Pendidikan Merdeka Belajar
3.35K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Mengikuti Kelas Kurikulum Merdeka Belajarnya Bu Najelaa membuat saya GAGAL MOVE ON dari materi yang beliau paparkan. Gagal move on karena begitu inspiring, begitu progressive dan langsung diberi tips and tricks dari beliau untuk bagaimana sih sebenarnya Kurikulum yang Merdeka Belajar di lembaga masing-masing…Dan dibukakan mata kurikulum Merdeka Belajar itu bukan kurikulum yang too good to be true! EPIC kelasnya!

Intani Prajaswari, Kepala Sekolah
Penggerak Komunitas Guru Belajar Cirebon

Ayo Ikut Seminar Daring (Offline) - Facebook Live
Kurikulum Merdeka Belajar
Jumat, 20 Januari 2017, pukul 14.00 - 16.00 WIB
Di Halaman Facebook Kampus Guru Cikal
https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/

Silahkan like buat yang belum
Tandai kalendar di meja kerja atau peralatan digital Anda.
Jangan sampai terlewat
Tutorial Facebook Live - Seminar Daring Kurikulum Merdeka Belajar
2,5 Jam Menjelang Seminar Daring tentang Kurikulum Merdeka Belajar. Segera kunjungi https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/
30 Menit lagi Seminar Daring tentang Kurikulum #MerdekaBelajar. Segera kunjungi https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/
Merdeka Belajar: Kurikulum di Atas Kertas, Kurikulum di Dalam Kelas (Bagian 1 dari 2 tulisan)

Najelaa Shihab (Pendiri Sekolah dan Kampus Guru Cikal)

Sebagian kita bisa menjawab saat ditanya apa kurikulum yang digunakan di sekolah dulu, sebagian yang lain tidak ingat sama sekali. Sebagian kita mampu menceritakan apa yang dipelajari di masa lalu, sebagian yang lain menyatakan tidak banyak yang bermanfaat.

Kurikulum adalah salah satu kata yang paling sering diasosiasikan dengan pendidikan. Karena dalam definisi yang utuh, kurikulum adalah kerangka program pendidikan. Masalahnya, bahkan diantara para pendidik, apa yang dimaksud dengan kurikulum pun seringkali rancu.

Sebagian pengurus yayasan pendidikan mewajibkan kurikulum nasional tahun tertentu, tanpa merasa perlu mendalami lebih jauh. Semua "yakin", sudah pasti ini pilihan rasional, padahal dokumennya tidak dibahas utuh bersama seluruh komunitas sekolah. Beberapa sekolah menyederhanakan penjelasan tentang kurikulumnya dengan menyebut nama salah satu ujian internasional, menguatkan miskonsepsi bahwa tujuan kegiatan sehari-hari di kelas tak ada bedanya dengan bimbingan tes - lulus ujian dengan nilai tinggi. Ada orangtua yang dengan bangga menyatakan bahwa kurikulum yang dilalui anaknya adalah kurikulum dari negeri jiran, semata-mata karena menggunakan buku terbitan sana.

Bagian pertama dari kurikulum yang menumbuhkan merdeka belajar, selalu dimulai dengan gambaran CITA-CITA. Kejelasan kompetensi ideal yang akan ditumbuhkan, menjabarkan bagaimana kita dapat mengasess capaian, dan bagaimana tahapan menuju tujuan (assessed curriculum). Pertanyaan sederhana tentang tujuan bersama, sedihnya bukan pertanyaan yang dengan mudah dijawab oleh banyak orang di satuan pendidikan. Sebagian kita merasa tidak memiliki kemerdekaan menetapkan tujuan, sebagian lagi jarang merefleksikan pengalaman masa lalu atau kesulitan saat diminta membayangkan masa depan.

