Futuhat Media
522 subscribers
109 photos
36 videos
5 links
Mengawal Kembalinya Kejayaan Islam dan Kaum Muslimin
Download Telegram
Forwarded from Ihsanul Faruqi
Antara Aqidah dan Akhlak

Sikap manusia terhadap aqidah dan akhlak dapat dibagi menjadi beberapa macam.

Pertama: orang yang berbicara tentang aqidah, tetapi lalai terhadap akhlak dan perilaku. Ia hampir tidak pernah membicarakan keduanya dan tidak menjelaskan pentingnya akhlak.

Kedua: orang yang berbicara tentang aqidah, sekaligus memberikan perhatian kepada akhlak dan perilaku, serta menjelaskan kedudukan dan pentingnya keduanya dalam Islam. Inilah yang paling dekat dengan manhaj syariat. Sebab, syariat datang membawa iman dan amal, serta menggabungkan antara benarnya keyakinan dengan baiknya akhlak dan perilaku, disertai perhatian yang besar terhadap penetapan aqidah dan pokok-pokok keimanan.

Ketiga: orang yang mengabaikan aqidah dan menjadikan sebagian besar pembicaraannya hanya tentang akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat umum. Ia memilih ungkapan-ungkapan yang dapat diterima bersama oleh Muslim maupun kaum kafir, hingga akhlak akhirnya dipisahkan dari tauhid, iman, dan landasan syariat. Sikap sepert mengarah kepada penyajian semacam “humanisme” dalam balutan Islam.

Sebagian dari mereka mungkin mengira bahwa mengumpulkan manusia di atas nilai-nilai yang mereka sepakati bersama merupakan jalan untuk mendapatkan kecintaan dan penerimaan mereka. Hingga akhirnya, kompas dalam dakwahnya lebih mengarah kepada “manusia” daripada kepada “Allah” dan keridaan-Nya.

Yang benar, seorang Muslim menggabungkan antara aqidah yang benar dan akhlak yang baik. Ia tidak menjadikan akhlak sebagai pengganti aqidah, sebagaimana ia tidak menjadikan pembicaraan tentang aqidah sebagai alasan untuk mengabaikan akhlak. Akhlaknya merupakan buah dari keimanannya, dan seluruh tujuannya dalam hal itu adalah mencari keridaan Allah Ta'ala.
1
Himpunan Dosa

Abu Thalib al-Makki rahimahullah berkata, “Aku menghimpun dosa-dosa besar itu dari perkataan para sahabat, lalu aku mendapati bahwa dosa-dosa besar itu ada:

Empat dosa dalam hati, yaitu syirik, terus-menerus melakukan kemaksiatan, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.

Empat dosa melalui lisan, yaitu kesaksian palsu, menuduh perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya berbuat zina, sumpah ghamus/palsu, dan sihir.

Tiga dosa dalam perut, yaitu meminum khamar, memakan harta anak yatim, dan memakan riba.

Dua dosa pada kemaluan, yaitu zina dan liwath.

Dua dosa melalui kedua tangan, yaitu membunuh dan mencuri.

Satu dosa melalui kedua kaki, yaitu melarikan diri dari medan perang.

Satu dosa yang berkaitan dengan seluruh tubuh, yaitu durhaka kepada kedua orang tua.”

( Ibnu al-Qayyim dalam Ad-Dā’ wa ad-Dawā’: 292)
1
Forwarded from Futuhat Media
Himpunan Dosa

Abu Thalib al-Makki rahimahullah berkata, “Aku menghimpun dosa-dosa besar itu dari perkataan para sahabat, lalu aku mendapati bahwa dosa-dosa besar itu ada:

Empat dosa dalam hati, yaitu syirik, terus-menerus melakukan kemaksiatan, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.

Empat dosa melalui lisan, yaitu kesaksian palsu, menuduh perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya berbuat zina, sumpah ghamus/palsu, dan sihir.

Tiga dosa dalam perut, yaitu meminum khamar, memakan harta anak yatim, dan memakan riba.

Dua dosa pada kemaluan, yaitu zina dan liwath.

Dua dosa melalui kedua tangan, yaitu membunuh dan mencuri.

Satu dosa melalui kedua kaki, yaitu melarikan diri dari medan perang.

Satu dosa yang berkaitan dengan seluruh tubuh, yaitu durhaka kepada kedua orang tua.”

