Rumah menangis.
Siapa pembunuhnya? Jelaskan alasan dan rangkaian kejadian yang menurutmu paling masuk akal.
Hujan turun begitu deras malam itu, seolah ingin menghapus semua dosa yang tertinggal di halaman rumah. Keesokan paginya, sepasang suami istri ditemukan tewas. Ruang tamu porak-poranda, jendela belakang pecah, dan di lantai terdapat jejak sepatu berlumpur yang mengarah keluar rumah. Di tangan sang ibu ditemukan sobekan kemeja milik suaminya, sementara sidik jari sang ayah berada pada benda yang diduga menjadi senjata pembunuhan. Anehnya, sang ayah juga ditemukan tewas beberapa meter dari istrinya.
Tiga anak mereka selamat. Anak sulung dikenal memiliki trauma berat sejak lama dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi yang bisa ditebak. Anak tengah menjadi orang yang paling sibuk mengurus adiknya yang bungsu, bahkan berusaha meyakinkan semua orang bahwa pelaku pasti melarikan diri lewat jendela belakang. Si bungsu terus bertanya kapan ayah dan ibunya akan pulang. Semakin lama penyelidikan berlangsung, semakin kuat dugaan bahwa sang ayah lebih dulu membunuh istrinya sebelum seseorang datang dan membunuhnya sebagai balasan atau untuk membungkamnya.
Namun, ada satu hal yang tak pernah disadari siapa pun. Tidak semua jejak diciptakan untuk menunjukkan kebenaran; beberapa sengaja dibuat agar kebenaran tak pernah ditemukan. Di rumah itu, hanya ada satu orang yang memahami setiap sudut, mengetahui kebiasaan kedua orang tuanya, dan mampu menciptakan sebuah cerita yang tampak lebih masuk akal daripada kenyataan itu sendiri.
❤4
Dua belas sahabat berkemah dua malam di hutan yang jauh dari pemukiman: Gaviel, Malic, Kei, Victor, Oce, Kibbo, Ali, Raden, Alaric, Joe, Hyunseo, dan Cho.
Malam pertama berlangsung tenang. Mereka main kartu, memanggang marshmallow, bertukar cerita horor receh, lalu satu per satu masuk tenda sekitar pukul sebelas malam. Tak ada keributan, tak ada sosok asing terlihat.
Pagi-pagi buta, sebelum yang lain bangun, Raden yang kebagian piket sudah sibuk membersihkan area sekitar tenda. Ia menyapu sisa abu, mengumpulkan sampah plastik bekas bungkus makanan semalam, dan membakarnya di bara api unggun yang masih menyala kecil. Rutinitas biasa, tak ada yang curiga toh Raden memang selalu jadi yang paling rajin soal kebersihan.
Tak lama setelah itu, kehebohan pecah: tenda Joe kosong. Semua berhamburan mencari. Malic-lah yang pertama menyarankan, "Coba cek ke arah sungai, siapa tahu dia jalan-jalan pagi ke sana." Saran yang terdengar wajar karena Joe memang suka lihat pemandangan pagi di dekat air.
Mereka menemukannya di tepi sungai. Dada Joe terbedah rapi, organ-organ vitalnya lenyap, nyaris tanpa tanda perlawanan. Saat yang lain histeris dan mundur ketakutan, Oce justru berjongkok lebih dekat, mengamati sayatan itu sejenak sebelum buru-buru berdiri lagi. "Sayatannya... rapi banget," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Belakangan diketahui Oce memang sempat kuliah kedokteran beberapa semester sebelum pindah jurusan sesuatu yang jarang ia ceritakan.
Anehnya, Kei yang berdiri tak jauh dari situ juga bergumam sendiri, "Ini... kayak pernah lihat luka kayak gini di suatu tempat." Ucapan itu langsung ia tarik kembali begitu sadar semua orang menoleh, buru-buru menambahkan, "Maksudku, di film, bukan yang beneran." Tawanya terdengar canggung, tak benar-benar meyakinkan.
