Kabar Darulfunun
50 subscribers
710 photos
2 videos
442 links
Update informasi terbaru pendidikan dan dunia Islam
Download Telegram
Melaka Ranah Pertarungan Ekonomi Politik

Dr. Iramady Irdja

Kota tua Malaka, yang kemudian berubah menjadi “Melaka” sesuai aksen kolonial. Sama halnya dengan “Malayu” yang menjadi “Melayu”. Suasana kota malam menjelang 1 Mei 2026, jalanan macet hampir disetiap persimpangan jalan. Melaka menjadi salah satu kota tujuan hari libur dari Kuala Lumpur, Seremban, dan Johor Bahru. Mirip dengan Bogor yang selalu padat pada hari libur.

Melaka didirikan oleh Parameswara dari Sriwijaya sekitar tahun 1400, merupakan pusat perdagangan kosmopolitan yang strategis di Selat Malaka, menghubungkan Timur dan Barat.

Sejarah panjang Melaka antara abad ke-14 hingga ke-17 bukan sekadar narasi tentang pelabuhan yang ramai, melainkan sebuah studi kasus ekonomi politik yang kompleks mengenai bagaimana kekuasaan dibangun di atas kendali komoditas dan jaringan diaspora dari Indonesia.

Perantau Minang menyusuri sungai-sungai besar dari daratan tinggi (Luhak nan Tigo) menuju pesisir timur Sumatera, seperti sungai…
Menjual Sekam ke Ibukota! Merebut Potensi Ekonomi Hijau

Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri

Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.

Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.

Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari

Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.

Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang…
Menjual Sekam ke Ibukota! Merebut Potensi Ekonomi Hijau

Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri

Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.

Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.

Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari

Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.

Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang…
Rebung, Tunas Bambu yang Menjadi Warisan Dapur Melayu-Minang

Di banyak kampung di Sumatera, rumpun bambu bukan sekadar tanaman pelengkap halaman atau penahan longsor di tepian sungai. Dari rumpun itulah lahir salah satu bahan pangan tradisional yang sudah menemani masyarakat sejak lama: rebung. Tunas muda bambu ini tumbuh cepat setelah hujan, muncul dari tanah dengan bentuk runcing, lalu dipanen sebelum mengeras menjadi batang bambu.

Bagi masyarakat Melayu dan Minangkabau, rebung bukan makanan asing. Ia hadir di dapur-dapur kampung, di kenduri kecil, hingga di meja makan keluarga saat musim hujan tiba. Diolah menjadi gulai santan, dicampur ikan sungai, dimasak pedas, atau sekadar ditumis sederhana, rebung menyimpan rasa khas yang sulit digantikan oleh bahan lain.

Ada aroma alam yang kuat pada rebung. Sedikit pahit, sedikit manis, dengan tekstur renyah yang unik. Karena itulah, memasak rebung memerlukan kesabaran. Rebung biasanya direbus terlebih dahulu untuk mengurangi getah dan aroma…
Rebung, Tunas Bambu yang Menjadi Warisan Dapur Melayu-Minang

Di banyak kampung di Sumatera, rumpun bambu bukan sekadar tanaman pelengkap halaman atau penahan longsor di tepian sungai. Dari rumpun itulah lahir salah satu bahan pangan tradisional yang sudah menemani masyarakat sejak lama: rebung. Tunas muda bambu ini tumbuh cepat setelah hujan, muncul dari tanah dengan bentuk runcing, lalu dipanen sebelum mengeras menjadi batang bambu.

Bagi masyarakat Melayu dan Minangkabau, rebung bukan makanan asing. Ia hadir di dapur-dapur kampung, di kenduri kecil, hingga di meja makan keluarga saat musim hujan tiba. Diolah menjadi gulai santan, dicampur ikan sungai, dimasak pedas, atau sekadar ditumis sederhana, rebung menyimpan rasa khas yang sulit digantikan oleh bahan lain.

Ada aroma alam yang kuat pada rebung. Sedikit pahit, sedikit manis, dengan tekstur renyah yang unik. Karena itulah, memasak rebung memerlukan kesabaran. Rebung biasanya direbus terlebih dahulu untuk mengurangi getah dan aroma…
Meneropong Malaysia Dari Perspektif Ekonomi Politik

Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia

“Kita semua adalah warga Malaysia. Inilah ikatan yang mempersatukan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa persatuan adalah kekuatan fundamental kita sebagai bangsa dan sebagai negara.” (Tunku Abdul Rahman)

“Blusukan” Di Tanah Semenanjung

Dekade 1960-an menjadi titik awal terbentuknya memori kolektif Penulis terhadap Semenanjung Malaya. Masih terngiang resonansi suara bariton penyiar Radio Suara Malaysia Kamaruddin Ahmad di kanal Radio Televisyen Malaysia (RTM), terjalin sebuah koneksi auditori yang kemudian bermuara pada rasa cinta mendalam terhadap “Tanah Semenanjung”.

