Jumah Mubarak
Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
(QS al-Baqarah [2]:216)
Ayat yang indah ini, bukan sekadar nasihat, tetapi pembongkar ilusi kehendak diri di hadapan hikmah Ilahi. Seorang pejalan mesti menyadari, jarak antara cinta diri dan ilmu Tuhan. Manusia menilai dengan rasa suka dan benci yang lahir dari pengalaman sesaat, sementara Tuhan menakar dengan ilmu yang meliputi awal, akhir, dan tujuan ruhani. Maka yang tampak pahit bisa jadi adalah obat, dan yang terasa manis justru racun yang halus bagi perjalanan jiwa.
Maulana Jalaluddin Rumi juga berbicara dalam bahasa pengalaman batin:
Syukur pada Ilahi doa itu tertolak.
Kusangka rugi, ternyata mengutungkan.
[Matsnawi, Kitab II, Bait 139]
Bagi Rumi, ditolaknya doa bukan tanda penolakan Tuhan, melainkan bentuk penjagaan. Penolakan itu adalah tirai rahmat: Tuhan menyelamatkan hamba dari sesuatu yang diminta oleh ego, tetapi akan melukai ruh.
Maulana Rumi melanjutkan:
Betapa banyak doa tapi kerugian dan kehancuran.
Tuhan Yang Maha Suci, seolah tak mendengar itu karena kemuliaan-Nya.
[Bait 140]
“Tuhan seolah tak mendengar” berarti betapa Tuhan memuliakan hamba-Nya untuk mengabulkan sesuatu yang akan merendahkannya. Diam-Nya adalah tindakan; tidak memberi adalah bentuk memberi yang lebih tinggi. Sebab Tuhan tidak sekadar menjawab permintaan, tetapi mendidik keinginan.
Yang diuji bukan hanya kesabaran kita atas takdir, tetapi juga keikhlasan kita melepaskan klaim tahu yang terbaik bagi diri sendiri. Syukur tertinggi bukan ketika doa dikabulkan, melainkan ketika hati mampu berkata, “Jika ini Kau tahan dariku, pasti karena Kau hendak memberiku diri-Mu.”
Muh. Nur Jabir
Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
(QS al-Baqarah [2]:216)
Ayat yang indah ini, bukan sekadar nasihat, tetapi pembongkar ilusi kehendak diri di hadapan hikmah Ilahi. Seorang pejalan mesti menyadari, jarak antara cinta diri dan ilmu Tuhan. Manusia menilai dengan rasa suka dan benci yang lahir dari pengalaman sesaat, sementara Tuhan menakar dengan ilmu yang meliputi awal, akhir, dan tujuan ruhani. Maka yang tampak pahit bisa jadi adalah obat, dan yang terasa manis justru racun yang halus bagi perjalanan jiwa.
Maulana Jalaluddin Rumi juga berbicara dalam bahasa pengalaman batin:
Syukur pada Ilahi doa itu tertolak.
Kusangka rugi, ternyata mengutungkan.
[Matsnawi, Kitab II, Bait 139]
Bagi Rumi, ditolaknya doa bukan tanda penolakan Tuhan, melainkan bentuk penjagaan. Penolakan itu adalah tirai rahmat: Tuhan menyelamatkan hamba dari sesuatu yang diminta oleh ego, tetapi akan melukai ruh.
Maulana Rumi melanjutkan:
Betapa banyak doa tapi kerugian dan kehancuran.
Tuhan Yang Maha Suci, seolah tak mendengar itu karena kemuliaan-Nya.
[Bait 140]
“Tuhan seolah tak mendengar” berarti betapa Tuhan memuliakan hamba-Nya untuk mengabulkan sesuatu yang akan merendahkannya. Diam-Nya adalah tindakan; tidak memberi adalah bentuk memberi yang lebih tinggi. Sebab Tuhan tidak sekadar menjawab permintaan, tetapi mendidik keinginan.
Yang diuji bukan hanya kesabaran kita atas takdir, tetapi juga keikhlasan kita melepaskan klaim tahu yang terbaik bagi diri sendiri. Syukur tertinggi bukan ketika doa dikabulkan, melainkan ketika hati mampu berkata, “Jika ini Kau tahan dariku, pasti karena Kau hendak memberiku diri-Mu.”
Muh. Nur Jabir
❤10
Jumah Mubarak
Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia.
(QS al-Baqarah [2]:185)
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Qur’an sebagai petunjuk. Ayat ini berbicara dalam bahasa syariat: berpuasalah ketika bulan itu tiba. Dan di tangan Maulana Rumi, perintah itu menjelma menjadi nyanyian ruhani.
