┈╔•✿﷽══════════════════╗
✨Kami dan Keluarga Besar✨
🌸 Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H 🌸
عيدكم مبارك، وتقبل الله منا ومنكم 🌸
كل عام وأنتم بخير
عساكم من عواده تقبل الله منا ومنكم صالح
══════════════════════════
Mari tampakan kebahagiaan sebagai syiar dan amalkan sunnah-sunnah di hari raya
Rasulullaah صلى الله عليه وسلم menganjurkan kita dalam hadits shahihnya, untuk bersenang-senang dan bergembira di dua hari raya yaitu idul Fitri dan idul Adha
Oleh karena itu Ibnu Hajar - رحمه الله تعالى - mengatakan:
"Menampakkan kegembiraan di hari Id adalah bagian dari syi'ar agama" (Fathul Bari, 2/443)
Semoga kita dapat meneladani keimanan, ketaqwaan, pengorbanan, kesabaran dan keikhlasan dari Nabi Ibrahim عليه السلام & inilah hakikat qurban yang sebenarnya ( Faidah dari Ustadzuna Nuzul Dzikri - حفظه الله تعالى - )
•••
بارڪ اللّـہ فيڪم وفقـنا اللّـہ للجميـ؏ لما يحب ويرضـﮯ
❥══✾●●✿⊱🌸دار العلم عائشة🌸⊰✿●●✾═
✨Kami dan Keluarga Besar✨
🌸 Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H 🌸
عيدكم مبارك، وتقبل الله منا ومنكم 🌸
كل عام وأنتم بخير
عساكم من عواده تقبل الله منا ومنكم صالح
══════════════════════════
Mari tampakan kebahagiaan sebagai syiar dan amalkan sunnah-sunnah di hari raya
Rasulullaah صلى الله عليه وسلم menganjurkan kita dalam hadits shahihnya, untuk bersenang-senang dan bergembira di dua hari raya yaitu idul Fitri dan idul Adha
Oleh karena itu Ibnu Hajar - رحمه الله تعالى - mengatakan:
"Menampakkan kegembiraan di hari Id adalah bagian dari syi'ar agama" (Fathul Bari, 2/443)
Semoga kita dapat meneladani keimanan, ketaqwaan, pengorbanan, kesabaran dan keikhlasan dari Nabi Ibrahim عليه السلام & inilah hakikat qurban yang sebenarnya ( Faidah dari Ustadzuna Nuzul Dzikri - حفظه الله تعالى - )
•••
بارڪ اللّـہ فيڪم وفقـنا اللّـہ للجميـ؏ لما يحب ويرضـﮯ
❥══✾●●✿⊱🌸دار العلم عائشة🌸⊰✿●●✾═
Forwarded from Ittiba Rasulillah
بسم الله
💌🍃✨
Katakanlah selamat kepada hati yang sebelumnya kering terluka menjadi pulih dan subur kembali setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur'anul Karim,
Katakanlah selamat kepada
sepasang mata yang menangis disebabkan dua keadaan setelah dibacakannya Al-Qur'anul karim,
Bahagia & terharu sebab mendapatkan janji kabar gembira dari RabbNya,
Sedih & takut atas ancaman azab dan neraka yang disampaikan RabbNya,
Katakanlah selamat kepada ruh yang didalamnya tersematkan keimanan yang terus bertambah akibat pengaruh dibacakannya Al-Qur'anul Karim,
Katakanlah selamat kepada jiwa yang didalamnya terus tumbuh subur rasa cinta, takut dan harap kepada Allah Ta'ala sebab dibacakan kepadanya Al-Qur'anul Karim,
Selamat karna bahwa sesungguhnya ia telah menjadi hamba Allah yang beruntung. Hamba yang melakukan sebab-sebab diturunkannya rahmat hingga akhirnya ia dipilih dan dikehendaki kebaikan dari RabbNya.
Karna sesungguhnya banyak jiwa-jiwa haus ketenangan yang tidak mendapatkan kenikmatan dan kelezatan tak terkira ini.
Kita tahu, mungkin saja diantara kita sudah ratusan sampai ribuan bahkan lebih dari itu membaca Al-Qur'an.
Dan sebanyak itu pula-lah ternyata kita tak bisa menangis dihadapan Allah,
Hati begitu jarang tersentuh,
Hingga akhirnya pengaruhnya dalam keimanan pun tidak pernah utuh.
Padahal telah banyak dilewati ayat-ayat bahagia tentang surga, ayat-ayat ancaman mengenai neraka,
Kisah umat-umat yang dihancurkan sebab durhaka, juga peringatan-peringatan tegas yang nyata.
Namun ternyata semua itu hanya sekedar dilisan, tidak pernah sampai kehati, hingga tidak ada pula pengaruhnya dalam diri. Mungkin saja pernah, tapi hanya sesekali yang bisa terhitung jari.
