Selamat siang, selamat hari Jumat

😊
Selamat harinya diskusi Komunitas Guru Belajar!
Minggu-minggu terakhir menjelang libur begini tentunya Ibu Bapak Guru sedang dalam lingkaran tenggat waktu pelaporan hasil belajar semester 1

😊
Kami ingin mengajak Bapak Ibu Guru dan para orang tua semua untuk sejenak saja bergabung, membicarakan apa itu SEKOLAH YANG MENUMBUHKAN.
Bagaimana sebuah sekolah memberi ruang bagi setiap yang terlibat, untuk tumbuh di dalamnya.
Bagaimana kita sebagai pendidik menempatkan diri, mengembangkan diri, dan pada akhirnya dapat memberi pelayanan terbaik.
Bagaimana anak, orang tua, dan keluarga mendapatkan pelayanan terbaik untuk mencapai cita-cita terbaik mereka.
Mari, kita berikan makna lebih pada perjuangan kita selama ini

😍
Diskusi malam ini akan menghadirkan narasumber Ibu Rahmi Salviviani, dari TK Alifa Kids, Penggerak Guru Belajar Pekanbaru.
Saya, Lany Rh, penggerak Komunitas Guru Belajar Timika, Papua akan mengawal diskusi sebagai moderator.
Catat waktunya ya :
Indonesia Timur: 20.30-22.30
Indonesia Tengah: 19.30-21.30
Indonesia Barat: 18.30-20.30
Sampai jumpa

😉
Merdeka!
https://telegram.me/diskusigurubelajar

😊
Selamat harinya diskusi Komunitas Guru Belajar!
Minggu-minggu terakhir menjelang libur begini tentunya Ibu Bapak Guru sedang dalam lingkaran tenggat waktu pelaporan hasil belajar semester 1

😊
Kami ingin mengajak Bapak Ibu Guru dan para orang tua semua untuk sejenak saja bergabung, membicarakan apa itu SEKOLAH YANG MENUMBUHKAN.
Bagaimana sebuah sekolah memberi ruang bagi setiap yang terlibat, untuk tumbuh di dalamnya.
Bagaimana kita sebagai pendidik menempatkan diri, mengembangkan diri, dan pada akhirnya dapat memberi pelayanan terbaik.
Bagaimana anak, orang tua, dan keluarga mendapatkan pelayanan terbaik untuk mencapai cita-cita terbaik mereka.
Mari, kita berikan makna lebih pada perjuangan kita selama ini

😍
Diskusi malam ini akan menghadirkan narasumber Ibu Rahmi Salviviani, dari TK Alifa Kids, Penggerak Guru Belajar Pekanbaru.
Saya, Lany Rh, penggerak Komunitas Guru Belajar Timika, Papua akan mengawal diskusi sebagai moderator.
Catat waktunya ya :
Indonesia Timur: 20.30-22.30
Indonesia Tengah: 19.30-21.30
Indonesia Barat: 18.30-20.30
Sampai jumpa

😉
Merdeka!
https://telegram.me/diskusigurubelajar
Merdeka Belajar: Sirah Nabi Muhammad SAW, Teladan Hati dan Aksi
Najelaa Shihab - Dewan Kurikulum Living Qur'an
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, adalah saat tepat untuk belajar (lagi) Sirah Nabi. Belajar sejarah dalam pendidikan Islam seringkali jadi strategi utama guru dan orangtua mengenalkan nilai Qur'ani dan semangat Islami. Anak secara alamiah tertarik dengan cerita. Tetapi, sukses atau tidaknya guru dan orangtua mengajarkan sejarah, tidak tergantung seberapa banyak yang anak ingat dan ceritakan kembali. Di Living Qur'an, saya belajar, ada pendekatan yang lebih efektif untuk jangka panjang. Karena tujuan interaksi kita adalah menumbuhkan rasa cinta sebagai bekal penting mengenal Rasulullah SAW yang luar biasa, juga bekal terus belajar dari sejarah Islam yang kaya.
Kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan belajar sejarah Nabi SAW sebatas mempelajari masa lalu dan faktanya. Belajar sejarah apapun, sejatinya adalah belajar tentang interpretasi sejarawan tentang fragmen/fokus tertentu dari suatu peristiwa di masa lalu. Kita perlu mencoba mengenalkan sejarah Rasulullah SAW menjadi bagian dari masa kini. Karena kita ingin anak terus belajar mengenai Nabi SAW bukan saja saat mendengar cerita di usia dini seperti yang banyak kita alami. Bila kita ingin melihat anak menjadi "sejarawan mandiri", ia perlu memahami dan menginterpretasi peristiwa di kehidupan Nabi SAW dengan yang dialami dan diamatinya saat ini. Belajar sirah Nabi SAW bukan sekedar menceritakan ulang informasi. Biasakan menggunakan berbagai sumber yang terpercaya, mengajak anak bedakan informasi ilmiah dan berdasar kitab suci dengan kabar burung dan kisah yang tidak menempatkan Nabi SAW sesuai kemanusiaan dan kemuliaannya.
Keengganan dan kebosanan anak pada sejarah Islam sering bermula karena fokus kita yang berlebihan pada tanggal, nama dan tempat. Keingintahuan utama anak justru pada alur peristiwa. Latar belakang, yang terjadi sebelum dan sesudahnya di tempat yang sama, juga hubungan dan dinamika antar peran dan aktor sejarah. Belajar tentang Futuh Makkah misalnya, tentu bisa menjadi kesempatan emas belajar tentang kenapa penduduk Makkah berduyun-duyun dengan kesadaran masuk Islam. Tetapi yang jarang diceritakan, Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan keteladanan sikap kepada orang tua di peristiwa ini. Beliau dengan luar biasa menunjukkan hormat kepada Abu Qahafah, ayahanda Sayyidina Abubakar RA yang hendak masuk Islam. Dengan pendekatan ini, anak terbiasa memahami berbagai sudut pandang peristiwa. Anak juga belajar bahwa "fakta" dan "bukti" sejarah adalah dua hal yang berbeda. Anak paham bahwa fakta tidak selalu bebas salah, bahwa bukti sejarah yang kita baca adalah hasil proses memilih dan terkadang ada yang "terlewati".
Salah kaprah lain yang masih sering kita praktikkan adalah menjelaskan sejarah dalam vakum dan satu garis waktu. Kita perlu mengajak anak melihat bahwa dalam satu periode waktu terjadi banyak peristiwa paralel di tempat yang lain, yang saling mempengaruhi dan bisa membantu kita memahami sejarah dengan utuh. Peristiwa Futuh Makkah tadi misalnya, jarang dipelajari anak dalam konteks apa yang terjadi di Madinah. Kemenangan di Makkah, sempat membuat kaum Anshor di Madinah cemas. Namun Rasulullah SAW menenangkan kaum Anshor dan setelah berada di Makkah selama 19 hari (ada pula yg meriwayatkan 15 dan 17 hari), beliau pun kembali ke Madinah. Bila kita memandang sejarah sebagai proses dialog, cerita yang berhubungan dan diinterpretasi oleh anak, guru serta orangtua, maka Insya Allah topik apapun akan menarik untuk usia berapapun.
Kata kunci utamanya adalah proses belajar barengan. Sebagai orangtua dan guru, saya seringkali perlu belajar kembali, sebelum mulai mengajarkan sirah Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak. Bukan sekedar riset, tapi juga refleksi. Semoga kita selalu mendapat kesempatan menggali inspirasi dari kehidupan beliau. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.
http://alifmagz.com/this-friday/merdeka-belajar-sirah-nabi-muhammad-saw-teladan-hati-dan-aksi/
#SemuaMuridSemuaGuru
Najelaa Shihab - Dewan Kurikulum Living Qur'an
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, adalah saat tepat untuk belajar (lagi) Sirah Nabi. Belajar sejarah dalam pendidikan Islam seringkali jadi strategi utama guru dan orangtua mengenalkan nilai Qur'ani dan semangat Islami. Anak secara alamiah tertarik dengan cerita. Tetapi, sukses atau tidaknya guru dan orangtua mengajarkan sejarah, tidak tergantung seberapa banyak yang anak ingat dan ceritakan kembali. Di Living Qur'an, saya belajar, ada pendekatan yang lebih efektif untuk jangka panjang. Karena tujuan interaksi kita adalah menumbuhkan rasa cinta sebagai bekal penting mengenal Rasulullah SAW yang luar biasa, juga bekal terus belajar dari sejarah Islam yang kaya.
Kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan belajar sejarah Nabi SAW sebatas mempelajari masa lalu dan faktanya. Belajar sejarah apapun, sejatinya adalah belajar tentang interpretasi sejarawan tentang fragmen/fokus tertentu dari suatu peristiwa di masa lalu. Kita perlu mencoba mengenalkan sejarah Rasulullah SAW menjadi bagian dari masa kini. Karena kita ingin anak terus belajar mengenai Nabi SAW bukan saja saat mendengar cerita di usia dini seperti yang banyak kita alami. Bila kita ingin melihat anak menjadi "sejarawan mandiri", ia perlu memahami dan menginterpretasi peristiwa di kehidupan Nabi SAW dengan yang dialami dan diamatinya saat ini. Belajar sirah Nabi SAW bukan sekedar menceritakan ulang informasi. Biasakan menggunakan berbagai sumber yang terpercaya, mengajak anak bedakan informasi ilmiah dan berdasar kitab suci dengan kabar burung dan kisah yang tidak menempatkan Nabi SAW sesuai kemanusiaan dan kemuliaannya.
Keengganan dan kebosanan anak pada sejarah Islam sering bermula karena fokus kita yang berlebihan pada tanggal, nama dan tempat. Keingintahuan utama anak justru pada alur peristiwa. Latar belakang, yang terjadi sebelum dan sesudahnya di tempat yang sama, juga hubungan dan dinamika antar peran dan aktor sejarah. Belajar tentang Futuh Makkah misalnya, tentu bisa menjadi kesempatan emas belajar tentang kenapa penduduk Makkah berduyun-duyun dengan kesadaran masuk Islam. Tetapi yang jarang diceritakan, Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan keteladanan sikap kepada orang tua di peristiwa ini. Beliau dengan luar biasa menunjukkan hormat kepada Abu Qahafah, ayahanda Sayyidina Abubakar RA yang hendak masuk Islam. Dengan pendekatan ini, anak terbiasa memahami berbagai sudut pandang peristiwa. Anak juga belajar bahwa "fakta" dan "bukti" sejarah adalah dua hal yang berbeda. Anak paham bahwa fakta tidak selalu bebas salah, bahwa bukti sejarah yang kita baca adalah hasil proses memilih dan terkadang ada yang "terlewati".
Salah kaprah lain yang masih sering kita praktikkan adalah menjelaskan sejarah dalam vakum dan satu garis waktu. Kita perlu mengajak anak melihat bahwa dalam satu periode waktu terjadi banyak peristiwa paralel di tempat yang lain, yang saling mempengaruhi dan bisa membantu kita memahami sejarah dengan utuh. Peristiwa Futuh Makkah tadi misalnya, jarang dipelajari anak dalam konteks apa yang terjadi di Madinah. Kemenangan di Makkah, sempat membuat kaum Anshor di Madinah cemas. Namun Rasulullah SAW menenangkan kaum Anshor dan setelah berada di Makkah selama 19 hari (ada pula yg meriwayatkan 15 dan 17 hari), beliau pun kembali ke Madinah. Bila kita memandang sejarah sebagai proses dialog, cerita yang berhubungan dan diinterpretasi oleh anak, guru serta orangtua, maka Insya Allah topik apapun akan menarik untuk usia berapapun.
Kata kunci utamanya adalah proses belajar barengan. Sebagai orangtua dan guru, saya seringkali perlu belajar kembali, sebelum mulai mengajarkan sirah Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak. Bukan sekedar riset, tapi juga refleksi. Semoga kita selalu mendapat kesempatan menggali inspirasi dari kehidupan beliau. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.
http://alifmagz.com/this-friday/merdeka-belajar-sirah-nabi-muhammad-saw-teladan-hati-dan-aksi/
#SemuaMuridSemuaGuru
Selain belajar TENTANG Rasulullah SAW, penting juga untuk kita belajar DARI Rasulullah SAW - Najelaa Shihab
Yuk ikuti live streaming talkshow
Rabu, 21 Desember 2016, 16.30 - 18.00 WIB
Di halaman Facebook LivingQuran PSQ
https://www.facebook.com/livingquran2016/
Bila ada pertanyaan, silahkan tulis di komentar.
Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh narasumber
Yuk ikuti live streaming talkshow
Rabu, 21 Desember 2016, 16.30 - 18.00 WIB
Di halaman Facebook LivingQuran PSQ
https://www.facebook.com/livingquran2016/
Bila ada pertanyaan, silahkan tulis di komentar.
Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh narasumber
Streaming Literasi Penangkal HOAX https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=621733271352838&id=511068262419340
Merdeka Belajar: Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna
oleh Najelaa Shihab
Sebagai ibu, sebagian hari yang kita jalani terasa mudah, sebagian rasanya menantang luar biasa. Kebanyakan dari kita adalah ibu berkarya, bukan hanya yang berkantor dan mendapatkan penghasilan dari luar rumah, ada juga yang menyelesaikan tugas rumah tangga atau sukarela menjadi penggerak di sekolah anak dan lingkungan tetangga. Tidak seharusnya pilihan apapun dianggap lebih atau kurang, karena semua ibu adalah ibu penuh waktu - tidak pernah menanggalkan perannya dan melupakan anaknya di setiap langkah.
Salah satu bagian dari menjadi perempuan adalah apa yang dikatakan orang lain selalu penting, terlebih lagi bila datangnya dari sesama perempuan. Sahabat seperjalanan mestinya saling meringankan tantangan dan menitipkan harapan, dalam kenyataan seolah jadi musuh bebuyutan. Menilai, menghakimi, membatasi, menyalahkan sering jadi bagian interaksi kita. Padahal, tanpa dinilai orang lain pun kita seringkali menetapkan standard terlalu tinggi untuk diri sendiri, tanpa disalahkan kelompok berbeda pun kita kerap berpikir bahwa kita sumber dari semua masalah. Ini bukan sekedar curahan hati, berbagai riset dan data tentang peran gender jelas menunjukkan bahwa perempuan dan ibu punya banyak tantangan dari dalam diri.
Salah satu batasan utama yang kita hadapi dari dalam diri sendiri adalah tuntutan untuk sempurna. Saya merasa luar biasa merdeka saat bisa dengan bangga mengatakan betapa saya tidak sempurna :)
Pengalaman gagal mengendalikan emosi menghadapi permintaan anak karena sedang terburu-buru menyelesaikan pekerjaan. Harus membolos dari acara keluarga besar karena kelelahan setelah rentetan agenda mingguan. Melanggar janji untuk lari karena malas bangun pagi. Mengubah ide presentasi yang menyusahkan tim untuk lembur sampai larut malam. Hari ini saja, saya punya sederet pengakuan tentang fakta bahwa saya tidak memiliki segalanya; sebagai perempuan, ibu, istri, anak, teman maupun pimpinan. Tidak sempurna, tidak memiliki segalanya, tapi Alhamdulillah, cukup dan terpenuhi.
Di dunia kita saat ini, perempuan yang berbicara tentang perasaan dan peran selalu dianggap korban atau sebaliknya sedang melawan. Tak heran banyak yang enggan berbagi pengalaman, karena khawatir cibiran atau "ketahuan" tidak seragam. Sebagai ibu dari dua anak perempuan yang beranjak remaja, perempuan yang berkarya bersama ribuan murid dan guru, saya sadar betul bahwa masih banyak tugas kita berkait perempuan dan pendidikan.
Perjuangan setiap ibu dan perempuan adalah belajar mencintai, dimulai dari mencintai diri sendiri dengan lebih baik setiap hari. Mampu menertawakan diri sendiri yang melakukan kesalahan sambil merencanakan perbaikan. Membiasakan bertepuk tangan untuk kesuksesan teman tanpa merasa kalah dalam persaingan. Berbagi canda dan cerita, yang menjadi cermin bermakna untuk semua perempuan.
#SemuaMuridSemuaGuru
oleh Najelaa Shihab
Sebagai ibu, sebagian hari yang kita jalani terasa mudah, sebagian rasanya menantang luar biasa. Kebanyakan dari kita adalah ibu berkarya, bukan hanya yang berkantor dan mendapatkan penghasilan dari luar rumah, ada juga yang menyelesaikan tugas rumah tangga atau sukarela menjadi penggerak di sekolah anak dan lingkungan tetangga. Tidak seharusnya pilihan apapun dianggap lebih atau kurang, karena semua ibu adalah ibu penuh waktu - tidak pernah menanggalkan perannya dan melupakan anaknya di setiap langkah.
