Pendidikan Merdeka Belajar
3.35K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
*Temu Pendidik - #PekanYogya*

Komunitas Guru Belajar (KGB) percaya bahwa belajar bisa dari siapa saja. Sumber inspirasi bukan figur yang serba tahu dan sempurna, tapi rekan seperjalanan yang realistis dengan pengalaman nyata, dan praktis, seringkali gagal sebelum berhasil. Karena itu, Komunitas Guru Belajar menyelenggarakan Temu Pendidik yang menghadirkan guru sebagai narasumber untuk berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan.

Yuk hadiri
Temu Pendidik - Pekan Yogya
Merdeka Belajar, Siap Mengajar
Minggu, 23 April 2017
13.00 - 15.30 WIB
Balaikota Yogyakarta

Narasumber:
Ameliasari Tauresia Kesuma (MAN Salatiga)
Andy Hermawan (Sanggar Anak Alam - SALAM)
Nunuk Riza Puji (SMAN 1 Petungkriyo, Pekalongan)

Dwi Widiyanti (School of life Lebah Putih, Salatiga)
Lily Halim (SD Kristen Kalam Kudus)
Iwan Pribadi (DOES University)

*Segera! Daftar di http://bit.ly/MudikPekan*
Gratis! Ajak rekan guru yang lain ya

Catatan: Bila butuh surat undangan, silahkan sampaikan ke Penggerak di grup WA KGB daerah masing-masing.
Pelatihan Guru Merdeka Belajar
Berbeasiswa

Guru belajar seringkali disalahartikan sebagai kegiatan di kelas, dimotivasi sogokan dan hukuman (reward & punishment), hanya bisa belajar dari pakar, menduplikasi resep mengajar, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Sejumlah miskonsepsi tersebut yang membuat guru terbelenggu yang gagap dalam menjalankan profesi sebagai pendidik. 

Kampus Guru Cikal hadir untuk berjuang melawan miskonsepsi pengembangan guru tersebut. Dengan menggunakan Model Pendidikan Guru Cikal dari hasil refleksi 18 tahun mendampingi Sekolah Cikal, Kampus Guru Cikal menyediakan beragam aktivitas bagi guru melakukan pengembangan diri. Pintu masuknya adalah Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang diluncurkan pada Pesta Pendidikan 2017 - Bandung.

Dalam pelatihan tersebut, para guru diajak mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan kompetensi merdeka belajar. Dari pemahaman itu, peserta diajak menganalisis kondisi yang dibutuhkan guru dan murid untuk merdeka belajar. Setelah itu, guru diajak untuk merancang pengembangan diri sebagai guru merdeka belajar dan membuat rancangan untuk memulai kelas dengan semangat merdeka belajar.

Pelatih Kampus Guru Cikal akan memandu pelatihan dengan diferensiasi strategi belajar, mendapatkan pemahaman bermakna dari pengalaman, diperkaya dengan praktik dan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks peserta pelatihan. Dalam 6 jam, peserta diajak untuk aktif belajar, mendapatkan pelajaran sekaligus berbagi pelajaran dengan peserta yang lain. Setelah pelatihan, peserta pelatihan belajar melalui grup WA dengan mentor dari Kampus Guru Cikal dan berbagi praktik dengan Komunitas Guru Belajar. 

Bila Anda adalah seorang guru yang bersemangat belajar, ingin merdeka belajar dan mendapatkan komunitas yang kondusif buat belajar, maka penting bagi Anda untuk mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar di Pesta Pendidikan 2017 - Yogyakarta.

