Oke Antihistamin, aku serahkan tugas ini kepadamu
Have a nice dream
Have a nice dream
Sebagian websiteku lumpuh total ges, tapi ini cuma sementara, kalau Cloudflare udah pulih, semua websiteku juga pulih
Cloudflare sudah selesai memulihkan sebagian besar node. Sebagian besar website sudah accessible
This media is not supported in the widget
VIEW IN TELEGRAM
Aldi's Another World π«
This media is not supported in the widget
VIEW IN TELEGRAM
π¨Indian govt. orders WhatsApp, Telegram & other platforms to ensure that their services cannot be used unless the user has an active SIM card in their device.
And to log out web-based chat sessions every six hours.
Β©οΈ @Memers_Gallery
Meanwhile
π¨ Indonesian govt. orders Cloudflare, ChatGPT, Wikipedia & other platforms to ensure that their services cannot be used unless their services registered in Electronic System Organizer also known as (PSE).
And to block all services if not registered until the end of November.
And to log out web-based chat sessions every six hours.
Β©οΈ @Memers_Gallery
Meanwhile
π¨ Indonesian govt. orders Cloudflare, ChatGPT, Wikipedia & other platforms to ensure that their services cannot be used unless their services registered in Electronic System Organizer also known as (PSE).
And to block all services if not registered until the end of November.
Telegram
Memers Gallery β’
π¨Indian govt. orders WhatsApp, Telegram & other platforms to ensure that their services cannot be used unless the user has an active SIM card in their device.
And to log out web-based chat sessions every six hours.
Β©οΈ @Memers_Gallery
And to log out web-based chat sessions every six hours.
Β©οΈ @Memers_Gallery
ββββββββββββ
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
π Peacemaker
Finishing the game with less elimitanion
Finishing the game with less elimitanion
Happy New Year, guys! π
Terima kasih, 2025, untuk semua pelajaran dan pengalaman yang kamu bawa.
Semua rasa sakit itu aku terima, bukan untuk disesali, tapi untuk dipelajari.
Donβt worry, 2025, I donβt hate you.
Instead, I appreciate you⦠and yes, in my own way, *I love you.*
Welcome, 2026! β¨
Ayo kita mulai perjalanan ini dengan semangat baru dan hati yang lebih lapang.
Maaf kalau aku masih membawa beberapa luka dan kekurangan dari 2025,
tapi aku tidak akan membuangnya.
Aku akan mengubahnya menjadi kekuatan, pelajaran, dan pengingat
agar aku bisa tumbuh lebih baik.
Ayo kita tumbuh bersama.
Kita warnai 2026 dengan keberanian, harapan, dan semangat yang lebih jujur.
Semoga di tahun 2026,
semua yang sedang tertimpa musibah diberikan kemudahan,
diringankan bebannya, dan diselesaikan urusannya.
Aamiin π€
Terima kasih, 2025, untuk semua pelajaran dan pengalaman yang kamu bawa.
Semua rasa sakit itu aku terima, bukan untuk disesali, tapi untuk dipelajari.
Donβt worry, 2025, I donβt hate you.
Instead, I appreciate you⦠and yes, in my own way, *I love you.*
Welcome, 2026! β¨
Ayo kita mulai perjalanan ini dengan semangat baru dan hati yang lebih lapang.
Maaf kalau aku masih membawa beberapa luka dan kekurangan dari 2025,
tapi aku tidak akan membuangnya.
Aku akan mengubahnya menjadi kekuatan, pelajaran, dan pengingat
agar aku bisa tumbuh lebih baik.
Ayo kita tumbuh bersama.
Kita warnai 2026 dengan keberanian, harapan, dan semangat yang lebih jujur.
Semoga di tahun 2026,
semua yang sedang tertimpa musibah diberikan kemudahan,
diringankan bebannya, dan diselesaikan urusannya.
Aamiin π€
Tanggal : 10 Januari 2026
Mood : Senang
Situasi : Stabil
Lanjut besok..
Mood : Senang
Situasi : Stabil
Lanjut besok..
Halo, aku mau jurnaling sebentar π
Siapkan camilan karena mungkin teks kali ini akan sangat panjang
Tanggal : 11 Januari 2026
Mood : Tenang
Situasi : Stabil
Malam yang seharusnya sunyi ini aku habiskan untuk bertanya kenapa dan bagaimana, mencari alasan tentang perasaanku yang akhir-akhir ini terasa berat, aku mau menyebutnya stres tapi seperti ada sisi yang menolaknya, seakan-akan ada sesuatu yang sedang mengendalikanku dan tidak ingin identitasnya terbongkar...
Meskipun situasiku sekarang stabil, tidak merasa emosiku berat lagi, tapi ada efek tertentu yang entah diakibatkan oleh stres ini atau oleh kondisi psikis lainnya... Entahlah sejak sepulang PKL aku baru menyadari bahwa aku mengalami beberapa halusinasi dan disosiasi, tidak terlalu parah dalam situasinya.. aku sebenarnya khawatir kalau ini akan memburuk...
Jujur, aku tidak bisa menyangkal kalau awal mula aku begini tuh sudah sangat lama, dimulai dari aku yang paranoid mengenai hubunganku dengan Dila yang khawatir melanggar beberapa kode etik, aku jadi memberikan banyak sekali batasan ... Dan jujur kejadian itu sangat traumatik karena ini benar-benar baru pertama kalinya aku memiliki hubungan spesial begini dengan perempuan... aku harap setelah kejadian itu, kami tidak apa-apa dan masih bisa menjalani hari-harinya dengan normal.
Sesuai harapan, setelah aku memutuskan untuk tidak terlalu peduli, akupun bisa memulai obrolan normal seperti biasanya, dengan batasan yang sama seperti hari sebelum kejadian itu hadir... Hanya saja, aku masih dalam kondisi shock akan kejadian itu dan berlangsung sangat lama .. bahkan sampai saat ini aku masih agak terpikirkan oleh hal itu..
Setelah kejadian ini, sifat masing-masing jadi sedikit berubah, kami mulai saling menutup diri meskipun tidak banyak, tapi efeknya benar-benar terasa oleh orang sensitif seperti aku... Rasanya Dila bukan lagi tempat aman untuk aku jujur mengutarakan isi hati aku.. padahal dia sendiri yang memintanya tapi aku merasa tidak aman lagi....
Tapi sering berjalannya waktu, aku mulai mengalami penurunan kemampuan pengelolaan emosi... Aku memang sudah sejak awal kurang nyaman dengan sifat Dila yang sering terpengaruh oleh teman-temannya, tapi di bulan November itu.. ada banyak sekali tekanan.. yang membuat penampung emosiku bocor..
Di bulan Oktober akhir sampai November awal, tekanan akademik sangat banyak, TKA yang dadakan dan dilaksanakan saat PKL sedang sangat Chaotic... Aku cuma bisa pasrah dan melakukan TKA sesuai kemampuan aku tanpa belajar sama sekali, mengerjakan TKA dengan hati yang hanya punya sedikit harapan, yang menjadi kunci satu-satunya saat itu adalah logika dalam otakku.. aku serahkan semuanya ke logika, penalaran, dan reasioning ...
Diperburuk oleh banyaknya tagihan di bulan Oktober akhir yang membuatku agak tertekan, kala itu aku benar-benar merasa seperti tidak bisa lagi mengatur jadwal apapun .. dan tau apa? Aku ulang tahun tanggal 3 November dirayakan oleh dimulainya TKA hari pertama.. benar-benar ekspektasiku dihancurkan begitu saja ..
Yang bisa aku lakukan hanya memotivasi diri sendiri dengan berkata "gapapa, TKA ini hadiah ulang tahun terbaik loh" berulang-kali sampai aku merasa ... Bisa menerima.. Ya, aku bisa menerima tapi mengalami down signifikan yang sampai membuatku merasa tidak nyaman dengan obrolan manis... rasa semangat dari Dila mulai pudar.. Responku mulai berbeda.
Bulan Desember, disitu aku mulai merasa makin sesak, tidak kuat dengan semua yang terjadi, merasa semua ini seharusnya tidak terjadi... Perasaan defensif mulai muncul, penyesalan mulai tampil, rasa kecewa mulai menempati panggung utama .. awalnya aku cuma mulai jujur tentang ketidaknyamanan aku dengan sifatnya yang seakan-akan selalu mengikuti sifat teman-temannya
Siapkan camilan karena mungkin teks kali ini akan sangat panjang
Tanggal : 11 Januari 2026
Mood : Tenang
Situasi : Stabil
Malam yang seharusnya sunyi ini aku habiskan untuk bertanya kenapa dan bagaimana, mencari alasan tentang perasaanku yang akhir-akhir ini terasa berat, aku mau menyebutnya stres tapi seperti ada sisi yang menolaknya, seakan-akan ada sesuatu yang sedang mengendalikanku dan tidak ingin identitasnya terbongkar...
Meskipun situasiku sekarang stabil, tidak merasa emosiku berat lagi, tapi ada efek tertentu yang entah diakibatkan oleh stres ini atau oleh kondisi psikis lainnya... Entahlah sejak sepulang PKL aku baru menyadari bahwa aku mengalami beberapa halusinasi dan disosiasi, tidak terlalu parah dalam situasinya.. aku sebenarnya khawatir kalau ini akan memburuk...
Jujur, aku tidak bisa menyangkal kalau awal mula aku begini tuh sudah sangat lama, dimulai dari aku yang paranoid mengenai hubunganku dengan Dila yang khawatir melanggar beberapa kode etik, aku jadi memberikan banyak sekali batasan ... Dan jujur kejadian itu sangat traumatik karena ini benar-benar baru pertama kalinya aku memiliki hubungan spesial begini dengan perempuan... aku harap setelah kejadian itu, kami tidak apa-apa dan masih bisa menjalani hari-harinya dengan normal.
Sesuai harapan, setelah aku memutuskan untuk tidak terlalu peduli, akupun bisa memulai obrolan normal seperti biasanya, dengan batasan yang sama seperti hari sebelum kejadian itu hadir... Hanya saja, aku masih dalam kondisi shock akan kejadian itu dan berlangsung sangat lama .. bahkan sampai saat ini aku masih agak terpikirkan oleh hal itu..
Setelah kejadian ini, sifat masing-masing jadi sedikit berubah, kami mulai saling menutup diri meskipun tidak banyak, tapi efeknya benar-benar terasa oleh orang sensitif seperti aku... Rasanya Dila bukan lagi tempat aman untuk aku jujur mengutarakan isi hati aku.. padahal dia sendiri yang memintanya tapi aku merasa tidak aman lagi....
Tapi sering berjalannya waktu, aku mulai mengalami penurunan kemampuan pengelolaan emosi... Aku memang sudah sejak awal kurang nyaman dengan sifat Dila yang sering terpengaruh oleh teman-temannya, tapi di bulan November itu.. ada banyak sekali tekanan.. yang membuat penampung emosiku bocor..
Di bulan Oktober akhir sampai November awal, tekanan akademik sangat banyak, TKA yang dadakan dan dilaksanakan saat PKL sedang sangat Chaotic... Aku cuma bisa pasrah dan melakukan TKA sesuai kemampuan aku tanpa belajar sama sekali, mengerjakan TKA dengan hati yang hanya punya sedikit harapan, yang menjadi kunci satu-satunya saat itu adalah logika dalam otakku.. aku serahkan semuanya ke logika, penalaran, dan reasioning ...
Diperburuk oleh banyaknya tagihan di bulan Oktober akhir yang membuatku agak tertekan, kala itu aku benar-benar merasa seperti tidak bisa lagi mengatur jadwal apapun .. dan tau apa? Aku ulang tahun tanggal 3 November dirayakan oleh dimulainya TKA hari pertama.. benar-benar ekspektasiku dihancurkan begitu saja ..
Yang bisa aku lakukan hanya memotivasi diri sendiri dengan berkata "gapapa, TKA ini hadiah ulang tahun terbaik loh" berulang-kali sampai aku merasa ... Bisa menerima.. Ya, aku bisa menerima tapi mengalami down signifikan yang sampai membuatku merasa tidak nyaman dengan obrolan manis... rasa semangat dari Dila mulai pudar.. Responku mulai berbeda.
Bulan Desember, disitu aku mulai merasa makin sesak, tidak kuat dengan semua yang terjadi, merasa semua ini seharusnya tidak terjadi... Perasaan defensif mulai muncul, penyesalan mulai tampil, rasa kecewa mulai menempati panggung utama .. awalnya aku cuma mulai jujur tentang ketidaknyamanan aku dengan sifatnya yang seakan-akan selalu mengikuti sifat teman-temannya
Tapi... Ada satu hal yang belum aku bilang di beberapa paragraf sebelumnya, tentang kami udah hampir 2 bulan ga ketemuan sama-sekali, saling rindu satu-sama lain, tapi setiap hampir bertemu selalu gagal karena hal-hal yang acak.. dan rasa rindu ini sangat besar buatku, selain karena memang sudah lama tidak bertemu... Aku juga tidak memiliki teman-teman supportif dan selalu hadir setidaknya saat aku benar-benar butuh.. atau setidaknya yang bisa membuatku tertawa saat aku down..
Rasa rindu ini semakin lama semakin menyakitkan, dan di hari itu... Tepatnya tanggal 27 Desember adalah puncaknya... Rasa rindu berada di level tertinggi, merasa sangat sekali ingin bertemu, detak jantung bahagia dan gugup sangat kuat, menunggu dari pagi tapi ternyata ada kabar yang.. aku tidak tunggu sama sekali..
Pagi itu... Ternyata aku tidak bisa bertemu Dila (lagi), karena hari itu Dila harus keluar bersama temannya... Aku bukan mau egois, tapi ekspektasiku sudah sangat tinggi kala itu, sudah benar-benar merasa senang dan tidak sabar untuk bisa bertemu.. tapi ternyata pertemuan itu kembali menjadi harapan yang hampa... Satu lagi 'kegagalan' kecil yang berimbas besar padaku.
Seketika aku down sedalam-dalamnya, aku hancur seakan-akan aku baru saja kehilangan hal yang paling aku cintai... Bukan drama, dan tidak dilebih-lebihkan, efeknya masih terasa sampai detik ini, meskipun sudah membaik setidaknya sejak kemairn ... Di hari itu aku langsung menghilang tanpa jejak, tidak memberi kabar atau petunjuk apapun aku kemana, hanya melihat statusnya yang mengupdate kesenangan dia dengan teman-temannya dan melihat Chat dari Dila muncul terus menerus tanpa aku respon, dalam rasa kecewa itu aku langsung bermain game free fire untuk melepaskan semua rasa kecewa ini...
Seharian aku tidak menjawab dan hanya memberi kabar bahwa aku sedang tidak bisa bicara β satu kabar terakhir di hari itu. Beberapa hari setelahnya aku benar-benar tidak tahan, akhirnya aku bicara jujur ke Dila tapi memang dengan nada yang tidak terlalu serius, bahkan terdengar seperti aku sedang menunjukkan tingkah random dan kekanakanku...
Dengan kalimat-kalimat yang secara harfiah terlihat seakan-akan aku sedang mengatakan sebuah kalimat yang lucu β bukan lawakan, bukan celotehan, tapi hal yang tidak bisa diduga-duga, yang membuat orang berpikir "loh, kok bisa?" membuka pandangan yang membuat hati seseorang merasa geli dan tidak menyangka... respon dila yang terlihat "salting" membuat hati aku antara merasa senang dan berkata "lucu banget" dengan merasa "kenapa harus begini..."
Hari itu aku juga tidak menyangka respon dia begitu, itu membuatku merasa sepertinya ini cukup, aku tidak boleh lagi tenggelam dalam rasa kecewa ini.. tapi sayangnya jejak emosional itu tidak akan bisa dihapus... setiap melihat Dila chat, rasanya berat sekali untuk menjawabnya.. berkali-kali aku sudah membacanya tapi membutuhkan banyak waktu untuk mulai menjawabnya...
Aku tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya, tidak juga menyalahkan temannya, dan tidak juga menyalahkan waktu, tapi juga aku tidak bisa menyalahkan diri sendiri... tapi memang salahnya ada pada diriku sendiri, aku menaruh ekspetasi terlalu tinggi di hari itu, aku terlalu bersemangat untuk bertemu dila, sehingga saat gagal... akupun terjatuh dengan sangat keras dan lepas
Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ini aku berubah sangat drastis, tidak lagi romantis, jarang menggunakan kata-kata manis, bahkan beberapa minggu kebelakang... tidak ada satupun kata-kata manis, hanya permintaan maaf dan kejujuran, atau bahkan aku sangat jarang menjawab pesannya
Sampai-sampai di tanggal 9 Januari kemarin... hanya ada 18 bubble chat keseluruhan respon aku dan dila (obrolan penuh dalam sehari), obrolan yang memiliki jarak waktu jawaban yang sangat jauh.. dan jumlah jam dihabiskan sangat sedikit
Rasa rindu ini semakin lama semakin menyakitkan, dan di hari itu... Tepatnya tanggal 27 Desember adalah puncaknya... Rasa rindu berada di level tertinggi, merasa sangat sekali ingin bertemu, detak jantung bahagia dan gugup sangat kuat, menunggu dari pagi tapi ternyata ada kabar yang.. aku tidak tunggu sama sekali..
Pagi itu... Ternyata aku tidak bisa bertemu Dila (lagi), karena hari itu Dila harus keluar bersama temannya... Aku bukan mau egois, tapi ekspektasiku sudah sangat tinggi kala itu, sudah benar-benar merasa senang dan tidak sabar untuk bisa bertemu.. tapi ternyata pertemuan itu kembali menjadi harapan yang hampa... Satu lagi 'kegagalan' kecil yang berimbas besar padaku.
Seketika aku down sedalam-dalamnya, aku hancur seakan-akan aku baru saja kehilangan hal yang paling aku cintai... Bukan drama, dan tidak dilebih-lebihkan, efeknya masih terasa sampai detik ini, meskipun sudah membaik setidaknya sejak kemairn ... Di hari itu aku langsung menghilang tanpa jejak, tidak memberi kabar atau petunjuk apapun aku kemana, hanya melihat statusnya yang mengupdate kesenangan dia dengan teman-temannya dan melihat Chat dari Dila muncul terus menerus tanpa aku respon, dalam rasa kecewa itu aku langsung bermain game free fire untuk melepaskan semua rasa kecewa ini...
Seharian aku tidak menjawab dan hanya memberi kabar bahwa aku sedang tidak bisa bicara β satu kabar terakhir di hari itu. Beberapa hari setelahnya aku benar-benar tidak tahan, akhirnya aku bicara jujur ke Dila tapi memang dengan nada yang tidak terlalu serius, bahkan terdengar seperti aku sedang menunjukkan tingkah random dan kekanakanku...
Dengan kalimat-kalimat yang secara harfiah terlihat seakan-akan aku sedang mengatakan sebuah kalimat yang lucu β bukan lawakan, bukan celotehan, tapi hal yang tidak bisa diduga-duga, yang membuat orang berpikir "loh, kok bisa?" membuka pandangan yang membuat hati seseorang merasa geli dan tidak menyangka... respon dila yang terlihat "salting" membuat hati aku antara merasa senang dan berkata "lucu banget" dengan merasa "kenapa harus begini..."
Hari itu aku juga tidak menyangka respon dia begitu, itu membuatku merasa sepertinya ini cukup, aku tidak boleh lagi tenggelam dalam rasa kecewa ini.. tapi sayangnya jejak emosional itu tidak akan bisa dihapus... setiap melihat Dila chat, rasanya berat sekali untuk menjawabnya.. berkali-kali aku sudah membacanya tapi membutuhkan banyak waktu untuk mulai menjawabnya...
Aku tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya, tidak juga menyalahkan temannya, dan tidak juga menyalahkan waktu, tapi juga aku tidak bisa menyalahkan diri sendiri... tapi memang salahnya ada pada diriku sendiri, aku menaruh ekspetasi terlalu tinggi di hari itu, aku terlalu bersemangat untuk bertemu dila, sehingga saat gagal... akupun terjatuh dengan sangat keras dan lepas
Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ini aku berubah sangat drastis, tidak lagi romantis, jarang menggunakan kata-kata manis, bahkan beberapa minggu kebelakang... tidak ada satupun kata-kata manis, hanya permintaan maaf dan kejujuran, atau bahkan aku sangat jarang menjawab pesannya
Sampai-sampai di tanggal 9 Januari kemarin... hanya ada 18 bubble chat keseluruhan respon aku dan dila (obrolan penuh dalam sehari), obrolan yang memiliki jarak waktu jawaban yang sangat jauh.. dan jumlah jam dihabiskan sangat sedikit
Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku sangat tertekan, merasa sangat buruk, dan sampai aku merasa anti sosial... responku semakin lama semakin dingin, tidak ada emosi terpancar di wajahku, datar seakan-akan aku tidak memiliki ekspresi, hanya ada mata dengan tatapan kosong dan seorang siswa PKL yang mengerjakan tugas PKLnya tanpa mengharapkan apapun..
Aku cuma bisa melakukan semua kesibukan dan pekerjaan tanpa aku memiliki kesempatan untuk refleksi, bukan tidak ada waktu tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk itu, perasaan pasrah yang sangat dalam itu membuatku tenggelam dalam setiap pekerjaan, perasaan yang mati kala itu membuatku produktif tapi menyiksa
Aku tidak bisa merasakan emosi kala itu, sehingga segalanya terasa biasa saja, membosankan, dan sangat tidak bermakna. Aku sudah lupa hari-hari itu, padahal baru 2 atau 3 hari yang lalu, terasa sudah sangat jauh karena kemarin aku sudah mulai bisa memperbaiki respon, sampai hari ini aku bisa mengobrol ringan dengan dia,
Tapi responku belum kembali seperti sebelum bulan Oktober 2025, masih dingin dan masih terbatas, masih slow respon karena aku masih merasakan luka itu.,... Aku tidak ingin terlihat paling tersakiti atau paling terluka, tapi aku biasanya bisa sembuh kalau beban itu sudah sangat-sangat kacau, yang membuatku hampir berakhir bunuh diri, selalu setiap hampir begitu aku akan langsung bangkit... energi daruratku memang selalu aktif saat kejatuhan hampir menyelesaikan hidup aku.
Terdengar seperti keajaiban, tapi sesungguhnya ini sangat logis dan bisa dijelaskan ilmiah, aku lupa bagaimana penjelasannya tapi yang pasti, aku selalu bangkit saat aku benar-benar hampir selesai, itu yang membuat orang-orang tidak percaya kalau aku stres, yang membuat orang-orang melihatku kuat, padahal itu cuma energi darurat yang secara paksa memutus stress itu, bukan dibersihkan tapi dipendam dan ditutupi.
Hari ini aku bisa mengobrol dengan dia, itu satu progress yang sangat besar setelah semua kejatuhan yang hampir membuat broke up ini. Tapi ada satu hal yang masih berdampak negatif... Aku masih merasa kecewa dan sakit, membuatku tidak pernah bisa memulai chat dengan Siapapun.
Satu poin negatif dan penting tentang hari-hari ini... Dila menahan diri untuk mengirim pesan kepadaku, aku yakin dia akan beralasan 'takut mengganggu atau terkesan memaksa', tapi aku juga sadar kalau dia mengirim pesan kepadaku pasti otomatis membuka harapan baru dan ekspektasi untuknya... Yang dimana ekspektasi itu belum bisa terpenuhi olehku.
Tapi kalau dia terus begitu, aku juga makin sulit untuk mengobrol dengannya, karena aku belum sembuh sama sekali... Aku cuma beradaptasi dengan kondisi ini, bukan sembuh... Semua proses ini aku lakukan agar aku bisa berdamai dengan kondisi ini, sekaligus memberiku batasan dalam berharap mengenai apapun tentang relationship
Kalau Dila terus-menerus diam dan menahan diri untuk mengirim pesan kepadaku... Peluang obrolan kami akan berkurang sangat drastis, karena di fase ini... Aku tidak menempatkan seseorang termasuk Dila dalam sisi prioritas, sehingga ada kemungkinan sangat besar satu hari itu tidak ada obrolan sama sekali
Perlu dicatat bahwa aku belum sembuh sama sekali, jadi chance aku bisa memulai obrolan terhitung sangat kecil, mengingat aku juga seorang Introvert yang cenderung payah dalam berbicara duluan, dengan posisi Dila saat ini... Berpotensi membuat kami semakin jauh karena komunikasi semakin berkurang....
Aku juga masih perlu memberi batasan karena aku masih dalam rasa sakit itu, kalau aku tidak memberi batasan... Aku bisa kembali down dan bahkan mungkin lebih buruk serta jangka panjang, Dila beruntung aku masih bisa bangkit setelah hampir berakhir karena sistem sarafku yang memaksa diri ini...
Tapi diamnya Dila itu membuat obrolan semakin berkurang dan kita semakin menjauh, jika mengikut stigma yang ada, seharusnya aku yang memulai obrolan, tapi untuk saat ini.. aku tidak bisa, karena ibarat kata listrik yang aku punya hanya 240 watt tapi aku harus menyalakan listrik rumah yang butuh tegangan 500 watt, mustahil tanpa resiko korslet
Aku cuma bisa melakukan semua kesibukan dan pekerjaan tanpa aku memiliki kesempatan untuk refleksi, bukan tidak ada waktu tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk itu, perasaan pasrah yang sangat dalam itu membuatku tenggelam dalam setiap pekerjaan, perasaan yang mati kala itu membuatku produktif tapi menyiksa
Aku tidak bisa merasakan emosi kala itu, sehingga segalanya terasa biasa saja, membosankan, dan sangat tidak bermakna. Aku sudah lupa hari-hari itu, padahal baru 2 atau 3 hari yang lalu, terasa sudah sangat jauh karena kemarin aku sudah mulai bisa memperbaiki respon, sampai hari ini aku bisa mengobrol ringan dengan dia,
Tapi responku belum kembali seperti sebelum bulan Oktober 2025, masih dingin dan masih terbatas, masih slow respon karena aku masih merasakan luka itu.,... Aku tidak ingin terlihat paling tersakiti atau paling terluka, tapi aku biasanya bisa sembuh kalau beban itu sudah sangat-sangat kacau, yang membuatku hampir berakhir bunuh diri, selalu setiap hampir begitu aku akan langsung bangkit... energi daruratku memang selalu aktif saat kejatuhan hampir menyelesaikan hidup aku.
Terdengar seperti keajaiban, tapi sesungguhnya ini sangat logis dan bisa dijelaskan ilmiah, aku lupa bagaimana penjelasannya tapi yang pasti, aku selalu bangkit saat aku benar-benar hampir selesai, itu yang membuat orang-orang tidak percaya kalau aku stres, yang membuat orang-orang melihatku kuat, padahal itu cuma energi darurat yang secara paksa memutus stress itu, bukan dibersihkan tapi dipendam dan ditutupi.
Hari ini aku bisa mengobrol dengan dia, itu satu progress yang sangat besar setelah semua kejatuhan yang hampir membuat broke up ini. Tapi ada satu hal yang masih berdampak negatif... Aku masih merasa kecewa dan sakit, membuatku tidak pernah bisa memulai chat dengan Siapapun.
Satu poin negatif dan penting tentang hari-hari ini... Dila menahan diri untuk mengirim pesan kepadaku, aku yakin dia akan beralasan 'takut mengganggu atau terkesan memaksa', tapi aku juga sadar kalau dia mengirim pesan kepadaku pasti otomatis membuka harapan baru dan ekspektasi untuknya... Yang dimana ekspektasi itu belum bisa terpenuhi olehku.
Tapi kalau dia terus begitu, aku juga makin sulit untuk mengobrol dengannya, karena aku belum sembuh sama sekali... Aku cuma beradaptasi dengan kondisi ini, bukan sembuh... Semua proses ini aku lakukan agar aku bisa berdamai dengan kondisi ini, sekaligus memberiku batasan dalam berharap mengenai apapun tentang relationship
Kalau Dila terus-menerus diam dan menahan diri untuk mengirim pesan kepadaku... Peluang obrolan kami akan berkurang sangat drastis, karena di fase ini... Aku tidak menempatkan seseorang termasuk Dila dalam sisi prioritas, sehingga ada kemungkinan sangat besar satu hari itu tidak ada obrolan sama sekali
Perlu dicatat bahwa aku belum sembuh sama sekali, jadi chance aku bisa memulai obrolan terhitung sangat kecil, mengingat aku juga seorang Introvert yang cenderung payah dalam berbicara duluan, dengan posisi Dila saat ini... Berpotensi membuat kami semakin jauh karena komunikasi semakin berkurang....
Aku juga masih perlu memberi batasan karena aku masih dalam rasa sakit itu, kalau aku tidak memberi batasan... Aku bisa kembali down dan bahkan mungkin lebih buruk serta jangka panjang, Dila beruntung aku masih bisa bangkit setelah hampir berakhir karena sistem sarafku yang memaksa diri ini...
Tapi diamnya Dila itu membuat obrolan semakin berkurang dan kita semakin menjauh, jika mengikut stigma yang ada, seharusnya aku yang memulai obrolan, tapi untuk saat ini.. aku tidak bisa, karena ibarat kata listrik yang aku punya hanya 240 watt tapi aku harus menyalakan listrik rumah yang butuh tegangan 500 watt, mustahil tanpa resiko korslet
Tapi aku juga tidak bisa egois memaksa Dila untuk mulai bicara.. karena aku yakin, dia juga tentu akan terluka jika melakukannya sekarang, memulai obrolan sama dengan dia berharap aku menjawab pesannya seperti dulu lagi... Tapi disaat ini, respon seperti itu.. aku tidak mau mematahkan harapan siapapun, tapi aku juga tidak ingin munafik terhadap diri sendiri...
Kalau ga mampu aku harus jujur, aku people pleaser tapi aku tidak ingin bunuh diri, aku masih memiliki masa depan yang panjang, aku masih ingin hidup sehingga aku tidak boleh merusak masa depanku hanya karena rasa kecewa, rasa rindu yang kian lama tidak terbayarkan.. aku boleh berusaha, tapi aku tidak boleh memaksa diri
Semua kejadian ini benar-benar memberiku ilmu baru tentang rasa A B dan C, memberiku bekal untuk perasaan yang mungkin sama di masa depan.
Untuk sekarang, aku hanya bisa berharap dan berusaha kembali ke hubungan kami yang dulu, jauh sebelum Oktober 2025 hadir, respon hangat dan manis, dukungan dua arah yang sehat, saling memotivasi satu sama lain, mendapatkan apa yang diinginkan dari masing-masing kami
Perasaan ini tidak akan pernah berakhir, hanya akan berdamai dengan keadaan sekarang.
Maaf teksnya terlau panjang, aku tidak kuat lagi menahan semuanya sendirian, aku harap ... Ada seseorang yang bisa mengerti apa yang aku rasakan selama ini... Bukan aku egois... Tapi aku sedang membutuhkan seseorang yang memahami aku ..membuatku merasa "aku penting"
Terimakasih
Kalau ga mampu aku harus jujur, aku people pleaser tapi aku tidak ingin bunuh diri, aku masih memiliki masa depan yang panjang, aku masih ingin hidup sehingga aku tidak boleh merusak masa depanku hanya karena rasa kecewa, rasa rindu yang kian lama tidak terbayarkan.. aku boleh berusaha, tapi aku tidak boleh memaksa diri
Semua kejadian ini benar-benar memberiku ilmu baru tentang rasa A B dan C, memberiku bekal untuk perasaan yang mungkin sama di masa depan.
Untuk sekarang, aku hanya bisa berharap dan berusaha kembali ke hubungan kami yang dulu, jauh sebelum Oktober 2025 hadir, respon hangat dan manis, dukungan dua arah yang sehat, saling memotivasi satu sama lain, mendapatkan apa yang diinginkan dari masing-masing kami
Perasaan ini tidak akan pernah berakhir, hanya akan berdamai dengan keadaan sekarang.
Maaf teksnya terlau panjang, aku tidak kuat lagi menahan semuanya sendirian, aku harap ... Ada seseorang yang bisa mengerti apa yang aku rasakan selama ini... Bukan aku egois... Tapi aku sedang membutuhkan seseorang yang memahami aku ..membuatku merasa "aku penting"
Terimakasih