This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⚠️TW // PLANE CRASH, PANIC ATTACKS⚠️

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀Lepas Landas


Minggu, 14 September 1990

Cahaya kemerah-merahan mulai tampak indah bagaikan aurora pada langit Asia. Matahari mulai menampakkan pesona dengan kilau binarnya. Pagi ini merupakan jadwal keberangkatan pesawat Soul Air HR-980. Burung besi itu akan lepas landas dengan waktu tempuh lima jam perjalanannya. Beberapa hari belakangan cuaca tak menentu dan menjadi kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi seluruh penerbangan serta para kru.

"Kapten Harris! Apakah ada kendala dibagian mesin pesawat?" tanya mekanik yang tampak gelisah karena keadaan pesawat yang sudah tua.

"Semua aman dan tidak ada kendala sedikitpun," ujar sang Kapten seraya mengacungkan jempolnya. Kapten Harris memang pilot yang sudah handal dalam dunia penerbangan. Sehingga, sang mekanik tidak ragu dengan ucapannya tanpa memeriksa keadaan mesin terlebih dahulu.

Setelah itu pesawat mulai diterbangkan dengan permulaan yang menjanjikan. Tetapi, jika melihat dari sudut kabin pesawat tampak ada yang ganjil. Tatapan penumpang dan aura sekitar begitu mencekam. Sorot terang dari lampu pesawat mulai redup dan menambah kesan suram. Perubahan situasi pada saat itu akan menjadi sebuah kisah kelam.

"Kita mengalami turbulensi yang cukup parah!" Kapten Harris cemas sembari terus mengontrol laju pesawatnya. Keadaan di dalam kapal terbang itu mulai hilang kendali. Kepakan sayapnya mulai tak beraturan sampai terdengar bunyi asing yang mengusir sunyi.

"Daritadi kita terus berputar-putar diatas udara Kapten! Apa yang harus kita lakukan?" Kapten Peter sangat panik ketika tekanan udara di dalam kabin terus menurun.

"Kita harus mendarat darurat! Beritahukan penumpang! Jarak pandang hanya tinggal 10 meter!" Kapten Harris mulai memerintahkan awak kabin untuk mengambil tindakan. Setelah itu, badan pesawat mulai tertarik kuat dan memasuki sebuah lubang hitam.

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⋆⋆⋆

Selasa, 14 September 2021

Pesawat berhasil mendarat setelah mengalami beberapa kendala yang tak terduga. Seluruh penumpang selamat dan terperangkap di sebuah pulau terpencil yang memiliki ragam satwa langka di dalamnya. Sang Pilot terus melakukan kontak dengan petugas bandara, tetapi hal itu sia-sia.

"Akhirnya kita kembali. Lantas, mengapa aku merasa ini hanyalah ilusi lintas dimensi?" tanya Kapten Harris dengan raut wajah kebingungan setelah mendaratkan pesawatnya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀EPILOG – DETAK DETIK

Sudah setahun berlalu semenjak kepergian Arisa untuk mengejar angannya. Meskipun lama tak berjumpa Arthelio tetap mengharapkan kembalinya Arisa ke dalam dekap eratnya. Tubuh ringkih itu terus menantikan hangat peluknya. Pemuda dengan lekuk tampan diwajahnya itu hanya bisa menyerah dan pasrah dengan keadaan yang memasung raganya. Memang torehan takdir manusia tidak pernah salah dan tidak ada yang bisa merubah. Kecuali, jika si pemilik takdir bisa membidik tepat pada sasaran panahnya.

Pada saat itu matahari telah berada tepat di atas kepala yang menandakan jika pagi telah berganti dengan batang hari. Melihat dari arah yang berlawanan dengan pusat Jam Gadang, tampak sepasang kaki yang melangkah kecil ke arah seorang seniman yang sedang memegang kuas dan kanvas tepat di depan pandangannya. Kemudian, suatu hal yang tak disangka pun terjadi.

Byurrr ....

Byurrr ....

Byurrr ....


Sepasang manik itu membulat tajam dan menatap tak suka ke arah lawan bicaranya. Semburat merah karena amarah terpampang jelas pada raut wajahnya. Ia tidak pernah menduga jika jerih payah yang selama ini ia usahakan jadi terbuang tak berguna akibat ulah kekasihnya. Namun, sebelum Arthelio berpindah ke tempat lain untuk menyelesaikan lukisannya, tangannya ditahan terlebih dahulu oleh Zira.

"Kalau lo belum bisa berdamai sama masa lalu, lebih baik lo balik lagi sama dia," ujar Zira sembari merapikan kekacauan yang terjadi akibat ulahnya. Ia kemudian memberanikan diri untuk menatap mata kekasihnya.

"Terserah! Gua benci sama lo Zira!" bentak Arthelio dengan nada yang meninggi di ujung kalimatnya.

⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⋆⋆⋆

Di tempat yang berbeda dari sebelumnya Arthelio kembali memulai goresan penuh warna itu dari awal. Disela kegiatannya tampak remang bayang masa lalu yang semakin jelas tertangkap oleh indra. Sosok itu semakin mendekat ke arahnya dengan membawa sebuah koper ditangannya.

"Arthelio!" teriak Arisa dari kejauhan dengan suara yang lantang sampai burung merpati di sekitar beterbangan.

"Arisa? Kamu kembali? Ini beneran kamu kan?" tanya Arthelio tidak percaya dengan yang baru saja dilihatnya. Pandangannya sontak terpaku pada satu arah, tanpa sadar cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Kemudian, ia memeluk tubuh kecil itu seperti tidak ingin membiarkannya pergi lagi.

"Tapi dia gimana?" tanya Arisa.

"Aku gak punya rasa sama dia dan aku dipaksa pacaran. Ayahku mau aku berhenti buat mikirin kamu tapi di dalam hati dan pikiranku cuma ada kamu," ucap Arthelio sembari menahan sesak di dadanya.

"Aku sudah putus sama dia. Semua orang selalu menilai dan memaksakan kehendak mereka. Aku cuma ingin bebas sama kamu dan tolong balik lagi Arisa. Aku mohon ...," lirih Arthelio sembari memeluknya lebih erat dengan air mata yang terus mengalir deras.

"Semua orang bisa menilai dan menghitung kesalahan dengan jari mereka. Tetapi, mereka tidak bisa mengenal sebaik dirimu sendiri, Arthelio."

END.

Dipublikasikan pada
Kamis, 14 Oktober 2021
oleh
#Art.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⠀⠀⠀⠀ When everything suddenly turns gray, but i know you’ll be the one who painting me.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Ladies and Gentlemen, we like to presents to you. Painting Art (@HeartBleeding) & Art (@DropsNectar) x Monochrome.

The masterpiece with thousands colourful words can bright up your world. Feast your eyes on wonderful story we will showing off. Private exhibiton made with love limited only for you. Scribbles and hard work we have created the masterpiece itself. A new page has been opened, color the next page with a beautiful color. Let us paint your gray life, so that you know if your life is full of color and meaning.

Now Playing - Monokrom by Tulus.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
HanjorenGenjrengGitar
Hanjoren
⚠️ Not mine, Credit to youtube by Guus Music.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM