*Mengapa intervensi paling komprehensif justru paling berisiko gagal?*
Bukan karena cakupannya terlalu luas β tapi karena luasnya itu jarang diuji terhadap kapasitas nyata yang akan menjalankannya.
https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-intervensi-paling-komprehensif-justru-gagal-bukik-setiawan-h0cxe
Bukan karena cakupannya terlalu luas β tapi karena luasnya itu jarang diuji terhadap kapasitas nyata yang akan menjalankannya.
https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-intervensi-paling-komprehensif-justru-gagal-bukik-setiawan-h0cxe
Linkedin
Mengapa intervensi paling komprehensif justru paling berisiko gagal?
The English version of the article can be read at this link. Bukan karena cakupannya terlalu luas β tapi karena luasnya itu jarang diuji terhadap kapasitas nyata yang akan menjalankannya.
β€1π₯1π1
When a program ends, why does the impact leave with it?
Many education programs end with strong evaluations, yet a year later most of their impact is gone β and this is not a failure of implementation, but a hidden assumption about agency that needs re-examining.
https://www.linkedin.com/pulse/when-program-ends-why-does-impact-leave-yayasangurubelajar-ukqse/
Many education programs end with strong evaluations, yet a year later most of their impact is gone β and this is not a failure of implementation, but a hidden assumption about agency that needs re-examining.
https://www.linkedin.com/pulse/when-program-ends-why-does-impact-leave-yayasangurubelajar-ukqse/
Linkedin
When a program ends, why does the impact leave with it?
Many education programs end with strong evaluations, yet a year later most of their impact is gone β and this is not a failure of implementation, but a hidden assumption about agency that needs re-examining. Many education programs conclude with strong evaluations.
Menggendong yang Tidak Pernah Saya Kuasai
Andala bergerak menjauh dari posisi yang saya kira sudah pas β saya ikut bergerak, dan begitu terus, sampai saya kehilangan hitungan keberapa kalinya.
https://medium.com/p/menggendong-yang-tidak-pernah-saya-kuasai-1af047b87650?source=social.tw
Andala bergerak menjauh dari posisi yang saya kira sudah pas β saya ikut bergerak, dan begitu terus, sampai saya kehilangan hitungan keberapa kalinya.
https://medium.com/p/menggendong-yang-tidak-pernah-saya-kuasai-1af047b87650?source=social.tw
Medium
Menggendong yang Tidak Pernah Saya Kuasai
Andala bergerak menjauh dari posisi yang saya kira sudah pas β saya ikut bergerak, dan begitu terus, sampai saya kehilangan hitunganβ¦
β€1
Proyek selesai dengan baik, tapi bagaimana ekosistemnya?
Semakin disiplin sebuah proyek mengikuti logikanya sendiri, semakin jauh hasilnya dari ekosistem yang ingin dibangunnya.
https://www.linkedin.com/pulse/proyek-selesai-dengan-baik-tapi-bagaimana-bukik-setiawan-xhpvc
Semakin disiplin sebuah proyek mengikuti logikanya sendiri, semakin jauh hasilnya dari ekosistem yang ingin dibangunnya.
https://www.linkedin.com/pulse/proyek-selesai-dengan-baik-tapi-bagaimana-bukik-setiawan-xhpvc
Linkedin
Proyek selesai dengan baik, tapi bagaimana ekosistemnya?
The English version of the article can be read at this link. Semakin disiplin sebuah proyek mengikuti logikanya sendiri, semakin jauh hasilnya dari ekosistem yang ingin dibangunnya.
Membaca yang Ternyata Bukan Milik Saya
Andala menoleh ke arah buku, lalu menatap ibunya, seperti memastikan sesuatu sebelum menoleh lagi ke halaman yang sedang dibuka.
https://medium.com/@bukik/membaca-yang-ternyata-bukan-milik-saya-a18cd65effa7
Andala menoleh ke arah buku, lalu menatap ibunya, seperti memastikan sesuatu sebelum menoleh lagi ke halaman yang sedang dibuka.
https://medium.com/@bukik/membaca-yang-ternyata-bukan-milik-saya-a18cd65effa7
Medium
Membaca yang Ternyata Bukan Milik Saya
Andala menoleh ke arah buku, lalu menatap ibunya, seperti memastikan sesuatu sebelum menoleh lagi ke halaman yang sedang dibuka.
