*Urgensi Mengenal Allah dan Cinta Kepada-Nya*
Ketahuilah dengan yakin bahwa tujuan penciptaan yang paling utama dan buah fitrah yang paling agung adalah “Iman kepada Allah”. Ketahuilah bahwa tingkatan kemanusian yang paling tinggi dan derajat _basyariyah_ yang paling baik adalah “Mengenal Allah” (_makrifatullah_) yang terkandung dalam keimanan di atas. Ketahui pula bahwa kebahagiaan dan nikmat terindah bagi jin dan manusia adalah “Cinta kepada Allah” yang lahir dari makrifat tadi. Serta ketahuilah bahwa kegembiraan jiwa yang paling bening dan suka cita kalbu yang paling murni adalah “Kenikmatan Spiritual” yang tepercik dari cinta tadi. Ya, seluruh jenis kebahagiaan sejati, kegembiraan murni, dan kenikmatan tiada tara hanya terdapat dalam ‘makrifatullah’ dan ‘cinta kepada Allah’.
Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kenikmatan yang sebenarnya tanpa makrifatullah. Setiap orang yang benar-benar mengenal Allah lalu mengisi kalbunya dengan cahaya cinta pada-Nya, pasti ia layak menda patkan kebahagiaan yang tak pernah berakhir, kenikmatan yang tak pernah habis, serta cahaya dan rahasia yang tak pernah pudar. Ia akan meraihnya secara nyata, atau dalam bentuk potensi. Sementara, orang yang tidak mengenal Penciptanya dengan benar dan tidak memiliki perasaan cinta yang layak, akan sengsara secara materiil dan moril. Ia juga senantiasa mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhingga. Ya, orang malang tersebut yang menderita akibat tidak menemukan Tuhan dan Pelindungnya serta gelisah lantaran hidup nya yang hina dan tak bermakna, sementara ia dalam kondisi lemah di tengah-tengah manusia yang tidak bahagia, apa yang bisa membantunya dalam menghadapi kondisi yang ia hadapi, meskipun ia penguasa seluruh dunia?
Betapa malangnya orang tersebut yang terombang-ambing dalam kehidupan yang fana dan berada di antara kumpulan manusia liar jika tidak menemukan Tuhan yang Mahabenar, serta tidak mengenal Pemilik dan Rabb-nya dengan benar. Namun ka lau ia menemukan Tuhannya dan mengenal Pemiliknya, tentu ia menuju kepada dekapan rahmat-Nya yang luas dan bersandar pada keagungan qudrah-Nya yang mutlak, maka dunia yang buas ini akan berubah baginya menjadi taman yang menyenangkan dan pasar bisnis yang menguntungkan
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 52-54
Ketahuilah dengan yakin bahwa tujuan penciptaan yang paling utama dan buah fitrah yang paling agung adalah “Iman kepada Allah”. Ketahuilah bahwa tingkatan kemanusian yang paling tinggi dan derajat _basyariyah_ yang paling baik adalah “Mengenal Allah” (_makrifatullah_) yang terkandung dalam keimanan di atas. Ketahui pula bahwa kebahagiaan dan nikmat terindah bagi jin dan manusia adalah “Cinta kepada Allah” yang lahir dari makrifat tadi. Serta ketahuilah bahwa kegembiraan jiwa yang paling bening dan suka cita kalbu yang paling murni adalah “Kenikmatan Spiritual” yang tepercik dari cinta tadi. Ya, seluruh jenis kebahagiaan sejati, kegembiraan murni, dan kenikmatan tiada tara hanya terdapat dalam ‘makrifatullah’ dan ‘cinta kepada Allah’.
Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kenikmatan yang sebenarnya tanpa makrifatullah. Setiap orang yang benar-benar mengenal Allah lalu mengisi kalbunya dengan cahaya cinta pada-Nya, pasti ia layak menda patkan kebahagiaan yang tak pernah berakhir, kenikmatan yang tak pernah habis, serta cahaya dan rahasia yang tak pernah pudar. Ia akan meraihnya secara nyata, atau dalam bentuk potensi. Sementara, orang yang tidak mengenal Penciptanya dengan benar dan tidak memiliki perasaan cinta yang layak, akan sengsara secara materiil dan moril. Ia juga senantiasa mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhingga. Ya, orang malang tersebut yang menderita akibat tidak menemukan Tuhan dan Pelindungnya serta gelisah lantaran hidup nya yang hina dan tak bermakna, sementara ia dalam kondisi lemah di tengah-tengah manusia yang tidak bahagia, apa yang bisa membantunya dalam menghadapi kondisi yang ia hadapi, meskipun ia penguasa seluruh dunia?
Betapa malangnya orang tersebut yang terombang-ambing dalam kehidupan yang fana dan berada di antara kumpulan manusia liar jika tidak menemukan Tuhan yang Mahabenar, serta tidak mengenal Pemilik dan Rabb-nya dengan benar. Namun ka lau ia menemukan Tuhannya dan mengenal Pemiliknya, tentu ia menuju kepada dekapan rahmat-Nya yang luas dan bersandar pada keagungan qudrah-Nya yang mutlak, maka dunia yang buas ini akan berubah baginya menjadi taman yang menyenangkan dan pasar bisnis yang menguntungkan
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 52-54
*Kabar Gembira Yang Lahir Dari Tauhid*
KEDUDUKAN PERTAMA
Setiap Frasa dari kalimat tauhid yang menakjubkan tersebut memberikan kabar gembira dan mengembuskan harapan hangat. Pada setiap kabar gembira terdapat obat dan balsam penyembuh. Serta pada setiap balsam terdapat kenikmatan dan kesenangan maknawi.
*Frasa Pertama: (لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ )*
Frasa ini memberikan kabar gembira dan harapan sebagai berikut: Jiwa manusia yang mendambakan kebutuhan tak terhingga dan pada waktu bersamaan menjadi sasaran dari musuh yang tak terbilang, jiwa yang diuji dengan kebutuhan tak terhingga dan musuh tak terbilang itu, menemukan sumber bantuan dari frasa yang agung di atas di mana ia membukakan untuknya sejumlah pintu khazanah rahmat yang luas yang mengalirkan sesuatu yang dapat memenuhi dan menjamin segala kebutuhan.
Di dalamnya ia juga menemukan sandaran yang kokoh yang bisa menangkal semua kejahatan dan menyingkirkan mara bahaya. Yaitu dengan memperlihatkan kekuatan Tuhannya Yang Mahabenar kepada manusia, membimbing kepada Pemiliknya Yang Mahakuasa, serta menunjukkan kepada Pencipta dan Dzat yang disembahnya. Lewat pandangan yang lurus tersebut dan pengenalan terhadap Allah Yang Mahaesa, frasa di atas menyelamatkan kalbu manusia dari gelap sunyi dan ilusi serta menolong jiwanya dari pedihnya kesedihan. Bahkan ia mendatangkan kegembiraan abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 54-55
KEDUDUKAN PERTAMA
Setiap Frasa dari kalimat tauhid yang menakjubkan tersebut memberikan kabar gembira dan mengembuskan harapan hangat. Pada setiap kabar gembira terdapat obat dan balsam penyembuh. Serta pada setiap balsam terdapat kenikmatan dan kesenangan maknawi.
*Frasa Pertama: (لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ )*
Frasa ini memberikan kabar gembira dan harapan sebagai berikut: Jiwa manusia yang mendambakan kebutuhan tak terhingga dan pada waktu bersamaan menjadi sasaran dari musuh yang tak terbilang, jiwa yang diuji dengan kebutuhan tak terhingga dan musuh tak terbilang itu, menemukan sumber bantuan dari frasa yang agung di atas di mana ia membukakan untuknya sejumlah pintu khazanah rahmat yang luas yang mengalirkan sesuatu yang dapat memenuhi dan menjamin segala kebutuhan.
Di dalamnya ia juga menemukan sandaran yang kokoh yang bisa menangkal semua kejahatan dan menyingkirkan mara bahaya. Yaitu dengan memperlihatkan kekuatan Tuhannya Yang Mahabenar kepada manusia, membimbing kepada Pemiliknya Yang Mahakuasa, serta menunjukkan kepada Pencipta dan Dzat yang disembahnya. Lewat pandangan yang lurus tersebut dan pengenalan terhadap Allah Yang Mahaesa, frasa di atas menyelamatkan kalbu manusia dari gelap sunyi dan ilusi serta menolong jiwanya dari pedihnya kesedihan. Bahkan ia mendatangkan kegembiraan abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 54-55
*Allah Esa dan Tidak Memiliki Sekutu Dalam Rububiyah-Nya*
*Frasa Kedua: (وَحْدَهُ)*
Frasa ini memberikan harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Jiwa dan kalbu manusia yang tertekan, bahkan tenggelam hingga sulit bernafas karena terikat kuat dengan sebagian besar entitas, pada frasa di atas menemukan jalan keluar yang aman yang bisa menyelamatkannya dari sejumlah kebinasaan. Dengan kata lain, frasa وَحْدَهُ menegaskan bahwa: Allah Mahaesa. Karena itu, jangan kau penatkan dirimu wahai manusia dengan terus-menerus merujuk kepada makhluk. Jangan merendah kepada mereka sehingga tertawan oleh jasa dan perilaku buruk mereka. Jangan kau tundukkan kepala di hadapan mereka dan mencari muka pada mereka. Jangan membebani dirimu sehingga engkau bergantung pada mereka. Serta jangan takut kepada mereka. Pasalnya, Penguasa alam adalah satu. Di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Di tangan-Nya terdapat kendali atas segala sesuatu. Seluruh ikatan bisa lepas dengan perintah-Nya. Semua kesulitan bisa lenyap dengan izin-Nya. Jika engkau “menemukan-Nya”, maka engkau berkuasa atas segala sesuatu, bisa meraih apa yang kau inginkan, selamat dari segala beban jasa, serta bebas dari tawanan ketakutan.
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu. Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya.
Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan. Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 55-57
*Frasa Kedua: (وَحْدَهُ)*
Frasa ini memberikan harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Jiwa dan kalbu manusia yang tertekan, bahkan tenggelam hingga sulit bernafas karena terikat kuat dengan sebagian besar entitas, pada frasa di atas menemukan jalan keluar yang aman yang bisa menyelamatkannya dari sejumlah kebinasaan. Dengan kata lain, frasa وَحْدَهُ menegaskan bahwa: Allah Mahaesa. Karena itu, jangan kau penatkan dirimu wahai manusia dengan terus-menerus merujuk kepada makhluk. Jangan merendah kepada mereka sehingga tertawan oleh jasa dan perilaku buruk mereka. Jangan kau tundukkan kepala di hadapan mereka dan mencari muka pada mereka. Jangan membebani dirimu sehingga engkau bergantung pada mereka. Serta jangan takut kepada mereka. Pasalnya, Penguasa alam adalah satu. Di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Di tangan-Nya terdapat kendali atas segala sesuatu. Seluruh ikatan bisa lepas dengan perintah-Nya. Semua kesulitan bisa lenyap dengan izin-Nya. Jika engkau “menemukan-Nya”, maka engkau berkuasa atas segala sesuatu, bisa meraih apa yang kau inginkan, selamat dari segala beban jasa, serta bebas dari tawanan ketakutan.
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu. Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya.
Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan. Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 55-57
*Allah Tiada Sekutu Bagi-Nya*
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu.
Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan.
Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 56-57
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu.
Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan.
Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 56-57
*Seluruh Kerajaan Alam Ini Beserta Isinya Merupakan Milik Allah*
*Frasa Keempat: (ﻟَﻪُﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ)*
Yakni, seluruh kerajaan adalah miliknya tanpa kecuali. Engkau juga milik-Nya. Di samping merupakan hamba-Nya, Engkau pun pekerja dalam kerajaan-Nya. Frasa ini mengandung harapan dan mendatangkan kabar gembira. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan mengira engkau pemilik dirimu. Tidak. Pasalnya, engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri. Hal itu merupakan beban yang berat. Engkau tidak mampu menjaganya agar terbebas dari berbagai ujian dan musibah, serta tidak mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupmu. Karena itu, jangan menyengsarakan dirimu sendiri dengan sia-sia sehingga menjadi gelisah dan risau tanpa guna.
Kerajaan ini bukan milikmu; tetapi milik selainmu. Pemiliknya Mahakuasa. Dia juga Maha Penyayang. Maka, bersandarlah pada qudrah-Nya. Jangan pernah meragukan rahmat-Nya. Tinggalkan yang keruh, ambil yang jernih! Buanglah kesulitan dan sesuatu yang menyesakkan. Lalu ambillah nafas dalam-dalam! Raih kelapangan dan kebahagiaan! Ia juga menegaskan bahwa dunia ini yang secara maknawi kau inginkan dan kau cintai, yang membuatmu sakit dan risau karena derita di dalamnya, serta tak mampu kau perbaiki, semuanya adalah kerajaan milik Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang.
Karena itu, serahkan kerajaan ini pada-Nya. Biarkan Dia yang menanganinya. Bergembiralah dengan segala kesenangan dan kelapangannya tanpa mau dikeruhkan oleh penderitaan dan kesulitan yang ada. Tuhan Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia bertindak di kerajaan-Nya terserah kehendak-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Jika engkau merasa takut, pandanglah dari jendela lalu ucapkan seperti yang diucapkan oleh penyair Ibrahim Haqqi:
ﻟﻨﺮَ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻔﻌﻞُ
ﻓﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﺄﺟﻤﻞ.
_Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan Yang Dia lakukan pastilah yang paling indah._
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 57-58
*Frasa Keempat: (ﻟَﻪُﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ)*
Yakni, seluruh kerajaan adalah miliknya tanpa kecuali. Engkau juga milik-Nya. Di samping merupakan hamba-Nya, Engkau pun pekerja dalam kerajaan-Nya. Frasa ini mengandung harapan dan mendatangkan kabar gembira. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan mengira engkau pemilik dirimu. Tidak. Pasalnya, engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri. Hal itu merupakan beban yang berat. Engkau tidak mampu menjaganya agar terbebas dari berbagai ujian dan musibah, serta tidak mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupmu. Karena itu, jangan menyengsarakan dirimu sendiri dengan sia-sia sehingga menjadi gelisah dan risau tanpa guna.
Kerajaan ini bukan milikmu; tetapi milik selainmu. Pemiliknya Mahakuasa. Dia juga Maha Penyayang. Maka, bersandarlah pada qudrah-Nya. Jangan pernah meragukan rahmat-Nya. Tinggalkan yang keruh, ambil yang jernih! Buanglah kesulitan dan sesuatu yang menyesakkan. Lalu ambillah nafas dalam-dalam! Raih kelapangan dan kebahagiaan! Ia juga menegaskan bahwa dunia ini yang secara maknawi kau inginkan dan kau cintai, yang membuatmu sakit dan risau karena derita di dalamnya, serta tak mampu kau perbaiki, semuanya adalah kerajaan milik Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang.
Karena itu, serahkan kerajaan ini pada-Nya. Biarkan Dia yang menanganinya. Bergembiralah dengan segala kesenangan dan kelapangannya tanpa mau dikeruhkan oleh penderitaan dan kesulitan yang ada. Tuhan Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia bertindak di kerajaan-Nya terserah kehendak-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Jika engkau merasa takut, pandanglah dari jendela lalu ucapkan seperti yang diucapkan oleh penyair Ibrahim Haqqi:
ﻟﻨﺮَ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻔﻌﻞُ
ﻓﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﺄﺟﻤﻞ.
_Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan Yang Dia lakukan pastilah yang paling indah._
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 57-58
Assalamu alaikum wr.wb,
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Kemukjizatan al-Qur’an dalam Mukjizat Para Nabi*
Narasumber: *Ustadz Ahmad Zaky Mubarak, S.H. (Mahasiswa Magister PKU Masjid İstiqlal)*
Waktu: Ahad, 26 Oktober 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai
Untuk bergabung ke kajian di Google Meet, klik link ini
https://meet.google.com/fvy-cbmu-hzz
Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: fvy-cbmu-hzz
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Kemukjizatan al-Qur’an dalam Mukjizat Para Nabi*
Narasumber: *Ustadz Ahmad Zaky Mubarak, S.H. (Mahasiswa Magister PKU Masjid İstiqlal)*
Waktu: Ahad, 26 Oktober 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai
Untuk bergabung ke kajian di Google Meet, klik link ini
https://meet.google.com/fvy-cbmu-hzz
Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: fvy-cbmu-hzz
Forwarded from Bu Zulfitri Fitri
Assalamu alaikum wr.wb,
Mohon hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Frugal Living Perspektif Said Nursi*
Narasumber: *Ustadz Torong Ma'ruf, S.Th.I (Sekretaris Yayasan Nur Semesta)*
Waktu: *Ahad, 01 Maret 2026*
Pukul: *16.00 WIB/17.00 WITA - Selesai*
Untuk gabung kajian Google Meet, silakan masuk link:
https://meet.google.com/kps-oxap-wsk
Or open Meet and enter this code: kps-oxap-wsk
Mohon hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Frugal Living Perspektif Said Nursi*
Narasumber: *Ustadz Torong Ma'ruf, S.Th.I (Sekretaris Yayasan Nur Semesta)*
Waktu: *Ahad, 01 Maret 2026*
Pukul: *16.00 WIB/17.00 WITA - Selesai*
Untuk gabung kajian Google Meet, silakan masuk link:
https://meet.google.com/kps-oxap-wsk
Or open Meet and enter this code: kps-oxap-wsk
*Hanya Allah Semata Yang Pantas Menerima Sanjungan dan Pujian*
*Frasa Kelima: (وَ لَهُ الْحَمْدُ)*
Yakni, segala sanjungan, pujian, dan karunia adalah milik-Nya semata dan hanya pantas untuk-Nya. Sebab, semua karunia dan nikmat berasal dari-Nya. Ia bersumber dari khazanah kekayaan-Nya yang luas. Sementara khazanah kekayaan-Nya tak pernah habis. Begitulah frasa di atas memberikan kabar gembira yang halus dan indah. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan merasa sakit dengan hilangnya nikmat. Sebab, khazanah rahmat-Nya tak pernah habis. Jangan meradang dengan lenyapnya karunia, karena ia tidak lain merupakan buah rahmat-Nya yang luas tak terhingga. Buah akan terus datang secara silih berganti selama pohonnya tetap ada.
Ketahuilah wahai manusia bahwa engkau mampu menjadikan manisnya nikmat seratus kali lebih banyak dari yang ada. Yaitu dengan melihat curahan rahmat dan pemberian karunia-Nya yang tertuju padamu. Hal itu terwujud dengan bersyukur dan memuji-Nya. Sebab, sebagaimana ketika seorang penguasa besar memberikan hadiah kepadamu—apel misalnya—maka hadiah tersebut berisi nikmat yang berkali-kali lebih nikmat dibandingkan lezatnya apel itu sendiri. Yaitu nikmat adanya perhatian dari sang penguasa yang dibungkus dengan kebaikan dan karunia nya.
Begitu pula dengan frasa وَ لَهُ الْحَمْدُ . Ia membukakan untukmu pintu yang luas yang mengalirkan kenikmatan maknawi murni di mana ia jauh lebih nikmat daripada nikmat itu sendiri. Hal itu terwujud dengan pujian dan syukur pada-Nya. Yakni, dengan merasakan karunia-Nya lewat nikmat yang Dia berikan. Yaitu dengan mengenal Sang Pemberi nikmat lewat cara merenungkan pemberian nikmat tersebut. Dengan kata lain, lewat cara merenungkan dan melihat rahmat dan kasih sayang-Nya yang terus tercurah kepadamu.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 58-59
*Frasa Kelima: (وَ لَهُ الْحَمْدُ)*
Yakni, segala sanjungan, pujian, dan karunia adalah milik-Nya semata dan hanya pantas untuk-Nya. Sebab, semua karunia dan nikmat berasal dari-Nya. Ia bersumber dari khazanah kekayaan-Nya yang luas. Sementara khazanah kekayaan-Nya tak pernah habis. Begitulah frasa di atas memberikan kabar gembira yang halus dan indah. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan merasa sakit dengan hilangnya nikmat. Sebab, khazanah rahmat-Nya tak pernah habis. Jangan meradang dengan lenyapnya karunia, karena ia tidak lain merupakan buah rahmat-Nya yang luas tak terhingga. Buah akan terus datang secara silih berganti selama pohonnya tetap ada.
Ketahuilah wahai manusia bahwa engkau mampu menjadikan manisnya nikmat seratus kali lebih banyak dari yang ada. Yaitu dengan melihat curahan rahmat dan pemberian karunia-Nya yang tertuju padamu. Hal itu terwujud dengan bersyukur dan memuji-Nya. Sebab, sebagaimana ketika seorang penguasa besar memberikan hadiah kepadamu—apel misalnya—maka hadiah tersebut berisi nikmat yang berkali-kali lebih nikmat dibandingkan lezatnya apel itu sendiri. Yaitu nikmat adanya perhatian dari sang penguasa yang dibungkus dengan kebaikan dan karunia nya.
Begitu pula dengan frasa وَ لَهُ الْحَمْدُ . Ia membukakan untukmu pintu yang luas yang mengalirkan kenikmatan maknawi murni di mana ia jauh lebih nikmat daripada nikmat itu sendiri. Hal itu terwujud dengan pujian dan syukur pada-Nya. Yakni, dengan merasakan karunia-Nya lewat nikmat yang Dia berikan. Yaitu dengan mengenal Sang Pemberi nikmat lewat cara merenungkan pemberian nikmat tersebut. Dengan kata lain, lewat cara merenungkan dan melihat rahmat dan kasih sayang-Nya yang terus tercurah kepadamu.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 58-59
*Allah Yang Menganugerahkan Kehidupan dan Dia Juga Yang Menopang Kebutuhannya*
*Frasa Keenam: (يُحْي۪ى)*
Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan, Dia pula yang menjaganya dengan rezeki yang diberikan. Dia yang menjamin seluruh hajat dan kebutuhannya. Dia pula yang menyiapkan semua faktor penopangnya. Berbagai tujuan kehidupan yang mulia kembali kepada-Nya. Serta berbagai hasil penting dari kehidupan menuju kepada-Nya. Sembilan puluh sembilan persen (99%) buah dan hasilnya mengarah dan kembali kepada-Nya. Begitulah, frasa di atas menyeru manusia yang fana dan lemah serta memberikan kabar gembira seraya menghembuskan harapan kepadanya.
Ia berkata: Wahai manusia, jangan penatkan dirimu dengan membawa beban kehidupan yang berat di atas pundakmu yang lemah. Jangan sampai dirimu menyedihkan fananya kehidupan. Jangan pernah menyesali kedatanganmu ke dunia setiap kali melihat lenyapnya sejumlah nikmat dan buahnya. Ketahuilah bahwa hidupmu yang membangun eksistensimu hanya akan kembali kepada Dzat Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri. Dia yang menjamin seluruh kebutuhan dan penopangnya. Kehidupan hanya akan kembali kepada-Nya berikut seluruh tujuan dan hasilnya yang banyak. Engkau hanyalah pekerja sederhana yang berada dalam bahtera kehidupan.
Karena itu, laksanakan kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Lalu raih upahmu dan nikmati. Ingatlah selalu betapa agungnya kehidupan yang menggerakkan gelombang wujud, berikut hasil dan buahnya, serta kemurahan Pemiliknya dan keluasan rahmat-Nya yang terlimpah. Renungkan semua itu dan terbanglah di angkasa suka cita. Bergembiralah dengannya dan tunaikan syukur yang harus kau persembahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa selama dirimu istikamah, hasil dari bahtera kehidupan ini pertama-tama akan dituliskan dalam lembaran amalmu. Lalu engkau akan diberi kehidupan yang kekal abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 59-60
*Frasa Keenam: (يُحْي۪ى)*
Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan, Dia pula yang menjaganya dengan rezeki yang diberikan. Dia yang menjamin seluruh hajat dan kebutuhannya. Dia pula yang menyiapkan semua faktor penopangnya. Berbagai tujuan kehidupan yang mulia kembali kepada-Nya. Serta berbagai hasil penting dari kehidupan menuju kepada-Nya. Sembilan puluh sembilan persen (99%) buah dan hasilnya mengarah dan kembali kepada-Nya. Begitulah, frasa di atas menyeru manusia yang fana dan lemah serta memberikan kabar gembira seraya menghembuskan harapan kepadanya.
Ia berkata: Wahai manusia, jangan penatkan dirimu dengan membawa beban kehidupan yang berat di atas pundakmu yang lemah. Jangan sampai dirimu menyedihkan fananya kehidupan. Jangan pernah menyesali kedatanganmu ke dunia setiap kali melihat lenyapnya sejumlah nikmat dan buahnya. Ketahuilah bahwa hidupmu yang membangun eksistensimu hanya akan kembali kepada Dzat Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri. Dia yang menjamin seluruh kebutuhan dan penopangnya. Kehidupan hanya akan kembali kepada-Nya berikut seluruh tujuan dan hasilnya yang banyak. Engkau hanyalah pekerja sederhana yang berada dalam bahtera kehidupan.
Karena itu, laksanakan kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Lalu raih upahmu dan nikmati. Ingatlah selalu betapa agungnya kehidupan yang menggerakkan gelombang wujud, berikut hasil dan buahnya, serta kemurahan Pemiliknya dan keluasan rahmat-Nya yang terlimpah. Renungkan semua itu dan terbanglah di angkasa suka cita. Bergembiralah dengannya dan tunaikan syukur yang harus kau persembahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa selama dirimu istikamah, hasil dari bahtera kehidupan ini pertama-tama akan dituliskan dalam lembaran amalmu. Lalu engkau akan diberi kehidupan yang kekal abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 59-60
*Kematian Merupakan Pintu Menuju Kehidupan Abadi*
*Frasa Ketujuh: (وَ يُم۪يتُ)*
Artinya, Dia-lah yang menganugerahkan kematian. Yakni, Dia yang membebaskanmu dari tugas kehidupan, mengganti posisimu di dunia yang fana ini, menyelamatkanmu dari beban pengabdian, serta membebaskanmu dari tanggung jawab yang ada. Dengan kata lain, Dia menarikmu dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang abadi.
Demikianlah, frasa ini meneriakkan ke telinga manusia dan jin yang fana dan berkata: Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan kemusnahan, kesia-siaan, kefanaan, kepadaman, dan perpisahan abadi. Kematian bukan ketiadaan dan bukan pula sebuah kebetulan. Ia bukan kelenyapan tanpa ada yang berbuat. Namun ia adalah pembebasan tugas yang dilakukan oleh Dzat Yang Maha Berbuat, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.
Ia adalah perpindahan tempat, pergantian posisi, dan perjalanan menuju kebahagiaan abadi; tanah air yang asli. Artinya, kematian adalah pintu menuju alam barzakh; alam yang menghimpun 99% orang-orang tercinta.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61
*Frasa Ketujuh: (وَ يُم۪يتُ)*
Artinya, Dia-lah yang menganugerahkan kematian. Yakni, Dia yang membebaskanmu dari tugas kehidupan, mengganti posisimu di dunia yang fana ini, menyelamatkanmu dari beban pengabdian, serta membebaskanmu dari tanggung jawab yang ada. Dengan kata lain, Dia menarikmu dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang abadi.
Demikianlah, frasa ini meneriakkan ke telinga manusia dan jin yang fana dan berkata: Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan kemusnahan, kesia-siaan, kefanaan, kepadaman, dan perpisahan abadi. Kematian bukan ketiadaan dan bukan pula sebuah kebetulan. Ia bukan kelenyapan tanpa ada yang berbuat. Namun ia adalah pembebasan tugas yang dilakukan oleh Dzat Yang Maha Berbuat, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.
Ia adalah perpindahan tempat, pergantian posisi, dan perjalanan menuju kebahagiaan abadi; tanah air yang asli. Artinya, kematian adalah pintu menuju alam barzakh; alam yang menghimpun 99% orang-orang tercinta.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61
*Segala Yang Fana Mendapat Pantulan Kekelan Saat Dinisbatkan Kepada Dzat Yang Maha Abadi*
*Frasa Kedelapan: (وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ)*
Artinya, kesempurnaan, keindahan, dan kebaikan lahiriah yang terdapat pada entitas merupakan sarana menuju cinta. Ia terwujud lewat sesuatu yang tak bisa dideskripsikan dan digambarkan yang berasal dari Sang Pemilik keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan. Secercah manifestasi keindahan-Nya menyamai seluruh hal yang dicintai di dunia ini. Tuhan yang dicinta dan disembah memiliki kehidupan abadi dan kekal yang bersih dari kelenyapan dan bayangan kefanaan. Kehidupannya sempurna; jauh dari segala bentuk aib dan cacat.
Jadi, frasa di atas menegaskan hal berikut kepada semua makhluk, baik dari kalangan jin, manusia, maupun seluruh pemilik perasaan, kecerdasan, dan cinta: Kabar gembira untuk kalian! Kalian mendapatkan hembusan harapan dan kebaikan. Kalian memiliki Kekasih azali dan abadi yang bisa mengobati semua luka menganga akibat perpisahan abadi dengan orang-orang dunia yang kalian cintai. Ia memberikan balsam penyembuh lewat salep rahmat-Nya. Selama Dia ada dan kekal, segala sesuatu menjadi ringan.
Karena itu, jangan risau dan kecewa. Keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan yang membuat kalian mencintai sejumlah orang hanyalah kilasan bayangan lemah yang bersumber dari naungan tirai yang sangat tebal di mana ia merupakan salah satu manifestasi keindahan Sang Kekasih abadi. Maka, jangan kalian tersiksa oleh adanya perpisahan dengan mereka. Sebab, mereka semua hanyalah satu bentuk dari cermin yang memberi pantulan. Perubahan dan pergantian cermin akan memperbaharui dan memperindah pantulan manifestasi keindahan yang cemerlang. Selama Dia ada, segala sesuatu juga ada.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61-62
*Frasa Kedelapan: (وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ)*
Artinya, kesempurnaan, keindahan, dan kebaikan lahiriah yang terdapat pada entitas merupakan sarana menuju cinta. Ia terwujud lewat sesuatu yang tak bisa dideskripsikan dan digambarkan yang berasal dari Sang Pemilik keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan. Secercah manifestasi keindahan-Nya menyamai seluruh hal yang dicintai di dunia ini. Tuhan yang dicinta dan disembah memiliki kehidupan abadi dan kekal yang bersih dari kelenyapan dan bayangan kefanaan. Kehidupannya sempurna; jauh dari segala bentuk aib dan cacat.
Jadi, frasa di atas menegaskan hal berikut kepada semua makhluk, baik dari kalangan jin, manusia, maupun seluruh pemilik perasaan, kecerdasan, dan cinta: Kabar gembira untuk kalian! Kalian mendapatkan hembusan harapan dan kebaikan. Kalian memiliki Kekasih azali dan abadi yang bisa mengobati semua luka menganga akibat perpisahan abadi dengan orang-orang dunia yang kalian cintai. Ia memberikan balsam penyembuh lewat salep rahmat-Nya. Selama Dia ada dan kekal, segala sesuatu menjadi ringan.
Karena itu, jangan risau dan kecewa. Keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan yang membuat kalian mencintai sejumlah orang hanyalah kilasan bayangan lemah yang bersumber dari naungan tirai yang sangat tebal di mana ia merupakan salah satu manifestasi keindahan Sang Kekasih abadi. Maka, jangan kalian tersiksa oleh adanya perpisahan dengan mereka. Sebab, mereka semua hanyalah satu bentuk dari cermin yang memberi pantulan. Perubahan dan pergantian cermin akan memperbaharui dan memperindah pantulan manifestasi keindahan yang cemerlang. Selama Dia ada, segala sesuatu juga ada.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61-62
*Segala Kebaikan Berasal Dari Allah dan Dicatat Dalam Kitab-Nya*
*Frasa Kesembilan: (بِيَدِهِ الْخَيْرُ)*
Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Semua amal baik kalian dicatat dalam kitab-Nya. Seluruh amal salih yang kalian lakukan ada padanya. Frasa di atas menyeru jin dan manusia, memberikan kabar gembira kepada mereka, serta menghembuskan harapan dan kerinduan. Ia berkata: Wahai orang-orang malang! Ketika kalian meninggalkan dunia menuju kubur, jangan berujar, “Oh, sungguh sangat sedih. Harta kami lenyap begitu saja. Amal kami hilang percuma. Kami masuk ke dalam kubur yang sempit setelah berada di dunia yang luas...” Jangan... Jangan kalian meratap putus asa. Pasalnya, semua milik kalian terpelihara di sisi-Nya. Semua amal yang kalian kerjakan telah dicatat pada-Nya.
Jadi, tidak ada yang hilang. Tidak ada usaha yang terlupakan. Sebab, Allah Yang Mahaagung yang menggenggam segala kebaikan akan membalas amal kalian. Dia akan memanggil kalian untuk menghadap kepada-Nya setelah Dia meletakkan kalian di dalam tanah, tempat sementara kalian. Maka, betapa kalian sangat bahagia! Kalian telah menunaikan pengabdian dan telah menyelesaikan tugas. Kalian telah bebas. Hari-hari penat dan lelah telah berakhir. Sekarang kalian berjalan untuk mendapatkan upah dan menerima keuntungan.
Ya, Sang Mahakuasa dan Mahaagung yang memelihara seluruh benih dan biji yang merupakan lembaran amal, daftar pengabdian, dan ruang tugas musim semi masa lalu, kemudian Dia menebarkannya di musim semi yang indah saat ini dalam bentuk yang istimewa, sangat berkilau, penuh berkah, dan menakjubkan. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaindah tersebut sudah pasti juga menjaga hasil kehidupan dan amal kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan dalam bentuk yang terbaik dan berlimpah.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 62-63
*Frasa Kesembilan: (بِيَدِهِ الْخَيْرُ)*
Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Semua amal baik kalian dicatat dalam kitab-Nya. Seluruh amal salih yang kalian lakukan ada padanya. Frasa di atas menyeru jin dan manusia, memberikan kabar gembira kepada mereka, serta menghembuskan harapan dan kerinduan. Ia berkata: Wahai orang-orang malang! Ketika kalian meninggalkan dunia menuju kubur, jangan berujar, “Oh, sungguh sangat sedih. Harta kami lenyap begitu saja. Amal kami hilang percuma. Kami masuk ke dalam kubur yang sempit setelah berada di dunia yang luas...” Jangan... Jangan kalian meratap putus asa. Pasalnya, semua milik kalian terpelihara di sisi-Nya. Semua amal yang kalian kerjakan telah dicatat pada-Nya.
Jadi, tidak ada yang hilang. Tidak ada usaha yang terlupakan. Sebab, Allah Yang Mahaagung yang menggenggam segala kebaikan akan membalas amal kalian. Dia akan memanggil kalian untuk menghadap kepada-Nya setelah Dia meletakkan kalian di dalam tanah, tempat sementara kalian. Maka, betapa kalian sangat bahagia! Kalian telah menunaikan pengabdian dan telah menyelesaikan tugas. Kalian telah bebas. Hari-hari penat dan lelah telah berakhir. Sekarang kalian berjalan untuk mendapatkan upah dan menerima keuntungan.
Ya, Sang Mahakuasa dan Mahaagung yang memelihara seluruh benih dan biji yang merupakan lembaran amal, daftar pengabdian, dan ruang tugas musim semi masa lalu, kemudian Dia menebarkannya di musim semi yang indah saat ini dalam bentuk yang istimewa, sangat berkilau, penuh berkah, dan menakjubkan. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaindah tersebut sudah pasti juga menjaga hasil kehidupan dan amal kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan dalam bentuk yang terbaik dan berlimpah.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 62-63
*Segala Sesuatu Begitu Mudah di Hadapan Kekuasan Mutlak Allah SWT*
*Frasa Kesepuluh: (وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ)*
Artinya, Dia Mahaesa, Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berat bagi-Nya. Tidak ada yang membuat-Nya penat dan sulit. Menciptakan musim semi yang sempurna—misalnya—begitu mudah dan gampang bagi-Nya sama seperti menciptakan sebuah bunga. Menciptakan surga bagi-Nya semudah menciptakan musim semi. Makhluk yang jumlahnya tak terhingga yang Dia hadirkan dan Dia perbaharui setiap hari, setiap tahun, dan setiap masa, semuanya menjadi bukti akan qudrah-Nya yang tak terbatas.
Frasa di atas juga memberikan sebuah harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Wahai manusia! Amal-amal yang telah kau tunaikan, dan ubudiyah yang telah kau kerjakan tidak akan hilang begitu saja. Terdapat negeri balasan yang kekal dan tempat kebahagiaan yang sudah disiapkan untukmu. Di hadapanmu terdapat surga kekal yang menantikan kedatanganmu. Percayalah dengan janji Penciptamu Yang Mahaagung yang kepada-Nya engkau bersujud dan menyembah. Yakinlah kepada-Nya.
