Mau belajar mengelola keragaman kelas? Yuk ikut diskusi #GuruBelajar ttg #Diferensiasi di grup @telegram. Klik https://telegram.me/diskusigurubelajar
*Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita*
Najelaa Shihab - Pendidik
Beberapa minggu belakangan, banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi anak tentang demokrasi. Anak membangun ke-Indonesia-annya dengan mengamati dan mempraktikkan yang terjadi. Hari ini, kita sebetulnya berkesempatan menumbuhkan cinta demokrasi saat mengajarkan literasi media digital serta mencontohkan pemahaman agama. Ini bekal anak menjadi pengelola informasi kritis, pendidik keluarga positif, pemeluk agama moderat dan warganegara berdaya di hari mendatang. Anak berpartisipasi aktif dalam apa yang terjadi di dunia ini, walaupun orang dewasa di sekitarnya sering tidak sadar akan kehadirannya, sering lupa bahwa anak menjadi korban tidak hanya sekedar secara fisik tapi yang lebih beresiko secara mental.
Sayangnya, pendidikan kita, bukan pendidikan berbasis pemahaman makna. Percakapan tentang topik sulit, belum menjadi bagian proses sehari-hari. Darimana saya tahu informasi ini bukan saja tidak salah tapi juga berimbang? Apa Islam, siapa Muslim, apa perbedaannya? Bagaimana contoh perilaku warganegara yang taat hukum, mematuhi ketentuan yang ditegakkan penguasa atau justru menggerakkan perlawanan pada kemapanan? Ini contoh pertanyaan penting, bukan saja dalam perumusan kurikulum nasional, tetapi seharusnya mengisi ruang kelas dan keluarga sejak dini. Anak perlu belajar bahwa konflik dan dilema bukan saja tidak bisa dihindari, namun perlu dialami. Tidak semua guru dan orangtua kompeten membahas demokrasi. Di sisi lain, anak terus terpapar pada rentetan pesan dan eskalasi konflik di media maupun ruang publik terkait pertanyaan essensial. Tak heran banyak yang gagap menjawab. Karena kita menyederhanakan pendidikan demokrasi menjadi sekedar sensor informasi dengan algoritma teknologi, atau upacara bendera tanpa makna di jam sekolah.
Pendidikan kita belum naik kelas, masih berfokus pada "belajar tentang" bukan "belajar dari". Anak dianggap obyek yang dijejali pengetahuan sesuai standar. Ditakuti dan diimingi nilai ujian. Anak jarang mendapat kesempatan berdaya, berlatih menyelesaikan masalah nyata. Hafalan di kelas agama seolah tak berkait dengan praktik budaya sekolah yang diskriminatif. Cerita moral yang dibacakan di rumah jauh berbeda dengan tayangan dari jalanan yang penuh kekerasan. Orang dewasa di sekitar anak, melupakan hak mereka untuk terlindungi dari informasi sesat dan kepentingan sesaat. Alih-alih menjadi teladan toleransi dan persatuan, kita malah menguatkan rasa takut dan ekstremitas. Alih-alih menjadi pemilih rasional, kita diam atau mendukung kandidat seolah tanpa kekurangan.
Pesta demokrasi, mestinya mendorong kita semua, dalam berbagai peran, berkontribusi untuk pendidikan pemilih pemula. Kalau tidak tahun ini, beberapa tahun kedepan, anak kita akan menjadi pelaku penting, bukan sekedar penonton demokrasi. Yang kita tumbuhkan hari ini, menjadi buah yang kita tuai tak lama lagi. Pastikan kita tidak mengorbankan lebih banyak anak, menyuburkan ekosistem beracun yang menghambat munculnya pahlawan demokrasi masa depan.
