Apa yang sering kita lihat di kelas adalah guru hadir di kelas melakukan drill (pengulangan latihan) agar anak menghafal materi pelajaran. Drill sebagai salah satu metode belajar intensional bisa berwujud dalam beragam bentuk seperti mengerjakan soal, menghafal tabel perkalian, atau menghafal materi pelajaran yang lain. Harapannya, semakin didrill maka anak akan semakin menguasai pelajaran dan tentu mendapatkan angka ujian yang bagus. Bila ada mendapatkan nilai buruk, maka murid akan semakin didrill.
Padahal metode drill hanya mengembangkan keterampilan berpikir tingkat rendah, sama sekali tidak menyentuh keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Intinya, semakin didrill maka sebenarnya kita sedang mengkerdilkan kemampuan murid kita. Drill pangkal bodoh!
Mari kita refleksikan dan diskusikan bersama dua pertanyaan kunci:
Apa sebenarnya tujuan kita mengajar murid kita?
Bagaimana metode belajar inisidental menjadi alternatif yang bisa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Chusnul Chotimah, Dosen Kampus Guru Cikal, sebagai narasumber. Dimoderatori oleh Ibu Nidiah Kusuma, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Padahal metode drill hanya mengembangkan keterampilan berpikir tingkat rendah, sama sekali tidak menyentuh keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Intinya, semakin didrill maka sebenarnya kita sedang mengkerdilkan kemampuan murid kita. Drill pangkal bodoh!
Mari kita refleksikan dan diskusikan bersama dua pertanyaan kunci:
Apa sebenarnya tujuan kita mengajar murid kita?
Bagaimana metode belajar inisidental menjadi alternatif yang bisa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Chusnul Chotimah, Dosen Kampus Guru Cikal, sebagai narasumber. Dimoderatori oleh Ibu Nidiah Kusuma, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
#SuaraAnak Kesembilan! Hadir di #PekanYogya - @Pekan2017 | daftar dan saksikan kisah ketekunan mereka di bit.ly/SuaraAnak9
Eventbrite
Suara Anak Kesembilan - Yogyakarta
Suara Anak adalah sebuah forum bagi anak untuk menceritakan pengalamannya menekuni suatu kegemaran, karya, atau misi sosial yang berdampak pada masyarakat dalam waktu 5 – 15 menit.
Silahkan lihat videonya di Suara-Anak.TemanTakita.com
Manfaat Suara Anak
Mengapresiasi…
Silahkan lihat videonya di Suara-Anak.TemanTakita.com
Manfaat Suara Anak
Mengapresiasi…
Suara Anak Kesembilan
Pesta Pendidikan Yogyakarta
Suara Anak adalah sebuah forum bagi anak untuk menceritakan pengalamannya menekuni suatu kegemaran, karya, atau misi sosial yang berdampak pada masyarakat dalam waktu 5 – 15 menit.
Saksikan presentasi anak-anak yang tekun belajar
Minggu, 23 April 3017
10.00 - 12.00 WIB
Ruang Amphi Theater, Kompleks Balaikota Yogyakarta
Jl. Kenari 56
Yogyakarta, 55165
1. Masayu Shelomita (Kegemaran - Pantomim)
2. Anggita Nur Erlina Zanuari (Kegemaran - Tari)
3. Zulfa Fitriani Nur Alyza (Kegemaran - Menulis)
4. Arsa Bintang Candra (Karya -Kreasi Jahit)
5. Orchitta Arum Sekar Hikari (Karya - Fotografi)
6. Maria Angelita (Misi Sosial - Kepedulian Terhadap Lingkungan)
Daftar di Suara-Anak.TemanTakita.com
Narahubung:
Tyas: +62 817-9429-707
Mida: +62 857-2128-9105
Kegiatan ini GRATIS. Anda kami undang memberi donasi untuk keberlanjutan gerakan Suara Anak.
#SuaraAnak #PekanYogya #Pekan2017
Pesta Pendidikan Yogyakarta
Suara Anak adalah sebuah forum bagi anak untuk menceritakan pengalamannya menekuni suatu kegemaran, karya, atau misi sosial yang berdampak pada masyarakat dalam waktu 5 – 15 menit.
