Malam ini terasa sepi… terlalu sepi tanpa kamu di sini.
Aku bersandar pelan, menarik napas panjang.
“Kenapa setiap kali malam datang…” gumamku lirih,
“aku malah semakin merindukan sentuhanmu?”
Bayanganmu mendekat di pikiranku—
tanganmu yang dulu menyentuhku dengan pelan,
membuat tubuhku merinding tanpa alasan.
Aku menutup mata sebentar.
“Kalau kamu ada di sini sekarang…”
mungkin aku sudah menarikmu lebih dekat,
hanya untuk merasakan lagi belaianmu yang hangat
yang selalu membuatku sulit tenang
Aku bersandar pelan, menarik napas panjang.
“Kenapa setiap kali malam datang…” gumamku lirih,
“aku malah semakin merindukan sentuhanmu?”
Bayanganmu mendekat di pikiranku—
tanganmu yang dulu menyentuhku dengan pelan,
membuat tubuhku merinding tanpa alasan.
Aku menutup mata sebentar.
“Kalau kamu ada di sini sekarang…”
mungkin aku sudah menarikmu lebih dekat,
hanya untuk merasakan lagi belaianmu yang hangat
yang selalu membuatku sulit tenang
❤2
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Napasnya terasa hangat di telingaku.
Jarinya mencengkeram punggungku tanpa sadar—
kuku-kukunya meninggalkan garis tipis yang panas di kulitku.
Aku menahan napas.
Perihnya ada… tapi anehnya justru membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Sentuhannya semakin erat, dan tubuhku hanya bisa diam merasakan setiap detiknya.
Di kepalaku hanya ada satu pikiran yang berulang—
kenapa rasa perih itu terasa begitu… memabukkan
Jarinya mencengkeram punggungku tanpa sadar—
kuku-kukunya meninggalkan garis tipis yang panas di kulitku.
Aku menahan napas.
Perihnya ada… tapi anehnya justru membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Sentuhannya semakin erat, dan tubuhku hanya bisa diam merasakan setiap detiknya.
Di kepalaku hanya ada satu pikiran yang berulang—
kenapa rasa perih itu terasa begitu… memabukkan
❤2
Kau berdiri di depanku dengan tenang, seolah tahu persis apa yang sedang kau lakukan.
Perlahan… kau membuka kain itu sendiri, sengaja, sedikit demi sedikit.
Bukan terburu-buru, seolah setiap gerakan memang ingin diperlihatkan.
Seberkas kulitmu muncul di bawah cahaya yang lembut—halus, hangat, hampir membuatku lupa bernapas sejenak.
Kau tidak membuka semuanya.
Hanya cukup… untuk membuat mataku mengikuti setiap gerakan tanganmu.
Ada sesuatu yang memikat dalam caramu melakukannya—
tenang, pelan, seakan tahu bahwa keindahan sebenarnya ada pada bagaimana kau memperlihatkannya sedikit demi sedikit.
Dan aku hanya bisa diam di sana…
terpaku pada setiap inci kulitmu yang kau pilih untuk tunjukkan.
Perlahan… kau membuka kain itu sendiri, sengaja, sedikit demi sedikit.
Bukan terburu-buru, seolah setiap gerakan memang ingin diperlihatkan.
Seberkas kulitmu muncul di bawah cahaya yang lembut—halus, hangat, hampir membuatku lupa bernapas sejenak.
Kau tidak membuka semuanya.
Hanya cukup… untuk membuat mataku mengikuti setiap gerakan tanganmu.
Ada sesuatu yang memikat dalam caramu melakukannya—
tenang, pelan, seakan tahu bahwa keindahan sebenarnya ada pada bagaimana kau memperlihatkannya sedikit demi sedikit.
Dan aku hanya bisa diam di sana…
terpaku pada setiap inci kulitmu yang kau pilih untuk tunjukkan.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Aku menatapmu berbaring di bawahku. Cahaya redup menangkap lekuk-lekuk tubuhmu yang menggigil pelan. Ada sebuah kanvas di depan mataku, dan aku berniat untuk menikmatinya dengan sabar.
Napasku sengaja kudekatkan ke perutmu. Kau menarik napas pendek, dan senyum kecil muncul di sudut bibirku. Perlahan, kulakukan ini.
Ujung lidahku menyentuh kulitmu tepat di bawah pusarmu. Hangat. Sedikit asin. *Rasa garammu.*
Bukan sekadar sentuhan. Aku ingin merasakan segala sesuatu. Aku mengulurkan lidah lebih lebar, mendatar, dan menelusuri permukaan kulitmu yang halus dari bawah pusar hingga ke tulang rusuk terendah. Aku melakukannya dengan sangat pelan, menikmati cara tubuhmu bergidik di bawahku, merasakan otot perutmu menegang.
Kau mendesah pelan, dan suaramya seperti bahan bakar bagiku.
Aku berpindah. Sekarang ke bagian samping tubuhmu, tempat yang sering kali luput. Lidahku menjelajah dengan tekun, seolah ingin menghafal setiap pori-pori. Kuberikan tekanan yang berbeda—kadang hanya sentuhan ringan bagai bulu, kadang lebih dalam, lebih basah, meninggalkan jejak yang akan terasa sejuk oleh angin malam.
Mataku tak pernah meninggalkan wajahmu. Aku menatap bagaimana kelopak matamu menutup rapat, bagaimana bibirmu terkatup, menahan segala sensasi yang kau rasa. Aku tahu ini membuatmu lemas. Aku tahu ini membuatmu ingin lebih banyak.
Dan yang terpenting, aku tahu… kita baru saja mulai.
Napasku sengaja kudekatkan ke perutmu. Kau menarik napas pendek, dan senyum kecil muncul di sudut bibirku. Perlahan, kulakukan ini.
Ujung lidahku menyentuh kulitmu tepat di bawah pusarmu. Hangat. Sedikit asin. *Rasa garammu.*
Bukan sekadar sentuhan. Aku ingin merasakan segala sesuatu. Aku mengulurkan lidah lebih lebar, mendatar, dan menelusuri permukaan kulitmu yang halus dari bawah pusar hingga ke tulang rusuk terendah. Aku melakukannya dengan sangat pelan, menikmati cara tubuhmu bergidik di bawahku, merasakan otot perutmu menegang.
Kau mendesah pelan, dan suaramya seperti bahan bakar bagiku.
Aku berpindah. Sekarang ke bagian samping tubuhmu, tempat yang sering kali luput. Lidahku menjelajah dengan tekun, seolah ingin menghafal setiap pori-pori. Kuberikan tekanan yang berbeda—kadang hanya sentuhan ringan bagai bulu, kadang lebih dalam, lebih basah, meninggalkan jejak yang akan terasa sejuk oleh angin malam.
Mataku tak pernah meninggalkan wajahmu. Aku menatap bagaimana kelopak matamu menutup rapat, bagaimana bibirmu terkatup, menahan segala sensasi yang kau rasa. Aku tahu ini membuatmu lemas. Aku tahu ini membuatmu ingin lebih banyak.
Dan yang terpenting, aku tahu… kita baru saja mulai.
❤4❤🔥2🔥2
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Aku menatapmu berbaring di bawahku, pasrah. Nafasmu masih tersengal, dan tatapamu yang gelap memberiku semua izin yang kuperlu.
Dengan perlahan, aku menunduk. Kulitmu hangat dan beraroma khas. Lidahku menyapunya untuk pertama kali, perlahan, dari pangkal lehermu yang berdenyut hingga ke bawah telingamu. Kau menggeliat pelan, sebuah erangan rendah terlepas dari bibirmu.
Aku terus menjelajah. Setiap jilatanku sengaja dan penuh hasrat, menelusuri setiap lekuk tulang selangkamu, merasakan gemetar halus yang kau coba tahan. Aku ingin mencicipi setiap bagian.
Kau mengangkat lengan, memberikan akses lebih. Aku menerimanya dengan senang hati, menjilat area sensitif di ketiakmu, lalu kembali ke dadamu. Kau meraih rambutku, mendorong kepalamu lebih dekat, dan aku tahu kau sudah tenggelam dalam sensasi ini.
“Rasakan,” bisikku kasar di kulitmu yang basah. “Rasakan setiap jilatanku.”
Aku terus mempermainkanmu dengan lidahku, sampai kau hanya bisa merintih, sepenuhnya milikku.
Dengan perlahan, aku menunduk. Kulitmu hangat dan beraroma khas. Lidahku menyapunya untuk pertama kali, perlahan, dari pangkal lehermu yang berdenyut hingga ke bawah telingamu. Kau menggeliat pelan, sebuah erangan rendah terlepas dari bibirmu.
Aku terus menjelajah. Setiap jilatanku sengaja dan penuh hasrat, menelusuri setiap lekuk tulang selangkamu, merasakan gemetar halus yang kau coba tahan. Aku ingin mencicipi setiap bagian.
Kau mengangkat lengan, memberikan akses lebih. Aku menerimanya dengan senang hati, menjilat area sensitif di ketiakmu, lalu kembali ke dadamu. Kau meraih rambutku, mendorong kepalamu lebih dekat, dan aku tahu kau sudah tenggelam dalam sensasi ini.
“Rasakan,” bisikku kasar di kulitmu yang basah. “Rasakan setiap jilatanku.”
Aku terus mempermainkanmu dengan lidahku, sampai kau hanya bisa merintih, sepenuhnya milikku.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM