𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗯𝗮𝘀𝗶𝗰 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀®
62 subscribers
31 photos
1 video
1 file
46 links
Misykat il masobih (tangga pembuka ilmu)
Pra amatur
Download Telegram
lain dari Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Imran bin Hushain, dan Anas bin Malik. Beliau merupakan guru bagi Qatadah bin Di'amah, Khalid al-Hadda, Ayyub al-Sakhtiyani, dan lain-lain. Ibnu Sirin dilahirkan dua tahun sebelum pemerintahan Utsman bin Affan berakhir. Anas bin Malik pada saat berada di Persia menjadikan Ibnu Sirin sebagai sekretarisnya.

6. MUHAMMAD IBNU SYIHAB AZ ZUHRI

Beliau adalah ulama dengan andil besar dalam pembukuan hadis. Bahkan disebutkan dalam biografinya sebagai ulama yang pertama kali membukukan hadis atas perintah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.
Bukan saja kapasitas keilmuannya yang diakui ulama yang sezaman dengannya. Namun keuletan dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu agama sangat mengagumkan.
Nama beliau sebenarnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin Syihab bin 'Abdullah bin al-Harith bin Zuhrah. Lebih populer dengan nama Ibnu Syihab Az Zuhri.
Satu pendapat menyebutkan bahwa Az Zuhri lahir pada tahun 51 H. Sejak awal beliau tumbuh dan berkembang di lingkungan yang agamis. Ayah beliau yang bernama Muslim bin Abdillah adalah seorang perawi hadis yang tsiqah (terpercaya).
Adapun ibundanya adalah Ummu Ahban bintu Laqith bin Urwah bin Ya’mur. Az Zuhri memiliki seorang saudara laki yang lebih muda usianya bernama Abdullah bin Muslim. Dia sempat bertemu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dan meriwayatkan darinya, namun meninggal sebelum Az Zuhri.
Meskipun berstatus sebagai shighar tabiin (tabiin junior) namun beliau adalah ulama besar di masanya. Az Zuhri banyak menimba ilmu dari sebagian shahabat dan para pembesar ulama tabiin. Semisal Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, Said bin Al Musayyib, Al
Hasan Al Bashri, Urwah bin Zubair, Atha bin Abi Rabah, dan masih banyak yang lainnya. Terutama dari Said bin Al Musayyib rahimahullah, beliau adalah salah satu gurunya yang sangat istimewa. Dalam kurun waktu itu, beliau tinggal dan menimba ilmu dari Said bin Al Musayyib.
Potensi besarnya sebagai ulama telah diketahui oleh Khalifah Bani Umayah saat itu, berawal dari pertemuannya dengan Abdul Malik bin Marwan untuk yang pertama kalinya.
Lantas Abdul Malik bertanya kepadanya, “Apakah engkau hafal Al Quran?” “Ya,” jawab Az Zuhri.
Kemudian Abdul Malik pun melanjutkan pertanyaannya seputar faraidh dan sunnah. Dijawablah semua itu dengan baik olehnya sehingga Abdul Malik terkesan dan kagum terhadapnya.
Hingga Abdul Malik memberikan hadiah kepada Az Zuhri dan melunasi hutangnya. Tidak hanya itu, ia juga membelikan rumah dan pelayan untuk Az Zuhri seraya mengatakan kepadanya,
“Carilah ilmu agama, sungguh aku melihat potensi hafalan yang kuat pada dirimu dan kecerdasan dalam kalbumu. Datangilah orang-orang Anshar di rumah-rumah mereka.”
Sejak saat itu, Zuhri mengambil ilmu dari para shahabat Anshar Madinah dan di sana beliau menjumpai ilmu yang sangat berlimpah.
Di antara faktor pendukung keberhasilannya menuntut ilmu adalah kesungguhannya dalam belajar. Bahkan Az Zuhri sangat tekun untuk selalu menulis setiap ilmu yang ia dengar. Keseriusannya dalam menimba ilmu dipersaksikan oleh ulama di masanya.
Menuntut ilmu agama memang membutuhkan perjuangan ekstra untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki sekali pun tidak mungkin bisa menjangkau seluruh ilmu yang ada. Apalagi ketika seseorang hanya mengerahkan sebagian kemampuannya saja. Tentu hasil yang diperoleh tidak akan maksimal dan jauh dari harapan.
Perihal kesungguhan Az Zuhri dalam menuntut ilmu juga diakui oleh Shalih bin Kaisan rahimahullah. Perjuangan dan kesungguhannya menuntut ilmu agama terkadang membuat sang istri cemburu. Amr bin Dinar berkisah,
“Di antara aktivitas Az Zuhri di rumah adalah duduk dengan ditemani kitab-kitab di sekelilingnya. Jika sudah demikian, ia pun sibuk menelaah dan mempelajarinya hingga urusan dunianya terlupakan. Maka sang istri berkata kepadanya, “Demi Allah kitab-kitab ini lebih membuatku cemburu daripada tiga madu.”
Di antara sekian kelebihan Az Zuhri adalah kekuatan hafalan yang kokoh dan sangat kuat. Beliau adalah
penghafal pilih tanding dengan memori hafalan yang sangat banyak. Pantas jika Az Zuhri sendiri pernah menyatakan, “Tidak pernah kalbuku menghafal sesuatu kemudian lupa.”
Beliau mampu menghafal Al Quran hanya dalam jangka waktu 80 malam! Kekuatan hafalan ini berbanding lurus dengan pemahamannya yang sangat tajam dan jernih.
Beliau langsung bisa memahami pembicaraan lawan bicaranya tanpa perlu diulang lagi. Bahkan ulama sekaliber Imam Malik rahimahullah pernah dibuatnya kagum dengan kekokohan hafalannya.
Az Zuhri semakin disegani dengan dukungan wawasan ilmunya yang luas dan koleksi hadis yang banyak. Ali Al Madini rahimahullah berkata, “Az Zuhri mempunyai 2000 hadis.”
Al Laits bin Sa’ad berkata, “Aku belum pernah melihat seorang ulama yang ilmunya lebih lengkap daripada Az Zuhri. Seandainya engkau mendengarnya berbicara tentang motivasi dan semangat, niscaya engkau akan mengatakan, “Tidaklah dia ahli kecuali dalam bidang ini.”
Namun jika beliau berbicara tentang kisah para nabi dan orang-orang ahli kitab, pasti engkau akan mengatakan hal yang sama. Apabila beliau berbicara tentang ilmu nasab, engkau pasti juga akan mengatakan hal yang sama.”
Beliau adalah figur ulama yang menguasai dengan baik berbagai cabang ilmu. Tatkala menjelaskan suatu cabang ilmu agama, orang menilai bahwa beliau sangat ahli dalam bidang tersebut. Sedangkan cabang ilmu yang lain tidak menguasainya dengan baik. Namun di luar dugaan, ternyata semuanya dikuasai dengan baik.
Satu lagi keistimewaan beliau adalah jiwa sosial dan kedermawanan yang luar biasa. Hingga Al Laits bin Sa’ad Al Mishri rahimahullah menyatakan bahwa Az Zuhri termasuk manusia yang paling dermawan. Beliau tidak pernah menolak permintaan setiap orang yang datang dan meminta kepadanya.
Kebiasaan beliau adalah memberi makan tsarid dan madu kepada manusia. Bukan rahasia lagi kalau Az Zuhri sangat menyukai madu. “Karena madu bisa menguatkan hafalan,” kata Az Zuhri.
Jiwa sosialnya yang tinggi mendorongnya gemar berinfak kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ziyad bin As’ad mengatakan kepada Az Zuhri, “Sesungguhnya hadis-hadismu membuatku kagum. Namun aku tidak mempunyai bekal untuk mengikuti majelismu.”
Sontak Az Zuhri mengatakan kepadanya, “Jangan khawatir, ikuti aku dan biayamu aku yang akan menanggungnya.”
Limpahan uang dinar tidak membuat Az Zuhri silau dan tergoda. Ia meletakkan dinar di tangannya dan tidak memberikan ruang di hatinya. Wajar jika ia sangat ringan tangan membagi-bagikan dinar kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Az Zuhri menempati kedudukan ilmiyah yang sangat agung di mata para ulama sezamannya. Untaian pujian ulama-ulama besar tercurah kepadanya. Tidak jarang pula ia disejajarkan bahkan diunggulkan atas ulama tenar yang sezaman dengannya. Asy-Syafii mengatakan, “Kalau bukan karena Az Zuhri niscaya akan hilang sunnah-sunnah di Madinah.”
Selain berbagai kelebihan di atas, Az Zuhri juga sangat menonjol dalam ilmu sejarah. Berkenaan dengan berita-berita para nabi yang diriwayatkan dari Ubaidillah bin Abdillah, Urwah bin Zubair, Asy Sya’bi dan selainnya. Terutama perhatian besarnya terhadap sejarah kehidupan dan berbagai peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan demikian beliau tidak hanya fokus meriwayatkan hadis dan mempelajari fikih. Namun beliau juga melakukan penelitian ilmiyah dan pembukuan terhadap ilmu sejarah.
Setelah sekian lama menjalani kehidupan yang penuh ilmu dan dakwah, beliau pun wafat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 124 H menurut pendapat sebagian ulama. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan terbaik dan melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau.

WAllahu A’lam.