Saksikan presentasi anak-anak yang tekun belajar
Minggu, 23 April 3017
10.00 - 12.00 WIB
Ruang Amphi Theater, Kompleks Balaikota Yogyakarta
Jl. Kenari 56
Yogyakarta, 55165
1. Masayu Shelomita (Kegemaran - Pantomim)
2. Anggita Nur Erlina Zanuari (Kegemaran - Tari)
3. Zulfa Fitriani Nur Alyza (Kegemaran - Menulis)
4. Arsa Bintang Candra (Karya -Kreasi Jahit)
5. Orchitta Arum Sekar Hikari (Karya - Fotografi)
6. Maria Angelita (Misi Sosial - Kepedulian Terhadap Lingkungan)
Daftar di Suara-Anak.TemanTakita.com
Narahubung:
Tyas: +62 817-9429-707
Mida: +62 857-2128-9105
Kegiatan ini GRATIS. Anda kami undang memberi donasi untuk keberlanjutan gerakan Suara Anak.
#SuaraAnak #PekanYogya #Pekan2017
Kartini hebat karena pena, bukan karena kebaya. Selamat Hari Kartini! Tag teman Anda, ajak untuk #MerdekaBelajar https://instagram.com/p/BTIUojLjVCP/
Merdeka Belajar: Lebih dari Satu Kartini dan Kartono
Najelaa Shihab (Pendidik)
Sering kali tak mudah jadi perempuan. Berbeda dengan Kartini dan Kartono, di masa sekarang, perempuan bisa masuk ke sistem persekolahan yang sama, mendapat pelajaran yang sepadan. Namun saat kesempatan untuk putera dan puteri seolah-olah sudah setara, pilihan pekerjaan dan kursi kepemimpinan dimana perempuan bisa berkarya masih jauh tertinggal.
Tak jarang serba salah jadi perempuan. Berbeda dengan Kartini dan Kartono, di masa sekarang, tingkat putus sekolah dan prestasi akademik perempuan cendrung lebih baik dari laki-laki. Tetapi percakapan terpenting buat puteri masih berkisar soal penampilan, tuntutan kepada para ibu dan istri adalah kesempurnaan dalam berbagai peran.
Sumber masalahnya mungkin diri kita sendiri. Perbedaan bukan sesuatu yang bisa dihilangkan. Sebagian perbedaan jenis kelamin sudah bawaan. Tentu variasi antar sesama laki-laki dan sesama perempuan pun banyak, namun riset menunjukkan, struktur jaringan otak dan cara kerja laki-laki dan perempuan banyak berbeda. Akibatnya, sejak mulai memegang pensil, perempuan menggambar banyak orang dan benda, laki-laki menggambar banyak aksi, sampai warna yang digunakan untuk bercerita pun gradasinya berbeda. Kemampuan mendengar perempuan - termasuk memahami instruksi guru- lebih mumpuni, hubungan pertemanannya lebih banyak membutuhkan percakapan.
Namun dalam berbagai perannya, penelitian menunjukkan bahkan dalam di ruang rapat, perempuan lebih jarang dikutip dan didengarkan. Jadi jelas, sumber masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan menyalahkan diri sendiri.
Sumber masalahnya kadang dunia yang masih berstandar ganda. Sebagian perbedaan jenis kelamin disebabkan pengasuhan dan budaya lingkungan. Dibanding puluhan tahun lalu, kini resiko perempuan terlibat penggunaan narkoba dan menderita gangguan makan jauh lebih besar. Perisakan dan kekerasan oleh dan kepada perempuan makin meningkat.
Namun dalam berbagai perannya, penelitian menunjukkan perempuan cenderung menilai dirinya lebih rendah dari kemampuannya, menerima remunerasi yang lebih kecil dibanding kontribusinya. Jadi jelas, sumber masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan melawan dunia kita.
Jangan-jangan kecenderungan kita yang kadang membutakan diri pada perbedaan jenis kelamin, membuat kita tidak sensitif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan. Memberikan dukungan untuk perkembangan bukan semata-mata soal kesamaan tapi soal memanusiakan hubungan, responsif terhadap keragaman.