Maulana Rumi dalam Ghazal 892 menjelaskan:
Telah datang bulan puasa,
panji Sang Sultan pun tiba,
Tanggalkan tangan dari makanan,
hidangan jiwa telah datang.
Rumi menyebut Ramadhan sebagai kedatangan “Sang Sultan”. Ketika bulan puasa tiba, bukan hanya lapar yang hadir, tetapi juga jamuan jiwa. Tangan diminta berhenti dari makanan, agar hati bersiap menerima hidangan cahaya. Sebab Qur’an tidak hanya turun ke bumi pada suatu malam, ia juga turun ke dalam jiwa yang dikosongkan.
Puasa melemahkan nafsu dan memerdekakan ruh. Saat nafsu menjadi papa, ruh naik mi‘raj. Ketika kesenangan jasmani ditahan, tirai kegelapan tersingkap dan hati kembali kepada asalnya yang langit.
Bagi Rumi, puasa adalah kurban. Bukan kurban daging, melainkan kurban ego. Setiap rasa lapar adalah sembelihan kecil atas keakuan. Dan justru dalam kekosongan itulah hikmah turun, seperti hujan dari awan sabar.
Maka Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ia adalah musim turunnya cahaya, bukan pada lembaran mushaf semata, tetapi pada relung hati yang hening. Siapa yang memaniskan lapar puasa, akan merasakan bahwa cahaya Qur’an tidak hanya dibaca, melainkan hidup di dalam dirinya.
Muh. Nur Jabir
Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia.
(QS al-Baqarah [2]:185)
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Qur’an sebagai petunjuk. Ayat ini berbicara dalam bahasa syariat: berpuasalah ketika bulan itu tiba. Dan di tangan Maulana Rumi, perintah itu menjelma menjadi nyanyian ruhani.
Maulana Rumi dalam Ghazal 892 menjelaskan:
Telah datang bulan puasa,
panji Sang Sultan pun tiba,
Tanggalkan tangan dari makanan,
hidangan jiwa telah datang.
Rumi menyebut Ramadhan sebagai kedatangan “Sang Sultan”. Ketika bulan puasa tiba, bukan hanya lapar yang hadir, tetapi juga jamuan jiwa. Tangan diminta berhenti dari makanan, agar hati bersiap menerima hidangan cahaya. Sebab Qur’an tidak hanya turun ke bumi pada suatu malam, ia juga turun ke dalam jiwa yang dikosongkan.
Puasa melemahkan nafsu dan memerdekakan ruh. Saat nafsu menjadi papa, ruh naik mi‘raj. Ketika kesenangan jasmani ditahan, tirai kegelapan tersingkap dan hati kembali kepada asalnya yang langit.
Bagi Rumi, puasa adalah kurban. Bukan kurban daging, melainkan kurban ego. Setiap rasa lapar adalah sembelihan kecil atas keakuan. Dan justru dalam kekosongan itulah hikmah turun, seperti hujan dari awan sabar.
Maka Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ia adalah musim turunnya cahaya, bukan pada lembaran mushaf semata, tetapi pada relung hati yang hening. Siapa yang memaniskan lapar puasa, akan merasakan bahwa cahaya Qur’an tidak hanya dibaca, melainkan hidup di dalam dirinya.
Muh. Nur Jabir
❤15
[Mari Kita Maknai Bulan Ramadhan Sebagai Bulan Suluk]
Risalah Keenam, Kitab Insan Kamil dari Azizuddin Nasafi
Tentang Penjelasan Syarat-Syarat Chilah (Khalwat Empat Puluh Hari)
Ketahuilah bahwa syarat pertama adalah kehadiran seorang Syekh. Seseorang harus duduk (berkhalwat) dengan izin Syekh, dan Syekh itu hadir membimbingnya. Setiap minggu atau setiap sepuluh hari, Syekh hendaknya datang ke tempat khalwatnya agar dengan melihat wajah sang Syekh, kekuatannya bertambah dan ia mampu menanggung mujahadah (perjuangan spiritual). Jika ada kesulitan yang muncul, ia dapat bertanya.
Syarat kedua adalah waktu dan tempat. Yakni hendaknya dilakukan pada waktu yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, tetapi pada masa yang seimbang dan sedang. Tempatnya harus jauh dari keramaian manusia, sehingga suara orang tidak sampai kepadanya dan suara dzikirnya pun tidak sampai kepada orang lain. Tempat itu harus kosong dan gelap, dan selama empat puluh hari, tidak seorang pun menemuinya kecuali Syekh dan pelayan.
Syarat ketiga adalah senantiasa dalam keadaan berwudhu. Setiap kali hendak salat, ia harus memperbarui wudhunya, dan setiap kali memperbarui wudhu, hendaknya ia melaksanakan dua rakaat salat sebagai syukur atas wudhu tersebut.
