Seorang pembantu rumah tangga, sebut saja namanya Gimin sedang membersihkan aquarium tuannya. Ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub. Tak sadar si tuan sudah berada dibelakangnya. "Kamu tau berapa harga ikan itu min?" tanya si tuan.
"Tidak tahu" jawab Gimin.
"Coba kamu tawarkan kepada tetangga sebelah" perintah si tuan.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap si tuan. "Ditawar berapa?" tanya si tuan.
"50.000 Rupiah pak" jawab Gimin mantap.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias". Perintah si tuan lagi.
"Baiklah tuan" jawab Gimin. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias.
"Berapa ia menawar ikan itu?"
"800.000 Rupiah tuan" jawab Gimin dengan gembira. Ia mengira si tuan akan melepas ikan itu.
"Sekarang coba kamu tawarkan ke Pak Santo, kolektor ikan Arwana di ujung jalan. Katakan ikan ini pernah ikut berbagai lomba dan sering juara" perintah si tuan.
"Baik Tuan" jawab Gimin. Kemudian ia pergi menemui Pak Santo, sbgm yang diperintahkan tuannya. Setelah selesai ia pulang menghadap si tuan.
"Berapa ia menawar ikannya?"
"50 juta Rupiah tuan"
Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang berbeda-beda.
"Min, aku sedang mengajarkanmu bahwa kamu akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat... Kita adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita".
"Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita. Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang-orang yang penuh kedengkian terhadap kita.
Kita adalah orang jahat dalam tatapan orang-orang yang iri dengan kita".
"Pada akhirnya setiap orang memiliki pandangannya masing-masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik.
Tetap berusaha untuk melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan" pungkas si tuan.
Semoga bermanfaat
"Tidak tahu" jawab Gimin.
"Coba kamu tawarkan kepada tetangga sebelah" perintah si tuan.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga. Kemudian kembali menghadap si tuan. "Ditawar berapa?" tanya si tuan.
"50.000 Rupiah pak" jawab Gimin mantap.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias". Perintah si tuan lagi.
"Baiklah tuan" jawab Gimin. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias.
"Berapa ia menawar ikan itu?"
"800.000 Rupiah tuan" jawab Gimin dengan gembira. Ia mengira si tuan akan melepas ikan itu.
"Sekarang coba kamu tawarkan ke Pak Santo, kolektor ikan Arwana di ujung jalan. Katakan ikan ini pernah ikut berbagai lomba dan sering juara" perintah si tuan.
"Baik Tuan" jawab Gimin. Kemudian ia pergi menemui Pak Santo, sbgm yang diperintahkan tuannya. Setelah selesai ia pulang menghadap si tuan.
"Berapa ia menawar ikannya?"
"50 juta Rupiah tuan"
Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang berbeda-beda.
"Min, aku sedang mengajarkanmu bahwa kamu akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat... Kita adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita".
"Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita. Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang-orang yang penuh kedengkian terhadap kita.
Kita adalah orang jahat dalam tatapan orang-orang yang iri dengan kita".
"Pada akhirnya setiap orang memiliki pandangannya masing-masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik.
Tetap berusaha untuk melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan" pungkas si tuan.
Semoga bermanfaat