Dari Dapur Pedagang Kaki Lima ke Lingkungan: Gerakan Nyata RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Membangun Budaya Sehat yang Menginspirasi
Siapa sangka, perubahan besar dalam kesehatan masyarakat bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti cara kita mengolah makanan dan memperlakukan sampah? Inilah pesan kuat yang digaungkan dalam […]
Siapa sangka, perubahan besar dalam kesehatan masyarakat bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti cara kita mengolah makanan dan memperlakukan sampah? Inilah pesan kuat yang digaungkan dalam […]
Kedigdayaan Iran dari Perspektif Ekonomi Politik
Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari apa yang ia beli dari dunia, melainkan dari apa yang tetap ia bangun saat hegemoni dunia ‘memalingkan’ wajah. Prinsip hidup, lebih baik mengolah gandum di tanah yang gersang dengan tangan sendiri, daripada memanen emas di lahan milik tuan yang mendikte dan serakah.” (IRM : diolah dari realitas pengalaman Iran)
IRAN : MENAWARKAN PROBABILITAS BARU
Tulisan ini bukan dalam konteks prediksi “kalah–menang” Iran dalam Perang Teluk yang sedang berkecamuk.
Penggunaan diksi “Digdaya” secara harfiah dari bahasa Jawa, menggambarkan sosok yang tangguh, petarung sejati, dan sakti mandraguna. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan keunggulan, kekuatan tidak terkalahkan, atau mumpuni dalam konteks kemampuan, teknologi, atau kekuasaan.
Dalam perspektif ekonomi politik, filosofi Iran berakar pada “Autarki Strategis”—sebuah…
Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari apa yang ia beli dari dunia, melainkan dari apa yang tetap ia bangun saat hegemoni dunia ‘memalingkan’ wajah. Prinsip hidup, lebih baik mengolah gandum di tanah yang gersang dengan tangan sendiri, daripada memanen emas di lahan milik tuan yang mendikte dan serakah.” (IRM : diolah dari realitas pengalaman Iran)
IRAN : MENAWARKAN PROBABILITAS BARU
Tulisan ini bukan dalam konteks prediksi “kalah–menang” Iran dalam Perang Teluk yang sedang berkecamuk.
Penggunaan diksi “Digdaya” secara harfiah dari bahasa Jawa, menggambarkan sosok yang tangguh, petarung sejati, dan sakti mandraguna. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan keunggulan, kekuatan tidak terkalahkan, atau mumpuni dalam konteks kemampuan, teknologi, atau kekuasaan.
Dalam perspektif ekonomi politik, filosofi Iran berakar pada “Autarki Strategis”—sebuah…
DARAM Resmikan Kantor Pusat, Lontarkan Rencana Membangun Islamic Center di Atas Lahan 75 Hektar
JAKARTA (18/4) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) DARAM (Dai Rantau Minang) mengukir sejarah baru dalam pergerakan dakwahnya. Organisasi ini secara resmi meresmikan kantor pusat baru sekaligus mencanangkan proyek mercusuar berupa pembangunan Islamic Center Internasional seluas 75 hektar yang diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam terpadu di Indonesia.
Peresmian Kantor Pusat
Ketua DPP DARAM, Dr. Elfa Hendri Mukhlis, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan wujud syukur atas kemandirian organisasi yang kini telah memiliki gedung kantor sendiri. Menurutnya, langkah ini menjadi fondasi awal untuk merealisasikan visi besar yang menggabungkan pilar dakwah, pendidikan, dan kekuatan ekonomi.
“Alhamdulillah, hari ini bukan sekadar peresmian kantor, melainkan pemancangan niat besar kita untuk membangun umat secara komprehensif. Islamic Center ini adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan model…
JAKARTA (18/4) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) DARAM (Dai Rantau Minang) mengukir sejarah baru dalam pergerakan dakwahnya. Organisasi ini secara resmi meresmikan kantor pusat baru sekaligus mencanangkan proyek mercusuar berupa pembangunan Islamic Center Internasional seluas 75 hektar yang diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam terpadu di Indonesia.
Peresmian Kantor Pusat
Ketua DPP DARAM, Dr. Elfa Hendri Mukhlis, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan wujud syukur atas kemandirian organisasi yang kini telah memiliki gedung kantor sendiri. Menurutnya, langkah ini menjadi fondasi awal untuk merealisasikan visi besar yang menggabungkan pilar dakwah, pendidikan, dan kekuatan ekonomi.
“Alhamdulillah, hari ini bukan sekadar peresmian kantor, melainkan pemancangan niat besar kita untuk membangun umat secara komprehensif. Islamic Center ini adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan model…
DARAM Resmikan Kantor Pusat, Lontarkan Rencana Membangun Islamic Center di Atas Lahan 75 Hektar
JAKARTA (18/4) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) DARAM (Dai Rantau Minang) mengukir sejarah baru dalam pergerakan dakwahnya. Organisasi ini secara resmi meresmikan kantor pusat baru sekaligus mencanangkan proyek mercusuar berupa pembangunan Islamic Center Internasional seluas 75 hektar yang diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam terpadu di Indonesia.
Peresmian Kantor Pusat
Ketua DPP DARAM, Dr. Elfa Hendri Mukhlis, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan wujud syukur atas kemandirian organisasi yang kini telah memiliki gedung kantor sendiri. Menurutnya, langkah ini menjadi fondasi awal untuk merealisasikan visi besar yang menggabungkan pilar dakwah, pendidikan, dan kekuatan ekonomi.
“Alhamdulillah, hari ini bukan sekadar peresmian kantor, melainkan pemancangan niat besar kita untuk membangun umat secara komprehensif. Islamic Center ini adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan model…
JAKARTA (18/4) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) DARAM (Dai Rantau Minang) mengukir sejarah baru dalam pergerakan dakwahnya. Organisasi ini secara resmi meresmikan kantor pusat baru sekaligus mencanangkan proyek mercusuar berupa pembangunan Islamic Center Internasional seluas 75 hektar yang diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam terpadu di Indonesia.
Peresmian Kantor Pusat
Ketua DPP DARAM, Dr. Elfa Hendri Mukhlis, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan wujud syukur atas kemandirian organisasi yang kini telah memiliki gedung kantor sendiri. Menurutnya, langkah ini menjadi fondasi awal untuk merealisasikan visi besar yang menggabungkan pilar dakwah, pendidikan, dan kekuatan ekonomi.
“Alhamdulillah, hari ini bukan sekadar peresmian kantor, melainkan pemancangan niat besar kita untuk membangun umat secara komprehensif. Islamic Center ini adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan model…
DPLN Daram Malaysia Siap Mendukung Pembangunan International Islamic Center
KUALA LUMPUR (18/4) – Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) Daram Malaysia, Buya Sjaftin Ruli, menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung pembangunan International Islamic Center (IIC) seluas 75 hektar yang baru saja dicanangkan oleh DPP Daram di Jakarta. Dukungan ini mencakup sinergi pendanaan, jaringan diaspora, hingga penguatan sumber daya lintas negara. Perwakilan pengurus DPLN Daram Malaysia pada kesempatan ini yang hadir adalah Buya Sjaftin Ruli dan Dr. Abdullah Afifi.
Ketua DPP Daram, Dr. Elfa Hendri Mukhlis, menyambut baik antusiasme para perantau Minang di Malaysia. Menurutnya, keterlibatan DPLN Malaysia menjadi kunci strategis mengingat kuatnya jaringan ekonomi dan sosial warga diaspora di Negeri Jiran.
Kolaborasi Strategis Lintas Negara
Perwakilan DPLN Daram Malaysia mengungkapkan bahwa proyek Islamic Center yang mengintegrasikan dakwah, pendidikan, dan bisnis adalah langkah yang sangat dinantikan.…
KUALA LUMPUR (18/4) – Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) Daram Malaysia, Buya Sjaftin Ruli, menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung pembangunan International Islamic Center (IIC) seluas 75 hektar yang baru saja dicanangkan oleh DPP Daram di Jakarta. Dukungan ini mencakup sinergi pendanaan, jaringan diaspora, hingga penguatan sumber daya lintas negara. Perwakilan pengurus DPLN Daram Malaysia pada kesempatan ini yang hadir adalah Buya Sjaftin Ruli dan Dr. Abdullah Afifi.
Ketua DPP Daram, Dr. Elfa Hendri Mukhlis, menyambut baik antusiasme para perantau Minang di Malaysia. Menurutnya, keterlibatan DPLN Malaysia menjadi kunci strategis mengingat kuatnya jaringan ekonomi dan sosial warga diaspora di Negeri Jiran.
Kolaborasi Strategis Lintas Negara
Perwakilan DPLN Daram Malaysia mengungkapkan bahwa proyek Islamic Center yang mengintegrasikan dakwah, pendidikan, dan bisnis adalah langkah yang sangat dinantikan.…
Pembangunan Perumahan dan Kawasan Ekonomi Industri Terintegrasi: Mengintip Cara Malaysia
Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia (PCMM)
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Pembangunan daerah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, menghadapi persoalan klasik, ada tetapi tidak memberikan kesan yang masif. Perumahan domisili ada tanpa kawasan ekonomi yang hidup, tanpa basis industri ekonomi yang jelas. Kawasan industri berdiri, tetapi tidak terhubung dengan sistem sosial dan hunian masyarakat. Inilah yang kemudian terjadinya fragmentasi pembangunan, yakni ketika berbagai elemen tumbuh sendiri-sendiri tanpa terintegrasi.