@kitabasas
Sayyidina Abu Zar r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, “Wahai Abu Zar, sesungguhnya pemergianmu pada waktu pagi dan mempelajari satu ayat daripada kitab Allah lebih baik bagimu daripada mengerjakan solah sunat seratus rakaat. Pemergianmu pada waktu pagi dan mempelajari satu bab daripada ilmu yang (berpeluang) diamalkan atau tidak (berpeluang) diamalkan adalah lebih baik daripada kamu mengerjakan seribu rakaat solah sunat.” (Hadis riwayat Ibnu Majah dengan sanad Hasan) - dipetik daripada kitab Fadilat Amal ms.296

Keterangan:

Kenyataan dalam hadis ini telah disebutkan dalam banyak hadis yang lain, iaitu mempelajari ilmu agama adalah lebih afdal daripada ibadat. Hadis-hadis tentang fadilat mempelajari ilmu agama adalah begitu banyak sehingga susah untuk merangkumi kesemua sekali, lebih-lebih lagi dalam buku yang ringkas ini. Rasulullah s.a.w bersabda, “Kelebihan seseorang alim ke atas seorang abid adalah seumpama kelebihanku ke atas yang terendah dalam kalangan kamu.” Di tempat yang lain Baginda s.a.w bersabda bahawa seseorang alim lebih ditakuti oleh syaitan daripada seribu orang abid.

#tarbiah
#KeepIstiqomah
#amal dan sampai pada sahabat kita
KITAB AL-UMM – karya agung al-Imam al-Syafi-‘i r.h

Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’-‘i ( 150-204H ) atau lebih dikenali dengan Imam al-Syafi-‘i banyak meninggalkan karya yang menjadi rujukan umat Islam. Ada dua peringkat penulisan al-Syafi-‘i, kitab yang beliau tulis di Makkah dan Baghdad dinamakan Qawl Qadim ( pendapat lama ) dan Kitab yang ditulis ketka beliau di Mesir dinamakan Qawl Jadid ( pendapat baru ).

Ada tiga kaedah penulisan karya atau kitab yang dinisbahkan kepada al-Syafi-‘i, iaitu

1. Kitab yang ditulis sendiri oleh al-Syafi-‘i.
2.Kitab yang ditulis oleh murid-murid beliau berdasarkan pembacaan oleh Imam al-Syafi-‘i dihadapan mereka atau dikenali sebagai kaedah imlak ( al-imla_i )

3.Kitab yang disusun oleh murid-murid al-Syafi-‘i berdasarkan syarahan atau pengajaran al-Syafi-‘i. Di mana murid-murid beliau membuat catatan atau nota ketika mendengar kuliahnya, kemudian mereka menyusun kembali catatan tersebut menjadi semua kitab.

Kaedah ini banyak dipraktikkan oleh para ulama dahulu dan sekarang. Pada zaman kini, banyak buku-buku yang diterbitkan, setelah diolah dan disusun berdasarkan kuliah atau syarahan para ulama yang terkenal, lalu dinisbahkan kandungan buku tersebut kepada mereka. Sedangkan, mereka sebenarnya tidak pernah menulis buku tersebut. Di antara kitab yang masyhur masa kini yang mengunakan kaedah ini ialah buku-buku yang dinisbahkan kepada al-Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi seperti kitab al-Fatawa dan Tafsir al-Sya’rawi, karya-karya al-Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz dan buku-buku yang dinisbahkan kepada Tuan Guru Nik Abdul Aziz bin Nik Mat.

Kitab beliau yang paling utama dan menjadi teras dalam mazhab as-Syafi’-‘i ialah Kitab al-Umm ( Kitab Induk ). Ia dinamakan sedemikian kerana boleh dikatakan semua penulisan dalam mazhab al-Syafi’-‘i berasal daripada kitab ini.

Kitab al-Umm dari satu sudut merupakan kitab fiqh terbesar dan tiada tandingan pada masanya. Kitab ini membahas berbagai persoalan lengkap dengan dalil-dalilnya, baik dari al-Qur’an, al-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Isi kitab ini adalah sebagai bukti keluasan ilmu al-Syafi’i dalam bidang fiqh. Sedangkan dari sudut yang lain, ia juga dianggap sebagai kitab hadits kerana dalil-dalil hadits yang ia kemukakan menggunakan jalur periwayatan tersendiri sebagaimana layaknya kitab-kitab hadits.

Di kalangan ulama terdapat keraguan dan perbezaan pendapat, mengenai penulisan kitab al-Umm, adakah ia ditulis oleh al-Syafi-‘i sendiri atau karya para muridnya. Menurut Ahmad Amin, al-Umm bukanlah karya langsung dari al-Syafi’i, namun merupakan karya muridnya yang menerima dari al-Syafi’i dengan jalan didiktekan [ imlak ]. Sedangkan menurut Abu Zahrah dalam al-Umm ada tulisan al-Syafi’i sendiri tetapi ada juga tulisan dari muridnya, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa dalam al-Umm ada juga tulisan orang ketiga selain al-Syafi’i dan al-Rabi’ [ muridnya ]. Namun menurut riwayat yang masyhur diceritakan bahwa kitab al-Umm adalah catatan peribadi al-Syafi-‘i, kerana setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya ditulis, dijawab dan didiktekan kepada murid-muridnya. Oleh karena itu, ada pula yang mengatakan bahwa kitab itu adalah karya dua orang muridnya iaitu Imam al-Buwaiti dan Imam al-Rabi’. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Thalib al-Makki.

Walau apapun pandangan ulama mengenai kaedah penyusunan kitab al-Umm ini, yang pastinya kitab ini boleh dinisbahkan al-Syafi’i kerana ia memuatkan pandangan dan pemikirannya dalam bidang hukum berdasarkan riwayat murid-muridnya yang diakui ummah sebagai perawi yang adil dan tsiqah. Sebagaimana kaedah penulisan dan penyusunan hadits Rasulullah saw, yang disusun oleh para muhaddisin berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih di sisi mereka.

Dalam menghuraikan keterangan-keterangannya, Imam al-Syafi‘i kadang-kadang memakai metod soal-jawab, dalam erti menghuraikan pendapat pihak lain yang diadukan sebagai sebuah pertanyaan, kemudian ditanggapinya dlm bentuk jawapan. Hal itu nampak umpamanya ketika ia menolak penggunaan al-istihsan. Pada kesempatan yang lain ia menggunakan metod eskplanasi dlm arti menghuraikan
secara panjang lebar suatu masalah dengan memberikan penetapan hukumnya berdasarkan prinsip-prinsip yang dianutnya tanpa ada sebuah pertanyaan, hal seperti ini nampak dalam penjelasannya mengenai persoalan-persoalan pernikahan.

Dalam format kitab al-Umm yang dapat ditemui pada masa sekarang, ada juga yang dicetakkan bersama kitab-kitabnya yang lain dalam satu kitab al-Umm, di antaranya adalah:

al-Risalah, mengandungi huraian sumber hukum islam, serta kaedah-kaedah pengistinbatan hukum syarak.

Khilaf Malik, mengandungi bantahan-bantahan al-Syafi‘i terhadap beberapa pendapat gurunya Imam Malik.

al-Radd ‘Ala Muhammad ibn Hasan, mengandungi pembelaan al-Syafi‘i terhadap mazhab ulama Madinah dari serangan imam Muhammad ibn Hasan, murid Abu Hanifah.

al-Khilaf ‘Ali wa Ibn Mas’ud, iaitu kitab yang memuatkan perbezaan pendapat antara Abu Hanifah dan ulama Irak dengan Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.

Sair al-Auza-’i, berisi pembelaannya atas imam al-Auza’i dari serangan imam Abu Yusuf.

Ikhtilaf al-Hadits, berisi keterangan dan penjelasan al-Syafi-‘i atas hadits-hadits yang tampak bertentangan. namun kitab ini juga ada yang dicetak tersendiri

Jima’ al-‘Ilmi, berisi pembelaan imam al-Syafi’i terhadap Sunnah Nabi Muhammad saw.
Kitab al-Umm ini telah diringkaskan oleh Imam al-Muzani dalam kitabnya bertajuk Mukhtasar al-Muzani. Dua abad kemudian, kitab Mukhtasar al-Muzani ini disyarahkan oleh Imam al-Haramain al-Juwaini dalam kitabnya berjudul Nihayatul Mathlab fi Dirayah al-Mazhab. Salah seorang murid al-Juwaini iaitu al-Imam al-Ghazali pula meringkaskan kitab gurunya itu lalu diberi tajuk al-Basith. Seterusnya al-Ghazali meringkasnya menjadi kitab al-Wasith, kemudian al-Wasith diringkas pula menjadi kitab al-Wajiz. Kitab al-Wajiz ini diringkas lagi menjadi kitab al-Khulashah.

Kitab al-Wajiz juga turut diringkaskan semula oleh seorang lagi ulama’ mazhab al-Syafi‘i bernama al-Rafi-‘i dalam kitabnya al-Muharrar. Selanjutnya, al-Nawawi pula meringkaskan kitab al-Muharrar dalam kitabnya Minhaj al-Thalibin, yang mana ia menjadi pegangan utama ulama Syafi‘iyyah dalam berijtihad dan berfatwa. Kitab ini seterusnya diringkaskan oleh Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansari dalam kitab al-Manhaj al-Thullab dan kitab al-Manhaj pula diringkaskan oleh al-Imam al-Jauhari menjadi al-Nahj, dan al-Syaikh Zainuddin al-Malibiri dalam kitabnya Qurrah al-‘Ayn.

Bab yang disusun dalam kitab al-Umm hampir sama penempatannya dengan Minhaj al-Talibin atau syarahnya. Kitab ini dikira sebagai asas bagi rujukan ulama’ as-Syafi‘i yang muta’akhkhirin ( terkemudian ). Kitab ini mempunyai syarah (huraian) dan hawasyi (nota tepi) yang sangat banyak. Antaranya ialah Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syarbini, al-Minhaj wa Syarhuhu oleh Zakaria al-Anshari, Tuhfah al-Muhtaj oleh Ibnu Hajar al-Haitami, Nihayah al-Muhtaj oleh ar-Ramli dan Zad al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj oleh Abdullah bin Hasan Ali Hasan al-Kuhaji.


Kedudukan Kitab al-Umm Berbanding Kutub al-Tis’ah

al-Syafi-‘i tidak hanya berperanan dalam bidang fiqh dan ushul fiqh saja, tetapi ia juga berperanan dalam bidang hadits dan ilmu hadits. Salah satu kitab hadits yang masyhur pada abad kedua Hijriyah adalah kitab Musnad al-Syafi’i. Kitab ini tidak disusun oleh al-Syafi’i sendiri, melainkan oleh pengikutnya, yaitu al-A’sam yang menerima riwayat dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, dari al-Syafi’i. Hadits-hadits yang terdapat dalam Musnad al-Syafi’i merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitabnya yang lain iaitu al-Umm. Dalam bab jual beli, misalnya terdapat 48 buah hadits.

Dengan kegigihannya dalam membela hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai hujjah, al-Syafi’i berhasil menegakkan autoriti hadits dan menjelaskan kedudukan dan fungsi hadits Nabi secara jelas dengan alasan-alasan yg mapan. Dengan pembelaannya itu, ia memperolehi pengakuan dari ummah sebagai Nasir al-Sunnah. Bahkan beliau dipandang sebagai ahli hukum Islam pertama yg berhasil merumuskan konsep ilmu hadits.

Hadits Nabi menurut al-Syafi’i bersifat mengikat dan harus ditaati sebagaimana
a al-Qur’an, walaupun hadits itu adalah hadits Ahad. Bagi ulama sebelumnya, konsep hadits tidak hanya disandarkan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan juga pendapat sahabat, fatwa tabi’in, serta ijma ahli Madinah dapat dimasukkan sebagai hadits. Bagi al-Syafi’i, pendapat sahabat dan fatwa tabi’in hanya boleh diterima sebagai dasar hukum sekunder, dan bukan sebagai sumber primer. Sedangkan hadits yang boleh diterima sebagai dasar hukum primer hanyalah yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Tambahan;
Kitab al-Umm telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Teuku H. Ismail Yakub SH, MA . Telah diterbitkan dalam 11 buku.

Terjemahan Ringkasan Kitab al-Umm telah diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’I, Indonesia. Ia merupakan terjemahan Mukhtashar Kitab al-Umm Fi al-Fiqh , yang diringkaskan oleh Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail
Tadabbur Hadith: Kemanisan Iman & Ibadah Yang Menyeronokkan


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

1- قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِِيْمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهَ وَرَسُولَه أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْء لاَ يُحِبّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَه أَنْ يَعُود فِي الْكُفْر بَعْد أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّه مِنْهُ كَمَا يَكْرَه أَنْ يُقْذَف فِي النَّار .
Maksudnya:
Sabda Rasulullah – sallalhu alyhi wasallam-: Tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya, dia telah mendapati dengan tiga perkara itu kemanisan iman. (Iaitu) barangsiapa yang adalah Allah dan Rasulnya lebih dicintai olehnya dari selain kedua-keduanya. Dan bahawa dia menyayangi seseorang hanya semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kepada kekufuran setelah di selamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci dicampakkan ke dalam neraka.
[HR Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan al-Nasa'ei]

2- قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ذَاقَ طَعْم الْإِيمَان مَنْ رَضِيَ بِاَللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولاً . [رواه مسلم]
Maksudnya:
Sabda Rasulullah – sallalhu alyhi wasallam-: Telah merasai kemanisan iman barangsiapa yang telah reda Allah sahaja sebagai Tuhannya, dan Islam sebagai peraturan hidupnya dan dengan Nabi Muhammad – sallalhu alyhi wasallam- sebagai Rasul.
[HR Muslim]

Pengajaran hadis:
1.Hadis yang pertama adalah asas yang besar kepada asas-asas Islam. Kata ulama : Halawatul Iman ialah kemanisan Iman iaitu kelazatan ketika melakukan ketaatan kepada Allah, dan seseorang yang memiliki halawatul iman akan menanggung segala kesusahan demi untuk mendapat reda Allah serta reda Rasulullah – sallalhu alyhi wasallam-. Ia juga bermakna mengutamakan semua ini lebih daripada segala-galanya.

2.Cinta hamba kepada Tuhannya hendaklah mengatasi cintanya kepada diri sendiri, keluarga, harta benda dan kerehatannya. Ini dapat di buktikan dengan dia sentiasa mendahulukan perintah Allah dalam kehidupanya daripada agenda dirinya sendiri. Bahkan ia akan merasa seronok dan gembira apabila dapat melaksanaka perintah Allah lebih dahulu dari kehendaknya.

3.Begitu juga cinta hamba kepada Rasullulah – sallalhu alyhi wasallam- hendaklah mengatasi (selepas cintanya kepada Allah) cintanya kepada dirinya sendiri, keluarganya, orang lain dan harta benda. Bahkan ia juga akan merasa seronok dan gembira apabila dapat melaksanakan sunnah dan ajaran Rasulullah – sallalhu alyhi wasallam- dalam seluruh kehidupannya.

Sabda Rasulullah – sallalhu alyhi wasallam- : Tidak beriman seseorang kamu sehinggalah aku lebih di kasihi daripada anaknya, bapanya dan orang lain. [HR al-Bukhari dan Muslim]
Dalam riwayat lain : ….dari ahli keluarganya, harta bendanya dan orang lain.

4.Maksud cintakan Allah juga ialah mencintai apa-apa sahaja yang di sukai oleh Allah dan membenci apa-apa sahaja yang di benci oleh Allah.

5.Kata Maalik: Cintakan Allah adalah antara kewajipan agama.

6.Maksud hadis kedua ialah dia tidak mencari selain dari Allah, dan dia tidak berusaha melainkan pada jalan Islam, dan tidak beramal melainkan apa yang selaras dengan dengan syariat dan sunnah Muhammad – sallalhu alyhi wasallam-. Maka tidak syak lagi bahawa sesiapa yang memiliki sifat-sifat ini, ia akan merasai kemanisan iman di hatinya.

7.Kata ulama makna "Aku reda dengan sesuatu" ialah aku yakin dan puas hati serta mencukupi dengan perkara itu sahaja, dan aku tidak minta selain dari itu.

8.Kata Al-Qaadi I'yaad- rahimahullah- Maksud hadis ialah: Iman itu benar-benar memberi ketenangan dalam dirinya dan sudah sebati dengan batinnya. Barangsiapa yang reda dengan sesuatu, maka segala perkara akan menjadi mudah baginya. Begitu juga bagi seorang mukmin, apabila iman telah masuk kedalam hatinya, maka segala perintah dan ketaatan kepada Allah menjadi mudah dan senang baginya. Bahkan ia akan merasa
Merasai kelazatan dan keseronokan khususnya ketika beribadah.

9.Antara sebab untuk mendapat kemanisan iman ialah kita menyayangi saudara kita semata-mata kerana Allah. Bukan kerana kepentingan duniawi.

10.Kemanisan iman juga tercapai dengan kita membenci kepada kemaksiatan dan kekufuran. Bahkan kita merasa terlalu tidak suka kepada kekufuran sama seperti kita tidak suka dicampak kedalam api.

11.Dari Abi Razin al-Uqaily: Telah berkata: Aku bertanya : Wahai Rasulullah! Apakah iman? Jawab baginda: Bahawa engkau bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Esa Tidak ada sekutu baginya, dan Muhammad itu hamba-Nya dan rasul-Nya, dan bahawa Allah dan rasul-Nya lebih dicintai kepada engkau daripada selain kedunya, dan bahawa engkau terbakar dalam api lebih engkau sukai daripada engkau mensyirikkan Allah dengan sesuatu. Dan engkau menyayangi seseorang yang bukan keturunan (keluarga) engkau dan engkau tidak cintai dia melainkan kerana Allah semata-mata. Maka apabila engkau dalam keadaan demikian , sesungguhnya telah masuk kemanisan iman dalam hati engkau sebagaimana masuknya kelazatan air kepada orang yang dahaga di hari yang panas terik. [HR Ahmad]

Antara tanda-tanda iman telah meresap masuk dalam hati seseorang:

1.Solatnya khusyuk, iaitu solatnya memberi ketenangan dalam jiwanya dan menyejukkan hatinya. Firman Allah Ta'ala yang bermaksud: "Sesungguhnya berjayalah orang-orang Yang beriman, Iaitu mereka Yang khusyuk Dalam sembahyangnya. [Al-Mukminun;23:1-2].

Sabda Rasulullah -– sallalhu alyhi wasallam- : Aku dijadikan (secara fitrah) cintakan dunia daripada wanita dan wangian, (akan tetapi) penyejuk hatiku ialah pada solat. [Hadis hasan-Riwayat Ahmad dan al- Nasai'e]

2.Apabila mendengar nama-nama Allah, hatinya gementar kerana merasai dan menjiwai kebesaran dan keagungan Allah. Firman Allah ta'ala yang bermaksud: "Sesungguhnya orang-orang Yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka Yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatnya) gementarlah hati mereka …." [Al-Anfaal; 8;2]

3.Apabila membaca atau mendengar ayat-ayat al-Quran, imannya semakin kuat dan meningkat. Firman Allah Ta'ala yang bermaksud: "……. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman…". [Al-Anfaal;8 :2]

4.Banyak berzikir dan berzikir diwaktu pagi dan petang. Firman Allah Ta'ala yang bermaksud: ". Wahai orang-orang Yang beriman, (untuk bersyukur kepada Allah) ingatlah serta sebutlah nama Allah Dengan ingatan serta sebutan Yang sebanyak-banyaknya" [Al-Ahzab; 33:41]

5.Apabila berzikir, hatinya menjadi tenang dan jiwanya tenteram. Firman Allah Ta'ala yang bermaksud: 28. "(Iaitu) orang-orang Yang beriman dan tenang tenteram hati mereka Dengan zikrullah". ketahuilah Dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusia. [Al-Ra'adu ; 13:28]

6.Setiap kali melakukan kebaikan, maka ia akan gembira dan seronok dan setiap kali melakukan kejahatan, maka hatinya rasa gelisah dan bersalah. Dari Umar –radiyallahu anhu:

Dari Nabi – sallalhu alyhi wasallam- telah bersabda : Barangsiapa yang kebaikannya megembirakannya dan kejahatannya menjadikannya gelisah dan rasa bersalah, maka dia adalah mukmin. [Hadis sahih –Riwayat Ibn Majah, Ibn Hibban dan Ahmad]

7.Orang yang beriman sentiasa beriman, tidak ragu-ragu dan sentiasa berjihad dengan harta benda dan nyawanya untuk agama Allah. Sabda Rasulullah– sallalhu alyhi wasallam- : Orang-orang beriman di dunia tiga bahagian: Beriman dengan Allah dan rasul-Nya, kemudian tidak ragu, dan berjuang dengan harta benda serta nyawanya pada jalan Allah. HR Ahmad]

8.Sentiasa ada perasaan malu untuk melakukan maksiat. Sabda Rasulullah – sallalhu alyhi wasallam- : Malu adalah sebahagian daripada iman.[Muttafaqun alaih]


Cara untuk mendapat kemanisan iman dan khusyuk dalam solat:

1.Tinggalkan hubbuddunia (cintakan dunia). Kata Jundub bin Abdullah al-Bujali: "Cintakan dunia adalah punca kepada segala dosa".

2.Segera bertaubat dan tinggalkan segala dosa yang dilakukan. Ini kerana setiap dosa yang dilakukan
akan meninggalkan titik hitam dalam hati dan sekiranya tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan semakin membesar seterusnya menyebabkan hati keras dan mati.

3.Barangsiapa yang berharap kepada rahmat dan keampunan Allah tetapi terus melakukan maksiat dan dosa , maka ia adalah orang yang degil, bodoh dan hina.

4.Dosa-dosa sama seperti bebanan yang berat yang akan memberatkan tuan punya dosa dari melakukan ibdah dan kebaikan. Kata al-Hasan : Sesungguhnya seseorang hamba itu akan melakukan satu dosa, maka ia akan di haramkan dari solat malam.

5.Kata Sufyan al-Thauri: Sesungguhnya aku telah di haramkan dari berpuasa (sunat) dan mendirikan solat malam selama lima bulan dengan sebab satu dosa yang aku telah lakukan. Lalu beliau ditanya: Apakah dosa itu? Aku melihat seorang lelaki menangis, lalu aku berkata dalam diriku: Itu adalah riya'.

6.Kata para solihin: Berapa banyak makanan yang menghalang seseorang dari bangun solat malam?, dan berapa banyak dari pandangan mata yang menghalang dari membaca surah al-Quran? Atau dia melakukan sesuatu kesalahan, maka akibatnya dia diharamkan dari qiyamullail selama setahun.

7.Kata para solihin : Apabila engkau tidak mampu berpuasa (sunat) di siang hari dan qiyamullail, maka ketahuilah bahawa engkau telah terhalang (dari kebaikan), yang menghalangnya ialah dosa-dosa engkau.

8.Ali Karz bin Wabrah telah menangis pada suatu hari. Lalu di tanya apakah yang menyebabkan engkau menangis? Adakah disebabkan kematian ahli keluarga kamu? Jawab beliau: Lebih daripada itu. Adakah kerana kesakitan yang menimpa engkau? Jawab beliau: Lebih daripada itu? Apa dia? Jawab beliau: Pintu bilikku dah tertutup, kain langsir (kelambuku) telah di labuhkan, tetapi aku tidak membaca semalam satu hizib dari al-Quran, tidak berlaku demikian itu melainkan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.

9.Kesemua salafussoleh –ridwanullah alaihim- kerana ketakuatan mereka, mereka mendakwa bahawa diri-diri mereka sendiri dan dosa-dosa merekalah punca kepada setiap kekurangan ibadah atau kemalasan mereka untuk beribadah.

10.Kurangkan makan. Di riwayatkan bahawa Iblis telah muncul di hadapan Nabi Yahya -alaihissalam- dan di atas bahunya ada bekas yang di sangkut di belakang, lalu Nabi Yahya bertanya: Apakah dibelakang kamu? Jawab Iblis: Ini adalah syahawat yang aku guna untuk menipu daya anak Adam. Kata Nabi Yahya:Adakah engkau mendapati sesuatu padaku? Jawab Iblis: Ya, semalam engkau telah kenyang, lalu kami telah menjadikan engkau berat dari melakukan solat malam. Kata nabi Yahya: Sudah pasti lepas ini aku tidak akan kenyang selama-lamanya. Jawab Iblis: Sudah pasti selepas ini aku tidak nasihatkan seorang pun selama-lama.

https://t.me/kitabasas
Hadis Al-Qudsi

Jilid Satu

Takrif Hadis Al-Qudsi
Hadis Al-Qudsi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam daripada Allah Azza wa Jalla kadangkala dengan perantaraan Jibril 'alaihi salam, kadangkala dengan perantaraan wahyu atau ilham atau mimpi. Lafaz hadis ini terpulang kepada Rasulullah saw untuk mengucapkannya.

Tiada perbezaan mahupun percanggahan antara hadis Al-Qudsi dengan hadis An-Nabawi melainkan pada isnadnya terus kepada Allah Subhana wa Ta'ala.

Peranan Hadis Qudsi
Biasanya hadis Al-Qudsi lebih tertumpu ke arah pembinaan dan pembentukan jiwa insani yang lurus, iaitu menyeru kepada kebaikan, kelebihan dan akhlak-akhlak mulia, memandu nafsu agar mencintai Allah yang Maha Agung dan berusaha memperoleh keredhaan-Nya.

Semua hadis ini diambil dari kitab Mustika Hadis-Hadis Al-Qudsi Sahih karangan ‘Isomuddin bin Sayyid Abdul Robbuni Al-Soobaathi. Hadis di dalam kitab ini tidak diubah sedikit pun, kecuali bahagian penjelasan dan pengajaran, telah diringkaskan dan ditambah sedikit dari segi perkataan dan contoh-contoh tanpa menyalahi maksud sebenar dari kitab. Wallahu’alam.

PERINGATAN : Firman Allah SWT mengenai ayat-ayat Al-Quran dilabelkan dengan warna biru, manakala firman Allah SWT dalam lafaz hadis berwarna hitam supaya tidak terkeliru.

Amaran Terhadap Perbuatan Syirik dan Kelebihan Tauhid
1. Dari Anas r.a : Rasulullah saw bersabda, "Allah Ta'ala berfirman kepada orang yang menerima azab yang paling ringan pada hari kiamat; 'Jika kamu mempunyai sesuatu di atas permukaan bumi sebagai tebusan, adakah kamu menebus azab ini dengannya?' Orang itu pun menjawab, 'Ya'.

Allah Ta'ala pun berfirman, 'Aku menghendaki darimu agar melakukan sesuatu yang lebih mudah dari ini sewaktu kamu berada di dalam tulang sulbi Adam (iaitu) agar kamu tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, namun kamu telah ingkar (enggan) melakukannya, melainkan kamu telah mempersekutukan Daku." (Sahih, Al-Bukhari dan seumpamanya oleh Imam Ahmad) [001]

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Sesuatu yang dikehendaki Allah SWT yang lebih mudah iaitu iman. Iman bermaksud melafazkan kalimah tauhid dengan lidah (lisan), meyakini dengan sepenuh hati dan melaksanakannya dengan fizikal atau anggota badan (beramal).

b. Syirik bermaksud mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain seperti menyembah berhala, memuja kubur, menganggap Nabi Isa a.s sebagai anak tuhan dan sebagainya. Syirik juga boleh membawa makna terdapat kuasa lain yang lebih berkuasa dari kekuasaan Allah SWT, seperti percaya pada tangkal dan lain-lain.

c. Syirik boleh juga terjadi melalui perkataan atau percakapan kita sehari-hari seperti “Kejayaan aku hari ini adalah kerana usaha aku!”, sama seperti percakapan Qarun dalam Surah Al-Qasas [28] : 78, contoh dua: “Jika tiada ubat ini, tentulah aku mati,” dan yang seumpama dengannya.

d. Rujuk Surah Al-A’raaf [7] : 172, perihal janji manusia kepada Allah SWT sebelum dilahirkan.