Bagi Penulis, Malaysia bukan sekadar tetangga geografis, melainkan “Tanah Air kedua” sebuah sentimen yang diperkuat oleh realitas sosiologis banyaknya kerabat dari kampung halaman Penulis yang berhasil meraih kesuksesan ekonomi di sana melalui jalur migrasi sebagai perantau permanen.…
5 Jalur Sungai yang Membawa Orang Minang ke Dunia Melayu

Dari Mudiak (Hulu) ke Ilia (Hilir)

Dalam tradisi Minangkabau, perjalanan merantau sering dimulai dari kawasan mudiak, yakni daerah hulu dan pedalaman yang berada di dataran tinggi. Dari kampung-kampung di darek seperti Luak Lima Puluh, Tanah Datar dan Agam hingga wilayah Kuantan dan Dharmasraya, masyarakat turun mengikuti aliran batang sungai menuju wilayah hilir di pesisir timur Sumatra. Perjalanan ini bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga perpindahan peradaban: dari nagari agraris menuju pusat perdagangan dan pelabuhan Melayu.

Sehingga budaya merantau bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia adalah jalan mencari ilmu, pengalaman, perdagangan, hingga membangun jaringan sosial dan budaya. Sebelum jalan raya dan kendaraan modern berkembang, sungai menjadi “urat nadi” yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman dengan pesisir, lalu terus menuju negeri-negeri rantau.

Sungai dan Filosofi Merantau

Bagi orang Minang,…
Busthanul Arifin: Putra Payakumbuh yang Mengubah Arah Peradilan Agama

Prof. Dr. Busthanul Arifin, SH bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan Peradilan Agama di Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan jejak intelektual melalui karya-karyanya. Putra Koto Nan Gadang, Payakumbuh ini bukanlah sekadar seorang hakim agung. Ia adalah salah satu arsitek utama yang mengubah wajah Peradilan Agama di Indonesia dari lembaga yang dahulu dipandang “setengah resmi” menjadi bagian penuh dari sistem peradilan nasional. Dari kota kecil Payakumbuh, lahir seorang pemikir hukum Islam yang gagasannya masih terasa hingga hari ini.

Lahir pada 2 Juni 1929 di Payakumbuh, Busthanul Arifin tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat dengan tradisi surau, pendidikan agama, dan budaya intelektual. Masa kecilnya diisi dengan belajar mengaji, membaca kitab, membantu keluarga di sawah dan ladang, serta belajar silat. Pendidikan tradisional itu membentuk watak disiplin dan…
Busthanul Arifin: Putra Payakumbuh yang Mengubah Arah Peradilan Agama

Prof. Dr. Busthanul Arifin, SH bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan Peradilan Agama di Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan jejak intelektual melalui karya-karyanya. Putra Koto Nan Gadang, Payakumbuh ini bukanlah sekadar seorang hakim agung. Ia adalah salah satu arsitek utama yang mengubah wajah Peradilan Agama di Indonesia dari lembaga yang dahulu dipandang “setengah resmi” menjadi bagian penuh dari sistem peradilan nasional. Dari kota kecil Payakumbuh, lahir seorang pemikir hukum Islam yang gagasannya masih terasa hingga hari ini.

Lahir pada 2 Juni 1929 di Payakumbuh, Busthanul Arifin tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat dengan tradisi surau, pendidikan agama, dan budaya intelektual. Masa kecilnya diisi dengan belajar mengaji, membaca kitab, membantu keluarga di sawah dan ladang, serta belajar silat. Pendidikan tradisional itu membentuk watak disiplin dan…
Jejak Nagari Dagang Simalanggang di Tepian Sungai Sinamar

Nagari Simalanggang di Kabupaten Lima Puluh Kota atau yang dikenal dengan nama Seri Malenggang bukan sekadar kawasan pertanian di tepian Batang Sinamar. Dalam ingatan tambo, cerita lisan, dan jalur rantau Minangkabau, kawasan ini menyimpan jejak panjang sebagai nagari tua yang pernah hidup dari denyut perdagangan sungai, pertanian, dan hubungan antarkawasan. Nama “Seri Malenggang” yang kerap dikaitkan dengan Simalanggang menjadi penanda hubungan sejarah dan budaya yang melampaui batas nagari, bahkan hingga Negeri Sembilan di Semenanjung Melayu.