Syarat keempat adalah puasa. Selama empat puluh hari itu ia harus berpuasa.
Syarat kelima adalah makan sedikit. Ukuran makan sedikit berbeda bagi setiap orang, dan hal itu bergantung pada pandangan Syekh, sesuai dengan kadar yang diperintahkan kepada masing-masing.
Syarat keenam adalah sedikit berbicara. Selama empat puluh hari itu ia tidak boleh berbicara dengan siapa pun kecuali dengan Syekh dan pelayan.
Syarat ketujuh adalah sedikit tidur. Pada malam hari ia tidak boleh tidur lebih dari dua dang (yakni sekitar sepertiga malam).
Syarat kedelapan adalah mengenali lintasan hati (khāwaṭir). Lintasan hati itu ada empat macam: lintasan rabbani (rahmani), lintasan malaikati (malaki), lintasan nafsani, dan lintasan setani; masing-masing memiliki tanda khusus.
Syarat kesembilan adalah menolak lintasan-lintasan hati tersebut. Selama empat puluh hari itu, setiap lintasan yang datang harus ditolak dan tidak boleh disibukkan diri dengan memikirkannya, meskipun ia mampu mengenali lintasan itu, dan meskipun ia mengira bahwa lintasan tersebut adalah rahmani, tetap harus ditolak. Sebab ia harus beramal sesuai perintah Syekh, dan perintah Syekh tanpa keraguan bersifat rahmani.
Jika ada lintasan, mimpi, atau pengalaman batin yang muncul dalam tidur maupun dalam keadaan sadar, dan ia tidak mampu menolaknya sehingga pikirannya tersibukkan olehnya dan tidak mampu memahaminya, maka hendaknya ia menyampaikannya kepada Syekh agar Syekh menjelaskannya, sehingga hal itu tidak menghalangi kekhusyukan dan keterpusatan batinnya.
Syarat kesepuluh adalah dzikir terus-menerus. Setelah menunaikan salat lima waktu, ia tidak boleh menyibukkan diri dengan pekerjaan lain selain berdzikir “Lā ilāha illā Allāh”. Dzikir itu harus diucapkan dengan suara yang jelas, dan ia harus bersungguh-sungguh menghadirkan hati serta menyadari bahwa ia sedang melakukan penafian (nafy) dan penegasan (itsbāt).
Penafian dan penegasan ini memiliki tingkatan-tingkatan, dan para salik pun memiliki tingkatan-tingkatan. Negasi dan afirmasi seorang pemula tidaklah sama dengan negasi dan afirmasi seorang yang telah mencapai puncak.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Mohon doakan kami
Muh. Nur Jabir
Risalah Keenam, Kitab Insan Kamil dari Azizuddin Nasafi
Tentang Penjelasan Syarat-Syarat Chilah (Khalwat Empat Puluh Hari)
Ketahuilah bahwa syarat pertama adalah kehadiran seorang Syekh. Seseorang harus duduk (berkhalwat) dengan izin Syekh, dan Syekh itu hadir membimbingnya. Setiap minggu atau setiap sepuluh hari, Syekh hendaknya datang ke tempat khalwatnya agar dengan melihat wajah sang Syekh, kekuatannya bertambah dan ia mampu menanggung mujahadah (perjuangan spiritual). Jika ada kesulitan yang muncul, ia dapat bertanya.
Syarat kedua adalah waktu dan tempat. Yakni hendaknya dilakukan pada waktu yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, tetapi pada masa yang seimbang dan sedang. Tempatnya harus jauh dari keramaian manusia, sehingga suara orang tidak sampai kepadanya dan suara dzikirnya pun tidak sampai kepada orang lain. Tempat itu harus kosong dan gelap, dan selama empat puluh hari, tidak seorang pun menemuinya kecuali Syekh dan pelayan.
Syarat ketiga adalah senantiasa dalam keadaan berwudhu. Setiap kali hendak salat, ia harus memperbarui wudhunya, dan setiap kali memperbarui wudhu, hendaknya ia melaksanakan dua rakaat salat sebagai syukur atas wudhu tersebut.
Syarat keempat adalah puasa. Selama empat puluh hari itu ia harus berpuasa.
Syarat kelima adalah makan sedikit. Ukuran makan sedikit berbeda bagi setiap orang, dan hal itu bergantung pada pandangan Syekh, sesuai dengan kadar yang diperintahkan kepada masing-masing.
Syarat keenam adalah sedikit berbicara. Selama empat puluh hari itu ia tidak boleh berbicara dengan siapa pun kecuali dengan Syekh dan pelayan.
