*Meraih Iman Dengan Kesadaran Akan Kekerdilan di Hadapan Allah SWT*
Di alam ini manusia menyerupai anak kecil kesayangan yang lemah. Namun dalam kelemahannya tersimpan kekuatan besar, dan dalam ketidakberdayaannya terdapat kemampuan yang menakjubkan. Sebab, lewat kekuatan lemahnya itu dan lewat kemampuan ketidakberdayaannya seluruh entitas ditundukkan untuknya. Jika manusia menyadari kelemahannya lalu meminta kepada Tuhan, baik lewat lisan, keadaan, maupun perilakunya, kemudian ia menyadari ketidakberdayaannya sehingga meminta tolong kepada Tuhannya seraya bersyukur karena alam ditundukkan untuknya, maka ia akan diberi taufik untuk dapat menggapai permintaannya.
Semua maksudnya menjadi tunduk serta impiannya akan terwujud. Sementara dia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat meraih seperseratusnya. Namun kadang keinginan yang dicapai lewat doa _lisân hâl_ ia nisbatkan pada kemampuannya sendiri. Sebagai contoh: Kekuatan yang terpendam dalam kelemahan anak ayam membuat sang induk menyerang singa. Lalu kekuatan yang tersimpan dalam kelemahan anak singa membuat sang induk yang buas mengalah untuk dirinya di mana ia rela menahan lapar demi anak-anaknya. Jadi, kekuatan besar yang terdapat dalam kelemahan layak diperhatikan.
Bahkan, wujud manifestasi rahmat dalam kelemahan tersebut patut dicermati dan dikagumi. Sebagaimana dengan kelemahan, anak kecil yang manja mendapatkan kasih sayang orang lain. Dan dengan tangisannya, ia memperoleh permintaannya. Maka, orang-orang kuat dan para pembesar pun tunduk padanya, sehingga ia bisa memperoleh apa yang tidak bisa diraihnya satu pun dari seribu keinginannya dengan kekuatannya yang kecil. Dengan demikian, kelemahan dan ketidakberdayaannya itulah yang menggerakkan dan membuat pihak lain mengasihi dan melindunginya.
Bahkan dengan telunjuknya yang kecil, ia dapat menjinakkan orang-orang besar. Andaikan anak kecil itu mengingkari kasih sayang tadi lalu menyangkal perlindungan tersebut di mana dengan sangat bodoh dan sombong ia berkata, “Akulah yang menundukkan semua orang kuat itu dengan kemampuan dan kehendakku sendiri,” tentu saja ia layak mendapat tamparan dan peringatan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 39-40
Di alam ini manusia menyerupai anak kecil kesayangan yang lemah. Namun dalam kelemahannya tersimpan kekuatan besar, dan dalam ketidakberdayaannya terdapat kemampuan yang menakjubkan. Sebab, lewat kekuatan lemahnya itu dan lewat kemampuan ketidakberdayaannya seluruh entitas ditundukkan untuknya. Jika manusia menyadari kelemahannya lalu meminta kepada Tuhan, baik lewat lisan, keadaan, maupun perilakunya, kemudian ia menyadari ketidakberdayaannya sehingga meminta tolong kepada Tuhannya seraya bersyukur karena alam ditundukkan untuknya, maka ia akan diberi taufik untuk dapat menggapai permintaannya.
Semua maksudnya menjadi tunduk serta impiannya akan terwujud. Sementara dia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat meraih seperseratusnya. Namun kadang keinginan yang dicapai lewat doa _lisân hâl_ ia nisbatkan pada kemampuannya sendiri. Sebagai contoh: Kekuatan yang terpendam dalam kelemahan anak ayam membuat sang induk menyerang singa. Lalu kekuatan yang tersimpan dalam kelemahan anak singa membuat sang induk yang buas mengalah untuk dirinya di mana ia rela menahan lapar demi anak-anaknya. Jadi, kekuatan besar yang terdapat dalam kelemahan layak diperhatikan.
Bahkan, wujud manifestasi rahmat dalam kelemahan tersebut patut dicermati dan dikagumi. Sebagaimana dengan kelemahan, anak kecil yang manja mendapatkan kasih sayang orang lain. Dan dengan tangisannya, ia memperoleh permintaannya. Maka, orang-orang kuat dan para pembesar pun tunduk padanya, sehingga ia bisa memperoleh apa yang tidak bisa diraihnya satu pun dari seribu keinginannya dengan kekuatannya yang kecil. Dengan demikian, kelemahan dan ketidakberdayaannya itulah yang menggerakkan dan membuat pihak lain mengasihi dan melindunginya.
Bahkan dengan telunjuknya yang kecil, ia dapat menjinakkan orang-orang besar. Andaikan anak kecil itu mengingkari kasih sayang tadi lalu menyangkal perlindungan tersebut di mana dengan sangat bodoh dan sombong ia berkata, “Akulah yang menundukkan semua orang kuat itu dengan kemampuan dan kehendakku sendiri,” tentu saja ia layak mendapat tamparan dan peringatan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 39-40
*Karunia Yang Diperoleh Manusia Bukan Karena Kemampuannya Tapi Karena Rahmat Allah SWT*
Begitu pula kondisi manusia manakala ia mengingkari rahmat Penciptanya serta menyangkal hikmah-Nya lalu berkata dengan penuh kekufuran seperti ucapan Qarun:
اِنَّمَٓا اُوت۪يتُهُ عَلٰى عِلْمٍ . . . (٧٨)
_“Sesungguhnya aku diberi harta tersebut karena ilmu yang ada padaku”_ (QS. al-Qashash [28]: 78.). Tentu saja sikap ini membuatnya layak mendapat siksa. Jadi, kedudukan dan kekuasaan yang diraih manusia, serta kemajuan dan peradaban umat manusia tidak bersumber dari keunggulan dan kekuatannya. Tetapi semua itu ditundukkan kepada manusia karena kelemahannya.
Pertolongan diberikan karena ketidakberdayaannya, karunia diberikan karena kefakirannya, ilham diberikan karena kebodohannya, dan anugerah diberikan karena kebutuhannya. Kekuasaan yang didapat manusia bukan lantaran kekuatan yang ia miliki dan bukan karena pengetahuan yang ia punyai. Tetapi ia merupakan wujud kasih sayang, rahmat, dan hikmah ilahi sehingga segala sesuatu ditundukkan untuknya. Ya, manusia yang kalah oleh kalajengking yang tak memiliki mata, dan oleh ular yang tak memiliki kaki, bukan kekuatannya yang memakaikan ia sutra dari ulat kecil dan bukan pula yang memberi ia madu dari serangga beracun. Tetapi semua itu ia dapat dari buah kelemahannya yang berasal dari penundukan _rabbani_ dan kemurahan _rahmani_.
Wahai manusia! Jika demikian keadaannya, tinggalkan sifat sombong dan egoisme. Perlihatkan kelemahan dan ketidakberdayaanmu di hadapan tangga Tuhan lewat permintaan. Tampakkan kefakiran dan kebutuhanmu dengan lisan doa. Serta tunjukkan bahwa engkau benar-benar hamba Allah seraya berkata:
(حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ)
_'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’_. Lalu naiklah menuju tangga kemuliaan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 41-42
Begitu pula kondisi manusia manakala ia mengingkari rahmat Penciptanya serta menyangkal hikmah-Nya lalu berkata dengan penuh kekufuran seperti ucapan Qarun:
اِنَّمَٓا اُوت۪يتُهُ عَلٰى عِلْمٍ . . . (٧٨)
_“Sesungguhnya aku diberi harta tersebut karena ilmu yang ada padaku”_ (QS. al-Qashash [28]: 78.). Tentu saja sikap ini membuatnya layak mendapat siksa. Jadi, kedudukan dan kekuasaan yang diraih manusia, serta kemajuan dan peradaban umat manusia tidak bersumber dari keunggulan dan kekuatannya. Tetapi semua itu ditundukkan kepada manusia karena kelemahannya.
Pertolongan diberikan karena ketidakberdayaannya, karunia diberikan karena kefakirannya, ilham diberikan karena kebodohannya, dan anugerah diberikan karena kebutuhannya. Kekuasaan yang didapat manusia bukan lantaran kekuatan yang ia miliki dan bukan karena pengetahuan yang ia punyai. Tetapi ia merupakan wujud kasih sayang, rahmat, dan hikmah ilahi sehingga segala sesuatu ditundukkan untuknya. Ya, manusia yang kalah oleh kalajengking yang tak memiliki mata, dan oleh ular yang tak memiliki kaki, bukan kekuatannya yang memakaikan ia sutra dari ulat kecil dan bukan pula yang memberi ia madu dari serangga beracun. Tetapi semua itu ia dapat dari buah kelemahannya yang berasal dari penundukan _rabbani_ dan kemurahan _rahmani_.
Wahai manusia! Jika demikian keadaannya, tinggalkan sifat sombong dan egoisme. Perlihatkan kelemahan dan ketidakberdayaanmu di hadapan tangga Tuhan lewat permintaan. Tampakkan kefakiran dan kebutuhanmu dengan lisan doa. Serta tunjukkan bahwa engkau benar-benar hamba Allah seraya berkata:
(حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ)
_'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’_. Lalu naiklah menuju tangga kemuliaan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 41-42
*Ketinggian Derajat Manusia*
Jangan engkau berkata, “Aku tidak berarti. Apa pentingnya diriku sehingga alam ini ditundukkan oleh Dzat Yang Mahabijak dan Maha Mengetahui untukku dengan penuh perhatian, dan bahkan dituntut untuk menunaikan syukur komprehensif.” Pasalnya, jika dilihat dari sisi dirimu dan bentuk lahiriahmu, engkau memang tidak berarti. Namun jika dilihat dari tugas dan kedudukanmu, maka engkau adalah penyaksi dan pengawas yang cerdas terhadap jagat raya. Engkau adalah lisan fasih yang berbicara atas nama seluruh entitas yang penuh hikmah. Engkau juga penelaah yang cermat terhadap kitab alam.
Engkau pengawas yang penuh perenungan terhadap makhluk-makhluk yang bertasbih. Serta engkau laksana profesor dan arsitek yang ahli dari alam yang beribadah dan bersujud ini. Ya, wahai manusia! Dari sisi fisik biologismu dan diri hewanimu, engkau adalah partikel kecil dan hina, makhluk yang fakir, dan hewan yang lemah yang masuk ke dalam ombak entitas yang deras. Namun dari sisi kemanusiaanmu yang menjadi sempurna lewat tarbiah islamiah, yang bersinar dengan cahaya iman yang berisi kilau cinta Ilahi, engkau adalah raja dalam kehambaan ini. Engkau bersifat universal dalam kondisi parsialmu. Engkau adalah alam yang luas dalam kekerdilanmu. Engkau memiliki kedudukan yang tinggi meski tampak remeh.
Engkau pengawas alam yang memiliki _basirah_ yang menjangkau wilayah yang luas dan terlihat ini, hingga engkau bisa berkata, “Tuhanku Yang Maha Penyayang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggalku, menjadikan matahari dan bulan sebagai lentera, menjadikan musim semi sebagai karangan bunga mawar, menjadikan musim panas sebagai hidangan nikmat, menjadikan hewan sebagai pelayan yang tunduk, serta menjadikan tumbuhan sebagai hiasan bagi rumahku.” Kesimpulan: Jika engkau mendengar bisikan nafsu dan setan, engkau akan jatuh ke tingkat yang paling rendah. Namun jika engkau mendengar hakikat dan al-Qur’an, engkau akan naik ke tingkat yang paling tinggi dan menjadi _ahsanu taqwîm_ di alam ini.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 42-43
Jangan engkau berkata, “Aku tidak berarti. Apa pentingnya diriku sehingga alam ini ditundukkan oleh Dzat Yang Mahabijak dan Maha Mengetahui untukku dengan penuh perhatian, dan bahkan dituntut untuk menunaikan syukur komprehensif.” Pasalnya, jika dilihat dari sisi dirimu dan bentuk lahiriahmu, engkau memang tidak berarti. Namun jika dilihat dari tugas dan kedudukanmu, maka engkau adalah penyaksi dan pengawas yang cerdas terhadap jagat raya. Engkau adalah lisan fasih yang berbicara atas nama seluruh entitas yang penuh hikmah. Engkau juga penelaah yang cermat terhadap kitab alam.
Engkau pengawas yang penuh perenungan terhadap makhluk-makhluk yang bertasbih. Serta engkau laksana profesor dan arsitek yang ahli dari alam yang beribadah dan bersujud ini. Ya, wahai manusia! Dari sisi fisik biologismu dan diri hewanimu, engkau adalah partikel kecil dan hina, makhluk yang fakir, dan hewan yang lemah yang masuk ke dalam ombak entitas yang deras. Namun dari sisi kemanusiaanmu yang menjadi sempurna lewat tarbiah islamiah, yang bersinar dengan cahaya iman yang berisi kilau cinta Ilahi, engkau adalah raja dalam kehambaan ini. Engkau bersifat universal dalam kondisi parsialmu. Engkau adalah alam yang luas dalam kekerdilanmu. Engkau memiliki kedudukan yang tinggi meski tampak remeh.