Sabtu, 22 April 2017
08.00 - 16.00 WIB
Kompleks Balaikota Yogyakarta

Info Beasiswa dan Pendaftaran di http://bit.ly/GMBPekan

*Silahkan sebarkan informasi ini ke rekan dan grup guru yang lain*
Merdeka Belajar: Ujian dan Pilihan-Pilihan yang Mengherankan

Najelaa Shihab (Pendidik)

"Ujian bagian dari kehidupan", sulit untuk tidak sepakat. "Hidup ini penuh pilihan", tidak ada yang tidak setuju. Lompatan kesimpulan dari dua pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan ujian nasional pilihan ganda yang, katanya lagi- "penting dijalani anak, untuk membuktikan keberhasilan pendidikan". Belum lagi ditambah dengan "Kejujuran Sangat Utama" yang tidak mungkin diperdebatkan. Kata-kata baik yang mudah diucapkan, hal bijak yang seharusnya diajarkan, sering jadi "jebakan" dalam pendidikan.

Sudut pandang pribadi, dengan pengalaman pernah bersekolah atau menjadi orangtua, tentu sah-sah saja, tapi harus ditempatkan sesuai porsinya, sebagai opini dengan asumsi terbatas, bukan otomatis praktik baik pendidikan. Perubahan pendidikan yang berdampak berkelanjutan sulit terjadi bila riset belum menjadi dasar kebijakan.

Melawan miskonsepsi memang belum menjadi bagian dari pendidikan kita.

Pembahasan tentang ujian sebagai tujuan pendidikan menggambarkan apa yang terjadi pada ekosistem pendidikan. Percakapan yang hanya muncul musiman, walau kenyataannya, ujian adalah kepanikan berkepanjangan bagi anak, guru bahkan pejabat kedinasan.

Hal yang sama terjadi buat isu kekerasan, pengembangan guru dan keluarga, literasi dan seni serta agenda reformasi lainnya. Perbedaan utama pendidikan dengan proses serba kebetulan adalah pendidikan selalu didesain berdasarkan tujuan. Alih-alih bicara tujuan kesuksesan di ujian kehidupan yang relevan, kita berfokus pada prestasi yang kecil cakupannya, penanganan yang pendek jangka waktunya.

Setiap mendengar cerita kita heran, mengapa anak mengeluh bosan dan tertekan. Padahal setiap hari juga anak memperhatikan, apa yang ada di buku pelajaran tidak relevan dengan kehidupan. Setiap membaca berita kita heran, mengapa lulusan sekolah "unggulan" kurang kompeten dalam pekerjaan. Padahal setiap hari juga guru dan orangtua mencontohkan bahwa kehadiran hanya perlu mengandalkan keaktifan badan tanpa keterlibatan pikiran dan keseluruhan perasaan.

Memberdayakan aspirasi anak memang belum menjadi kebiasaan di pendidikan kita.

Kalau belasan tahun anak menghabiskan berjam-jam tanpa pilihan, jangan heran kalau pendidikan bukan memerdekakan tapi terasa seperti penjajahan. Pilihan perlu diajarkan dalam hubungan di sekolah, tapi tujuannya bukan hanya dalam bentuk pilihan berganda di lembar ulangan. Pilihan perlu dibiasakan dalam hubungan dalam keluarga, tapi mulainya bukan dari ketakutan pada peraturan. Memilih dan mengambil keputusan di atas kertas atas dasar kewajiban, dengan memilih di dunia nyata dengan kesadaran, adalah proses yang luar biasa berbeda.

Kalau kita umpakan dalam pilkada yang sedang kita lalui bersama, siapa yang kita coblos di kertas suara adalah pilihan yang dipengaruhi oleh begitu banyak pertimbangan. Ini contoh ujian kehidupan. Tapi lagi-lagi kita heran bahwa masyarakat tidak siap menghadapi tantangan perbedaan keberpihakan. Padahal pendidikan politik dan kewarganegaraan tidak pernah menjadi prioritas. Padahal penyeragaman pendidikan selama ini diterima sebagai realitas.

Yang mengherankan sebetulnya keheranan kita.

Di pendidikan kita, di hampir semua bidang, dari penjurusan sampai penyetaraan, yang terjadi bukan pemberdayaan memilih dan mengambil keputusan, justru pembatasan berkelanjutan atau pendekatan hukuman dengan "keyakinan" bahwa pengendalian berlebihan dibutuhkan untuk kemaslahatan.

Di usia dini, anak lebih mungkin mendapatkan jawaban penuh kesabaran saat bertanya "mengapa" dan "mengapa", beberapa tahun kemudian anak justru belajar, pertanyaan beruntun direspon bentakan guru atau cibiran lingkungan. Guru dijanjikan kesempatan memilih profesi mulia yang mendorong perubahan, begitu masuk sekolah tidak pernah diajak bicara tentang cita-cita dan kalau perlu tak bersuara kecuali saat diwajibkan mensukseskan perintah atau menggalang suara.

Mengaktualisasi potensi dan mendorong kontribusi memang belum menjadi prioritas dalam pendidikan kita.

Semoga kita sepakat, bukan lebih banyak
bimbingan tes yang diperlukan anak, atau tekanan berlebihan yang dibutuhkan dalam hubungan kita dengan lingkungan. Apa yang kita lakukan atau tidak lakukan dalam seminggu ke depan, sebulan yang akan datang dan seterusnya, akan menjadi teladan harian bagi anak tentang menyikapi pilihan. Selamat ujian buat kita semua!

#SemuaMuridSemuaGuru


https://www.facebook.com/najelaa.shihab/posts/10154832226684681
Apa yang sering kita lihat di kelas adalah guru hadir di kelas melakukan drill (pengulangan latihan) agar anak menghafal materi pelajaran. Drill sebagai salah satu metode belajar intensional bisa berwujud dalam beragam bentuk seperti mengerjakan soal, menghafal tabel perkalian, atau menghafal materi pelajaran yang lain. Harapannya, semakin didrill maka anak akan semakin menguasai pelajaran dan tentu mendapatkan angka ujian yang bagus. Bila ada mendapatkan nilai buruk, maka murid akan semakin didrill.

Padahal metode drill hanya mengembangkan keterampilan berpikir tingkat rendah, sama sekali tidak menyentuh keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Intinya, semakin didrill maka sebenarnya kita sedang mengkerdilkan kemampuan murid kita. Drill pangkal bodoh!

Mari kita refleksikan dan diskusikan bersama dua pertanyaan kunci:
Apa sebenarnya tujuan kita mengajar murid kita?
Bagaimana metode belajar inisidental menjadi alternatif yang bisa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi?

Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan

Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT

Menghadirkan Ibu Chusnul Chotimah, Dosen Kampus Guru Cikal, sebagai narasumber. Dimoderatori oleh Ibu Nidiah Kusuma, penggerak Komunitas Guru Belajar Tanah Bumbu

Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Suara Anak Kesembilan
Pesta Pendidikan Yogyakarta

Suara Anak adalah sebuah forum bagi anak untuk menceritakan pengalamannya menekuni suatu kegemaran, karya, atau misi sosial yang berdampak pada masyarakat dalam waktu 5 – 15 menit.

Saksikan presentasi anak-anak yang tekun belajar

Minggu, 23 April 3017
10.00 - 12.00 WIB
Ruang Amphi Theater, Kompleks Balaikota Yogyakarta
Jl. Kenari 56
Yogyakarta, 55165

1. Masayu Shelomita (Kegemaran - Pantomim)
2. Anggita Nur Erlina Zanuari (Kegemaran - Tari)
3. Zulfa Fitriani Nur Alyza (Kegemaran - Menulis)
4. Arsa Bintang Candra (Karya -Kreasi Jahit)
5. Orchitta Arum Sekar Hikari (Karya - Fotografi)
6. Maria Angelita (Misi Sosial - Kepedulian Terhadap Lingkungan)

Daftar di Suara-Anak.TemanTakita.com

Narahubung:
Tyas: +62 817-9429-707 ⁠
Mida: +62 857-2128-9105 ⁠

Kegiatan ini GRATIS. Anda kami undang memberi donasi untuk keberlanjutan gerakan Suara Anak.

#SuaraAnak #PekanYogya #Pekan2017
Kartini hebat karena pena, bukan karena kebaya. Selamat Hari Kartini! Tag teman Anda, ajak untuk #MerdekaBelajar https://instagram.com/p/BTIUojLjVCP/
Merdeka Belajar: Lebih dari Satu Kartini dan Kartono

Najelaa Shihab (Pendidik)

Sering kali tak mudah jadi perempuan. Berbeda dengan Kartini dan Kartono, di masa sekarang, perempuan bisa masuk ke sistem persekolahan yang sama, mendapat pelajaran yang sepadan. Namun saat kesempatan untuk putera dan puteri seolah-olah sudah setara, pilihan pekerjaan dan kursi kepemimpinan dimana perempuan bisa berkarya masih jauh tertinggal.

Tak jarang serba salah jadi perempuan. Berbeda dengan Kartini dan Kartono, di masa sekarang, tingkat putus sekolah dan prestasi akademik perempuan cendrung lebih baik dari laki-laki. Tetapi percakapan terpenting buat puteri masih berkisar soal penampilan, tuntutan kepada para ibu dan istri adalah kesempurnaan dalam berbagai peran.

Sumber masalahnya mungkin diri kita sendiri. Perbedaan bukan sesuatu yang bisa dihilangkan. Sebagian perbedaan jenis kelamin sudah bawaan. Tentu variasi antar sesama laki-laki dan sesama perempuan pun banyak, namun riset menunjukkan, struktur jaringan otak dan cara kerja laki-laki dan perempuan banyak berbeda. Akibatnya, sejak mulai memegang pensil, perempuan menggambar banyak orang dan benda, laki-laki menggambar banyak aksi, sampai warna yang digunakan untuk bercerita pun gradasinya berbeda. Kemampuan mendengar perempuan - termasuk memahami instruksi guru- lebih mumpuni, hubungan pertemanannya lebih banyak membutuhkan percakapan.

Namun dalam berbagai perannya, penelitian menunjukkan bahkan dalam di ruang rapat, perempuan lebih jarang dikutip dan didengarkan. Jadi jelas, sumber masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan menyalahkan diri sendiri.

Sumber masalahnya kadang dunia yang masih berstandar ganda. Sebagian perbedaan jenis kelamin disebabkan pengasuhan dan budaya lingkungan. Dibanding puluhan tahun lalu, kini resiko perempuan terlibat penggunaan narkoba dan menderita gangguan makan jauh lebih besar. Perisakan dan kekerasan oleh dan kepada perempuan makin meningkat.

Namun dalam berbagai perannya, penelitian menunjukkan perempuan cenderung menilai dirinya lebih rendah dari kemampuannya, menerima remunerasi yang lebih kecil dibanding kontribusinya. Jadi jelas, sumber masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan melawan dunia kita.

Jangan-jangan kecenderungan kita yang kadang membutakan diri pada perbedaan jenis kelamin, membuat kita tidak sensitif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan. Memberikan dukungan untuk perkembangan bukan semata-mata soal kesamaan tapi soal memanusiakan hubungan, responsif terhadap keragaman.

Pendidikan perlu menjadi bagian dari solusi, tidak hanya sekedar bisa menghasilkan resolusi tapi menumbuhkan aksi. Data tentang anak perempuan sekarang, tidak hanya menunjukkan kemajuan, tapi juga menyimpan narasi memprihatinkan.

Kita bisa dengan mudah menyalahkan orangtua, atau memaki media. Seolah kekurangan waktu orangtua bekerja disebabkan oleh "tangan tersembunyi". Padahal kebijakan perusahaan atau pemerintahan ditentukan orang-orang yang punya ibu dan ayah, suami atau istri, putera dan atau puteri. Jangan bayangkan tayangan sensual atau penuh makian dibuat oleh "tokoh dibalik layar" yang tak bernama dan tak punya keluarga.

Saat ini, bicara tentang Kartini dan Kartono bukan lagi sekedar membolehkan puteri naik pohon, atau menunda pernikahan dini. Anak-anak perempuan kita butuh dipahami. Kemajuan kadang sekedar ditandai tuntutan berprestasi, tanpa kesadaran bahwa keberhasilan bagi perempuan sering diiringi iri bukan hanya dari laki-laki tapi bahkan dari kaumnya sendiri. Kemajuan kadang sekedar ditandai tuntunan bagaimana menjaga diri, hal yang sangat sulit dipraktikkan saat masyarakat cendrung cepat menghakiminya saat mencoba mandiri.