Polisi datang dan menyimpulkan Joe kemungkinan mendatangi pelakunya sendiri, tanpa paksaan. Investigasi lanjutan mengungkap kejutan lain: dua dari sembilan sahabat yang tersisa adalah bagian dari sindikat penculikan dan perdagangan organ ilegal yang lama diburu.
Anehnya, hanya ditemukan satu jenis jejak sepatu yang mengarah ke sungai dan kembali, padahal semestinya ada jejak Joe sendiri saat berjalan ke sana. Sepasang sarung tangan bedah bersih tanpa sidik jari tergeletak dekat mayat. Tas Joe raib, ponselnya tertinggal di saku dengan satu percakapan yang telah dihapus. Sisa plastik yang dibakar Raden pagi itu membuat penyidik kesulitan menemukan bukti pembakaran lain yang mungkin sengaja disamarkan bersamaan. Autopsi menyebut waktu kematian sekitar 02.30 dini hari, organ diambil setelah Joe tewas.
Polisi memeriksa seluruh tas milik para peserta. Tak ada organ, alat bedah, ataupun pakaian berlumuran darah. Namun, salah seorang petugas sempat mencatat bahwa sepasang sepatu milik salah satu peserta tampak baru saja dibersihkan, meski karena hujan gerimis dini hari, hampir semua alas kaki memang terlihat lembap. Catatan itu tidak dianggap penting saat itu.
Kesaksian di pagi itu..
Raden menjelaskan rutinitas piketnya panjang lebar, mengulang beberapa kali bahwa ia "cuma bersihin sampah, itu aja, sumpah." Ia buru-buru menambahkan bahwa matanya belum sepenuhnya melek, jadi tak yakin apakah ada yang lewat di dekatnya atau tidak, lalu tiba-tiba berkata, "Tapi jangan curiga ke aku dong, aku kan cuma piket."
Kibbo bersikeras tidur pulas semalaman, tapi lantas menambahkan cerita yang tak diminta soal mimpinya semalam, seolah ingin mengalihkan topik dari pertanyaan sebenarnya.
Ali mengaku mendengar suara logam jatuh sekitar pukul tiga dini hari, lalu buru-buru menjelaskan panjang lebar kenapa ia tidak keluar memeriksa takut hewan liar, katanya, meski beberapa detik kemudian ia mengoreksi diri, "atau mungkin bukan pukul tiga, bisa jadi lebih malam."
Alaric berkata Joe sempat berbisik sebelum tidur bahwa ia akan menemui "seseorang." Saat didesak siapa yang dimaksud, Alaric malah berputar-putar, "Aku nggak tau, dia cuma bilang gitu, aku juga bingung, mungkin cuma bercanda, atau serius, aku nggak yakin."
Kei menambahkan sempat mengobrol santai dengan Joe sekitar pukul satu dini hari, lalu buru-buru mengulang lagi soal gumamannya tadi di dekat mayat, berusaha menjelaskan itu cuma refleks karena "kebanyakan nonton drama forensik," penjelasan yang malah terdengar berlebihan.
Gaviel mengaku terbangun karena suara langkah tengah malam, tapi keterangannya berubah-ubah: awalnya bilang tak sempat lihat, lalu menambahkan mungkin sempat mengintip sedikit dari celah tenda, lalu menarik lagi ucapannya, bilang mungkin itu cuma mimpi.
Victor bilang ia bangun sekitar pukul dua dini hari untuk buang air, lalu menjelaskan detail rute jalannya ke arah semak-semak dengan sangat rinci yang menurut sebagian orang tak perlu sampai sedetail itu, sebelum akhirnya menyebut sempat melihat Gaviel masih tertidur saat ia kembali ke tenda.
Di tengah semua kegugupan itu, Malic memberi kesaksian "Aku tidur setelah main kartu. Bangun saat semua orang ribut mencari Joe." Setelah mengucapkannya, ia tanpa sadar menyentuh ujung lengan jaketnya, seolah memastikan tidak ada sesuatu yang menempel di sana.