Pembangunan daerah sepatutnya tidak lagi cukup diukur dari seberapa banyak proyek yang terwujud, tetapi dari seberapa kuat keterhubungan antar-elemen ekonomi potensial yang produktif. Sumatera Barat, dengan segala potensi sumber daya manusia dan jejaring ekonominya, saat ini juga masih menghadapi tantangan mendasar: pembangunan yang…
Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia (PCMM)
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Pembangunan daerah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, menghadapi persoalan klasik, ada tetapi tidak memberikan kesan yang masif. Perumahan domisili ada tanpa kawasan ekonomi yang hidup, tanpa basis industri ekonomi yang jelas. Kawasan industri berdiri, tetapi tidak terhubung dengan sistem sosial dan hunian masyarakat. Inilah yang kemudian terjadinya fragmentasi pembangunan, yakni ketika berbagai elemen tumbuh sendiri-sendiri tanpa terintegrasi.
Pembangunan daerah sepatutnya tidak lagi cukup diukur dari seberapa banyak proyek yang terwujud, tetapi dari seberapa kuat keterhubungan antar-elemen ekonomi potensial yang produktif. Sumatera Barat, dengan segala potensi sumber daya manusia dan jejaring ekonominya, saat ini juga masih menghadapi tantangan mendasar: pembangunan yang…
Pembangunan Perumahan dan Kawasan Ekonomi Industri Terintegrasi: Mengintip Cara Malaysia
Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Cendekiawan Minang Malaysia
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Pembangunan daerah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, menghadapi persoalan klasik, ada tetapi tidak memberikan kesan yang masif. Perumahan domisili ada tanpa kawasan ekonomi yang hidup, tanpa basis industri ekonomi yang jelas. Kawasan industri berdiri, tetapi tidak terhubung dengan sistem sosial dan hunian masyarakat. Inilah yang kemudian terjadinya fragmentasi pembangunan, yakni ketika berbagai elemen tumbuh sendiri-sendiri tanpa terintegrasi.
Pembangunan daerah sepatutnya tidak lagi cukup diukur dari seberapa banyak proyek yang terwujud, tetapi dari seberapa kuat keterhubungan antar-elemen ekonomi potensial yang produktif. Sumatera Barat, dengan segala potensi sumber daya manusia dan jejaring ekonominya, saat ini juga masih menghadapi tantangan mendasar: pembangunan yang berjalan, namun…
Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Cendekiawan Minang Malaysia
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Pembangunan daerah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, menghadapi persoalan klasik, ada tetapi tidak memberikan kesan yang masif. Perumahan domisili ada tanpa kawasan ekonomi yang hidup, tanpa basis industri ekonomi yang jelas. Kawasan industri berdiri, tetapi tidak terhubung dengan sistem sosial dan hunian masyarakat. Inilah yang kemudian terjadinya fragmentasi pembangunan, yakni ketika berbagai elemen tumbuh sendiri-sendiri tanpa terintegrasi.
Pembangunan daerah sepatutnya tidak lagi cukup diukur dari seberapa banyak proyek yang terwujud, tetapi dari seberapa kuat keterhubungan antar-elemen ekonomi potensial yang produktif. Sumatera Barat, dengan segala potensi sumber daya manusia dan jejaring ekonominya, saat ini juga masih menghadapi tantangan mendasar: pembangunan yang berjalan, namun…
Paradoks Pendidikan: Biaya Kian Mahal, Ilmu Justru Kehilangan Makna
Dr. Arman Husni
– Dosen UIN Bukittinggi
– Pemerhati Sosial Keagamaan dan Pendidikan
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan di Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: apakah kualitas pendidikan kita benar-benar ikut naik? Atau justru, kita sedang menghadapi paradoks besar yang diam-diam menggerus masa depan generasi muda?
Tulisan ini menghadirkan refleksi tajam tentang arah pendidikan kita hari ini, antara mahalnya biaya dan belum tuntasnya kualitas yang diharapkan.
Di tengah gencarnya pembangunan dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, dunia pendidikan kita justru dihadapkan pada sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Biaya pendidikan kian melambung, namun kualitas yang diharapkan belum sepenuhnya menjawab tantangan zaman.
Pendidikan yang semestinya menjadi jalan pembebasan, perlahan berubah menjadi sekat yang membatasi.
Fenomena Pengangguran Terdidik
Hari ini, akses terhadap pendidikan tidak lagi sepenuhnya…
Dr. Arman Husni
– Dosen UIN Bukittinggi
– Pemerhati Sosial Keagamaan dan Pendidikan
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan di Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: apakah kualitas pendidikan kita benar-benar ikut naik? Atau justru, kita sedang menghadapi paradoks besar yang diam-diam menggerus masa depan generasi muda?
