Rumi Institute
2.83K subscribers
376 photos
31 videos
17 files
354 links
Chanel Baru Rumi Institute
Download Telegram
Lapar sebagai Bahasa Rindu
Bag VII


Lapar membuat suara batin terdengar. Saat perut kenyang, jiwa sering tertidur. Saat tubuh ringan, kesadaran menjadi peka. Banyak ahli tasawuf menyebut lapar saat berpuasa membuat hati lebih lembut, lebih mudah menangis, lebih mudah merasakan kehadiran Ilahi. Dalam kondisi ini, doa bukan lagi permintaan tetapi menjadi munajat kerinduan.


Dalam cinta biasa, jarak melahirkan rindu. Dalam cinta Ilahi, “menahan” melahirkan kedekatan. Puasa adalah menahan dengan sadar. Seseorang menahan diri bukan karena tak mampu, tetapi karena ingin membuktikan cintanya.


Dalam pengalaman para pecinta, rasa lapar bukan sekadar kosongnya perut, ia adalah ruang yang diisi oleh rindu. Semakin dalam rasa rindu, semakin ringan rasa lapar.


Kata Maulana Rumi:
Tak usah mencari kekasih Tuhan di istana atau di silsilah.
Carilah di taman hati yang berdzikir,
di tempat sujud yang basah,
di mata yang menangis dalam rindu


Muh. Nur Jabir
6👍3
Banyak orang menjauh dari Tuhan bukan karena tidak beriman, tapi karena pernah punya pengalaman beragama yang menyakitkan.

Di bulan Ramadhan ini, kami mengadakan talkshow:

Berdamai dengan Luka dalam Religi.
Memahami luka beragama melalui tasawuf dan psikologi islam.

Detail acara:
📍 Mades, pangpol
🗓️ 5 Maret 2026
🕧 16:00 - 17:30

Partisipasi melalui donasi seikhlasnya.
Peserta diharapkan memesan makanan dan minum karena acara berkolaborasi dengan venue.

Untuk pendaftaran bisa scan barcode diatas ini.
Sunyi Adalah Cermin
Bag VIII


Kata Meister Eckhart, yang paling menyerupai Tuhan adalah keheningan, maka puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan untuk memasuki wilayah sunyi Ilahi, ruang tanpa gema selain kehadiran-Nya.

Puasa adalah gerbang menuju diam. Diam yang bukan sekadar tidak berbicara, melainkan berhentinya riuh “aku”. Kita hidup di zaman yang penuh kebisingan. Suara berita, suara opini, suara iklan, suara penilaian. Hampir tak ada sela bagi jiwa untuk bernapas.

Padahal sunyi adalah cermin. Dalam sunyi, manusia berjumpa dirinya sendiri, dan ketika ia sungguh berjumpa dengan dirinya, ia mulai menyadari betapa rapuh dan fakirnya dirinya, sebab bahkan wujud dirinya pun bukan miliknya. Kesadaran seperti ini tak disenangi oleh ego kita, tetapi kesadaran ini bisa menyelamatkan ruh.

Kata Maulana Rumi:
Apa ada mekar yang tak layu lalu berakhir kekeringan?
Apa ada kekeringan yang kembali mekar seolah kebaruan baru saja datang menghampiri?
Tetapi semua tentang kefanaan sebab semuanya akan fana.
Hanya diam yang benar-benar diam yang tak pernah layu dan kering,
tak diombang-ambing oleh ruang dan waktu.


Muh. Nur Jabir
8
Puasa adalah latihan munuju sifat as- shamad
IX

Puasa adalah upaya mematikan suara keinginan yang tak pernah puas. Setiap kali hasrat berkata “ingin”, puasa menjawab “cukup”. Setiap kali ego berkata “milikku”, puasa berbisik “bukan”.

Di titik ini, puasa menjadi latihan menuju sifat Shamad—menuju kemandirian batin dari ketergantungan. Bukan berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan ia berlatih membebaskan diri dari perbudakan nafsu.

Para sufi menyebut laku seperti itu dengan istilah mati sebelum mati. Yang mati bukan tubuh, tetapi keserakahan. Yang terkubur bukan jasad, tetapi keakuan.

Dan dari kematian itu lahir kehidupan baru, kehidupan yang lebih sunyi, lebih ringan, lebih dekat. Puasa membawa seorang pejalan perlahan-lahan dari ramai menuju sepi, dari sepi menuju hening, dari hening menuju hadir, dan dari hadir menuju lebur.

