This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Sertifikat ini hanya di buat untuk member yang sudah ikut berpartisipasi dan memberikan jawaban riddle nya, jadi jikalau kalian tidak mendapat sertifikat nya, berarti kalian tidak memberikan jawaban riddle satu pun.
🔥5
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
O𝄒Connor .
Rumah menangis. Hujan turun begitu deras malam itu, seolah ingin menghapus semua dosa yang tertinggal di halaman rumah. Keesokan paginya, sepasang suami istri ditemukan tewas. Ruang tamu porak-poranda, jendela belakang pecah, dan di lantai terdapat jejak…
Jawaban Riddle pertama:
Kunci dalam riddle adalah:
Kunci dalam riddle adalah:
"Tidak semua jejak diciptakan untuk menunjukkan kebenaran, beberapa sengaja dibuat agar kebenaran tak pernah ditemukan."
1. Jendela yang pecah dan jejak sepatu berlumpur hanyalah rekayasa. Anak sulung sengaja memecahkan jendela dari dalam setelah pembunuhan terjadi, dan membuat jejak kaki agar terlihat seolah-olah ada penyusup yang melarikan diri.
2. Sidik jari ayah pada senjata juga bukan bukti bahwa ayah adalah pelaku. Anak sulung sengaja menggunakan benda yang memang sering dipegang ayah atau memaksa sang ayah menyentuhnya sebelum membunuhnya, sehingga penyelidikan mengarah pada dugaan bahwa sang ayah membunuh sang ibu.
3. Sobekan baju ayah di tangan ibu sengaja dibuat untuk memperkuat narasi adanya pertengkaran suami istri. Polisi akan lebih mudah percaya bahwa ibu sempat melawan ayah sebelum akhirnya keduanya tewas.
4. Ayah juga ditemukan tewas, sehingga muncul teori yang terdengar logis: ayah membunuh ibu, lalu dibunuh oleh orang ketiga yang masuk ke rumah. Padahal 'orang ketiga' itu tidak pernah ada.
Anak tengah dan si bungsu sama sekali bukan pelaku. Anak tengah terlalu sibuk melindungi adiknya dan berusaha tetap tegar, sedangkan si bungsu bahkan belum memahami situasi.
5. Anak sulung memiliki trauma berat dan ternyata juga memiliki sifat psikopatik. Ia mampu berpikir sangat tenang setelah membunuh, tidak panik, dan justru menyusun seluruh TKP agar terlihat seperti kasus yang dilakukan orang lain. Ia memahami kebiasaan kedua orang tuanya, tahu letak barang-barang di rumah, dan tahu bukti apa saja yang akan dipercaya penyidik.
❤1🔥1👏1
O𝄒Connor .
Kei menambahkan sempat mengobrol santai dengan Joe sekitar pukul satu dini hari, lalu buru-buru mengulang lagi soal gumamannya tadi di dekat mayat, berusaha menjelaskan itu cuma refleks karena "kebanyakan nonton drama forensik," penjelasan yang malah terdengar…
Detektif yang dipanggil dari kota terdekat untuk membantu investigasi akhirnya mengumpulkan sembilan sahabat yang tersisa di dekat api unggun yang sudah padam.
"Ada dua kejanggalan kecil yang akhirnya membuka semuanya," katanya, sambil mengangkat sepasang sarung tangan bedah yang sudah dikantongi sebagai barang bukti. "Pertama, soal jaket."
Oce mengangkat wajah, tapi tak berkata apa-apa.
"Kamu bilang bangun karena dingin, lalu 'cuma nambah jaket'," lanjut Detektif. "Tapi jaket yang kamu pakai malam itu, yang sekarang kamu minta izin ambil dulu sebelum diserahkan ke kami, punya noda pemutih di bagian dalam lengan. Segar. Bukan noda lama. Seseorang mencoba menghilangkan sesuatu dari kain itu, buru-buru, sebelum sempat kering sempurna."
Ia menoleh ke Malic. "Dan kamu. Waktu memberi kesaksian, tanganmu otomatis menyentuh ujung lengan jaketmu sendiri, refleks orang yang tahu betul ada sesuatu di sana yang harus disembunyikan, bukan gerakan orang yang baru bangun tidur dan bingung.
Malic mencoba tertawa kecil. "Itu... itu cuma kebiasaan-"
"Kebiasaan yang sama, pada waktu yang sama, dengan orang yang sama-sama 'kedinginan' malam itu," potong Detektif tenang. "Kalian berdua satu-satunya yang menyebut soal jaket, dan satu-satunya yang gelisah dengan jaket kalian sendiri di depan kami."