2. Dari Anas r.a : Nabi saw bersabda, “Seorang kafir akan ditampilkan ke muka (pengadilan) pada hari kiamat, lalu dikatakan kepadanya; ‘Apa pandangan kamu sekiranya kamu mempunyai emas sepenuh bumi, adakah kamu akan menggunakannya sebagai tebusan (untuk menggantikan azab yang kamu rasai)?” Si kafir itupun berkata, ‘Ya.’

Sabda Rasulullah saw, “Maka dikatakan kepada si kafir itu, ‘Sesungguhnya Aku telah meminta dari kamu suatu yang lebih mudah dari sedemikian itu.’ Yang sedemikian itu adalah Firman Allah Azza wa Jalla (maksudnya) : Sesungguhnya orang-orang kafir dan mati sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang dari mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.......” (Surah Ali Imran [3] : 91) [003] (Sahih, Imam Ahmad. Hadis di dalam kitab Kanzul Ummal - Al-Hindi)

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Iman dan tauhid itu menjadi tempat perlindungan dari azab Allah SWT di alam akhirat. Pemahaman yang benar mengenai tauhid dan iman wajib dipelajari oleh segenap orang yang mengaku beragama Islam.

b. Tiada azab yang paling pedih dan dahsyat melainka
n azab ‘Khulud’, iaitu tinggal kekal dalam neraka selama-lamanya.

c. Jika ada orang-orang munafik dan kafir bertanya, “Adilkah Allah SWT menyiksa orang-orang kafir dalam neraka untuk selamanya, walhal mereka hanya hidup selama beberapa tahun di dunia?” Jawablah, sekiranya mereka diberi kehidupan seribu tahunpun mereka tetap tidak berniat untuk beriman kepada Allah SWT kerana hati dan mata mereka buta pada kebenaran. Sesungguhnya Allah yang Maha Mengetahui. (Rujuk Surah Al-An’aam [6] : 28)

3. Dari Abu Hurairah r.a : Nabi saw bersabda, “(Nabi) Ibrahim bertemu dengan bapanya Aazar pada hari kiamat. Pada muka Aazar terdapat tanda-tanda legam bagaikan terkena asap (akibat ketakutan terhadap kedahsyatan hari kiamat tersebut) dan dicemari dengan debu. Lalu Ibrahim berkata kepadanya, ‘Tidakkah aku telah memberitahumu agar jangan mengingkari daku (seruan dakwahku)?’

Bapanya pun menjawab, ‘Maka pada hari ini aku tidak akan mengingkari kamu.’ Ibrahim pun berkata padanya, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah berjanji denganku agar tidak menghinakan daku pada hari di mana semua manusia dibangkitkan (dari kubur masing-masing), maka apakah kehinaan yang lebih dahsyat dari kehinaan yang menimpa bapaku yang terjauh dari rahmat (syurga)Mu?’
Allah Azza wa Jalla berfirman : ‘Sesungguhnya aku mengharamkan syurga itu ke atas orang-orang kafir.’ Kemudian dikatakan kepada Ibrahim, ‘Wahai Ibrahim, apakah yang berada di bawah kedua kakimu?’

Lalu Ibrahim pun melihat ke bawah kedua-dua kakinya dan beliau mendapati seekor serigala hutan yang diselaputi oleh tanah berlumpur. Kemudian serigala itu ditangkap dengan dipegang kakinya lalu dicampakkan ke dalam api neraka.” [004] (Sahih, Al-Bukhari dan seumpamanya dikeluarkan oleh Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak dan diringkaskan oleh Al-Bukhari. Dikeluarkan oleh An-Nasa’i di dalam kitab sunannya (As-Sunan Al-Kubra), seperti yang dikatakan oleh Al-Mazzi di dalam kitab Tuhfatul Asyraf)

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Hadis menjelaskan secara mendalam mengenai orang yang ingkar kepada Allah SWT pada hari kiamat. Kata-kata Nabi Ibrahim a.s pada bapanya bukanlah cercaan, tetapi seolah-olah menyesali sikap bapanya yang enggan menerima dakwahnya.

b. Keimanan pada hari kiamat adalah tidak bermanfaat kerana tidak beriman ketika hidup di dunia. Marilah kita beriman dengan sebenar-benar iman sebelum terlambat.

c. Bapa tidak dapat memberi manfaat, anak juga tidak dapat memberi manfaat kecuali Allah SWT menghendaki atau diizinkan oleh-Nya.

d. Pertukaran Aazar kepada seekor serigala hutan oleh Allah SWT, sehingga Nabi Ibrahim a.s tidak mengenalinya. Inilah hakikat hari kiamat, hubungan kekeluargaan tidak mempunyai erti apa-apa, yang tinggal hanya keimanan yang diadili pada hari kiamat.

Hanya Amalan yang Ikhlas Diterima Oleh Allah SWT – (Golongan Manusia yang Pertama Dihisab di Hari Penghisaban)

5. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Manusia yang awal-awal akan diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang telah mati syahid. Lalu lelaki itu dibawa ke muka (pengadilan-pent).

Allah SWT telah memperingatkan kepadanya segala nikmat yang telah dikurniakan-Nya kepadanya, lantaran itu, lelaki itupun mengakui akan segala nikmat kurniaan Allah SWT tersebut.

(i). Allah SWT bertanya kepadanya (sedangkan Dia Maha Mengetahui): ‘Maka apakah yang telah dikau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Lelaki itupun menjawab: ‘Aku berperang kerana-Mu sehinggalah aku mati mati syahid.’Allah SWT berfirman: ‘Kamu berdusta. Akan tetapi kamu berperang supaya kamu dipanggil seorang yang berani. Oleh yang demikian, sesungguhnya kamu telah telahpun dipanggil sedemikian.’

Kemudian Allah SWt memerintahkan agar lelaki itu dicampakkan ke dalam api neraka, lalu beliaupun ditarik dengan mukanya ke bawah hinggalah dicampakkan ke dalam api neraka.

(ii). Dan seorang lelaki yang mempelajari ilmu (agama) dan mengajarkannya. Beliau juga membaca Al-Quran (ataupun seorang yang mahir dalam pembacaan Al-Quran). Lelaki itupun dibawa menghadap Allah SWT.

Allah SWT memperingatkan segala nikmat yang diberikan kepadanya. Lelaki itu meng
akui akan penerimaan semua nikmat tersebut. Allah SWT berfirman kepadanya : ‘Oleh itu, apakah yang telah kamu lakukan dengannya?’ Lelaki itupun menjawab : ‘Aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya (kepada orang lain). Aku telah membaca Al-Quran semata-mata kerana-Mu.’

Allah SWT berfirman kepadanya : ‘Kamu berdusta. Akan tetapi kamu telah mempelajari ilmu supaya kamu dipanggil sebagai seorang ‘alim dan kamu telah membaca Al-Quran supaya dipanggil seorang qari. Sesungguhnya kamu telahpun dipanggil sedemikian.

Kemudian Allah SWT telah memerintahkan kepada malaikat agar lelaki itu dibawa pergi dan diheret dengan mukanya ke bawah hinggalah beliau dicampakkan ke dalam api neraka.

(iii). Begitu juga seorang lelaki yang telah diperluaskan oleh Allah SWT untuknya segala jenis harta kesemuanya. Lelaki itu pun dihadapkan ke muka. Allah SWt memperingatkan segala nikmat yang telah dikurniakan-Nya kepada lelaki tersebut lalu lelaki itu mengakuinya.

Allah berfirman kepada lelaki itu : ‘Maka apakah yang telah kamu lakukan dengan kesemua harta itu?’ Lelaki itu menjawab : ‘Tidaklah aku tinggalkan walaupun satu jalan yang disukai agar dibelanjakan harta untuknya melainkan aku telah membelanjakan hartaku semata-mata kerana-Mu.’
Allah berfirman : ‘Kamu berdusta. Akan tetapi kamu telah melakukan semua itu agar kamu dipanggil seorang dermawan. Sesungguhnya kamu telahpun dipanggil sedemikian.

Kemudian diperintahkan agar lelaki itu dibawa pergi lalu beliau ditarik dengan mukanya ke bawah dan kemudian dicampakkan ke dalam api neraka.” [011] (Sahih, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Hakim)

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Diperjelaskan kepada kita mengenai balasan orang-orang yang tidak ikhlas untuk mendapatkan keredhaan Allah SWT. Mereka berbuat kebaikan demi kepentingan dunia dan diri mereka semata-mata.

b. Hendaklah melaksanakan ibadah dengan niat kerana Allah SWT dan untuk memperoleh keredhaan-Nya. (Sila rujuk Sahih Bukhari dalam hadis pendahuluan)

c. Hadis ini perlu dijadikan pengajaran bagi setiap lapisan masyarakat kerana segala nikmat Allah SWT akan ditanya untuk apa kita gunakan di dunia ini, terutama para ilmuwan, hartawan dan mereka yang mendakwa berjihad di jalan Allah SWT. Adakah kita benar-benar mengikut jalan yang ditunjuk oleh Rasulullah saw dan para sahabat?