Proses pendidikan yang begitu kompleks, dalam kurun waktu belasan tahun dilalui tanpa menjawab pertanyaan mendasar, untuk apa saya hadir di kelas, belajar dan mengajar setiap hari. Akibatnya, banyak hal yang kita pikir kita dapatkan dari pendidikan, mungkin sekedar "kebetulan" bermanfaat. Bukan proses yang dengan eksplisit dan sengaja direncanakan, dengan kata lain, bukan kurikulum. Tak heran sebagian anak jadi tertinggal, tak heran nasib anak ditentukan bukan oleh kualitas pendidikan tapi oleh proses seleksi alias kondisinya saat masuk sekolah.

Bagian kedua dari kurikulum yang utuh, menggambarkan dengan jelas prinsip CARA menuju cita-cita. Standar dan praktik apa yang disepakati dan harus dilakukan dalam proses belajar mengajar (taught curriculum). Di sisi lain, standar dan praktik yang tidak boleh dilakukan juga sesuatu yang perlu disepakati. Kesepakatan cara sering dianggap tidak penting, padahal ini salah satu ciri utama dari komunitas dan organisasi yang berhasil.

"Banyak jalan menuju Roma". Kita biasanya berhenti di ungkapan ini, lupa bahwa bila ada penumpang bis yang tidak membawa bekal tertentu, kelebihan muatan atau sering berhenti di tengah jalan, akan mempengaruhi kualitas perjalanan dan resiko keselamatan.

Pendidikan jauh lebih kompleks dari sekedar perjalanan ke Roma. Tapi kita sering memilih yang gampang- menyederhanakan perkembangan manusia dengan berbagai alasan struktur pendidikan. Standar nilai, jurusan peminatan atau jam pelajaran ditetapkan berdasar alasan administratif teknis - yang disadari atau tidak- minim kaitannya dengan cita-cita pendidikan.

Dari interaksi saya dengan ribuan pendidik, saya juga belajar bahwa jarang yang memilih prinsip cara bersama-bersama. Pendidik seharusnya memilih prinsip paedagogis dan menilai keselarasannya dengan standar dan praktik tim kerja dan organisasinya.

Di rumahpun, dengan pasangan, kita membuktikan bahwa perbedaan paradigma pengasuhan seringkali jadi hambatan harian dalam mendidik satu anak. Anda bisa bayangkan kekacauan yang terjadi saat kombinasi kepala sekolah, guru, orangtua, "dijodohkan paksa" untuk mendidik sekian banyak anak dengan cara yang kadang bertent
angan.

Bagian ketiga dari kurikulum Merdeka Belajar yang utuh adalah CAKUPAN. Materi yang diajarkan dalam proses pendidikan (written curriculum). Walau ini adalah bagian yang menjadi definisi banyak orang tentang kurikulum, banyak juga miskonsepsi dalam pelaksanaannya.

Seringkali fokus utama kita hanya terbatas pada apa, tanpa menyadari bahwa urutan akan sangat menentukan proses perkembangan dan pencapaian kompetensi. Setiap hari kita mendengar keluhan murid tentang sulitnya menyelesaikan soal-soal ujian geometri, karena banyak yang melewati tahapan eksplorasi kongkrit dengan benda sehari-hari, atau sejak dini dituntut menghafal rumus menghitung pekarangan sebatas soal ulangan.

Kadangkala juga saat bicara cakupan, kita seolah melupakan cita-cita dan cara yang sebelumnya sudah ditetapkan. Setiap hari kita melihat contoh anak yang belasan tahun mendapat pendidikan kewarganegaraan tapi tidak siap menjadi pemilih pemula saaat pilkada karena banyaknya pemahaman esensial yang tidak tercakup dalam kurikulum kewarganegaraan.

Menetapkan cakupan kurikulum juga berarti membuat pilihan. Tidak ada kurikulum yang mampu mengajarkan semua hal, karenanya prioritas mengenai apa yang esensial dan relevan adalah pilihan yang perlu dilakukan dengan penuh kesadaran. Banyak dari kita yang memaksa menjejalkan terlalu banyak hal. Tak heran, semua pemangku kepentingan trauma setiap kali mendengar kata revisi atau perubahan kurikulum, karena seringkali berarti waktunya rebutan jam pelajaran atau bertambahnya beban anak.

Pendidikan memang proses yang kompleks, kurikulum pun bukan sesuatu yang bisa disederhanakan. Kompleks bukan berarti teoritis dan tidak bisa diimplementasikan. Pengalaman di Cikal justru menunjukkan, perjalanan yang menantang ini seringkali lebih menyenangkan.

#SemuaMuridSemuaGuru
Merdeka Belajar: Kurikulum di Atas Kertas, Kurikulum di Dalam Kelas (Bagian 2 dari 2 tulisan)

Najelaa Shihab (Pendiri Sekolah dan Kampus Guru Cikal)

Kebanyakan dari kita memahami kurikulum dengan sangat terbatas, sesuatu yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pemahaman ini menumbuhkan pandangan "ganti menteri ganti kurikulum". Yang lebih mengkhawatirkan, hal ini menimbulkan miskonsepsi berikutnya, bahwa kurikulum bukan milik bersama komunitas sekolah, tidak ada hubungannya dengan guru dan anak yang berada di kelas.

Tak heran, karena tidak merasa punya otonomi, banyak pendidik yang melihat kurikulum sekedar sebuah dokumen yang ditetapkan di awal tahun ajaran atau bahkan di awal pendirian sekolah. Saat berbicara tentang kurikulum kita perlu terus mencoba melihatnya secara berkesinambungan, bukan hanya tentang Permendikbud tertentu yang menetapkan kompetensi inti dan kompetensi dasar tapi mulai dari tujuan pendidikan nasional, sampai silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun setiap guru dan disepakati dengan setiap murid di dalam kelas. Kepala sekolah, guru, orangtua, murid yang merdeka belajar memang sarat mutlak kurikulum yang tidak hanya indah di atas kertas atau ditumpuk di laci atasan.

Kurikulum merdeka belajar tidak bisa sekedar diberikan, apalagi diperjualbelikan. Kurikulum merdeka belajar juga tidak bisa di-copy/paste-kan dari sekolah sebelah atau kelas tahun ajaran sebelumnya. Faktor murid menjadi faktor penentu utama implementasi kurikulum di saat tertentu. Cakupan materi apa, tahapan dan pilihan sebagaimana diuraikan dalam written curriculum, perlu keterlibatan semua lewat percakapan bermakna.Di Cikal, kami terus mengupayakan beberapa praktik baik dalam mendesain dan mengimplementasikan kurikulum.

Kami percaya pada pentingnya proses PARTISIPATIF. Seluruh pemangku kepentingan di ekosistem pendidikan, punya kompetensi berkontribusi dalam pengembangan kurikulum. Tantangan partisipasi tentu bisa muncul untuk berbagai pihak. Ada sekolah yang mengeluhkan partisipasi orangtua dalam forum rutin yang membicarakan tujuan pendidikan jangka panjang ataupun forum singkat yang sekedar membahas tujuan sebuah tugas atau perjalanan karyawisata. Berbagai bentuk komunikasi tertulis atau jaring komunikasi lain perlu terus diupayakan oleh sekolah. Orangtua yang tidak hadir bukan berarti tidak peduli, justru berarti orangtua butuh dukungan khusus untuk bisa terlibat aktif.

Kami percaya pada proses KOLABORATIF. Dokumen kurikulum adalah milik bersama, transparan dan diberi umpan balik dari Kepala sekolah, guru, murid, orangtua dan bahkan tim non-akademik. Salah satu contoh masalah nyata di banyak satuan pendidikan adalah kapasitas guru sering tidak ditumbuhkan. Guru jarang diminta membaca dokumen kurikulum dengan utuh untuk berbagai jenjang, kebanyakan hanya tahu unit yang diajarkannya di semester tersebut. Padahal, tanpa kolaborasi guru dan pemahaman utuh, tentu sulit merancang program pembelajaran yang berkesinambungan antar jenjang.