( Ibnu al-Qayyim dalam Ad-Dā’ wa ad-Dawā’: 292)
إنها ليست معركةً سياسية، ولا معركة اقتصادية،ولا معركةً عنصرية، لو كانت كذلك لسهل وقفها، وسهل حلُّ إشكالهاولكنّها في صميمها معركة عقيدة، إمّا كفرٌ وإمّا إيمان، إمّا جاهليةٌ وإمّا اسلام

“Sesungguhnya, ini bukanlah pertempuran politik, bukan pula pertempuran ekonomi, dan bukan pula pertempuran rasial. Seandainya demikian, niscaya akan mudah untuk menghentikannya dan menyelesaikan persoalannya.

Akan tetapi, pada hakikatnya, ini adalah pertempuran akidah: antara kekufuran dan keimanan, antara jahiliah dan Islam.”

(Sayyid Quthb rahimahullah wa taqabbalah)
2🫡1
Istri Panglima al-Qassam Muhammad Deif Ummu Khalid pernah menuturkan: “Ketika pasukan penjajah zionis menyeret para perempuan di Masjid Al-Aqsha, ia menyaksikan kejadian itu melalui siaran Al Jazeera. Air matanya pun mengalir saat itu, dan ia menangis dengan tangisan yang begitu hebat.

Allahu yarrham Abul Abd Ismail Haniya rahimahullah menggambarkannya dengan ungkapan: " Dia adalah Putra Al-Aqsha yang berbakti."

Tak lama kemudian, ia pun memutuskan untuk melancarkan pertempuran Saif al-Quds.

Adapun sang pemilik tongkat Yahya Sinar rahimahullah, ia sendiri kemudian tampil di atas podium dan berkata: "Sebagai balasan atas penyeretan tiga perempuan kita, kami membunuh tiga orang pemukim zionis."

Dan ketiga lelaki ini mengakhiri kehidupannya dengan status yang sama, sebagai syuhada insyaAllah
1
Futuhat Media
Photo
Membandingkan, Penghilang Kenikmatan

Adakala atau bahkan seringkali bertanya dalam hati:
"Mengapa dia punya, sedangkan aku tidak?
Mengapa dia mendapatkan lebih banyak, sementara yang kumiliki begitu sedikit? Mengapa hidupnya tampak lebih mudah daripada hidupku?
Mengapa dia sudah menikah, sedangkan aku belum?
Dan seterusnya...

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlahan bisa melelahkan hati. Sebab, kita sibuk mengukur hidup sendiri dengan kehidupan orang lain, hingga lupa melihat apa yang sebenarnya telah Allah anugerahkan kepada kita.

Padahal, Allah telah membagi rezeki, kemampuan, kesempatan, dan ujian kepada setiap manusia dengan ketentuan-Nya. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, dan di sepanjang jalan itulah Allah menguji keimanan dan ikhtiarnya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ﴾

“Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ»

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah memandang orang yang berada di atas kalian. Sebab, hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”
(Muttafaq ‘alaih)

Bisa jadi, yang kita lihat dari kehidupan orang lain hanyalah sisi indahnya. Kita tidak tahu apa yang harus mereka perjuangkan, apa yang mereka khawatirkan, dan ujian apa yang diam-diam mereka hadapi.

Karena itu, daripada terus sibuk melihat kehidupan orang lain, cobalah kembali melihat kehidupanmu sendiri. Lihat apa yang sudah Allah berikan, kemampuan apa yang kamu miliki, kesempatan apa yang masih terbuka, dan apa yang bisa kamu usahakan hari ini.

Saat mulai membandingkan diri, ubahlah pertanyaanmu.

Bukan lagi, “Mengapa dia bisa, sedangkan aku tidak?”

Melainkan, “Apa yang bisa aku lakukan dengan apa yang telah Allah berikan kepadaku?”

Bagaimana aku bisa lebih bersyukur? Bagaimana aku bisa menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada, sekaligus terus berusaha memperbaiki kehidupan?

Yakinlah, ridha akan menenangkan hatimu, ikhtiar akan mengantarkanmu melangkah ke depan, dan syukur akan membuatmu menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini hadir dalam hidupmu, tetapi luput dari perhatianmu.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita. Segala taufik, karunia, dan hikmah hanyalah milik-Nya.

(Fp As-Sabil)
Terkadang pengaruh sebuah risalah baru tampak pada generasi yang belum lahir.

Nabi ﷺ bersabda:

«أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»

“Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

(AsySyaikh Abdul Aziz ath-Tharifi hafizhahullah wa fakka asrah)
Saat Qutaibah bin Muslim Mencari Telunjuk Yang Terangkat

Ketika panglima Muslim, Qutaibah bin Muslim al-Bahili, tiba di hadapan tembok-tembok Bukhara, ia tertegun menyaksikan banyaknya pasukan musuh dan perlengkapan perang mereka. Pertempuran sudah di ambang pintu. Hati semua orang dipenuhi ketegangan.

Namun, ia tidak bertanya tentang jumlah pasukan ataupun persenjataan. Justru pertanyaan pertama yang terlontar dari lisannya adalah: “Di mana Muhammad bin Wasi‘ al-Azdi?”

Mereka menjawab, “Dia ada di sana, di sayap kanan pasukan. Ia bersandar pada tombaknya, menatap langit, mengangkat jarinya seraya bermunajat kepada Rabb-nya.”

Mereka pun menawarkan untuk memanggilnya. Namun, dengan penuh keyakinan dan ketenangan, Qutaibah berkata: “Tidak. Jari itu lebih aku cintai daripada seribu pedang terhunus.”

Pada saat itu, Qutaibah bukan sedang mencari kekuatan dari besi, melainkan kekuatan dari langit. Ketenangan perlahan meresap ke dalam dadanya, sebab ia mengetahui bahwa di antara pasukannya terdapat seseorang yang apabila berdoa, doanya dikabulkan; seseorang yang apabila bermunajat kepada Rabb-nya, ia tidak akan dibiarkan tanpa pertolongan.

Ia menyadari bahwa pertolongan Allah bisa datang melalui doa seorang hamba yang saleh, melalui sebuah jari yang terangkat dengan penuh kekhusyukan, bukan semata-mata melalui pedang-pedang yang terhunus.

Qutaibah, sang panglima berpengalaman, memahami bahwa di dalam barisannya terdapat sebuah jari yang terangkat dengan penuh ketakwaan, yang bisa menjadi sebab bagi pembukaan wilayah yang besar. Sebuah doa dari hati yang tulus bisa mengubah perimbangan kekuatan dalam peperangan.

Di sinilah tersingkap sebuah hakikat besar: Setiap amal, sekecil apa pun, memiliki nilai. Setiap niat yang tulus memiliki pengaruh, sekalipun tersembunyi.

Maka, kepada siapa pun yang hari ini bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Gaza?”

Kita katakan kepadanya: Ketahuilah, amal-amal kita diperhitungkan, hingga sejengkal langkah dan setiap detak jantung yang berdenyut untuk Gaza.

Boleh jadi, kesalehan dan ketakwaanmu menjadi bekal yang dikirimkan kepada mereka.

Boleh jadi, menjauhi kemungkaran dan perkara-perkara haram menjadi salah satu penopang keteguhan mereka.

Maka, janganlah meremehkan dirimu sendiri, jangan meremehkan amal kecil yang engkau kerjakan dengan ikhlas, dan jangan pula meremehkan doa yang engkau panjatkan secara diam-diam.

Betapa mungkin, sebuah jari yang terangkat ke langit menjadi penopang bagi seluruh pasukan!

Pedang dan tombak, serta tali yang senantiasa tersambung kepada Rabb yang menguasai langit, adalah dua hal yang tidak pernah terpisahkan.

(Kanal Aknaf)

Semoga dalam tengadah tangan kita dan dalam bisikan munajat kita, masih ada Gaza di sana.

اللهم انصر الإسلام والمسلمين وانصر إخواننا المستضعفين في غزة
1
Futuhat Media
Photo
Saat Maksiat Tak Lagi Nikmat

Sering kali seseorang sampai pada tahap ketika ia tidak lagi menikmati kemaksiatan, tetapi, sebagaimana diungkapkan oleh orang yang terjerumus di dalamnya, ia “tidak mampu meninggalkannya”.

Mengapa ia tidak meninggalkannya, padahal ia sudah tidak lagi menikmatinya? Padahal, tidak ada yang ia peroleh darinya selain dosa dan perihnya teguran hati nurani yang mencela dirinya sendiri?

Itulah kelumpuhan kehendak, kebiasaan yang telah mengakar terhadap kemaksiatan, ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui jika ia meninggalkannya, serta ketidakpercayaan bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan memenuhi kehidupannya dengan kebaikan yang lebih besar.

Seseorang bisa sampai pada keadaan yang menyerupai beberapa jenis kecanduan. Dalam kondisi itu, seseorang tidak lagi merasakan kenikmatan dari mengonsumsi zat adiktif, tetapi secara psikologis tetap terikat dengannya. Ia takut meninggalkannya, bahkan rela mengorbankan harta dan akhlaknya demi mendapatkannya.

Demikian pula, kemaksiatan bisa menimbulkan kecanduan.

Seakan-akan orang yang kecanduan maksiat adalah seorang hamba yang malang, bersedih, dan terbelenggu oleh rantai-rantai semu yang dengannya setan menyeretnya!

Rantai-rantai itu sebenarnya semu. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk mencoba mengabaikannya, lalu memunggungi setan dan berjalan berlawanan dengan arah yang selama ini diseretkan kepadanya.

Seolah-olah orang yang “kecanduan” ini telah mendapat bagian dari firman Allah Ta’ala:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ

“Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.”
(QS. Al-Mujādilah: 19)

Inilah bentuk penguasaan setan, ketika ia berhasil menguasai seorang hamba tanpa imbalan apa pun! Bahkan, bukan pula demi kenikmatan dunia yang hina sekalipun!

Dan yang membuat seorang hamba tetap berada dalam penguasaan yang menyedihkan ini adalah:

فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ
“Lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.”

Seolah-olah hamba itu lupa bahwa ia memiliki Rabb yang dapat ia mintai pertolongan untuk membebaskannya dari keadaan yang sedang menjerat dirinya.

Wahai orang yang kecanduan dan bersedih!

Tidakkah engkau melihat bahwa setan hanya diberi kesempatan untuk mendatangimu dari empat arah?

Allah mengabadikan perkataan setan dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ۝١٦ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ۝١٧

“Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’”
(QS. Al-A‘rāf: 16–17)

Setan tidak diberi kesempatan untuk mendatangimu dari atas, sehingga ia dapat menghalangimu dari rahmat Allah Ta’ala.

Lalu, mengapa engkau tidak mengangkat kepalamu dan berkata, “Wahai Rabbku”?

Sebab, sesungguhnya:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا

“Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya.”
(QS. Fāṭir: 2)

(Asy-Syaikh Dr. Iyad Qunaibi hafizhahullah)

اللهم أعنا على ترك معاصيك
Yaa Allah bantulah kami agar bisa meninggalkan maksiat kepadaMu
Futuhat Media
Photo
Ah, seandainya manusia mengetahui seperti apa manusia yang Allah pilih untuk menjadi syuhada!

Aku tidak menemukan ungkapan yang lebih tepat untuk menggambarkan hal itu selain sabda Nabi ﷺ:
«لَتُنْتَقَوْنَ كَمَا يُنْتَقَى التَّمْرُ مِنْ أَغْفَالِهِ، فَلَيَذْهَبَنَّ خِيَارُكُمْ وَلَيَبْقَيَنَّ شِرَارُكُمْ»
“Sungguh, kalian akan diseleksi sebagaimana kurma dipilih dari tempat penyimpanannya. Orang-orang terbaik di antara kalian benar-benar akan pergi, dan orang-orang terburuk akan tetap tinggal.”
(HR. Ibn Mājah no. 4038; al-Ḥākim no. 8337; al-Ṭabarānī no. 4676)

Hadis ini merupakan isyarat bahwa sunnatullah berupa pemurnian dan penyaringan akan disertai dengan kepergian orang-orang terbaik.

Di dalamnya juga terdapat isyarat bahwa orang-orang terbaik di antara manusia akan dipilih, sebagaimana seseorang memilih kurma yang paling baik ketika matanya tertuju pada wadah berisi kurma.

Ibnu Majah mencantumkan hadis ini dalam Bāb Syiddati az-Zamān (Bab Beratnya Zaman). Hadis tersebut menunjukkan bahwa zaman menjadi berat bagi manusia karena dahsyatnya berbagai ujian dan hilangnya orang-orang terbaik.

Keberadaan mereka di tengah manusia merupakan keberkahan, sedangkan kepergian mereka adalah kesulitan dan ujian, yang terkadang lebih berat daripada ujian berupa kesehatan dan harta.

(Asy-Syaikh Muhammad al-Asthal hafizhahullah)
Tepat di tanggal ini (20 September) di tahun 1187, Sultan Salahuddin al-Ayyubi memulai pengepungan terhadap kota Yerusalem (al-Quds). Setelah meraih kemenangan besar dalam Pertempuran Hittin pada 4 Juli 1187, Salahuddin dengan cepat merebut kembali sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai Kerajaan Yerusalem. Ia kemudian bergerak menuju Yerusalem dan mendirikan kemah di hadapan kota pada 20 September 1187. Pengepungan tersebut berakhir dengan menyerahnya penduduk AlQuds pada 2 Oktober 1187.

(Rahimahullah)
Futuhat Media
Photo
Antara Necmettin Erbakan dan Recep Tayyip Erdoğan, Balada Pecahnya Kongsi Perjuangan.

(Bacaan ringan menjelang tidur)

Ada satu kalimat Erbakan yang terus hidup karena ia menolak dikotomi yang paling nyaman bagi banyak orang beriman: cukuplah ibadah, biarkan dunia urusan orang lain.

Versi yang sering beredar berbunyi kira-kira: orang-orang berkata kepadanya, maukah engkau memimpin dunia? Kosongkan dirimu, bacalah Al-Qur’an. Ia membaca. Lalu, katanya, yang ia dengar bukan perintah untuk duduk, melainkan: bangkit, lawan para penindas, hasilkan ilmu, makmurkan dunia.

Di sumber Turki, rumusannya lebih pedas dan lebih hidup. Orang bilang: "duduk, baca Qur’an-mu, siapa yang menghalangimu?"
Ia menjawab: "tapi ketika aku membaca, Qur’an justru berkata: bangkit, lawan yang zalim, hasilkan ilmu, bangun dunia." Dalam Davam ada juga formulasi yang lebih singkat: kalian menyuruhku membaca; yang kubaca justru menyuruhku bangkit dan berjihad.

Ini bukan slogan kampanye. Ini teologi politik. Bagi Erbakan, Al-Qur’an tidak menyelesaikan ketegangan antara zikir dan kekuasaan dengan memilih zikir. Ia menuntut keduanya. Ilmu tanpa perlawanan terhadap penindasan adalah kemewahan. Perlawanan tanpa ilmu adalah amarah. Iman yang hanya berdiam di sajadah, dalam bacaannya, adalah bentuk lain dari kekalahan.

Dari situlah seluruh proyeknya bisa dipahami: Milli Görüş, Adil Düzen, D-8, obsesi pada industri, dan keyakinan bahwa umat Muslim tidak boleh menjadi objek tatanan yang ia sebut ırkçı emperyalizm. Ia insinyur mesin, profesor, dan ideolog. Ia percaya rumus harus utuh, meski kalah. Dan sang murid Erdoğan tumbuh di dalam rumus itu.

Rumah yang sama, insting yang berbeda
Secara organisasi, hubungan mereka jelas. Erdoğan adalah kader Milli Görüş: sayap pemuda MSP, cabang Istanbul Refah, lalu Wali Kota Istanbul dari partai gurunya. Anaknya diberi nama Necmettin Bilal. Sampai akhir hayat, Erbakan masih bisa mengucapkan *evladım*. Itu bukan basa-basi kosong. Ada ikatan personal yang nyata.

Tapi murid yang patuh di struktur tidak otomatis murid yang patuh di strategi. Jejak pembangkangan sudah ada jauh sebelum AKP. Pada kongres MSP 1978, Erdoğan muda mendukung daftar tandingan Korkut Özal. Artinya, dari awal ia bukan pewaris yang menunggu giliran dengan kepala tertunduk. Ia organisator dengan insting sendiri: siapa yang harus memimpin, bagaimana partai harus tampil, dan apa yang bisa menang di lapangan.

Yang mengubah semuanya bukan perdebatan tafsir. Yang mengubah semuanya adalah 28 Februari 1997.

Pemerintahan Erbakan jatuh bukan lewat pemilu, melainkan lewat tekanan militer yang kemudian disebut kudeta postmodern. Partai dibubarkan. Kader diadili. Generasi yang lebih muda menarik satu kesimpulan yang tidak ditarik gurunya dengan cara yang sama. Erbakan melihat peristiwa itu sebagai bukti bahwa musuhnya memang sebuah tatanan dunia. Erdoğan melihatnya sebagai bukti bahwa cara lama kalah. Partai yang terlalu terang sebagai proyek Islamis mudah ditutup. Pemilih di luar basis tidak cukup. Yargı, modal, dan markas besar bisa menutup pintu kapan saja.

Di situ pecah dua pembacaan atas ayat yang sama. Guru tetap percaya: rumus tidak boleh dipotong. Murid mulai percaya: rumus yang kalah tidak menolong siapa pun.

Tiga titik 'pembangkangan' Erdoğan. Pembangkangan Erdoğan bukan satu peristiwa tahun 2001. Ia tiga keputusan yang bertumpuk.

Pertama, narasi:
Erbakan bicara Adil Düzen, anti-bunga, persatuan Muslim, dan pusat kekuatan tersembunyi yang menindas. Erdoğan memilih kamus lain: konservatif-demokrat, pertumbuhan, Uni Eropa, kelas menengah. Ia tidak hanya mengubah slogan. Ia mengubah apa yang boleh menjadi program resmi negara. “Melepas baju Milli Görüş” adalah pengakuan, bukan fitnah lawan.

Kedua, soal suksesi:
Setelah Refah dan Fazilet dibubarkan, banyak kader menginginkan wajah baru. Nama yang muncul berulang adalah Erdoğan. Erbakan memilih Recai Kutan — orang yang lebih tabi/manut. Watak gerakan itu tersingkap: Hoca mencari penerus yang menjaga rumus, bukan saingan yang menulis ulang rumus. Erdoğan membaca itu sebagai penutupan jalan.
1
Futuhat Media
Photo
Ia tidak menunggu. Ia keluar.

Ketiga, ekonomi politik:
Ini yang paling menusuk bagi Erbakan. Muridnya berkuasa, lalu mengelola utang, bunga, dan integrasi pasar yang justru menjadi musuh teoretis gurunya. Bagi Erbakan, itu bukan taktik bertahan. Itu pindah kelas. Makanya muncul kalimat yang sampai sekarang dikutip lawan AKP: Erdoğan menjadi kasir tatanan yang ia lawan seumur hidup. Apakah tuduhan itu adil sebagai analisis ekonomi? Bisa diperdebatkan. Sebagai luka ideologis, itu konsisten. Guru mengukur murid dari kerangka, bukan dari lama berkuasa.

Lapisan personal tetap ada. Sekitar sebulan sebelum wafat, Erbakan masih berkata cintanya tidak hilang. Di wawancara Die Welt pada tahun yang sama, ia menyatakan ingin menjatuhkan muridnya di pemilu. Itu bukan kontradiksi orang pikun. Itu struktur hubungan mereka: afeksi tidak membatalkan vonis politik.

Pengkhianatan, atau pelajaran dari kekalahan?
Ada tiga cara membaca pecah ini. Ketiganya berguna, asalkan tidak dicampur jadi satu.

Jika ukurannya kesetiaan pada doktrin, Erdoğan membangkang. Ia secara sadar memotong program gurunya agar partai lolos filter sekuler dan lolos selera pemilih yang lebih luas. Basis Milli Görüş banyak yang tetap pindah ke AKP justru karena merasa proyek Hoca “menang,” meski menang dengan wajah lain. Itu kemenangan yang dibeli dengan pengenceran.

Jika ukurannya tujuan jangka panjang — umat tidak lagi menjadi objek militer dan elit lama, gambarnya keruh. Hal yang tidak pernah bertahan lama di tangan Erbakan terjadi di tangan Erdoğan: mayoritas pemilu, penjinakan lalu penundukan militer, masuknya simbol Islam ke ruang publik, dan daya tahan puluhan tahun. Itu bukan bukti bahwa rumus gurunya salah. Itu bukti bahwa rumus itu, dalam bentuk aslinya, tidak lolos mesin negara Turki pasca-Atatürk.

Pembacaan ketiga lebih sinis, dan karena itu perlu dipegang sebagai hipotesis, bukan dogma: Erdoğan tidak pindah dari Islamisme ke liberalisme. Ia pindah dari Islamisme doktriner ke Islamisme kekuasaan. Baju dilepas supaya tubuh masuk istana. Setelah aman, sebagian agenda simbolik gurunya diambil kembali. Ayasofya adalah contoh paling bersih. Yang tidak diambil adalah kerangka ekonomi anti-bunga dan arsitektur “dunia baru” ala D-8 sebagai alternatif sistemik.

Di sinilah ironi paling lengkap. Erdoğan tidak membunuh warisan gurunya. Ia mengambil tenaganya dan membuang kerangkanya.

Dua watak, satu rumah
Erbakan adalah profesor yang percaya kebenaran harus diucapkan utuh, meski kalah.
Erdoğan adalah organisator yang percaya kebenaran yang kalah tidak menolong rakyatnya.

Keduanya merasa setia. Yang satu setia pada rumus. Yang lain setia pada hasil. Sejarah politik Turki modern berjalan di celah itu.

