Bagaimana cara belajar menjadi guru profesional? Seberapa mahal untuk melakukan cara belajar itu?
Ssst ternyata banyak guru yang belum tahu bahwa belajar menjadi guru profesional ternyata mudah. Tidak percaya? Begini caranya
Jawablah dua pertanyaan di bawah ini.
1. Bagaimana kisah awal mula anda menjadi guru?
2. Apa yang membuat anda layak mendapat Beasiswa Guru Belajar? Paparkan penjelasan anda dan ceritakan sebuah pengalaman yang menguatkan penjelasan anda itu
Mudah bukan pertanyaannya? Setiap guru pasti punya kisah awal mula menjadi guru. Setiap guru pasti mempunyai dampak positif yang membuat dirinya layak menerima Beasiswa Guru Belajar. Jadi tinggal tuliskan saja pengalaman itu.
Tulisan jangan panjang-panjang, maksimal 2 halaman. Batas minimal? Tidak ada batas minimal. Jadi jangan tanya lagi, apa boleh satu halaman? Tidak perlu tanya karena memang tidak ada batas minimalnya.
Buat apa mendapat Beasiswa Guru Belajar?
Baca lengkapnya di https://www.facebook.com/notes/kampus-guru-cikal/ingin-jadi-guru-profesional-dapatkan-beasiswa-guru-belajar/1546095749023793
Ssst ternyata banyak guru yang belum tahu bahwa belajar menjadi guru profesional ternyata mudah. Tidak percaya? Begini caranya
Jawablah dua pertanyaan di bawah ini.
1. Bagaimana kisah awal mula anda menjadi guru?
2. Apa yang membuat anda layak mendapat Beasiswa Guru Belajar? Paparkan penjelasan anda dan ceritakan sebuah pengalaman yang menguatkan penjelasan anda itu
Mudah bukan pertanyaannya? Setiap guru pasti punya kisah awal mula menjadi guru. Setiap guru pasti mempunyai dampak positif yang membuat dirinya layak menerima Beasiswa Guru Belajar. Jadi tinggal tuliskan saja pengalaman itu.
Tulisan jangan panjang-panjang, maksimal 2 halaman. Batas minimal? Tidak ada batas minimal. Jadi jangan tanya lagi, apa boleh satu halaman? Tidak perlu tanya karena memang tidak ada batas minimalnya.
Buat apa mendapat Beasiswa Guru Belajar?
Baca lengkapnya di https://www.facebook.com/notes/kampus-guru-cikal/ingin-jadi-guru-profesional-dapatkan-beasiswa-guru-belajar/1546095749023793
Berhenti, Jangan Rampas Impian Anak Kita
Cegah anak dari pengaruh negatif, termasuk pengaruh negatif kekhawatiran kita sebagai orang tua yang seringkali merampas impian anak.
Pada bagian awal buku terbaru saya, Bakat Bukan Takdir, saya menulis sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata. Kisah tentang kesulitan seorang anak muda dalam menjelaskan pekerjaannya pada kakeknya.
Kenapa? Karena pekerjaannya belum ada pada jaman sang kakek. Pekerjaannya “main” Facebook dan Twitter, mulai merencanakan konten, menyajikan, berinteraksi hingga menganalisis percakapan. Hah emang main Facebook dan Twitter dibayar? Ya, ada puluhan ribuan orang muda di kota besar yang pekerjaannya berkaitan dengan media sosial.
Pekerjaan yang tidak dibayangkan oleh generasi yang pada masanya menelepon harus melalui perantaraan operator atau menelepon harus pergi ke kantor kecamatan atau berdebar ketika ada telegram datang.
Pengaruh teknologi informasi bukan saja menciptakan pekerjaan baru, juga mempengaruhi pola pekerjaan lama. Sebagaimana kita saksikan “keriuhan” akibat kehadiran transportasi online.
Pengaruh teknologi informasi terhadap cara bekerja kita bukan sesuatu yang di luar dugaan. Bukan pula hal yang baru.
Pada 5 April 2005, Thomas Friedman menerbitkan buku “The World id Flat” yang menceritakan berbagai perubahan cara kerja kita karena dampak teknologi informasi.
Analis pajak India, tetap tinggal di India, tapi mengerjakan laporan pajak orang AS. Dokter di AS mengirim hasil laboratorium pada sore hari dan keesokan pagi telah menerima laporan analisisnya yang dikerjakan Analis Medis India, yang bekerja pada saat dokter AS tidur.
Perubahan cara kerja dan lahirnya profesi baru adalah keniscayaan.
Apakah kita masih menggunakan pendidikan menanamkan ala jaman industri untuk mendidik anak-anak kita yang akan menghadapi tantangan jaman kreatif?
Apakah kita akan terus memaksa anak kita belajar hingga mereka benci belajar padahal kita tahu kecintaan belajar yang bisa membuat mereka bisa menghadapi perubahan yang begiti cepat?
Apakah kita akan terus memberi tugas dan PR menghafalkan (download) yang membosankan pada anak kita padahal kita tahu kemampuan berkarya (upload) yang dibutuhkan pada jaman kreatif?
Apakah kita akan terus memaksa anak kita untuk mencapai standar-standar padahal kita tahu keunikan dan sentuhan personal yang membuat kontribusi anak kita pada dunia tidak mudah digantikan orang lain atau robot?
Apakah kita akan terus mendoktrin anak kita untuk percaya bahwa nilai dan ijasah adalah bekal satu-satunya untuk berkarier cemerlang padahal kita tahu ada jutaan orang yang hanya berbekal ijasah menjadi pengangguran?
Apakah kita akan terus mendorong anak kita untuk mengejar profesi bergengsi yang laris padahal kita tahu setinggi apapun gengsi suatu profesi tidak akan mendatangkan kebahagiaan bila profesi itu tidak sesuai potensi anak kita?
Apakah kita akan terus mengabaikan potensi dan impian anak kita demi kepentingan akademis padahal kita tahu potensi dan impian anak adalah sumber energi anak kita untuk menghadapi berbagai tantangan di jamannya?
Berhenti, jangan rampas impian anak kita. Anak bukan kertas kosong yang bisa semena-mena dicoret-coret oleh orang orang dewasa.
Stimulasi, kenali dan kembangkan bakat anak kita.
Bukik Setiawan
Bakat.TemanTakita.com
http://bukik.com/berhenti-jangan-rampas-impian-anak-kita/
Cegah anak dari pengaruh negatif, termasuk pengaruh negatif kekhawatiran kita sebagai orang tua yang seringkali merampas impian anak.
Pada bagian awal buku terbaru saya, Bakat Bukan Takdir, saya menulis sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata. Kisah tentang kesulitan seorang anak muda dalam menjelaskan pekerjaannya pada kakeknya.
Kenapa? Karena pekerjaannya belum ada pada jaman sang kakek. Pekerjaannya “main” Facebook dan Twitter, mulai merencanakan konten, menyajikan, berinteraksi hingga menganalisis percakapan. Hah emang main Facebook dan Twitter dibayar? Ya, ada puluhan ribuan orang muda di kota besar yang pekerjaannya berkaitan dengan media sosial.
Pekerjaan yang tidak dibayangkan oleh generasi yang pada masanya menelepon harus melalui perantaraan operator atau menelepon harus pergi ke kantor kecamatan atau berdebar ketika ada telegram datang.
Pengaruh teknologi informasi bukan saja menciptakan pekerjaan baru, juga mempengaruhi pola pekerjaan lama. Sebagaimana kita saksikan “keriuhan” akibat kehadiran transportasi online.
Pengaruh teknologi informasi terhadap cara bekerja kita bukan sesuatu yang di luar dugaan. Bukan pula hal yang baru.
Pada 5 April 2005, Thomas Friedman menerbitkan buku “The World id Flat” yang menceritakan berbagai perubahan cara kerja kita karena dampak teknologi informasi.
Analis pajak India, tetap tinggal di India, tapi mengerjakan laporan pajak orang AS. Dokter di AS mengirim hasil laboratorium pada sore hari dan keesokan pagi telah menerima laporan analisisnya yang dikerjakan Analis Medis India, yang bekerja pada saat dokter AS tidur.
Perubahan cara kerja dan lahirnya profesi baru adalah keniscayaan.
Apakah kita masih menggunakan pendidikan menanamkan ala jaman industri untuk mendidik anak-anak kita yang akan menghadapi tantangan jaman kreatif?
Apakah kita akan terus memaksa anak kita belajar hingga mereka benci belajar padahal kita tahu kecintaan belajar yang bisa membuat mereka bisa menghadapi perubahan yang begiti cepat?
Apakah kita akan terus memberi tugas dan PR menghafalkan (download) yang membosankan pada anak kita padahal kita tahu kemampuan berkarya (upload) yang dibutuhkan pada jaman kreatif?
Apakah kita akan terus memaksa anak kita untuk mencapai standar-standar padahal kita tahu keunikan dan sentuhan personal yang membuat kontribusi anak kita pada dunia tidak mudah digantikan orang lain atau robot?
Apakah kita akan terus mendoktrin anak kita untuk percaya bahwa nilai dan ijasah adalah bekal satu-satunya untuk berkarier cemerlang padahal kita tahu ada jutaan orang yang hanya berbekal ijasah menjadi pengangguran?
Apakah kita akan terus mendorong anak kita untuk mengejar profesi bergengsi yang laris padahal kita tahu setinggi apapun gengsi suatu profesi tidak akan mendatangkan kebahagiaan bila profesi itu tidak sesuai potensi anak kita?
Apakah kita akan terus mengabaikan potensi dan impian anak kita demi kepentingan akademis padahal kita tahu potensi dan impian anak adalah sumber energi anak kita untuk menghadapi berbagai tantangan di jamannya?
Berhenti, jangan rampas impian anak kita. Anak bukan kertas kosong yang bisa semena-mena dicoret-coret oleh orang orang dewasa.
Stimulasi, kenali dan kembangkan bakat anak kita.
Bukik Setiawan
Bakat.TemanTakita.com
http://bukik.com/berhenti-jangan-rampas-impian-anak-kita/
Tiga Pelajaran Bakat dari Kungfu Panda Tiga
Film Kungfu Panda 3 bukan sekedar film hiburan keluarga semata, tapi juga film yang memberi pelajaran bakat. Setidaknya, ada 3 pelajaran bakat yang disampaikan film itu?
Kungfu Panda adalah sebuah film yang bercerita tentang Po, seorang Panda yang bermimpi menjadi jago kungfu. Karena banyak penggemarnya maka film ini pun dibuat serialnya hingga tiga. Filmnya sendiri sangat menghibur, banyak kejadian menggelikan yang membuat anak-anak maupun orang dewasa tertawa terpingkal-pingkal. Mana yang paling menggelikan?
Di tengah hiburan yang diberikan, film Kungfu Panda 3 memberi banyak pelajaran pada kita, tentang kehidupan, anak, asal-usul, dan pendidikan. Karena TemanTakita.com adalah Portal Bakat Anak maka yang diulas di sini adalah pelajaran bakat dalam film itu. Setidaknya ada tiga pelajaran bakat yang bisa kita petik dari Kungfu Panda 3.
If you only do what you can do, you will never be more than you are now. Master Shifu
I’m not trying to turn you into me. I’m trying to turn you into you. Master Shifu
You guys, your real strength comes from being the best “you” you can be. So who are you? What are you good at? What do you love? What makes you, “you”? Po
Baca lengkapnya di http://temantakita.com/pelajaran-bakat/
Film Kungfu Panda 3 bukan sekedar film hiburan keluarga semata, tapi juga film yang memberi pelajaran bakat. Setidaknya, ada 3 pelajaran bakat yang disampaikan film itu?
Kungfu Panda adalah sebuah film yang bercerita tentang Po, seorang Panda yang bermimpi menjadi jago kungfu. Karena banyak penggemarnya maka film ini pun dibuat serialnya hingga tiga. Filmnya sendiri sangat menghibur, banyak kejadian menggelikan yang membuat anak-anak maupun orang dewasa tertawa terpingkal-pingkal. Mana yang paling menggelikan?
Di tengah hiburan yang diberikan, film Kungfu Panda 3 memberi banyak pelajaran pada kita, tentang kehidupan, anak, asal-usul, dan pendidikan. Karena TemanTakita.com adalah Portal Bakat Anak maka yang diulas di sini adalah pelajaran bakat dalam film itu. Setidaknya ada tiga pelajaran bakat yang bisa kita petik dari Kungfu Panda 3.
If you only do what you can do, you will never be more than you are now. Master Shifu
I’m not trying to turn you into me. I’m trying to turn you into you. Master Shifu
You guys, your real strength comes from being the best “you” you can be. So who are you? What are you good at? What do you love? What makes you, “you”? Po
Baca lengkapnya di http://temantakita.com/pelajaran-bakat/
TemanTakita.com
Portal Bakat Anak
Portal Bakat Anak TemanTakita.com adalah sebuah wadah untuk memberikan informasi seputar Bakat Anak di Indonesia, tips pengembangan bakat anak, mengetahui bakat anak
Hai, selamat siang semua 🙆
Suara Anak Jogja siap kembali menginspirasi. Pernah dengar Suara Anak tapi masih belum jelas apa itu?