Engkau pengawas alam yang memiliki _basirah_ yang menjangkau wilayah yang luas dan terlihat ini, hingga engkau bisa berkata, “Tuhanku Yang Maha Penyayang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggalku, menjadikan matahari dan bulan sebagai lentera, menjadikan musim semi sebagai karangan bunga mawar, menjadikan musim panas sebagai hidangan nikmat, menjadikan hewan sebagai pelayan yang tunduk, serta menjadikan tumbuhan sebagai hiasan bagi rumahku.” Kesimpulan: Jika engkau mendengar bisikan nafsu dan setan, engkau akan jatuh ke tingkat yang paling rendah. Namun jika engkau mendengar hakikat dan al-Qur’an, engkau akan naik ke tingkat yang paling tinggi dan menjadi _ahsanu taqwîm_ di alam ini.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 42-43
*Manusia Dibekali Motivasi dan Ancaman*
*Nuktah Kelima*
Manusia diutus ke dunia sebagai tamu dan petugas. Ia diberi sejumlah bakat dan potensi yang sangat penting. Karena itu, ia juga diberi berbagai tugas penting. Agar manusia dapat menunaikan tugasnya dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuannya, ia diberi motivasi dan ancaman. Di sini kami akan menjelaskan secara global sejumlah tugas manusia berikut landasan ubudiah yang telah kami jelaskan di tempat lain. Hal itu agar rahasia _ahsanu taqwîm_ dapat dipahami Kami tegaskan bahwa setelah datang ke dunia ini, manusia memiliki ubudiah dari dua sisi:
_Sisi pertama_: ubudiah dan tafakkur secara gaib (tidak langsung).
_Sisi kedua_: ubudiah dan munajat dalam bentuk dialog dan komunikasi langsung.
Sisi pertama berupa sikap membenarkan disertai ketaatan terhadap kekuasaan _rububiyah_ yang terlihat di alam ini serta melihat kesempurnaan dan keindahan-Nya dengan penuh takjub. Kemudian sikap mengambil pelajaran dari keindahan goresan Asmaul Husna yang suci serta menyerukan dan memperlihatkannya kepada pandangan sesama makhluk. Lalu menimbang permata dan mutiara nama-nama tersebut—sebagai kekayaan maknawi yang tersembunyi—dengan timbangan pengetahuan sekaligus menghargainya dengan penuh rasa hormat yang bersumber dari kalbu.
Setelah itu, bertafakkur dengan penuh takjub di saat menelaah lembaran bumi dan langit serta seluruh entitas yang laksana tulisan pena _qudrah_. Selanjutnya, mengamati hiasan entitas dan kreasi indah dan halus yang terdapat di dalamnya, merasa senang untuk mengenal Pencipta Yang Mahaindah, dan merasa rindu untuk naik ke tingkatan _hudhûr_ (hadir) di sisi Sang Pencipta Yang Mahasempurna sekaligus mendapat tatapan-Nya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 43-44
*Nuktah Kelima*
Manusia diutus ke dunia sebagai tamu dan petugas. Ia diberi sejumlah bakat dan potensi yang sangat penting. Karena itu, ia juga diberi berbagai tugas penting. Agar manusia dapat menunaikan tugasnya dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuannya, ia diberi motivasi dan ancaman. Di sini kami akan menjelaskan secara global sejumlah tugas manusia berikut landasan ubudiah yang telah kami jelaskan di tempat lain. Hal itu agar rahasia _ahsanu taqwîm_ dapat dipahami Kami tegaskan bahwa setelah datang ke dunia ini, manusia memiliki ubudiah dari dua sisi:
_Sisi pertama_: ubudiah dan tafakkur secara gaib (tidak langsung).
_Sisi kedua_: ubudiah dan munajat dalam bentuk dialog dan komunikasi langsung.
Sisi pertama berupa sikap membenarkan disertai ketaatan terhadap kekuasaan _rububiyah_ yang terlihat di alam ini serta melihat kesempurnaan dan keindahan-Nya dengan penuh takjub. Kemudian sikap mengambil pelajaran dari keindahan goresan Asmaul Husna yang suci serta menyerukan dan memperlihatkannya kepada pandangan sesama makhluk. Lalu menimbang permata dan mutiara nama-nama tersebut—sebagai kekayaan maknawi yang tersembunyi—dengan timbangan pengetahuan sekaligus menghargainya dengan penuh rasa hormat yang bersumber dari kalbu.
Setelah itu, bertafakkur dengan penuh takjub di saat menelaah lembaran bumi dan langit serta seluruh entitas yang laksana tulisan pena _qudrah_. Selanjutnya, mengamati hiasan entitas dan kreasi indah dan halus yang terdapat di dalamnya, merasa senang untuk mengenal Pencipta Yang Mahaindah, dan merasa rindu untuk naik ke tingkatan _hudhûr_ (hadir) di sisi Sang Pencipta Yang Mahasempurna sekaligus mendapat tatapan-Nya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 43-44
*Tingakatan _Hudhûr_ (Hadir) Sebagai Bentuk Ubudiah Langsung Dengan Allah SWT*
Sisi kedua adalah tingkatan _hudhûr_ (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.
Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, _“Allahu akbar, Subhânallah”_ secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh. Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.
Maka, ia menyikapinya lewat ucapan _mâsyâ Allah_ sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan _bârakallah_ sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan _subhânallah_ sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan _Allahu akbar_ sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya. Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan _rububiyah_-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai _ahsanu taqwîm_. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 44-46
Sisi kedua adalah tingkatan _hudhûr_ (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.
Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, _“Allahu akbar, Subhânallah”_ secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh. Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.
Maka, ia menyikapinya lewat ucapan _mâsyâ Allah_ sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan _bârakallah_ sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan _subhânallah_ sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan _Allahu akbar_ sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya. Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan _rububiyah_-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai _ahsanu taqwîm_. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 44-46
*Tingakatan _Hudhûr_ (Hadir) Sebagai Bentuk Ubudiah Langsung Dengan Allah SWT*
Sisi kedua adalah tingkatan _hudhûr_ (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.
Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, _“Allahu akbar, Subhânallah”_ secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh. Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.
Maka, ia menyikapinya lewat ucapan _mâsyâ Allah_ sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan _bârakallah_ sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan _subhânallah_ sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan _Allahu akbar_ sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya. Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan _rububiyah_-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai _ahsanu taqwîm_. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 44-46
Sisi kedua adalah tingkatan _hudhûr_ (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.
Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, _“Allahu akbar, Subhânallah”_ secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh. Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.
Maka, ia menyikapinya lewat ucapan _mâsyâ Allah_ sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan _bârakallah_ sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan _subhânallah_ sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan _Allahu akbar_ sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya. Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan _rububiyah_-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai _ahsanu taqwîm_. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 44-46
Ketahuilah bahwa doa merupakan rahasia ibadah yang agung.
Bahkan ia merupakan inti dan ruh ibadah.
Al-Maktûbat, hlm. 505
Bahkan ia merupakan inti dan ruh ibadah.
Al-Maktûbat, hlm. 505
*"Dua Potret" Keadaan Dunia: Dengan Iman dan Tanpa Iman*
Wahai manusia lalai yang tercipta dalam bentuk terbaik (_ahsanu taqwîm_), namun menuju tingkatan yang paling rendah karena salah memilih dan ceroboh! Dengarkan baik-baik dan perhatikan dua “Potret” yang termuat pada ‘kedudukan kedua’ dari ‘Kalimat Ketujuh Belas’ sehingga engkau juga bisa melihat bagaimana aku tadinya melihat dunia sepertimu tampak manis dan hijau saat aku dalam kondisi lalai dan mabuknya masa muda. Akan tetapi, ketika bangun dari kelalaian masa muda di pagi masa tua, wajah dunia yang tidak mengarah ke akhirat—dan yang tadinya kuanggap indah—ternyata sangat buruk. Sementara wajah dunia yang mengarah ke akhirat sangat indah.
_Potret Pertama_: Menggambarkan dunia kaum lalai. Aku melihatnya—tanpa mabuk padanya—serupa dengan dunia kaum sesat yang tertutupi oleh tirai kelalaian.
_Potret Kedua_: Menunjukkan hakikat kalangan yang mendapat petunjuk dan pemilik kalbu yang tenteram. Aku tidak mengganti kedua potret itu. Keduanya kubiarkan sebagaimana adanya. Meskipun menyerupai syair, namun ia bukanlah syair.
سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
_Mahasuci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui, kecuali yang Kau ajarkan pada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Mahabijaksana_.
رَبِّ اشْرَحْ ل۪ى صَدْر۪ى ٭ وَيَسِّرْ ل۪ٓى اَمْر۪ى ٭ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَان۪ى ٭ يَفْقَهُوا قَوْل۪ى
_“Ya Tuhan, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan ikatan dari lisanku sehingga mereka memahami ucapanku”_.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اللَّط۪يفَةِ الْاَحَدِيَّةِ شَمْسِ سَمَٓاءِ الْاَسْرَارِ وَ مَظْهَرِ الْاَنْوَارِ وَ مَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلَالِ وَ قُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ
اَللّٰهُمَّ بِسِرِّه۪ لَدَيْكَ وَ بِسَيْرِه۪ٓ اِلَيْكَ اٰمِنْ خَوْف۪ى وَ اَقِلْ عُثْرَت۪ى وَ اَذْهِبْ حُزْن۪ى وَ حِرْص۪ى وَ كُنْ ل۪ى وَ خُذْن۪ٓى اِلَيْكَ مِنّ۪ى وَ ارْزُقْنِى الْفَنَٓاءَ عَنّ۪ى وَ لَا تَجْعَلْن۪ى مَفْتُونًا بِنَفْس۪ى مَحْجُوبًا بِحِسّ۪ى وَاكْشِفْ ل۪ى عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُومٍ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ ٭ وَ ارْحَمْن۪ى وَارْحَمْ رُفَقَٓائ۪ى وَ ارْحَمْ اَهْلِ الْا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰم۪ينَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ وَ يَٓا اَكْرَمَ الْاَكْرَم۪ينَ ٭
_Ya Allah, limpahkan salawat dan salam atas Dzat Muhammad yang halus, mentari langit rahasia, manifestasi cahaya, pusat orbit keagungan, dan poros cakrawala keindahan._
_Ya Allah, dengan rahasianya di sisi-Mu dan dengan perjalanannya menuju kepada-Mu, berikan rasa aman padaku, maafk an kesalahanku, serta hilangkan rasa sedih dan tamak dari diriku. Jadilah Engkau untukku, raihlah diriku agar menuju kepada-Mu, serta anugerahkan diriku rasa fana dari diri ini. Jangan jadikan diriku diuji dengan diri sendiri, dan terhijab dengan perasaan sendiri. Singkapkan untukku semua rahasia yang tersembunyi. Wahai Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri. Wahai Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri.Kasihi aku, kasihi teman-temanku, kasihi kaum beriman, dan semua pengemban misi al-Qur’an. Kabulkanlah wahai Dzat Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam._
وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ
_Dan, akhir doa mereka adalah segala puji bagi Allah; Tuhan semesta alam._
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 46-49
Wahai manusia lalai yang tercipta dalam bentuk terbaik (_ahsanu taqwîm_), namun menuju tingkatan yang paling rendah karena salah memilih dan ceroboh! Dengarkan baik-baik dan perhatikan dua “Potret” yang termuat pada ‘kedudukan kedua’ dari ‘Kalimat Ketujuh Belas’ sehingga engkau juga bisa melihat bagaimana aku tadinya melihat dunia sepertimu tampak manis dan hijau saat aku dalam kondisi lalai dan mabuknya masa muda. Akan tetapi, ketika bangun dari kelalaian masa muda di pagi masa tua, wajah dunia yang tidak mengarah ke akhirat—dan yang tadinya kuanggap indah—ternyata sangat buruk. Sementara wajah dunia yang mengarah ke akhirat sangat indah.
_Potret Pertama_: Menggambarkan dunia kaum lalai. Aku melihatnya—tanpa mabuk padanya—serupa dengan dunia kaum sesat yang tertutupi oleh tirai kelalaian.
_Potret Kedua_: Menunjukkan hakikat kalangan yang mendapat petunjuk dan pemilik kalbu yang tenteram. Aku tidak mengganti kedua potret itu. Keduanya kubiarkan sebagaimana adanya. Meskipun menyerupai syair, namun ia bukanlah syair.
سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
_Mahasuci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui, kecuali yang Kau ajarkan pada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Mahabijaksana_.