Syirik - Perkara yang Paling Ditakuti Rasulullah SAW Atas Umatnya
6. Dari Mahmud bin Labid r.a : Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya perkara yang paling aku takuti atas kamu adalah syirik asghar (syirik kecil).” Para sahabat bartanya, ‘Ya Rasulullah, apa kah syirik asghar itu?’

Baginda Saw menjawab, “Riya’. Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman pada hari semua amalan-amalan diganjari, ‘Pergilah kamu kepada orang-orang yang telah kamu perlihatkan amalan-amalan kamu kepada mereka dan lihatlah samada ada balasan di sisi mereka itu (untuk kamu).” [014] (Sahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Al-Baghawi dalam Syarhul As-Sunnah. Kanzul Ummal dan At-Targhib wa Tarhib lil Al-Hafidz Al-Mundziri)

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Amaran terhadap perbuatan riya’ iaitu, orang yang menunjuk-nunjuk amalannya kepada orang lain bagi memperoleh maksud tertentu, seperti bangga diri - ingin dikenali sebagai orang berilmu kerana amalan yang dilakukan dan lain-lain seumpamanya.

b. Perkataan ‘syirik kecil’ bukanlah bermakna meringan-ringankan perkara syirik, tetapi cukuplah dengan dosa yang bakal diperoleh oleh si pelaku. Perlu diingat, ini adalah perkara yang paling ditakuti Rasulullah saw ke atas umatnya.

c. Hari di mana segala rahsia terbongkar dan para pelaku riya’ berasa amat sengsara dan menyesal sekali kerana disuruh meminta pengurniaan pahala daripada orang yang mereka perlihatkan amalan itu.

7. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Allah Azza Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku akan berterusan bertanya tentang Daku’ : Allah ini telah menciptakan aku, maka siapakah pula yang menciptakan Allah?” [016] (Sahih Bukhari dan Muslim)

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw benar-benar telah terjadi seperti sebuah hadis di dalam Musnad Ima
👍1
m Ahmad; seorang lelaki dari Iraq telah bertanya pada Abu Hurairah r.a, siapakah yang menciptakan Allah, lalu Abu Hurairah r.a menutup telinganya dan berteriak, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya!” kemudian membaca Surah Al-ikhlas.

b. Tambahan Blog : Telah muncul zaman kita ini, tentang fahaman ‘Scientology’ yang kini menular di Malaysia. Golongan ini mengingkari takdir dan mengatakan setiap yang berlaku ada penjelasan sains tentangnya. Manusia semua bebas tanpa terikat dengan peraturan alam. Moga kita dilindungi oleh Allah yang Maha Penyayang dari tergolong di kalangan mereka ini.

Pagi Seorang Mukmin, Petang Menjadi Kafir
8. Dari Zaid bin Kholid Al-Juhni r.a : Beliau telah berkata, Rasulullah saw telah bersolat subuh dengan kami di Hudaibiyyah di penghujung malam. Apabila selesai bersolat, baginda berpaling menghadap ke arah orang ramai (para sahabatnya) seraya bersabda, “Adakah kamu sekalian mengetahui apakah yang difirmankan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Rasulullah saw pun bersabda, “Allah berfirman, ‘Berpagi-pagi hamba-hamba-Ku beriman dengan-Ku. Maka adapun orang-orang yang berkata, ‘Kami diberi hujan justeru dengan kurniaan Allah SWT dan rahmat-Nya’, orang yang berkata sedemikian itu adalah orang yang beriman dengan-Ku dan kufur dengan bintang-bintang.

Dan adapun orang yang berkata, ‘Kami diberi hujan disebabkan bintang yang condong ke arah barat ini dan itu’, maka orang yang berkata sedemikian adalah orang yang kufur dengan-Ku dan beriman dengan bintang (syirik-pent).” [017] (Sahih. Dikeluarkan oleh Imam Malik, Imam Syafi’e dalam musnadnya, Imam Al-Bukhari dan Muslim, Abi ‘Awanah dan Al-Baihaqi)

Penjelasan dan Pengajaran :
a. Mereka yang beriktikad bahawa hujan turun adalah kerana, ketika bintang itu condong ke barat, maka hujan akan turun ketika itu (menolak kekuasaan Allah SWT). Padahal Allah SWT yang menurunkan hujan (rujuk Surah An-Naba’ [78] : 14-16).

b. Tambahan Blog : Perlu berhati-hati ketika mengeluarkan perkataan atau percakapan seperti orang zaman ini berkata, ’Hujan turun kerana bulan Disember’, atau ‘manusia boleh membuat hujan melalui pembenihan awan’ dan lain-lain percakapan yang menidakkan kekuasaan Allah SWT. Semoga Allah yang Maha Penyayang melindungi kita dari kekufuran.

Mencerca Masa
9. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman : Anak Adam menyakiti Aku dengan mengutuk zaman (masa) dan Aku adalah zaman. Aku membolak-balikkan malam dan siang. Maka jika Aku menghendaki, Aku akan menggenggam kedua-duanya (malam dan siang).” [025] (Sahih. Dikeluarkan oleh Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Al-Hakim telah memulakan hadis di atas dengan kata-kata perawinya, Sufyan bin ‘Uyainah : Orang-orang jahiliyah telah berkata, ‘Sesungguhnya zaman (masa) itulah yang membinasakan kita semua. Dialah (perjalanan masa) yang mematikan dan menghidupkan kita.’ (Maksudnya, kaum jahiliyah menolak kekuasaan Allah yang Maha Agung).

Penciptaan Makhluk Di Dalam Rahim Ibunya
10. Dari Abdullah bin Mas’ud : Rasulullah saw bersabda, “Penciptaan salah seorang kamu disempurnakan dalam rahim ibunya sepanjang tempoh beberapa kali (dalam) empat puluh hari. Empat puluh hari yang kedua dalam bentuk segumpal darah kemudian dalam empat puluh hari yang ketiga dalam bentuk segumpal daging.

Kemudian Allah mengutuskan malaikat kepadanya lalu diperintahkan agar menulis untuknya empat kalimah dengan firman-Nya : ‘Tulislah baginya amalannya, ajalnya, rezekinya dan samada celaka atau bahagia.’

Maka demi Dia yang memegang jiwa ku di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya (jika) seseorang dari kalangan kamu beramal dengan amalan ahli syurga hinggalah jarak beliau dengan syurga itu hanyalah satu hasta, maka sebagaimana telah dituliskan ketentuannya (sebagai ahli neraka) lalu beramallah beliau dengan amalan ahli neraka, justeru itu beliaupun masuk neraka.

Dan sesungguhnya (jika) seseorang dari kamu beramal dengan amalan ahli neraka hinggalah jarak beliau dengan neraka itu hanyalah sehasta, namun telah ditetapkan ketentuan (takdir) untuknya (sebagai ahli syurga) lalu beliaupun bera
mal dengan amalan ahli syurga, justeru itu beliaupun masuk syurga.” [040] (Sahih. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Imam Ahmad dan hampir seumpama lafaznya juga yang telah dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi)

Keterangan Hadis : Begitu banyak pengajaran yang terdapat dalam hadis ini, namun kesimpulannya adalah mengagungkan kekuasaan Allah yang Maha Tinggi. Selain itu kita wajib beriman kepada qada dan qadar ini dan bersangka baik kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Jika kita merasakan bahawa kita adalah ahli syurga, maka berusahalah menuntut ilmu agar kita dapat beramal dengan amalan ahli syurga. Maksudnya, hadis ini memberi dorongan atau motivasi kepada kita untuk berusaha mendapatkan syurga.

Hadis ini juga mengajar kita supaya tidak sombong dan memandang rendah pada orang lain kerana syurga dan neraka itu milik Allah yang Maha Agung dan Dia boleh memberi kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya.

Tambahan Blog : Mengenai penciptaan dalam masa empat puluh hari itu bererti keseluruhannya dalam tempoh masa empat puluh hari, bukan tiga atau empat bulan. Begitulah kajian ulama kini. Sila rujuk kajian Prof. Dr. Sharaf al-Qudhah [Fakulti Syariah, Universiti Jordan] dan diterjemahkan oleh Zulkifli Hj Mohd Yusoff Abdurrahim Yapono [Universiti Malaya] dalam bukunya berjudul ‘Bilakah Waktu Janin Ditiupkan Roh?’.

Pena (Al-Qalam)
11. Dari Ubadah bin As-Somit r.a : Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama-tama diciptakan oleh Allah adalah ‘Al-Qalam’. Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah.’ Al-Qalam pun berkata : ‘Apakah yang aku akan tulis?’ Allah berfirman : ‘Tulislah akan qadar (takdir) dan apa yang terjadi untuk selama-lamanya.” [041] ( Sahih. Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Daud At-Tayaalisi)

Penjelasan dan Pengajaran :
[a]. Allah yang Maha Agung telah menetapkan semua takdir pada apa sahaja perkara yang berlaku dan akan berlaku selama-lamanya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Pencipta segala sesuatu.

[b]. Allah Maha Mengetahui sejak azali bahawa jika seseorang itu melakukan kejahatan atau kebaikan setelah mereka diberi hak untuk membuat pilihan.

[c]. Keimanan seseorang hamba tidak akan sempurna jika tidak mengimani perkara takdir ini dan hendaklah mereka menerima baik atau buruk sesuatu takdir dengan redha.