Kata Maulana Rumi:
Dalam cinta ditemukan kehidupan,
Sebab dalam bangkai kematian,
tak akan ditemukan apapun,
Anda tahu kan siapa yang hidup?
Mereka yang terlahir dari cinta.


Muh. Nur Jabir
11
Jumah Mubarak


Al-Hāmidūn Al-Sāihūn
Yang memuji. Yang mengembara.
[Q.S 9:112]

Makna lain dari al-sāihūn, selain mengembara, juga bermakna orang-orang yang berpuasa. Tapi benar, umumunya istilah orang-orang yang berpuasa disebut dengan al-shāimūn dari kata shaum, puasa.


Al-sāihūn berasal dari kata saih, bermakna mengalir. Air mengalir di atas tanah disebut al-saih. Berjalan mengelilingi dunia, berwisata al-siyāhat juga berasal dari kata ini.


Jadi al-sāihūn bisa dimaknai sebagai pejalan, tak mau diikat oleh suatu kondisi. Pesuluk atau pejalan adalah orang-orang yang mengalir seperti air. Tak mau terikat. Tak mau memiliki dan tak mau mengambil. Pejalan adalah orang-orang yang tak mau membebani. Mereka santai, mengalir seperti air.


Jika tetap ingin memaknai al-sāihūn dengan puasa, tentu bukan lagi puasa yang biasa, tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi menahan dari tinggal atau tetap di satu titik. Ia senantiasa berjalan di dalam jiwanya, melalui jiwanya, menuju jiwanya yang paling batin.


Kata Maulana Rumi:

Jangan pikir saya berjalan di atas tanah dengan kakiku, karena sesungguhnya seorang pecinta berjalan dengan hatinya.

Hati yang telah tertawan oleh kekasih, tak mengenal jauh atau dekat, tak tahu tempat persinggahan.


Muh. Nur Jabir
7
Jumah Mubarak


Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.
(QS al-Baqarah [2]:249


Di dalam hati manusia senantiasa berlangsung sebuah pertempuran sunyi. Di satu sisi berdiri pasukan nafsu dan bisikan setan yang tampak besar dan kuat; di sisi lain hanya ada sekelompok kecil: dzikir, kesadaran, dan secercah iman.


Namun hukum Tuhan tidak ditentukan oleh jumlah. Sebagaimana firman-Nya, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”


Dzikir “Allah, Allah” adalah bendera kecil dari pasukan cahaya itu. Jika hati berpihak kepadanya, maka sedikit cahaya itu akan mengalahkan gelap yang banyak.


Rumi mengajarkan bahwa jalan kemenangan bukan dengan keramaian kata, tetapi dengan diam, sabar, dan kehadiran hati. Sebab kesabaran adalah tangga menuju kelapangan, dan di balik setiap “Ya Allah” yang terucap, tersembunyi pertolongan-Nya.


Maka dalam perang batin ini, yang menang bukan yang banyak, melainkan yang bersama Allah.


Kata Maulana Rumi:
Setan dan manusia sama-sama memiliki satu pengajar yang menuntun mereka;
ia akan menguasai jika lawannya lemah dan sedikit.

Maka perhatikanlah ke arah mana bisikan halus itu condong;
serukanlah “Allah, Allah”, dan engkau pun arahkan dirimu ke arah itu.

Ia berkata, “Jika tipu daya tidak tampak dalam kata-katanya,
maka orang yang bijak itu tentu telah mengetahui siasatnya.”

Bagaimana engkau akan mengenali rahasianya? Katakanlah dengan jujur.
Ia menjawab, “Aku akan duduk diam di hadapannya.”

Kesabaran kujadikan tangga untuk naik ke derajat yang tinggi,
sebab dengan kesabaran aku akan mencapai,
“Kesabaran adalah kunci dari kelapangan.”


Muh. Nur Jabir
4
Peta Perjalanan Ruh
Bag XI


Puasa seperti peta perjalanan ruh, perjalanannya berawal dari lumpur “ego” menuju hamparan “Singgasana-Nya”.


Jika zakat membersihkan tangan dari rasa memiliki, jihad memotong akar sifat-sifat gelap, haji mengajarkan hijrah dari penjara diri, sementara puasa adalah yang paling sunyi dan paling dalam.


Puasa tidak memotong, ia mengosongkan. Puasa tidak menyerang, ia menanggalkan. Puasa mencabut kegelapan makan dan tidur dari ruh, mengikis warna-warna palsu dari segala keinginan, hingga hati menjadi lapang dan bening.