Karena itu kalimat Erbakan tentang Al-Qur’an menjadi kunci, bukan hiasan. Guru membaca kitab dan mendengar perintah bangkit. Murid membaca kekalahan guru dan mendengar perintah lain: bangkit dengan cara yang tidak bisa dihancurkan besok pagi. Perselisihan mereka bukan soal apakah umat harus keluar ke dunia. Keduanya setuju umat harus keluar. Perselisihannya adalah: keluar dengan rumus yang utuh, atau keluar dengan rumus yang menang.

Pewaris Erbakan — Saadet, lalu Yeniden Refah di bawah Fatih Erbakan — hidup dari pertanyaan itu. Mereka menuduh baju yang dilepas tidak pernah dipasang lagi dengan jujur. AKP menjawab, tanpa selalu mengatakannya, bahwa baju yang membuat pemakainya mudah ditangkap militer bukan kesalehan, melainkan kecerobohan.

Tidak perlu memilih siapa yang “lebih Muslim” untuk melihat intinya. Yang pecah di antara mereka adalah teori tentang bagaimana fikrah masuk ke negara modern yang sudah punya tentara, pasar, dan pemilu. Erbakan menolak berkompromi. Erdoğan menolak kalah meski harus berkompromi.
Mari Beriman Sejenak!

(Dr. Adham AsySyarqawi hafizhahullah)

Aku tahu, hari-hari ini begitu berat, sahabatku. Begitulah keadaan: ketika sesuatu mencapai puncak kesulitannya, saat itulah kelapangan semakin dekat. Bagian malam yang paling gelap adalah saat-saat menjelang fajar. Dan ketika beban semakin menumpuk, rasanya semuanya hampir saja runtuh sekaligus.

Aku tidak sedang memberimu harapan palsu. Allah telah menetapkan:

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي

“Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.’” (QS. Al-Mujadilah: 21)

Ini adalah janji yang tidak mungkin ditolak. Maka, janganlah engkau tertipu oleh ketinggian kebatilan. Tidak ada sesuatu yang menjulang melainkan akan jatuh.

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan berbalik melarikan diri.” (QS. Al-Qamar: 45)

Aku tidak sedang menjual khayalan di pasar kata-kata. Sebaliknya, di antara metode para nabi adalah menebarkan ketenteraman di tengah manusia pada saat-saat ketakutan.

Tidakkah engkau melihat bahwa Yusuf عليه السلام berkata kepada saudaranya:

لَا تَبْتَئِسْ

“Janganlah engkau bersedih hati!” (QS. Yusuf: 69)

Syu’aib عليه السلام berkata kepada Musa عليه السلام:

لَا تَخَفْ

“Janganlah engkau takut!” (QS. Al-Qashash: 25)

Ketika kaum musyrikin mengepung gua, Nabi ﷺ berkata kepada Abu Bakar:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Seandainya engkau memutar kembali roda waktu ke Madinah pada hari Perang Ahzab, ketika kaum Muslimin dikepung begitu rapat, seperti gelang melingkari pergelangan tangan, niscaya engkau akan melihat Nabi ﷺ memegang beliung, memukul batu, seraya memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya tentang penaklukan Persia dan harta kekayaan Kisra. Dan semua itu benar-benar terjadi!

Orang-orang yang mengenal Allah, ketika bertemu, biasa berkata satu sama lain, “Duduklah bersamaku, agar kita beriman sejenak!”

Begitulah Abdullah bin Rawahah berkata kepada Abu Darda ketika bertemu dengannya. Begitu pula Mu’adz berkata kepada sahabatnya.

Maka, kemarilah. Duduklah bersamaku, agar kita beriman sejenak!

Mengapa harus berputus asa, padahal kita telah diberi kabar gembira tentang salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau kesyahidan?!

Barang siapa telah meninggal, sungguh ia telah beristirahat dan menunaikan kewajibannya. Adapun siapa yang masih hidup, inilah jalan yang akan mengantarkannya menuju tujuan yang telah diketahui. Kiamat tidak akan terjadi hingga kita memerangi mereka dan mengalahkan mereka.

Cukuplah bagimu suatu kemuliaan jika engkau berada di jalan ini. Janganlah engkau tertipu oleh berkumpulnya para pengikut kebatilan di atas kebatilan mereka. Dahulu mereka juga pernah berkumpul seperti itu dan mengira bahwa benteng-benteng mereka akan melindungi mereka dari Allah!

Sesungguhnya bumi ini sedang bersiap menyambut suatu perkara besar yang tidak akan lama lagi tiba. Apakah engkau mengira bahwa seluruh darah yang tertumpah ini akan sia-sia di sisi Allah?!

Demi Allah, seandainya ada sebuah keluarga yang mendatangi ternak mereka, lalu menyembelih seratus ribu ekor dan membuangnya karena kesombongan dan kesia-siaan, niscaya Allah akan menghukum mereka. Lalu, bagaimana dengan darah-darah yang tertumpah ini, sementara mereka yang memilikinya bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya?!

Tidak ada seorang pun yang lebih adil daripada Allah. Tidak ada seorang pun!

Berikanlah hatimu. Mari kita saling mengingatkan sejenak. Duduklah bersamaku, agar kita beriman sejenak!

Demi Tuhanmu, katakanlah kepadaku: Kapan Allah Ta'ala membinasakan kebatilan ketika ia sedang lemah?!

Engkau tidak akan menemukan satu contoh pun. Jadi, janganlah engkau bersusah payah mencarinya!

Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak membinasakan kebatilan dengan kebinasaan yang dahsyat, kecuali ketika kebatilan itu sedang berada di puncak kekuatan dan kesombongannya!
2
Ketika Allah membinasakan Fir'aun, Dia tidak membinasakannya setelah keseimbangan kekuatan berubah. Sebaliknya, Dia membinasakannya ketika Fir'aun berkata:

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi!” (QS. An-Nazi’at: 24)

Dia membinasakannya ketika ia berada di puncak kekuasaannya, memimpin pasukannya yang bersenjata lengkap!

Ketika Allah membinasakan kaum Luth, Dia tidak membinasakan mereka saat mereka sedang lemah. Sebaliknya, Dia membinasakan mereka pada saat mereka berada di puncak kekuatan dan kebejatan, ketika mereka mendatangi rumah Luth dengan maksud merebut para tamunya!

Ketika Allah membinasakan Abu Jahal, Dia tidak membinasakannya setelah keseimbangan kekuatan berubah. Sebaliknya, Dia membinasakannya ketika ia berada di puncak kecongkakannya. Ia hendak mendatangi mata air Badar, menyembelih unta-unta, dan membiarkan para penyanyi perempuan menghibur pasukannya, agar kebejatannya terdengar oleh bangsa Arab!

Ketika Allah membinasakan Namrud, Dia tidak membinasakannya pada saat ia lemah. Sebaliknya, Dia membinasakannya ketika ia berada di puncak kesombongannya, menyerukan kepada manusia:

أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ

“Akulah yang menghidupkan dan mematikan!”

Ketika Allah membinasakan kaum ‘Ad, Dia tidak membinasakan mereka setelah sebab-sebab kekuatan mereka berubah dan keseimbangan berbalik. Sebaliknya, Dia membinasakan mereka ketika mereka berkata:

مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

“Siapakah yang lebih kuat daripada kami?” (QS. Fussilat: 15)

Ketika Allah membinasakan kaum Tsamud, Dia membinasakan mereka saat mereka masih giat memahat batu-batu di lembah.

Ketika Allah mencerai-beraikan pasukan Ahzab pada Perang Khandaq, bumi terasa begitu sempit bagi kaum beriman, padahal luasnya begitu lapang, dan hati mereka telah sampai ke tenggorokan.

Ketika Allah Ta'ala membinasakan bangsa Romawi, Dia tidak membinasakan mereka dalam keadaan lemah. Sebaliknya, Dia membinasakan mereka di Yarmuk, ketika jumlah pasukan dan persenjataan mereka lebih banyak!

Ketika Allah membinasakan bangsa Persia, Dia tidak membinasakan mereka setelah mencabut segala sarana kekuatan dari bawah kaki mereka. Sebaliknya, Dia membinasakan mereka dalam Perang Qadisiyah, padahal sebelumnya mereka memiliki kekuatan dan kejayaan!

Demi Allah, jika Allah mengizinkanmu hidup tidak lebih dari dua tahun lagi, niscaya engkau akan melihat salah seorang dari kita mendatangi Masjidil Aqsa, tanpa merasa takut kepada siapa pun selain Allah dan serigala yang mengancam ternaknya.

Dan sesungguhnya, hari esok itu sudah dekat bagi siapa yang menantikannya!
2
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Nasyid perjuangan Yaman dengan background mujahidin Suriah