Channel name was changed to «🎞️ “ Menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? ”»
: (✉️)
۫ 𝅄 Ayyara Amaruna
—Yang cintanya dianggap hanya ilusi, yang ketulusannya dianggap sebagai obsesi. Orang-orang memanggil nya,
"Si Perempuan Gila".
۫ 𝅄 Ayyara Amaruna
—Yang cintanya dianggap hanya ilusi, yang ketulusannya dianggap sebagai obsesi. Orang-orang memanggil nya,
"Si Perempuan Gila".
(🤍📩)
ノ♫ Bicara tanpa harus
menggunakan kata, biarkan netra
dan irama yang menuntunnya.
ノ♫ Bicara tanpa harus
menggunakan kata, biarkan netra
dan irama yang menuntunnya.
ㅤㅤㅤ"Panggil aku, Perempuan Gila."
"Dasar perempuan gila!" —Katanya
sambil menunjukku.
ㅤ Panggilan yang sudah biasa aku dengar, ㅤ terlontar dari mulut-mulut orang disekitar.
Aku lah perempuan yang mereka sebut
gila, hinaan yang sekarang sudah mulai
aku terima.
Sering dipandang sebagai manusia yang
penuh dengan obsesi tak masuk akal,
dengan imajinasi pada hal-hal yang
tidak normal.
ㅤㅤㅤAku terlalu abstrak untuk
kacamata manusia biasa, aku
juga terlalu fana untuk mereka
yang memandang ku gila. Lensa
yang aku tangkap dengan
mereka terlalu berbeda. Milik
mereka tersusun dibarisan karya,
sedangkan milikku dibiarkan
dalam figura.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
"Dasar perempuan gila!" —Katanya
sambil menunjukku.
ㅤ Panggilan yang sudah biasa aku dengar, ㅤ terlontar dari mulut-mulut orang disekitar.
Aku lah perempuan yang mereka sebut
gila, hinaan yang sekarang sudah mulai
aku terima.
Sering dipandang sebagai manusia yang
penuh dengan obsesi tak masuk akal,
dengan imajinasi pada hal-hal yang
tidak normal.
ㅤㅤㅤAku terlalu abstrak untuk
kacamata manusia biasa, aku
juga terlalu fana untuk mereka
yang memandang ku gila. Lensa
yang aku tangkap dengan
mereka terlalu berbeda. Milik
mereka tersusun dibarisan karya,
sedangkan milikku dibiarkan
dalam figura.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ"Namun, demi Tuhan. Aku berusaha"
♪ / Aku terduduk diujung sudut ruang hampa, menanti seseorang datang untuk membantu menyeka. Bersandar sembari merangkai kata-kata,
ㅤㅤㅤNetra ku basah akan air mata, mulutku tak bisa lagi merapal doa, nafasku menggantung di udara. Tubuh dan jiwa ku tak lagi memiliki tenaga. Namun, aku tetap mencoba. Puing-puing rasa aku susun untuk membangun jiwa.
ㅤㅤㅤDemi Tuhan, aku berusaha, aku
ㅤㅤㅤㅤㅤbenar-benar berusaha.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
♪ / Aku terduduk diujung sudut ruang hampa, menanti seseorang datang untuk membantu menyeka. Bersandar sembari merangkai kata-kata,
"Oh, apalagi yang harus aku minta? Siapa lagi yang mau berusaha?"
ㅤㅤㅤNetra ku basah akan air mata, mulutku tak bisa lagi merapal doa, nafasku menggantung di udara. Tubuh dan jiwa ku tak lagi memiliki tenaga. Namun, aku tetap mencoba. Puing-puing rasa aku susun untuk membangun jiwa.
ㅤㅤㅤDemi Tuhan, aku berusaha, aku
ㅤㅤㅤㅤㅤbenar-benar berusaha.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
