Pendidikan Merdeka Belajar
3.34K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Selamat sore!
Diskusi mingguan #GuruBelajar

Jumat, 25 Nov 2016
18.30 - 20.30 WIB
Tema: Praktik layanan bimbingan konseling di sekolah
Narasumber: Usman Djabbar (KGB Makassar)
Moderator : Desi Imam Harmika (KGB Tanah Bumbu)

Silahkan bergabung di https://telegram.me/diskusigurubelajar

Jangan sampai ketinggalan lagi
Tuisan dari Guru Rahayu Ujianti Putu ini sungguh menghangatkan hati, bahwa kita masih punya banyak saudara sevisi.

Berani menjadi guru, berarti berani berdarah-darah.

Berani menahan perasaan, berani patah hati berulang-ulang. Jika seseorang yang merasa patah hati sekali saja lalu bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi seumur hidupnya, seorang guru sejati, pada akhirnya menerima bahwa patah hati adalah bagian dari kodrat profesi. Banyak yang bisa menjadi penyebab seorang guru patah hati. Mulai dari harus berdamai dengan kurikulum yang lebih ke β€˜menghajar’ daripada mengajar, pemberlakuan sistem evaluasi yang terasa kurang fair, karena tak benar-benar dapat menggambarkan seorang siswa secara keseluruhan, sampai beberapa siswa yang kepadanya sungguh diberikan hati dan jiwa namun ternyata memilih berpaling pada hal-hal lain, kecuali belajar dan sekolah.

Lengkapnya baca di https://rahayujianti.wordpress.com/2016/11/27/ketika-kami-patah-hati/
Debat Publik Pendidikan

Apakah Anda Setuju atau Tidak Setuju dengan rencana pemerintah menghapus Ujian Nasional mulai tahun 2017?

Ayo tentukan pilihan Anda di http://bit.ly/DebatUN

Share posting ini agar pilihan Anda lebih banyak yang memilih
Halo semua! 😊😊😊

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI berencana melakukan moratorium Ujian Nasional. Pertanyannya, apa dampak perubahan ujian nasional tersebut? Apa alternatif kebijakan asesmen bagi siswa? Apa alternatif strategi bagi guru, kepala sekolah dan kepala daerah? πŸ€”πŸ€”πŸ€”

Simak Facebook Live (Siaran Langsung) tentang Moratorium Ujian Nasional 😍😱😍

Najelaa Shihab, Dosen Kampus Guru Cikal, Peneliti PSPK
Dr. Nino Aditomo, Peneliti PSPK, Dosen Universitas Surabaya

Kamis, 1 Desember 2016
16.30 - 18.00 WIB

Kami mengundang Anda untuk mengajukan pertanyaan seputar Moratorium Ujian Nasional. Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh narasumber. Pertanyaan ditunggu paling lambat hari Kamis jam 12.00 WIB.

Tuliskan pertanyaan Anda di kolom komentar di http://bit.ly/LiveMoratoriumUN

Facebook Live ini hasil kerja sama Kampus Guru Cikal dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK)

Informasi ini boleh disebarkan :)

Sampai jumpa Kamis sore πŸ˜ŠπŸ‘‹πŸ˜Š
Buat teman-teman yang mau nonton Facebook Live tentang Moratorium Ujian Nasional bersama Najelaa Shihab dan Nino Aditomo, silahkan merapat ke Kampus Guru Cikal di https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/
Terima kasih sudah menyaksikan Facebook Live - Moratorium Ujian Nasional hasil kerja sama Kampus Guru Cikal dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).

Bila ada masukan, silahkan tulis di http://bit.ly/UmpanBalikUN
Halo, Rekan Guru Belajar

Masih ingatkah ungkapan dari Albert Einstein ini "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”?

Lalu bagaimana caranya kita sebagai guru mengemas pembelajaran selain menarik namun juga mengakomodasi kemampuan pelajar yang beragam?