Tulisan ini menghadirkan refleksi tajam tentang arah pendidikan kita hari ini, antara mahalnya biaya dan belum tuntasnya kualitas yang diharapkan.
Di tengah gencarnya pembangunan dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, dunia pendidikan kita justru dihadapkan pada sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Biaya pendidikan kian melambung, namun kualitas yang diharapkan belum sepenuhnya menjawab tantangan zaman.
Pendidikan yang semestinya menjadi jalan pembebasan, perlahan berubah menjadi sekat yang membatasi.
Fenomena Pengangguran Terdidik
Hari ini, akses terhadap pendidikan tidak lagi sepenuhnya…
Paradoks Pendidikan: Biaya Kian Mahal, Ilmu Justru Kehilangan Makna
Dr. Arman Husni
– Dosen UIN Bukittinggi
– Pemerhati Sosial Keagamaan dan Pendidikan
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan di Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: apakah kualitas pendidikan kita benar-benar ikut naik? Atau justru, kita sedang menghadapi paradoks besar yang diam-diam menggerus masa depan generasi muda?
Tulisan ini menghadirkan refleksi tajam tentang arah pendidikan kita hari ini, antara mahalnya biaya dan belum tuntasnya kualitas yang diharapkan.
Di tengah gencarnya pembangunan dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, dunia pendidikan kita justru dihadapkan pada sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Biaya pendidikan kian melambung, namun kualitas yang diharapkan belum sepenuhnya menjawab tantangan zaman.
Pendidikan yang semestinya menjadi jalan pembebasan, perlahan berubah menjadi sekat yang membatasi.
Fenomena Pengangguran Terdidik
Hari ini, akses terhadap pendidikan tidak lagi sepenuhnya…
Dr. Arman Husni
– Dosen UIN Bukittinggi
– Pemerhati Sosial Keagamaan dan Pendidikan
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan di Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: apakah kualitas pendidikan kita benar-benar ikut naik? Atau justru, kita sedang menghadapi paradoks besar yang diam-diam menggerus masa depan generasi muda?
Tulisan ini menghadirkan refleksi tajam tentang arah pendidikan kita hari ini, antara mahalnya biaya dan belum tuntasnya kualitas yang diharapkan.
Di tengah gencarnya pembangunan dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, dunia pendidikan kita justru dihadapkan pada sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Biaya pendidikan kian melambung, namun kualitas yang diharapkan belum sepenuhnya menjawab tantangan zaman.
Pendidikan yang semestinya menjadi jalan pembebasan, perlahan berubah menjadi sekat yang membatasi.
Fenomena Pengangguran Terdidik
Hari ini, akses terhadap pendidikan tidak lagi sepenuhnya…
“Dajjal Peradaban” dari Perspektif Ekonomi Politik
Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Tidak ada fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal sejak Adam diciptakan hingga kiamat” (HR. Ahmad 15831).
RAMADHAN: MELAWAN “DAJJAL PERADABAN”
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan ruang inkubasi intelektual. Di sini, ketakwaan diuji bukan dalam kesalehan pasif, melainkan melalui ketajaman analisis terhadap realitas. Tanpa daya kritis, takwa hanyalah pelarian. Di bulan ini, pencarian kebenaran (al-haqq) adalah bentuk perlawanan tertinggi terhadap distorsi global.
Kita sedang menghadapi Dajjal Peradaban (DP), sebuah sistem sistemik berbasis kepalsuan (deception) yang mengaburkan batas fakta dan opini. Mengutip Francis Fukuyama dalam The Great Disruption, kekacauan besar ini tidak akan sembuh dengan sendirinya. DP adalah sistem “buta sebelah” yang cacat moral di tengah kemajuan teknokratis:
(a). Paradoks HAM: Menjunjung hak asasi, tapi…
Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Tidak ada fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal sejak Adam diciptakan hingga kiamat” (HR. Ahmad 15831).
RAMADHAN: MELAWAN “DAJJAL PERADABAN”
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan ruang inkubasi intelektual. Di sini, ketakwaan diuji bukan dalam kesalehan pasif, melainkan melalui ketajaman analisis terhadap realitas. Tanpa daya kritis, takwa hanyalah pelarian. Di bulan ini, pencarian kebenaran (al-haqq) adalah bentuk perlawanan tertinggi terhadap distorsi global.