رَبِّ اشْرَحْ ل۪ى صَدْر۪ى ٭ وَيَسِّرْ ل۪ٓى اَمْر۪ى ٭ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَان۪ى ٭ يَفْقَهُوا قَوْل۪ى
_“Ya Tuhan, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan ikatan dari lisanku sehingga mereka memahami ucapanku”_.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اللَّط۪يفَةِ الْاَحَدِيَّةِ شَمْسِ سَمَٓاءِ الْاَسْرَارِ وَ مَظْهَرِ الْاَنْوَارِ وَ مَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلَالِ وَ قُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ
اَللّٰهُمَّ بِسِرِّه۪ لَدَيْكَ وَ بِسَيْرِه۪ٓ اِلَيْكَ اٰمِنْ خَوْف۪ى وَ اَقِلْ عُثْرَت۪ى وَ اَذْهِبْ حُزْن۪ى وَ حِرْص۪ى وَ كُنْ ل۪ى وَ خُذْن۪ٓى اِلَيْكَ مِنّ۪ى وَ ارْزُقْنِى الْفَنَٓاءَ عَنّ۪ى وَ لَا تَجْعَلْن۪ى مَفْتُونًا بِنَفْس۪ى مَحْجُوبًا بِحِسّ۪ى وَاكْشِفْ ل۪ى عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُومٍ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ ٭ وَ ارْحَمْن۪ى وَارْحَمْ رُفَقَٓائ۪ى وَ ارْحَمْ اَهْلِ الْا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰم۪ينَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ وَ يَٓا اَكْرَمَ الْاَكْرَم۪ينَ ٭
_Ya Allah, limpahkan salawat dan salam atas Dzat Muhammad yang halus, mentari langit rahasia, manifestasi cahaya, pusat orbit keagungan, dan poros cakrawala keindahan._
_Ya Allah, dengan rahasianya di sisi-Mu dan dengan perjalanannya menuju kepada-Mu, berikan rasa aman padaku, maafk an kesalahanku, serta hilangkan rasa sedih dan tamak dari diriku. Jadilah Engkau untukku, raihlah diriku agar menuju kepada-Mu, serta anugerahkan diriku rasa fana dari diri ini. Jangan jadikan diriku diuji dengan diri sendiri, dan terhijab dengan perasaan sendiri. Singkapkan untukku semua rahasia yang tersembunyi. Wahai Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri. Wahai Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri.Kasihi aku, kasihi teman-temanku, kasihi kaum beriman, dan semua pengemban misi al-Qur’an. Kabulkanlah wahai Dzat Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam._
وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ
_Dan, akhir doa mereka adalah segala puji bagi Allah; Tuhan semesta alam._
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 46-49
*Sebelas Frasa Yang Merangkum Ketauhidan*
*SURAT KEDUA PULUH*
بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَر۪يكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ
_(Tiada Tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia pemilik seluruh kerajaaan dan pujian. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Mahahidup; tidak mati. Di tangan-Nya tergenggam segala kebaikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dan kepada-Nya semua kembali)_
Kalimat di atas yang berisi rangkuman tauhid menjelaskan
sebelas frasa. Membacanya selepas shalat subuh dan magrib mendatangkan banyak keutamaan. Sampai-sampai dalam sebuah riwayat sahih disebutkan bahwa ia membawa tingkatan ismul a’zham. Jadi, tidak aneh kalau setiap frasa darinya membersitkan harapan dan kabar gembira serta membawa salah satu tingkatan tauhid rububiyah yang agung.
Dari sisi ismul a’zham ia menjelaskan keesaan dan kesempurnaan tauhid. Karena hakikat yang luas dan mulia ini telah dijelaskan secara terang benderang dalam seluruh al-Kalimât, pembaca bisa merujuk kepadanya. Di sini kami hanya akan mengemukakan daftar isi darinya seperti yang telah dijanjikan sebelumnya dalam bentuk yang ringkas dan sangat global terdiri dari dua kedudukan dan sebuah pendahuluan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 51-52
*SURAT KEDUA PULUH*
بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَر۪يكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ
_(Tiada Tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia pemilik seluruh kerajaaan dan pujian. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Mahahidup; tidak mati. Di tangan-Nya tergenggam segala kebaikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dan kepada-Nya semua kembali)_
Kalimat di atas yang berisi rangkuman tauhid menjelaskan
sebelas frasa. Membacanya selepas shalat subuh dan magrib mendatangkan banyak keutamaan. Sampai-sampai dalam sebuah riwayat sahih disebutkan bahwa ia membawa tingkatan ismul a’zham. Jadi, tidak aneh kalau setiap frasa darinya membersitkan harapan dan kabar gembira serta membawa salah satu tingkatan tauhid rububiyah yang agung.
Dari sisi ismul a’zham ia menjelaskan keesaan dan kesempurnaan tauhid. Karena hakikat yang luas dan mulia ini telah dijelaskan secara terang benderang dalam seluruh al-Kalimât, pembaca bisa merujuk kepadanya. Di sini kami hanya akan mengemukakan daftar isi darinya seperti yang telah dijanjikan sebelumnya dalam bentuk yang ringkas dan sangat global terdiri dari dua kedudukan dan sebuah pendahuluan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 51-52
*Urgensi Mengenal Allah dan Cinta Kepada-Nya*
Ketahuilah dengan yakin bahwa tujuan penciptaan yang paling utama dan buah fitrah yang paling agung adalah “Iman kepada Allah”. Ketahuilah bahwa tingkatan kemanusian yang paling tinggi dan derajat _basyariyah_ yang paling baik adalah “Mengenal Allah” (_makrifatullah_) yang terkandung dalam keimanan di atas. Ketahui pula bahwa kebahagiaan dan nikmat terindah bagi jin dan manusia adalah “Cinta kepada Allah” yang lahir dari makrifat tadi. Serta ketahuilah bahwa kegembiraan jiwa yang paling bening dan suka cita kalbu yang paling murni adalah “Kenikmatan Spiritual” yang tepercik dari cinta tadi. Ya, seluruh jenis kebahagiaan sejati, kegembiraan murni, dan kenikmatan tiada tara hanya terdapat dalam ‘makrifatullah’ dan ‘cinta kepada Allah’.
Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kenikmatan yang sebenarnya tanpa makrifatullah. Setiap orang yang benar-benar mengenal Allah lalu mengisi kalbunya dengan cahaya cinta pada-Nya, pasti ia layak menda patkan kebahagiaan yang tak pernah berakhir, kenikmatan yang tak pernah habis, serta cahaya dan rahasia yang tak pernah pudar. Ia akan meraihnya secara nyata, atau dalam bentuk potensi. Sementara, orang yang tidak mengenal Penciptanya dengan benar dan tidak memiliki perasaan cinta yang layak, akan sengsara secara materiil dan moril. Ia juga senantiasa mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhingga. Ya, orang malang tersebut yang menderita akibat tidak menemukan Tuhan dan Pelindungnya serta gelisah lantaran hidup nya yang hina dan tak bermakna, sementara ia dalam kondisi lemah di tengah-tengah manusia yang tidak bahagia, apa yang bisa membantunya dalam menghadapi kondisi yang ia hadapi, meskipun ia penguasa seluruh dunia?
Betapa malangnya orang tersebut yang terombang-ambing dalam kehidupan yang fana dan berada di antara kumpulan manusia liar jika tidak menemukan Tuhan yang Mahabenar, serta tidak mengenal Pemilik dan Rabb-nya dengan benar. Namun ka lau ia menemukan Tuhannya dan mengenal Pemiliknya, tentu ia menuju kepada dekapan rahmat-Nya yang luas dan bersandar pada keagungan qudrah-Nya yang mutlak, maka dunia yang buas ini akan berubah baginya menjadi taman yang menyenangkan dan pasar bisnis yang menguntungkan
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 52-54
Ketahuilah dengan yakin bahwa tujuan penciptaan yang paling utama dan buah fitrah yang paling agung adalah “Iman kepada Allah”. Ketahuilah bahwa tingkatan kemanusian yang paling tinggi dan derajat _basyariyah_ yang paling baik adalah “Mengenal Allah” (_makrifatullah_) yang terkandung dalam keimanan di atas. Ketahui pula bahwa kebahagiaan dan nikmat terindah bagi jin dan manusia adalah “Cinta kepada Allah” yang lahir dari makrifat tadi. Serta ketahuilah bahwa kegembiraan jiwa yang paling bening dan suka cita kalbu yang paling murni adalah “Kenikmatan Spiritual” yang tepercik dari cinta tadi. Ya, seluruh jenis kebahagiaan sejati, kegembiraan murni, dan kenikmatan tiada tara hanya terdapat dalam ‘makrifatullah’ dan ‘cinta kepada Allah’.
Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kenikmatan yang sebenarnya tanpa makrifatullah. Setiap orang yang benar-benar mengenal Allah lalu mengisi kalbunya dengan cahaya cinta pada-Nya, pasti ia layak menda patkan kebahagiaan yang tak pernah berakhir, kenikmatan yang tak pernah habis, serta cahaya dan rahasia yang tak pernah pudar. Ia akan meraihnya secara nyata, atau dalam bentuk potensi. Sementara, orang yang tidak mengenal Penciptanya dengan benar dan tidak memiliki perasaan cinta yang layak, akan sengsara secara materiil dan moril. Ia juga senantiasa mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhingga. Ya, orang malang tersebut yang menderita akibat tidak menemukan Tuhan dan Pelindungnya serta gelisah lantaran hidup nya yang hina dan tak bermakna, sementara ia dalam kondisi lemah di tengah-tengah manusia yang tidak bahagia, apa yang bisa membantunya dalam menghadapi kondisi yang ia hadapi, meskipun ia penguasa seluruh dunia?
Betapa malangnya orang tersebut yang terombang-ambing dalam kehidupan yang fana dan berada di antara kumpulan manusia liar jika tidak menemukan Tuhan yang Mahabenar, serta tidak mengenal Pemilik dan Rabb-nya dengan benar. Namun ka lau ia menemukan Tuhannya dan mengenal Pemiliknya, tentu ia menuju kepada dekapan rahmat-Nya yang luas dan bersandar pada keagungan qudrah-Nya yang mutlak, maka dunia yang buas ini akan berubah baginya menjadi taman yang menyenangkan dan pasar bisnis yang menguntungkan
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 52-54
*Kabar Gembira Yang Lahir Dari Tauhid*
KEDUDUKAN PERTAMA
Setiap Frasa dari kalimat tauhid yang menakjubkan tersebut memberikan kabar gembira dan mengembuskan harapan hangat. Pada setiap kabar gembira terdapat obat dan balsam penyembuh. Serta pada setiap balsam terdapat kenikmatan dan kesenangan maknawi.
*Frasa Pertama: (لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ )*
Frasa ini memberikan kabar gembira dan harapan sebagai berikut: Jiwa manusia yang mendambakan kebutuhan tak terhingga dan pada waktu bersamaan menjadi sasaran dari musuh yang tak terbilang, jiwa yang diuji dengan kebutuhan tak terhingga dan musuh tak terbilang itu, menemukan sumber bantuan dari frasa yang agung di atas di mana ia membukakan untuknya sejumlah pintu khazanah rahmat yang luas yang mengalirkan sesuatu yang dapat memenuhi dan menjamin segala kebutuhan.
Di dalamnya ia juga menemukan sandaran yang kokoh yang bisa menangkal semua kejahatan dan menyingkirkan mara bahaya. Yaitu dengan memperlihatkan kekuatan Tuhannya Yang Mahabenar kepada manusia, membimbing kepada Pemiliknya Yang Mahakuasa, serta menunjukkan kepada Pencipta dan Dzat yang disembahnya. Lewat pandangan yang lurus tersebut dan pengenalan terhadap Allah Yang Mahaesa, frasa di atas menyelamatkan kalbu manusia dari gelap sunyi dan ilusi serta menolong jiwanya dari pedihnya kesedihan. Bahkan ia mendatangkan kegembiraan abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 54-55
KEDUDUKAN PERTAMA
Setiap Frasa dari kalimat tauhid yang menakjubkan tersebut memberikan kabar gembira dan mengembuskan harapan hangat. Pada setiap kabar gembira terdapat obat dan balsam penyembuh. Serta pada setiap balsam terdapat kenikmatan dan kesenangan maknawi.
*Frasa Pertama: (لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ )*
Frasa ini memberikan kabar gembira dan harapan sebagai berikut: Jiwa manusia yang mendambakan kebutuhan tak terhingga dan pada waktu bersamaan menjadi sasaran dari musuh yang tak terbilang, jiwa yang diuji dengan kebutuhan tak terhingga dan musuh tak terbilang itu, menemukan sumber bantuan dari frasa yang agung di atas di mana ia membukakan untuknya sejumlah pintu khazanah rahmat yang luas yang mengalirkan sesuatu yang dapat memenuhi dan menjamin segala kebutuhan.
Di dalamnya ia juga menemukan sandaran yang kokoh yang bisa menangkal semua kejahatan dan menyingkirkan mara bahaya. Yaitu dengan memperlihatkan kekuatan Tuhannya Yang Mahabenar kepada manusia, membimbing kepada Pemiliknya Yang Mahakuasa, serta menunjukkan kepada Pencipta dan Dzat yang disembahnya. Lewat pandangan yang lurus tersebut dan pengenalan terhadap Allah Yang Mahaesa, frasa di atas menyelamatkan kalbu manusia dari gelap sunyi dan ilusi serta menolong jiwanya dari pedihnya kesedihan. Bahkan ia mendatangkan kegembiraan abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 54-55
*Allah Esa dan Tidak Memiliki Sekutu Dalam Rububiyah-Nya*
*Frasa Kedua: (وَحْدَهُ)*
Frasa ini memberikan harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Jiwa dan kalbu manusia yang tertekan, bahkan tenggelam hingga sulit bernafas karena terikat kuat dengan sebagian besar entitas, pada frasa di atas menemukan jalan keluar yang aman yang bisa menyelamatkannya dari sejumlah kebinasaan. Dengan kata lain, frasa وَحْدَهُ menegaskan bahwa: Allah Mahaesa. Karena itu, jangan kau penatkan dirimu wahai manusia dengan terus-menerus merujuk kepada makhluk. Jangan merendah kepada mereka sehingga tertawan oleh jasa dan perilaku buruk mereka. Jangan kau tundukkan kepala di hadapan mereka dan mencari muka pada mereka. Jangan membebani dirimu sehingga engkau bergantung pada mereka. Serta jangan takut kepada mereka. Pasalnya, Penguasa alam adalah satu. Di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Di tangan-Nya terdapat kendali atas segala sesuatu. Seluruh ikatan bisa lepas dengan perintah-Nya. Semua kesulitan bisa lenyap dengan izin-Nya. Jika engkau “menemukan-Nya”, maka engkau berkuasa atas segala sesuatu, bisa meraih apa yang kau inginkan, selamat dari segala beban jasa, serta bebas dari tawanan ketakutan.
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu. Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya.
Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan. Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 55-57
*Frasa Kedua: (وَحْدَهُ)*
Frasa ini memberikan harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Jiwa dan kalbu manusia yang tertekan, bahkan tenggelam hingga sulit bernafas karena terikat kuat dengan sebagian besar entitas, pada frasa di atas menemukan jalan keluar yang aman yang bisa menyelamatkannya dari sejumlah kebinasaan. Dengan kata lain, frasa وَحْدَهُ menegaskan bahwa: Allah Mahaesa. Karena itu, jangan kau penatkan dirimu wahai manusia dengan terus-menerus merujuk kepada makhluk. Jangan merendah kepada mereka sehingga tertawan oleh jasa dan perilaku buruk mereka. Jangan kau tundukkan kepala di hadapan mereka dan mencari muka pada mereka. Jangan membebani dirimu sehingga engkau bergantung pada mereka. Serta jangan takut kepada mereka. Pasalnya, Penguasa alam adalah satu. Di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Di tangan-Nya terdapat kendali atas segala sesuatu. Seluruh ikatan bisa lepas dengan perintah-Nya. Semua kesulitan bisa lenyap dengan izin-Nya. Jika engkau “menemukan-Nya”, maka engkau berkuasa atas segala sesuatu, bisa meraih apa yang kau inginkan, selamat dari segala beban jasa, serta bebas dari tawanan ketakutan.
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu. Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya.
Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan. Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 55-57
*Allah Tiada Sekutu Bagi-Nya*
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu.
Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan.
Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 56-57
*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*
Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu.
Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya. Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan.
Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 56-57
*Seluruh Kerajaan Alam Ini Beserta Isinya Merupakan Milik Allah*
*Frasa Keempat: (ﻟَﻪُﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ)*
Yakni, seluruh kerajaan adalah miliknya tanpa kecuali. Engkau juga milik-Nya. Di samping merupakan hamba-Nya, Engkau pun pekerja dalam kerajaan-Nya. Frasa ini mengandung harapan dan mendatangkan kabar gembira. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan mengira engkau pemilik dirimu. Tidak. Pasalnya, engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri. Hal itu merupakan beban yang berat. Engkau tidak mampu menjaganya agar terbebas dari berbagai ujian dan musibah, serta tidak mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupmu. Karena itu, jangan menyengsarakan dirimu sendiri dengan sia-sia sehingga menjadi gelisah dan risau tanpa guna.
Kerajaan ini bukan milikmu; tetapi milik selainmu. Pemiliknya Mahakuasa. Dia juga Maha Penyayang. Maka, bersandarlah pada qudrah-Nya. Jangan pernah meragukan rahmat-Nya. Tinggalkan yang keruh, ambil yang jernih! Buanglah kesulitan dan sesuatu yang menyesakkan. Lalu ambillah nafas dalam-dalam! Raih kelapangan dan kebahagiaan! Ia juga menegaskan bahwa dunia ini yang secara maknawi kau inginkan dan kau cintai, yang membuatmu sakit dan risau karena derita di dalamnya, serta tak mampu kau perbaiki, semuanya adalah kerajaan milik Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang.
Karena itu, serahkan kerajaan ini pada-Nya. Biarkan Dia yang menanganinya. Bergembiralah dengan segala kesenangan dan kelapangannya tanpa mau dikeruhkan oleh penderitaan dan kesulitan yang ada. Tuhan Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia bertindak di kerajaan-Nya terserah kehendak-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Jika engkau merasa takut, pandanglah dari jendela lalu ucapkan seperti yang diucapkan oleh penyair Ibrahim Haqqi:
ﻟﻨﺮَ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻔﻌﻞُ
ﻓﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﺄﺟﻤﻞ.
_Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan Yang Dia lakukan pastilah yang paling indah._
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 57-58
*Frasa Keempat: (ﻟَﻪُﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ)*
Yakni, seluruh kerajaan adalah miliknya tanpa kecuali. Engkau juga milik-Nya. Di samping merupakan hamba-Nya, Engkau pun pekerja dalam kerajaan-Nya. Frasa ini mengandung harapan dan mendatangkan kabar gembira. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan mengira engkau pemilik dirimu. Tidak. Pasalnya, engkau tidak mampu mengurus dirimu sendiri. Hal itu merupakan beban yang berat. Engkau tidak mampu menjaganya agar terbebas dari berbagai ujian dan musibah, serta tidak mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupmu. Karena itu, jangan menyengsarakan dirimu sendiri dengan sia-sia sehingga menjadi gelisah dan risau tanpa guna.
Kerajaan ini bukan milikmu; tetapi milik selainmu. Pemiliknya Mahakuasa. Dia juga Maha Penyayang. Maka, bersandarlah pada qudrah-Nya. Jangan pernah meragukan rahmat-Nya. Tinggalkan yang keruh, ambil yang jernih! Buanglah kesulitan dan sesuatu yang menyesakkan. Lalu ambillah nafas dalam-dalam! Raih kelapangan dan kebahagiaan! Ia juga menegaskan bahwa dunia ini yang secara maknawi kau inginkan dan kau cintai, yang membuatmu sakit dan risau karena derita di dalamnya, serta tak mampu kau perbaiki, semuanya adalah kerajaan milik Sang Mahakuasa Yang Maha Penyayang.