Oce mengatakan "Aku sempat bangun karena dingin, tapi cuma nambah jaket, terus tidur lagi." Ketika menyerahkan barang-barangnya kepada polisi, ia sempat meminta izin mengambil jaketnya terlebih dahulu karena mengaku kedinginan.
Lalu Hyunseo dan Cho memberi kesaksian hampir seragam kata per kata keduanya bilang tidur sepanjang malam, tak dengar apa-apa tapi kemiripan itu justru membuat beberapa orang bertanya-tanya apakah mereka berdua sudah menyusun cerita bersama sebelum diperiksa.
Polisi memastikan: tak ada orang luar yang masuk area perkemahan malam itu, dan dari sepuluh orang yang tersisa, hanya dua yang berbohong, dan keduanya adalah pelakunya
Siapa kah 2 orang itu dan alasannya?
Kunci yang Tak Pernah Meninggalkan Genggaman
Delapan orang melakukan ekspedisi menuju sebuah pulau terpencil yang diyakini menyimpan "Heart of Dawn", batu permata langka yang nilainya tak terhitung.
Mereka adalah:
Vincent (sang pemimpin ekspedisi), Alaric, Cedric, Damian, Lucien, Eleanor, Vivienne, dan Rosalie.
Di pulau itu hanya ada sebuah rumah tua yang menjadi tempat mereka bermalam.
Sejak pagi hingga senja mereka mencari harta karun.
Hari keempat.
Mereka akhirnya menemukan seluruh Heart of Dawn.
Semua orang melihat sendiri Vincent membawa harta itu menuju ruang penyimpanan.
Pintu ditutup.
Kunci diputar.
Lalu satu-satunya kunci asli kembali masuk ke saku Vincent.
Tak seorang pun pernah memegang kunci tersebut.
Tak seorang pun melihat pintu itu dibuka lagi malam itu.
Namun, keesokan paginya, saat mereka hendak meninggalkan pulau, Vincent membuka ruang penyimpanan.
Kosong.
Tak ada satu pun permata yang tersisa.
Tak ada bekas congkelan.
Tak ada jendela yang rusak.
Tak ada jejak kaki.
Seolah ruangan itu tak pernah menyimpan apa pun.
Ada pengkhianatan yang tak lahir dari kebencian, melainkan dari kesabaran seorang pembohong yang menunggu semua orang percaya pada cerita yang ia ciptakan sendiri.
Delapan orang melakukan ekspedisi menuju sebuah pulau terpencil yang diyakini menyimpan "Heart of Dawn", batu permata langka yang nilainya tak terhitung.
Mereka adalah:
Vincent (sang pemimpin ekspedisi), Alaric, Cedric, Damian, Lucien, Eleanor, Vivienne, dan Rosalie.
Sebelum perjalanan dimulai, Vincent menetapkan tiga aturan yang wajib dipatuhi.
1. Tak seorang pun boleh menjelajah sendirian.
2. Semua Heart of Dawn yang ditemukan harus disimpan di ruang penyimpanan rumah tua ini.
3. Setiap malam, sebelum beristirahat, kita semua harus berkumpul untuk memastikan tak ada seorang pun yang hilang.
Di pulau itu hanya ada sebuah rumah tua yang menjadi tempat mereka bermalam.
Sejak pagi hingga senja mereka mencari harta karun.
Hari keempat.
Mereka akhirnya menemukan seluruh Heart of Dawn.
Semua orang melihat sendiri Vincent membawa harta itu menuju ruang penyimpanan.
Pintu ditutup.
Kunci diputar.
Lalu satu-satunya kunci asli kembali masuk ke saku Vincent.
Tak seorang pun pernah memegang kunci tersebut.
Tak seorang pun melihat pintu itu dibuka lagi malam itu.
Namun, keesokan paginya, saat mereka hendak meninggalkan pulau, Vincent membuka ruang penyimpanan.
Kosong.
Tak ada satu pun permata yang tersisa.
Tak ada bekas congkelan.
Tak ada jendela yang rusak.
Tak ada jejak kaki.