Mustahil Dia mengingkari janji yang sudah Dia tetapkan atas diri-Nya. Sebab, qudrah-Nya tak bercampur dengan aib dan cacat. Perbuatan-Nya tidak di sertai oleh kelemahan dan ketidakberdayaan. Sebagaimana Dia telah menciptakan dan menghidupkan taman kecil untukmu, Dia mampu untuk menciptakan surga yang luas. Bahkan Dia benar-benar telah melakukannya, lalu menjanjikannya untukmu. Oleh karena Dia telah berjanji, maka pasti akan menepatinya. Dia akan mengantarkanmu menuju surga tersebut.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 65
*Frasa Kesepuluh: (وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ)*
Artinya, Dia Mahaesa, Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berat bagi-Nya. Tidak ada yang membuat-Nya penat dan sulit. Menciptakan musim semi yang sempurna—misalnya—begitu mudah dan gampang bagi-Nya sama seperti menciptakan sebuah bunga. Menciptakan surga bagi-Nya semudah menciptakan musim semi. Makhluk yang jumlahnya tak terhingga yang Dia hadirkan dan Dia perbaharui setiap hari, setiap tahun, dan setiap masa, semuanya menjadi bukti akan qudrah-Nya yang tak terbatas.
Frasa di atas juga memberikan sebuah harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Wahai manusia! Amal-amal yang telah kau tunaikan, dan ubudiyah yang telah kau kerjakan tidak akan hilang begitu saja. Terdapat negeri balasan yang kekal dan tempat kebahagiaan yang sudah disiapkan untukmu. Di hadapanmu terdapat surga kekal yang menantikan kedatanganmu. Percayalah dengan janji Penciptamu Yang Mahaagung yang kepada-Nya engkau bersujud dan menyembah. Yakinlah kepada-Nya.
Mustahil Dia mengingkari janji yang sudah Dia tetapkan atas diri-Nya. Sebab, qudrah-Nya tak bercampur dengan aib dan cacat. Perbuatan-Nya tidak di sertai oleh kelemahan dan ketidakberdayaan. Sebagaimana Dia telah menciptakan dan menghidupkan taman kecil untukmu, Dia mampu untuk menciptakan surga yang luas. Bahkan Dia benar-benar telah melakukannya, lalu menjanjikannya untukmu. Oleh karena Dia telah berjanji, maka pasti akan menepatinya. Dia akan mengantarkanmu menuju surga tersebut.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 65
*Sebuah Dalil Yang Menegaskan Bahwa Allah SWT Pasti Akan Mewujudkan Janji-Nya*
Selama pada setiap tahun kita melihat bagaimana Dia mengumpulkan dan menebarkan lebih dari 300 ribu spesies tumbuhan dan hewan di muka bumi dengan sangat rapi dan terukur serta dengan sangat cepat dan mudah, maka sudah pasti Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaagung tersebut juga mampu mewujudkan janji-Nya.
Selama Tuhan Yang Mahakuasa mutlak pada setiap tahun menghadirkan ribuan model kebangkitan dan surga dalam bentuk yang beragam; selama Dia menginformasikan surga yang dijanjikan, dan menjanjikan kebahagiaan abadi pada semua perintah samawi-Nya; selama seluruh urusan-Nya benar, nyata, dan jujur; selama semua jejak-Nya menjadi saksi bahwa seluruh kesempurnaan adalah petunjuk bahwa Dia bersih dari segala cacat.
Selama mengingkari janji, berdusta, dan sikap menangguhkan adalah sifat paling buruk di samping aib, maka sudah pasti Sang Mahakuasa yang Mahaagung, Sang Mahabijak yang Maha Sempurna, Sang Maha Penyayang Yang Mahaindah akan melaksanakan janji-Nya. Dia akan membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi dan memasukkan kalian wahai kaum beriman ke dalam surga, tanah air ayah kalian, Adam AS.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 65
Selama pada setiap tahun kita melihat bagaimana Dia mengumpulkan dan menebarkan lebih dari 300 ribu spesies tumbuhan dan hewan di muka bumi dengan sangat rapi dan terukur serta dengan sangat cepat dan mudah, maka sudah pasti Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaagung tersebut juga mampu mewujudkan janji-Nya.
Selama Tuhan Yang Mahakuasa mutlak pada setiap tahun menghadirkan ribuan model kebangkitan dan surga dalam bentuk yang beragam; selama Dia menginformasikan surga yang dijanjikan, dan menjanjikan kebahagiaan abadi pada semua perintah samawi-Nya; selama seluruh urusan-Nya benar, nyata, dan jujur; selama semua jejak-Nya menjadi saksi bahwa seluruh kesempurnaan adalah petunjuk bahwa Dia bersih dari segala cacat.
Selama mengingkari janji, berdusta, dan sikap menangguhkan adalah sifat paling buruk di samping aib, maka sudah pasti Sang Mahakuasa yang Mahaagung, Sang Mahabijak yang Maha Sempurna, Sang Maha Penyayang Yang Mahaindah akan melaksanakan janji-Nya. Dia akan membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi dan memasukkan kalian wahai kaum beriman ke dalam surga, tanah air ayah kalian, Adam AS.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 65
*Seluruh Makhluk Akan Kembali Kepada-Nya Setelah Menyempurnakan Pengabdian di Dunia*
*Frasa Kesebelas: (وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ)*
Artinya, orang-orang yang dikirim ke negeri dunia—negeri ujian—untuk berbisnis dan menunaikan sejumlah tugas, akan kembali lagi kepada Dzat yang telah mengirim mereka, Pencipta Yang Mahaagung. Hal itu setelah mereka melaksanakan tugas, menyempurnakan bisnis mereka, dan menyelesaikan berbagai pengabdian. Mereka akan bertemu dengan Tuhan Maha pemurah yang telah mengirim mereka.
Dengan kata lain, mereka akan mendapatkan kehormatan untuk berada di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang dalam kedudukan yang disenangi di sisi Raja Yang Mahakuasa; tanpa ada hijab antara mereka dan diri-Nya. Mereka telah lepas dari ikatan sebab, hijab dan perantara. Masing-masing mereka akan menemukan dan mengenal secara sempurna Pencipta, Tuhan, dan Pemiliknya. Frasa di atas membersitkan harapan dan kabar gembira melebihi seluruh harapan dan kabar gembira lainnya.
