hartono (KGB Jakarta Selatan).
Malam ini, di https://t.me/mudikmingguan
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Merdeka!
Temu pendidik mingguan asyik krn yg bicara adalah guru yg melakukan praktik pengajaran. Bukan cuma teori, kaya contoh
Buruan klik https://t.me/mudikmingguan
Buruan klik https://t.me/mudikmingguan
Halo Teman-Teman,
Pesta Pendidikan adalah inisiatif sukarela publik yang bertujuan menjadi katalisator kerja sama berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Merayakan berbagai praktik baik dan kerja nyata dari penjuru Nusantara yang penting disebarluaskan.
Pesta Pendidikan 2017 diadakan di 5 kota: Bandung, Ambon, Yogyakarta, Makassar dan Jakarta. Kolaborasi bersama 250 organisasi/komunitas pendidikan, sekolah, berbagai kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, guru, siswa, orangtua dan publik yang peduli pada pendidikan.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pesta Pendidikan mengajak kita semua untuk BARENGAN berkarya di Pesta Pendidikan.
Selasa/2 Mei 2017
15.00-17.45
RTH Kalijodo
Mari menjadi publik yang berdaya untuk pendidikan. Yuk, BARENGAN di Pesta Pendidikan.
Salam hangat,
Najelaa Shihab
Mewakili Relawan yang BARENGAN di Pesta Pendidikan
Pesta Pendidikan adalah inisiatif sukarela publik yang bertujuan menjadi katalisator kerja sama berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Merayakan berbagai praktik baik dan kerja nyata dari penjuru Nusantara yang penting disebarluaskan.
Pesta Pendidikan 2017 diadakan di 5 kota: Bandung, Ambon, Yogyakarta, Makassar dan Jakarta. Kolaborasi bersama 250 organisasi/komunitas pendidikan, sekolah, berbagai kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, guru, siswa, orangtua dan publik yang peduli pada pendidikan.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pesta Pendidikan mengajak kita semua untuk BARENGAN berkarya di Pesta Pendidikan.
Selasa/2 Mei 2017
15.00-17.45
RTH Kalijodo
Mari menjadi publik yang berdaya untuk pendidikan. Yuk, BARENGAN di Pesta Pendidikan.
Salam hangat,
Najelaa Shihab
Mewakili Relawan yang BARENGAN di Pesta Pendidikan
Menjadi Teman Seperjalanan
Kemandirian belajar adalah tujuan penting yang banyak diabaikan dalam praktik pengajaran. Banyak praktik pengajaran yang dilakukan berpijak pada asumsi bahwa guru harus mengontrol murid agar mau belajar. Murid penurut menjadi idola. Murid tertib jadi impian. Kelas tenang jadi angan-angan. Tingginya rata-rata nilai kelas jadi cita-cita.
Sembari lupa, bahwa murid-murid bukan hanya menghadapi tantangan berupa ujian sekolah dan ujian nasional. Mereka mau tidak mau harus belajar meski jam pelajaran telah usai. Mereka tetap menghadapi berbagai tantangan, meski sekolah telah usai. Mereka akan terus belajar dalam dunia pekerjaan, dalam hidup berpasangan, sebagai warga masyarakat, sebagai orangtua dan pendidik.
Pertanyaan reflektifnya, apakah kita sudah membantu murid-murid kita untuk mandiri belajar di sekolah dan setelah lulus sekolah nanti?
Atau, kita masih saja memacu para murid untuk meraih nilai setinggi-tingginya demi nama baik kita dan sekolah dengan mengabaikan kemandirian belajar mereka?
Kenyataan di lapangan seringkali membuat kita kesulitan menjawab pertanyaaan itu secara lugas. Kita sebenarnya tahu mana yang harus diperjuangkan, tapi berbagai tuntutan seolah membuat kita tidak berdaya. Sebagian dari kita kemudian menyerah dan memilih untuk memenuhi berbagai tuntutan meski sebenarnya itu menyiksa murid dan juga hati nurani kita.
Namun tak sedikit dari kita yang terus keras kepala, terus maju tertatih untuk memperjuangkan esensi dari pendididikan yang memerdekakan anak. Kita ingin menyaksikan murid-murid bahagia belajar. Kita ingin menyaksikan mereka menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan, sendiri maupun bersama-sama. Kita ingin para murid mampu mandiri belajar dan berkarya.
Surat Kabar Guru Belajar ini ditujukan buat sebagian dari kita yang sudah menyerah, sebagai pengingat arah perjalanan. Juga ditujukan pada kita yang masih keras kepala memperjuangkan esensi pendidikan, sebagai teman seperjalanan. Sesuai namanya, surat kabar ini mengabarkan mengenai praktik-praktik baik yang dilakukan pendidik dari berbagai penjuru nusantara.