Jika zakat membersihkan harta, dan jihad membersihkan sifat, maka puasa membersihkan jiwa. Ketika jiwa telah kosong dari selain-Nya, barulah Salat bangkit dari singgasana cahaya dan berkata, “Sekarang engkau layak berdiri dalam rakaat-rakaat cinta.”


Hakikat puasa adalah menjadi tiada agar hanya Dia yang ada. Dan saat itu terjadi, pejalan ruhani tak lagi terlihat di kegelapan dunia, karena ia telah menjadi cermin bagi cahaya.


Kata Maulana Rumi:

Jangan tertipu kemilau dunia,
cahaya sejati bersembunyi dalam kesunyian.
Untuk memahami daun, engkau butuh hati yang suci.
Untuk sampai ke laut, engkau harus rela tenggelam.
Dan untuk meraih hikmah,
engkau harus melepaskan dirimu.


Muh. Nur Jabir
9
*[ 💌 Invitation ] Kajian Online MI Nurun Nabi Nusantara*

_Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh_

Sahabat Nurun Nabi Nusantara,

Majelis Ilmu Nurun Nabi Nusantara kembali mengajak Anda semua untuk bergabung dalam kajian online:

📢 Dengan Tema:
*"PUASA & HEALING"*

🗓️ *Senin 9 Maret 2026*
*16:00 - 17:30*
🚩 *Online Zoom Meeting*

*🔴 Join Zoom Meeting*
https://telkomsel.zoom.us/j/98617209689?pwd=Gj5bZMiIN1TOe5DRfNBFIAJSRvmTDh.1

Meeting ID: 986 1720 9689
Passcode: *NNN*

🎙️Bersama:
- *Ust. Yusuf Daud (Founder Sophia Citra Institute PhiloSufi Centre for Interfaith and Intercultural Dialogue)*
- *M. Nur Jabir (Direktur Rumi Institute)*
- *Kang Abi (Host)*

Yang mau berinfaq dapat disalurkan melalui rekening :
💳 Bank BCA *5040050754*
an *Didah Faridah*

Narahubung :
📞 Info *08164852648*
(*Diah Pamoedji*)

Terima kasih 🙏🏻

Wassallamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

*🌹MI. Nurun Nabi Nusantara🌹*
👍1
silakan Join, free🙏🏻
Lailatul Qadr dan Kehilangan Diri
Bag XII


Yang hilang di antara malam-malam bukanlah Lailatul Qadar, tetapi manusia yang lupa akan dirinya sendiri. Ketika hati tertutup oleh dunia, bahkan malam yang penuh kemuliaan pun lewat tanpa terasa.


Namun jika seseorang menemukan kembali dirinya, membersihkan hati, menghidupkan ruh, dan mengenal Sang Pemilik Rumah Sejati, maka setiap malam menjadi malam kemuliaan dan setiap waktu menjadi perjumpaan dengan Tuhan.


Jamuan Ilahi sebenarnya selalu terhampar, rahmat-Nya tak pernah berhenti. Tetapi manusia sering tidak datang sebagai tamu, karena ia belum mengenal Tuan Rumah dan belum pulang ke rumah hatinya sendiri.


Maka sebaiknya kita mulai mencari diri kita, menemukan rumah itu, dan mengenali Pemiliknya. Jika itu terjadi, seluruh hidup kita berubah menjadi Lailatul Qadar, dan setiap detik menjadi saat yang penuh cahaya.


Sebab nilai diri adalah rahasia yang harus ditemukan sebelum lembaran takdir ditutup.

Kata Maulana Rumi:
Hai kawan!
Tak semua malam itu adalah Lailatul Qadr,
juga tak semua malam kosong dari Lailatul Qadr.


Muh. Nur Jabir
5👍3
Lailatul Qadr dan Menemukan Kadar Diri
Bag XIV


Lailatul Qadr adalah malam ketika segala sesuatu menemukan nilainya. Kata qadr bukan sekadar ukuran angka, tetapi harga dan makna yang tersembunyi dalam wujud.


Di dunia ini, setiap sesuatu memiliki ukuran lahir—panjang, lebar, dan bentuk. Tetapi manusia juga memiliki ukuran batin: hakikat, adil, cinta, dan keindahan jiwa. Ukuran inilah yang tidak dapat diukur dengan materi, melainkan dengan cahaya akal dan kesadaran ruh.


Ketika manusia mengenal nilai dirinya, ia mulai memahami nilai segala sesuatu. Karena manusia bukan sekadar makhluk di dalam alam; ia adalah cermin yang memuat rahasia alam.