Menurut pemerhati budaya adat Minangkabau, Abdullah A. Afifi, Simalanggang terdiri dari kata Si/Sri/Seri menunjukkan kekhususan seperti kata “The” dalam bahasa Inggris, dan Malenggang yang bermaksud berjalan. Sehingga Simalanggang bermaksud tempat untuk memulai berjalan. Hal ini diyakini karena kata Seri Melenggang yang masih digunakan oleh generasi perantau di Negeri Sembilan. Walaupun…
Jejak Nagari Dagang Simalanggang di Tepian Sungai Sinamar

Nagari Simalanggang di Kabupaten Lima Puluh Kota atau yang dikenal dengan nama Seri Malenggang bukan sekadar kawasan pertanian di tepian Batang Sinamar. Dalam ingatan tambo, cerita lisan, dan jalur rantau Minangkabau, kawasan ini menyimpan jejak panjang sebagai nagari tua yang pernah hidup dari denyut perdagangan sungai, pertanian, dan hubungan antarkawasan. Nama “Seri Malenggang” yang kerap dikaitkan dengan Simalanggang menjadi penanda hubungan sejarah dan budaya yang melampaui batas nagari, bahkan hingga Negeri Sembilan di Semenanjung Melayu.

Batang Sinamar sejak dahulu bukan hanya aliran air yang membelah lembah dan sawah, tetapi juga jalur kehidupan masyarakat. Sungai menjadi nadi transportasi, jalur distribusi hasil bumi, sekaligus ruang tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat nagari. Di tepian sungai inilah masyarakat membawa hasil sawah, rebung, kayu, rotan, hingga hasil kebun untuk diperdagangkan di pasar-pasar rakyat.…
Strategi Desa di Saat Dollar Naik

Kenaikan nilai dollar sering dianggap sebagai persoalan ekonomi global yang jauh dari kehidupan desa. Padahal dampaknya sangat terasa hingga ke tingkat kampung dan nagari. Harga pupuk naik, bahan bangunan menjadi mahal, biaya transportasi meningkat, hingga daya beli masyarakat mulai melemah. Ketika ekonomi global bergejolak, desa ikut merasakan tekanannya.

Namun di tengah tantangan itu, desa sebenarnya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki kota: sumber pangan, lahan, solidaritas sosial, dan kemampuan hidup mandiri. Karena itu, saat dollar naik, desa tidak cukup hanya bertahan. Desa perlu menyusun strategi agar mampu menjadi pusat ketahanan ekonomi masyarakat.

Memperkuat Ketahanan Pangan Lokal

Strategi pertama yang paling penting adalah memperkuat ketahanan pangan. Desa harus memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi dari produksi lokal. Pekarangan rumah, sawah, kolam ikan, kebun, hingga lahan tidur perlu kembali dihidupkan.

Gerakan menanam…
Danantara Sumber Daya Indonesia (Dsi) Dari Perspektif Ekonomi Politik

Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia

“Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” (Pasal 33 ayat 3, UUD 1945)

A. DARI BPPC KE DSI – MENJINAKKAN PASAR ATAU MELEMBAGAKAN RENTE (?)

Pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) merupakan langkah terobosan (breakthrough) yang berani dari pemerintahan Presiden Prabowo. Dari aspek “nawaitu” perlu diapresiasi dengan acungan jempol sebagai upaya serius menerapkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sesuai cita-cita Founding Father bangsa Indonesia.

DSI bertindak sebagai perantara untuk ekspor komoditas penting seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan paduan logam (ferro alloy) bagi eksportir. Selain itu, bertujuan memperkuat kedaulatan devisa negara.

Dari kacamata ekonomi politik, pembentukan DSI adalah pertarungan perebutan…
Danantara Sumber Daya Indonesia (Dsi) Dari Perspektif Ekonomi Politik

Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia

“Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” (Pasal 33 ayat 3, UUD 1945)

A. DARI BPPC KE DSI – MENJINAKKAN PASAR ATAU MELEMBAGAKAN RENTE (?)

Pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) merupakan langkah terobosan (breakthrough) yang berani dari pemerintahan Presiden Prabowo. Dari aspek “nawaitu” perlu diapresiasi dengan acungan jempol sebagai upaya serius menerapkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sesuai cita-cita Founding Father bangsa Indonesia.

DSI bertindak sebagai perantara untuk ekspor komoditas penting seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan paduan logam (ferro alloy) bagi eksportir. Selain itu, bertujuan memperkuat kedaulatan devisa negara.

Dari kacamata ekonomi politik, pembentukan DSI adalah pertarungan perebutan…