Teruntuk para adiwangsa, selamat datang di kanal purasaba tokoh utama. Sehubungan dengan kebijakan baru @Telegram, saya deklarasikan bahwa akun dan kanal yang saya cipta tiada terikat benang dengan Na Jaemin asli 'pun dengan kehidupan maupun agensi yang dinaungi jua menggunakan penanda (❁) bilamana hamba t'lah mengisi papan milik kalian. Media yang saya gunakan berasal dari Pinterest, Instagram dan beberapa sumber sejenis. Sedang dengan tulisan yang saya unggah murni hasil pemikiran saya sebagai sang penulis, mohon untuk tidak ditiru, disebar tanpa seizin, apalagi diakui. Penanda ini juga menyatakan bahwa adanya keterkaitan dalam penggunaaan bahasa kasar dalam perkataan, pembicaraan tanpa tujuan, LGBTQ. Bilamana Tuan ataupun Puan ialah termasuk kedalam populasi homophobia, polisi tata bahasa, serta tidak nyaman berada parit anyar ini dimohon untuk meninggalkan kanal kemudian jua mengeluarkan kula dari kanal yang dimiliki.
Sebuah frasa termaktub menjadi satu kalimat, biarlah kesempatan aksara berbicara 'tuk saat ini. Semesta sudah sakit mendengar cemohan dirinya yang meminta lebih. Untuk arunika yang saya puja mohon dengarkan permintaan maaf karena t'lah lancang menyatakan perasaan pada mu di sebrang sana. Ini dia, seorang putra dengan kelahiran warsa Duaribu yang selalu merayakan parade roman bertajuk kehilangan. Janardana Pancarona namanya.
Sang rajaswala, telah hilang rodra buang rudira demi asmaraloma yang diimpikan. Bagai lantunan dinding jiwa yang tak menentu waktunya, dirinya termangu di bawah garis gemintang malam redup. Risak rahsa menggerlap dari arah titik hilang. Andaikata engkau hendak bertanya, kemana sukma akan dibawa bersama, tak akan segan sang tuan menjawab gubahan kesedihan olehnya sebagai jawaban.
Konon katanya, bilur menciptakan malapetaka lokawigna dalam diri. Tirta airmata mendesir di antara dinding dinding vena sesaat setelah rudisa lama telah melantunkan padika akhir. Seandainya masygul menjadi harapan nuraga, justru pedar membara bagai rundung shyam. Bawalah anca anca hingga buana tak mampu membancang retisalya sampai tiba hari akhir. Saban waktu, ugem capai ufuk yang dipercayai akan again saban zaman.
Harsa rasa bersama cerahnya nabastala. Sinar bagaskara nan anindya memuat rumah rimpuh bagai daksa air tawar. Gelabah mega nan rumpang, padika ini adalah rupa retisalya. Aksa rimpuh ini, milik kita bersama, daksa anitya ini, milik kita bersama, diksi ini ada dalam sarayu shyam pada matrik kehidupan.
ㅤ
Segala perihal kehilanganmu merupakan melodi
duka ku, ialah alunan nada yang rancu tak berlagu.
Penaku bersorai kala kurangkap aksara dengan mahir
ia tuangkan mangsi ke atas kertas dan aku mulai
terpasung pada jeruji kisah kita.
Lagi-lagi kumelengung bersama iringan jangkrik
malam, lagi-lagi bantalku kehujanan air dari pelupuk
netra. Kita, ya? Apa kata yang pantas untuk kita?
Entahlah. Dahulu kita memang bersatu layaknya
potongan nada indah yang menyatu. Ya, itu dulu.
Sebelum kita menjadi potongan nada yang rancu; tak
menyatu.
Entah, aku tak tahu-menahu perihal itu.
Yang kutahu awalnya kita memang bersatu
lalu kini kita t'lah menjadi potongan nada
dengan melodi yang kini tak jelas letak arahnya.
Segala perihal kehilanganmu merupakan melodi
duka ku, ialah alunan nada yang rancu tak berlagu.
Penaku bersorai kala kurangkap aksara dengan mahir
ia tuangkan mangsi ke atas kertas dan aku mulai
terpasung pada jeruji kisah kita.
Lagi-lagi kumelengung bersama iringan jangkrik
malam, lagi-lagi bantalku kehujanan air dari pelupuk
netra. Kita, ya? Apa kata yang pantas untuk kita?
Entahlah. Dahulu kita memang bersatu layaknya
potongan nada indah yang menyatu. Ya, itu dulu.
Sebelum kita menjadi potongan nada yang rancu; tak
menyatu.
Entah, aku tak tahu-menahu perihal itu.
Yang kutahu awalnya kita memang bersatu
lalu kini kita t'lah menjadi potongan nada
dengan melodi yang kini tak jelas letak arahnya.
Untuk segala permainan yang t'lah dibuat dapat anda temui disini @AfiliasiKlausa.
ㅤ"Udara mana kini yang kau hirup? Hujan mana kini
yang kini kau peluk? Di mana pun kau kini, rindu
tentangmu tak pernah pergi."
Anitya asmaraloka buat hamba kini benci dengan
rindu, adikara semesta penyebab kau hirap dalam
saban hima kesengsaraan. Sekala tafakur tentang
takdir yang termaktub pada garis kehidupan buat
grahita luka dahsyat. Lekaslah datang, karena
penuntasnya adalah dirimu.
yang kini kau peluk? Di mana pun kau kini, rindu
tentangmu tak pernah pergi."
Anitya asmaraloka buat hamba kini benci dengan
rindu, adikara semesta penyebab kau hirap dalam
saban hima kesengsaraan. Sekala tafakur tentang
takdir yang termaktub pada garis kehidupan buat
grahita luka dahsyat. Lekaslah datang, karena
penuntasnya adalah dirimu.
Telegram
Perihal kata.
Channel name was changed to «Siulan cakrawala menggenggam menyairkan sepotong bait nada 'tuk jiwa tersesat.»
Channel name was changed to «Rahsa padika yang diabaikan, tergores lara dalam atma 'tak bertuan.»
The account of the user that owns this channel has been inactive for the last 5 months. If it remains inactive in the next 30 days, that account will self-destruct and this channel may no longer have an owner.

