PRA PERTEMUAN NASIONAL PENDIDIKAN ALTERNATIF
Undangan terbuka. Yayasan Setara bekerjasama dengan Jaringan Pendidikan Alternatif mengundang rekan rekan dan para sahabat dalam Acara : diskusi publik peran pendidikan alternatif dlm mewujudkan pendidikan yg memerdekakan anak.
Tempat dan waktu : KPID lantai 3, Jalan Mugas Raya Semarang, Minggu, 18 September 2016, pukul 15.30 - 18.00
Pemantik diskusi: 1.Bukik Setiawan - Jaringan Pendiikan Alternatif/Suara Anak 2. Ahmad Bahruddin - pendiri dan praktisi pendidikan komunitas Qariyah Toyyibah,Salatiga 3. Novi Dibyantari - komunitas sahabat difable, dipandu oleh kang putu (budayawan)
Cp yuli bdn, ika camelia 085876179406
Undangan terbuka. Yayasan Setara bekerjasama dengan Jaringan Pendidikan Alternatif mengundang rekan rekan dan para sahabat dalam Acara : diskusi publik peran pendidikan alternatif dlm mewujudkan pendidikan yg memerdekakan anak.
Tempat dan waktu : KPID lantai 3, Jalan Mugas Raya Semarang, Minggu, 18 September 2016, pukul 15.30 - 18.00
Pemantik diskusi: 1.Bukik Setiawan - Jaringan Pendiikan Alternatif/Suara Anak 2. Ahmad Bahruddin - pendiri dan praktisi pendidikan komunitas Qariyah Toyyibah,Salatiga 3. Novi Dibyantari - komunitas sahabat difable, dipandu oleh kang putu (budayawan)
Cp yuli bdn, ika camelia 085876179406
Sebagai konferensi tahunan berskala nasional, Temu Pendidik Nusantara bertujuan menjadi wadah berkumpul, bertemu, dan belajar, serta memperkuat jaringan bagi para pendidik bangsa (guru, pimpinan sekolah, pemerhati bidang pendidikan, orangtua, penggerak pendidikan di daerah).
Pada tahun ketiga ini, Temu Pendidik Nusantara akan digelar selama dua hari dengan melibatkan lebih dari 1000 pendidik dari berbagai daerah di nusantara.
Ayo pastikan Anda hadir untuk berbagi pengalaman, belajar dan membangun jaringan pendidikan!
Hari Ke-1: Pembukaan & Debat Kebijakan Publik
Jumat, 28 Oktober 2016
16.00-18.00 WIB
Gelanggang Remaja, Jl. Raya Ragunan No.1, Pasar Minggu.
Moderator: Najwa Shihab
Narasumber:
Ridwan Kamil (Walikota Bandung) & Suyoto (Bupati Bojonegoro)
Hari Ke-2 : Lokakarya
Sabtu , 29 Oktober 2016
08.30 - 16.00 WIB
Sekolah Cikal Cilandak
SDN 12 Cilandak
SDN 13 Cilandak
SMP 68 Cipete
SMA 28 Pasar Minggu
SMK 57 Ragunan
Narasumber:
ACDP Indonesia, Akademi Berbagi, Anti-Corruption Learning Center - KPK, Ayo Dongeng Indonesia, Ayomain, Cerdas Digital, Digital Edu, Diskusi Pendidikan Musik, Gerakan Peduli Musik Anak, I'm On My Way, Inibudi.org, Kampung Halaman, Kampus Guru Cikal, Keluarga Kita, Komunitas Baca Cerita Mentari, Komunitas Body Movement, Komunitas Guru Belajar, Komunitas Rumah Pencerah, Kuark Internasional, Living Qur'an, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), RPI, Science Factory, SERRUM, TemanTakita.com, Yayasan Sejiwa, Youthmanual
Harga Tiket
Tiket Hari I: Rp. 225.000
Tiket Hari II: Rp. 300.000
Tiket Hari I & II: Rp. 450.000
Daftar di http://www.kampusgurucikal.com/tpn-2016
Bila ada pertanyaan, silahkan email ke KampusGuru@Cikal.co.id dan WA 0813 11698880
Pada tahun ketiga ini, Temu Pendidik Nusantara akan digelar selama dua hari dengan melibatkan lebih dari 1000 pendidik dari berbagai daerah di nusantara.
Ayo pastikan Anda hadir untuk berbagi pengalaman, belajar dan membangun jaringan pendidikan!
Hari Ke-1: Pembukaan & Debat Kebijakan Publik
Jumat, 28 Oktober 2016
16.00-18.00 WIB
Gelanggang Remaja, Jl. Raya Ragunan No.1, Pasar Minggu.
Moderator: Najwa Shihab
Narasumber:
Ridwan Kamil (Walikota Bandung) & Suyoto (Bupati Bojonegoro)
Hari Ke-2 : Lokakarya
Sabtu , 29 Oktober 2016
08.30 - 16.00 WIB
Sekolah Cikal Cilandak
SDN 12 Cilandak
SDN 13 Cilandak
SMP 68 Cipete
SMA 28 Pasar Minggu
SMK 57 Ragunan
Narasumber:
ACDP Indonesia, Akademi Berbagi, Anti-Corruption Learning Center - KPK, Ayo Dongeng Indonesia, Ayomain, Cerdas Digital, Digital Edu, Diskusi Pendidikan Musik, Gerakan Peduli Musik Anak, I'm On My Way, Inibudi.org, Kampung Halaman, Kampus Guru Cikal, Keluarga Kita, Komunitas Baca Cerita Mentari, Komunitas Body Movement, Komunitas Guru Belajar, Komunitas Rumah Pencerah, Kuark Internasional, Living Qur'an, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), RPI, Science Factory, SERRUM, TemanTakita.com, Yayasan Sejiwa, Youthmanual
Harga Tiket
Tiket Hari I: Rp. 225.000
Tiket Hari II: Rp. 300.000
Tiket Hari I & II: Rp. 450.000
Daftar di http://www.kampusgurucikal.com/tpn-2016
Bila ada pertanyaan, silahkan email ke KampusGuru@Cikal.co.id dan WA 0813 11698880
Berkarier di zaman kreatif menjadi tantangan yang pasti akan dihadapi anak kita. Bagaimana guru dan orangtua dapat berperan membantu anak menyiapkan diri untuk berkarier cemerlang di zaman kreatif?
Ikuti Kelas Lokakarya TemanTakita.com di
Temu Pendidik Nusantara 2016: Merdeka Belajar
Sabtu, 29 Oktober 2016
08.30 - 11.30 WIB
Lokasi: SMKN 57, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Ingat dan catat Kode Kelas C13
Daftarkan diri Anda di http://www.kampusgurucikal.com/tpn-2016
Ikuti Kelas Lokakarya TemanTakita.com di
Temu Pendidik Nusantara 2016: Merdeka Belajar
Sabtu, 29 Oktober 2016
08.30 - 11.30 WIB
Lokasi: SMKN 57, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Ingat dan catat Kode Kelas C13
Daftarkan diri Anda di http://www.kampusgurucikal.com/tpn-2016
Debat Publik Pendidikan
---
Saya mendapat cerita dari Pak Riyadi Ariyanto seperti ini:
---
Baru saja sekolah saya, SMK NEGERI 1 JEMBER, melakukan terobosan penting tentang pelaksanaan ujian semester. Mulai semester ini sekolah tidak lagi membuat kepanitiaan ujian, kepengawasan, dll. Ini keren. Proses ujian semester menjadi lebih praktis, lebih hemat biaya, dan mendorong keberdayaan guru untuk memandang bahwa ujian bukan sesuatu yang terpisah dari proses pembelajaran. Dan pelan-pelan semoga ini dapat menghilangkan budaya ujian di sekolah. --- Saya ajukan dua pilihan, Anda setuju pilihan mana? Apa alasannya? --- Ujian Semester terjadwal, bersama dan oleh sekolah. Artinya, ada minggu khusus untuk ujian yang dilaksanakan serempak dan ditentukan waktunya oleh sekolah. --- Ujian Semester fleksibel, sendiri dan oleh Guru. Artinya, tidak ada minggu khusus untuk ujian. Ujian diadakan mengacu pada proses dan rencana belajar di setiap kelas. Waktu pelaksanaan ditentukan guru.
Silahkan tentukan pilihan Anda di https://www.facebook.com/groups/KomunitasGuruBelajar/permalink/585728474959368/
---
Saya mendapat cerita dari Pak Riyadi Ariyanto seperti ini:
---
Baru saja sekolah saya, SMK NEGERI 1 JEMBER, melakukan terobosan penting tentang pelaksanaan ujian semester. Mulai semester ini sekolah tidak lagi membuat kepanitiaan ujian, kepengawasan, dll. Ini keren. Proses ujian semester menjadi lebih praktis, lebih hemat biaya, dan mendorong keberdayaan guru untuk memandang bahwa ujian bukan sesuatu yang terpisah dari proses pembelajaran. Dan pelan-pelan semoga ini dapat menghilangkan budaya ujian di sekolah. --- Saya ajukan dua pilihan, Anda setuju pilihan mana? Apa alasannya? --- Ujian Semester terjadwal, bersama dan oleh sekolah. Artinya, ada minggu khusus untuk ujian yang dilaksanakan serempak dan ditentukan waktunya oleh sekolah. --- Ujian Semester fleksibel, sendiri dan oleh Guru. Artinya, tidak ada minggu khusus untuk ujian. Ujian diadakan mengacu pada proses dan rencana belajar di setiap kelas. Waktu pelaksanaan ditentukan guru.
Silahkan tentukan pilihan Anda di https://www.facebook.com/groups/KomunitasGuruBelajar/permalink/585728474959368/
Mau ikut diskusi mingguan #GuruBelajar? Yuk gabung kanal @telegram di https://telegram.me/GuruBelajar
Selamat pagi ๐๐ผ
Selamat hari Jumat ๐๐ผ
Mengapa meski tidak efektif namum metode ceramah populer di dunia pendidikan? Mengapa meski tidak relevan namun ujian terstandar tetap dipakai untuk menentukan kelulusan? Mengapa meski banyak dampak negatifnya tapi ganjaran - hukuman terus dipakai untuk mendisiplinkan pelajar? ๐ค
Mengapa pendidikan yang seharusnya menjadi pelopor perubahan justru tidak mengalami perubahan bermakna dalam 100 tahun terakhir? ๐ฑ
Pertanyaan-pertanyaan besar itu yang dijawab Bukik dengan jawaban sederhana: karena kebanyakan pendidik menganggap anak sebagai kertas kosong. ๐ฎ
Padahal tradisi masa lalu maupun riset masa kini membuktikan bahwa Anak Bukan Kertas Kosong.
Benarkah? ๐ต
Ikuti diskusi #GuruBelajar bersama,
Bukik Setiawan, dosen Kampus Guru Cikal, inisiator Komunitas Guru Belajar, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong. โบ
Jumat, 18 November 2016
WIT ~ 20.30 - 22.30
WITA ~ 19.30 - 21.30
WIB ~ 18.30 - 20.30
Bagaimana caranya?
Segera bergabung di Kanal Telegram #GuruBelajar. Klik https://telegram.me/GuruBelajar ๐
Sampai jumpa malam nanti ๐๐ผ
Selamat hari Jumat ๐๐ผ
Mengapa meski tidak efektif namum metode ceramah populer di dunia pendidikan? Mengapa meski tidak relevan namun ujian terstandar tetap dipakai untuk menentukan kelulusan? Mengapa meski banyak dampak negatifnya tapi ganjaran - hukuman terus dipakai untuk mendisiplinkan pelajar? ๐ค
Mengapa pendidikan yang seharusnya menjadi pelopor perubahan justru tidak mengalami perubahan bermakna dalam 100 tahun terakhir? ๐ฑ
Pertanyaan-pertanyaan besar itu yang dijawab Bukik dengan jawaban sederhana: karena kebanyakan pendidik menganggap anak sebagai kertas kosong. ๐ฎ
Padahal tradisi masa lalu maupun riset masa kini membuktikan bahwa Anak Bukan Kertas Kosong.
Benarkah? ๐ต
Ikuti diskusi #GuruBelajar bersama,
Bukik Setiawan, dosen Kampus Guru Cikal, inisiator Komunitas Guru Belajar, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong. โบ
Jumat, 18 November 2016
WIT ~ 20.30 - 22.30
WITA ~ 19.30 - 21.30
WIB ~ 18.30 - 20.30
Bagaimana caranya?
Segera bergabung di Kanal Telegram #GuruBelajar. Klik https://telegram.me/GuruBelajar ๐
Sampai jumpa malam nanti ๐๐ผ
Merdeka Belajar (2): Memilih Cara Alternatif
Menyepakati tujuan dan cita-cita tidak mudah, namun saya selalu mengatakan, di dunia pendidikan, yang jauh lebih sulit adalah menyepakati cara. Kalau kita memilih pendekatan Guru Belajar, maka kita memilih cara alternatif, cara yang terasa lebih sulit, namun saya yakini menjadi titik perubahan reformasi pendidikan saat berbicara tentang pengembangan guru.
Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. Yang saya katakan bukan guru adalah kunci. Ada perbedaan besar antara "sekedar" menyebut guru dengan menyebut guru yang merdeka belajar. Pernyataan pertama sering kita dengar, ratusan penelitian menunjukkan betapa kompetensi guru menjadi salah satu faktor penting (angkanya beragam 7-20%) yang menentukan capaian siswa. Namun pernyataan guru penting dalam penjelasan ini membatasi peran guru seolah hanya sebagai faktor dalam produksi, mencetak murid dengan karakteristik tertentu membutuhkan guru dengan karakteritik tertentu yang juga perlu dicetak, diajar, dan seterusnya. Saat saya mengatakan bahwa "guru merdeka belajar adalah kunci", maka saya berbicara jauh lebih besar dari sekedar individu guru sebagai "input", tapi peran guru yang berdaya dalam konteks dan struktur pendidikan kita di Indonesia.
Sekali lagi, bila tujuannya adalah demokrasi, murid yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan, pendidik yang merdeka belajar adalah kuncinya.
Saya baru 20 tahun jadi pendidik ibu dan bapak, baru 20 tahun belajar bersama guru-guru. Di setiap sesi pengembangan guru, pertanyaan "standar" saya, adalah apakah ibu dan bapak merasa merdeka. Kemerdekaan bukan diberikan, tapi harus direbut karena percaya kuatnya kemampuan diri sendiri.
Sumber: http://bit.ly/MerdekaBelajar2
Menyepakati tujuan dan cita-cita tidak mudah, namun saya selalu mengatakan, di dunia pendidikan, yang jauh lebih sulit adalah menyepakati cara. Kalau kita memilih pendekatan Guru Belajar, maka kita memilih cara alternatif, cara yang terasa lebih sulit, namun saya yakini menjadi titik perubahan reformasi pendidikan saat berbicara tentang pengembangan guru.
Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. Yang saya katakan bukan guru adalah kunci. Ada perbedaan besar antara "sekedar" menyebut guru dengan menyebut guru yang merdeka belajar. Pernyataan pertama sering kita dengar, ratusan penelitian menunjukkan betapa kompetensi guru menjadi salah satu faktor penting (angkanya beragam 7-20%) yang menentukan capaian siswa. Namun pernyataan guru penting dalam penjelasan ini membatasi peran guru seolah hanya sebagai faktor dalam produksi, mencetak murid dengan karakteristik tertentu membutuhkan guru dengan karakteritik tertentu yang juga perlu dicetak, diajar, dan seterusnya. Saat saya mengatakan bahwa "guru merdeka belajar adalah kunci", maka saya berbicara jauh lebih besar dari sekedar individu guru sebagai "input", tapi peran guru yang berdaya dalam konteks dan struktur pendidikan kita di Indonesia.
Sekali lagi, bila tujuannya adalah demokrasi, murid yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan, pendidik yang merdeka belajar adalah kuncinya.
Saya baru 20 tahun jadi pendidik ibu dan bapak, baru 20 tahun belajar bersama guru-guru. Di setiap sesi pengembangan guru, pertanyaan "standar" saya, adalah apakah ibu dan bapak merasa merdeka. Kemerdekaan bukan diberikan, tapi harus direbut karena percaya kuatnya kemampuan diri sendiri.