Salah satu bagian dari menjadi perempuan adalah apa yang dikatakan orang lain selalu penting, terlebih lagi bila datangnya dari sesama perempuan. Sahabat seperjalanan mestinya saling meringankan tantangan dan menitipkan harapan, dalam kenyataan seolah jadi musuh bebuyutan. Menilai, menghakimi, membatasi, menyalahkan sering jadi bagian interaksi kita. Padahal, tanpa dinilai orang lain pun kita seringkali menetapkan standard terlalu tinggi untuk diri sendiri, tanpa disalahkan kelompok berbeda pun kita kerap berpikir bahwa kita sumber dari semua masalah. Ini bukan sekedar curahan hati, berbagai riset dan data tentang peran gender jelas menunjukkan bahwa perempuan dan ibu punya banyak tantangan dari dalam diri.
Salah satu batasan utama yang kita hadapi dari dalam diri sendiri adalah tuntutan untuk sempurna. Saya merasa luar biasa merdeka saat bisa dengan bangga mengatakan betapa saya tidak sempurna :)
Pengalaman gagal mengendalikan emosi menghadapi permintaan anak karena sedang terburu-buru menyelesaikan pekerjaan. Harus membolos dari acara keluarga besar karena kelelahan setelah rentetan agenda mingguan. Melanggar janji untuk lari karena malas bangun pagi. Mengubah ide presentasi yang menyusahkan tim untuk lembur sampai larut malam. Hari ini saja, saya punya sederet pengakuan tentang fakta bahwa saya tidak memiliki segalanya; sebagai perempuan, ibu, istri, anak, teman maupun pimpinan. Tidak sempurna, tidak memiliki segalanya, tapi Alhamdulillah, cukup dan terpenuhi.
Di dunia kita saat ini, perempuan yang berbicara tentang perasaan dan peran selalu dianggap korban atau sebaliknya sedang melawan. Tak heran banyak yang enggan berbagi pengalaman, karena khawatir cibiran atau "ketahuan" tidak seragam. Sebagai ibu dari dua anak perempuan yang beranjak remaja, perempuan yang berkarya bersama ribuan murid dan guru, saya sadar betul bahwa masih banyak tugas kita berkait perempuan dan pendidikan.
Perjuangan setiap ibu dan perempuan adalah belajar mencintai, dimulai dari mencintai diri sendiri dengan lebih baik setiap hari. Mampu menertawakan diri sendiri yang melakukan kesalahan sambil merencanakan perbaikan. Membiasakan bertepuk tangan untuk kesuksesan teman tanpa merasa kalah dalam persaingan. Berbagi canda dan cerita, yang menjadi cermin bermakna untuk semua perempuan.
#SemuaMuridSemuaGuru
Cerita Perjalanan (Bagian 1 dari 3)
Merdeka Belajar: Belajar dari Keikhlasan
Najelaa Shihab
Beberapa hari lalu lalu saya mengikuti perjalanan Abi Muhammad Quraish Shihab dan Tim Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) ke Pesantren Raudlatuth Tholibin, Rembang, Pesantren Al-Anwar, Sarang, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Perjalanan ini dimulai dari pertanyaan tentang proses belajar Islam dan kehidupan pesantren. Banyak eksplorasi lewat kisah, panjang diskusi di rumah, tetapi menemui Kyai-kyai besar dan terlibat langsung dalam interaksi barengan, memberikan pengalaman yang berbeda untuk saya.
Sejak dulu, cerita Abi tentang pengalamannya nyantri di Darul Hadits, Malang, selalu didominasi dengan cerita tentang keikhlasan mursyid dan berkah yang didapat murid. Beliau berkali-kali mengatakan pengalaman berguru pada Habib Abdul Kadir Bilfaqih selama dua tahun di Malang membekas terus sepanjang hayat. Di percakapan-percakapan selama perjalanan, kami mendengar uraian berkesan tentang kedamaian di pesantren. Keikhlasan belajar menjadi syarat munculnya ikatan batin, ikatan yang tidak putus setelah santri lulus. Abi selalu merasa mendapat kemudahan, bahkan pada saat pendidikan lanjutan di Al-Azhar, Mesir, terasa sangat menantang. Pengalaman mencari sumber di perpustakaan yang tiba-tiba ditemukan atau mimpi dengan pesan khusus yang mencerahkan, semuanya bukan kebetulan.