Seolah ruangan itu tak pernah menyimpan apa pun.
Polisi pulau kemudian memeriksa seluruh anggota satu per satu.
Kesaksian mereka adalah:
Alaric dan Rosalie mengatakan mereka tidur di kamar yang sama sepanjang malam.
Cedric mengaku membuat kopi sekitar pukul tiga dini hari karena sulit tidur.
Damian berkata ia tidak pernah keluar dari kamarnya.
Eleanor mengatakan ia menghabiskan malam membaca buku hingga fajar.
Lucien mengaku sempat terbangun karena mendengar suara aneh menjelang subuh, tetapi tidak melihat siapa pun.
Vivienne hanya berkata singkat, "aku hanya membereskan rumah sebelum kami pulang."
Tak seorang pun mengaku melihat ruang penyimpanan dibuka.
Tak seorang pun melihat Vincent kehilangan kuncinya.
Dan yang lebih aneh lagi, selama dua hari itu, seluruh anggota selalu mematuhi aturan untuk tidak pernah berjalan sendirian.
Seorang pembohong yang paling berbahaya bukanlah ia yang pandai berdusta, melainkan ia yang mampu membuat semua orang menyaksikan kebenaran yang sebenarnya telah ia susun sendiri.
Pertanyaan
Jawaban 4 pertanyaan tersebut dengan 1 jawaban.
1. Bagaimana mungkin Heart of Dawn bisa hilang dari ruangan yang hanya memiliki satu kunci asli?
2. Siapa sebenarnya pengkhianat di antara mereka?
3. Kesaksian siapa yang merupakan kebohongan paling besar?
4. Jika seluruh aturan benar-benar dipatuhi, bagaimana pencuri dapat memindahkan harta itu tanpa seorang pun menyadarinya?
Jawaban 4 pertanyaan tersebut dengan 1 jawaban.
Malam Beracun.
Siapa pembunuhnya? Bagaimana racun itu bisa masuk ke tubuh korban? Dan apa motif sebenarnya di balik pembunuhan ini?
Malam itu, sebuah klinik dokter hewan yang biasanya ramai berubah menjadi tempat kejadian perkara. Sang dokter hewan ditemukan meninggal sendirian di ruang praktiknya. Tidak ada luka tusuk, tidak ada bekas tembakan, bahkan hasil pemeriksaan awal tidak menemukan racun di makanan maupun minuman korban.
Yang lebih aneh lagi, pintu ruang praktik terkunci dari dalam.
Autopsi kemudian mengungkap penyebab kematian yang tidak biasa. Korban meninggal akibat racun yang masuk melalui kulit tangannya.
Polisi mulai menyelidiki orang-orang yang memiliki alasan untuk menghabisi nyawa sang dokter.
Polisi mengawali mpenyelidikan dengan mengintrogasi orang tua korban. Orang tua korban mengaku bahwa mereka sudah putus hubungan dengan korban selama lima belas tahun karena korban memilih untuk hidup dengan pacarnya.
Tersangka pertama adalah kekasih korban yang baru keluar dari penjara setelah 10 tahun. Ia dipencara karena kasus perambokan bank. Kekasih korban mengaku bahwa ia belum pernah bertemu korban sejak ia keluar dari penjara.
Tersangka kedua adalah suami dari wanita yang diam-diam menjalin hubungan dengan korban. Ia memiliki motif karena cemburu, tetapi mengaku sedang bekerja hingga larut malam.
Tersangka ketiga adalah kekasih korban sendiri. Hubungan mereka terlihat baik-baik saja, namun penyelidikan mengungkap bahwa korban berniat mengambil kembali anak kandungnya yang selama ini dibesarkan oleh sang kekasih. Ia mengaku tidak pernah keluar rumah malam itu.
Tersangka keempat adalah seorang teknisi klinik yang pernah dipecat oleh korban beberapa bulan sebelumnya. Ia mengaku sudah pulang sebelum klinik tutup.