Suara Anak adalah gerakan utk menghargai ketekunan anak dlm menekuni kegemarannya. Ini adalah bentuk menghargai proses yg dialami anak. Dalam forum ini, anak-anak diberi ruang untuk presentasi selama 5-8 menit utk menceritakan pengalaman seru mereka menekuni bakatnya.
Dan satu lagi, forum ini bukan lomba. Karena bagi kami, setiap anak istimewa apapun bakat yg mereka tekuni.
Silahkan, bagi anak seluruh Indonesia usia 7-15 yang ingin berkisah pengalaman menekuni hobi, minat, atau bakat bisa ikut daftar di http://suara-anak.temantakita.com
Suara Anak Jogja siap kembali menginspirasi. Pernah dengar Suara Anak tapi masih belum jelas apa itu?
Suara Anak adalah gerakan utk menghargai ketekunan anak dlm menekuni kegemarannya. Ini adalah bentuk menghargai proses yg dialami anak. Dalam forum ini, anak-anak diberi ruang untuk presentasi selama 5-8 menit utk menceritakan pengalaman seru mereka menekuni bakatnya.
Dan satu lagi, forum ini bukan lomba. Karena bagi kami, setiap anak istimewa apapun bakat yg mereka tekuni.
Silahkan, bagi anak seluruh Indonesia usia 7-15 yang ingin berkisah pengalaman menekuni hobi, minat, atau bakat bisa ikut daftar di http://suara-anak.temantakita.com
Temantakita
Suara Anak | Gerakan untuk menghargai ketekunan anak dalam menekuni kegemarannya
Suara Anak adalah gerakan untuk menghargai ketekunan anak dalam menekuni kegemarannya
Anda peduli pendidikan? Ingin menjadi teman belajar keluarga Indonesia? Tapi tidak mempunyai media yang tepat?
Kami membuka kesempatan buat Anda! Menjadi teman belajar keluarga Indonesia dengan media buku bermutu sekaligus Anda bisa mendapatkan keuntungan finansial. Tidak tanggung-tanggung, anda bisa mendapatkan 25%.
Tunggu apalagi, pelajari dan daftarkan diri menjadi Agen Buku TemanTakita.com. Klik http://bit.ly/PanduanAgenBukuTakita
Kami membuka kesempatan buat Anda! Menjadi teman belajar keluarga Indonesia dengan media buku bermutu sekaligus Anda bisa mendapatkan keuntungan finansial. Tidak tanggung-tanggung, anda bisa mendapatkan 25%.
Tunggu apalagi, pelajari dan daftarkan diri menjadi Agen Buku TemanTakita.com. Klik http://bit.ly/PanduanAgenBukuTakita
TemanTakita.com
Portal Bakat Anak
Portal Bakat Anak TemanTakita.com adalah sebuah wadah untuk memberikan informasi seputar Bakat Anak di Indonesia, tips pengembangan bakat anak, mengetahui bakat anak
Suara Anak #5 Jakarta menghadirkan anak-anak yang menekuni kegemaran atau bakatnya. Ayo hadir dan belajar perjuangan mereka dalam menekuni kegemaran atau bakat.
Nama presentan anak yang akan tampil:
Amazing Grace - Menyanyi
Gavryel Griffin Denel - Wushu
Mikail KAYSAN Leksmana - Pengamat burung
Mikayla Karissa Denel - Wushu
Rahma Azzahra - Membuat Kue
Zaky Mubarak - Wedha's Pop Art Portrait
TIKET bisa didapatkan di Suara-Anak.TemanTakita.com
Nama presentan anak yang akan tampil:
Amazing Grace - Menyanyi
Gavryel Griffin Denel - Wushu
Mikail KAYSAN Leksmana - Pengamat burung
Mikayla Karissa Denel - Wushu
Rahma Azzahra - Membuat Kue
Zaky Mubarak - Wedha's Pop Art Portrait
TIKET bisa didapatkan di Suara-Anak.TemanTakita.com
Temantakita
Suara Anak | Gerakan untuk menghargai ketekunan anak dalam menekuni kegemarannya
Suara Anak adalah gerakan untuk menghargai ketekunan anak dalam menekuni kegemarannya
IMAGE INSPIRES ACTION!