Bab Solat

Bangun Di Waktu Malam
12. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhni r.a : Nabi saw bersabda, “Dua orang lelaki dari kalangan umat ku; salah seorang dari mereka bangun di waktu malam seraya melawan keinginannya untuk terus tidur dan malas beribadat, lalu berwudhuk. Diikat pada tubuhnya (orang yang tidur) beberapa ikatan (oleh syaitan).

Maka apabila beliau berwudhuk dan mewudhukkan kedua-dua tangannya, terlepaslah satu ikatan. Dan apabila dia mewudhukkan wajahnya terlepaslah pula satu ikatan. Apabila mengusap wajahnya, terlepaslah pula satu ikatan. Apabila mengusap kepalanya terlepas lagi satu ikatan dan apabila beliau mewudhukkan kakinya terlepas pula ikatan yang lain.

Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada mereka yang berada di sebalik hijab (para malaikat) : ‘Kamu lihatlah kepada hamba-Ku ini. Beliau melawan keinginan (untuk terus tidur dan beribadat) nafsunya, lalu meminta (berdoa selepas solat) dari-Ku. Oleh itu, apa sahaja yang dipinta oleh hamba-Ku maka itulah miliknya (doanya dimakbulkan oleh Allah yang Maha Tinggi).

Penjelasan dan Pengajaran :
[a]. Sesungguhnya seseorang Muslim apabila hendak melakukan kebaikan atau beribadah memerlukan tahap kesabaran yang tinggi dan kekuatan menentang penguasaan syaitan ke atas dirinya.

[b]. Di antara senjata untuk melawan penguasaan syaitan ke atas diri adalah dengan berwudhuk.

[c]. Allah yang Maha Agung mencintai seseorang mukmin yang berjuang melawan penguasaan syaitan ke atas dirinya dengan merawatinya melalui berbuat ketaatan. Hasilnya Allah yang Maha Agung menerima doa yang dipanjatkannya.

Malaikat Pencatat Amalan
13. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Malaikat-malaikat pencatat amalan yang dilakukan di waktu malam dan siang silih berganti mencatat amalan-amalan kamu. Mereka berkumpul
di waktu solat Asar dan solat Subuh.

Kemudian malaikat yang bermalam di kalangan mereka naik. Allah bertanya kepada mereka (sedangkan Allah Maha Mengetahui) : ‘Dalam keadaan bagaimanakah kamu meninggalkan hamba-hambaKu?’ Mereka menjawab : ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan mereka bersolat dan kami telah datang kepada mereka dalam keadaan mereka juga bersolat.” [062] (Sahih. Dikeluarkan oleh Imam Malik. Al-Bukhari dan Muslim, Imam Ahmad, Abu ‘Awanah dan Al-Baghowi)

Penjelasan dan Pengajaran :
[a]. Para malaikat pencatat amalan itu terbahagi kepada dua golongan;
[1]. Golongan yang bertugas dari fajar hingga ke solat Asar
[2]. Golongan yang bertugas dari solat Asar hingga kef ajar berikutnya.

[b]. Manusia seharusnya sedar; segala perbuatannya, siang dan malam dicatat oleh malaikat sebagai bukti dan saksi apa yang telah kita lakukan ketika hidup di dunia ini pada hari pembalasan nanti.

Solat Adalah Amalan yang Pertama Dihisab
14. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amalan pertama akan dihisab pada seseorang hamba ialah solatnya. Jika solatnya baik maka sesungguhnya beliau telah berjaya dan selamat dan sekiranya solatnya rosak maka sesungguhnya rugi dan binasalah ia.

Sekiranya berlaku sesuatu kekurangan pada solat fardhunya, maka Tuhan Pemelihara Azza wa Jalla akan berfirman (kepada para malaikat-Nya) : Lihatlah oleh kamu adakah hamba-Ku mempunyai ibadat tathowwu’?

Lalu solat fardhunya itu disempurnakan dengan solat tathowwu’-nya itu. Kemudian seluruh amalan dihisab sedemikian juga.” [065] (Sahih. Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Juga dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Hakim dll dengan lafaz sedikit berbeza)

Penjelasan dan Pengajaran :
[a]. Ibadat tathowwu’ adalah salah satu dari cabang amalan-amalan mandub (sunat). Antara contoh ibadat tathowwu’ seperti sedekah, puasa Isnin dan Khamis, solat sunat dan sunat muakkad. Dipanggil juga sunat tambahan atau nafilah. (Sila rujuk ilmu usul fiqh).

[b]. Mengenai kekurangan solat fardhu, ulama mempunyai pelbagai pendapat. Antaranya, kekurangan kerana kurang khusyuk dalam solat, kekurangan bilangan solat fardhu, kekurangan kesempurnaan solat dan lain-lain.

Namun ulama memilih kekurangan pada bilangan solat fardhu yang ditinggalkan lebih sesuai dalam mentakrif hadis tersebut.

[c]. Jangan sesekali kita memandang remeh ibadah sunat. ‘Ibadah sunat adalah perkara yang apabila dikerjakan, mendapat pahala yang boleh menyelamat dari azab dan apabila ditinggalkan, akan mengalami kerugian yang besar’.

Tertolak Solat yang Tidak Dibacakan Al-Fatihah
16. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan satu solat tanpa Ummul Quran (Al-Fatihah) maka beliau seorang penipu (diulang tiga kali), (iaitu) tidak sempurna.”

Lalu ditanya (oleh orang) kepada Abu Hurairah : “Sesungguhnya (jika) kami bersolat di belakang imam?”

Kata Abu Hurairah r.a : “Bacalah untuk diri mu kerana sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda” : “Allah Ta’ala berfirman : Aku membahagikan solat itu antara-Ku dengan hamba-Ku kepada dua bahagian dan untuk hamba-Ku apa yang dipintanya (permintaannya dikabulkan).

Apabila si hamba membaca : Segala puji bagi Allah, tuhan sekalian alam,
Allah Ta’ala berfirman : Hamba-Ku memuji-Ku.

Apabila si hamba membaca : Yang Maha Pemurah dan Pengasih,
Allah Ta’ala berfirman : Hamba-Ku memuja-Ku.

Apabila si hamba membaca : Penguasa hari pembalasan,
Allah berfirman : Hamba-Ku mengagungkan Daku, hamba-Ku menyerahkan (urusannya kepada-Ku).

Apabila si hamba membaca : Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami memohon pertolongan,
Allah Ta’ala berfirman : Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang dipintanya.

Apabila si hamba membaca : Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau kurniakan nikmat dan bukannya jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat,
Allah berfirman : Ini adalah untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang dipintanya.”
[074] (Sahih. Dikeluarkan oleh Muslim, Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dl
l)

Penjelasan dan Pengajaran :
[a]. Penipuan dalam solat adalah orang yang tidak tidak mengerjakan solat dengan sempurna (tidak sempurna rukunnya). Puncanya kerana membiarkan diri dalam keadaan jahil dan tidak ambil peduli untuk mempelajari cara bersolat.

[b]. Membahagikan solat itu kepada dua bahagian bermaksud, solat tidak sah tanpa membaca surah Al-Fatihah ini (catatan tepi Sahih Muslim).

Membelanjakan Harta di Jalan Allah
17. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman : Belanjalah wahai anak Adam, Aku akan berbelanja atasmu.” [079] (Sahih. Riwayat Bukhari, Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Penjelasan dan Pengajaran :
Membelanjakan harta di jalan Allah bermaksud : Belanja yang membawa erti menafkahkan harta kepada ibu bapa yang miskin, isteri, anak-anak dalam tanggungan dan tiada sumber pendapatan, kaum kerabat terdekat yang miskin, kaum fakir miskin, orang-orang yang dalam kesusahan dan segala kebaikan yang lainnya kerana Allah Ta’ala.

Mengutamakan yang Lebih Utama
18. Dari Abu Umamah r.a : Rasulullah saw bersabda, “(Allah Azza wa Jalla berfirman) : Wahai anak Adam, sekiranya engkau membelanjakan kelebihan yang ada pada kamu maka itu adalah baik untuk kamu dan jika kamu menahannya maka ia adalah buruk bagi mu.

Dan kamu tidak akan ditempelak (dicela atau dicerca) di atas kadar keperluan yang ada pada kamu. Dan mulakannya (pemberian) itu dengan orang yang bergantung pada mu. Dan tangan di atas adalah lebih baik dari tangan yang di bawah.” [082] (Sahih. Riwayat Muslim, Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

Penjelasan dan Pengajaran :
[a]. Pengorbanan dan sedekah harta yang lebih dari keperluan sendiri dan orang-orang dalam tanggungannya dikira sebagai kebaikan. Keengganan bersedekah kerana kebakhilan hanya membawa keburukan pada diri sendiri.

[b]. ‘Dan kamu tidak akan ditempelak (dicela atau dicerca) di atas kadar keperluan yang ada pada kamu’ bermaksud : tidak dikira berdosa berbelanja pada diri sendiri dan tanggungan seperti membeli rumah yang besar, kereta dan sebagainya.

[c]. Mengutamakan pemberian kepada orang yang menjadi tanggungan.

[d]. Islam menyuruh kepada membantu sesama Islam bukan mencaci, menghina dan kemungkaran lainnya seperti yang terjadi waktu ini.

[e]. Menggalakkan berusaha kepada peningkatan taraf hidup dan bukan hanya berpeluk tubuh mengharap bulan jatuh ke riba.

19. Dari Abu Waaqid Al-Laithi r.a, katanya : Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya Kami telah menurunkan (mengurniakan) harta bagi mendirikan solat dan mengeluarkan zakat.

