Kehidupan mereka kali ini berjalan perlahan. Tidak meledak-ledak.
Mereka duduk di ruang yang sama tanpa banyak bicara. Ia menggambar, sementara yang satu lagi membaca atau hanya menatap langit yang mulai turun jingga. Tidak ada yang bertanya “kenapa diam?” karena mereka tahu, diam bukan berarti pergi. Diam, justru cara mereka tinggal.
Hari terasa ringan jika dimulai dengan suara sendok menyentuh gelas, aroma roti hangat, dan langkah pelan ke dapur. Mereka tidak saling menyuap atau tertawa keras. Tapi ada sekilas tatap yang cukup berkata: aku di sini.
Mereka pernah hancur. Pernah saling menjauh. Pernah tak saling sapa meski tahu rindu tinggal di antara mereka. Tapi hidup kali ini… lebih pelan. Lebih lembut. Mungkin karena mereka sudah lelah dengan kehilangan yang tergesa.
Tak ada yang tahu sampai kapan bisa seperti ini. Tapi untuk saat ini, mereka punya sore yang tenang, bahu untuk bersandar, dan kepercayaan yang dibangun ulang—dari hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
ă…¤hadiah dari raka, walau muka mukanya nyengir songong, yaudah lah ya.
ㅤㅤsimple, tapi cuma raka sekar yang bisa bertahan.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
đź§Ą capsule is the key of heart.
Sheila On 7 – Bila Kau Tak Di Sampingku
Telegraph
ㅤㅤㅤHistory; RaKar.
Anak-anak mulai bubar ke kantin atau balik ke kamar asrama. Beberapa masih di lorong, duduk-duduk sambil ngetawain pairing kelompok tadi. Sekar masih duduk di tempatnya. Dia nyusun buku pelan, agak lama, bukan karena banyak—tapi karena dia butuh waktu buat…
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
ㅤㅤpermintaan gue ga banyak, tapi gue mohon, jangan pergi lagi rak. let's treat eachother right... once again.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