Padahal Allah telah memberikan perumpamaan jika Al-Qur'an diturunkan kepada gunung, maka gunung itu akan hancur sebab takutnya pada Allah. Sedangkan hati ini? akankah sungguh lebih keras dari itu?
Sungguh terlihat jelas perbedaan posisi Al-Qur'an dihati orang-orang dahulu dan orang-orang zaman sekarang.
Orang-orang dahulu melihat Al-Qur'an sebagai surat cinta dari Rabb-Nya, yang direnungi malam hari, dan diamalkan sepanjang hari. Sedangkan kita, meletakkan Al-Qur'an seperti surat yang terbuang, dibaca beberapa waktu, lalu diabaikan begitu saja.
Orang-orang dahulu menangis sejadi-jadinya karena mentadabburi Al-Qur'an dari malam hingga pagi. Sedangkan kita, menangis berkali-kali karena hal duniawi.
Orang-orang dahulu bersungguh-sungguh mengamalkan Al-Quran setiap kali bertambah hafalan satu ayat. Sedangkan kita, mengaku menghafal ratusan hingga ribuan ayat, sampai bahkan lupa lagi, tapi tak satu ayat pun yang benar-benar utuh diamalkan.
Orang-orang dahulu meyakini Al-Qur'an sebagai hidangan langit yang menjadi santapan hati setiap hari. Sedangkan kita, setiap hari menghadiri hidangan tersebut, tapi justru bertambahlah kerugian, sebab kita hanya hadir, tapi tak pernah bisa menyantap hidangan yang tersaji.
Orang-orang dahulu memandang Al-Qur'an sebagai sumber ketenangan dan kebahagiaan, setiap kali hati dirundung sedih dan gelisah, Al-Qur'an yang menjadi solusinya. Sedangkan kita, memandang Al-Qur'an sebagai kegelisahan, merasa Al-Qur'an penuh beban karena permasalahan ziyadah dan murajaah yang tak pernah usai.
Duhai, begitu banyak sekarang bentuk pengabaian terhadap Al-Qur'an. Ingatkah pengaduan Nabi tentang hal ini yang Allah Ta'ala abadikan di Al-Qur'an?
"Dan Rasul (Muhammad) berkata,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan"."(QS. Al-Furqon : 30)
Wahai Rabb kami, jangan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lalai dan mengabaikan Al-Qur'an. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan berikan hidayah kepada kami wahai Rabbul 'alamin
•••
✍ @ittiba_rasulullaah
• Telegram:
https://t.me/ittiba_rasulullaah
• Instagram:
https://instagram.com/ittiba_rasulullaah
💌🍃✨
Katakanlah selamat kepada hati yang sebelumnya kering terluka menjadi pulih dan subur kembali setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur'anul Karim,
Katakanlah selamat kepada
sepasang mata yang menangis disebabkan dua keadaan setelah dibacakannya Al-Qur'anul karim,
Bahagia & terharu sebab mendapatkan janji kabar gembira dari RabbNya,
Sedih & takut atas ancaman azab dan neraka yang disampaikan RabbNya,
Katakanlah selamat kepada ruh yang didalamnya tersematkan keimanan yang terus bertambah akibat pengaruh dibacakannya Al-Qur'anul Karim,
Katakanlah selamat kepada jiwa yang didalamnya terus tumbuh subur rasa cinta, takut dan harap kepada Allah Ta'ala sebab dibacakan kepadanya Al-Qur'anul Karim,
Selamat karna bahwa sesungguhnya ia telah menjadi hamba Allah yang beruntung. Hamba yang melakukan sebab-sebab diturunkannya rahmat hingga akhirnya ia dipilih dan dikehendaki kebaikan dari RabbNya.
Karna sesungguhnya banyak jiwa-jiwa haus ketenangan yang tidak mendapatkan kenikmatan dan kelezatan tak terkira ini.
Kita tahu, mungkin saja diantara kita sudah ratusan sampai ribuan bahkan lebih dari itu membaca Al-Qur'an.
Dan sebanyak itu pula-lah ternyata kita tak bisa menangis dihadapan Allah,
Hati begitu jarang tersentuh,
Hingga akhirnya pengaruhnya dalam keimanan pun tidak pernah utuh.
Padahal telah banyak dilewati ayat-ayat bahagia tentang surga, ayat-ayat ancaman mengenai neraka,
Kisah umat-umat yang dihancurkan sebab durhaka, juga peringatan-peringatan tegas yang nyata.
Namun ternyata semua itu hanya sekedar dilisan, tidak pernah sampai kehati, hingga tidak ada pula pengaruhnya dalam diri. Mungkin saja pernah, tapi hanya sesekali yang bisa terhitung jari.
Padahal Allah telah memberikan perumpamaan jika Al-Qur'an diturunkan kepada gunung, maka gunung itu akan hancur sebab takutnya pada Allah. Sedangkan hati ini? akankah sungguh lebih keras dari itu?
Sungguh terlihat jelas perbedaan posisi Al-Qur'an dihati orang-orang dahulu dan orang-orang zaman sekarang.
Orang-orang dahulu melihat Al-Qur'an sebagai surat cinta dari Rabb-Nya, yang direnungi malam hari, dan diamalkan sepanjang hari. Sedangkan kita, meletakkan Al-Qur'an seperti surat yang terbuang, dibaca beberapa waktu, lalu diabaikan begitu saja.
Orang-orang dahulu menangis sejadi-jadinya karena mentadabburi Al-Qur'an dari malam hingga pagi. Sedangkan kita, menangis berkali-kali karena hal duniawi.
Orang-orang dahulu bersungguh-sungguh mengamalkan Al-Quran setiap kali bertambah hafalan satu ayat. Sedangkan kita, mengaku menghafal ratusan hingga ribuan ayat, sampai bahkan lupa lagi, tapi tak satu ayat pun yang benar-benar utuh diamalkan.
Orang-orang dahulu meyakini Al-Qur'an sebagai hidangan langit yang menjadi santapan hati setiap hari. Sedangkan kita, setiap hari menghadiri hidangan tersebut, tapi justru bertambahlah kerugian, sebab kita hanya hadir, tapi tak pernah bisa menyantap hidangan yang tersaji.
Orang-orang dahulu memandang Al-Qur'an sebagai sumber ketenangan dan kebahagiaan, setiap kali hati dirundung sedih dan gelisah, Al-Qur'an yang menjadi solusinya. Sedangkan kita, memandang Al-Qur'an sebagai kegelisahan, merasa Al-Qur'an penuh beban karena permasalahan ziyadah dan murajaah yang tak pernah usai.
Duhai, begitu banyak sekarang bentuk pengabaian terhadap Al-Qur'an. Ingatkah pengaduan Nabi tentang hal ini yang Allah Ta'ala abadikan di Al-Qur'an?
"Dan Rasul (Muhammad) berkata,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan"."(QS. Al-Furqon : 30)
Wahai Rabb kami, jangan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lalai dan mengabaikan Al-Qur'an. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan berikan hidayah kepada kami wahai Rabbul 'alamin
•••
✍ @ittiba_rasulullaah
• Telegram:
https://t.me/ittiba_rasulullaah
• Instagram:
https://instagram.com/ittiba_rasulullaah
Telegram
Ittiba Rasulillah
بسم الله
" إذا فتح لأحدكم باب خير فليسرع إليه ،فإنه لا يدري متى يغلق عنه "
📝Faidah Ulama & Kajian
🔈Info Dauroh dan Program Ilmu Syar'i
♻️ Free Repost
📍Mohon Koreksi & Saran :
• ittiba.rasulullaah@gmail.com
Semoga Bermanfaat
الله يبارك فيكم جميعا
" إذا فتح لأحدكم باب خير فليسرع إليه ،فإنه لا يدري متى يغلق عنه "
📝Faidah Ulama & Kajian
🔈Info Dauroh dan Program Ilmu Syar'i
♻️ Free Repost
📍Mohon Koreksi & Saran :
• ittiba.rasulullaah@gmail.com
Semoga Bermanfaat
الله يبارك فيكم جميعا
▶️ Rekaman Dauroh Mutiara Muslimah Ramadhan; *Kiat Sukses Ramadhan Produktif Bagi Muslimah*
🎙️ Ustadzah Siwi Ummu Nabiilah حفظها الله تعالى.
📆 Ahad, 15 Februari 2026
⏰ 09.00 WIB - Selesai
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
📚 *Rekaman Kajian & Materi*
🎥 *Link Youtube* : https://www.youtube.com/live/6vMgR-pS_E0?si=2RvEOXSvJalxnmoi
📄 *Link Materi* :
🔗hanya untuk peserta terdaftar
📚 𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚 :
*Ma'had Quran Izzatul Muslimah*
_
Ma'had Pembelajaran Ilmu Syar'i & Al-Qur'an dengan Aqidah Ahlusunnah, pemahaman salafushalih untuk wanita dan anak-anak.
بارڪ اللّـہ فيڪم وفقـنا اللّـہ للجميـ؏ لما يحب ويرضـﮯ
═✾●●✿⊱🌸🌸⊰✿●●✾═
🎙️ Ustadzah Siwi Ummu Nabiilah حفظها الله تعالى.
📆 Ahad, 15 Februari 2026
⏰ 09.00 WIB - Selesai
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
📚 *Rekaman Kajian & Materi*
🎥 *Link Youtube* : https://www.youtube.com/live/6vMgR-pS_E0?si=2RvEOXSvJalxnmoi
📄 *Link Materi* :
🔗hanya untuk peserta terdaftar
📚 𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚 :
*Ma'had Quran Izzatul Muslimah*
_
Ma'had Pembelajaran Ilmu Syar'i & Al-Qur'an dengan Aqidah Ahlusunnah, pemahaman salafushalih untuk wanita dan anak-anak.