Ia menegaskan: Wahai manusia! Tahukah engkau kemana akan kembali? Dan kemana engkau akan digiring?” Pada penutup ‘Kalimat Ketiga Puluh Dua’ disebutkan bahwa menghabiskan seribu tahun dari kehidupan dunia yang bahagia tidak bisa menyamai sesaat dari kehidupan surga. Serta menghabiskan seribu satu tahun yang penuh kesenangan dalam kenikmatan surga tidak bisa menyamai sesaat dari kegembiraan melihat keindahan Sang Mahaindah, Allah SWT
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 66-67
*Frasa Kesebelas: (وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ)*
Artinya, orang-orang yang dikirim ke negeri dunia—negeri ujian—untuk berbisnis dan menunaikan sejumlah tugas, akan kembali lagi kepada Dzat yang telah mengirim mereka, Pencipta Yang Mahaagung. Hal itu setelah mereka melaksanakan tugas, menyempurnakan bisnis mereka, dan menyelesaikan berbagai pengabdian. Mereka akan bertemu dengan Tuhan Maha pemurah yang telah mengirim mereka.
Dengan kata lain, mereka akan mendapatkan kehormatan untuk berada di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang dalam kedudukan yang disenangi di sisi Raja Yang Mahakuasa; tanpa ada hijab antara mereka dan diri-Nya. Mereka telah lepas dari ikatan sebab, hijab dan perantara. Masing-masing mereka akan menemukan dan mengenal secara sempurna Pencipta, Tuhan, dan Pemiliknya. Frasa di atas membersitkan harapan dan kabar gembira melebihi seluruh harapan dan kabar gembira lainnya.
Ia menegaskan: Wahai manusia! Tahukah engkau kemana akan kembali? Dan kemana engkau akan digiring?” Pada penutup ‘Kalimat Ketiga Puluh Dua’ disebutkan bahwa menghabiskan seribu tahun dari kehidupan dunia yang bahagia tidak bisa menyamai sesaat dari kehidupan surga. Serta menghabiskan seribu satu tahun yang penuh kesenangan dalam kenikmatan surga tidak bisa menyamai sesaat dari kegembiraan melihat keindahan Sang Mahaindah, Allah SWT
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 66-67
*Kematian Bukankah Pintu Menuju Kefanaan Tapi Jalan Ke Keabadian*
Wahai manusia, engkau akan kembali ke medan rahmat-Nya, dan akan menuju hadirat-Nya. Keindahan yang kau lihat pada para kekasih majasi sehingga kau cintai dan tergila-gila padanya, bahkan keindahan yang terdapat pada seluruh entitas dunia tidak lain merupakan semacam bayangan dari manifestasi keindahan Allah dan nama-nama-Nya. Surga dengan seluruh perangkat, kenikmatan, bidadari, dan istananya hanyalah salah satu manifestasi dari rahmat-Nya. Semua bentuk rindu, cinta, dan ketertarikan tidak lain merupakan kilau dari cinta Tuhan dan Kekasih abadi.
Jadi, kalian akan pergi ke hadirat-Nya yang agung. Kalian akan diundang ke negeri jamuan yang kekal, yaitu menuju surga yang abadi. Karena itu, jangan bersedih dan menangis saat masuk ke dalam kubur. Namun bergembiralah dan hadapi ia dengan senyum dan rasa senang. Frasa di atas melanjutkan tugasnya dalam memberikan cahaya harapan dan kabar gembira dengan berkata: Wahai manusia! Jangan membayangkan engkau akan pergi menuju kefanaan, ketiadaan, kesia-siaan, kegelapan, kealpaan, kehancuran, dan tenggelam dalam ketiadaan. Akan tetapi, engkau akan pergi menuju keabadian; bukan pada kefanaan.
Engkau digiring menuju wujud yang kekal; bukan ketiadaan. Engkau mendatangi alam cahaya; bukan kegelapan. Engkau berjalan menuju Tuhan dan Pemilikmu yang haq. Engkau akan kembali kepada tempat Penguasa alam; Penguasa wujud. Engkau akan istirahat dan merasa lapang di medan tauhid tanpa tenggelam dalam pluralitas. Engkau mengarah pada adanya pertemuan; bukan perpisahan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 66-67
Wahai manusia, engkau akan kembali ke medan rahmat-Nya, dan akan menuju hadirat-Nya. Keindahan yang kau lihat pada para kekasih majasi sehingga kau cintai dan tergila-gila padanya, bahkan keindahan yang terdapat pada seluruh entitas dunia tidak lain merupakan semacam bayangan dari manifestasi keindahan Allah dan nama-nama-Nya. Surga dengan seluruh perangkat, kenikmatan, bidadari, dan istananya hanyalah salah satu manifestasi dari rahmat-Nya. Semua bentuk rindu, cinta, dan ketertarikan tidak lain merupakan kilau dari cinta Tuhan dan Kekasih abadi.
Jadi, kalian akan pergi ke hadirat-Nya yang agung. Kalian akan diundang ke negeri jamuan yang kekal, yaitu menuju surga yang abadi. Karena itu, jangan bersedih dan menangis saat masuk ke dalam kubur. Namun bergembiralah dan hadapi ia dengan senyum dan rasa senang. Frasa di atas melanjutkan tugasnya dalam memberikan cahaya harapan dan kabar gembira dengan berkata: Wahai manusia! Jangan membayangkan engkau akan pergi menuju kefanaan, ketiadaan, kesia-siaan, kegelapan, kealpaan, kehancuran, dan tenggelam dalam ketiadaan. Akan tetapi, engkau akan pergi menuju keabadian; bukan pada kefanaan.
Engkau digiring menuju wujud yang kekal; bukan ketiadaan. Engkau mendatangi alam cahaya; bukan kegelapan. Engkau berjalan menuju Tuhan dan Pemilikmu yang haq. Engkau akan kembali kepada tempat Penguasa alam; Penguasa wujud. Engkau akan istirahat dan merasa lapang di medan tauhid tanpa tenggelam dalam pluralitas. Engkau mengarah pada adanya pertemuan; bukan perpisahan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 66-67
Assalamu alaikum Sahabat Risalah Nur,
Semoga sehat selalu. Bagi yang ingin dapat pesan harian Risalah Nur dan informasi berbagai kegiatan terkait Risalah Nur boleh ikuti saluran Sahabat Risalah Nur. Linknya yang di bawah ini. Semoga bermanfaat
https://whatsapp.com/channel/0029VaEtzMMD8SE76yfj5d2L
Semoga sehat selalu. Bagi yang ingin dapat pesan harian Risalah Nur dan informasi berbagai kegiatan terkait Risalah Nur boleh ikuti saluran Sahabat Risalah Nur. Linknya yang di bawah ini. Semoga bermanfaat
https://whatsapp.com/channel/0029VaEtzMMD8SE76yfj5d2L