Rumi Institute
2.83K subscribers
376 photos
31 videos
17 files
354 links
Chanel Baru Rumi Institute
Download Telegram
2
Puasa milik-Ku, dan Akulah tebusannya.
[Hadits Qudsi]
Bag II

Biasanya pahala adalah sesuatu, berupa surga, ampunan, dan atau derajat. Namun dalam hadits Qudsi ini, Tuhan tidak berfirman, “Aku memberinya pahala.” Ia berfirman, “Aku sendirilah tebusannya.”

Ini adalah bahasa cinta. Dalam maqam para pecinta, tujuan ibadah bukan hadiah, bukan kenikmatan, bahkan bukan surga, melainkan perjumpaan.

Puasa melatih manusia melepaskan kenikmatan duniawi. Dan ketika seseorang mampu melepaskan selain-Nya, yang tersisa hanyalah Dia.

Jadi balasan puasa bukan sesuatu yang diberikan, melainkan kedekatan yang disingkapkan.

Kata Maulana Rumi:
Sirnakan dirimu,
Sirnakan dirimu dalam cinta ini,
Saat kau sirna dalam cinta ini,
Kau akan dapatkan segalanya.


Muh. Nur Jabir
14
Puasa milik-Ku, dan Akulah tebusannya.
[Hadits Qudsi]
Bag III


Puasa, bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan memasuki wilayah yang bukan hakikat makhluk. Hakikat makhluk adalah “bergantung” dan “butuh”, ia butuh makan, minum, dan bergantung. Sedangkan hakikat Tuhan adalah berdiri sendiri (shamad), tidak membutuhkan apa pun.

Ketika seorang hamba berpuasa, ia sedang berlatih mengenakan sifat yang bukan miliknya: tidak makan, tidak minum. Maka Tuhan berfirman dalam hadits qudsi, “Puasa untuk-Ku dan Akulah tebusannya.”

Maka puasa bukan “melakukan”, melainkan “meninggalkan”, meninggalkan makan, minum, dan meninggalkan yang lainnya. Puasa adalah penafian. Dan Tuhan pun memperkenalkan Diri-Nya melalui penafian, “Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” [QS 42:11]

Puasa dinaikkan derajatnya karena ia paling dekat dengan rahasia ketakterbandingan Tuhan.

Kata Maulana Rumi:
Wahai engkau yang hanya memuja tubuh,
jangan terikat padanya, jangan melupakan ruhmu.
Jangan hanya melihat jasad,


Muh. Nur Jabir
6
Jumah Mubarak


Manusia itu satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.
(QS al-Baqarah [2]:213)

Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi, Kitab II, Bait 285-286
Sebelum mereka datang, kita semua satu.
Tak ada yang tahu, kita baik atau jahat.
Uang palsu dan asli digunakan di dunia,
karena semuanya malam dan kita bagai pengembara malam.


Pada awalnya kita laksana malam yang utuh, segala sesuatu bercampur dalam gelap. Emas dan tembaga berkilau sama, mutiara dan kerikil tergeletak tanpa beda. Tak ada yang tahu siapa yang asli, siapa yang palsu, karena cahaya belum terbit di ufuk jiwa.


Lalu Tuhan mengutus para nabi. Mereka adalah matahari yang naik perlahan di langit batin. Dengan sinarnya, warna-warna tersingkap. Yang sejati bersinar semakin jernih, yang palsu silau lalu menjauh. Itulah kabar gembira dan peringatan, cahaya yang mengundang mutiara dan menyingkirkan sampah.

Kesatuan sebelum nabi adalah kesatuan dalam kegelapan. Perbedaan setelah nabi adalah kejelasan dalam terang. Para nabi datang bukan untuk memecah umat, melainkan untuk menampakkan hakikat, agar yang emas pulang ke tambangnya, dan yang debu kembali ke tanahnya.


Maulana Rumi melanjutkan:
Mata tahu membedakan warna.
Mata tahu batu delima dan batu.
Mata tahu mutiara dan sampah.
Sampah-sampah hanya memedihkan mata.


Muh. Nur Jabir
6
6
Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.
[Hadits Qudsi]
Bag IV


Rasulullah saw bersabda, orang berpuasa memiliki dua kegembiraan: saat berbuka dan saat berjumpa dengan Tuhannya. Kegembiraan pertama adalah kegembiraan tubuh, ia kembali menerima haknya berupa makanan. Ini kegembiraan jasmani.

Namun kegembiraan kedua adalah kegembiraan ruhani, ia adalah sukacita penyaksian (musyāhadah). Dalam bahasa Ibn Arabi, puasa mewariskan perjumpaan dengan Tuhan. Bukan sekadar pahala, tetapi pengalaman kehadiran.

Mengapa? Karena ketika seorang hamba menanggalkan klaim dirinya—bahkan klaim “aku berpuasa”—maka yang tersisa hanya Dia. Tuhan berfirman dalam hadits Qudsi, “Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.” Artinya, jangan engkau klaim ia sebagai milikmu. Engkau hanya memasuki wilayah-Ku karena Aku yang memanggilmu.

Kata Maulana Rumi:
Orang riya menunjukkan dirinya puasa dan salat,
agar orang menyangka ia sedang mabuk cinta Ilahi.


Muh. Nur Jabir
9
2
Puasa adalah Sebuah Laku dengan Negasi
Bag V

Secara lahir, puasa adalah ibadah. Tetapi secara hakikat, ia adalah ketiadaan amal. Ia bukan gerak, bukan ucapan, bukan tindakan. Ia adalah diamnya nafsu. Karena itu Ibn Arabi mengatakan, puasa pada hakikatnya bukan amal, melainkan sifat negasi (salbi).

Justru karena ia “tidak”, ia menjadi cermin paling jernih bagi Yang Maha “Tidak serupa dengan apa pun”.

Dalam shalat, ada bacaan. Dalam sedekah, ada pemberian. Dalam haji, ada perjalanan. Tetapi dalam puasa, yang ada hanya “menahan”. Ia adalah sunyi. Dan dalam sunyi itu, hamba belajar makna kefakiran sejati, bahwa ia hidup karena dipelihara, bukan karena dirinya.

Kata Maulana Rumi dalam Ghazalnya:

Jika kau fakir dan sampai di puncak kefakiran,
saat itulah Tuhan akan mendatangimu.
Jika kau merasa berilmu, sucikanlah dirimu,
seperti “sesungguhnya mereka tak memahami”.
Jika kau seperti huruf "Nun" dalam ruku'
dan seperti pena dalam sujud,
Maka kau seperti "Nun" dan pena,
yang terhubung dengan apa-apa yang dituliskan.


Muh. Nur Jabir
7
Rahasia Ramadhan
Bag VI

Ramadhan bukan sekadar bulan lapar, melainkan bulan untuk membongkar ilusi kita. Ilusi bahwa kita berdiri sendiri. Ilusi bahwa kita memiliki daya.

Puasa mengajarkan, kita tak bisa bertahan tanpa makan, kita rapuh, kita butuh. Dan yang menjaga keberadaan kita hanya Dia.

Ketika seorang sufi berbuka, ia bergembira bukan hanya karena makanan, tetapi karena ia melihat kasih Ilahi yang terus memberi makan kepada makhluk-Nya. Dan ketika ia berpuasa, ia bergembira karena diizinkan mendekati makna “tidak membutuhkan”, meski hanya sebagai bayangan.

Puasa adalah latihan fana kecil setiap hari, melepas klaim, melepas identitas palsu, melepas “aku”. Dan ketika “aku” menipis, Yang Maha Nyata menjadi terang.

Kata Maulana Rumi:
Saat mereka terbebas dari ke-aku-an diri, mereka bertepuk tangan.
Saat mereka terlepas dari kekurangan diri, mereka menari-nari.