Mengapa Peningkatan Kapasitas yang Berulang Tidak Selalu Memperbesar Dampak pada Komunitas?
Portofolio proyeknya terus bertambah, kemampuan mengelolanya terus meningkat β tapi daya pengaruh organisasi terhadap perubahan yang sebenarnya berhenti di titik yang sama selama bertahun-tahun.
https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-peningkatan-kapasitas-yang-berulang-tidak-selalu-setiawan-3lx9c
Portofolio proyeknya terus bertambah, kemampuan mengelolanya terus meningkat β tapi daya pengaruh organisasi terhadap perubahan yang sebenarnya berhenti di titik yang sama selama bertahun-tahun.
https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-peningkatan-kapasitas-yang-berulang-tidak-selalu-setiawan-3lx9c
Mengapa Miskonsepsi Manajemen Berbasis Sekolah Dirawat Dua Dekade Lebih?
Sebuah miskonsepsi bisa bertahan dua dekade lebih bukan karena tidak terlihat, tapi karena semua pihak punya alasan untuk tidak melihatnya.
https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-miskonsepsi-manajemen-berbasis-sekolah-dirawat-bukik-setiawan-egx9c
Sebuah miskonsepsi bisa bertahan dua dekade lebih bukan karena tidak terlihat, tapi karena semua pihak punya alasan untuk tidak melihatnya.
https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-miskonsepsi-manajemen-berbasis-sekolah-dirawat-bukik-setiawan-egx9c
Linkedin
Mengapa Miskonsepsi Manajemen Berbasis Sekolah Dirawat Dua Dekade Lebih?
The English version of the article can be read at this link. Sebuah miskonsepsi bisa bertahan dua dekade lebih bukan karena tidak terlihat, tapi karena semua pihak punya alasan untuk tidak melihatnya.
Mengapa Menulis Community First
Kami telah terjun dalam dunia pendidikan lebih dari 27 tahun, berawal di Sekolah Cikal hingga pada tahun 2016 berdiri menjadi Guru Belajar Foundation. Kami mencapai sejumlah keberhasilan, sebagaimana kami mendapatkan pelajaran dari sejumlah kegagalan.
Dari kegiatan pelatihan guru, menjadi program peningkatan kapasitas yang lebih kompleks, hingga menjadi pengorganisasian komunitas yang lebih berdaya. Hingga saat ini, kami telah mendampingi puluhan ribu guru belajar di lebih dari 200 daerah di Indonesia dengan beragam level keberdayaan. Perluasan dampak melalui Program Pengembangan Kepemimpinan Guru dan Temu Pendidik Nusantara pun telah mendapatkan rekognisi global sebagai 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development.
Dari perjalanan panjang tersebut, kami mengenali sejumlah pola yang bertahan dalam ekosistem pendidikan dari waktu ke waktu. Ada pola yang menghasilkan keberhasilan dan terus merawat peningkatan. Ada pola yang menghasilkan kegagalan meski seringkali bisa dikemas sebagai keberhasilan.
Sebagaimana komitmen kami dalam pembelajaran berpihak pada anak, maka komitmen kami dalam pendidikan adalah berpihak pada komunitas. Apabila selama ini program lebih dipandang dari sudut pandang manajemen, kami menggeser lensanya menjadi sudut pandang komunitas. Karena komunitas bukan hanya penerima manfaat, tapi penggerak sesungguhnya dari misi yang dibawa oleh program.
Oleh karena itu, kami mencetuskan buletin Community First di LinkedIn β untuk menyajikan wawasan dari sudut pandang komunitas. Harapannya, ketika manajemen program, baik CSR maupun lembaga filantropi, mendapatkan wawasan ini, akan lahir program yang lebih berdampak dan berkelanjutan.
Enam artikel yang telah terbit sejauh ini sebenarnya berputar di satu titik yang sama: yang selama ini dirawat sebagai keberhasilan sering kali hanyalah kepatuhan pada logika program β bukan pada kebutuhan komunitas yang bergerak jauh lebih lambat dan tidak selalu linear.
Enam pola ini baru diagnosis. Dari sinilah kami sedang menyusun langkah berikutnya β bagaimana pola-pola ini bisa dijawab, bukan sekadar dikenali. Dan untuk sampai ke sana, kami butuh satu hal yang tidak bisa kami dapatkan dari refleksi internal saja: sudut pandang Anda sebagai pembaca yang mengalami langsung ekosistem ini dari posisi yang berbeda-beda.
Caranya sederhana. Dari enam artikel di atas, pilih satu yang paling terasa dekat dengan yang pernah Anda alami atau amati β lalu jawab di kolom komentar:
Kenapa artikel itu yang paling terasa dekat bagi Anda?
Apa yang menurut Anda masih perlu ditambahkan atau diperbaiki dari artikel tersebut?
Jawaban paling tajam dan reflektif β baik yang mengafirmasi maupun yang mengoreksi β akan kami pilih untuk mendapatkan buku terbitan GBF, sebagai tanda terima kasih. Batas menjawab: 10 Agustus.
Kami menunggu sudut pandang Anda di https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-menulis-community-first-bukik-setiawan-2ir9c
Kami telah terjun dalam dunia pendidikan lebih dari 27 tahun, berawal di Sekolah Cikal hingga pada tahun 2016 berdiri menjadi Guru Belajar Foundation. Kami mencapai sejumlah keberhasilan, sebagaimana kami mendapatkan pelajaran dari sejumlah kegagalan.
Dari kegiatan pelatihan guru, menjadi program peningkatan kapasitas yang lebih kompleks, hingga menjadi pengorganisasian komunitas yang lebih berdaya. Hingga saat ini, kami telah mendampingi puluhan ribu guru belajar di lebih dari 200 daerah di Indonesia dengan beragam level keberdayaan. Perluasan dampak melalui Program Pengembangan Kepemimpinan Guru dan Temu Pendidik Nusantara pun telah mendapatkan rekognisi global sebagai 10 finalis UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development.
Dari perjalanan panjang tersebut, kami mengenali sejumlah pola yang bertahan dalam ekosistem pendidikan dari waktu ke waktu. Ada pola yang menghasilkan keberhasilan dan terus merawat peningkatan. Ada pola yang menghasilkan kegagalan meski seringkali bisa dikemas sebagai keberhasilan.
Sebagaimana komitmen kami dalam pembelajaran berpihak pada anak, maka komitmen kami dalam pendidikan adalah berpihak pada komunitas. Apabila selama ini program lebih dipandang dari sudut pandang manajemen, kami menggeser lensanya menjadi sudut pandang komunitas. Karena komunitas bukan hanya penerima manfaat, tapi penggerak sesungguhnya dari misi yang dibawa oleh program.
Oleh karena itu, kami mencetuskan buletin Community First di LinkedIn β untuk menyajikan wawasan dari sudut pandang komunitas. Harapannya, ketika manajemen program, baik CSR maupun lembaga filantropi, mendapatkan wawasan ini, akan lahir program yang lebih berdampak dan berkelanjutan.
Enam artikel yang telah terbit sejauh ini sebenarnya berputar di satu titik yang sama: yang selama ini dirawat sebagai keberhasilan sering kali hanyalah kepatuhan pada logika program β bukan pada kebutuhan komunitas yang bergerak jauh lebih lambat dan tidak selalu linear.
Enam pola ini baru diagnosis. Dari sinilah kami sedang menyusun langkah berikutnya β bagaimana pola-pola ini bisa dijawab, bukan sekadar dikenali. Dan untuk sampai ke sana, kami butuh satu hal yang tidak bisa kami dapatkan dari refleksi internal saja: sudut pandang Anda sebagai pembaca yang mengalami langsung ekosistem ini dari posisi yang berbeda-beda.