Tersangka kelima adalah seorang pengerajin tatto. Ia di curigai karena menulis ulasan buruk tentang klinik hewan tersebut. Namun, ia mengaku bahwa ia menulis ulasan yang buruk karena sang dokter hewan memri tahunya bahwa Tarantula miliknya harus di suntik mati dan tanpa penjelasan, sampai akhir pun mayat Tarantula tersebut tidak di berikan kepadanya.
Tersangka terakhir adalah seorang kolektor hewan eksotis yang diketahui berbisnis ilegal dengan korban. Saat kejadian, ia mengaku sedang berada di luar kota.
Di lokasi kejadian, polisi menemukan beberapa hal yang terasa janggal. Sebotol hand sanitizer di dekat wastafel tampak baru saja digunakan. Salah satu katak panah beracun koleksi klinik dilaporkan hilang dari kandangnya. Korban sendiri diketahui selalu membersihkan tangannya sebelum meninggalkan ruang operasi. Anehnya, tidak ditemukan sidik jari orang lain pada botol hand sanitizer tersebut.
Semakin dalam penyelidikan dilakukan, semakin jelas bahwa korban ternyata tidak sebersih yang dibayangkan. Ia diam-diam terlibat dalam perdagangan hewan eksotis secara ilegal.
Kini semua petunjuk telah ada di hadapanmu.
O𝄒Connor .
Soal no 4: Alaric (@KwonzTaekjoo) Malice (@unforgettableg)
Kirim jawaban ke admin.
Langkah Pada Waktu
Minggu pertama di kost itu terasa biasa saja. Bangunannya tua, dindingnya dipenuhi retakan halus seperti bekas luka yang telah lama mengering. Penghuninya sembilan mahasiswa dengan latar belakang berbeda: Ocean, Cho, Victor, Alaric, Raden, Hyun, Gaviel, Malice, dan Keii. Lantai pertama dihuni para pria, sedangkan lantai kedua ditempati Malice, Keii, serta kedua orang tua Keii yang menjadi pemilik kost. Anehnya, saat mereka pertama kali datang, ibu kost hanya berpesan satu hal.
"Jangan pernah terlambat pukul empat subuh."
Tak ada yang menganggap kalimat itu penting.
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Terlalu cepat. Ocean merasa baru saja meletakkan koper di kamarnya, tetapi kalender ruang tamu sudah berganti berkali-kali. Cho bahkan sempat bercanda bahwa waktu di kost itu berjalan lebih rakus daripada mahasiswa yang dikejar tenggat tugas. Semua tertawa, kecuali ibu kost. Perempuan itu hanya menatap jam dinding, seolah setiap detiknya sedang mencuri sesuatu yang berharga.
Tepat pukul empat subuh, Keii selalu mengetuk setiap pintu. Tidak pernah terlambat sedetik pun. Dengan senyum yang sulit dijelaskan, ia mengajak seluruh penghuni berjalan mengelilingi kompleks yang masih diselimuti kabut. Jalanan selalu kosong. Tidak ada satpam, tidak ada pedagang, bahkan tak pernah terdengar suara ayam atau kendaraan. Seakan dunia baru belajar bernapas setelah mereka kembali ke dalam kost.
Suatu hari Ocean, Hyun, dan Gaviel menolak ikut. Mereka terlalu lelah. Namun, ibu kost mendadak marah. Bukan marah seperti orang kehilangan kesabaran, melainkan seperti seseorang yang takut kehilangan kesempatan terakhir. Bibirnya bergetar ketika berkata,
"Kalau kalian berhenti berjalan... nanti kalian tidak akan sempat."
Tak seorang pun mengerti maksudnya.
Sejak saat itu, Alaric mulai mendengar lagu setiap menjelang subuh. Lagu yang sama. Pelan, lirih, seperti dinyanyikan seorang ibu kepada anaknya yang sedang tertidur. Anehnya, lagu itu selalu menyebut nama mereka satu per satu. Ketika Alaric naik ke lantai dua, lorong selalu kosong. Malice yang kamarnya tepat di samping Keii justru bersikeras tidak pernah mendengar apa pun. Ia bahkan berkata, "Di lantai atas terlalu sunyi untuk menyimpan suara."