Meski telah banyak upaya, citra guru tetaplah sebagai Oemar Bakrie. Citra yang melemahkan semangat. Citra itu yang ingin diubah #UntukGuru, Kontes Desain Motif Baju Guru bagi pelajar dan mahasiswa usia 17 – 21 tahun.
Apa yang terbayang pertama kali ketika mendengar kata guru? Bagi banyak orang, guru kerap diasosiasikan dengan Oemar Bakrie, lagu karya Iwan Fals yang diluncurkan pada tahun 1981. Pada zamannya, citra guru Oemar Bakrie memang bermakna. Guru naik sepeda butut menggambarkan kondisi guru yang serbakekurangan, baik kesejahteraan maupun kualitas.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan maupun kualitas guru. Kampus Guru Cikal sebagai salah satu pihak yang peduli telah mengadakan pelatihan guru dan menginisiasi Komunitas Guru Belajar yang secara berkala mengadakan Temu Pendidik. Inisiatif yang dilandasi keyakinan bahwa guru pada dasarnya mau dan mampu belajar.
Sayangnya di lapangan, citra guru sebagai Oemar Bakrie sering kali melemahkan semangat banyak guru untuk mengembangkan kualitas diri. Guru acap dipersepsikan sebagai sosok yang membosankan, ketinggalan zaman, dan enggan belajar. Citra yang melemahkan semangat itu sudah waktunya diubah dengan citra yang lebih memberdayakan.
Berdasarkan pemikiran itu, Tim Kampus Guru Cikal berkeinginan untuk berkolaborasi dengan komunitas guru. Kami menemui Mel Ahyar yang menyambut gembira tawaran kolaborasi tersebut. Pada pertemuan pertama, ide yang muncul adalah lomba desain seragam guru. Tapi, Mel memberi saran untuk menemui desainer yang ahli dalam merancang seragam.
Kami pun menemui Era Soekamto untuk mengelaborasi ide lomba desain seragam guru. Era bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi juri di sebuah lomba desain seragam. Kami baru tahu bahwa mendesain seragam tergolong pekerjaan yang sulit, bahkan bagi mereka yang sudah belajar desain sekalipun. Berbeda dengan mendesain baju untuk perseorangan, mendesain seragam berarti harus mempertimbangkan karakteristik semua pemakainya.
Lebih jauh lagi, Era Soekamto menekankan pada ide perubahan citra guru. Tidak bisa hanya sekadar mengubah seragam guru, tapi perlu merancang ulang simbol yang menggambarkan citra guru. Ia mengusulkan kontes desain motif yang mengundang para pelajar untuk mewujudkan imajinasinya tentang guru ideal. Usulan ini kami bawa pulang untuk dibahas lebih lanjut.
Hingga kemudian pada pertemuan ketiga yang dihadiri Mel Ahyar dan Era Soekamto yang menajamkan usulan desain motif. Kami fokus pada konsekuensi dari usulan tersebut. Apa manfaat praktis dari motif yang terpilih? Pertemuan yang dimulai sore hari pun berlanjut hingga malam. Kami bersepakat dengan sebuah mimpi besar yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang bermanfaat praktis.
Kabar gembiranya adalah Mel Ahyar dan Era Soekamto bersedia mendesain baju guru. Motif yang terpilih dari kontes akan diaplikasikan pada desain rancangan mereka. Untuk itu, desainer motif yang menang akan dibimbing oleh Era Soekamto dan Mel Ahyar untuk membuat variasi motif hingga aplikasi motif tersebut menjadi baju guru.
Baju guru tersebut akan dilelang pada pemerintah daerah, yayasan pendidikan, dan sekolah. Dana hasil lelang nantinya akan digunakan untuk membiayai Temu Pendidik dan Pelatihan Guru di berbagai daerah yang diadakan oleh Komunitas Guru Belajar.
Meski berawal dari perubahan citra guru, hasil akhirnya tetap berdampak pada perubahan secara subtansial: menstimulasi dan memberi kesempatan pada guru untuk meningkatkan kompetensinya. Image inspire action!
Tertarik? Kunjungi http://bit.ly/UntukGuru2016
Meski telah banyak upaya, citra guru tetaplah sebagai Oemar Bakrie. Citra yang melemahkan semangat. Citra itu yang ingin diubah #UntukGuru, Kontes Desain Motif Baju Guru bagi pelajar dan mahasiswa usia 17 – 21 tahun.
