Pendidikan Merdeka Belajar
3.34K subscribers
563 photos
27 videos
35 files
636 links
Info dan tips pendidikan #MerdekaBelajar. Ayo ajak yang lain bergabung
Download Telegram
Merdeka Belajar (2): Memilih Cara Alternatif

Menyepakati tujuan dan cita-cita tidak mudah, namun saya selalu mengatakan, di dunia pendidikan, yang jauh lebih sulit adalah menyepakati cara. Kalau kita memilih pendekatan Guru Belajar, maka kita memilih cara alternatif, cara yang terasa lebih sulit, namun saya yakini menjadi titik perubahan reformasi pendidikan saat berbicara tentang pengembangan guru.

Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. Yang saya katakan bukan guru adalah kunci. Ada perbedaan besar antara "sekedar" menyebut guru dengan menyebut guru yang merdeka belajar. Pernyataan pertama sering kita dengar, ratusan penelitian menunjukkan betapa kompetensi guru menjadi salah satu faktor penting (angkanya beragam 7-20%) yang menentukan capaian siswa. Namun pernyataan guru penting dalam penjelasan ini membatasi peran guru seolah hanya sebagai faktor dalam produksi, mencetak murid dengan karakteristik tertentu membutuhkan guru dengan karakteritik tertentu yang juga perlu dicetak, diajar, dan seterusnya. Saat saya mengatakan bahwa "guru merdeka belajar adalah kunci", maka saya berbicara jauh lebih besar dari sekedar individu guru sebagai "input", tapi peran guru yang berdaya dalam konteks dan struktur pendidikan kita di Indonesia.

Sekali lagi, bila tujuannya adalah demokrasi, murid yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan, pendidik yang merdeka belajar adalah kuncinya.

Saya baru 20 tahun jadi pendidik ibu dan bapak, baru 20 tahun belajar bersama guru-guru. Di setiap sesi pengembangan guru, pertanyaan "standar" saya, adalah apakah ibu dan bapak merasa merdeka. Kemerdekaan bukan diberikan, tapi harus direbut karena percaya kuatnya kemampuan diri sendiri.

Sumber: http://bit.ly/MerdekaBelajar2
Merdeka Belajar (3): Sulitnya Komitmen, Mandiri dan Refleksi
Najelaa Shihab, Inisiator Komunitas Guru Belajar, Dosen Kampus Guru Cikal

Pengalaman di komunitas guru belajar menunjukkan bahwa perjalanan menuju merdeka belajar ini tidak mudah. 

Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Setiap dari kita yang setiap hari bergiat di pendidikan, sadar sulitnya konsisten pada tujuan di saat begitu banyak tugas administrasi dan birokrasi menyita begitu banyak waktu.  Dalam diskusi dengan teman-teman guru belajar dari Ambon beberapa minggu lalu saya belajar bahwa dalam perjuangan ini, kita harus bisa  membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik. 

Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan - mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi.

Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Berbincang dengan teman guru belajar di Wonosobo, saya sadar betapa refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah. 

Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas pendidikan yang sangat interdisiplin, membuatnya tidak mudah diwujudkan. Saya ingat betul, Donna Shahlal, salah seorang pakar pendidikan membandingkan betapa sederhananya proses mengirimkan pesawat Apollo ke bulan yang dilakukan NASA di tahun 1970-an dibandingkan dengan reformasi pendidikan yang dilangsungkan di Amerika Serikat di rentang waktu yang sama. Upaya mengubah ekosistem pendidikan butuh dana lebih besar, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dan membutuhkan waktu lebih panjang terkadang tanpa bukti nyata keberhasilan.

Tak heran pendidikan selalu dikatakan penting, tapi tidak pernah menjadi prioritas. Tak heran sebagian dari kita frustasi. Tak heran sebagian memilih keluar dari sistem, memilih "exit" bukan "voice".  Tapi guru di komunitas guru belajar yakin bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan merdeka belajar adalah memilih berdaya dengan bersuara lebih keras. 