Silahkan unduh Surat Kabar Guru Belajar Edisi ke-9: Mandiri Belajar
Klik http://bit.ly/SKGuruBelajar9
Edisi 8 http://bit.ly/SKGuruBelajar8 : Komitmen pada Tujuan Belajar
Edisi 7 http://bit.ly/SKGuruBelajar7 : Refleksi Belajar
Edisi 6 http://bit.ly/SKGuruBelajar6 : Merdeka Belajar
Edisi 5 http://bit.ly/SKGuruBelajar5 : Hari Pertama Sekolah
Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 : Pendidikan Budi Pekerti
Edisi 3 http://bit.ly/SKGuruBelajar3 : Disiplin Positif
Edisi 2 http://bit.ly/SKGuruBelajar2 : Asesmen Otentik
Edisi 1 http://bit.ly/SKGuruBelajar1 : Guru Belajar
Kemandirian belajar adalah tujuan penting yang banyak diabaikan dalam praktik pengajaran. Banyak praktik pengajaran yang dilakukan berpijak pada asumsi bahwa guru harus mengontrol murid agar mau belajar. Murid penurut menjadi idola. Murid tertib jadi impian. Kelas tenang jadi angan-angan. Tingginya rata-rata nilai kelas jadi cita-cita.
Sembari lupa, bahwa murid-murid bukan hanya menghadapi tantangan berupa ujian sekolah dan ujian nasional. Mereka mau tidak mau harus belajar meski jam pelajaran telah usai. Mereka tetap menghadapi berbagai tantangan, meski sekolah telah usai. Mereka akan terus belajar dalam dunia pekerjaan, dalam hidup berpasangan, sebagai warga masyarakat, sebagai orangtua dan pendidik.
Pertanyaan reflektifnya, apakah kita sudah membantu murid-murid kita untuk mandiri belajar di sekolah dan setelah lulus sekolah nanti?
Atau, kita masih saja memacu para murid untuk meraih nilai setinggi-tingginya demi nama baik kita dan sekolah dengan mengabaikan kemandirian belajar mereka?
Kenyataan di lapangan seringkali membuat kita kesulitan menjawab pertanyaaan itu secara lugas. Kita sebenarnya tahu mana yang harus diperjuangkan, tapi berbagai tuntutan seolah membuat kita tidak berdaya. Sebagian dari kita kemudian menyerah dan memilih untuk memenuhi berbagai tuntutan meski sebenarnya itu menyiksa murid dan juga hati nurani kita.
Namun tak sedikit dari kita yang terus keras kepala, terus maju tertatih untuk memperjuangkan esensi dari pendididikan yang memerdekakan anak. Kita ingin menyaksikan murid-murid bahagia belajar. Kita ingin menyaksikan mereka menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan, sendiri maupun bersama-sama. Kita ingin para murid mampu mandiri belajar dan berkarya.
Surat Kabar Guru Belajar ini ditujukan buat sebagian dari kita yang sudah menyerah, sebagai pengingat arah perjalanan. Juga ditujukan pada kita yang masih keras kepala memperjuangkan esensi pendidikan, sebagai teman seperjalanan. Sesuai namanya, surat kabar ini mengabarkan mengenai praktik-praktik baik yang dilakukan pendidik dari berbagai penjuru nusantara.
Silahkan unduh Surat Kabar Guru Belajar Edisi ke-9: Mandiri Belajar
Klik http://bit.ly/SKGuruBelajar9
Edisi 8 http://bit.ly/SKGuruBelajar8 : Komitmen pada Tujuan Belajar
Edisi 7 http://bit.ly/SKGuruBelajar7 : Refleksi Belajar
Edisi 6 http://bit.ly/SKGuruBelajar6 : Merdeka Belajar
Edisi 5 http://bit.ly/SKGuruBelajar5 : Hari Pertama Sekolah
Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 : Pendidikan Budi Pekerti
Edisi 3 http://bit.ly/SKGuruBelajar3 : Disiplin Positif
Edisi 2 http://bit.ly/SKGuruBelajar2 : Asesmen Otentik
Edisi 1 http://bit.ly/SKGuruBelajar1 : Guru Belajar
Merdeka Belajar: Jadi Pendidik, Dulu & Sekarang
Dulu saya pikir, pendidik adalah kepahlawanan yang hanya bisa dilakukan lewat jabatan. Sekarang saya paham, jadi pendidik - guru dan orangtua- bukan sekedar pekerjaan, tapi kehormatan bermakna untuk kemerdekaan.