Pendidikan perlu menjadi bagian dari solusi, tidak hanya sekedar bisa menghasilkan resolusi tapi menumbuhkan aksi. Data tentang anak perempuan sekarang, tidak hanya menunjukkan kemajuan, tapi juga menyimpan narasi memprihatinkan.
Kita bisa dengan mudah menyalahkan orangtua, atau memaki media. Seolah kekurangan waktu orangtua bekerja disebabkan oleh "tangan tersembunyi". Padahal kebijakan perusahaan atau pemerintahan ditentukan orang-orang yang punya ibu dan ayah, suami atau istri, putera dan atau puteri. Jangan bayangkan tayangan sensual atau penuh makian dibuat oleh "tokoh dibalik layar" yang tak bernama dan tak punya keluarga.
Saat ini, bicara tentang Kartini dan Kartono bukan lagi sekedar membolehkan puteri naik pohon, atau menunda pernikahan dini. Anak-anak perempuan kita butuh dipahami. Kemajuan kadang sekedar ditandai tuntutan berprestasi, tanpa kesadaran bahwa keberhasilan bagi perempuan sering diiringi iri bukan hanya dari laki-laki tapi bahkan dari kaumnya sendiri. Kemajuan kadang sekedar ditandai tuntunan bagaimana menjaga diri, hal yang sangat sulit dipraktikkan saat masyarakat cendrung cepat menghakiminya saat mencoba mandiri.
Pendidikan untuk perempuan seringkali dilakukan oleh lebih banyak perempuan di pendidikan. Tanggungjawab perubahan dibebankan (lagi-lagi) pada ibu di ruang keluarga maupun ibu guru di ruang kelas. Tanggungjawab ini terlalu berat untuk dipikul sendirian atau sebagian. Anak-anak perempuan kita membutuhkan ayah dan pak guru, kakak, om dan tante, eyang dan kakek serta semua yang peduli, lintas generasi.
Najelaa Shihab (Pendidik)
Sering kali tak mudah jadi perempuan. Berbeda dengan Kartini dan Kartono, di masa sekarang, perempuan bisa masuk ke sistem persekolahan yang sama, mendapat pelajaran yang sepadan. Namun saat kesempatan untuk putera dan puteri seolah-olah sudah setara, pilihan pekerjaan dan kursi kepemimpinan dimana perempuan bisa berkarya masih jauh tertinggal.
Tak jarang serba salah jadi perempuan. Berbeda dengan Kartini dan Kartono, di masa sekarang, tingkat putus sekolah dan prestasi akademik perempuan cendrung lebih baik dari laki-laki. Tetapi percakapan terpenting buat puteri masih berkisar soal penampilan, tuntutan kepada para ibu dan istri adalah kesempurnaan dalam berbagai peran.
Sumber masalahnya mungkin diri kita sendiri. Perbedaan bukan sesuatu yang bisa dihilangkan. Sebagian perbedaan jenis kelamin sudah bawaan. Tentu variasi antar sesama laki-laki dan sesama perempuan pun banyak, namun riset menunjukkan, struktur jaringan otak dan cara kerja laki-laki dan perempuan banyak berbeda. Akibatnya, sejak mulai memegang pensil, perempuan menggambar banyak orang dan benda, laki-laki menggambar banyak aksi, sampai warna yang digunakan untuk bercerita pun gradasinya berbeda. Kemampuan mendengar perempuan - termasuk memahami instruksi guru- lebih mumpuni, hubungan pertemanannya lebih banyak membutuhkan percakapan.
Namun dalam berbagai perannya, penelitian menunjukkan bahkan dalam di ruang rapat, perempuan lebih jarang dikutip dan didengarkan. Jadi jelas, sumber masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan menyalahkan diri sendiri.
Sumber masalahnya kadang dunia yang masih berstandar ganda. Sebagian perbedaan jenis kelamin disebabkan pengasuhan dan budaya lingkungan. Dibanding puluhan tahun lalu, kini resiko perempuan terlibat penggunaan narkoba dan menderita gangguan makan jauh lebih besar. Perisakan dan kekerasan oleh dan kepada perempuan makin meningkat.
Namun dalam berbagai perannya, penelitian menunjukkan perempuan cenderung menilai dirinya lebih rendah dari kemampuannya, menerima remunerasi yang lebih kecil dibanding kontribusinya. Jadi jelas, sumber masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan melawan dunia kita.
Jangan-jangan kecenderungan kita yang kadang membutakan diri pada perbedaan jenis kelamin, membuat kita tidak sensitif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan. Memberikan dukungan untuk perkembangan bukan semata-mata soal kesamaan tapi soal memanusiakan hubungan, responsif terhadap keragaman.
Pendidikan perlu menjadi bagian dari solusi, tidak hanya sekedar bisa menghasilkan resolusi tapi menumbuhkan aksi. Data tentang anak perempuan sekarang, tidak hanya menunjukkan kemajuan, tapi juga menyimpan narasi memprihatinkan.
Kita bisa dengan mudah menyalahkan orangtua, atau memaki media. Seolah kekurangan waktu orangtua bekerja disebabkan oleh "tangan tersembunyi". Padahal kebijakan perusahaan atau pemerintahan ditentukan orang-orang yang punya ibu dan ayah, suami atau istri, putera dan atau puteri. Jangan bayangkan tayangan sensual atau penuh makian dibuat oleh "tokoh dibalik layar" yang tak bernama dan tak punya keluarga.
Saat ini, bicara tentang Kartini dan Kartono bukan lagi sekedar membolehkan puteri naik pohon, atau menunda pernikahan dini. Anak-anak perempuan kita butuh dipahami. Kemajuan kadang sekedar ditandai tuntutan berprestasi, tanpa kesadaran bahwa keberhasilan bagi perempuan sering diiringi iri bukan hanya dari laki-laki tapi bahkan dari kaumnya sendiri. Kemajuan kadang sekedar ditandai tuntunan bagaimana menjaga diri, hal yang sangat sulit dipraktikkan saat masyarakat cendrung cepat menghakiminya saat mencoba mandiri.
Pendidikan untuk perempuan seringkali dilakukan oleh lebih banyak perempuan di pendidikan. Tanggungjawab perubahan dibebankan (lagi-lagi) pada ibu di ruang keluarga maupun ibu guru di ruang kelas. Tanggungjawab ini terlalu berat untuk dipikul sendirian atau sebagian. Anak-anak perempuan kita membutuhkan ayah dan pak guru, kakak, om dan tante, eyang dan kakek serta semua yang peduli, lintas generasi.
Kita barengan yang bukan hanya menerbitkan terang setelah gelap, bukan hanya mendorong perempuan untuk menjadi "versi lain" dari kekuatan seperti laki-laki atau kecerdasan seperti Kartini. Karena apapun badai yang dihadapi, tidak ada yang lebih berharga untuk setiap perempuan selain dicintai saat menjadi dirinya sendiri.
#SemuaMuridSemuaGuru
#SemuaMuridSemuaGuru
Bermacam metode belajar bisa kita pilih dan gunakan saat mengajar. Banyak bentuk aktifitas dan materi pembelajaran yang bisa kita sesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak.
Namun bagaimana bisa menemukan metode belajar yang bisa menjawab kebutuhan anak?
Apa saja yang perlu dilakukan untuk memahami kebutuhan anak?
Siapa saja yang perlu dilibatkan untuk menganalisis kebutuhan anak?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Tosi Widya, dari Komunitas Guru Belajar Depok, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Heni Surya, penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Namun bagaimana bisa menemukan metode belajar yang bisa menjawab kebutuhan anak?
Apa saja yang perlu dilakukan untuk memahami kebutuhan anak?
Siapa saja yang perlu dilibatkan untuk menganalisis kebutuhan anak?
Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan
Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Menghadirkan Ibu Tosi Widya, dari Komunitas Guru Belajar Depok, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Heni Surya, penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya.
Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Anak-anak sekarang tidak asing dengan Bayu Skak, Chandra Liouw, Arief Mohammad, atau Radityadika. Mereka adalah youtubers, pembuat konten video kreatif yang diunggah di kanal Youtube.
