ᴛ ʜ ᴇ • ᴋ ʏ ᴏ ᴛ ' ꜱ
70 subscribers
390 photos
41 videos
116 links
•020819•
Hanya quote yang diadaptasi daripada kisah benar kehidupan seorang insan
-
Boost to premium:
» https://t.me/kyotquote?boost

Instagram:
» https://instagram.com/kyotquote

Discussion group:
» t.me/kyotgroupp
Download Telegram
Dari senja kita belajar bahawa menunggu yang indah itu perlu sabar.

Dari pelangi kita sedar bahawa yang indah cuma sementara.
Setiap kali hari berlalu tak pernah jemu untuk terus mencintaimu,
setiap bait bicaramu akan ku semat dalam jiwaku dan
tiap perilaku mu akan ku ingati dalam memoriku.
Sayang, sungguh aku tulus mencintaimu. Sungguh aku beruntung dapat mengenali dan memilikimu. Tiada kata yang dapat ku ungkapkan untuk menyatakan betapa besarnya rasa sayang ku padamu. Maaf kerna terlalu sayang. Maaf kerna terlalu rindu. Maaf kerna terlalu cinta. Maaf kerna takut kehilanganmu.
Sungguh, disini benar benar menjadi coretan hati yang terbuku dalam hatiku.
Jadi,kisah lama dan baru semuanya tersurat di sini.
Jangan kamu hadir membaca coretan ini dan mengganggap cerita lama itu masih membayangi diriku.
Tidak. Tidak sayang. Sekarang kisahku hanyalah dirimu, tetap kamu selalu.
Hakikatnya memang sakit untuk pendam, tapi itulah yang kita kena hadam.
It’s okay to not be okay sometimes.
pabila tiba saat malam yang hening ditemani jiwa yang runsing, ketika itulah hati meronta bertemankan air mata.
1
Aku lelah dan hampir rebah, itulah hakikat untuk orang yang lemah.
Tak, bukan sedang bersedih, cuma falsafah hati yang mulai berbicara.
Tak, bukan luahan isi hati, cuma kiasan kata yang biasa.
satu pesanan,
kalau nak cakap apa apa, jangan atas dasar kesian atau jaga hati.
tau tak aku berharap ? ☺️
jangan jadi beban kalau tau diri tu ringan.
Peritnya perlu berdamai dengan rasa sakit
Aku cemburu,
namun tanganku lumpuh tanpa daya,
hanya mampu menyembunyikan resah
di balik senyum yang rapuh.

Layakkah aku,
menyimpan bara yang tak pernah menjadi api?
Ataukah cemburu ini hanyalah
bayangan yang menipu hati sendiri?

Dalam diam aku bertanya,
kepada diri yang tak pernah berani:
apakah rasa ini hakiku,
atau sekadar ilusi yang tak berhak ku miliki?
Ada resah yang bersembunyi,
menyala pelan di balik dada,
namun aku hanya mampu
menjahit senyum pada wajahku.

Layakkah aku,
menyimpan getar yang tak terucap?
Ataukah rasa ini hanyalah
bayangan yang menipu hati sendiri?

Dalam diam aku bertanya,
kepada diri yang tak pernah berani:
apakah debar ini hakiku,
atau sekadar ilusi yang tak berhak ku miliki?
Ada gelora berdiam di hati,
umpama bara terselubung asap;
tiada mampu ia terluah,
melainkan tersamar dalam senyuman halus.

Patutkah rasa sebegini hadir,
jika tiada jalan untuk bersuara?
Atau sekadar bayang-bayang maya,
mengusik jiwa dengan helahnya?

Maka tinggallah ia dalam diam,
bagai rahsia terkurung di dada;
antara hak dan ilusi semata,
tiada siapa yang tahu punca.
Ada resah berbalut rahsia,
bagai bara terkurung dalam kalbu;
tiada tersua pada wajahnya,
hanya senyum menjadi tirai yang palsu.

Patutkah hadir rasa sebegini,
andai tiada hak pada pangkalnya?
Atau hanyalah bayang lintang lalu,
mengusik sukma dengan helahnya?

Maka tinggallah ia dalam sunyi,
bagai gurindam tak berlagu;
menjadi igauan pada malam sepi,
antara hakikat atau sekadar mimpi yang palsu.
Ada dukacita bersemayam di sukma,
bagai gerimis tak bertuan,
menitik halus di helaian jiwa,
hingga senyum pun menjadi topeng bayangan.

Layakkah rasa ini bersemarak,
sedang tiada asal usulnya nyata?
Ataukah cuma asmara fatamorgana,
menyilaukan kalbu dengan mantera maya?

Maka terkurunglah ia dalam sunyi,
umpama gurindam tiada penutup;
menjadi candu pada malam sepi,
antara hakikat atau sekadar bayang yang menipu.
A sorrow dwells within the soul,
like rain that bows to no master,
falling soft upon the parchment of the heart,
till even a smile becomes a mask of shadow.

Is such a flame fit to endure,
when no true root can be unearthed?
Or is it but a phantom of longing,
bewitching the spirit with borrowed dreams?

So it lingers, bound in silence,
a verse bereft of its final line;
an opiate for the sleepless dark,
half-illusion, half-truth, forever unnamed.
Seperti samudera mendakap pantai,
hadirmu teduh, resahku pun damai.

Bagaikan purnama di langit kelam,
kaulah rumah, tempat hatiku pulang.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM