ㅤㅤㅤㅤㅤSELARIK INFORMASI
Sebelum terjun ke kanal ini dan jadi bagian dari Wihaya, gua anjurkan kalian untuk membaca informasi satu ini. Tahu kok, repot. Tapi ini untuk mencegah salah paham, jadi gua hargai kalian yang mau membaca.
#goresan sang pengarang menggunakan yang satu ini untuk mempublikasikan cerita-ceritanya;
#pemain merupakan penanda yang berfungsi untuk memperkenalkan tokoh buatan dalam alur.
Sebelum terjun ke kanal ini dan jadi bagian dari Wihaya, gua anjurkan kalian untuk membaca informasi satu ini. Tahu kok, repot. Tapi ini untuk mencegah salah paham, jadi gua hargai kalian yang mau membaca.
Poin 1 :: Sang pengarang menggunakan wajah Roh Yoon-seo untuk membangun tokoh Anaka Djaraki yang dengan tegas menyatakan tidak punya hubungan langsung dengan aktris tersebut.Poin 2 :: Segala media yang dikirim ke ranah ini berasal dari berbagai sumber yang sebagian besar diambil dari aplikasi Instagram dan Pinterest. Beberapa juga merupakan karya asli sang pengarang.Poin 3 :: Pengarang telah membuat penanda yang akan menjadi identitas gua saat mengisi papan anonim yaitu ( #jæy ) dan ada berbagai penanda lain dengan kegunaan yang berbeda-beda; #goresan sang pengarang menggunakan yang satu ini untuk mempublikasikan cerita-ceritanya;
#pemain merupakan penanda yang berfungsi untuk memperkenalkan tokoh buatan dalam alur.
Poin 4 :: Untuk kalian yang merasa ada konten tidak pantas di kanal ini, atau ada kesalahan dalam penulisan, atau lihat ada karya serupa dengan yang ada di sini bisa tolong bagikan informasinya ke t.me/aksagiribot. Tapi gua harap segala konten yang muncul di kanal ini memberi manfaat buat kalian dan gak ada yang melakukan plagiarisme. Selamat datang di Koran Bumi, tempat gua membagikan cerita.
Tangkap suara
Photo
( #pemain ) Bukan siapa-siapa, cuman anak bunda sama ayah yang lagi kuliah di Semarang. Bukan tanpa maksud kuliah jauh-jauh, ini semua karena gua mau membantu sembuhkan Nusantara yang lagi rapuh. Tantangannya banyak banget karena harus berulang kali kangen sama rumah dan keluarga, berat banget hidup sendirian. Tapi gua merasa kalau sosok Anaka Djaraki lebih dibutuhkan di Semarang daripada Yogyakarta.
Gua lahir di Bandung dan tumbuh di keluarga yang hangat. Rumah selalu jadi tempat ternyaman sampai akhirnya ayah memutuskan kalau kita semua harus pindah ke Yogyakarta. Di sana keadaan gak berjalan begitu mulus, banyak hal yang perlu diluruskan. Tentu gak mudah mengingat keluarga gua adalah kumpulan manusia yang susah jujur tentang masalah masing-masing. Tapi sekali lagi, gua dibesarkan oleh keluarga yang baik-baik.
Gua lahir di Bandung dan tumbuh di keluarga yang hangat. Rumah selalu jadi tempat ternyaman sampai akhirnya ayah memutuskan kalau kita semua harus pindah ke Yogyakarta. Di sana keadaan gak berjalan begitu mulus, banyak hal yang perlu diluruskan. Tentu gak mudah mengingat keluarga gua adalah kumpulan manusia yang susah jujur tentang masalah masing-masing. Tapi sekali lagi, gua dibesarkan oleh keluarga yang baik-baik.
( #goresan ) Indonesia di tahun dan periode ini sedang diakui dunia dari segala sisi, bangsa kita mendapat julukan "Garuda Emas" karena telah bangkit dari krisis moral. Gua menanggapi kata bangkit itu dengan cara berbeda, sesungguhnya hal ini bukanlah prestasi jika dilihat dari bagaimana cara pemerintah menanganinya.
Kalian tahu kan Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk yang ramah, baik, dan sopan. Tapi belakangan ini kok gak terasa begitu ya? Banyak yang bertolak belakang dengan Pancasila. Ini pengaruh globalisasi atau cara pandang gua yang salah?? Walau jurusan gua gak ada hubungannya dengan sosial dan moral, tapi gua masih warga negara Indonesia lho. Apa salahnya peduli sama negara sendiri?
https://telegra.ph/Bagian-1-07-01
Kalian tahu kan Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk yang ramah, baik, dan sopan. Tapi belakangan ini kok gak terasa begitu ya? Banyak yang bertolak belakang dengan Pancasila. Ini pengaruh globalisasi atau cara pandang gua yang salah?? Walau jurusan gua gak ada hubungannya dengan sosial dan moral, tapi gua masih warga negara Indonesia lho. Apa salahnya peduli sama negara sendiri?
https://telegra.ph/Bagian-1-07-01
Telegraph
Bagian 1.
Biar gua ceritakan dari awal. Sejak setahun yang lalu Indonesia mulai dilanda krisis moral dan pelunturan budaya. Iya, budaya kita yang istimewa itu macam dibakar habis sama kita-kita sendiri. Gak ada yang peduli. Setelah dilakukan penilaian, Pulau Jawa diyakini…
Tangkap suara
Photo
( #pemain ) Gua agak bingung karena harus mendeskripsikan orang ini. Kita mulai dari identitasnya aja deh,
namanya Hanan Abidzar Al-Ghifari
lahir 4 bulan lebih awal dari gua dan tinggal di Bandung. Tentunya sebelum ikut pindah ke Semarang. Dia masuk jurusan seni musik di UNNES, punya banyak teman dan emang orangnya
easy going. Gua curiga deh, sampai ke ujung dunia aja kayaknya punya temen.
Tapi Hanan pindah ke Semarang karena kemauan, bukan ajakan. Sewaktu pulang dari Sulawesi, dia selalu sensitif sama topik-topik tentang pemerintahan.
Sebisa mungkin dia pasti menghindar.
"Na, suatu saat lu harus keluar dari Buntala. Berhenti jadi penggerak, biar semua jalan sesuai alurnya."
namanya Hanan Abidzar Al-Ghifari
lahir 4 bulan lebih awal dari gua dan tinggal di Bandung. Tentunya sebelum ikut pindah ke Semarang. Dia masuk jurusan seni musik di UNNES, punya banyak teman dan emang orangnya
easy going. Gua curiga deh, sampai ke ujung dunia aja kayaknya punya temen.
Tapi Hanan pindah ke Semarang karena kemauan, bukan ajakan. Sewaktu pulang dari Sulawesi, dia selalu sensitif sama topik-topik tentang pemerintahan.
Sebisa mungkin dia pasti menghindar.
"Na, suatu saat lu harus keluar dari Buntala. Berhenti jadi penggerak, biar semua jalan sesuai alurnya."
( #goresan ) Gua dipulangkan dari Sulawesi ke Yogyakarta bareng sepuluh anak lainnya termasuk Hanan. Kita benar-benar seperti dilahirkan kembali dan hidup seperti remaja seharusnya. Fokus sekolah, punya banyak aktivitas bermanfaat, dan mulai serius kejar cita-cita.
Tapi kondisi Indonesia gak membaik dengan cepat. Indonesia justru seakan berubah medan tempur. Bahkan di kota-kota besar kayak Semarang, Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta keadaan malah makin memburuk. Setiap kali ada anak yang keluar dari pusat rehabilitas, pasti ada yang masuk bagai rantai yang gak bisa dipecahkan.
https://telegra.ph/Bagian-2-07-03
Tapi kondisi Indonesia gak membaik dengan cepat. Indonesia justru seakan berubah medan tempur. Bahkan di kota-kota besar kayak Semarang, Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta keadaan malah makin memburuk. Setiap kali ada anak yang keluar dari pusat rehabilitas, pasti ada yang masuk bagai rantai yang gak bisa dipecahkan.
https://telegra.ph/Bagian-2-07-03
Telegraph
Bagian 2.
Akhirnya Indonesia harus menuai kritik dan pujian di saat bersamaan. Saat inilah gua bertemu Kak Nadin, mahasiswa Semarang yang katanya sih lagi liburan. Cari inspirasi buat tugas akhir. Tapi gua tahu, Kak Nadin mencari sesuatu yang lebih besar dari sekadar…
( #pemain ) Mereka adalah tubuh yang menemani perjalanan gua, semua punya titik temu yang berbeda-beda. Kalian pasti sudah kenal salah satunya. Di sini gua mau kalian bertemu dengan pribadi lainnya, potongan yang ikut melengkapi kisah Anaka. Tokoh pendamping yang gak kalah istimewa.
Hai Wihaya, setelah dipikir-pikir kayaknya aku mau berhenti. Di masa sibuk gini ternyata susah bagi waktu buat kalian dan buat diri sendiri. Tapi ada kemungkinan aku jalin relasi lagi, jadi bagi yang mau boleh isi di kolom komentar sini dengan alamat akun. Kalau waktunya tepat nanti aku hubungi. Oke?
Bukan pembersihan, bukan absensi, baca dulu yang bener yaa.
Bukan pembersihan, bukan absensi, baca dulu yang bener yaa.
Nanti bisa keluar sendiri, boleh juga nunggu aku keluarin. Bye Wihaya, harus kangen!