Gus Mus juga bercerita tentang Kyai yang alih-alih berputus asa, justru semakin rajin mendoakan santrinya yang justru awalnya sering melawan. Beliau-beliau menjadi contoh rahmat dari belajar yang tidak putus, bahkan sampai hari ini. Bukan saja karena nasihat sang guru terus relevan, tetapi karena ilmu Allah yang dititipkan lewat mereka terus disambungkan. Buat saya, ini mengukuhkan kepercayaan akan pentingnya pendekatan positif, perasaan diterima dalam situasi aman dan nyaman dalam pendidikan. Catatan khusus untuk diri sendiri adalah pentingnya terus konsisten melakukan tradisi, wiridan dan bacaan, yang dicontohkan orangtua harus terus dipraktikkan setiap hari. Kami dibiasakan membaca Ratib Hadad setiap habis Maghrib dan Wirid al-Latif setiap pagi. Tidak panjang sehingga insya Allah pasti sempat, namun mudah-mudahan selalu bermanfaat.
Bagian ke-2: Bergerak di Jalan Pertengahan
Bagian ke-3: Bermakna tanpa Tepuk Tangan
#SemuaMuridSemuaGuru
Merdeka Belajar: Belajar dari Keikhlasan
Najelaa Shihab
Beberapa hari lalu lalu saya mengikuti perjalanan Abi Muhammad Quraish Shihab dan Tim Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) ke Pesantren Raudlatuth Tholibin, Rembang, Pesantren Al-Anwar, Sarang, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Perjalanan ini dimulai dari pertanyaan tentang proses belajar Islam dan kehidupan pesantren. Banyak eksplorasi lewat kisah, panjang diskusi di rumah, tetapi menemui Kyai-kyai besar dan terlibat langsung dalam interaksi barengan, memberikan pengalaman yang berbeda untuk saya.
Sejak dulu, cerita Abi tentang pengalamannya nyantri di Darul Hadits, Malang, selalu didominasi dengan cerita tentang keikhlasan mursyid dan berkah yang didapat murid. Beliau berkali-kali mengatakan pengalaman berguru pada Habib Abdul Kadir Bilfaqih selama dua tahun di Malang membekas terus sepanjang hayat. Di percakapan-percakapan selama perjalanan, kami mendengar uraian berkesan tentang kedamaian di pesantren. Keikhlasan belajar menjadi syarat munculnya ikatan batin, ikatan yang tidak putus setelah santri lulus. Abi selalu merasa mendapat kemudahan, bahkan pada saat pendidikan lanjutan di Al-Azhar, Mesir, terasa sangat menantang. Pengalaman mencari sumber di perpustakaan yang tiba-tiba ditemukan atau mimpi dengan pesan khusus yang mencerahkan, semuanya bukan kebetulan.
Gus Mus juga bercerita tentang Kyai yang alih-alih berputus asa, justru semakin rajin mendoakan santrinya yang justru awalnya sering melawan. Beliau-beliau menjadi contoh rahmat dari belajar yang tidak putus, bahkan sampai hari ini. Bukan saja karena nasihat sang guru terus relevan, tetapi karena ilmu Allah yang dititipkan lewat mereka terus disambungkan. Buat saya, ini mengukuhkan kepercayaan akan pentingnya pendekatan positif, perasaan diterima dalam situasi aman dan nyaman dalam pendidikan. Catatan khusus untuk diri sendiri adalah pentingnya terus konsisten melakukan tradisi, wiridan dan bacaan, yang dicontohkan orangtua harus terus dipraktikkan setiap hari. Kami dibiasakan membaca Ratib Hadad setiap habis Maghrib dan Wirid al-Latif setiap pagi. Tidak panjang sehingga insya Allah pasti sempat, namun mudah-mudahan selalu bermanfaat.
Bagian ke-2: Bergerak di Jalan Pertengahan
Bagian ke-3: Bermakna tanpa Tepuk Tangan
#SemuaMuridSemuaGuru
Halo! 🖐🖐🖐
Apa kabar? 😊😊😊
Setahun sudah Surat Kabar Guru Belajar menyapa dan menemani para guru di seluruh pelosok nusantara. Meski tidak tetap tanggal terbitnya, tapi enam edisi selalu konsisten terbit dua bulan sekali. Edisi pertama pada tahun kedua ini tampil dengan wajah baru. Semoga suka! 😙😙😙
Surat Kabar Edisi Pertama di Tahun Kedua ini membahas topik refleksi. Kami menganggap topik ini penting diulas karena, sebagaimana dijelaskan pada edisi sebelumnya, refleksi menjadi satu dari 3 ciri pelajar yang merdeka belajar. Ciri penting yang justru jarang dikenalkan oleh para guru kepada para pelajar kita. Dengan kemampuan berefleksi, pelajar kita dapat memantau dan memperbaiki cara belajarnya sehingga dapat lebih efektif. Tak heran bila kemampuan berefleksi berpengaruh terhadap kemampuan, bukan hanya pelajar tapi juga guru, dalam mengelola diri dan perilakunya.
Dalam edisi ini, topik refleksi akan diulas secara konseptual, refleksi dalam perjuangan menjadi guru, refleksi sebagai praktik di kelas hingga praktik yang melengkapi kegiatan pendidikan, dalam hal ini, Temu Pendidik Nusantara Ketiga 2016. Ulasan dari beragam dimensi tersebut menunjukkan lengkapnya proses belajar terjadi ketika dilakukan refleksi.
Pada akhirnya, selamat menikmati tampilan baru Surat Kabar Guru Belajar. Semoga bisa menemani Anda berefleksi di akhir tahun ini dan menyambut tantangan baru dengan semangat belajar! 😘
Silahkan Unduh di http://bit.ly/SKGuruBelajar7
Apa kabar? 😊😊😊
Setahun sudah Surat Kabar Guru Belajar menyapa dan menemani para guru di seluruh pelosok nusantara. Meski tidak tetap tanggal terbitnya, tapi enam edisi selalu konsisten terbit dua bulan sekali. Edisi pertama pada tahun kedua ini tampil dengan wajah baru. Semoga suka! 😙😙😙
Surat Kabar Edisi Pertama di Tahun Kedua ini membahas topik refleksi. Kami menganggap topik ini penting diulas karena, sebagaimana dijelaskan pada edisi sebelumnya, refleksi menjadi satu dari 3 ciri pelajar yang merdeka belajar. Ciri penting yang justru jarang dikenalkan oleh para guru kepada para pelajar kita. Dengan kemampuan berefleksi, pelajar kita dapat memantau dan memperbaiki cara belajarnya sehingga dapat lebih efektif. Tak heran bila kemampuan berefleksi berpengaruh terhadap kemampuan, bukan hanya pelajar tapi juga guru, dalam mengelola diri dan perilakunya.
Dalam edisi ini, topik refleksi akan diulas secara konseptual, refleksi dalam perjuangan menjadi guru, refleksi sebagai praktik di kelas hingga praktik yang melengkapi kegiatan pendidikan, dalam hal ini, Temu Pendidik Nusantara Ketiga 2016. Ulasan dari beragam dimensi tersebut menunjukkan lengkapnya proses belajar terjadi ketika dilakukan refleksi.
Pada akhirnya, selamat menikmati tampilan baru Surat Kabar Guru Belajar. Semoga bisa menemani Anda berefleksi di akhir tahun ini dan menyambut tantangan baru dengan semangat belajar! 😘
Silahkan Unduh di http://bit.ly/SKGuruBelajar7
Bila ingin bahagia, tinggallah bersama anak-anak. Itulah kesimpulan dari pengalaman empat hari menjadi orangtua tunggal untuk sementara. http://bukik.com/menjadi-orangtua-tunggal/
Ijinkanlah kami dan anak-anak kami menjadi manusia kembali. Biarkan kami berinteraksi layaknya guru dan murid, orang tua dan anak, bukan sekadar pemasok informasi dan wadah-wadah yang mesti diisi. Rahayu Ujianti Putu
Ingin tahu lebih lengkap refleksi menjadi guru?
Unduh dan baca di Surat Kabar Guru Belajar Edisi I Tahun Kedua
di http://bit.ly/SKGuruBelajar7
Ingin tahu lebih lengkap refleksi menjadi guru?
Unduh dan baca di Surat Kabar Guru Belajar Edisi I Tahun Kedua
di http://bit.ly/SKGuruBelajar7