Video kreatif menjadi marak belakangan ini, namun siswa dan guru seperti berada di dua sisi yang berbeda. Hanya melihat fenomena ini sebagai bagian yang tak berhubungan dalam proses belajar. Akibatnya, siswa harus mencuri-curi kesempatan membuka handphone dan berselancar di Internet.
Bagaimana memanfaatkan fenomena ini sebagai kesempatan untuk bisa dekat dengan anak?
Bagaimana mengintegrasikan kreatifitas dan kegemaran dalam proses belajar?
Bagaimana merancang pembelajaran jadi efektif, bermakna, menyenangkan?
Komunitas Guru Belajar menyajikan Temu Pendidik Mingguan, dengan tema
“INTEGRASI MAPEL DENGAN PEMBUATAN VIDEO KREATIF”
Menghadirkan Guru Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal), seorang video creator, sebagai narasumber. Dengan moderator Adik Christian Hartono (KGB Jakarta Selatan).
Malam ini, di https://t.me/mudikmingguan
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Merdeka!
Video kreatif menjadi marak belakangan ini, namun siswa dan guru seperti berada di dua sisi yang berbeda. Hanya melihat fenomena ini sebagai bagian yang tak berhubungan dalam proses belajar. Akibatnya, siswa harus mencuri-curi kesempatan membuka handphone dan berselancar di Internet.
Bagaimana memanfaatkan fenomena ini sebagai kesempatan untuk bisa dekat dengan anak?
Bagaimana mengintegrasikan kreatifitas dan kegemaran dalam proses belajar?
Bagaimana merancang pembelajaran jadi efektif, bermakna, menyenangkan?
Komunitas Guru Belajar menyajikan Temu Pendidik Mingguan, dengan tema
“INTEGRASI MAPEL DENGAN PEMBUATAN VIDEO KREATIF”
Menghadirkan Guru Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal), seorang video creator, sebagai narasumber. Dengan moderator Adik Christian Hartono (KGB Jakarta Selatan).
Malam ini, di https://t.me/mudikmingguan
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT
Merdeka!
Temu pendidik mingguan asyik krn yg bicara adalah guru yg melakukan praktik pengajaran. Bukan cuma teori, kaya contoh
Buruan klik https://t.me/mudikmingguan
Buruan klik https://t.me/mudikmingguan
Halo Teman-Teman,
Pesta Pendidikan adalah inisiatif sukarela publik yang bertujuan menjadi katalisator kerja sama berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Merayakan berbagai praktik baik dan kerja nyata dari penjuru Nusantara yang penting disebarluaskan.
Pesta Pendidikan 2017 diadakan di 5 kota: Bandung, Ambon, Yogyakarta, Makassar dan Jakarta. Kolaborasi bersama 250 organisasi/komunitas pendidikan, sekolah, berbagai kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, guru, siswa, orangtua dan publik yang peduli pada pendidikan.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pesta Pendidikan mengajak kita semua untuk BARENGAN berkarya di Pesta Pendidikan.
Selasa/2 Mei 2017
15.00-17.45
RTH Kalijodo
Mari menjadi publik yang berdaya untuk pendidikan. Yuk, BARENGAN di Pesta Pendidikan.
Salam hangat,
Najelaa Shihab
Mewakili Relawan yang BARENGAN di Pesta Pendidikan
Pesta Pendidikan adalah inisiatif sukarela publik yang bertujuan menjadi katalisator kerja sama berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Merayakan berbagai praktik baik dan kerja nyata dari penjuru Nusantara yang penting disebarluaskan.
Pesta Pendidikan 2017 diadakan di 5 kota: Bandung, Ambon, Yogyakarta, Makassar dan Jakarta. Kolaborasi bersama 250 organisasi/komunitas pendidikan, sekolah, berbagai kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, guru, siswa, orangtua dan publik yang peduli pada pendidikan.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pesta Pendidikan mengajak kita semua untuk BARENGAN berkarya di Pesta Pendidikan.
Selasa/2 Mei 2017
15.00-17.45
RTH Kalijodo
Mari menjadi publik yang berdaya untuk pendidikan. Yuk, BARENGAN di Pesta Pendidikan.
Salam hangat,
Najelaa Shihab
Mewakili Relawan yang BARENGAN di Pesta Pendidikan
Menjadi Teman Seperjalanan
Kemandirian belajar adalah tujuan penting yang banyak diabaikan dalam praktik pengajaran. Banyak praktik pengajaran yang dilakukan berpijak pada asumsi bahwa guru harus mengontrol murid agar mau belajar. Murid penurut menjadi idola. Murid tertib jadi impian. Kelas tenang jadi angan-angan. Tingginya rata-rata nilai kelas jadi cita-cita.
Sembari lupa, bahwa murid-murid bukan hanya menghadapi tantangan berupa ujian sekolah dan ujian nasional. Mereka mau tidak mau harus belajar meski jam pelajaran telah usai. Mereka tetap menghadapi berbagai tantangan, meski sekolah telah usai. Mereka akan terus belajar dalam dunia pekerjaan, dalam hidup berpasangan, sebagai warga masyarakat, sebagai orangtua dan pendidik.
Pertanyaan reflektifnya, apakah kita sudah membantu murid-murid kita untuk mandiri belajar di sekolah dan setelah lulus sekolah nanti?
Atau, kita masih saja memacu para murid untuk meraih nilai setinggi-tingginya demi nama baik kita dan sekolah dengan mengabaikan kemandirian belajar mereka?
Kenyataan di lapangan seringkali membuat kita kesulitan menjawab pertanyaaan itu secara lugas. Kita sebenarnya tahu mana yang harus diperjuangkan, tapi berbagai tuntutan seolah membuat kita tidak berdaya. Sebagian dari kita kemudian menyerah dan memilih untuk memenuhi berbagai tuntutan meski sebenarnya itu menyiksa murid dan juga hati nurani kita.
Namun tak sedikit dari kita yang terus keras kepala, terus maju tertatih untuk memperjuangkan esensi dari pendididikan yang memerdekakan anak. Kita ingin menyaksikan murid-murid bahagia belajar. Kita ingin menyaksikan mereka menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan, sendiri maupun bersama-sama. Kita ingin para murid mampu mandiri belajar dan berkarya.
Surat Kabar Guru Belajar ini ditujukan buat sebagian dari kita yang sudah menyerah, sebagai pengingat arah perjalanan. Juga ditujukan pada kita yang masih keras kepala memperjuangkan esensi pendidikan, sebagai teman seperjalanan. Sesuai namanya, surat kabar ini mengabarkan mengenai praktik-praktik baik yang dilakukan pendidik dari berbagai penjuru nusantara.
Silahkan unduh Surat Kabar Guru Belajar Edisi ke-9: Mandiri Belajar
Klik http://bit.ly/SKGuruBelajar9
Edisi 8 http://bit.ly/SKGuruBelajar8 : Komitmen pada Tujuan Belajar
Edisi 7 http://bit.ly/SKGuruBelajar7 : Refleksi Belajar
Edisi 6 http://bit.ly/SKGuruBelajar6 : Merdeka Belajar
Edisi 5 http://bit.ly/SKGuruBelajar5 : Hari Pertama Sekolah
Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 : Pendidikan Budi Pekerti
Edisi 3 http://bit.ly/SKGuruBelajar3 : Disiplin Positif
Edisi 2 http://bit.ly/SKGuruBelajar2 : Asesmen Otentik
Edisi 1 http://bit.ly/SKGuruBelajar1 : Guru Belajar
Kemandirian belajar adalah tujuan penting yang banyak diabaikan dalam praktik pengajaran. Banyak praktik pengajaran yang dilakukan berpijak pada asumsi bahwa guru harus mengontrol murid agar mau belajar. Murid penurut menjadi idola. Murid tertib jadi impian. Kelas tenang jadi angan-angan. Tingginya rata-rata nilai kelas jadi cita-cita.
Sembari lupa, bahwa murid-murid bukan hanya menghadapi tantangan berupa ujian sekolah dan ujian nasional. Mereka mau tidak mau harus belajar meski jam pelajaran telah usai. Mereka tetap menghadapi berbagai tantangan, meski sekolah telah usai. Mereka akan terus belajar dalam dunia pekerjaan, dalam hidup berpasangan, sebagai warga masyarakat, sebagai orangtua dan pendidik.
Pertanyaan reflektifnya, apakah kita sudah membantu murid-murid kita untuk mandiri belajar di sekolah dan setelah lulus sekolah nanti?
Atau, kita masih saja memacu para murid untuk meraih nilai setinggi-tingginya demi nama baik kita dan sekolah dengan mengabaikan kemandirian belajar mereka?
Kenyataan di lapangan seringkali membuat kita kesulitan menjawab pertanyaaan itu secara lugas. Kita sebenarnya tahu mana yang harus diperjuangkan, tapi berbagai tuntutan seolah membuat kita tidak berdaya. Sebagian dari kita kemudian menyerah dan memilih untuk memenuhi berbagai tuntutan meski sebenarnya itu menyiksa murid dan juga hati nurani kita.
Namun tak sedikit dari kita yang terus keras kepala, terus maju tertatih untuk memperjuangkan esensi dari pendididikan yang memerdekakan anak. Kita ingin menyaksikan murid-murid bahagia belajar. Kita ingin menyaksikan mereka menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan, sendiri maupun bersama-sama. Kita ingin para murid mampu mandiri belajar dan berkarya.
Surat Kabar Guru Belajar ini ditujukan buat sebagian dari kita yang sudah menyerah, sebagai pengingat arah perjalanan. Juga ditujukan pada kita yang masih keras kepala memperjuangkan esensi pendidikan, sebagai teman seperjalanan. Sesuai namanya, surat kabar ini mengabarkan mengenai praktik-praktik baik yang dilakukan pendidik dari berbagai penjuru nusantara.
Silahkan unduh Surat Kabar Guru Belajar Edisi ke-9: Mandiri Belajar
Klik http://bit.ly/SKGuruBelajar9
Edisi 8 http://bit.ly/SKGuruBelajar8 : Komitmen pada Tujuan Belajar
Edisi 7 http://bit.ly/SKGuruBelajar7 : Refleksi Belajar
Edisi 6 http://bit.ly/SKGuruBelajar6 : Merdeka Belajar
Edisi 5 http://bit.ly/SKGuruBelajar5 : Hari Pertama Sekolah
Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 : Pendidikan Budi Pekerti
Edisi 3 http://bit.ly/SKGuruBelajar3 : Disiplin Positif
Edisi 2 http://bit.ly/SKGuruBelajar2 : Asesmen Otentik
Edisi 1 http://bit.ly/SKGuruBelajar1 : Guru Belajar
Merdeka Belajar: Jadi Pendidik, Dulu & Sekarang
Dulu saya pikir, pendidik adalah kepahlawanan yang hanya bisa dilakukan lewat jabatan. Sekarang saya paham, jadi pendidik - guru dan orangtua- bukan sekedar pekerjaan, tapi kehormatan bermakna untuk kemerdekaan.
Dulu saya pikir, pendidik perlu menuntut kesempurnaan. Sekarang saya paham, jadi pendidik, berarti merayakan keberhasilan kecil tanpa saling menyalahkan.
Terimakasih teman-teman seperjuangan, mari merayakan Hari Pendidikan Nasional. Ayo berkarya BARENGAN untuk pendidikan di Pesta Pendidikan.
#SemuaMuridSemuaGuru
Dulu saya pikir, pendidik adalah kepahlawanan yang hanya bisa dilakukan lewat jabatan. Sekarang saya paham, jadi pendidik - guru dan orangtua- bukan sekedar pekerjaan, tapi kehormatan bermakna untuk kemerdekaan.
Dulu saya pikir, pendidik perlu menuntut kesempurnaan. Sekarang saya paham, jadi pendidik, berarti merayakan keberhasilan kecil tanpa saling menyalahkan.
Terimakasih teman-teman seperjuangan, mari merayakan Hari Pendidikan Nasional. Ayo berkarya BARENGAN untuk pendidikan di Pesta Pendidikan.
#SemuaMuridSemuaGuru