Ibu Komsinah atau yang biasa dipanggil Ibu Nina, seorang Guru SD di Jember telah mempraktekkan 'Diferensiasi' dalam pembelajaran di kelasnya. Jumat, 2 Desember 2016 Pkl 18.30 WIB/ 19.30 WTA/20.30 WIT ini beliau akan berbagi dalam diskusi mingguan Guru Belajar mengenai 'Diferensiasi'. Yuk segera bergabung di https://telegram.me/diskusigurubelajar
Mau belajar mengelola keragaman kelas? Yuk ikut diskusi #GuruBelajar ttg #Diferensiasi di grup @telegram. Klik https://telegram.me/diskusigurubelajar
*Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita*

Najelaa Shihab - Pendidik

Beberapa minggu belakangan, banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi anak tentang demokrasi. Anak membangun ke-Indonesia-annya dengan mengamati dan mempraktikkan yang terjadi. Hari ini, kita sebetulnya berkesempatan menumbuhkan cinta demokrasi saat mengajarkan literasi media digital serta mencontohkan pemahaman agama. Ini bekal anak menjadi pengelola informasi kritis, pendidik keluarga positif, pemeluk agama moderat dan warganegara berdaya di hari mendatang. Anak berpartisipasi aktif dalam apa yang terjadi di dunia ini, walaupun orang dewasa di sekitarnya sering tidak sadar akan kehadirannya, sering lupa bahwa anak menjadi korban tidak hanya sekedar secara fisik tapi yang lebih beresiko secara mental.

Sayangnya, pendidikan kita, bukan pendidikan berbasis pemahaman makna. Percakapan tentang topik sulit, belum menjadi bagian proses sehari-hari. Darimana saya tahu informasi ini bukan saja tidak salah tapi juga berimbang? Apa Islam, siapa Muslim, apa perbedaannya? Bagaimana contoh perilaku warganegara yang taat hukum, mematuhi ketentuan yang ditegakkan penguasa atau justru menggerakkan perlawanan pada kemapanan? Ini contoh pertanyaan penting, bukan saja dalam perumusan kurikulum nasional, tetapi seharusnya mengisi ruang kelas dan keluarga sejak dini. Anak perlu belajar bahwa konflik dan dilema bukan saja tidak bisa dihindari, namun perlu dialami. Tidak semua guru dan orangtua kompeten membahas demokrasi. Di sisi lain, anak terus terpapar pada rentetan pesan dan eskalasi konflik di media maupun ruang publik terkait pertanyaan essensial. Tak heran banyak yang gagap menjawab. Karena kita menyederhanakan pendidikan demokrasi menjadi sekedar sensor informasi dengan algoritma teknologi, atau upacara bendera tanpa makna di jam sekolah.

Pendidikan kita belum naik kelas, masih berfokus pada "belajar tentang" bukan "belajar dari". Anak dianggap obyek yang dijejali pengetahuan sesuai standar. Ditakuti dan diimingi nilai ujian. Anak jarang mendapat kesempatan berdaya, berlatih menyelesaikan masalah nyata. Hafalan di kelas agama seolah tak berkait dengan praktik budaya sekolah yang diskriminatif. Cerita moral yang dibacakan di rumah jauh berbeda dengan tayangan dari jalanan yang penuh kekerasan. Orang dewasa di sekitar anak, melupakan hak mereka untuk terlindungi dari informasi sesat dan kepentingan sesaat. Alih-alih menjadi teladan toleransi dan persatuan, kita malah menguatkan rasa takut dan ekstremitas. Alih-alih menjadi pemilih rasional, kita diam atau mendukung kandidat seolah tanpa kekurangan.

Pesta demokrasi, mestinya mendorong kita semua, dalam berbagai peran, berkontribusi untuk pendidikan pemilih pemula. Kalau tidak tahun ini, beberapa tahun kedepan, anak kita akan menjadi pelaku penting, bukan sekedar penonton demokrasi. Yang kita tumbuhkan hari ini, menjadi buah yang kita tuai tak lama lagi. Pastikan kita tidak mengorbankan lebih banyak anak, menyuburkan ekosistem beracun yang menghambat munculnya pahlawan demokrasi masa depan.

*Semua Murid Semua Guru*
SELAMAT HARI RELAWAN INTERNASIONAL!

Banyak guru yang bersedia mengajar, tapi jarang yang terus belajar. Banyak guru yang aktif mendorong siswa, tapi jarang yang berkolaborasi bersama teman sejawat. Penggerak guru belajar menjadi relawan, bukan sekedar karena mendidik adalah kewajiban, tapi karena sadar yang tersulit adalah mendidik diri sendiri setiap hari.