*Semua Murid Semua Guru*
Najelaa Shihab - Pendidik
Beberapa minggu belakangan, banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi anak tentang demokrasi. Anak membangun ke-Indonesia-annya dengan mengamati dan mempraktikkan yang terjadi. Hari ini, kita sebetulnya berkesempatan menumbuhkan cinta demokrasi saat mengajarkan literasi media digital serta mencontohkan pemahaman agama. Ini bekal anak menjadi pengelola informasi kritis, pendidik keluarga positif, pemeluk agama moderat dan warganegara berdaya di hari mendatang. Anak berpartisipasi aktif dalam apa yang terjadi di dunia ini, walaupun orang dewasa di sekitarnya sering tidak sadar akan kehadirannya, sering lupa bahwa anak menjadi korban tidak hanya sekedar secara fisik tapi yang lebih beresiko secara mental.
Sayangnya, pendidikan kita, bukan pendidikan berbasis pemahaman makna. Percakapan tentang topik sulit, belum menjadi bagian proses sehari-hari. Darimana saya tahu informasi ini bukan saja tidak salah tapi juga berimbang? Apa Islam, siapa Muslim, apa perbedaannya? Bagaimana contoh perilaku warganegara yang taat hukum, mematuhi ketentuan yang ditegakkan penguasa atau justru menggerakkan perlawanan pada kemapanan? Ini contoh pertanyaan penting, bukan saja dalam perumusan kurikulum nasional, tetapi seharusnya mengisi ruang kelas dan keluarga sejak dini. Anak perlu belajar bahwa konflik dan dilema bukan saja tidak bisa dihindari, namun perlu dialami. Tidak semua guru dan orangtua kompeten membahas demokrasi. Di sisi lain, anak terus terpapar pada rentetan pesan dan eskalasi konflik di media maupun ruang publik terkait pertanyaan essensial. Tak heran banyak yang gagap menjawab. Karena kita menyederhanakan pendidikan demokrasi menjadi sekedar sensor informasi dengan algoritma teknologi, atau upacara bendera tanpa makna di jam sekolah.
Pendidikan kita belum naik kelas, masih berfokus pada "belajar tentang" bukan "belajar dari". Anak dianggap obyek yang dijejali pengetahuan sesuai standar. Ditakuti dan diimingi nilai ujian. Anak jarang mendapat kesempatan berdaya, berlatih menyelesaikan masalah nyata. Hafalan di kelas agama seolah tak berkait dengan praktik budaya sekolah yang diskriminatif. Cerita moral yang dibacakan di rumah jauh berbeda dengan tayangan dari jalanan yang penuh kekerasan. Orang dewasa di sekitar anak, melupakan hak mereka untuk terlindungi dari informasi sesat dan kepentingan sesaat. Alih-alih menjadi teladan toleransi dan persatuan, kita malah menguatkan rasa takut dan ekstremitas. Alih-alih menjadi pemilih rasional, kita diam atau mendukung kandidat seolah tanpa kekurangan.
Pesta demokrasi, mestinya mendorong kita semua, dalam berbagai peran, berkontribusi untuk pendidikan pemilih pemula. Kalau tidak tahun ini, beberapa tahun kedepan, anak kita akan menjadi pelaku penting, bukan sekedar penonton demokrasi. Yang kita tumbuhkan hari ini, menjadi buah yang kita tuai tak lama lagi. Pastikan kita tidak mengorbankan lebih banyak anak, menyuburkan ekosistem beracun yang menghambat munculnya pahlawan demokrasi masa depan.
*Semua Murid Semua Guru*
SELAMAT HARI RELAWAN INTERNASIONAL!
Banyak guru yang bersedia mengajar, tapi jarang yang terus belajar. Banyak guru yang aktif mendorong siswa, tapi jarang yang berkolaborasi bersama teman sejawat. Penggerak guru belajar menjadi relawan, bukan sekedar karena mendidik adalah kewajiban, tapi karena sadar yang tersulit adalah mendidik diri sendiri setiap hari.
Terima kasih untuk semua Penggerak Komunitas Guru Belajar, telah menularkan kegemaran belajar ke seluruh Nusantara!
@NajelaaShihab, Inisiator Komunitas #GuruBelajar & #KampusGuruCikal
Banyak guru yang bersedia mengajar, tapi jarang yang terus belajar. Banyak guru yang aktif mendorong siswa, tapi jarang yang berkolaborasi bersama teman sejawat. Penggerak guru belajar menjadi relawan, bukan sekedar karena mendidik adalah kewajiban, tapi karena sadar yang tersulit adalah mendidik diri sendiri setiap hari.
Terima kasih untuk semua Penggerak Komunitas Guru Belajar, telah menularkan kegemaran belajar ke seluruh Nusantara!
@NajelaaShihab, Inisiator Komunitas #GuruBelajar & #KampusGuruCikal
Guru Lany adalah guru biasa. Ia mengajar di sebuah sekolah di Timika. Tinggal di pelosok tidak meredupkan semangatnya berbagi. Ia tetap berbagi praktik mengajarnya melalui tulisan di Surat Kabar Guru Belajar dan melalui diskusi di WA/Telegram atau grup Facebook Komunitas Guru Belajar. Tidak puas dengan berbagi di dunia daring (online), Ia ingin berjumpa dan belajar bersama para guru di berbagai daerah. Dengan uang pribadi, yang seharusnya digunakan untuk liburan, semester lalu Guru Lany mengadakan kelas pelatihan buat relawan pengajar dan guru di Wamena. Semester ini, Ia berencana mengadakan pelatihan serupa di masyarakat adat Jambi. Jangan biarkan Guru Lany sendiri melakukan perubahan pendidikan di Indonesia.
Yuk dukung Kelas Mandiri Guru Lany. Info dan dukungan, klik https://kitabisa.com/gurulany
Yuk dukung Kelas Mandiri Guru Lany. Info dan dukungan, klik https://kitabisa.com/gurulany
Pemerintah Gagal Lulus Ujian Substansi Kebijakan UN
Oleh Najelaa Shihab, Pendidik
Empat belas poin tanggapan terhadap penolakan Moratorium UN oleh Pemerintah Republik Indonesia.
1. Kebijakan asesmen & #UN belum tersentuh secara fundamental. Padahal reformasi pendidikan negara amat dipengaruhi sistem penilaian.
2. Keberisikan musiman menjelang #UN didominasi kepentingan politik & kampanye sesaat, tidak substantif berkait siswa sebagai subyek pendidikan.
3. "Kekuatan" UN memang luar biasa. anggarannya hanya 0.1% dari total anggaran fungsi pendidikan, tapi proses & hasil berkait puluhan juta orang.
4. Efektifitas #UN harusnya dinilai berkait tujuan esensial. Apakah berdampak meningkatkan akses, meningkatkan mutu & mengurangi kesenjangan?
5. #UN jadi indikator tunggal siswa sukses, guru kompeten & sekolah favorit. Padahal rata-rata hasil UN beda dengan GDP ekonomi yang komprehensif
6. Semua tujuan "diselesaikan" dengan #UN padahal untuk jadi definisi kesuksesan siswa pun, belum cukup. Kompetensi tergambar sangat terbatas.
7. Asesmen harus memiliki tujuan jelas yang tidak dicampuradukkan. Memetakan,seleksi ke jenjang berikutnya atau sertifikasi kualifikasi.
8. Untuk ukur hal yang sederhana, tinggi & berat kita memerlukan meteran & timbangan, cm & kg. Tapi mengapa menilai pendidikan dengan 1 angka #UN di akhir jenjang?
9. Rendahnya yang ujian perbaikan, tingginya kecurangan sistematis walau #UN sudah bukan penentu kelulusan, menunjukkan miskonsepsi pendidikan
10. Reformasi asesmen & #UN idealnya mempertimbangkan pemenuhan hak dan kemerdekaan belajar siswa serta kewajiban negara secara seimbang
11. Reformasi ujian akan mendorong ekosistem yang ideal, bila siswa punya suara memilih sertifikasi atau alat seleksi yang dibutuhkan & bermanfaat
12. Syarat awalnya, pemerintah dengan tujuan & aspirasi yang jelas, cetak biru yang strategis serta pemanfaatan data & umpan balik yang konsisten.
13. Sayang, prioritas Nawacita mengevaluasi penyeragaman & putusan MA di 2009 yang mensyaratkan pemenuhan kondisi standar pelayanan belum dilakukan.
14. Jalan dalam reformasi asesmen & #UN masih panjang. Kita perlu berjuang untuk proses asesmen utuh terhadap semua standar & pemangku kepentingan.
Sumber: http://bit.ly/TanggapanUN
Oleh Najelaa Shihab, Pendidik
Empat belas poin tanggapan terhadap penolakan Moratorium UN oleh Pemerintah Republik Indonesia.
1. Kebijakan asesmen & #UN belum tersentuh secara fundamental. Padahal reformasi pendidikan negara amat dipengaruhi sistem penilaian.
2. Keberisikan musiman menjelang #UN didominasi kepentingan politik & kampanye sesaat, tidak substantif berkait siswa sebagai subyek pendidikan.
3. "Kekuatan" UN memang luar biasa. anggarannya hanya 0.1% dari total anggaran fungsi pendidikan, tapi proses & hasil berkait puluhan juta orang.
4. Efektifitas #UN harusnya dinilai berkait tujuan esensial. Apakah berdampak meningkatkan akses, meningkatkan mutu & mengurangi kesenjangan?
5. #UN jadi indikator tunggal siswa sukses, guru kompeten & sekolah favorit. Padahal rata-rata hasil UN beda dengan GDP ekonomi yang komprehensif
6. Semua tujuan "diselesaikan" dengan #UN padahal untuk jadi definisi kesuksesan siswa pun, belum cukup. Kompetensi tergambar sangat terbatas.
7. Asesmen harus memiliki tujuan jelas yang tidak dicampuradukkan. Memetakan,seleksi ke jenjang berikutnya atau sertifikasi kualifikasi.
8. Untuk ukur hal yang sederhana, tinggi & berat kita memerlukan meteran & timbangan, cm & kg. Tapi mengapa menilai pendidikan dengan 1 angka #UN di akhir jenjang?
9. Rendahnya yang ujian perbaikan, tingginya kecurangan sistematis walau #UN sudah bukan penentu kelulusan, menunjukkan miskonsepsi pendidikan
10. Reformasi asesmen & #UN idealnya mempertimbangkan pemenuhan hak dan kemerdekaan belajar siswa serta kewajiban negara secara seimbang
11. Reformasi ujian akan mendorong ekosistem yang ideal, bila siswa punya suara memilih sertifikasi atau alat seleksi yang dibutuhkan & bermanfaat
12. Syarat awalnya, pemerintah dengan tujuan & aspirasi yang jelas, cetak biru yang strategis serta pemanfaatan data & umpan balik yang konsisten.
13. Sayang, prioritas Nawacita mengevaluasi penyeragaman & putusan MA di 2009 yang mensyaratkan pemenuhan kondisi standar pelayanan belum dilakukan.
14. Jalan dalam reformasi asesmen & #UN masih panjang. Kita perlu berjuang untuk proses asesmen utuh terhadap semua standar & pemangku kepentingan.
Sumber: http://bit.ly/TanggapanUN
Siang-siang butuh kesegaran? Saksikan yang satu ini :)
https://www.facebook.com/groups/KomunitasGuruBelajar/permalink/597822150416667/
https://www.facebook.com/groups/KomunitasGuruBelajar/permalink/597822150416667/
Selamat siang, selamat hari Jumat

😊
Selamat harinya diskusi Komunitas Guru Belajar!
Minggu-minggu terakhir menjelang libur begini tentunya Ibu Bapak Guru sedang dalam lingkaran tenggat waktu pelaporan hasil belajar semester 1

😊
Kami ingin mengajak Bapak Ibu Guru dan para orang tua semua untuk sejenak saja bergabung, membicarakan apa itu SEKOLAH YANG MENUMBUHKAN.
Bagaimana sebuah sekolah memberi ruang bagi setiap yang terlibat, untuk tumbuh di dalamnya.
Bagaimana kita sebagai pendidik menempatkan diri, mengembangkan diri, dan pada akhirnya dapat memberi pelayanan terbaik.
Bagaimana anak, orang tua, dan keluarga mendapatkan pelayanan terbaik untuk mencapai cita-cita terbaik mereka.
Mari, kita berikan makna lebih pada perjuangan kita selama ini

😍
Diskusi malam ini akan menghadirkan narasumber Ibu Rahmi Salviviani, dari TK Alifa Kids, Penggerak Guru Belajar Pekanbaru.
Saya, Lany Rh, penggerak Komunitas Guru Belajar Timika, Papua akan mengawal diskusi sebagai moderator.
Catat waktunya ya :
Indonesia Timur: 20.30-22.30
Indonesia Tengah: 19.30-21.30
Indonesia Barat: 18.30-20.30
Sampai jumpa

😉
Merdeka!
https://telegram.me/diskusigurubelajar

😊
Selamat harinya diskusi Komunitas Guru Belajar!
Minggu-minggu terakhir menjelang libur begini tentunya Ibu Bapak Guru sedang dalam lingkaran tenggat waktu pelaporan hasil belajar semester 1

😊
Kami ingin mengajak Bapak Ibu Guru dan para orang tua semua untuk sejenak saja bergabung, membicarakan apa itu SEKOLAH YANG MENUMBUHKAN.
Bagaimana sebuah sekolah memberi ruang bagi setiap yang terlibat, untuk tumbuh di dalamnya.
Bagaimana kita sebagai pendidik menempatkan diri, mengembangkan diri, dan pada akhirnya dapat memberi pelayanan terbaik.
Bagaimana anak, orang tua, dan keluarga mendapatkan pelayanan terbaik untuk mencapai cita-cita terbaik mereka.
Mari, kita berikan makna lebih pada perjuangan kita selama ini

😍
Diskusi malam ini akan menghadirkan narasumber Ibu Rahmi Salviviani, dari TK Alifa Kids, Penggerak Guru Belajar Pekanbaru.
Saya, Lany Rh, penggerak Komunitas Guru Belajar Timika, Papua akan mengawal diskusi sebagai moderator.
Catat waktunya ya :
Indonesia Timur: 20.30-22.30
Indonesia Tengah: 19.30-21.30
Indonesia Barat: 18.30-20.30
Sampai jumpa

😉
Merdeka!
https://telegram.me/diskusigurubelajar
Merdeka Belajar: Sirah Nabi Muhammad SAW, Teladan Hati dan Aksi
Najelaa Shihab - Dewan Kurikulum Living Qur'an
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, adalah saat tepat untuk belajar (lagi) Sirah Nabi. Belajar sejarah dalam pendidikan Islam seringkali jadi strategi utama guru dan orangtua mengenalkan nilai Qur'ani dan semangat Islami. Anak secara alamiah tertarik dengan cerita. Tetapi, sukses atau tidaknya guru dan orangtua mengajarkan sejarah, tidak tergantung seberapa banyak yang anak ingat dan ceritakan kembali. Di Living Qur'an, saya belajar, ada pendekatan yang lebih efektif untuk jangka panjang. Karena tujuan interaksi kita adalah menumbuhkan rasa cinta sebagai bekal penting mengenal Rasulullah SAW yang luar biasa, juga bekal terus belajar dari sejarah Islam yang kaya.
Kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan belajar sejarah Nabi SAW sebatas mempelajari masa lalu dan faktanya. Belajar sejarah apapun, sejatinya adalah belajar tentang interpretasi sejarawan tentang fragmen/fokus tertentu dari suatu peristiwa di masa lalu. Kita perlu mencoba mengenalkan sejarah Rasulullah SAW menjadi bagian dari masa kini. Karena kita ingin anak terus belajar mengenai Nabi SAW bukan saja saat mendengar cerita di usia dini seperti yang banyak kita alami. Bila kita ingin melihat anak menjadi "sejarawan mandiri", ia perlu memahami dan menginterpretasi peristiwa di kehidupan Nabi SAW dengan yang dialami dan diamatinya saat ini. Belajar sirah Nabi SAW bukan sekedar menceritakan ulang informasi. Biasakan menggunakan berbagai sumber yang terpercaya, mengajak anak bedakan informasi ilmiah dan berdasar kitab suci dengan kabar burung dan kisah yang tidak menempatkan Nabi SAW sesuai kemanusiaan dan kemuliaannya.
Keengganan dan kebosanan anak pada sejarah Islam sering bermula karena fokus kita yang berlebihan pada tanggal, nama dan tempat. Keingintahuan utama anak justru pada alur peristiwa. Latar belakang, yang terjadi sebelum dan sesudahnya di tempat yang sama, juga hubungan dan dinamika antar peran dan aktor sejarah. Belajar tentang Futuh Makkah misalnya, tentu bisa menjadi kesempatan emas belajar tentang kenapa penduduk Makkah berduyun-duyun dengan kesadaran masuk Islam. Tetapi yang jarang diceritakan, Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan keteladanan sikap kepada orang tua di peristiwa ini. Beliau dengan luar biasa menunjukkan hormat kepada Abu Qahafah, ayahanda Sayyidina Abubakar RA yang hendak masuk Islam. Dengan pendekatan ini, anak terbiasa memahami berbagai sudut pandang peristiwa. Anak juga belajar bahwa "fakta" dan "bukti" sejarah adalah dua hal yang berbeda. Anak paham bahwa fakta tidak selalu bebas salah, bahwa bukti sejarah yang kita baca adalah hasil proses memilih dan terkadang ada yang "terlewati".
Salah kaprah lain yang masih sering kita praktikkan adalah menjelaskan sejarah dalam vakum dan satu garis waktu. Kita perlu mengajak anak melihat bahwa dalam satu periode waktu terjadi banyak peristiwa paralel di tempat yang lain, yang saling mempengaruhi dan bisa membantu kita memahami sejarah dengan utuh. Peristiwa Futuh Makkah tadi misalnya, jarang dipelajari anak dalam konteks apa yang terjadi di Madinah. Kemenangan di Makkah, sempat membuat kaum Anshor di Madinah cemas. Namun Rasulullah SAW menenangkan kaum Anshor dan setelah berada di Makkah selama 19 hari (ada pula yg meriwayatkan 15 dan 17 hari), beliau pun kembali ke Madinah. Bila kita memandang sejarah sebagai proses dialog, cerita yang berhubungan dan diinterpretasi oleh anak, guru serta orangtua, maka Insya Allah topik apapun akan menarik untuk usia berapapun.
Kata kunci utamanya adalah proses belajar barengan. Sebagai orangtua dan guru, saya seringkali perlu belajar kembali, sebelum mulai mengajarkan sirah Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak. Bukan sekedar riset, tapi juga refleksi. Semoga kita selalu mendapat kesempatan menggali inspirasi dari kehidupan beliau. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.
http://alifmagz.com/this-friday/merdeka-belajar-sirah-nabi-muhammad-saw-teladan-hati-dan-aksi/
#SemuaMuridSemuaGuru
Najelaa Shihab - Dewan Kurikulum Living Qur'an
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, adalah saat tepat untuk belajar (lagi) Sirah Nabi. Belajar sejarah dalam pendidikan Islam seringkali jadi strategi utama guru dan orangtua mengenalkan nilai Qur'ani dan semangat Islami. Anak secara alamiah tertarik dengan cerita. Tetapi, sukses atau tidaknya guru dan orangtua mengajarkan sejarah, tidak tergantung seberapa banyak yang anak ingat dan ceritakan kembali. Di Living Qur'an, saya belajar, ada pendekatan yang lebih efektif untuk jangka panjang. Karena tujuan interaksi kita adalah menumbuhkan rasa cinta sebagai bekal penting mengenal Rasulullah SAW yang luar biasa, juga bekal terus belajar dari sejarah Islam yang kaya.
Kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan belajar sejarah Nabi SAW sebatas mempelajari masa lalu dan faktanya. Belajar sejarah apapun, sejatinya adalah belajar tentang interpretasi sejarawan tentang fragmen/fokus tertentu dari suatu peristiwa di masa lalu. Kita perlu mencoba mengenalkan sejarah Rasulullah SAW menjadi bagian dari masa kini. Karena kita ingin anak terus belajar mengenai Nabi SAW bukan saja saat mendengar cerita di usia dini seperti yang banyak kita alami. Bila kita ingin melihat anak menjadi "sejarawan mandiri", ia perlu memahami dan menginterpretasi peristiwa di kehidupan Nabi SAW dengan yang dialami dan diamatinya saat ini. Belajar sirah Nabi SAW bukan sekedar menceritakan ulang informasi. Biasakan menggunakan berbagai sumber yang terpercaya, mengajak anak bedakan informasi ilmiah dan berdasar kitab suci dengan kabar burung dan kisah yang tidak menempatkan Nabi SAW sesuai kemanusiaan dan kemuliaannya.
Keengganan dan kebosanan anak pada sejarah Islam sering bermula karena fokus kita yang berlebihan pada tanggal, nama dan tempat. Keingintahuan utama anak justru pada alur peristiwa. Latar belakang, yang terjadi sebelum dan sesudahnya di tempat yang sama, juga hubungan dan dinamika antar peran dan aktor sejarah. Belajar tentang Futuh Makkah misalnya, tentu bisa menjadi kesempatan emas belajar tentang kenapa penduduk Makkah berduyun-duyun dengan kesadaran masuk Islam. Tetapi yang jarang diceritakan, Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan keteladanan sikap kepada orang tua di peristiwa ini. Beliau dengan luar biasa menunjukkan hormat kepada Abu Qahafah, ayahanda Sayyidina Abubakar RA yang hendak masuk Islam. Dengan pendekatan ini, anak terbiasa memahami berbagai sudut pandang peristiwa. Anak juga belajar bahwa "fakta" dan "bukti" sejarah adalah dua hal yang berbeda. Anak paham bahwa fakta tidak selalu bebas salah, bahwa bukti sejarah yang kita baca adalah hasil proses memilih dan terkadang ada yang "terlewati".
Salah kaprah lain yang masih sering kita praktikkan adalah menjelaskan sejarah dalam vakum dan satu garis waktu. Kita perlu mengajak anak melihat bahwa dalam satu periode waktu terjadi banyak peristiwa paralel di tempat yang lain, yang saling mempengaruhi dan bisa membantu kita memahami sejarah dengan utuh. Peristiwa Futuh Makkah tadi misalnya, jarang dipelajari anak dalam konteks apa yang terjadi di Madinah. Kemenangan di Makkah, sempat membuat kaum Anshor di Madinah cemas. Namun Rasulullah SAW menenangkan kaum Anshor dan setelah berada di Makkah selama 19 hari (ada pula yg meriwayatkan 15 dan 17 hari), beliau pun kembali ke Madinah. Bila kita memandang sejarah sebagai proses dialog, cerita yang berhubungan dan diinterpretasi oleh anak, guru serta orangtua, maka Insya Allah topik apapun akan menarik untuk usia berapapun.
Kata kunci utamanya adalah proses belajar barengan. Sebagai orangtua dan guru, saya seringkali perlu belajar kembali, sebelum mulai mengajarkan sirah Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak. Bukan sekedar riset, tapi juga refleksi. Semoga kita selalu mendapat kesempatan menggali inspirasi dari kehidupan beliau. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.
http://alifmagz.com/this-friday/merdeka-belajar-sirah-nabi-muhammad-saw-teladan-hati-dan-aksi/
#SemuaMuridSemuaGuru
Selain belajar TENTANG Rasulullah SAW, penting juga untuk kita belajar DARI Rasulullah SAW - Najelaa Shihab
Yuk ikuti live streaming talkshow
Rabu, 21 Desember 2016, 16.30 - 18.00 WIB
Di halaman Facebook LivingQuran PSQ
https://www.facebook.com/livingquran2016/
Bila ada pertanyaan, silahkan tulis di komentar.
Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh narasumber
Yuk ikuti live streaming talkshow
Rabu, 21 Desember 2016, 16.30 - 18.00 WIB
Di halaman Facebook LivingQuran PSQ
https://www.facebook.com/livingquran2016/
Bila ada pertanyaan, silahkan tulis di komentar.
Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh narasumber