Deintanari
275 subscribers
7 photos
5 videos
1 link
Saluran ini memuat berbagai tulisan tentang pengalaman, pelajaran, dan harapan 🌻

Dilarang menyebarkan tulisan di sini tanpa menyertakan sumber/© (credit)
Download Telegram
Boleh disave atau dishare yaa

—Deintanari
2
Terkadang, hari yang ku jalani terasa begitu berat hingga rasanya tidak mungkin aku bisa mensyukuri hal-hal yang aku miliki. Ada masa di mana keadaan terasa memojokkanku, seolah aku adalah makhluk terburuk di muka bumi. Aku merasa diriku rendah serendah-rendahnya.
Di hari-hari berat itu, pikiranku gundah gulana, aku bertanya-tanya apa sebab aku merasa buruk dan tak berharga.
Aku terus mencari jawaban, hingga akhirnya ku temukan sebuah pernyataan. Ternyata, kebanyakan "mendongak ke atas" bisa menyebabkan kita rendah diri!
Saat kita terlalu sering menatap nikmat yang dimiliki orang lain, yang mana nikmat itu tampak jauh lebih indah daripada nikmat yang kita punya, maka lama-kelamaan kita akan lupa bersyukur, hingga pada akhirnya kita akan merasa tidak bahagia! Kita akan merasa tidak berarti, merasa kecil bagai butiran debu, merasa seolah kita adalah manusia dengan takdir yang paling buruk sedunia.

Seperti manakala ketika ada seorang laki-laki yang menikahi wanita yang dia cintai, andainya wanita yang dia nikahi adalah wanita yang terverifikasi paling cantik sedunia, jikalau laki-laki itu tidak menundukkan pandangannya, dalam artian matanya masih berkeliaran menatapi kecantikan wanita di luar sana, maka dia tidak akan pernah puas dengan istrinya, dia akan haus wanita.
Perlahan-lahan, laki-laki itu akan merasa istrinya tidak lagi istimewa dan berharga, laki-laki itu akan merasa masih banyak perempuan di luar sana yang jauh lebih indah daripada istrinya. Itulah nafsu, perempuan lain tampak lebih indah daripada istrinya karena laki-laki itu tidak menjaga pandangannya.

Saat diri kita lengah akan mensyukuri nikmat dari Allah, di situlah timbul keinginan haus akan kenikmatan duniawi!
Kita akan terobsesi dengan dunia, kita terus mengejar kenikmatan duniawi hingga lupa pada bekal yang perlu kita siapkan untuk menuju kematian.

Kawan, setiap orang punya keindahan. Allah Maha Adil atas segalanya, Allah pasti menyisipkan keindahan dalam setiap takdir yang Ia berikan pada hamba-Nya. Dan akan selalu ada hikmah tersirat disebalik ujian yang dilalui oleh seorang hamba. Jika sampai nanti kita terus membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki, hidup kita tak akan pernah berarti.

Kita hidup bukan untuk berlomba-lomba tentang siapa yang paling enak hidupnya, tetapi kita hidup untuk menghamba pada-Nya, mengumpulkan bekal agar bisa pulang ke akhirat dengan selamat.

Akan selalu ada orang yang kehidupannya tampak jauh lebih indah daripada kehidupan kita, tetapi percayalah, sungguh Allah itu Maha Adil. Dan segala keindahan di dunia ini hanyalah sementara.
Kehidupan kita sebenar-benarnya adalah nanti setelah kita mati.

Seutamanya nikmat yang perlu kita inginkan dan perjuangkan adalah nikmat hidup di surga! Kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya.

Jika suatu saat kita lihat ada seseorang yang istiqomah beribadah, akhlaknya kharimah, tidak apa-apa jika kita menginginkan hal yang sama. Merasa ingin juga seperti dia, tanpa berharap kenikmatan itu hilang daripadanya. Itu namanya ghibthah.

Kawan, wajar bilamana perasaan kita tidak terus sama, kita manusia. Kadang merasa syukur, kadang merasa rendah diri. Dan itu tidak mengapa, tetapi kita perlu mengelola segala perasaan itu dengan tepat. Kita sebagai manusia tidak diciptakan tanpa nafsu, tetapi kita juga tidak diciptakan tanpa akal. Kita diciptakan dengan hawa nafsu, beserta akal yang akan memerangi nafsu itu.

Kita harus pandai mengatur waktu, kapan kita perlu "mendongak ke atas", dan kapan kita harus "menunduk ke bawah".

—Deintanari
Deintanari
Naim Daniel, Adnin Roslan – Seni Berdamai Dengan Takdir
Mari berdamai dengan takdir Allah...

Bila ada hal yang telah mati-matian kita usahakan, tetapi ternyata hal itu tidak kita dapatkan, maka ikhlas lah.. Itu berarti, hal yang mati-matian kita kejar memang bukan rezeki kita. Namun, bukan berarti kita tidak punya rezeki. Kita pasti punya rezeki dalam hal lain. Setiap manusia, sudah Allah takar rezekinya, sungguh.
Dan ingat, rezeki tidak melulu berbentuk uang.

Kita sebagai manusia wajar bila suka berangan-angan dan meminta, sudah jadi lumrahnya manusia. Tetapi, disela-sela kita meminta ini-itu pada-Nya, sisakan ruang untuk ikhlas atas ketentuan dari-Nya.

Seindah apapun angan-angan yang kita bayangkan, serapi apapun rencana yang kita susun, tetaplah Allah yang menjadi penentu atas semuanya, bukan kita. Kita sebatas hamba yang hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Hasil akhir? Allah penentunya.

Berdamai dengan takdir Allah berarti menerima jalan kehidupan yang telah Allah berikan.

"Berlarilah, kemanapun... jika kau milikku kau milikku."
Lirik tersebut terasa begitu dalam jika kita benar-benar "paham"
Apa yang telah Allah takdirkan untuk kita, pasti akan kita terima meski hal itu tampak mustahil untuk kita dapatkan. Yang memang ditakdirkan untuk kita, akan menjumpai kita dimanapun kita berada. Entah itu pasangan, uang, atau hal yang lain.

Kita punya rencana, tetapi Allah yang menjadi penentunya. Sebaik-baik rencana, ialah yang Allah tentukan alurnya. Keep fighting! 💖

—Deintanari
Deintanari
Terkadang, hari yang ku jalani terasa begitu berat hingga rasanya tidak mungkin aku bisa mensyukuri hal-hal yang aku miliki. Ada masa di mana keadaan terasa memojokkanku, seolah aku adalah makhluk terburuk di muka bumi. Aku merasa diriku rendah serendah-rendahnya.…
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Lanjutan untuk postingan kemarin. Sangat-sangat pas untuk kita muhasabah!

Jika mata kita terus memandang orang yang tampak lebih happy, sampai nanti pun kita tidak akan menyadari nikmat yang Allah beri pada diri kita sendiri. Bila terus begitu, kita akan selalu merasa hidup sengsara, merasa dibeda-bedakan oleh-Nya.

Ingat ya, jaga mata, jaga hati!
Kita harus tahu waktu!
Kapan kita perlu "mendongak ke atas", dan "kapan kita harus menunduk ke bawah."

—Deintanari
“Bertemu sosok yang diidamkan”

Bertemu seseorang yang sesuai dengan kriteriamu, tidak selalu berarti dia jodohmu.

Mungkin, Allah mempertemukanmu dengannya bukan untuk menjadi pasangan, melainkan agar kamu tidak patah dengan harapan yang telah kamu pinta berulang-ulang. Seolah Allah ingin menunjukkan, bahwa kriteria yang kamu pinta memang sungguhan ada.
Tetapi, belum tentu dia orangnya.

Allah sebaik-baiknya penentu alur kehidupan. Allah tahu mana yang terbaik untukmu.

—Deintanari
3
Bila ada hal yang begitu berarti untuk kita, yang mana hal tersebut tampak sungguh mempesona, tetapi kemudian tiba-tiba Allah hilangkan begitu saja, maka kita perlu berbaik sangka bahwasanya Allah menghilangkan untuk mengganti.

Ketahuilah, pemikiran kita sebagai seorang hamba itu terbatas, tidak semua yang nampak baik dalam pandangan kita, baik juga dalam pandangan Allah.

Sudahlah, biar Allah yang mengatur segalanya, kita hanya perlu menjalani. Kita punya rencana, tetapi Allah penentunya.
Sebagai hamba, kita hanya perlu berikhtiar dan berdoa.
Ya Allah, ridhokanlah kami menerima ketetapan-Mu, aamiin.

—Deintanari
3
Ujian demi ujian silih berganti mengiringi kehidupan, di dunia ini tiada kebahagiaan yang abadi.
Allahu Rabbi, ridho-kan lah kami menerima seluruh ketetapan yang telah Engkau beri. Kuatkan kami menghadapi segala rintangan yang terbentang. Tuntun kami menuju jalan yang Engkau ridhoi.
Aamiin Ya Mujiib.

—Deintanari
3
Jangan sampai terlena, yang kita tempati saat ini adalah dunia, dan dunia itu sifatnya fana. Kita hidup di sini bukan semata-mata untuk menyenangkan diri, kita ada di sini untuk menjadi seorang hamba yang taat kepada-Nya.

Kita harus sadar, saat ini kita sedang berada di ujung zaman. Hari silih berganti, perbuatan yang sejatinya tidak benar kian lama kian di normalisasikan. Kita harus pandai memilih mana yang salah, mana yang benar, jangan sampai terbawa arus "tontonan."

Beberapa media sosial minim filter bagi penggunanya, konten yang vulgar pun lolos-lolos saja saat di post. Maka, bila sosial media tidak betul-betul menyediakan filter bagi penggunanya, diri kita sendirilah yang harus bisa memfilter segalanya!

Kuncinya ada pada kita, kita adalah penguasa dari media sosial yang kita gunakan.

—Deintanari
“Berterima kasih pada Allah”

Berterima kasihlah pada Allah atas segala hal yang telah "Dia berikan" dan atas segala hal yang telah "Dia singkirkan."

Jangan tergesa-gesa berburuk sangka terhadap-Nya apabila doa yang kita panjatkan kembali kepada kita dalam bentuk yang berbeda, karena tidak semua doa dijawab dengan bentuk yang sesuai dengan yang kita minta.

Kita sebagai manusia biasa tidak pernah betul-betul tahu mana sesuatu yang baik dan mana sesuatu yang buruk untuk kita.

Sekeras apapun usaha kita mengejar sesuatu yang kita inginkan, bila sesuatu yang kita kejar bukanlah hal yang baik untuk kita dapatkan, maka sesuatu itu pasti akan Allah singkirkan.

Segala puji bagi Allah, sungguh hanya Dia lah yang mengetahui setiap kebaikan dan kemudharatan yang tersembunyi dalam segala hal. Jangan mudah tergiur dan mudah memaksakan diri untuk mendapatkan ini dan itu, sebab kita belum tentu akan merasakan bahagia setelah mendapatkan sesuatu yang telah kita kejar mati-matian.

—Deintanari
5
Jangan khawatir dengan penilaian manusia, karena penilaian manusia bukanlah penilaian yang sebenarnya. Teruslah semangat hingga akhir hayat 🤍

—Deintanari
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
“Memaksa hati untuk menerima ketetapan Ilahi”

Tidak bisa dipungkiri, untuk bisa menerima ketetapan Allah yang bertolak belakang dengan keinginan hati, memang sukar sekali.
Hati tidak akan mudah dipaksa untuk menerima ketetapan-Nya begitu saja,
dan itu tidak apa-apa.
Tidak apa-apa kita merasa lelah,
Tidak apa-apa kita merasa sedih,
Tidak apa-apa kita menangis,
Karena kita manusia, kita punya perputaran emosi.

Tapi ada satu hal yang harus selalu kita jaga, yaitu hati itu sendiri. Jagalah hati untuk tidak mudah mencaci maki alur-Nya, karena pada akhirnya, semua rasa gundah gulana itu akan berlalu, dan kita akan tersadar bahwasanya takdir Allah selalu baik meski kita perlu mengeluarkan air mata untuk menerimanya.

Ingatlah, saat kita berada dalam "ujian" berarti kita sedang dalam "perhatian", kita sedang dalam perhatian Allah.
Teruslah berdoa, karena doa adalah komunikasi antara hamba dengan Rabb-Nya. Ungkapkan pada Allah semua rasa sebak yang ada di dalam hati.

—Deintanari
Apabila menaruh rasa pada seseorang, tahanlah diri untuk tidak menodai perasaan itu

Jatuh cinta itu fitrahnya manusia, tetapi "jatuh cinta" seringkali menjebloskan manusia dalam kubangan dosa.