Sumber: http://bit.ly/MerdekaBelajar3
Selamat sore!
Diskusi mingguan #GuruBelajar

Jumat, 25 Nov 2016
18.30 - 20.30 WIB
Tema: Praktik layanan bimbingan konseling di sekolah
Narasumber: Usman Djabbar (KGB Makassar)
Moderator : Desi Imam Harmika (KGB Tanah Bumbu)

Silahkan bergabung di https://telegram.me/diskusigurubelajar

Jangan sampai ketinggalan lagi
Tuisan dari Guru Rahayu Ujianti Putu ini sungguh menghangatkan hati, bahwa kita masih punya banyak saudara sevisi.

Berani menjadi guru, berarti berani berdarah-darah.

Berani menahan perasaan, berani patah hati berulang-ulang. Jika seseorang yang merasa patah hati sekali saja lalu bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi seumur hidupnya, seorang guru sejati, pada akhirnya menerima bahwa patah hati adalah bagian dari kodrat profesi. Banyak yang bisa menjadi penyebab seorang guru patah hati. Mulai dari harus berdamai dengan kurikulum yang lebih ke β€˜menghajar’ daripada mengajar, pemberlakuan sistem evaluasi yang terasa kurang fair, karena tak benar-benar dapat menggambarkan seorang siswa secara keseluruhan, sampai beberapa siswa yang kepadanya sungguh diberikan hati dan jiwa namun ternyata memilih berpaling pada hal-hal lain, kecuali belajar dan sekolah.

Lengkapnya baca di https://rahayujianti.wordpress.com/2016/11/27/ketika-kami-patah-hati/
Debat Publik Pendidikan

Apakah Anda Setuju atau Tidak Setuju dengan rencana pemerintah menghapus Ujian Nasional mulai tahun 2017?

Ayo tentukan pilihan Anda di http://bit.ly/DebatUN

Share posting ini agar pilihan Anda lebih banyak yang memilih
Halo semua! 😊😊😊

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI berencana melakukan moratorium Ujian Nasional. Pertanyannya, apa dampak perubahan ujian nasional tersebut? Apa alternatif kebijakan asesmen bagi siswa? Apa alternatif strategi bagi guru, kepala sekolah dan kepala daerah? πŸ€”πŸ€”πŸ€”

Simak Facebook Live (Siaran Langsung) tentang Moratorium Ujian Nasional 😍😱😍

Najelaa Shihab, Dosen Kampus Guru Cikal, Peneliti PSPK
Dr. Nino Aditomo, Peneliti PSPK, Dosen Universitas Surabaya

Kamis, 1 Desember 2016
16.30 - 18.00 WIB

Kami mengundang Anda untuk mengajukan pertanyaan seputar Moratorium Ujian Nasional. Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh narasumber. Pertanyaan ditunggu paling lambat hari Kamis jam 12.00 WIB.

Tuliskan pertanyaan Anda di kolom komentar di http://bit.ly/LiveMoratoriumUN

Facebook Live ini hasil kerja sama Kampus Guru Cikal dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK)

Informasi ini boleh disebarkan :)

Sampai jumpa Kamis sore πŸ˜ŠπŸ‘‹πŸ˜Š
Buat teman-teman yang mau nonton Facebook Live tentang Moratorium Ujian Nasional bersama Najelaa Shihab dan Nino Aditomo, silahkan merapat ke Kampus Guru Cikal di https://www.facebook.com/KampusGuruCikal/
Terima kasih sudah menyaksikan Facebook Live - Moratorium Ujian Nasional hasil kerja sama Kampus Guru Cikal dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).

Bila ada masukan, silahkan tulis di http://bit.ly/UmpanBalikUN
Halo, Rekan Guru Belajar

Masih ingatkah ungkapan dari Albert Einstein ini "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”?

Lalu bagaimana caranya kita sebagai guru mengemas pembelajaran selain menarik namun juga mengakomodasi kemampuan pelajar yang beragam?

Ibu Komsinah atau yang biasa dipanggil Ibu Nina, seorang Guru SD di Jember telah mempraktekkan 'Diferensiasi' dalam pembelajaran di kelasnya. Jumat, 2 Desember 2016 Pkl 18.30 WIB/ 19.30 WTA/20.30 WIT ini beliau akan berbagi dalam diskusi mingguan Guru Belajar mengenai 'Diferensiasi'. Yuk segera bergabung di https://telegram.me/diskusigurubelajar
Mau belajar mengelola keragaman kelas? Yuk ikut diskusi #GuruBelajar ttg #Diferensiasi di grup @telegram. Klik https://telegram.me/diskusigurubelajar
*Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita*

Najelaa Shihab - Pendidik

Beberapa minggu belakangan, banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi anak tentang demokrasi. Anak membangun ke-Indonesia-annya dengan mengamati dan mempraktikkan yang terjadi. Hari ini, kita sebetulnya berkesempatan menumbuhkan cinta demokrasi saat mengajarkan literasi media digital serta mencontohkan pemahaman agama. Ini bekal anak menjadi pengelola informasi kritis, pendidik keluarga positif, pemeluk agama moderat dan warganegara berdaya di hari mendatang. Anak berpartisipasi aktif dalam apa yang terjadi di dunia ini, walaupun orang dewasa di sekitarnya sering tidak sadar akan kehadirannya, sering lupa bahwa anak menjadi korban tidak hanya sekedar secara fisik tapi yang lebih beresiko secara mental.

Sayangnya, pendidikan kita, bukan pendidikan berbasis pemahaman makna. Percakapan tentang topik sulit, belum menjadi bagian proses sehari-hari. Darimana saya tahu informasi ini bukan saja tidak salah tapi juga berimbang? Apa Islam, siapa Muslim, apa perbedaannya? Bagaimana contoh perilaku warganegara yang taat hukum, mematuhi ketentuan yang ditegakkan penguasa atau justru menggerakkan perlawanan pada kemapanan? Ini contoh pertanyaan penting, bukan saja dalam perumusan kurikulum nasional, tetapi seharusnya mengisi ruang kelas dan keluarga sejak dini. Anak perlu belajar bahwa konflik dan dilema bukan saja tidak bisa dihindari, namun perlu dialami. Tidak semua guru dan orangtua kompeten membahas demokrasi. Di sisi lain, anak terus terpapar pada rentetan pesan dan eskalasi konflik di media maupun ruang publik terkait pertanyaan essensial. Tak heran banyak yang gagap menjawab. Karena kita menyederhanakan pendidikan demokrasi menjadi sekedar sensor informasi dengan algoritma teknologi, atau upacara bendera tanpa makna di jam sekolah.

Pendidikan kita belum naik kelas, masih berfokus pada "belajar tentang" bukan "belajar dari". Anak dianggap obyek yang dijejali pengetahuan sesuai standar. Ditakuti dan diimingi nilai ujian. Anak jarang mendapat kesempatan berdaya, berlatih menyelesaikan masalah nyata. Hafalan di kelas agama seolah tak berkait dengan praktik budaya sekolah yang diskriminatif. Cerita moral yang dibacakan di rumah jauh berbeda dengan tayangan dari jalanan yang penuh kekerasan. Orang dewasa di sekitar anak, melupakan hak mereka untuk terlindungi dari informasi sesat dan kepentingan sesaat. Alih-alih menjadi teladan toleransi dan persatuan, kita malah menguatkan rasa takut dan ekstremitas. Alih-alih menjadi pemilih rasional, kita diam atau mendukung kandidat seolah tanpa kekurangan.

Pesta demokrasi, mestinya mendorong kita semua, dalam berbagai peran, berkontribusi untuk pendidikan pemilih pemula. Kalau tidak tahun ini, beberapa tahun kedepan, anak kita akan menjadi pelaku penting, bukan sekedar penonton demokrasi. Yang kita tumbuhkan hari ini, menjadi buah yang kita tuai tak lama lagi. Pastikan kita tidak mengorbankan lebih banyak anak, menyuburkan ekosistem beracun yang menghambat munculnya pahlawan demokrasi masa depan.

*Semua Murid Semua Guru*
SELAMAT HARI RELAWAN INTERNASIONAL!

Banyak guru yang bersedia mengajar, tapi jarang yang terus belajar. Banyak guru yang aktif mendorong siswa, tapi jarang yang berkolaborasi bersama teman sejawat. Penggerak guru belajar menjadi relawan, bukan sekedar karena mendidik adalah kewajiban, tapi karena sadar yang tersulit adalah mendidik diri sendiri setiap hari.

Terima kasih untuk semua Penggerak Komunitas Guru Belajar, telah menularkan kegemaran belajar ke seluruh Nusantara!

@NajelaaShihab, Inisiator Komunitas #GuruBelajar & #KampusGuruCikal