بارڪ اللّـہ فيڪم وفقـنا اللّـہ للجميـ؏ لما يحب ويرضـﮯ
═✾●●✿⊱🌸🌸⊰✿●●✾═
بسم الله
Tingkatan Level Orang yang Berpuasa: yang Manakah Kita?
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah membagi keadaan orang yang puasa menjadi tiga tingkatan yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa orang yang lebih khusus.
Berikut penjelasan beliau rahimahullah,
فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة
"Puasa orang awam hanya sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya.
وأما صوم الخصوص فهو كف النظر واللسان واليد والرجل والسمع والبصر وسائر الجوارح عن الآثام
Sedangkan puasa orang khusus yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, pengelihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa.
وأما صوم خصوص الخصوص فهو صوم القلب عن الهمم الدنيئة والأفكار المبعدة عن الله تعالى وكفه عما سوى الله تعالى بالكلية وهذا الصوم له شروح تأتى فى غير هذا الموضع
Adapun puasa orang yang lebih khusus yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina, serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah serta menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah ta’ala.
من آداب صوم الخصوص غض البصر وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه أو ما لا يفيد وحراسة باقي الجوارح
Termasuk adab puasa orang yang khusus adalah menahan pandangan dari yang haram, menjaga lisan dari menggangu orang lain dari ucapan yang haram, makruh, atau perkataan yang tidak ada manfaatnya, serta menjaga seluruh anggota badannya dari perbuatan dosa."
(Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 45)
https://t.me/ittiba_rasulullaah
Tingkatan Level Orang yang Berpuasa: yang Manakah Kita?
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah membagi keadaan orang yang puasa menjadi tiga tingkatan yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa orang yang lebih khusus.
Berikut penjelasan beliau rahimahullah,
فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة
"Puasa orang awam hanya sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya.
وأما صوم الخصوص فهو كف النظر واللسان واليد والرجل والسمع والبصر وسائر الجوارح عن الآثام
Sedangkan puasa orang khusus yaitu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, pengelihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa.
وأما صوم خصوص الخصوص فهو صوم القلب عن الهمم الدنيئة والأفكار المبعدة عن الله تعالى وكفه عما سوى الله تعالى بالكلية وهذا الصوم له شروح تأتى فى غير هذا الموضع
Adapun puasa orang yang lebih khusus yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina, serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah serta menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah ta’ala.
من آداب صوم الخصوص غض البصر وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه أو ما لا يفيد وحراسة باقي الجوارح
Termasuk adab puasa orang yang khusus adalah menahan pandangan dari yang haram, menjaga lisan dari menggangu orang lain dari ucapan yang haram, makruh, atau perkataan yang tidak ada manfaatnya, serta menjaga seluruh anggota badannya dari perbuatan dosa."
(Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 45)
https://t.me/ittiba_rasulullaah
Telegram
Ittiba Rasulillah
بسم الله
" إذا فتح لأحدكم باب خير فليسرع إليه ،فإنه لا يدري متى يغلق عنه "
📝Faidah Ulama & Kajian
🔈Info Dauroh dan Program Ilmu Syar'i
♻️ Free Repost
📍Mohon Koreksi & Saran :
• ittiba.rasulullaah@gmail.com
Semoga Bermanfaat
الله يبارك فيكم جميعا
" إذا فتح لأحدكم باب خير فليسرع إليه ،فإنه لا يدري متى يغلق عنه "
📝Faidah Ulama & Kajian
🔈Info Dauroh dan Program Ilmu Syar'i
♻️ Free Repost
📍Mohon Koreksi & Saran :
• ittiba.rasulullaah@gmail.com
Semoga Bermanfaat
الله يبارك فيكم جميعا
Ittiba Rasulillah
Photo
بسم الله
Perbandingan Bacaan Al-Qur'an Secara Cepat dan Banyak Tanpa Pemahaman dengan Bacaan Pelan dan Sedikit Namun Disertai Pemahaman
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
اختلف الناس في الأفضل من الترتيل وقلة القراءة ، أو السرعة مع كثرة القراءة : أيهما أفضل ؟ على قولين :
“Manusia berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama dalam membaca Al-Qur'an: apakah membaca secara tartil dengan bacaan sedikit, atau membaca dengan cepat namun banyak. Manakah yang lebih utama? Ada dua pendapat.”
📚Pendapat Pertama
فذهب ابن مسعود وابن عباس رضي الله عنهما وغيرهما إلى أن الترتيل والتدبر مع قلة القراءة أفضل من سرعة القراءة مع كثرتها .
Pendapat pertama adalah pendapat Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan selain keduanya.
Mereka berpendapat bahwa membaca Al-Qur'an secara tartil walaupun sedikit lebih utama daripada membaca cepat namun banyak.