Dulu saya pikir, pendidik perlu menuntut kesempurnaan. Sekarang saya paham, jadi pendidik, berarti merayakan keberhasilan kecil tanpa saling menyalahkan.
Terimakasih teman-teman seperjuangan, mari merayakan Hari Pendidikan Nasional. Ayo berkarya BARENGAN untuk pendidikan di Pesta Pendidikan.
#SemuaMuridSemuaGuru
Dulu saya pikir, pendidik adalah kepahlawanan yang hanya bisa dilakukan lewat jabatan. Sekarang saya paham, jadi pendidik - guru dan orangtua- bukan sekedar pekerjaan, tapi kehormatan bermakna untuk kemerdekaan.
Dulu saya pikir, pendidik perlu menuntut kesempurnaan. Sekarang saya paham, jadi pendidik, berarti merayakan keberhasilan kecil tanpa saling menyalahkan.
Terimakasih teman-teman seperjuangan, mari merayakan Hari Pendidikan Nasional. Ayo berkarya BARENGAN untuk pendidikan di Pesta Pendidikan.
#SemuaMuridSemuaGuru
Selamat pagi para pendidik merdeka 🙋🏼
Proses belajar kita bersama anak-anak di kelas sangat bernilai dan perlu disampaikan hasilnya dengan cara yang penuh penghargaan.
Menghargai anak-anak dan usahanya.
Menghargai guru sebagai pendamping proses belajarnya.
Menghargai hasil kerja tidak hanya berupa angka.
Apa yang perlu diterapkan dalam pelaporan hasil belajar?
Bagaimana menyampaikan hasil belajar dengan penuh penghargaan?
Bagaimana anak dan guru bekerjasama untuk menyampaikan proses belajar mereka pada orang tua?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan dengan tema "Mengkomunikasikan Hasil Belajar".
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Shanti, dari Komunitas Guru Belajar Surabaya, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Nidiah, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Proses belajar kita bersama anak-anak di kelas sangat bernilai dan perlu disampaikan hasilnya dengan cara yang penuh penghargaan.
Menghargai anak-anak dan usahanya.
Menghargai guru sebagai pendamping proses belajarnya.
Menghargai hasil kerja tidak hanya berupa angka.
Apa yang perlu diterapkan dalam pelaporan hasil belajar?
Bagaimana menyampaikan hasil belajar dengan penuh penghargaan?
Bagaimana anak dan guru bekerjasama untuk menyampaikan proses belajar mereka pada orang tua?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan dengan tema "Mengkomunikasikan Hasil Belajar".
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Shanti, dari Komunitas Guru Belajar Surabaya, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Nidiah, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Telegram
TIDAK DIPAKAI - Temu Pendidik Mingguan
GRUP INI TIDAK DIGUNAKAN LAGI!
Silahkan bergabung di kanal #GuruBelajar
Klik
https://t.me/GuruBelajar
Silahkan bergabung di kanal #GuruBelajar
Klik
https://t.me/GuruBelajar
Pelatihan Guru Merdeka Belajar Berbeasiswa
Guru belajar seringkali disalahartikan sebagai kegiatan di kelas, dimotivasi sogokan dan hukuman (reward & punishment), hanya bisa belajar dari pakar, menduplikasi resep mengajar, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Sejumlah miskonsepsi tersebut yang membuat guru terbelenggu yang gagap dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.
Kampus Guru Cikal hadir untuk berjuang melawan miskonsepsi pengembangan guru tersebut. Dengan menggunakan Model Pendidikan Guru Cikal dari hasil refleksi 18 tahun mendampingi Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal menyediakan beragam aktivitas bagi guru melakukan pengembangan diri. Pintu masuknya adalah Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang diluncurkan pada Pesta Pendidikan 2017 - Bandung.
Dalam pelatihan tersebut, para guru diajak mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan kompetensi merdeka belajar. Dari pemahaman itu, peserta diajak menganalisis kondisi yang dibutuhkan guru dan murid untuk merdeka belajar. Setelah itu, guru diajak untuk merancang pengembangan diri sebagai guru merdeka belajar dan membuat rancangan untuk memulai kelas dengan semangat merdeka belajar.
Pelatih Kampus Guru Cikal akan memandu pelatihan dengan diferensiasi strategi belajar, mendapatkan pemahaman bermakna dari pengalaman, diperkaya dengan praktik dan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks peserta pelatihan. Dalam 6 jam, peserta diajak untuk aktif belajar, mendapatkan pelajaran sekaligus berbagi pelajaran dengan peserta yang lain. Setelah pelatihan, peserta pelatihan belajar melalui grup WA dengan mentor dari Kampus Guru Cikal dan berbagi praktik dengan Komunitas Guru Belajar.