Dia melangkah, mengangkat map berisi hasil forensik. "Lalu soal sepatu. Petugas kami sempat mencatat sepasang sepatu yang 'baru dibersihkan' waktu itu kami kira karena gerimis. Tapi gerimis turun jam tiga lewat. Sepatu itu sudah bersih sebelum gerimis turun, karena jejak yang mengarah ke sungai dan kembali cuma satu jenis alas kaki. Kami bandingkan pola solnya dengan seluruh sepatu peserta. Cocok dengan sepatumu, Oce."
Oce terdiam, rahangnya mengeras.
"Kamu yang paling dulu berjongkok dekat mayat, mengamati sayatan itu seperti kamu sudah tahu apa yang akan kamu lihat. 'Rapi banget,' katamu. Bukan reaksi orang ngeri, itu reaksi orang menilai hasil kerjanya sendiri."
Detektif lalu menatap Malic. "Dan kamu yang paling cepat mengarahkan semua orang ke sungai, padahal kamu bilang 'Joe suka lihat pemandangan pagi di sana', hal yang sebenarnya tidak pernah disebut siapa pun malam sebelumnya. Kamu ingin mayat ditemukan di lokasi yang sudah kalian siapkan, bukan ditemukan secara kebetulan di tempat lain."
Ia menutup map. "Riwayat kuliah kedokteranmu, Oce, cocok dengan ketepatan sayatan. Riwayat kerjamu, Malic, di gudang logistik pelabuhan tiga tahun lalu, tempat yang belakangan diketahui jadi salah satu jalur distribusi sindikat perdagangan organ yang sedang kami buru. Ponsel Joe yang percakapannya dihapus? Kami temukan cadangannya di cloud. Isinya negosiasi soal 'pengiriman' yang seharusnya terjadi malam itu, dengan dua kontak yang polanya sama seperti kalian berdua saling mengabari."
Tujuh sahabat lain saling pandang, antara lega dan syok. Raden menghela napas panjang, akhirnya berhenti mengulang-ulang pembelaan soal piketnya. Kei tertawa getir, menyadari gumamannya soal luka cuma kebetulan yang membuatnya terlihat mencurigakan padahal ia memang sekadar terlalu banyak nonton drama forensik.
Oce akhirnya bicara, suaranya datar. "Joe hampir tahu. Dia dengar sesuatu waktu main kartu. Kami nggak punya pilihan."
Malic tak membantah.
Borgol dipasang di pergelangan tangan mereka berdua, sementara tujuh sahabat lainnya berdiri diam, menyadari betapa dekatnya mereka tertidur di sebelah dua orang yang selama ini mereka anggap teman biasa.
❤3🔥1👏1
O𝄒Connor .
Kunci yang Tak Pernah Meninggalkan Genggaman Ada pengkhianatan yang tak lahir dari kebencian, melainkan dari kesabaran seorang pembohong yang menunggu semua orang percaya pada cerita yang ia ciptakan sendiri. Delapan orang melakukan ekspedisi menuju sebuah…
Hanya 1 Nama, Vivienne.
1. Ruangan memang dikunci menggunakan kunci asli milik Vincent. Namun, saat semua orang fokus melihat Vincent mengunci pintu, Vivienne telah lebih dulu menyembunyikan harta tersebut di tempat lain sebelum pintu ditutup. Yang dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan hanyalah peti kosong atau peti yang sebagian besar isinya sudah dipindahkan.
Keesokan paginya, ketika semua orang sibuk bersiap pulang, Vivienne memanfaatkan alasan, "membereskan rumah" untuk mengambil harta dari tempat persembunyiannya dan membawanya keluar sedikit demi sedikit bersama barang-barang yang sedang ia rapikan.
Jadi, ruang penyimpanan sebenarnya tidak pernah menjadi tempat terakhir harta itu berada.
2. Vivienne.
Ia mengkhianati seluruh kelompok dengan memanfaatkan kepercayaan mereka. Semua orang menganggap kegiatan beres-beres adalah hal yang wajar, sehingga tidak ada yang memperhatikan barang apa saja yang ia pindahkan.
3. Vivienne.
Kalimatnya, "aku hanya membereskan rumah sebelum kami pulang." Secara teknis terdengar benar, tetapi ia menyembunyikan fakta penting bahwa saat beres-beres itulah ia memindahkan harta keluar dari rumah.
Ini adalah kebohongan melalui penghilangan informasi (lie by omission). Ia tidak mengucapkan kalimat yang salah, tetapi sengaja membuat polisi menarik kesimpulan yang keliru.
4. Karena aturan itu hanya melarang berjalan sendirian saat mencari harta di pulau, bukan saat mereka sudah berada di rumah dan bersiap pulang.
Selain itu, kegiatan beres-beres membuat Vivienne bebas membawa kotak, kain, tas, atau perlengkapan lain keluar masuk rumah tanpa menimbulkan kecurigaan. Semua orang mengira ia hanya sedang merapikan barang-barang.
❤2🔥1👏1
O𝄒Connor .
Malam Beracun. Malam itu, sebuah klinik dokter hewan yang biasanya ramai berubah menjadi tempat kejadian perkara. Sang dokter hewan ditemukan meninggal sendirian di ruang praktiknya. Tidak ada luka tusuk, tidak ada bekas tembakan, bahkan hasil pemeriksaan…
Jawabannya pacarnya.
Pacarnya yang udah punya suami. Alasannya pacarnya tahu kalau anaknya ini mau diambil lagi sama korban. Ya udah dia ngebunuh korban dengan masukin katak tersebut ke dispenser pas dia lagi berkunjung.
Korban selalu nutup dan kunci pintu setelah itu dia punya kebiasaan buat bersihin tangannya.
Dan katak itu ada di dispenser.
❤1🔥1👏1
O𝄒Connor .
Malam itu mimpi buruk dimulai. Mereka berdiri di tempat yang berbeda, tetapi melihat akhir yang sama. Ocean muncul dari air dengan pakaian basah, seolah laut menolaknya. Cho berjalan sambil memegang pisau, sementara darah mengalir dari lehernya. Alaric tergantung…
Mereka sedang menuju alam setelah kematian.
Kost itu bukan kost biasa, melainkan tempat persinggahan bagi jiwa-jiwa yang belum menyadari bahwa mereka telah meninggal. Waktu terasa berlalu sangat cepat karena mereka tidak lagi hidup dalam aliran waktu manusia.
Ritual berjalan setiap pukul empat subuh bukan sekadar aturan aneh. Itu adalah usaha terakhir agar jiwa mereka terus, "melangkah". Selama mereka masih berjalan, mereka belum sepenuhnya menerima takdirnya. Ketika mereka berhenti, perjalanan mereka pun berakhir.
Kalimat Keii, "Aku sudah menemukan jalan pulangnya," berarti ia telah menerima kematiannya dan berhasil menyeberang ke tujuan akhirnya. Itulah sebabnya ia menghilang.
Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar 'datang' ke kost itu dalam keadaan hidup. Mereka semua sebenarnya telah meninggal dengan cara yang berbeda-beda.
Mimpi buruk yang mereka alami bukan ramalan masa depan, melainkan potongan ingatan tentang bagaimana mereka meninggal:
Ocean tenggelam di laut.
Cho tewas akibat luka di leher.
Alaric meninggal karena gantung diri.
Gaviel tenggelam di danau.
Hyun overdosis obat.
Victor tertimpa reruntuhan bangunan.
Raden meninggal akibat lilitan ular di hutan.
Malice meninggal di bawah tangga.
Keii telah lebih dulu meninggal sehingga menjadi sosok yang selalu membimbing mereka.
Karena mereka belum menerima kematian mereka sendiri, ingatan tentang keluarga, kampus, dan kehidupan perlahan menghilang.
Dunia juga mulai 'melupakan' mereka, kasir tidak mengingat Ocean, keluarga tak pernah menjawab telepon Victor karena bagi dunia yang hidup, mereka memang sudah tidak ada.
Ibu kost dan Keii bukanlah penjaga kost biasa. Mereka adalah penjaga tempat persinggahan, yang berusaha menemani setiap jiwa sampai tiba waktunya pergi. Itulah mengapa ibu kost berkata, "Maaf... waktunya selalu terasa terlalu singkat." Ia sudah berkali-kali melihat para penghuni datang, lalu akhirnya mengucapkan selamat tinggal.
Ketika lagu itu akhirnya berubah menjadi "selamat tinggal," perjalanan mereka selesai. Mereka tidak lagi sedang menunggu kehidupan baru, melainkan telah sampai di gerbang tujuan terakhir mereka.
❤4👏3🔥2