Caranya sederhana. Dari enam artikel di atas, pilih satu yang paling terasa dekat dengan yang pernah Anda alami atau amati β lalu jawab di kolom komentar:
Kenapa artikel itu yang paling terasa dekat bagi Anda?
Apa yang menurut Anda masih perlu ditambahkan atau diperbaiki dari artikel tersebut?
Jawaban paling tajam dan reflektif β baik yang mengafirmasi maupun yang mengoreksi β akan kami pilih untuk mendapatkan buku terbitan GBF, sebagai tanda terima kasih. Batas menjawab: 10 Agustus.
Kami menunggu sudut pandang Anda di https://www.linkedin.com/pulse/mengapa-menulis-community-first-bukik-setiawan-2ir9c
Linkedin
Mengapa Menulis Community First
Kami telah terjun dalam dunia pendidikan lebih dari 27 tahun, berawal di Sekolah Cikal hingga pada tahun 2016 berdiri menjadi Guru Belajar Foundation. Kami mencapai sejumlah keberhasilan, sebagaimana kami mendapatkan pelajaran dari sejumlah kegagalan.
β€1
Budaya Hore-hore yang Belum Saya Tanyai
Sebelum saya sempat bertanya apa-apa, kepala saya sudah dikalungi budaya hore-hore β dan saya baru tahu itu namanya belakangan.
https://medium.com/@bukik/budaya-hore-hore-yang-belum-saya-tanyai-f356606ff685?sharedUserId=bukik
Sebelum saya sempat bertanya apa-apa, kepala saya sudah dikalungi budaya hore-hore β dan saya baru tahu itu namanya belakangan.
https://medium.com/@bukik/budaya-hore-hore-yang-belum-saya-tanyai-f356606ff685?sharedUserId=bukik
Medium
Budaya Hore-hore yang Belum Saya Tanyai
Sebelum saya sempat bertanya apa-apa, kepala saya sudah dikalungi budaya hore-hore β dan saya baru tahu itu namanya belakangan.
Guru Mendorong, Murid Menumpang dan Pembelajaran yang Jalan di Tempat
Mengapa kelas dan program donor sama-sama sibuk, tapi pembelajarannya jalan di tempat?
https://www.linkedin.com/pulse/guru-mendorong-murid-menumpang-dan-pembelajaran-yang-jalan-setiawan-9xtuc
Mengapa kelas dan program donor sama-sama sibuk, tapi pembelajarannya jalan di tempat?
https://www.linkedin.com/pulse/guru-mendorong-murid-menumpang-dan-pembelajaran-yang-jalan-setiawan-9xtuc
Linkedin
Guru Mendorong, Murid Menumpang dan Pembelajaran yang Jalan di Tempat
The English version of the article can be read at this link. Mengapa kelas dan program donor sama-sama sibuk, tapi pembelajarannya jalan di tempat? Saya sering mendengar penjelasan serupa ketika bertanya pada guru-guru mengapa mereka mengajar terburu-buru.
Mencicipi Tanpa Mengubah Resep: Ketika Data Berhenti di Titik Pengumpulan
Mengapa data penilaian yang dikumpulkan dengan rajin tidak mengubah proses apa pun?
https://www.linkedin.com/pulse/mencicipi-tanpa-mengubah-resep-ketika-data-berhenti-di-bukik-setiawan-fsy1c
Mengapa data penilaian yang dikumpulkan dengan rajin tidak mengubah proses apa pun?
https://www.linkedin.com/pulse/mencicipi-tanpa-mengubah-resep-ketika-data-berhenti-di-bukik-setiawan-fsy1c
Linkedin
Mencicipi Tanpa Mengubah Resep: Ketika Data Berhenti di Titik Pengumpulan
Mengapa data penilaian yang dikumpulkan dengan rajin tidak mengubah proses apa pun? Saya pernah mengamati sebuah kelas yang berjalan dengan ritme yang meyakinkan. Guru mengajukan pertanyaan, sejumlah murid mengacungkan jari, salah satu dari mereka menjawabβ¦