Kita sedang menghadapi Dajjal Peradaban (DP), sebuah sistem sistemik berbasis kepalsuan (deception) yang mengaburkan batas fakta dan opini. Mengutip Francis Fukuyama dalam The Great Disruption, kekacauan besar ini tidak akan sembuh dengan sendirinya. DP adalah sistem “buta sebelah” yang cacat moral di tengah kemajuan teknokratis:
(a). Paradoks HAM: Menjunjung hak asasi, tapi…
Merangkai Pembangunan dengan Kereta Api
Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia
– Bendahara DARAM Malaysia
– Analis Sumitronomics & Regional Development
Beberapa tahun sebelum munculnya kereta wisata di Sumatera Barat, saya cukup intens berbicara tentang kereta api. Namun, bukan dalam konteks yang umum dibicarakan banyak orang, sebagai ikon modernitas, daya tarik pariwisata, atau simbol kebanggaan daerah. Bagi saya, kereta api adalah alat. Ia adalah instrumen strategis dalam merangkai pemerataan pembangunan, terutama dalam kerangka besar mobilisasi manusia, barang, dan peluang ekonomi.
Sudut pandang ini memang tidak selalu populer. Ketika sebagian publik terpesona oleh estetika stasiun yang megah, kereta cepat yang futuristik, atau branding kota yang semakin modern, saya justru melihat rel sebagai urat nadi ekonomi. Rel yang menghubungkan pusat produksi dengan pasar, desa dengan kota, hinterland dengan pelabuhan. Dalam cara pandang ini, kereta api dan…
Abdullah A. Afifi
– Ketua Biro Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia
– Bendahara DARAM Malaysia
– Analis Sumitronomics & Regional Development
Beberapa tahun sebelum munculnya kereta wisata di Sumatera Barat, saya cukup intens berbicara tentang kereta api. Namun, bukan dalam konteks yang umum dibicarakan banyak orang, sebagai ikon modernitas, daya tarik pariwisata, atau simbol kebanggaan daerah. Bagi saya, kereta api adalah alat. Ia adalah instrumen strategis dalam merangkai pemerataan pembangunan, terutama dalam kerangka besar mobilisasi manusia, barang, dan peluang ekonomi.
Sudut pandang ini memang tidak selalu populer. Ketika sebagian publik terpesona oleh estetika stasiun yang megah, kereta cepat yang futuristik, atau branding kota yang semakin modern, saya justru melihat rel sebagai urat nadi ekonomi. Rel yang menghubungkan pusat produksi dengan pasar, desa dengan kota, hinterland dengan pelabuhan. Dalam cara pandang ini, kereta api dan…
Melaka Ranah Pertarungan Ekonomi Politik
Dr. Iramady Irdja
Kota tua Malaka, yang kemudian berubah menjadi “Melaka” sesuai aksen kolonial. Sama halnya dengan “Malayu” yang menjadi “Melayu”. Suasana kota malam menjelang 1 Mei 2026, jalanan macet hampir disetiap persimpangan jalan. Melaka menjadi salah satu kota tujuan hari libur dari Kuala Lumpur, Seremban, dan Johor Bahru. Mirip dengan Bogor yang selalu padat pada hari libur.
Melaka didirikan oleh Parameswara dari Sriwijaya sekitar tahun 1400, merupakan pusat perdagangan kosmopolitan yang strategis di Selat Malaka, menghubungkan Timur dan Barat.
Sejarah panjang Melaka antara abad ke-14 hingga ke-17 bukan sekadar narasi tentang pelabuhan yang ramai, melainkan sebuah studi kasus ekonomi politik yang kompleks mengenai bagaimana kekuasaan dibangun di atas kendali komoditas dan jaringan diaspora dari Indonesia.
Perantau Minang menyusuri sungai-sungai besar dari daratan tinggi (Luhak nan Tigo) menuju pesisir timur Sumatera, seperti sungai…
Dr. Iramady Irdja
Kota tua Malaka, yang kemudian berubah menjadi “Melaka” sesuai aksen kolonial. Sama halnya dengan “Malayu” yang menjadi “Melayu”. Suasana kota malam menjelang 1 Mei 2026, jalanan macet hampir disetiap persimpangan jalan. Melaka menjadi salah satu kota tujuan hari libur dari Kuala Lumpur, Seremban, dan Johor Bahru. Mirip dengan Bogor yang selalu padat pada hari libur.
Melaka didirikan oleh Parameswara dari Sriwijaya sekitar tahun 1400, merupakan pusat perdagangan kosmopolitan yang strategis di Selat Malaka, menghubungkan Timur dan Barat.
Sejarah panjang Melaka antara abad ke-14 hingga ke-17 bukan sekadar narasi tentang pelabuhan yang ramai, melainkan sebuah studi kasus ekonomi politik yang kompleks mengenai bagaimana kekuasaan dibangun di atas kendali komoditas dan jaringan diaspora dari Indonesia.
Perantau Minang menyusuri sungai-sungai besar dari daratan tinggi (Luhak nan Tigo) menuju pesisir timur Sumatera, seperti sungai…
Menjual Sekam ke Ibukota! Merebut Potensi Ekonomi Hijau
Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.
Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.
Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.
Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang…
Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.
Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.
Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.
Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang…
Menjual Sekam ke Ibukota! Merebut Potensi Ekonomi Hijau
Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.
Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.
Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.
Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang…
Abdullah A. Afifi
– Peneliti Waqf, Ekonomi Islam dan Industri
Ada pemandangan yang terlalu sering kita anggap biasa di daerah: tumpukan sekam padi yang dibiarkan menggunung di pinggir penggilingan, dan atau dibakar begitu saja untuk disingkirkan disaat masa paska panen.
Asapnya kemudian mengepul, tidak sampai membuat sesak, tetapi jelas nilainya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya abu dan peluang yang terbuang.
Di Kota, bahan yang sama justru sedang dicari
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup hijau. Permintaan akan media tanam organik, pupuk alami, hingga bahan ramah lingkungan melonjak tajam. Balkon apartemen berubah menjadi kebun kecil. Komunitas-komunitas urban farming tumbuh, dan produk berbasis limbah organik menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari kelas menengah.
Ironisnya, banyak dari bahan baku ini melimpah dan berasal dari desa dan kawasan suburban. Bahan baku ini kemudian kembali ke kota dalam bentuk produk yang…
Rebung, Tunas Bambu yang Menjadi Warisan Dapur Melayu-Minang
Di banyak kampung di Sumatera, rumpun bambu bukan sekadar tanaman pelengkap halaman atau penahan longsor di tepian sungai. Dari rumpun itulah lahir salah satu bahan pangan tradisional yang sudah menemani masyarakat sejak lama: rebung. Tunas muda bambu ini tumbuh cepat setelah hujan, muncul dari tanah dengan bentuk runcing, lalu dipanen sebelum mengeras menjadi batang bambu.
Bagi masyarakat Melayu dan Minangkabau, rebung bukan makanan asing. Ia hadir di dapur-dapur kampung, di kenduri kecil, hingga di meja makan keluarga saat musim hujan tiba. Diolah menjadi gulai santan, dicampur ikan sungai, dimasak pedas, atau sekadar ditumis sederhana, rebung menyimpan rasa khas yang sulit digantikan oleh bahan lain.
Ada aroma alam yang kuat pada rebung. Sedikit pahit, sedikit manis, dengan tekstur renyah yang unik. Karena itulah, memasak rebung memerlukan kesabaran. Rebung biasanya direbus terlebih dahulu untuk mengurangi getah dan aroma…
Di banyak kampung di Sumatera, rumpun bambu bukan sekadar tanaman pelengkap halaman atau penahan longsor di tepian sungai. Dari rumpun itulah lahir salah satu bahan pangan tradisional yang sudah menemani masyarakat sejak lama: rebung. Tunas muda bambu ini tumbuh cepat setelah hujan, muncul dari tanah dengan bentuk runcing, lalu dipanen sebelum mengeras menjadi batang bambu.
Bagi masyarakat Melayu dan Minangkabau, rebung bukan makanan asing. Ia hadir di dapur-dapur kampung, di kenduri kecil, hingga di meja makan keluarga saat musim hujan tiba. Diolah menjadi gulai santan, dicampur ikan sungai, dimasak pedas, atau sekadar ditumis sederhana, rebung menyimpan rasa khas yang sulit digantikan oleh bahan lain.
Ada aroma alam yang kuat pada rebung. Sedikit pahit, sedikit manis, dengan tekstur renyah yang unik. Karena itulah, memasak rebung memerlukan kesabaran. Rebung biasanya direbus terlebih dahulu untuk mengurangi getah dan aroma…
Rebung, Tunas Bambu yang Menjadi Warisan Dapur Melayu-Minang
Di banyak kampung di Sumatera, rumpun bambu bukan sekadar tanaman pelengkap halaman atau penahan longsor di tepian sungai. Dari rumpun itulah lahir salah satu bahan pangan tradisional yang sudah menemani masyarakat sejak lama: rebung. Tunas muda bambu ini tumbuh cepat setelah hujan, muncul dari tanah dengan bentuk runcing, lalu dipanen sebelum mengeras menjadi batang bambu.
Bagi masyarakat Melayu dan Minangkabau, rebung bukan makanan asing. Ia hadir di dapur-dapur kampung, di kenduri kecil, hingga di meja makan keluarga saat musim hujan tiba. Diolah menjadi gulai santan, dicampur ikan sungai, dimasak pedas, atau sekadar ditumis sederhana, rebung menyimpan rasa khas yang sulit digantikan oleh bahan lain.