Apa yang terbayang pertama kali ketika mendengar kata guru? Bagi banyak orang, guru kerap diasosiasikan dengan Oemar Bakrie, lagu karya Iwan Fals yang diluncurkan pada tahun 1981. Pada zamannya, citra guru Oemar Bakrie memang bermakna. Guru naik sepeda butut menggambarkan kondisi guru yang serbakekurangan, baik kesejahteraan maupun kualitas.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan maupun kualitas guru. Kampus Guru Cikal sebagai salah satu pihak yang peduli telah mengadakan pelatihan guru dan menginisiasi Komunitas Guru Belajar yang secara berkala mengadakan Temu Pendidik. Inisiatif yang dilandasi keyakinan bahwa guru pada dasarnya mau dan mampu belajar.
Sayangnya di lapangan, citra guru sebagai Oemar Bakrie sering kali melemahkan semangat banyak guru untuk mengembangkan kualitas diri. Guru acap dipersepsikan sebagai sosok yang membosankan, ketinggalan zaman, dan enggan belajar. Citra yang melemahkan semangat itu sudah waktunya diubah dengan citra yang lebih memberdayakan.
Berdasarkan pemikiran itu, Tim Kampus Guru Cikal berkeinginan untuk berkolaborasi dengan komunitas guru. Kami menemui Mel Ahyar yang menyambut gembira tawaran kolaborasi tersebut. Pada pertemuan pertama, ide yang muncul adalah lomba desain seragam guru. Tapi, Mel memberi saran untuk menemui desainer yang ahli dalam merancang seragam.
Kami pun menemui Era Soekamto untuk mengelaborasi ide lomba desain seragam guru. Era bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya menjadi juri di sebuah lomba desain seragam. Kami baru tahu bahwa mendesain seragam tergolong pekerjaan yang sulit, bahkan bagi mereka yang sudah belajar desain sekalipun. Berbeda dengan mendesain baju untuk perseorangan, mendesain seragam berarti harus mempertimbangkan karakteristik semua pemakainya.
Lebih jauh lagi, Era Soekamto menekankan pada ide perubahan citra guru. Tidak bisa hanya sekadar mengubah seragam guru, tapi perlu merancang ulang simbol yang menggambarkan citra guru. Ia mengusulkan kontes desain motif yang mengundang para pelajar untuk mewujudkan imajinasinya tentang guru ideal. Usulan ini kami bawa pulang untuk dibahas lebih lanjut.
Hingga kemudian pada pertemuan ketiga yang dihadiri Mel Ahyar dan Era Soekamto yang menajamkan usulan desain motif. Kami fokus pada konsekuensi dari usulan tersebut. Apa manfaat praktis dari motif yang terpilih? Pertemuan yang dimulai sore hari pun berlanjut hingga malam. Kami bersepakat dengan sebuah mimpi besar yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang bermanfaat praktis.
Kabar gembiranya adalah Mel Ahyar dan Era Soekamto bersedia mendesain baju guru. Motif yang terpilih dari kontes akan diaplikasikan pada desain rancangan mereka. Untuk itu, desainer motif yang menang akan dibimbing oleh Era Soekamto dan Mel Ahyar untuk membuat variasi motif hingga aplikasi motif tersebut menjadi baju guru.
Baju guru tersebut akan dilelang pada pemerintah daerah, yayasan pendidikan, dan sekolah. Dana hasil lelang nantinya akan digunakan untuk membiayai Temu Pendidik dan Pelatihan Guru di berbagai daerah yang diadakan oleh Komunitas Guru Belajar.
Meski berawal dari perubahan citra guru, hasil akhirnya tetap berdampak pada perubahan secara subtansial: menstimulasi dan memberi kesempatan pada guru untuk meningkatkan kompetensinya. Image inspire action!
Tertarik? Kunjungi http://bit.ly/UntukGuru2016
Surat Kabar Guru Belajar Edisi Ketiga
Kesadaran & Disiplin
Kita seringkali terlalu cepat menuntut kedisiplinan, tapi terlalu lambat menumbuhkan kesadaran pada anak.
Sadar atau tidak, kita sebagai pendidik seringkali banyak dan sering menuntut anak-anak untuk berdisiplin. Hari pertama masuk kelas kita sudah berharap anak-anak tahu dan paham peraturan. Karena itu kita menuntut mereka untuk berperilaku sesuai aturan.