Jadi, pandai-pandailah menjaga rasa yang ada.

Ingat, tidak ada yang pasti dalam hidup ini selain mati.

Jadi, jangan suka menyimpulkan, "Dia jodoh saya."

Bila sedang memiliki rasa terhadap seseorang, rasa itu tidak harus selalu diungkapkan, apalagi jika diungkapkan dengan tujuan supaya bisa pacaran. Bila memang kita tulus mencintai seseorang, kita tidak akan rela membuatnya tercebur dalam dosa.

Pernikahan seringkali dijadikan alasan untuk menghindari zina, itu benar, tetapi jangan naif. Jangan menikah hanya karena tergesa-gesa ingin mesra. Menikah itu ibadah panjang, perlu kesiapan mental dan finansial.

Selain itu, banyak "oknum" yang menikah "dini" dengan dalih menghindari zina dan ingin meraih banyak pahala. Padahal, untuk memperoleh banyak pahala tidak hanya bisa dilakukan dengan cara menikah, banyak cara untuk meraup segudang pahala. Dan kebahagiaan pun tidak hanya bisa didapatkan lewat pernikahan.

—Deintanari
Assalamualaikum teman-teman.. masih semangat puasanya? Nggak nyangka, Ramadhan segera berakhir. Hari ini saya kembali, sekadar untuk memberi kabar singkat kalau kedepannya saluran ini akan semakin jarang update dikarenakan kegiatan pribadi yang semakin padat. Terima kasih banyak yang masih stay di sini, semoga tulisan-tulisan lama saya masih relevan dibaca.
Oh iya, saya baru banget ikutan nulis di Balai Pikir, teman-teman boleh mampir dan baca di sana yaa, ini tulisan pertama saya di sana, "Mawar di Atas Pusara"

https://share.google/FzsEppmTNu50TfgbV
Ia yang nanti akan memberi syafaat, jangan diabaikan
Selamat Idulfitri teman-teman semua! Mohon maaf lahir dan batin 🤩🙏🏻
Kecerdasan buatan yang disalahgunakan

Be wise.. Adanya AI itu untuk memudahkan, dan makna "memudahkan" itu ada dua, memudahkan dalam urusan positif dan memudahkan dalam urusan negatif.

Sekarang ini, lagi musimnya pakai AI buat ngedit foto. Ada yang ngedit foto pribadi biar jadi fotbar sama idolanya, ada yang ngedit foto jadi animasi lucu, dan ada juga yang ngedit foto orang berbusana jadi bugil!
Lihat, saya disebut secara privat di WA hanya untuk promosi hal seremeh ini, promosi jasa edit foto bugil, sekali lagi, jasa edit foto bugil yang harganya seharga jajan ciki, 1k.

Teman-teman, sepanjang saya membaca kasus-kasus seperti ini (terkait penyalahgunaan AI) yang paling banyak menjadi korban adalah perempuan. Apalagi, sebagian besar perempuan yang saya kenal, termasuk saya sendiri, suka foto-foto, meski nggak semuanya suka posting hasil fotonya.

Nggak perempuan nggak laki-laki, semua harus ekstra hati-hati ya, jangan terlalu ekspos foto diri sendiri atau foto siapapun itu di medsos, karena kejahatan rawan terjadi.

—Deintanari
💘1
Deintanari
Lihat, saya disebut secara privat di WA hanya untuk promosi hal seremeh ini, promosi jasa edit foto bugil, sekali lagi, jasa edit foto bugil yang harganya seharga jajan ciki, 1k. Teman-teman, sepanjang saya membaca kasus-kasus seperti ini (terkait penyalahgunaan…
Bukan maksud melarang untuk "eksis" di dunia maya, tetapi menganjurkan untuk membatasi. Mungkin kesannya kayak, "Ah, apasih, kolot. Posting foto aja nggak boleh."
Tapi kenyataannya, memposting foto (foto manusia) itu memang beresiko, teman-teman. Mau kita orang yang terkenal ataupun enggak. Kejahatan bisa datang dari siapapun. Ini nggak berlebihan, tapi terus terang.

Kalau ada dari teman-teman di sini yang menjadi salah satu sasaran "promosi" seperti saya, jangan segan untuk menegur mereka ya, reply aja postingannya untuk memberi teguran.

—Deintanari
1