Muh. Nur Jabir
7
Lapar sebagai Bahasa Rindu
Bag VII


Lapar membuat suara batin terdengar. Saat perut kenyang, jiwa sering tertidur. Saat tubuh ringan, kesadaran menjadi peka. Banyak ahli tasawuf menyebut lapar saat berpuasa membuat hati lebih lembut, lebih mudah menangis, lebih mudah merasakan kehadiran Ilahi. Dalam kondisi ini, doa bukan lagi permintaan tetapi menjadi munajat kerinduan.


Dalam cinta biasa, jarak melahirkan rindu. Dalam cinta Ilahi, “menahan” melahirkan kedekatan. Puasa adalah menahan dengan sadar. Seseorang menahan diri bukan karena tak mampu, tetapi karena ingin membuktikan cintanya.


Dalam pengalaman para pecinta, rasa lapar bukan sekadar kosongnya perut, ia adalah ruang yang diisi oleh rindu. Semakin dalam rasa rindu, semakin ringan rasa lapar.


Kata Maulana Rumi:
Tak usah mencari kekasih Tuhan di istana atau di silsilah.
Carilah di taman hati yang berdzikir,
di tempat sujud yang basah,
di mata yang menangis dalam rindu


Muh. Nur Jabir
6👍3
Banyak orang menjauh dari Tuhan bukan karena tidak beriman, tapi karena pernah punya pengalaman beragama yang menyakitkan.

Di bulan Ramadhan ini, kami mengadakan talkshow:

Berdamai dengan Luka dalam Religi.
Memahami luka beragama melalui tasawuf dan psikologi islam.

Detail acara:
📍 Mades, pangpol
🗓️ 5 Maret 2026
🕧 16:00 - 17:30

Partisipasi melalui donasi seikhlasnya.
Peserta diharapkan memesan makanan dan minum karena acara berkolaborasi dengan venue.

Untuk pendaftaran bisa scan barcode diatas ini.
Sunyi Adalah Cermin
Bag VIII


Kata Meister Eckhart, yang paling menyerupai Tuhan adalah keheningan, maka puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan untuk memasuki wilayah sunyi Ilahi, ruang tanpa gema selain kehadiran-Nya.

Puasa adalah gerbang menuju diam. Diam yang bukan sekadar tidak berbicara, melainkan berhentinya riuh “aku”. Kita hidup di zaman yang penuh kebisingan. Suara berita, suara opini, suara iklan, suara penilaian. Hampir tak ada sela bagi jiwa untuk bernapas.

Padahal sunyi adalah cermin. Dalam sunyi, manusia berjumpa dirinya sendiri, dan ketika ia sungguh berjumpa dengan dirinya, ia mulai menyadari betapa rapuh dan fakirnya dirinya, sebab bahkan wujud dirinya pun bukan miliknya. Kesadaran seperti ini tak disenangi oleh ego kita, tetapi kesadaran ini bisa menyelamatkan ruh.

Kata Maulana Rumi:
Apa ada mekar yang tak layu lalu berakhir kekeringan?
Apa ada kekeringan yang kembali mekar seolah kebaruan baru saja datang menghampiri?
Tetapi semua tentang kefanaan sebab semuanya akan fana.
Hanya diam yang benar-benar diam yang tak pernah layu dan kering,
tak diombang-ambing oleh ruang dan waktu.


Muh. Nur Jabir
8
Puasa adalah latihan munuju sifat as- shamad
IX

Puasa adalah upaya mematikan suara keinginan yang tak pernah puas. Setiap kali hasrat berkata “ingin”, puasa menjawab “cukup”. Setiap kali ego berkata “milikku”, puasa berbisik “bukan”.

Di titik ini, puasa menjadi latihan menuju sifat Shamad—menuju kemandirian batin dari ketergantungan. Bukan berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan ia berlatih membebaskan diri dari perbudakan nafsu.

Para sufi menyebut laku seperti itu dengan istilah mati sebelum mati. Yang mati bukan tubuh, tetapi keserakahan. Yang terkubur bukan jasad, tetapi keakuan.