Kita menuntut anak-anak seolah anak adalah robot yang sekali diberi instruksi akan langsung jalan. Kita seringkali abai dan tidak sabar membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya berdisiplin.
Anak-anak itu manusia sebagaimana juga kita yang butuh waktu untuk belajar mengembangkan suatu perilaku. Kita, anak-anak maupun pendidik, belajar bila apa yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan kehidupan kita. Kita belajar bisa merasa berdaya untuk melakukan tindakan.
Kisah-kisah guru pada Surat Kabar Edisi Ketiga ini menceritakan berbagai upaya menumbuhkan kedisiplinan dari kesadaran dalam diri anak. Disiplin bukan karena patuh pada perintah, takut kena hukuman atau mengejar ganjaran. Disiplin yang tumbuh dari kesadaran anak-anak kita. Itulah Disiplin Positif.
Dengan disiplin positif, anak-anak akan lebih mencintai belajar, lebih tangguh menghadapi kesulitan, keterampilan berpikirnya berkembang hingga bisa mencapai prestasi akademik lebih baik. Lebih jauh lagi, disiplin positif mendukung terbentuknya interaksi dan budaya sekolah yang positif.
Semoga kisah-kisah pada edisi kali ini dapat memicu kesadaran kita untuk membangun kesadaran anak-anak sejak dini. Mari belajar bersama!
Berani belajar, siap mengajar!
Salam hangat dari kami,
Dewan Redaksi:
Najelaa Shihab dan Bukik Setiawan
GuruBelajar.org
Grup Facebook: Komunitas Guru Belajar
Silahkan unduh Surat Kabar Edisi Ketiga di http://bit.ly/SKGuruBelajar3
Kesadaran & Disiplin
Kita seringkali terlalu cepat menuntut kedisiplinan, tapi terlalu lambat menumbuhkan kesadaran pada anak.
Sadar atau tidak, kita sebagai pendidik seringkali banyak dan sering menuntut anak-anak untuk berdisiplin. Hari pertama masuk kelas kita sudah berharap anak-anak tahu dan paham peraturan. Karena itu kita menuntut mereka untuk berperilaku sesuai aturan.
Kita menuntut anak-anak seolah anak adalah robot yang sekali diberi instruksi akan langsung jalan. Kita seringkali abai dan tidak sabar membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya berdisiplin.
Anak-anak itu manusia sebagaimana juga kita yang butuh waktu untuk belajar mengembangkan suatu perilaku. Kita, anak-anak maupun pendidik, belajar bila apa yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan kehidupan kita. Kita belajar bisa merasa berdaya untuk melakukan tindakan.
Kisah-kisah guru pada Surat Kabar Edisi Ketiga ini menceritakan berbagai upaya menumbuhkan kedisiplinan dari kesadaran dalam diri anak. Disiplin bukan karena patuh pada perintah, takut kena hukuman atau mengejar ganjaran. Disiplin yang tumbuh dari kesadaran anak-anak kita. Itulah Disiplin Positif.
Dengan disiplin positif, anak-anak akan lebih mencintai belajar, lebih tangguh menghadapi kesulitan, keterampilan berpikirnya berkembang hingga bisa mencapai prestasi akademik lebih baik. Lebih jauh lagi, disiplin positif mendukung terbentuknya interaksi dan budaya sekolah yang positif.
Semoga kisah-kisah pada edisi kali ini dapat memicu kesadaran kita untuk membangun kesadaran anak-anak sejak dini. Mari belajar bersama!
Berani belajar, siap mengajar!
Salam hangat dari kami,
Dewan Redaksi:
Najelaa Shihab dan Bukik Setiawan
GuruBelajar.org
Grup Facebook: Komunitas Guru Belajar
Silahkan unduh Surat Kabar Edisi Ketiga di http://bit.ly/SKGuruBelajar3
Mengapa penting mendengar Suara Anak? Presentan yang tampil adalah anak-anak yang telah menekuni suatu bakat atau kegemarannya lebih dari satu tahun. Bila anda ingin belajar cara membuat anak tekun belajar, maka sudah sepatutnya belajar dari pelaku ketekunan belajar. Kita boleh belajar dari ahli atau dari orang lain, tapi tentu tidak lengkap bila tidak belajar dari anak-anak yang sudah berhasil tekun belajar. Baca lengkapnya di http://bit.ly/SuaraAnakKelima