Ada aroma alam yang kuat pada rebung. Sedikit pahit, sedikit manis, dengan tekstur renyah yang unik. Karena itulah, memasak rebung memerlukan kesabaran. Rebung biasanya direbus terlebih dahulu untuk mengurangi getah dan aroma…
Di banyak kampung di Sumatera, rumpun bambu bukan sekadar tanaman pelengkap halaman atau penahan longsor di tepian sungai. Dari rumpun itulah lahir salah satu bahan pangan tradisional yang sudah menemani masyarakat sejak lama: rebung. Tunas muda bambu ini tumbuh cepat setelah hujan, muncul dari tanah dengan bentuk runcing, lalu dipanen sebelum mengeras menjadi batang bambu.
Bagi masyarakat Melayu dan Minangkabau, rebung bukan makanan asing. Ia hadir di dapur-dapur kampung, di kenduri kecil, hingga di meja makan keluarga saat musim hujan tiba. Diolah menjadi gulai santan, dicampur ikan sungai, dimasak pedas, atau sekadar ditumis sederhana, rebung menyimpan rasa khas yang sulit digantikan oleh bahan lain.
Ada aroma alam yang kuat pada rebung. Sedikit pahit, sedikit manis, dengan tekstur renyah yang unik. Karena itulah, memasak rebung memerlukan kesabaran. Rebung biasanya direbus terlebih dahulu untuk mengurangi getah dan aroma…
Meneropong Malaysia Dari Perspektif Ekonomi Politik
Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Kita semua adalah warga Malaysia. Inilah ikatan yang mempersatukan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa persatuan adalah kekuatan fundamental kita sebagai bangsa dan sebagai negara.” (Tunku Abdul Rahman)
“Blusukan” Di Tanah Semenanjung
Dekade 1960-an menjadi titik awal terbentuknya memori kolektif Penulis terhadap Semenanjung Malaya. Masih terngiang resonansi suara bariton penyiar Radio Suara Malaysia Kamaruddin Ahmad di kanal Radio Televisyen Malaysia (RTM), terjalin sebuah koneksi auditori yang kemudian bermuara pada rasa cinta mendalam terhadap “Tanah Semenanjung”.
Bagi Penulis, Malaysia bukan sekadar tetangga geografis, melainkan “Tanah Air kedua” sebuah sentimen yang diperkuat oleh realitas sosiologis banyaknya kerabat dari kampung halaman Penulis yang berhasil meraih kesuksesan ekonomi di sana melalui jalur migrasi sebagai perantau permanen.…
Dr. Iramady Irdja
– Analis Ekonomi Politik
– Praktisi Perbankan dari Bank Indonesia
“Kita semua adalah warga Malaysia. Inilah ikatan yang mempersatukan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa persatuan adalah kekuatan fundamental kita sebagai bangsa dan sebagai negara.” (Tunku Abdul Rahman)
“Blusukan” Di Tanah Semenanjung
Dekade 1960-an menjadi titik awal terbentuknya memori kolektif Penulis terhadap Semenanjung Malaya. Masih terngiang resonansi suara bariton penyiar Radio Suara Malaysia Kamaruddin Ahmad di kanal Radio Televisyen Malaysia (RTM), terjalin sebuah koneksi auditori yang kemudian bermuara pada rasa cinta mendalam terhadap “Tanah Semenanjung”.
Bagi Penulis, Malaysia bukan sekadar tetangga geografis, melainkan “Tanah Air kedua” sebuah sentimen yang diperkuat oleh realitas sosiologis banyaknya kerabat dari kampung halaman Penulis yang berhasil meraih kesuksesan ekonomi di sana melalui jalur migrasi sebagai perantau permanen.…
5 Jalur Sungai yang Membawa Orang Minang ke Dunia Melayu
Dari Mudiak (Hulu) ke Ilia (Hilir)
Dalam tradisi Minangkabau, perjalanan merantau sering dimulai dari kawasan mudiak, yakni daerah hulu dan pedalaman yang berada di dataran tinggi. Dari kampung-kampung di darek seperti Luak Lima Puluh, Tanah Datar dan Agam hingga wilayah Kuantan dan Dharmasraya, masyarakat turun mengikuti aliran batang sungai menuju wilayah hilir di pesisir timur Sumatra. Perjalanan ini bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga perpindahan peradaban: dari nagari agraris menuju pusat perdagangan dan pelabuhan Melayu.
Sehingga budaya merantau bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia adalah jalan mencari ilmu, pengalaman, perdagangan, hingga membangun jaringan sosial dan budaya. Sebelum jalan raya dan kendaraan modern berkembang, sungai menjadi “urat nadi” yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman dengan pesisir, lalu terus menuju negeri-negeri rantau.