Maka Lailatul Qadar adalah saat ketika segala wujud menemukan takaran dan maknanya. Dan hati manusia yang terjaga dapat menyaksikan bahwa setiap sesuatu memiliki tempat dan nilai di hadapan Ilahi.

Kata Maulana Rumi:

Kau tahu nilai setiap barang dagangan,
tapi jika kau tak tahu nilaimu sendiri, kau bodoh.
Kau tahu bintang keberuntungan dan bintang naas,
Tapi kau tak lihat, apa dirimu beruntung atau naas.
Inilah jiwa seluruh pengetahuan,
kau tahu siapa dirimu di hari akhir nanti.
Kau tahu Ushuluddin; dasar-dasar agama,
Tapi lihatlah dasar dirimu, apa itu baik?
Hai orang besar! Tahu dasar dirimu lebih baik dari dua dasar itu,
supaya kau tahu dasar dirimu sendiri.

Muh. Nur Jabir
4
Lail, Lailah, dan Lailatul Qadr
Bag XV


“Lail” berarti malam, dan “Lailah” juga berarti malam. Namun dalam dunia para penempuh jalan spiritual, makna eksistensial keduanya tak sama. Sebab “Lail” bersifat maskulin, sedangkan “Lailah” bersifat feminin. Dari sinilah seluruh kisah bermula.


Dalam bahasa para arif, “Lail” adalah malam yang menutup dan menidurkan, sedangkan “Lailah” adalah malam yang menerima dan melahirkan cahaya. Karena itu Qur’an menggunakan “Lailatul Qadr” yakni malam yang menjadi tempat turunnya rahmat, malaikat, dan kehidupan.


“Lailah” melambangkan jiwa yang tenang, terbuka, dan sepenuhnya pasrah. Hanya hati yang seperti itulah yang menjadi tempat turunnya cahaya Ilahi.


Jadi mari kita siapkan diri kita seperti malam itu: sunyi, menerima, dan berserah diri. Lepaskan kehendak diri sendiri agar kehendak-Nya turun ke dalam hati kita.


Sebab apa yang terjadi di alam semesta juga terjadi di dalam diri manusia. Jika hati kita menjadi “Lailah”, maka cahaya kemuliaan akan turun ke dalamnya.


Mari kita jaga malam batin jiwa kita, karena di sanalah Lailatul Qadr sebenarnya terjadi.

Kata Maulana Rumi:

Jika kau menginginkan bulan,
jangan bersembunyi di malam hari.
Jika kau menginginkan mawar,
jangan lari dari duri,
Jika kau menginginkan cinta,
jangan lari dari dirimu.


Muh. Nur Jabir
7👏1
Dunia adalah Ruang Uji
Bag XVIII


Dunia adalah penjara yang tak pernah sunyi dari ujian. Ke mana pun manusia berlari untuk mencari kenyamanan, di sana pula cobaan sedang menantinya.


Tak ada tempat yang sepenuhnya aman di bumi ini, kecuali ketika hati berdiam diri dalam kesunyian bersama Tuhan.


Namun di dalam penjara dunia ini manusia tidak dibiarkan tanpa penopang. Ia diberi harapan, iman, dan kesabaran.


Harapan adalah cahaya yang membuat hati bertahan, iman adalah sumber kekuatan batin, dan sabar adalah mahkota yang menjaga jiwa tetap tegar.


Dengan iman, derita menjadi ringan. Dengan harapan, racun kehidupan berubah menjadi penawar. Dengan sabar, jalan keluar mulai tampak.


Karena itu para arif berkata, “Dunia mungkin penjara bagi tubuh, tetapi hati yang sabar dan percaya kepada Tuhan dapat menemukan taman kebebasan di dalamnya.”


Kata Maulana Rumi:

Manusia akan kuat dengan khayalnya,
jika khayalnya pemilik keindahan.
Jika khayalnya menampakkan keburukan,
ia akan meleleh seperti lilin oleh panas api.
Jika kau berada diantara ular dan kalajengking,
Tuhan akan menyibukkanmu dengan khayalan-khayalan indah.
Ular dan kalajengking merasa tenang denganmu,
karena khayalmu adalah kimia kehidupan,
yang mengubah tembaga menjadi emas.
Kesabaran menjadi manis oleh khayalan indah,
sebab datang khayalan-khayalan yang membebaskan.
Kebebasan datang karena iman di hati.
Lemah iman mendatangkan keputusasaan dan kesengsaraan.
Kesabaran meraih mahkota dari keberimanan.
Tak ada sabar bagi yang tak punya iman.


Muh. Nur Jabir
7👍1
Jangan Lari dari Diri Sendiri
Bag XIX


Salah satu perjalanan paling sulit bagi manusia adalah duduk sendirian bersama dengan dirinya sendiri. Kita sering melarikan diri ke dalam kesibukan, hiburan, dan keramaian agar tidak berhadapan dengan hati kita sendiri.


Padahal jiwa juga butuh untuk berkhalwat, uzlah, dan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Dalam kesunyian itulah manusia belajar melihat dirinya, menimbang amalnya, dan mendengar suara batin yang selama ini tenggelam dalam keramaian.


Keindahan alam, alunan musik, diamnya malam, dan langit penuh bintang adalah jendela yang membuka hati agar manusia sadar, betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran semesta.


Namun khalwat yang paling dalam adalah khalwat bersama Tuhan. Sebab siapa yang melupakan Tuhan akan lupa pula pada dirinya sendiri.


Sebagaimana pesan orang-orang arif, menyendirilah sejenak dengan dirimu, berdiamlah dengan alam,
dan duduklah dengan Tuhan. Di sanalah hati terbangun dari kelalaian, dan kehidupan kembali menemukan maknanya.


Kata Maulana Rumi:

Jangan merasa terasing dari dirimu sendiri,
Jangan lari dari pintu jiwamu sendiri.


Muh. Nur Jabir
8👍1
Cinta Mendiamkan Kata
Bag XX


Maulana Rumi banyak menjelaskan tentang hikmah diam. Dalam salah satu hikmahnya ia menjelaskan, “Jika engkau memperoleh suatu nilai atau keutamaan, janganlah engkau menyia-nyiakannya dengan memamerkannya atau menghabiskannya melalui kata-kata. Simpanlah ia dalam hati, agar keutamaan itu berpengaruh dan berbuah di dalam batinmu. Inilah salah satu cara yang sangat efektif untuk perubahan diri.”


Boleh jadi kita merasa telah meraih kemenangan kecil atas nafsu. Namun begitu kita menjadi bangga atas kemenangan itu, pada saat yang sama kita telah kembali dikalahkan oleh nafsu.


Sesungguhnya manusia setiap saat berada dalam ujian baru. Jika seseorang merasa telah menang hanya dengan kelulusan pertama, maka sebenarnya ia telah menerima kekalahan.


Ketakjuban yang lahir dari cinta, akan membuat lisan terdiam. Ia seperti seseorang yang menyimpan permata di dalam mulutnya; ia takut jika membuka mulutnya, permata itu akan jatuh. Atau seperti seseorang yang seekor burung keberuntungan hinggap di kepalanya; ia diam agar burung itu tidak terbang.


Kata Maulana Rumi:

Hai Jiwa! Cinta memotong kata-kata,
Cinta menjadi penolong ketika kata-kata tak lagi mampu.
Dari cinta lahir suatu ketakjuban,
yang membuat lisan tak sanggup bercerita.
Ia takut jika menjawab,
permata dari mulutnya akan jatuh.
Maka ia menutup bibirnya dari segala baik dan buruk,
agar mutiara tidak jatuh dari mulutnya.


Muh. Nur Jabir
6👍1
Bag XXI


Tuhan memberikan kepada kita Iktikaf di akhir Bulan Ramadhan. Setelah berjalan beberapa hari bersama puasa, kita mulai terbiasa berjarak dengan nikmat-nikmat tubuh, dan perlahan-lahan mulai mencicipi hidangan ruhani.


Tetapi tak cukup sampai di sini, di hari-hari terakhir Bulan Ramadhan, kita dianjurkan melakukan iktikaf, pergi berdiam diri di Masjid, jeda sejenak dengan orang-orang sekitar dan juga kehidupan keseharian kita.


Ketika Iktikaf, kita belajar mengosongkan hati dari segala sesuatu kecuali Tuhan. Bagi yang berhasil dalam Iktikaf ini, Tuhan akan memberinya Eid, Hari Raya Fitri. Karena ia berhasil mengosongkan hatinya dari segalanya dan tak ada lagi yang bertahta di dalam hatinya kecuali Tuhan.

Kata Maulana Rumi:

Meskipun kau menjadi batu keras dan marmar,
saat kau sampai pada pemilik hati,
kau akan akan jadi permata.
Berilah ruang cinta orang-orang suci di dalam jiwamu.
Jangan beri hati kecuali kepada hati suci, hati yang berbahagia.


Muh. Nur Jabir
9👍1