Sumber: http://bit.ly/MerdekaBelajar2
Merdeka Belajar (3): Sulitnya Komitmen, Mandiri dan Refleksi
Najelaa Shihab, Inisiator Komunitas Guru Belajar, Dosen Kampus Guru Cikal
Pengalaman di komunitas guru belajar menunjukkan bahwa perjalanan menuju merdeka belajar ini tidak mudah.
Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Setiap dari kita yang setiap hari bergiat di pendidikan, sadar sulitnya konsisten pada tujuan di saat begitu banyak tugas administrasi dan birokrasi menyita begitu banyak waktu. Dalam diskusi dengan teman-teman guru belajar dari Ambon beberapa minggu lalu saya belajar bahwa dalam perjuangan ini, kita harus bisa membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik.
Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan - mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi.
Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Berbincang dengan teman guru belajar di Wonosobo, saya sadar betapa refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah.
Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas pendidikan yang sangat interdisiplin, membuatnya tidak mudah diwujudkan. Saya ingat betul, Donna Shahlal, salah seorang pakar pendidikan membandingkan betapa sederhananya proses mengirimkan pesawat Apollo ke bulan yang dilakukan NASA di tahun 1970-an dibandingkan dengan reformasi pendidikan yang dilangsungkan di Amerika Serikat di rentang waktu yang sama. Upaya mengubah ekosistem pendidikan butuh dana lebih besar, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dan membutuhkan waktu lebih panjang terkadang tanpa bukti nyata keberhasilan.
Tak heran pendidikan selalu dikatakan penting, tapi tidak pernah menjadi prioritas. Tak heran sebagian dari kita frustasi. Tak heran sebagian memilih keluar dari sistem, memilih "exit" bukan "voice". Tapi guru di komunitas guru belajar yakin bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan merdeka belajar adalah memilih berdaya dengan bersuara lebih keras.
Sumber: http://bit.ly/MerdekaBelajar3
Najelaa Shihab, Inisiator Komunitas Guru Belajar, Dosen Kampus Guru Cikal
Pengalaman di komunitas guru belajar menunjukkan bahwa perjalanan menuju merdeka belajar ini tidak mudah.
Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Setiap dari kita yang setiap hari bergiat di pendidikan, sadar sulitnya konsisten pada tujuan di saat begitu banyak tugas administrasi dan birokrasi menyita begitu banyak waktu. Dalam diskusi dengan teman-teman guru belajar dari Ambon beberapa minggu lalu saya belajar bahwa dalam perjuangan ini, kita harus bisa membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik.
Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakkan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Dalam percakapan dengan guru belajar dari Sukabumi, saya terhenyak oleh masih banyaknya praktek manipulasi yang terjadi saat berbicara tentang pengembangan guru; uang, kepentingan dan jabatan - mengotori semangat belajar. Tingkat pelibatan publik di Indonesia sebetulnya cukup tinggi, secara umum data menunjukkan tingkat keterlibatan di negara berkembang memang lebih baik dibanding negara maju. Namun, saat kita melihat tahapan pelibatan publik, lebih banyak guru yang kemudian berhenti sampai di tingkat konsultasi atau kemitraan, belum sampai ke tingkat berdaya dan mengendalikan. Padahal perubahan nyata membutuhkan tingkat keterlibatan tertinggi.
Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi ini mudah dikatakan, namun sulit dilakukan. Berbincang dengan teman guru belajar di Wonosobo, saya sadar betapa refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Sebagian dari kita menolak membuka mata dan melihat cermin, dengan seratus alasan, masyarakat belum siap, orangtua tidak mendukung, murid tidak paham, dan seterusnya. Transparansi dan akuntabilitas pendidik disederhanakan sampai kehilangan maknanya sekedar skor dan mengisi form. Refleksi selesai dengan selesainya tugas administrasi, tanpa percakapan yang bermakna dan mendorong kita untuk berubah.
Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas pendidikan yang sangat interdisiplin, membuatnya tidak mudah diwujudkan. Saya ingat betul, Donna Shahlal, salah seorang pakar pendidikan membandingkan betapa sederhananya proses mengirimkan pesawat Apollo ke bulan yang dilakukan NASA di tahun 1970-an dibandingkan dengan reformasi pendidikan yang dilangsungkan di Amerika Serikat di rentang waktu yang sama. Upaya mengubah ekosistem pendidikan butuh dana lebih besar, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dan membutuhkan waktu lebih panjang terkadang tanpa bukti nyata keberhasilan.
Tak heran pendidikan selalu dikatakan penting, tapi tidak pernah menjadi prioritas. Tak heran sebagian dari kita frustasi. Tak heran sebagian memilih keluar dari sistem, memilih "exit" bukan "voice". Tapi guru di komunitas guru belajar yakin bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan merdeka belajar adalah memilih berdaya dengan bersuara lebih keras.
Sumber: http://bit.ly/MerdekaBelajar3
Selamat sore!
Diskusi mingguan #GuruBelajar
Jumat, 25 Nov 2016
18.30 - 20.30 WIB
Tema: Praktik layanan bimbingan konseling di sekolah
Narasumber: Usman Djabbar (KGB Makassar)
Moderator : Desi Imam Harmika (KGB Tanah Bumbu)
Silahkan bergabung di https://telegram.me/diskusigurubelajar
Jangan sampai ketinggalan lagi
Diskusi mingguan #GuruBelajar
Jumat, 25 Nov 2016
18.30 - 20.30 WIB
Tema: Praktik layanan bimbingan konseling di sekolah
Narasumber: Usman Djabbar (KGB Makassar)
Moderator : Desi Imam Harmika (KGB Tanah Bumbu)
Silahkan bergabung di https://telegram.me/diskusigurubelajar
Jangan sampai ketinggalan lagi
Tuisan dari Guru Rahayu Ujianti Putu ini sungguh menghangatkan hati, bahwa kita masih punya banyak saudara sevisi.
Berani menjadi guru, berarti berani berdarah-darah.
Berani menahan perasaan, berani patah hati berulang-ulang. Jika seseorang yang merasa patah hati sekali saja lalu bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi seumur hidupnya, seorang guru sejati, pada akhirnya menerima bahwa patah hati adalah bagian dari kodrat profesi. Banyak yang bisa menjadi penyebab seorang guru patah hati. Mulai dari harus berdamai dengan kurikulum yang lebih ke โmenghajarโ daripada mengajar, pemberlakuan sistem evaluasi yang terasa kurang fair, karena tak benar-benar dapat menggambarkan seorang siswa secara keseluruhan, sampai beberapa siswa yang kepadanya sungguh diberikan hati dan jiwa namun ternyata memilih berpaling pada hal-hal lain, kecuali belajar dan sekolah.
Lengkapnya baca di https://rahayujianti.wordpress.com/2016/11/27/ketika-kami-patah-hati/
Berani menjadi guru, berarti berani berdarah-darah.
Berani menahan perasaan, berani patah hati berulang-ulang. Jika seseorang yang merasa patah hati sekali saja lalu bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi seumur hidupnya, seorang guru sejati, pada akhirnya menerima bahwa patah hati adalah bagian dari kodrat profesi. Banyak yang bisa menjadi penyebab seorang guru patah hati. Mulai dari harus berdamai dengan kurikulum yang lebih ke โmenghajarโ daripada mengajar, pemberlakuan sistem evaluasi yang terasa kurang fair, karena tak benar-benar dapat menggambarkan seorang siswa secara keseluruhan, sampai beberapa siswa yang kepadanya sungguh diberikan hati dan jiwa namun ternyata memilih berpaling pada hal-hal lain, kecuali belajar dan sekolah.
Lengkapnya baca di https://rahayujianti.wordpress.com/2016/11/27/ketika-kami-patah-hati/
Single Mom's Diary
Ketika Kami Patah Hati
Educating the mind without educating the heart is no education at all (Aristotle) Guru itu medan perjuangannya ada di dalam kelas, yang kadang begitu suram, dengan tembok yang sudah kusam catnya daโฆ