Kecurigaan mulai tumbuh seperti lumut di dinding lembap. Mereka saling menuduh sedang memainkan lelucon. Victor menuduh Alaric sengaja menakut-nakuti penghuni kost. Cho mengira Malice menyembunyikan pengeras suara. Ocean mulai mempertanyakan Keii yang tak pernah terlihat tidur. Hanya ibu kost yang tetap diam. Sesekali ia memandangi mereka dengan mata merah, seolah sedang menghafal wajah seseorang yang sebentar lagi akan pergi jauh.
Mereka akhirnya sepakat untuk memberontak. Tak ada lagi yang mau keluar pukul empat subuh. Pagi itu, Keii mengetuk semua pintu seperti biasa. Tidak ada yang membuka. Beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan dari lantai dua. Tangisan yang panjang, tetapi tidak terdengar seperti orang yang sedang marah. Lebih mirip seseorang yang baru saja kalah melawan takdir.
Keesokan harinya Keii menghilang.
Mereka mencarinya hingga ke seluruh kompleks. Tidak ada jejak. Saat harapan mulai habis, Ocean melihat Keii berdiri di dekat gerbang. Pakaiannya dipenuhi darah yang menetes tanpa membasahi tanah. Wajahnya pucat, tetapi ia tetap tersenyum.
"Aku sudah menemukan jalan pulangnya."
Ketika Ocean memanggilnya, Keii lenyap bersama kabut yang perlahan terangkat.
Malam itu mimpi buruk dimulai.
Mereka berdiri di tempat yang berbeda, tetapi melihat akhir yang sama. Ocean muncul dari air dengan pakaian basah, seolah laut menolaknya. Cho berjalan sambil memegang pisau, sementara darah mengalir dari lehernya. Alaric tergantung di langit-langit kamar yang tak pernah memiliki tali. Gaviel tenggelam dalam danau yang tak memantulkan langit. Hyun duduk sendirian di dapur, menelan obat seperti permen. Victor terkubur reruntuhan bangunan yang roboh tanpa suara. Raden dililit ular di tengah hutan yang tak memiliki jalan keluar. Malice terbaring di bawah tangga dengan mata terpejam, sedangkan Keii hanya berdiri memandangi mereka semua.
Tidak ada yang menolong siapa pun.
Mimpi itu datang setiap malam. Anehnya, mereka mulai lupa wajah orang tua mereka, lupa nama kampus, lupa alasan mengapa dulu memilih tinggal di kost itu. Ingatan mereka terkikis sedikit demi sedikit, seperti tulisan di atas pasir yang dicuci ombak. Hanya satu hal yang tetap mereka ingat.
Pukul empat subuh.
Suatu sore Ocean keluar membeli makanan. Ketika kembali, kantong belanjaannya kosong. Ia yakin telah membeli sesuatu, tetapi kasir minimarket sama sekali tidak mengingat dirinya pernah datang. Begitu pula saat Victor mencoba menghubungi keluarganya. Nomor itu masih aktif, tetapi tidak ada seorang pun yang pernah menjawab. Seolah dunia perlahan menghapus keberadaan mereka tanpa suara.
Pada malam ketujuh, mereka berkumpul di ruang tengah. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya. Di luar jendela, kabut menelan seluruh kompleks hingga batas langit menghilang. Ibu kost turun perlahan dari lantai dua. Matanya sembab. Tangannya gemetar. Untuk pertama kalinya ia menangis di hadapan mereka.
"Maaf... waktunya selalu terasa terlalu singkat."
Tak ada yang memahami maksudnya.
Lalu jam menunjukkan pukul empat.
Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di sana, semua penghuni mendengar lagu yang selama ini hanya didengar Alaric.
Lagu itu tidak lagi memanggil nama mereka; Melainkan mengucapkan, selamat tinggal.
2. Apa satu fakta yang tidak disadari oleh seluruh penghuni kost sejak hari pertama mereka tinggal di sana?