⠀⠀𖦹 ⠀𝐏𝐀𝐆𝐄 𝐈𝐈𝐈ˎ⠀˙⠀𓃠
ㅤׄㅤㅤEchoes of Quiet Night
⧽ −⠀Underneath the tree wrapped in golden light, the world felt both warm and distant. The glow traced the bark like a silent witness, while the air around him buzzed with an eerie symphony of whispers—voices without form, faint yet persistent. His breath fogged in the biting cold, the tips of his nose and ears flushed red as he stood still, absorbing the solitude.
⠀ʬʬʬ . . ! Noire ⨾ 𓈈 The Harbinger
⧽ −⠀ Each murmur seemed to carry a question, pulling him deeper into his thoughts. Was this a guide to the next step, or merely a reflection of his own uncertainty? For a moment, time itself seemed to pause, leaving only him, the whispers, and the quiet night to decide.
ㅤׄㅤㅤEchoes of Quiet Night
⧽ −⠀Underneath the tree wrapped in golden light, the world felt both warm and distant. The glow traced the bark like a silent witness, while the air around him buzzed with an eerie symphony of whispers—voices without form, faint yet persistent. His breath fogged in the biting cold, the tips of his nose and ears flushed red as he stood still, absorbing the solitude.
⠀ʬʬʬ . . ! Noire ⨾ 𓈈 The Harbinger
⧽ −⠀ Each murmur seemed to carry a question, pulling him deeper into his thoughts. Was this a guide to the next step, or merely a reflection of his own uncertainty? For a moment, time itself seemed to pause, leaving only him, the whispers, and the quiet night to decide.
˙─.🐶⦆yeap, saya kedinginan makanya bisa merah begitu, bukan karna hal lain!
#TulisanAstra
Hari ini, aku berjalan bersama dia—seseorang yang memandang salju dengan takjub, seolah ini keajaiban dunia. Dia memegang kameranya, memotret setiap sudut pemandangan dengan penuh antusias, seperti ingin mengabadikan keajaiban yang dia lihat. Aku ingin merasakan hal yang sama, tapi bagaimana bisa? Jiwa ini… jiwa yang tak sepenuhnya milikku, hanya bisa mengingat dingin dan kehampaan.
Setiap langkah di atas salju ini terasa berat. Suara butirannya yang remuk di bawah kakiku seperti berbisik tentang apa yang pernah hilang. Dia mengarahkan kameranya padaku, meminta aku untuk tersenyum, tapi senyumku terasa kaku, seperti salju yang membeku di sekitarku.
Aku mencoba memfoto pemandangan di hadapanku, berusaha menangkap apa yang membuatnya terlihat begitu hidup. Tapi yang kulihat hanya refleksi kekosongan yang terus mengikutiku. Kamera di tanganku seperti benda asing, sama seperti jiwa ini, yang tak lagi tahu bagaimana rasanya hidup.
Hari ini, aku berjalan bersama dia—seseorang yang memandang salju dengan takjub, seolah ini keajaiban dunia. Dia memegang kameranya, memotret setiap sudut pemandangan dengan penuh antusias, seperti ingin mengabadikan keajaiban yang dia lihat. Aku ingin merasakan hal yang sama, tapi bagaimana bisa? Jiwa ini… jiwa yang tak sepenuhnya milikku, hanya bisa mengingat dingin dan kehampaan.
Setiap langkah di atas salju ini terasa berat. Suara butirannya yang remuk di bawah kakiku seperti berbisik tentang apa yang pernah hilang. Dia mengarahkan kameranya padaku, meminta aku untuk tersenyum, tapi senyumku terasa kaku, seperti salju yang membeku di sekitarku.
Aku mencoba memfoto pemandangan di hadapanku, berusaha menangkap apa yang membuatnya terlihat begitu hidup. Tapi yang kulihat hanya refleksi kekosongan yang terus mengikutiku. Kamera di tanganku seperti benda asing, sama seperti jiwa ini, yang tak lagi tahu bagaimana rasanya hidup.
📝 Waktu terus berlalu, tapi aku tetap diam. Semua bergerak, tapi aku hanya bayangan—terlupakan, atau memang tak pernah ada?
Aku melihat ke cermin, bukan untuk menemukan diriku, tapi untuk memastikan aku masih ada. Di mana cahaya, di mana suara? Semua hanya fragmen yang terus memudar, seperti pasir yang terhisap oleh gelap.
👥 0 people have voted so far.
📖 Anonymous Board
Aku melihat ke cermin, bukan untuk menemukan diriku, tapi untuk memastikan aku masih ada. Di mana cahaya, di mana suara? Semua hanya fragmen yang terus memudar, seperti pasir yang terhisap oleh gelap.
👥 0 people have voted so far.
📖 Anonymous Board