Syarat ketujuh adalah sedikit tidur. Pada malam hari ia tidak boleh tidur lebih dari dua dang (yakni sekitar sepertiga malam).
Syarat kedelapan adalah mengenali lintasan hati (khāwaṭir). Lintasan hati itu ada empat macam: lintasan rabbani (rahmani), lintasan malaikati (malaki), lintasan nafsani, dan lintasan setani; masing-masing memiliki tanda khusus.
Syarat kesembilan adalah menolak lintasan-lintasan hati tersebut. Selama empat puluh hari itu, setiap lintasan yang datang harus ditolak dan tidak boleh disibukkan diri dengan memikirkannya, meskipun ia mampu mengenali lintasan itu, dan meskipun ia mengira bahwa lintasan tersebut adalah rahmani, tetap harus ditolak. Sebab ia harus beramal sesuai perintah Syekh, dan perintah Syekh tanpa keraguan bersifat rahmani.
Jika ada lintasan, mimpi, atau pengalaman batin yang muncul dalam tidur maupun dalam keadaan sadar, dan ia tidak mampu menolaknya sehingga pikirannya tersibukkan olehnya dan tidak mampu memahaminya, maka hendaknya ia menyampaikannya kepada Syekh agar Syekh menjelaskannya, sehingga hal itu tidak menghalangi kekhusyukan dan keterpusatan batinnya.
Syarat kesepuluh adalah dzikir terus-menerus. Setelah menunaikan salat lima waktu, ia tidak boleh menyibukkan diri dengan pekerjaan lain selain berdzikir “Lā ilāha illā Allāh”. Dzikir itu harus diucapkan dengan suara yang jelas, dan ia harus bersungguh-sungguh menghadirkan hati serta menyadari bahwa ia sedang melakukan penafian (nafy) dan penegasan (itsbāt).
Penafian dan penegasan ini memiliki tingkatan-tingkatan, dan para salik pun memiliki tingkatan-tingkatan. Negasi dan afirmasi seorang pemula tidaklah sama dengan negasi dan afirmasi seorang yang telah mencapai puncak.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Mohon doakan kami
Muh. Nur Jabir
❤5
Puasa milik-Ku, dan Akulah tebusannya.
[Hadits Qudsi]
Tentu semua ibadah adalah untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Namun puasa punya keistimewaan batin. Salat tampak geraknya. Zakat tampak pemberiannya. Haji tampak perjalanannya, tetapi puasa tersembunyi.
Tidak makan dan tidak minum adalah tindakan lahiriah, namun hakikat puasa adalah menahan diri yang hanya Tuhan saja yang benar-benar mengetahuinya. Ia adalah ibadah tanpa bentuk, tanpa simbol yang mencolok.
Dalam tasawuf, sesuatu yang tersembunyi lebih dekat kepada rahasia Ilahi. Karena Tuhan Maha Gaib, maka ibadah yang paling “gaib” dari pandangan manusia adalah yang paling selaras dengan sifat itu.
Puasa menjadi milik-Nya karena ia paling sunyi.
Kata Maulana Rumi:
Aku sangat dekat, mungkin terlihat jauh.
Sangat menyatu denganmu, mungkin terlihat terpisah.
Terlihat di tempat terbuka, Aku tampak tersembunyi
Aku muncul sangat diam, karena Aku selalu berbicara denganmu.
Muh. Nur Jabir
[Hadits Qudsi]
Tentu semua ibadah adalah untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Namun puasa punya keistimewaan batin. Salat tampak geraknya. Zakat tampak pemberiannya. Haji tampak perjalanannya, tetapi puasa tersembunyi.
Tidak makan dan tidak minum adalah tindakan lahiriah, namun hakikat puasa adalah menahan diri yang hanya Tuhan saja yang benar-benar mengetahuinya. Ia adalah ibadah tanpa bentuk, tanpa simbol yang mencolok.
Dalam tasawuf, sesuatu yang tersembunyi lebih dekat kepada rahasia Ilahi. Karena Tuhan Maha Gaib, maka ibadah yang paling “gaib” dari pandangan manusia adalah yang paling selaras dengan sifat itu.
Puasa menjadi milik-Nya karena ia paling sunyi.
Kata Maulana Rumi:
Aku sangat dekat, mungkin terlihat jauh.
Sangat menyatu denganmu, mungkin terlihat terpisah.
Terlihat di tempat terbuka, Aku tampak tersembunyi
Aku muncul sangat diam, karena Aku selalu berbicara denganmu.
Muh. Nur Jabir
❤12
Puasa milik-Ku, dan Akulah tebusannya.
[Hadits Qudsi]
Bag II
Biasanya pahala adalah sesuatu, berupa surga, ampunan, dan atau derajat. Namun dalam hadits Qudsi ini, Tuhan tidak berfirman, “Aku memberinya pahala.” Ia berfirman, “Aku sendirilah tebusannya.”
Ini adalah bahasa cinta. Dalam maqam para pecinta, tujuan ibadah bukan hadiah, bukan kenikmatan, bahkan bukan surga, melainkan perjumpaan.
Puasa melatih manusia melepaskan kenikmatan duniawi. Dan ketika seseorang mampu melepaskan selain-Nya, yang tersisa hanyalah Dia.
Jadi balasan puasa bukan sesuatu yang diberikan, melainkan kedekatan yang disingkapkan.
Kata Maulana Rumi:
Sirnakan dirimu,
Sirnakan dirimu dalam cinta ini,
Saat kau sirna dalam cinta ini,
Kau akan dapatkan segalanya.
Muh. Nur Jabir
[Hadits Qudsi]
Bag II
Biasanya pahala adalah sesuatu, berupa surga, ampunan, dan atau derajat. Namun dalam hadits Qudsi ini, Tuhan tidak berfirman, “Aku memberinya pahala.” Ia berfirman, “Aku sendirilah tebusannya.”
Ini adalah bahasa cinta. Dalam maqam para pecinta, tujuan ibadah bukan hadiah, bukan kenikmatan, bahkan bukan surga, melainkan perjumpaan.
Puasa melatih manusia melepaskan kenikmatan duniawi. Dan ketika seseorang mampu melepaskan selain-Nya, yang tersisa hanyalah Dia.
Jadi balasan puasa bukan sesuatu yang diberikan, melainkan kedekatan yang disingkapkan.
Kata Maulana Rumi:
Sirnakan dirimu,
Sirnakan dirimu dalam cinta ini,
Saat kau sirna dalam cinta ini,
Kau akan dapatkan segalanya.
Muh. Nur Jabir
❤14
Puasa milik-Ku, dan Akulah tebusannya.
[Hadits Qudsi]
Bag III
Puasa, bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan memasuki wilayah yang bukan hakikat makhluk. Hakikat makhluk adalah “bergantung” dan “butuh”, ia butuh makan, minum, dan bergantung. Sedangkan hakikat Tuhan adalah berdiri sendiri (shamad), tidak membutuhkan apa pun.
Ketika seorang hamba berpuasa, ia sedang berlatih mengenakan sifat yang bukan miliknya: tidak makan, tidak minum. Maka Tuhan berfirman dalam hadits qudsi, “Puasa untuk-Ku dan Akulah tebusannya.”
Maka puasa bukan “melakukan”, melainkan “meninggalkan”, meninggalkan makan, minum, dan meninggalkan yang lainnya. Puasa adalah penafian. Dan Tuhan pun memperkenalkan Diri-Nya melalui penafian, “Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” [QS 42:11]
Puasa dinaikkan derajatnya karena ia paling dekat dengan rahasia ketakterbandingan Tuhan.
Kata Maulana Rumi:
Wahai engkau yang hanya memuja tubuh,
jangan terikat padanya, jangan melupakan ruhmu.
Jangan hanya melihat jasad,
Muh. Nur Jabir
[Hadits Qudsi]
Bag III
Puasa, bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan memasuki wilayah yang bukan hakikat makhluk. Hakikat makhluk adalah “bergantung” dan “butuh”, ia butuh makan, minum, dan bergantung. Sedangkan hakikat Tuhan adalah berdiri sendiri (shamad), tidak membutuhkan apa pun.
Ketika seorang hamba berpuasa, ia sedang berlatih mengenakan sifat yang bukan miliknya: tidak makan, tidak minum. Maka Tuhan berfirman dalam hadits qudsi, “Puasa untuk-Ku dan Akulah tebusannya.”
Maka puasa bukan “melakukan”, melainkan “meninggalkan”, meninggalkan makan, minum, dan meninggalkan yang lainnya. Puasa adalah penafian. Dan Tuhan pun memperkenalkan Diri-Nya melalui penafian, “Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” [QS 42:11]
Puasa dinaikkan derajatnya karena ia paling dekat dengan rahasia ketakterbandingan Tuhan.
Kata Maulana Rumi:
Wahai engkau yang hanya memuja tubuh,
jangan terikat padanya, jangan melupakan ruhmu.
Jangan hanya melihat jasad,
Muh. Nur Jabir
❤6
Jumah Mubarak
Manusia itu satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.
(QS al-Baqarah [2]:213)
Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi, Kitab II, Bait 285-286
Sebelum mereka datang, kita semua satu.
Tak ada yang tahu, kita baik atau jahat.