Mereka berhujjah bahwa tujuan membaca Al-Qur'an adalah:
1. memahaminya
2. mentadabburinya
3. memahami fiqh yang ada i dalamnya
4. serta mengamalkannya
Adapun tilawah dan hafalan hanyalah sarana untuk memahami maknanya.
Sebagaimana perkataan sebagian salaf:
“Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, namun manusia menjadikan tilawahnya sebagai amal.”
Karena itu, Ahlul Qur'an adalah orang yang memahami dan mengamalkan Al-Qur'an, meskipun tidak menghafalnya seluruhnya.
Adapun orang yang menghafalnya tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, maka ia bukan termasuk Ahlul Qur'an, walaupun ia melafalkan huruf-hurufnya dengan fasih.
Mereka juga mengatakan:
إِنَّ الإِيمَانَ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ، وَفَهْمَ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرَهُ هُوَ الَّذِي يُثْمِرُ الإِيمَانَ
“Iman adalah amalan yang paling utama. Memahami dan mentadabburi Al-Qur'an itulah yang membuahkan iman.”
Adapun sekadar membaca tanpa memahami dan mentadabburi, maka itu bisa dilakukan oleh:
1. Orang baik
2. Orang buruk
3. Orang mukmin
4. Bahkan orang munafik
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang artinya:
“Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an seperti raihanah; aromanya harum namun rasanya pahit.”
Empat Golongan Manusia
والناس في هذا أربع طبقات
Manusia dalam perkara ini terbagi menjadi empat tingkatan:
1. Ahlul Qur'an dan iman – mereka adalah manusia terbaik.
2. Orang yang tidak memiliki Al-Qur'an dan tidak memiliki iman.
3. Orang yang diberi Al-Qur'an tetapi tidak diberi iman.
4. Orang yang diberi iman tetapi tidak diberi Al-Qur'an.
Sebagaimana orang yang diberi iman tanpa Al-Qur'an lebih baik daripada orang yang diberi Al-Qur'an tanpa iman, maka demikian pula orang yang membaca dengan pemahaman dan tadabbur lebih utama daripada orang yang membaca banyak namun tanpa tadabbur.
Mereka juga berkata bahwa inilah petunjuk Nabi ﷺ dalam membaca Al-Qur'an.
Beliau membaca dengan tartil hingga suatu surah terasa lebih panjang. Bahkan beliau pernah shalat malam dengan satu ayat hingga pagi.
📚 Pendapat Kedua
وقال أصحاب الشافعي رحمه الله : كثرة القراءة أفضل
Sebagian ulama dari kalangan pengikut madzhab Syafi'i berpendapat bahwa memperbanyak bacaan lebih utama.
Mereka berhujjah dengan hadits Ibnu Mas'ud رضي الله عنه:
> “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”
(HR. At-Tirmidzi dan disahihkan)
Mereka juga menyebutkan bahwa Utsman bin Affan pernah mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu rakaat. Demikian pula banyak atsar dari para salaf yang menunjukkan banyaknya bacaan mereka.
📚 Pendapat yang Lebih Tepat
Pahala Membaca Pelan Penuh Tadabbur Lebih Afdhal
والصواب في المسألة أن يقال: إن ثواب قراءة
الترتيل والتدبر أجل وأرفع قدراً
Ibnu Qayyim menguatkan bahwa pahala membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tadabbur itu lebih agung dan lebih tinggi nilainya, sedangkan pahala memperbanyak bacaan itu lebih banyak dari sisi jumlah.
Perbandingan Bacaan Al-Qur'an Secara Cepat dan Banyak Tanpa Pemahaman dengan Bacaan Pelan dan Sedikit Namun Disertai Pemahaman
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
اختلف الناس في الأفضل من الترتيل وقلة القراءة ، أو السرعة مع كثرة القراءة : أيهما أفضل ؟ على قولين :
“Manusia berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama dalam membaca Al-Qur'an: apakah membaca secara tartil dengan bacaan sedikit, atau membaca dengan cepat namun banyak. Manakah yang lebih utama? Ada dua pendapat.”
📚Pendapat Pertama
فذهب ابن مسعود وابن عباس رضي الله عنهما وغيرهما إلى أن الترتيل والتدبر مع قلة القراءة أفضل من سرعة القراءة مع كثرتها .
Pendapat pertama adalah pendapat Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan selain keduanya.
Mereka berpendapat bahwa membaca Al-Qur'an secara tartil walaupun sedikit lebih utama daripada membaca cepat namun banyak.
Mereka berhujjah bahwa tujuan membaca Al-Qur'an adalah:
1. memahaminya
2. mentadabburinya
3. memahami fiqh yang ada i dalamnya
4. serta mengamalkannya
Adapun tilawah dan hafalan hanyalah sarana untuk memahami maknanya.
Sebagaimana perkataan sebagian salaf:
“Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, namun manusia menjadikan tilawahnya sebagai amal.”
Karena itu, Ahlul Qur'an adalah orang yang memahami dan mengamalkan Al-Qur'an, meskipun tidak menghafalnya seluruhnya.
Adapun orang yang menghafalnya tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, maka ia bukan termasuk Ahlul Qur'an, walaupun ia melafalkan huruf-hurufnya dengan fasih.
Mereka juga mengatakan:
إِنَّ الإِيمَانَ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ، وَفَهْمَ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرَهُ هُوَ الَّذِي يُثْمِرُ الإِيمَانَ
“Iman adalah amalan yang paling utama. Memahami dan mentadabburi Al-Qur'an itulah yang membuahkan iman.”
Adapun sekadar membaca tanpa memahami dan mentadabburi, maka itu bisa dilakukan oleh:
1. Orang baik
2. Orang buruk
3. Orang mukmin
4. Bahkan orang munafik
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang artinya:
“Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an seperti raihanah; aromanya harum namun rasanya pahit.”
Empat Golongan Manusia
والناس في هذا أربع طبقات
Manusia dalam perkara ini terbagi menjadi empat tingkatan:
1. Ahlul Qur'an dan iman – mereka adalah manusia terbaik.
2. Orang yang tidak memiliki Al-Qur'an dan tidak memiliki iman.
3. Orang yang diberi Al-Qur'an tetapi tidak diberi iman.
4. Orang yang diberi iman tetapi tidak diberi Al-Qur'an.
Sebagaimana orang yang diberi iman tanpa Al-Qur'an lebih baik daripada orang yang diberi Al-Qur'an tanpa iman, maka demikian pula orang yang membaca dengan pemahaman dan tadabbur lebih utama daripada orang yang membaca banyak namun tanpa tadabbur.
Mereka juga berkata bahwa inilah petunjuk Nabi ﷺ dalam membaca Al-Qur'an.
Beliau membaca dengan tartil hingga suatu surah terasa lebih panjang. Bahkan beliau pernah shalat malam dengan satu ayat hingga pagi.
📚 Pendapat Kedua
وقال أصحاب الشافعي رحمه الله : كثرة القراءة أفضل
Sebagian ulama dari kalangan pengikut madzhab Syafi'i berpendapat bahwa memperbanyak bacaan lebih utama.
Mereka berhujjah dengan hadits Ibnu Mas'ud رضي الله عنه:
> “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”
(HR. At-Tirmidzi dan disahihkan)
Mereka juga menyebutkan bahwa Utsman bin Affan pernah mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu rakaat. Demikian pula banyak atsar dari para salaf yang menunjukkan banyaknya bacaan mereka.
📚 Pendapat yang Lebih Tepat
Pahala Membaca Pelan Penuh Tadabbur Lebih Afdhal
والصواب في المسألة أن يقال: إن ثواب قراءة
الترتيل والتدبر أجل وأرفع قدراً
Ibnu Qayyim menguatkan bahwa pahala membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tadabbur itu lebih agung dan lebih tinggi nilainya, sedangkan pahala memperbanyak bacaan itu lebih banyak dari sisi jumlah.
Ittiba Rasulillah
بسم الله Perbandingan Bacaan Al-Qur'an Secara Cepat dan Banyak Tanpa Pemahaman dengan Bacaan Pelan dan Sedikit Namun Disertai Pemahaman Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata: اختلف الناس في الأفضل من الترتيل وقلة القراءة ، أو السرعة مع كثرة القراءة…
Permisalan Antara Membaca Tartil-Tadabbur & Membaca Cepat
فالأول: كمن تصدق بجوهرةٍ قيمته نفيسة جداً، والثاني:
كمن تصدق بعددٍ كثيرٍ من الدراهم قيمتهم رخيصة
Yang pertama seperti bersedekah permata yang sangat mahal; sedangkan yang kedua seperti bersedekah banyak dirham tetapi nilainya murah
Dalam Shahih Bukhari, Qatadah
berkata:
“Aku bertanya kepada Anas tentang bagaimana bacaan Nabi ﷺ.”
Beliau menjawab:
“Beliau membaca dengan memanjangkan bacaan.
Syu'bah berkata:
Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku adalah orang yang cepat membaca. Terkadang aku mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu malam satu atau dua kali.”
Ibnu Abbas berkata: “Aku membaca satu surah saja lebih aku sukai daripada apa yang engkau lakukan itu. Jika engkau tetap melakukannya, maka bacalah denga
n bacaan yang dapat didengar oleh telingamu dan dipahami oleh hatimu.”
Ibnu Mas'ud juga berkata:
“Janganlah kalian membaca Al-Qur'an seperti membaca syair.
Jangan pula membacanya dengan cepat seperti menyebarkan kurma busuk. Berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hati kalian dengannya, dan janganlah tujuan salah seorang dari kalian hanya mencapai akhir surah.
📔Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Zad Al-Ma’ad (Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm, 2008), vol. 1, hal 402-406
•••••
Kami berkata: Benarlah perkataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah.
Bacaan pelan disertai tadabbur dapat membuahkan iman, berbeda dengan bacaan cepat yang hanya berambisi menyelesaikan surah.
Bacaan cepat tanpa tadabbur bisa saja dilakukan oleh orang munafik, sehingga tidak ada iman dalam hatinya.
Berbeda dengan orang yang membaca Al-Qur'an untuk mencari hidayah dan iman, maka itulah keutamaan yang besar.
Ketahuilah bahwa bacaan para salaf yang banyak tidak lepas dari tadabbur. Karena itu kita menemukan banyak mutiara hikmah dari lisan mereka.
Adapun jika tujuan membaca hanya untuk mengejar akhir surah, maka itu bukanlah petunjuk Nabi ﷺ dalam membaca Al-Qur'an.
Jika engkau tidak memahami bahasa Arab, ikutilah kajian tafsir Al-Qur'an atau minimal membaca Al-Qur'an dengan terjemahannya, walaupun tentunya lebih baik jika ingin tadabbur menggunakan panduan seperti Al-Qur'an tadabbur wa amal atau tafsir yang menggunakan metode ijmaly yang setidaknya kita bisa memahami isi makna global dari surah/juz yang kita baca (inti pokok surah tsb, tema yang dibahas, faidah penting, kelarasan awal sudah dan akhir surah). Karna apabila mengandalkan pemahaman sendiri yang ilmunya terbatas tidaklah cukup dan dikhawatirkan salah memahami apa yang dibaca. Yang penting, jangan sampai engkau berkali-kali membaca Al-Qur'an namun melewati maknanya karena hanya ingin memperbanyak bacaan.
Bacalah, kemudian tadabburilah. Itulah yang Allah perintahkan.
Semoga Allah memberi kita kelapangan hati untuk memilih yang lebih utama serta memberikan kita hidayah dan iman. Aamiin.
https://t.me/ittiba_rasulullaah
فالأول: كمن تصدق بجوهرةٍ قيمته نفيسة جداً، والثاني:
كمن تصدق بعددٍ كثيرٍ من الدراهم قيمتهم رخيصة
Yang pertama seperti bersedekah permata yang sangat mahal; sedangkan yang kedua seperti bersedekah banyak dirham tetapi nilainya murah
Dalam Shahih Bukhari, Qatadah
berkata:
“Aku bertanya kepada Anas tentang bagaimana bacaan Nabi ﷺ.”
Beliau menjawab:
“Beliau membaca dengan memanjangkan bacaan.
Syu'bah berkata:
Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku adalah orang yang cepat membaca. Terkadang aku mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu malam satu atau dua kali.”
Ibnu Abbas berkata: “Aku membaca satu surah saja lebih aku sukai daripada apa yang engkau lakukan itu. Jika engkau tetap melakukannya, maka bacalah denga
n bacaan yang dapat didengar oleh telingamu dan dipahami oleh hatimu.”
Ibnu Mas'ud juga berkata:
“Janganlah kalian membaca Al-Qur'an seperti membaca syair.
Jangan pula membacanya dengan cepat seperti menyebarkan kurma busuk. Berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hati kalian dengannya, dan janganlah tujuan salah seorang dari kalian hanya mencapai akhir surah.
📔Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Zad Al-Ma’ad (Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm, 2008), vol. 1, hal 402-406
•••••
Kami berkata: Benarlah perkataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah.
Bacaan pelan disertai tadabbur dapat membuahkan iman, berbeda dengan bacaan cepat yang hanya berambisi menyelesaikan surah.
Bacaan cepat tanpa tadabbur bisa saja dilakukan oleh orang munafik, sehingga tidak ada iman dalam hatinya.
Berbeda dengan orang yang membaca Al-Qur'an untuk mencari hidayah dan iman, maka itulah keutamaan yang besar.
Ketahuilah bahwa bacaan para salaf yang banyak tidak lepas dari tadabbur. Karena itu kita menemukan banyak mutiara hikmah dari lisan mereka.
Adapun jika tujuan membaca hanya untuk mengejar akhir surah, maka itu bukanlah petunjuk Nabi ﷺ dalam membaca Al-Qur'an.
Jika engkau tidak memahami bahasa Arab, ikutilah kajian tafsir Al-Qur'an atau minimal membaca Al-Qur'an dengan terjemahannya, walaupun tentunya lebih baik jika ingin tadabbur menggunakan panduan seperti Al-Qur'an tadabbur wa amal atau tafsir yang menggunakan metode ijmaly yang setidaknya kita bisa memahami isi makna global dari surah/juz yang kita baca (inti pokok surah tsb, tema yang dibahas, faidah penting, kelarasan awal sudah dan akhir surah). Karna apabila mengandalkan pemahaman sendiri yang ilmunya terbatas tidaklah cukup dan dikhawatirkan salah memahami apa yang dibaca. Yang penting, jangan sampai engkau berkali-kali membaca Al-Qur'an namun melewati maknanya karena hanya ingin memperbanyak bacaan.
Bacalah, kemudian tadabburilah. Itulah yang Allah perintahkan.
Semoga Allah memberi kita kelapangan hati untuk memilih yang lebih utama serta memberikan kita hidayah dan iman. Aamiin.
https://t.me/ittiba_rasulullaah
Forwarded from Ma’hadul Qur’an Izzatul Muslimah (cha)
💐Keluarga Besar Ma'had Al-Qur'an Izzatul Muslimah mengucapkan
عيد الفطر مبارك 💎
كل عام وأنتم بخير 🤍
تقبل الله منا ومنكم صالح الطاعات 🤲
```Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H```
Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang kembali bersih dari dosa dan meraih kemenangan (surga).
💕"Mengekspresikan kegembiraan di hari hari ied merupakan salah satu syiar di dalam agama."
(Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 2/443)
Semoga ied ini melahirkan semangat baru dalam iman dan taqwa 💗
=======🌸MQIM🌸=======
عيد الفطر مبارك 💎
كل عام وأنتم بخير 🤍
تقبل الله منا ومنكم صالح الطاعات 🤲
```Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H```
Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang kembali bersih dari dosa dan meraih kemenangan (surga).
💕"Mengekspresikan kegembiraan di hari hari ied merupakan salah satu syiar di dalam agama."
(Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 2/443)
Semoga ied ini melahirkan semangat baru dalam iman dan taqwa 💗
=======🌸MQIM🌸=======
بسم الله
✿ Tinggi Rendahnya Dirimu, Tergantung Himmahmu ✿
Demi Allah… betapa menakjubkan perkara himmah itu. (Himmah : tekad/keinginan kuat)
Betapa jauhnya perbedaan antara satu hati dengan hati yang lain.
Ada himmah yang terbang tinggi… menggantung di atas ‘Arsy, mengharap ridha Allah dan surga-Nya.
Namun ada pula himmah yang jatuh… berputar-putar di sekitar hal yang rendah, fana, dan hina.
Orang awam berkata:
"Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia miliki."
Orang yang lebih dalam pandangannya berkata:
"Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia cari."
Namun orang-orang yang hatinya hidup berkata:
"Nilai seseorang tergantung pada ke mana arah himmahnya."
Maka lihatlah… jika engkau ingin tahu setinggi apa himmah itu,
Lihatlah himmah seorang sahabat mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu…
Ketika Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:
"Mintalah kepadaku."
Betapa banyak manusia akan meminta dunia, harta, kenyamanan…
Namun ia hanya berkata dengan penuh keyakinan:
"Aku meminta agar dapat menemanimu di surga."
Subhanallah…
Di saat yang lain meminta untuk mengenyangkan perut,
atau sekadar menutup tubuh,
Ia meminta sesuatu yang abadi…
yang tak akan pernah habis…
yang mengantarkan kepada kebahagiaan selamanya.
Maka ke mana arah himmah kita hari ini?
Apakah masih sibuk dengan yang fana… sibuk dengan segala keindahan dunia
atau sudah mulai merindukan yang kekal? tentang keindahan syurgaNya
📚Disarikan dari Madarijus Salikin – Ibn al-Qayyim (3/140)
https://t.me/ittiba_rasulullaah
✿ Tinggi Rendahnya Dirimu, Tergantung Himmahmu ✿
Demi Allah… betapa menakjubkan perkara himmah itu. (Himmah : tekad/keinginan kuat)
Betapa jauhnya perbedaan antara satu hati dengan hati yang lain.
Ada himmah yang terbang tinggi… menggantung di atas ‘Arsy, mengharap ridha Allah dan surga-Nya.
Namun ada pula himmah yang jatuh… berputar-putar di sekitar hal yang rendah, fana, dan hina.
Orang awam berkata:
"Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia miliki."
Orang yang lebih dalam pandangannya berkata:
"Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia cari."
Namun orang-orang yang hatinya hidup berkata:
"Nilai seseorang tergantung pada ke mana arah himmahnya."
Maka lihatlah… jika engkau ingin tahu setinggi apa himmah itu,
Lihatlah himmah seorang sahabat mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu…
Ketika Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:
"Mintalah kepadaku."
Betapa banyak manusia akan meminta dunia, harta, kenyamanan…
Namun ia hanya berkata dengan penuh keyakinan:
"Aku meminta agar dapat menemanimu di surga."
Subhanallah…
Di saat yang lain meminta untuk mengenyangkan perut,
atau sekadar menutup tubuh,
Ia meminta sesuatu yang abadi…
yang tak akan pernah habis…
yang mengantarkan kepada kebahagiaan selamanya.
Maka ke mana arah himmah kita hari ini?
Apakah masih sibuk dengan yang fana… sibuk dengan segala keindahan dunia
atau sudah mulai merindukan yang kekal? tentang keindahan syurgaNya
📚Disarikan dari Madarijus Salikin – Ibn al-Qayyim (3/140)
https://t.me/ittiba_rasulullaah