Sungai dan Filosofi Merantau
Bagi orang Minang,…
Dari Mudiak (Hulu) ke Ilia (Hilir)
Dalam tradisi Minangkabau, perjalanan merantau sering dimulai dari kawasan mudiak, yakni daerah hulu dan pedalaman yang berada di dataran tinggi. Dari kampung-kampung di darek seperti Luak Lima Puluh, Tanah Datar dan Agam hingga wilayah Kuantan dan Dharmasraya, masyarakat turun mengikuti aliran batang sungai menuju wilayah hilir di pesisir timur Sumatra. Perjalanan ini bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga perpindahan peradaban: dari nagari agraris menuju pusat perdagangan dan pelabuhan Melayu.
Sehingga budaya merantau bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia adalah jalan mencari ilmu, pengalaman, perdagangan, hingga membangun jaringan sosial dan budaya. Sebelum jalan raya dan kendaraan modern berkembang, sungai menjadi “urat nadi” yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman dengan pesisir, lalu terus menuju negeri-negeri rantau.
Sungai dan Filosofi Merantau
Bagi orang Minang,…
Busthanul Arifin: Putra Payakumbuh yang Mengubah Arah Peradilan Agama
Prof. Dr. Busthanul Arifin, SH bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan Peradilan Agama di Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan jejak intelektual melalui karya-karyanya. Putra Koto Nan Gadang, Payakumbuh ini bukanlah sekadar seorang hakim agung. Ia adalah salah satu arsitek utama yang mengubah wajah Peradilan Agama di Indonesia dari lembaga yang dahulu dipandang “setengah resmi” menjadi bagian penuh dari sistem peradilan nasional. Dari kota kecil Payakumbuh, lahir seorang pemikir hukum Islam yang gagasannya masih terasa hingga hari ini.
Lahir pada 2 Juni 1929 di Payakumbuh, Busthanul Arifin tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat dengan tradisi surau, pendidikan agama, dan budaya intelektual. Masa kecilnya diisi dengan belajar mengaji, membaca kitab, membantu keluarga di sawah dan ladang, serta belajar silat. Pendidikan tradisional itu membentuk watak disiplin dan…
Prof. Dr. Busthanul Arifin, SH bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan Peradilan Agama di Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan jejak intelektual melalui karya-karyanya. Putra Koto Nan Gadang, Payakumbuh ini bukanlah sekadar seorang hakim agung. Ia adalah salah satu arsitek utama yang mengubah wajah Peradilan Agama di Indonesia dari lembaga yang dahulu dipandang “setengah resmi” menjadi bagian penuh dari sistem peradilan nasional. Dari kota kecil Payakumbuh, lahir seorang pemikir hukum Islam yang gagasannya masih terasa hingga hari ini.
Lahir pada 2 Juni 1929 di Payakumbuh, Busthanul Arifin tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat dengan tradisi surau, pendidikan agama, dan budaya intelektual. Masa kecilnya diisi dengan belajar mengaji, membaca kitab, membantu keluarga di sawah dan ladang, serta belajar silat. Pendidikan tradisional itu membentuk watak disiplin dan…
Busthanul Arifin: Putra Payakumbuh yang Mengubah Arah Peradilan Agama
Prof. Dr. Busthanul Arifin, SH bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan Peradilan Agama di Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan jejak intelektual melalui karya-karyanya. Putra Koto Nan Gadang, Payakumbuh ini bukanlah sekadar seorang hakim agung. Ia adalah salah satu arsitek utama yang mengubah wajah Peradilan Agama di Indonesia dari lembaga yang dahulu dipandang “setengah resmi” menjadi bagian penuh dari sistem peradilan nasional. Dari kota kecil Payakumbuh, lahir seorang pemikir hukum Islam yang gagasannya masih terasa hingga hari ini.
Lahir pada 2 Juni 1929 di Payakumbuh, Busthanul Arifin tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat dengan tradisi surau, pendidikan agama, dan budaya intelektual. Masa kecilnya diisi dengan belajar mengaji, membaca kitab, membantu keluarga di sawah dan ladang, serta belajar silat. Pendidikan tradisional itu membentuk watak disiplin dan…
Prof. Dr. Busthanul Arifin, SH bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan Peradilan Agama di Indonesia, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang meninggalkan jejak intelektual melalui karya-karyanya. Putra Koto Nan Gadang, Payakumbuh ini bukanlah sekadar seorang hakim agung. Ia adalah salah satu arsitek utama yang mengubah wajah Peradilan Agama di Indonesia dari lembaga yang dahulu dipandang “setengah resmi” menjadi bagian penuh dari sistem peradilan nasional. Dari kota kecil Payakumbuh, lahir seorang pemikir hukum Islam yang gagasannya masih terasa hingga hari ini.
Lahir pada 2 Juni 1929 di Payakumbuh, Busthanul Arifin tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kuat dengan tradisi surau, pendidikan agama, dan budaya intelektual. Masa kecilnya diisi dengan belajar mengaji, membaca kitab, membantu keluarga di sawah dan ladang, serta belajar silat. Pendidikan tradisional itu membentuk watak disiplin dan…