Terima kasih untuk semua Penggerak Komunitas Guru Belajar, telah menularkan kegemaran belajar ke seluruh Nusantara!

@NajelaaShihab, Inisiator Komunitas #GuruBelajar & #KampusGuruCikal
Guru Lany adalah guru biasa. Ia mengajar di sebuah sekolah di Timika. Tinggal di pelosok tidak meredupkan semangatnya berbagi.  Ia tetap berbagi praktik mengajarnya melalui tulisan di Surat Kabar Guru Belajar dan melalui diskusi di WA/Telegram atau grup Facebook Komunitas Guru Belajar. Tidak puas dengan berbagi di dunia daring (online), Ia ingin berjumpa dan belajar bersama para guru di berbagai daerah. Dengan uang pribadi, yang seharusnya digunakan untuk liburan, semester lalu Guru Lany mengadakan kelas pelatihan buat relawan pengajar dan guru di Wamena. Semester ini, Ia berencana mengadakan pelatihan serupa di masyarakat adat Jambi. Jangan biarkan Guru Lany sendiri melakukan perubahan pendidikan di Indonesia.

Yuk dukung Kelas Mandiri Guru Lany. Info dan dukungan, klik https://kitabisa.com/gurulany
Pemerintah Gagal Lulus Ujian Substansi Kebijakan UN

Oleh Najelaa Shihab, Pendidik

Empat belas poin tanggapan terhadap penolakan Moratorium UN oleh Pemerintah Republik Indonesia.

1. Kebijakan asesmen & #UN belum tersentuh secara fundamental. Padahal reformasi pendidikan negara amat dipengaruhi sistem penilaian.
2. Keberisikan musiman menjelang #UN didominasi kepentingan politik & kampanye sesaat, tidak substantif berkait siswa sebagai subyek pendidikan.
3. "Kekuatan" UN memang luar biasa. anggarannya hanya 0.1% dari total anggaran fungsi pendidikan, tapi proses & hasil berkait puluhan juta orang.
4. Efektifitas #UN harusnya dinilai berkait tujuan esensial. Apakah berdampak meningkatkan akses, meningkatkan mutu & mengurangi kesenjangan?
5. #UN jadi indikator tunggal siswa sukses, guru kompeten & sekolah favorit. Padahal rata-rata hasil UN beda dengan GDP ekonomi yang komprehensif
6. Semua tujuan "diselesaikan" dengan #UN padahal untuk jadi definisi kesuksesan siswa pun, belum cukup. Kompetensi tergambar sangat terbatas.
7. Asesmen harus memiliki tujuan jelas yang tidak dicampuradukkan. Memetakan,seleksi ke jenjang berikutnya atau sertifikasi kualifikasi.
8. Untuk ukur hal yang sederhana, tinggi & berat kita memerlukan meteran & timbangan, cm & kg. Tapi mengapa menilai pendidikan dengan 1 angka #UN di akhir jenjang?
9. Rendahnya yang ujian perbaikan, tingginya kecurangan sistematis walau #UN sudah bukan penentu kelulusan, menunjukkan miskonsepsi pendidikan
10. Reformasi asesmen & #UN idealnya mempertimbangkan pemenuhan hak dan kemerdekaan belajar siswa serta kewajiban negara secara seimbang
11. Reformasi ujian akan mendorong ekosistem yang ideal, bila siswa punya suara memilih sertifikasi atau alat seleksi yang dibutuhkan & bermanfaat
12. Syarat awalnya, pemerintah dengan tujuan & aspirasi yang jelas, cetak biru yang strategis serta pemanfaatan data & umpan balik yang konsisten.
13. Sayang, prioritas Nawacita mengevaluasi penyeragaman & putusan MA di 2009 yang mensyaratkan pemenuhan kondisi standar pelayanan belum dilakukan.
14. Jalan dalam reformasi asesmen & #UN masih panjang. Kita perlu berjuang untuk proses asesmen utuh terhadap semua standar & pemangku kepentingan.

Sumber: http://bit.ly/TanggapanUN