Uang palsu dan asli digunakan di dunia,
karena semuanya malam dan kita bagai pengembara malam.
Pada awalnya kita laksana malam yang utuh, segala sesuatu bercampur dalam gelap. Emas dan tembaga berkilau sama, mutiara dan kerikil tergeletak tanpa beda. Tak ada yang tahu siapa yang asli, siapa yang palsu, karena cahaya belum terbit di ufuk jiwa.
Lalu Tuhan mengutus para nabi. Mereka adalah matahari yang naik perlahan di langit batin. Dengan sinarnya, warna-warna tersingkap. Yang sejati bersinar semakin jernih, yang palsu silau lalu menjauh. Itulah kabar gembira dan peringatan, cahaya yang mengundang mutiara dan menyingkirkan sampah.
Kesatuan sebelum nabi adalah kesatuan dalam kegelapan. Perbedaan setelah nabi adalah kejelasan dalam terang. Para nabi datang bukan untuk memecah umat, melainkan untuk menampakkan hakikat, agar yang emas pulang ke tambangnya, dan yang debu kembali ke tanahnya.
Maulana Rumi melanjutkan:
Mata tahu membedakan warna.
Mata tahu batu delima dan batu.
Mata tahu mutiara dan sampah.
Sampah-sampah hanya memedihkan mata.
Muh. Nur Jabir
Manusia itu satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.
(QS al-Baqarah [2]:213)
Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi, Kitab II, Bait 285-286
Sebelum mereka datang, kita semua satu.
Tak ada yang tahu, kita baik atau jahat.
Uang palsu dan asli digunakan di dunia,
karena semuanya malam dan kita bagai pengembara malam.
Pada awalnya kita laksana malam yang utuh, segala sesuatu bercampur dalam gelap. Emas dan tembaga berkilau sama, mutiara dan kerikil tergeletak tanpa beda. Tak ada yang tahu siapa yang asli, siapa yang palsu, karena cahaya belum terbit di ufuk jiwa.
Lalu Tuhan mengutus para nabi. Mereka adalah matahari yang naik perlahan di langit batin. Dengan sinarnya, warna-warna tersingkap. Yang sejati bersinar semakin jernih, yang palsu silau lalu menjauh. Itulah kabar gembira dan peringatan, cahaya yang mengundang mutiara dan menyingkirkan sampah.
Kesatuan sebelum nabi adalah kesatuan dalam kegelapan. Perbedaan setelah nabi adalah kejelasan dalam terang. Para nabi datang bukan untuk memecah umat, melainkan untuk menampakkan hakikat, agar yang emas pulang ke tambangnya, dan yang debu kembali ke tanahnya.
Maulana Rumi melanjutkan:
Mata tahu membedakan warna.
Mata tahu batu delima dan batu.
Mata tahu mutiara dan sampah.
Sampah-sampah hanya memedihkan mata.
Muh. Nur Jabir
❤6
Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.
[Hadits Qudsi]
Bag IV
Rasulullah saw bersabda, orang berpuasa memiliki dua kegembiraan: saat berbuka dan saat berjumpa dengan Tuhannya. Kegembiraan pertama adalah kegembiraan tubuh, ia kembali menerima haknya berupa makanan. Ini kegembiraan jasmani.
Namun kegembiraan kedua adalah kegembiraan ruhani, ia adalah sukacita penyaksian (musyāhadah). Dalam bahasa Ibn Arabi, puasa mewariskan perjumpaan dengan Tuhan. Bukan sekadar pahala, tetapi pengalaman kehadiran.
Mengapa? Karena ketika seorang hamba menanggalkan klaim dirinya—bahkan klaim “aku berpuasa”—maka yang tersisa hanya Dia. Tuhan berfirman dalam hadits Qudsi, “Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.” Artinya, jangan engkau klaim ia sebagai milikmu. Engkau hanya memasuki wilayah-Ku karena Aku yang memanggilmu.
Kata Maulana Rumi:
Orang riya menunjukkan dirinya puasa dan salat,
agar orang menyangka ia sedang mabuk cinta Ilahi.
Muh. Nur Jabir
[Hadits Qudsi]
Bag IV
Rasulullah saw bersabda, orang berpuasa memiliki dua kegembiraan: saat berbuka dan saat berjumpa dengan Tuhannya. Kegembiraan pertama adalah kegembiraan tubuh, ia kembali menerima haknya berupa makanan. Ini kegembiraan jasmani.
Namun kegembiraan kedua adalah kegembiraan ruhani, ia adalah sukacita penyaksian (musyāhadah). Dalam bahasa Ibn Arabi, puasa mewariskan perjumpaan dengan Tuhan. Bukan sekadar pahala, tetapi pengalaman kehadiran.
Mengapa? Karena ketika seorang hamba menanggalkan klaim dirinya—bahkan klaim “aku berpuasa”—maka yang tersisa hanya Dia. Tuhan berfirman dalam hadits Qudsi, “Puasa untuk-Ku, bukan untukmu.” Artinya, jangan engkau klaim ia sebagai milikmu. Engkau hanya memasuki wilayah-Ku karena Aku yang memanggilmu.
Kata Maulana Rumi:
Orang riya menunjukkan dirinya puasa dan salat,
agar orang menyangka ia sedang mabuk cinta Ilahi.
Muh. Nur Jabir
❤9
Puasa adalah Sebuah Laku dengan Negasi
Bag V
Secara lahir, puasa adalah ibadah. Tetapi secara hakikat, ia adalah ketiadaan amal. Ia bukan gerak, bukan ucapan, bukan tindakan. Ia adalah diamnya nafsu. Karena itu Ibn Arabi mengatakan, puasa pada hakikatnya bukan amal, melainkan sifat negasi (salbi).
Justru karena ia “tidak”, ia menjadi cermin paling jernih bagi Yang Maha “Tidak serupa dengan apa pun”.
Dalam shalat, ada bacaan. Dalam sedekah, ada pemberian. Dalam haji, ada perjalanan. Tetapi dalam puasa, yang ada hanya “menahan”. Ia adalah sunyi. Dan dalam sunyi itu, hamba belajar makna kefakiran sejati, bahwa ia hidup karena dipelihara, bukan karena dirinya.
Kata Maulana Rumi dalam Ghazalnya:
Jika kau fakir dan sampai di puncak kefakiran,
saat itulah Tuhan akan mendatangimu.
Jika kau merasa berilmu, sucikanlah dirimu,
seperti “sesungguhnya mereka tak memahami”.
Jika kau seperti huruf "Nun" dalam ruku'
dan seperti pena dalam sujud,
Maka kau seperti "Nun" dan pena,
yang terhubung dengan apa-apa yang dituliskan.
Muh. Nur Jabir
Bag V
Secara lahir, puasa adalah ibadah. Tetapi secara hakikat, ia adalah ketiadaan amal. Ia bukan gerak, bukan ucapan, bukan tindakan. Ia adalah diamnya nafsu. Karena itu Ibn Arabi mengatakan, puasa pada hakikatnya bukan amal, melainkan sifat negasi (salbi).
Justru karena ia “tidak”, ia menjadi cermin paling jernih bagi Yang Maha “Tidak serupa dengan apa pun”.
Dalam shalat, ada bacaan. Dalam sedekah, ada pemberian. Dalam haji, ada perjalanan. Tetapi dalam puasa, yang ada hanya “menahan”. Ia adalah sunyi. Dan dalam sunyi itu, hamba belajar makna kefakiran sejati, bahwa ia hidup karena dipelihara, bukan karena dirinya.
Kata Maulana Rumi dalam Ghazalnya:
Jika kau fakir dan sampai di puncak kefakiran,
saat itulah Tuhan akan mendatangimu.
Jika kau merasa berilmu, sucikanlah dirimu,
seperti “sesungguhnya mereka tak memahami”.
Jika kau seperti huruf "Nun" dalam ruku'
dan seperti pena dalam sujud,
Maka kau seperti "Nun" dan pena,
yang terhubung dengan apa-apa yang dituliskan.
Muh. Nur Jabir
❤7
Rahasia Ramadhan
Bag VI
Ramadhan bukan sekadar bulan lapar, melainkan bulan untuk membongkar ilusi kita. Ilusi bahwa kita berdiri sendiri. Ilusi bahwa kita memiliki daya.
Puasa mengajarkan, kita tak bisa bertahan tanpa makan, kita rapuh, kita butuh. Dan yang menjaga keberadaan kita hanya Dia.
Ketika seorang sufi berbuka, ia bergembira bukan hanya karena makanan, tetapi karena ia melihat kasih Ilahi yang terus memberi makan kepada makhluk-Nya. Dan ketika ia berpuasa, ia bergembira karena diizinkan mendekati makna “tidak membutuhkan”, meski hanya sebagai bayangan.
Puasa adalah latihan fana kecil setiap hari, melepas klaim, melepas identitas palsu, melepas “aku”. Dan ketika “aku” menipis, Yang Maha Nyata menjadi terang.
Kata Maulana Rumi:
Saat mereka terbebas dari ke-aku-an diri, mereka bertepuk tangan.
Saat mereka terlepas dari kekurangan diri, mereka menari-nari.