Jika seorang anak Adam itu mempunyai satu wadi (satu lembah harta) maka sudah pasti ia suka andainya beliau mempunyai wadi kedua; dan sekiranya beliau mempunyai dua wadi sudah pasti beliau suka untuk mempunyai wadi yang ketiga.

Tidaklah yang memenuhi perut anak Adam melainkan tanah (sikap cinta kepada harta dunia itu akan berakhir bila mati). Kemudian Allah menerima taubat siapa yang bertaubat kepada-Nya.” [086] Sahih. Riwayat Ahmad

Penjelasan dan Pengajaran :
Hadis ini menjelaskan peranan harta di muka bumi ini iaitu, ia digunakan untuk membuat amal kebajikan dan beribadah kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Di dalam firman-Nya;
Surah Al-Qasos [28] : 77
Terjemahan : 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerosakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan.

Perkataan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi bukanlah bermaksud mencari dunia separuh dan akhirat separuh (dunia 50% - akhirat 50%) ataupun keseimbangan dalam mencari harta di dunia dan akhirat.

Tetapi apa yang dimaksudkan menerusi ayat itu dalam tafsir Ibnu Katsir adalah, segala harta yang dikurniakan oleh Allah Ta’ala kepada kita adalah untuk tujuan berbuat kebajikan dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Tidak salah jika kita berusah
a mencari berbillion harta di muka bumi ini, tetapi ia bukan untuk tujuan berbangga diri, berbuat maksiat atau kemungkaran lainnya. Ia digunakan untuk kebaikan manusia, Islam khususnya seperti membayar zakat, membina masjid, berjihad atau apa sahaja kebajikan dan ibadah kepada Allah Ta’ala semata-mata.

Selain itu hadis ini juga menerangkan kepada kita bahawa sifat manusia begitu mudah ditewaskan dengan sifat tamak dan digunakan harta itu untuk memuaskan hawa nafsunya dan seringkali tidak merasa cukup pada apa yang ada pada dirinya atau kurang bersyukur.

Pemusnah bagi sifat tamak yang bermaharajalela ini adalah mengingat pemutus kenikmatan, iaitu mati. Apabila mati, tiada harta, makanan atau minuman yang memenuhi perut kita kecuali tanah. Wallahu’alam

Kelebihan Berpuasa
20. Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, (Allah Subhana wa Ta’ala berfirman), “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya melainkan puasa, maka ia adalah untuk-Ku dan Aku yang mengganjarinya.

Dan demi Dia (Allah) yang memegang jiwaku (Nabi Muhammad saw) di dalam Tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Allah dari bau kasturi. Dan puasa itu adalah perisai (yang melindungi dari api neraka).

Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabb Azza wa Jalla di mana dia bergembira dengan puasanya.” [104] Sahih. Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Khuzaimah

Penjelasan dan Pengajaran :
1. Berkata Imam Ibnu Hajar, maksud ganjaran puasa dari Allah adalah ganjaran pahala yang tidak terkira banyaknya. Amalan lain dikira; satu kebaikan digandakan dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali ganda, tetapi puasa hanya Allah yang memberi ganjarannya dan ganjarannya adalah besar.

2. Maksud ‘tangan’ di sini seperti umum yang kita ketahui iaitu, tanpa;

(a). Tahrif (tidak mengubah lafaz atau mengubah maknanya),

(b). Ta’til (tidak menafikan atau menolaknya),

(c). Takyif (tidak bertanya bagaimana) dan

(d). Tamsil (tidak menyerupai Allah dalam zat mahupun perbuatan seperti menyamakan dengan makhluk, sifat makhluk dan menyerupakan sesuatu yang tidak ada, tidak sempurna dan lain-lain).

Semua makna hakiki mengenai sifat-sifat Allah di dalam Al-Quran mahupun hadis, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

3. ‘Puasa itu adalah perisai’. Tambahan oleh ‘Koleksi Hadis (penulis blog)’ pada perkataan selepas itu ‘yang melindungi dari api neraka’ berdasarkan sebuah hadis Hasan dari Imam Ahmad dalam kitab sama, hadis bernombor 105.

Allah Tertawa Kepada Dua Orang
Dari Ibnu Mas’ud r.a, katanya : (Bersabda Rasulullah saw), “Dua orang lelaki yang mana Allah tertawa (dalam riwayat Abu Darda’ r.a dengan darjat Hasan juga dari Thabrani, ditulis ‘ketawa dan bergembira’) melihat kedua-dua mereka;

(a). Seorang lelaki yang berada di atas kudanya yang menyerupai kuda-kuda para sahabatnya. Musuhpun berhadapan dengan mereka lalu tumpas. Manakala lelaki itu tetap teguh atas kudanya (berjihad). Sekiranya beliau terbunuh, maka beliau telahpun menemui kesyahidan. Maka itulah lelaki yang mana Allah tertawa melihatnya.

(b). Dan seorang lelaki yang bangun pada waktu malam, tidak ada seorang pun mengetahuinya lalu beliau menyempurnakan wudhuk dan berselawat ke atas Muhammad solallahu ‘alaihi wasallam dan memuji Allah serta memulakan bacaan Al-Quran (dalam riwayat lain status Sahih dari Imam Ahmad dan Ibnu Hibban ditulis ‘bersolat’).

Maka Allah tertawa melihatnya dan berfirman kepada malaikat-Nya; “Lihatlah kepada hamba-Ku. Tidaklah seorang pun melihatnya kecuali Aku.” [142] Hasan Li Ghoyrihi. Riwayat Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir

Penjelasan dan Pengajaran :
1. Maksud ‘ketawa’ di sini seperti umum yang kita ketahui iaitu, tanpa;
(a). Tahrif (tidak mengubah lafaz atau mengubah maknanya),
(b). Ta’til (tidak menafikan atau menolaknya),
(c). Takyif (tidak bertanya bagaimana) dan
(d). Tamsil (tidak menyerupai Allah dalam zat mahupun perbuatan seperti menyamakan dengan makhluk, sifat makhluk dan menyerupakan sesuatu yang tidak ada, tidak sempurna dan lain-lain).

2. Antara jalan menuju kepada mecintai Al
lah Subhana wa Ta’ala adalah dengan berjihad dan beramal soleh.

3. Manusia dimuliakan di hadapan malaikat kerana amalannya yang ikhlas semata-mata kerana Allah Ta’ala.

4. Besarnya pahala mengikuti sunnah Rasulullah saw (bangun beribadah pada waktu malam ketika orang lain sedang lena) hingga Allah gembira melihatnya dan memujinya di hadapan malaikat.
𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗯𝗮𝘀𝗶𝗰 𝗵𝗮𝗱𝗶𝘀® pinned «Hadis Al-Qudsi Jilid Satu Takrif Hadis Al-Qudsi Hadis Al-Qudsi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam daripada Allah Azza wa Jalla kadangkala dengan perantaraan Jibril 'alaihi salam, kadangkala dengan perantaraan wahyu…»
Kelebihan- kelebihan bagi mereka yang mempelajari hadis.


Terdapat beberapa kelebihan bagi mereka yang mempelajari hadis dan ilmu-ilmu yang bekaitan dengannya, antaranya:

1)Rasulullah SAW telah mendoakan secara khusus kepada mereka yang mempelajari hadis baginda SAW. Beliau bersabda:
نضّر الله امرأ سمع منّا حديثا فحفطه حتّى يبلّغه
Maksudnya : Semoga Allah memberikan cahaya kepada seseorang yang mendengar hadis daripadaku lalu menghafaznya sehingga dia menghafaznya kepada orang lain.
( Hadis riwayat Abu Daud, hadis no.3660, dan imam-imam lain dengan lafaz yang sedikit berbeza )

2) As- Syafie (204H) pernah menyebut :
" Kamu semua hendaklah mendampingi orang-orang yang mempelajari hadis. Sesungguhnya mereka ialah orang yang paling tepat amalannya dikalangan manusia"
( Al-Adab al Syar'iyyah, Ibn Muflih, jilid 1, muka surat 231)

3) Mempelajari serba sedikit tentang ilmu pengkajian hadis dapat membantu seseorang untuk membezakan di antara hadis-hadis yang sahih daripada yang palsu.


4) Mempelajari hadis akan menjadikan kita memahami bagaimana Al Quran ingin diterapkan dan diamalkan didalam kehidupan. Seluruh kehidupan Rasulullah SAW adalah merupakan terjemahan serta huraian kepada isi kandungan Al Quran. Oleh itu, mereka yang ingin menjadikan diri mereka sebagai golongan yang mempraktikkan isi Al Quran hendaklah mempelajari dan mengamalkan hadis-hadis Rasulullah SAW. Isteri Rasulullah SAW, Aisyah pernah berkata:

فإن خُلُق نبيّ الله صلى الله عليه وسلم كان القرآن
Maksudnya : Sesungguhnya akhlak Nabi ALLAH SAW adalah Al Quran
( Hadis sahih riwayat muslim, hadis no. 1773)

5) Dengan mempelajari hadis, kita akan dapat mengetahui bagaimanakah Rasulullah SAW beribadah lalu kita dapat mencontohi Baginda SAW. Kita yakin bahawa ibadah yang dilakukan oleh baginda SAW itulah yang terbaik dan berpeluang untuk diterima di sisi ALLAH.

https://t.me/kitabasas