Pendidikan untuk perempuan seringkali dilakukan oleh lebih banyak perempuan di pendidikan. Tanggungjawab perubahan dibebankan (lagi-lagi) pada ibu di ruang keluarga maupun ibu guru di ruang kelas. Tanggungjawab ini terlalu berat untuk dipikul sendirian atau sebagian. Anak-anak perempuan kita membutuhkan ayah dan pak guru, kakak, om dan tante, eyang dan kakek serta semua yang peduli, lintas generasi.
Kita barengan yang bukan hanya menerbitkan terang setelah gelap, bukan hanya mendorong perempuan untuk menjadi "versi lain" dari kekuatan seperti laki-laki atau kecerdasan seperti Kartini. Karena apapun badai yang dihadapi, tidak ada yang lebih berharga untuk setiap perempuan selain dicintai saat menjadi dirinya sendiri.

#SemuaMuridSemuaGuru
Bermacam metode belajar bisa kita pilih dan gunakan saat mengajar. Banyak bentuk aktifitas dan materi pembelajaran yang bisa kita sesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak.

Namun bagaimana bisa menemukan metode belajar yang bisa menjawab kebutuhan anak?
Apa saja yang perlu dilakukan untuk memahami kebutuhan anak?
Siapa saja yang perlu dilibatkan untuk menganalisis kebutuhan anak?

Komunitas Guru Belajar Nusantara mempersembahkan diskusi daring dalam Temu Pendidik Mingguan kita di https://t.me/mudikmingguan

Malam ini pada pukul
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT

Menghadirkan Ibu Tosi Widya, dari Komunitas Guru Belajar Depok, sebagai narasumber. Dengan moderator Ibu Heni Surya, penggerak Komunitas Guru Belajar Solo Raya.

Segera klik https://t.me/mudikmingguan
Anak-anak sekarang tidak asing dengan Bayu Skak, Chandra Liouw, Arief Mohammad, atau Radityadika. Mereka adalah youtubers, pembuat konten video kreatif yang diunggah di kanal Youtube.

Video kreatif menjadi marak belakangan ini, namun siswa dan guru seperti berada di dua sisi yang berbeda. Hanya melihat fenomena ini sebagai bagian yang tak berhubungan dalam proses belajar. Akibatnya, siswa harus mencuri-curi kesempatan membuka handphone dan berselancar di Internet.

Bagaimana memanfaatkan fenomena ini sebagai kesempatan untuk bisa dekat dengan anak?
Bagaimana mengintegrasikan kreatifitas dan kegemaran dalam proses belajar?
Bagaimana merancang pembelajaran jadi efektif, bermakna, menyenangkan?

Komunitas Guru Belajar menyajikan Temu Pendidik Mingguan, dengan tema
“INTEGRASI MAPEL DENGAN PEMBUATAN VIDEO KREATIF”

Menghadirkan Guru Rizqy Rahmat Hani (Kampus Guru Cikal), seorang video creator, sebagai narasumber. Dengan moderator Adik Christian Hartono (KGB Jakarta Selatan).

Malam ini, di https://t.me/mudikmingguan
18.30 - 20.30 WIB
19.30 - 21.30 WITA
20.30 - 22.30 WIT

Merdeka!
Temu pendidik mingguan asyik krn yg bicara adalah guru yg melakukan praktik pengajaran. Bukan cuma teori, kaya contoh

Buruan klik https://t.me/mudikmingguan
Halo Teman-Teman,

Pesta Pendidikan adalah inisiatif sukarela publik yang bertujuan menjadi katalisator kerja sama berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Merayakan berbagai praktik baik dan kerja nyata dari penjuru Nusantara yang penting disebarluaskan.

Pesta Pendidikan 2017 diadakan di 5 kota: Bandung, Ambon, Yogyakarta, Makassar dan Jakarta. Kolaborasi bersama 250 organisasi/komunitas pendidikan, sekolah, berbagai kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, guru, siswa, orangtua dan publik yang peduli pada pendidikan.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pesta Pendidikan mengajak kita semua untuk BARENGAN berkarya di Pesta Pendidikan.

Selasa/2 Mei 2017
15.00-17.45
RTH Kalijodo

Mari menjadi publik yang berdaya untuk pendidikan. Yuk, BARENGAN di Pesta Pendidikan.

Salam hangat,

Najelaa Shihab
Mewakili Relawan yang BARENGAN di Pesta Pendidikan
Menjadi Teman Seperjalanan

Kemandirian belajar adalah tujuan penting yang banyak diabaikan dalam praktik pengajaran. Banyak praktik pengajaran yang dilakukan berpijak pada asumsi bahwa guru harus mengontrol murid agar mau belajar. Murid penurut menjadi idola. Murid tertib jadi impian. Kelas tenang jadi angan-angan. Tingginya rata-rata nilai kelas jadi cita-cita.

Sembari lupa, bahwa murid-murid bukan hanya menghadapi tantangan berupa ujian sekolah dan ujian nasional. Mereka mau tidak mau harus belajar meski jam pelajaran telah usai. Mereka tetap menghadapi berbagai tantangan, meski sekolah telah usai. Mereka akan terus belajar dalam dunia pekerjaan, dalam hidup berpasangan, sebagai warga masyarakat, sebagai orangtua dan pendidik.

Pertanyaan reflektifnya, apakah kita sudah membantu murid-murid kita untuk mandiri belajar di sekolah dan setelah lulus sekolah nanti?

Atau, kita masih saja memacu para murid untuk meraih nilai setinggi-tingginya demi nama baik kita dan sekolah dengan mengabaikan kemandirian belajar mereka?

Kenyataan di lapangan seringkali membuat kita kesulitan menjawab pertanyaaan itu secara lugas. Kita sebenarnya tahu mana yang harus diperjuangkan, tapi berbagai tuntutan seolah membuat kita tidak berdaya. Sebagian dari kita kemudian menyerah dan memilih untuk memenuhi berbagai tuntutan meski sebenarnya itu menyiksa murid dan juga hati nurani kita.

Namun tak sedikit dari kita yang terus keras kepala, terus maju tertatih untuk memperjuangkan esensi dari pendididikan yang memerdekakan anak. Kita ingin menyaksikan murid-murid bahagia belajar. Kita ingin menyaksikan mereka menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan, sendiri maupun bersama-sama. Kita ingin para murid mampu mandiri belajar dan berkarya.

Surat Kabar Guru Belajar ini ditujukan buat sebagian dari kita yang sudah menyerah, sebagai pengingat arah perjalanan. Juga ditujukan pada kita yang masih keras kepala memperjuangkan esensi pendidikan, sebagai teman seperjalanan. Sesuai namanya, surat kabar ini mengabarkan mengenai praktik-praktik baik yang dilakukan pendidik dari berbagai penjuru nusantara.

Silahkan unduh Surat Kabar Guru Belajar Edisi ke-9: Mandiri Belajar
Klik http://bit.ly/SKGuruBelajar9

Edisi 8 http://bit.ly/SKGuruBelajar8 : Komitmen pada Tujuan Belajar
Edisi 7 http://bit.ly/SKGuruBelajar7 : Refleksi Belajar
Edisi 6 http://bit.ly/SKGuruBelajar6 : Merdeka Belajar
Edisi 5 http://bit.ly/SKGuruBelajar5 : Hari Pertama Sekolah
Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 : Pendidikan Budi Pekerti
Edisi 3 http://bit.ly/SKGuruBelajar3 : Disiplin Positif
Edisi 2 http://bit.ly/SKGuruBelajar2 : Asesmen Otentik
Edisi 1 http://bit.ly/SKGuruBelajar1 : Guru Belajar