Dan dari kematian itu lahir kehidupan baru, kehidupan yang lebih sunyi, lebih ringan, lebih dekat. Puasa membawa seorang pejalan perlahan-lahan dari ramai menuju sepi, dari sepi menuju hening, dari hening menuju hadir, dan dari hadir menuju lebur.

Kata Maulana Rumi:
Dalam cinta ditemukan kehidupan,
Sebab dalam bangkai kematian,
tak akan ditemukan apapun,
Anda tahu kan siapa yang hidup?
Mereka yang terlahir dari cinta.


Muh. Nur Jabir
11
Jumah Mubarak


Al-Hāmidūn Al-Sāihūn
Yang memuji. Yang mengembara.
[Q.S 9:112]

Makna lain dari al-sāihūn, selain mengembara, juga bermakna orang-orang yang berpuasa. Tapi benar, umumunya istilah orang-orang yang berpuasa disebut dengan al-shāimūn dari kata shaum, puasa.


Al-sāihūn berasal dari kata saih, bermakna mengalir. Air mengalir di atas tanah disebut al-saih. Berjalan mengelilingi dunia, berwisata al-siyāhat juga berasal dari kata ini.


Jadi al-sāihūn bisa dimaknai sebagai pejalan, tak mau diikat oleh suatu kondisi. Pesuluk atau pejalan adalah orang-orang yang mengalir seperti air. Tak mau terikat. Tak mau memiliki dan tak mau mengambil. Pejalan adalah orang-orang yang tak mau membebani. Mereka santai, mengalir seperti air.


Jika tetap ingin memaknai al-sāihūn dengan puasa, tentu bukan lagi puasa yang biasa, tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi menahan dari tinggal atau tetap di satu titik. Ia senantiasa berjalan di dalam jiwanya, melalui jiwanya, menuju jiwanya yang paling batin.


Kata Maulana Rumi:

Jangan pikir saya berjalan di atas tanah dengan kakiku, karena sesungguhnya seorang pecinta berjalan dengan hatinya.

Hati yang telah tertawan oleh kekasih, tak mengenal jauh atau dekat, tak tahu tempat persinggahan.


Muh. Nur Jabir
7
Jumah Mubarak


Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.
(QS al-Baqarah [2]:249


Di dalam hati manusia senantiasa berlangsung sebuah pertempuran sunyi. Di satu sisi berdiri pasukan nafsu dan bisikan setan yang tampak besar dan kuat; di sisi lain hanya ada sekelompok kecil: dzikir, kesadaran, dan secercah iman.


Namun hukum Tuhan tidak ditentukan oleh jumlah. Sebagaimana firman-Nya, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”


Dzikir “Allah, Allah” adalah bendera kecil dari pasukan cahaya itu. Jika hati berpihak kepadanya, maka sedikit cahaya itu akan mengalahkan gelap yang banyak.


Rumi mengajarkan bahwa jalan kemenangan bukan dengan keramaian kata, tetapi dengan diam, sabar, dan kehadiran hati. Sebab kesabaran adalah tangga menuju kelapangan, dan di balik setiap “Ya Allah” yang terucap, tersembunyi pertolongan-Nya.


Maka dalam perang batin ini, yang menang bukan yang banyak, melainkan yang bersama Allah.


Kata Maulana Rumi:
Setan dan manusia sama-sama memiliki satu pengajar yang menuntun mereka;
ia akan menguasai jika lawannya lemah dan sedikit.

Maka perhatikanlah ke arah mana bisikan halus itu condong;
serukanlah “Allah, Allah”, dan engkau pun arahkan dirimu ke arah itu.

Ia berkata, “Jika tipu daya tidak tampak dalam kata-katanya,
maka orang yang bijak itu tentu telah mengetahui siasatnya.”

Bagaimana engkau akan mengenali rahasianya? Katakanlah dengan jujur.
Ia menjawab, “Aku akan duduk diam di hadapannya.”

Kesabaran kujadikan tangga untuk naik ke derajat yang tinggi,
sebab dengan kesabaran aku akan mencapai,
“Kesabaran adalah kunci dari kelapangan.”


Muh. Nur Jabir
4