Muh. Nur Jabir
Bag VI
Ramadhan bukan sekadar bulan lapar, melainkan bulan untuk membongkar ilusi kita. Ilusi bahwa kita berdiri sendiri. Ilusi bahwa kita memiliki daya.
Puasa mengajarkan, kita tak bisa bertahan tanpa makan, kita rapuh, kita butuh. Dan yang menjaga keberadaan kita hanya Dia.
Ketika seorang sufi berbuka, ia bergembira bukan hanya karena makanan, tetapi karena ia melihat kasih Ilahi yang terus memberi makan kepada makhluk-Nya. Dan ketika ia berpuasa, ia bergembira karena diizinkan mendekati makna “tidak membutuhkan”, meski hanya sebagai bayangan.
Puasa adalah latihan fana kecil setiap hari, melepas klaim, melepas identitas palsu, melepas “aku”. Dan ketika “aku” menipis, Yang Maha Nyata menjadi terang.
Kata Maulana Rumi:
Saat mereka terbebas dari ke-aku-an diri, mereka bertepuk tangan.
Saat mereka terlepas dari kekurangan diri, mereka menari-nari.
Muh. Nur Jabir
❤7
Lapar sebagai Bahasa Rindu
Bag VII
Lapar membuat suara batin terdengar. Saat perut kenyang, jiwa sering tertidur. Saat tubuh ringan, kesadaran menjadi peka. Banyak ahli tasawuf menyebut lapar saat berpuasa membuat hati lebih lembut, lebih mudah menangis, lebih mudah merasakan kehadiran Ilahi. Dalam kondisi ini, doa bukan lagi permintaan tetapi menjadi munajat kerinduan.
Dalam cinta biasa, jarak melahirkan rindu. Dalam cinta Ilahi, “menahan” melahirkan kedekatan. Puasa adalah menahan dengan sadar. Seseorang menahan diri bukan karena tak mampu, tetapi karena ingin membuktikan cintanya.
Dalam pengalaman para pecinta, rasa lapar bukan sekadar kosongnya perut, ia adalah ruang yang diisi oleh rindu. Semakin dalam rasa rindu, semakin ringan rasa lapar.
Kata Maulana Rumi:
Tak usah mencari kekasih Tuhan di istana atau di silsilah.
Carilah di taman hati yang berdzikir,
di tempat sujud yang basah,
di mata yang menangis dalam rindu
Muh. Nur Jabir
Bag VII
Lapar membuat suara batin terdengar. Saat perut kenyang, jiwa sering tertidur. Saat tubuh ringan, kesadaran menjadi peka. Banyak ahli tasawuf menyebut lapar saat berpuasa membuat hati lebih lembut, lebih mudah menangis, lebih mudah merasakan kehadiran Ilahi. Dalam kondisi ini, doa bukan lagi permintaan tetapi menjadi munajat kerinduan.
Dalam cinta biasa, jarak melahirkan rindu. Dalam cinta Ilahi, “menahan” melahirkan kedekatan. Puasa adalah menahan dengan sadar. Seseorang menahan diri bukan karena tak mampu, tetapi karena ingin membuktikan cintanya.
Dalam pengalaman para pecinta, rasa lapar bukan sekadar kosongnya perut, ia adalah ruang yang diisi oleh rindu. Semakin dalam rasa rindu, semakin ringan rasa lapar.
Kata Maulana Rumi:
Tak usah mencari kekasih Tuhan di istana atau di silsilah.
Carilah di taman hati yang berdzikir,
di tempat sujud yang basah,
di mata yang menangis dalam rindu
Muh. Nur Jabir
❤6👍3
Banyak orang menjauh dari Tuhan bukan karena tidak beriman, tapi karena pernah punya pengalaman beragama yang menyakitkan.
Di bulan Ramadhan ini, kami mengadakan talkshow:
Berdamai dengan Luka dalam Religi.
Memahami luka beragama melalui tasawuf dan psikologi islam.
Detail acara:
📍 Mades, pangpol
🗓️ 5 Maret 2026
🕧 16:00 - 17:30
Partisipasi melalui donasi seikhlasnya.
Peserta diharapkan memesan makanan dan minum karena acara berkolaborasi dengan venue.
Untuk pendaftaran bisa scan barcode diatas ini.
Di bulan Ramadhan ini, kami mengadakan talkshow:
Berdamai dengan Luka dalam Religi.
Memahami luka beragama melalui tasawuf dan psikologi islam.
Detail acara:
📍 Mades, pangpol
🗓️ 5 Maret 2026
🕧 16:00 - 17:30
Partisipasi melalui donasi seikhlasnya.
Peserta diharapkan memesan makanan dan minum karena acara berkolaborasi dengan venue.
Untuk pendaftaran bisa scan barcode diatas ini.