Bila Anda adalah seorang guru yang bersemangat belajar, ingin merdeka belajar dan mendapatkan komunitas yang kondusif buat belajar, maka penting bagi Anda untuk mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar di Pesta Pendidikan 2017 - di Jakarta.
Sabtu, 20 Mei 2017
08.00 - 16.30 WIB
Kompleks Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat
Info Beasiswa dan Pendaftaran di http://bit.ly/GMBPekan
Silahkan sebarkan informasi ini ke rekan dan grup guru yang lain
Ada beasiswa 100% khusus untuk Penggerak dan anggota KGB daerah. Nantikan informasinya, hanya di grup WA Komunitas Guru Belajar
Guru belajar seringkali disalahartikan sebagai kegiatan di kelas, dimotivasi sogokan dan hukuman (reward & punishment), hanya bisa belajar dari pakar, menduplikasi resep mengajar, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Sejumlah miskonsepsi tersebut yang membuat guru terbelenggu yang gagap dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.
Kampus Guru Cikal hadir untuk berjuang melawan miskonsepsi pengembangan guru tersebut. Dengan menggunakan Model Pendidikan Guru Cikal dari hasil refleksi 18 tahun mendampingi Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal menyediakan beragam aktivitas bagi guru melakukan pengembangan diri. Pintu masuknya adalah Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang diluncurkan pada Pesta Pendidikan 2017 - Bandung.
Dalam pelatihan tersebut, para guru diajak mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan kompetensi merdeka belajar. Dari pemahaman itu, peserta diajak menganalisis kondisi yang dibutuhkan guru dan murid untuk merdeka belajar. Setelah itu, guru diajak untuk merancang pengembangan diri sebagai guru merdeka belajar dan membuat rancangan untuk memulai kelas dengan semangat merdeka belajar.
Pelatih Kampus Guru Cikal akan memandu pelatihan dengan diferensiasi strategi belajar, mendapatkan pemahaman bermakna dari pengalaman, diperkaya dengan praktik dan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks peserta pelatihan. Dalam 6 jam, peserta diajak untuk aktif belajar, mendapatkan pelajaran sekaligus berbagi pelajaran dengan peserta yang lain. Setelah pelatihan, peserta pelatihan belajar melalui grup WA dengan mentor dari Kampus Guru Cikal dan berbagi praktik dengan Komunitas Guru Belajar.
Bila Anda adalah seorang guru yang bersemangat belajar, ingin merdeka belajar dan mendapatkan komunitas yang kondusif buat belajar, maka penting bagi Anda untuk mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar di Pesta Pendidikan 2017 - di Jakarta.
Sabtu, 20 Mei 2017
08.00 - 16.30 WIB
Kompleks Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat
Info Beasiswa dan Pendaftaran di http://bit.ly/GMBPekan
Silahkan sebarkan informasi ini ke rekan dan grup guru yang lain
Ada beasiswa 100% khusus untuk Penggerak dan anggota KGB daerah. Nantikan informasinya, hanya di grup WA Komunitas Guru Belajar
Merdeka Belajar: Kutu Buku bukan Jaminan Mutu
Najelaa Shihab (Pendidik)
Kita sering mendengar bahwa kemampuan membaca penduduk Indonesia sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan bahkan di usia balita? Kita sering tercengang bahwa orang bergelar panjang tertutup pada perbedaan sudut pandang. Bagaimana mungkin, saat koleksi buku dan informasi media yang menceritakan perubahan begitu berlimpah?
Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, kita seringkali berlindung dibalik angka dan jumlah. Kemampuan mekanik mengeja dan membaca anak-anak kita di usia muda mendapat angka tinggi di tes internasional. Tapi saat diminta memahami bacaan dan mengaplikasikan pengetahuan di masa akhir sekolah, angkanya menjadi salah satu yang terendah diantara semua negara. Rasio jumlah bangunan perpustakaan kita dibanding jumlah penduduk adalah salah satu yang baik di dunia. Tapi bila dilihat isi raknya jarang menyimpan dan meminjamkan buku Indonesia yang berkualitas serta beragam.
Prestasi jangka pendek dan peresmian sarana, pencanangan gerakan atau penerbitan buku pesanan sesuai pencitraan, masih menjadi bagian harian dari pendidikan dan bacaan kita. Sebelumnya kita bisa diam atau hanya menggumam di belakang, tapi sekarang kita harus berani bicara dengan lantang. Semua ini bukan saja tidak cukup, tetapi harus dihentikan karena menghalangi pencapaian tujuan pendidikan berkait bacaan dalam jangka panjang.
Pendapat di atas mungkin dianggap sama dengan ekstrimitas, tapi bicara pendidikan memang membutuhkan militansi jangka panjang.
Setiap hari terbit 5000 buku di dunia. Kalau kita hanya bicara banyaknya buku yang dibaca anak indonesia - kapan kita sadar bahwa peran pendidikan tidak hanya sekedar membuat anak bisa membaca tapi juga membuat insan Indonesia mahir menulis dan mewarnai pemikiran global. Tidak ada perubahan indikator kesuksesan membaca sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. 72 tahun kita bertepuk tangan atas "kemajuan" pemberantasan buta aksara padahal ukuran literasi internasional dan tuntutan teknologi digital sudah berubah.
Setiap detik lebih dari 10 ribu informasi baru muncul di media sosial. Kalau kita hanya bertujuan mencetak generasi pekerja yang mampu membeli dan memakai gawai terkini - kapan kita menumbuhkan anak-anak cerdas digital dan menjadi warganegara Indonesia yang karyanya di berbagai bidang mengubah dunia.
Aktif membaca tidak cukup, membaca aktif esensial. Menambah jumlah pustaka cetak ataupun elektronik tidak cukup, menambah manfaat pustaka adalah mutlak. Kutu buku bukan jaminan mutu bila cuma berlindung di balik kertas atau terpaku di depan layar. Mari bercita-cita lebih besar! Kutu buku akan menjadi manusia utuh bila kita menjadi teladan pendidik yang berdaya di setiap rumah dan kelas.
#SemuaMuridSemuaGuru
Najelaa Shihab (Pendidik)
Kita sering mendengar bahwa kemampuan membaca penduduk Indonesia sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan bahkan di usia balita? Kita sering tercengang bahwa orang bergelar panjang tertutup pada perbedaan sudut pandang. Bagaimana mungkin, saat koleksi buku dan informasi media yang menceritakan perubahan begitu berlimpah?
Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, kita seringkali berlindung dibalik angka dan jumlah. Kemampuan mekanik mengeja dan membaca anak-anak kita di usia muda mendapat angka tinggi di tes internasional. Tapi saat diminta memahami bacaan dan mengaplikasikan pengetahuan di masa akhir sekolah, angkanya menjadi salah satu yang terendah diantara semua negara. Rasio jumlah bangunan perpustakaan kita dibanding jumlah penduduk adalah salah satu yang baik di dunia. Tapi bila dilihat isi raknya jarang menyimpan dan meminjamkan buku Indonesia yang berkualitas serta beragam.
Prestasi jangka pendek dan peresmian sarana, pencanangan gerakan atau penerbitan buku pesanan sesuai pencitraan, masih menjadi bagian harian dari pendidikan dan bacaan kita. Sebelumnya kita bisa diam atau hanya menggumam di belakang, tapi sekarang kita harus berani bicara dengan lantang. Semua ini bukan saja tidak cukup, tetapi harus dihentikan karena menghalangi pencapaian tujuan pendidikan berkait bacaan dalam jangka panjang.
Pendapat di atas mungkin dianggap sama dengan ekstrimitas, tapi bicara pendidikan memang membutuhkan militansi jangka panjang.
Setiap hari terbit 5000 buku di dunia. Kalau kita hanya bicara banyaknya buku yang dibaca anak indonesia - kapan kita sadar bahwa peran pendidikan tidak hanya sekedar membuat anak bisa membaca tapi juga membuat insan Indonesia mahir menulis dan mewarnai pemikiran global. Tidak ada perubahan indikator kesuksesan membaca sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. 72 tahun kita bertepuk tangan atas "kemajuan" pemberantasan buta aksara padahal ukuran literasi internasional dan tuntutan teknologi digital sudah berubah.
Setiap detik lebih dari 10 ribu informasi baru muncul di media sosial. Kalau kita hanya bertujuan mencetak generasi pekerja yang mampu membeli dan memakai gawai terkini - kapan kita menumbuhkan anak-anak cerdas digital dan menjadi warganegara Indonesia yang karyanya di berbagai bidang mengubah dunia.
Aktif membaca tidak cukup, membaca aktif esensial. Menambah jumlah pustaka cetak ataupun elektronik tidak cukup, menambah manfaat pustaka adalah mutlak. Kutu buku bukan jaminan mutu bila cuma berlindung di balik kertas atau terpaku di depan layar. Mari bercita-cita lebih besar! Kutu buku akan menjadi manusia utuh bila kita menjadi teladan pendidik yang berdaya di setiap rumah dan kelas.
#SemuaMuridSemuaGuru