Kami percaya proses REFLEKTIF. Kurikulum terus ditinjau kembali lewat beragam kegiatan rutin dan digunakan sebagai alat analisa dan rencana aksi. Tantangan utama yang sering dialami adalah waktu, kurikulum seringkali dianggap sesuatu yang hanya dikerjakan setahun sekali atau saat akreditasi. Padahal kurikulum adalah dokumen hidup yang berkembang seiring perkembangan proses belajar komunitas sekolah, seiring perubahan lingkungan dan zaman.

Sekali lagi, mewujudkan merdeka belajar dalam kurikulum memang tidak mudah. Cita, cara dan cakupan kurikulum bukan sekedar perlu ditetapkan. Mengatakan kurikulum kami adalah kurikulum merdeka belajar yang memenuhi semua bagian diatas, mungkin tidak sulit. Yang menantang adalah melalui proses yang merdeka dalam menyepakati dan mempraktikkannya. Tetapi bukankah kita memilih jalur pendidikan karena masing-masing kita tahu bahwa ini adalah cara paling efektif menuju cita-cita?

Merdeka belajar dalam pendidikan adalah kunci warga dan negara demokratis. Cita-cita yang perlu terus diupayakan bukan hanya di atas kertas tapi di dala
m setiap kelas. Keberhasilan selalu dimulai dari praktik baik sebagian orang dan organisasi yang diceritakan dan ditularkan. Karenanya pengalaman unik setiap satuan pendidikan yang sudah berhasil menetapkan dan menyepakati kurikulum merdeka belajar, perlu terus disebarluaskan.

#SemuaMuridSemuaGuru
Karena pendidikan adalah urusan semua orang, Ayo Belajar, Bergerak dan Bermakna Barengan di #PestaPendidikan.
Komunitas Anda tertarik bergabung? Pelajari http://bit.ly/BookletKomunitasPekan dan daftarkan komunitas Anda di http://bit.ly/DaftarKomunitasPekan
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih pemula sebanyak 1.229.097 jiwa (3%) dari jumlah pemilih tetap Pilkada 2017 sebanyak 41.027.111 jiwa.

Pemilih pemula ini seringkali luput untuk diberi wawasan dan pendidikan politik. Menurut Bawono Kumoro (peneliti politik The Habibie Center, 2013), pendidikan politik bagi pemilih pemula menjadi sangat penting untuk menekan praktik politik uang, meningkatkan partisipasi aktif yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas Pemilu dan keberlangsungan demokrasi di Indonesia.

Oleh karena itu, Pusat Studi Pendidikan Dan Kebijakan (PSPK) menyelenggarakan Diskusi Publik Pendidikan (Beranda PSPK) bertajuk "Pilkada dan Pendidikan Politik Pemilih Pemula" yang akan diadakan pada:

🗓Hari/ tanggal : Selasa, 31 Januari 2017
Waktu : Pukul 15.30-18.00 WIB
🏫 Tempat : 5th floor Eat & Eat, FX Sudirman, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu 1 Senayan, Jakarta

Terlampir poster untuk disebarluaskan kepada rekan/relasi yang berminat untuk hadir dan berpartisipasi. Terima kasih atas kehadiran dan partisipasinya.

Registrasi : 085891630031 (Hasan Asyari via WhatsApp)

Salam pendidikan
Pusat Studi Pendidikan Dan Kebijakan (PSPK)
Surat Kabar Guru Belajar
Menularkan Kegemaran Belajar

Dapat Diunduh di
Edisi 7 http://bit.ly/SKGuruBelajar7 : Pentingnya Refleksi
Edisi 6 http://bit.ly/SKGuruBelajar6 : Merdeka Belajar
Edisi 5 http://bit.ly/SKGuruBelajar5 : Hari Pertama Sekolah
Edisi 4 http://bit.ly/SKGuruBelajar4 : Pendidikan Budi Pekerti
Edisi 3 http://bit.ly/SKGuruBelajar3 : Disiplin Positif
Edisi 2 http://bit.ly/SKGuruBelajar2 : Asesmen Otentik
Edisi 1 http://bit.ly/SKGuruBelajar1 : Guru Belajar
“Wah dinding kelasnya bagus, banyak gambarnya”

Selama ini banyak yang berpikir bahwa dinding kelas yang bagus ialah yang banyak gambar, warna, dan indah utuk dilihat.
Apakah keindahan dinding kelas membantu siswa dalam belajar?
Atau dinding kelas yang indah justru menjadi ‘pajangan’ tanpa makna?
Bagaimana membuat diding kelas yang bisa digunakan untuk media belajar, bukan hanya belajar biasa, namun MERDEKA BELAJAR.
Ikuti diskusi mingguan Komunitas Guru Belajar dengan topik “Dinding Merdeka Belajar" di https://telegram.me/diskusigurubelajar , pada :
Hari Jumat, 27 Januari 2017.
Indonesia Timur : 20.30 - 22.30
Indonesia Tengah : 19.30 - 21.30
Indonesia Barat : 18.30 - 20.30.

Menghadirkan narsumber Ibu Husnul Chotimah (Vice Principal Sekolah Cikal Cilandak dan Center Manager Rumah Main Cikal Sudirman) dengan Pak Rizqy Rahmat Hani (guru SMA 1 Sragi, Pekalongan) sebagai moderator.

Sampai nanti malam ya.
Yuk segera merapat untuk diskusi #gurubelajar tentang Dinding Merdeka Belajar di
https://telegram.me/diskusigurubelajar
Topik Edisi Kedua Tahun Kedua adalah Komitmen Belajar, ciri pertama dari pelajar yang Merdeka Belajar. Topik ini penting dipelajari pada saat awal semester atau tahun ajaran baru sebagai awal proses belajar.



Anda punya pengalaman menarik dalam membangun Komitmen Belajar? Kirimkan tulisan Anda ke Surat Kabar Guru Belajar agar bisa dipelajari oleh guru di seluruh Nusantara. Cara mengirimkan tulisan:



Unduh panduan Penulisan #PraktikCerdas di http://bit.ly/MenulisKGB

Tuliskan sesuai panduan dan simpan dalam file dengan nama #PraktikCerdas "Nama Penulis"

Emailkan file beserta foto diri dan foto aktivitas dengan subyek email #PraktikCerdas "Nama Penulis" ke KampusGuru@Cikal.co.id paling lambat kami terima tanggal 8 Februari 2017


Karena tulisan di Surat Kabar ini mempunyai format yang unik, silahkan baca juga Tips Menulis di Surat Kabar Guru Belajar di http://bit.ly/TipsMenulis1



Kami juga menerima tulisan Anda mengenai pengalaman mengajar atau membuat kegiatan belajar di luar topik utama. Silahan ikuti panduan penulisan yang telah dicantukan di bagian atas.
KILAS memberikan informasi dan ulasan tentang berbagai kebijakan pendidikan secara ringkas dengan isu-isu kontekstual yang dikeluarkan oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK). KILAS menjadi kumpulan referensi penelitian dan pengembangan advokasi pendidikan serta menjadi cerminan misi PSPK.

Kajian dan analisis yang menjadi fokus kajian tim peneliti PSPK dalam edisi ini adalah tentang kompetensi guru. Untuk mendapatkan kumpulan tulisan yang dimuat dalam Kilas Pendidikan Edisi 6, silahkan klik http://pspk.web.id/kilas-pendidikan/kilas-pendidikan-edisi-6/
Saat ini Pusat Studi Pendidikan Dan Kebijakan (PSPK) sedang menyelenggarakan Diskusi Publik Pendidikan (Beranda PSPK) bertajuk "Pilkada dan Pendidikan Politik Pemilih Pemula". Silakan mengikuti tautan berikut untuk menyimak secara daring (online) https://web.facebook.com/PSPK.Indonesia/?fref=ts&ref=br_tf&_rdr#