Karena itu, serahkan kerajaan ini pada-Nya. Biarkan Dia yang menanganinya. Bergembiralah dengan segala kesenangan dan kelapangannya tanpa mau dikeruhkan oleh penderitaan dan kesulitan yang ada. Tuhan Mahabijak dan Maha Penyayang. Dia bertindak di kerajaan-Nya terserah kehendak-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya. Jika engkau merasa takut, pandanglah dari jendela lalu ucapkan seperti yang diucapkan oleh penyair Ibrahim Haqqi:
ﻟﻨﺮَ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻣﺎﺫﺍ ﻳﻔﻌﻞُ
ﻓﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﺄﺟﻤﻞ.
_Mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan Yang Dia lakukan pastilah yang paling indah._
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 57-58
Assalamu alaikum wr.wb,
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Kemukjizatan al-Qur’an dalam Mukjizat Para Nabi*
Narasumber: *Ustadz Ahmad Zaky Mubarak, S.H. (Mahasiswa Magister PKU Masjid İstiqlal)*
Waktu: Ahad, 26 Oktober 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai
Untuk bergabung ke kajian di Google Meet, klik link ini
https://meet.google.com/fvy-cbmu-hzz
Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: fvy-cbmu-hzz
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Kemukjizatan al-Qur’an dalam Mukjizat Para Nabi*
Narasumber: *Ustadz Ahmad Zaky Mubarak, S.H. (Mahasiswa Magister PKU Masjid İstiqlal)*
Waktu: Ahad, 26 Oktober 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai
Untuk bergabung ke kajian di Google Meet, klik link ini
https://meet.google.com/fvy-cbmu-hzz
Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: fvy-cbmu-hzz
Forwarded from Bu Zulfitri Fitri
Assalamu alaikum wr.wb,
Mohon hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Frugal Living Perspektif Said Nursi*
Narasumber: *Ustadz Torong Ma'ruf, S.Th.I (Sekretaris Yayasan Nur Semesta)*
Waktu: *Ahad, 01 Maret 2026*
Pukul: *16.00 WIB/17.00 WITA - Selesai*
Untuk gabung kajian Google Meet, silakan masuk link:
https://meet.google.com/kps-oxap-wsk
Or open Meet and enter this code: kps-oxap-wsk
Mohon hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Frugal Living Perspektif Said Nursi*
Narasumber: *Ustadz Torong Ma'ruf, S.Th.I (Sekretaris Yayasan Nur Semesta)*
Waktu: *Ahad, 01 Maret 2026*
Pukul: *16.00 WIB/17.00 WITA - Selesai*
Untuk gabung kajian Google Meet, silakan masuk link:
https://meet.google.com/kps-oxap-wsk
Or open Meet and enter this code: kps-oxap-wsk
*Hanya Allah Semata Yang Pantas Menerima Sanjungan dan Pujian*
*Frasa Kelima: (وَ لَهُ الْحَمْدُ)*
Yakni, segala sanjungan, pujian, dan karunia adalah milik-Nya semata dan hanya pantas untuk-Nya. Sebab, semua karunia dan nikmat berasal dari-Nya. Ia bersumber dari khazanah kekayaan-Nya yang luas. Sementara khazanah kekayaan-Nya tak pernah habis. Begitulah frasa di atas memberikan kabar gembira yang halus dan indah. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan merasa sakit dengan hilangnya nikmat. Sebab, khazanah rahmat-Nya tak pernah habis. Jangan meradang dengan lenyapnya karunia, karena ia tidak lain merupakan buah rahmat-Nya yang luas tak terhingga. Buah akan terus datang secara silih berganti selama pohonnya tetap ada.
Ketahuilah wahai manusia bahwa engkau mampu menjadikan manisnya nikmat seratus kali lebih banyak dari yang ada. Yaitu dengan melihat curahan rahmat dan pemberian karunia-Nya yang tertuju padamu. Hal itu terwujud dengan bersyukur dan memuji-Nya. Sebab, sebagaimana ketika seorang penguasa besar memberikan hadiah kepadamu—apel misalnya—maka hadiah tersebut berisi nikmat yang berkali-kali lebih nikmat dibandingkan lezatnya apel itu sendiri. Yaitu nikmat adanya perhatian dari sang penguasa yang dibungkus dengan kebaikan dan karunia nya.
Begitu pula dengan frasa وَ لَهُ الْحَمْدُ . Ia membukakan untukmu pintu yang luas yang mengalirkan kenikmatan maknawi murni di mana ia jauh lebih nikmat daripada nikmat itu sendiri. Hal itu terwujud dengan pujian dan syukur pada-Nya. Yakni, dengan merasakan karunia-Nya lewat nikmat yang Dia berikan. Yaitu dengan mengenal Sang Pemberi nikmat lewat cara merenungkan pemberian nikmat tersebut. Dengan kata lain, lewat cara merenungkan dan melihat rahmat dan kasih sayang-Nya yang terus tercurah kepadamu.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 58-59
*Frasa Kelima: (وَ لَهُ الْحَمْدُ)*
Yakni, segala sanjungan, pujian, dan karunia adalah milik-Nya semata dan hanya pantas untuk-Nya. Sebab, semua karunia dan nikmat berasal dari-Nya. Ia bersumber dari khazanah kekayaan-Nya yang luas. Sementara khazanah kekayaan-Nya tak pernah habis. Begitulah frasa di atas memberikan kabar gembira yang halus dan indah. Ia menegaskan: Wahai manusia, jangan merasa sakit dengan hilangnya nikmat. Sebab, khazanah rahmat-Nya tak pernah habis. Jangan meradang dengan lenyapnya karunia, karena ia tidak lain merupakan buah rahmat-Nya yang luas tak terhingga. Buah akan terus datang secara silih berganti selama pohonnya tetap ada.
Ketahuilah wahai manusia bahwa engkau mampu menjadikan manisnya nikmat seratus kali lebih banyak dari yang ada. Yaitu dengan melihat curahan rahmat dan pemberian karunia-Nya yang tertuju padamu. Hal itu terwujud dengan bersyukur dan memuji-Nya. Sebab, sebagaimana ketika seorang penguasa besar memberikan hadiah kepadamu—apel misalnya—maka hadiah tersebut berisi nikmat yang berkali-kali lebih nikmat dibandingkan lezatnya apel itu sendiri. Yaitu nikmat adanya perhatian dari sang penguasa yang dibungkus dengan kebaikan dan karunia nya.
Begitu pula dengan frasa وَ لَهُ الْحَمْدُ . Ia membukakan untukmu pintu yang luas yang mengalirkan kenikmatan maknawi murni di mana ia jauh lebih nikmat daripada nikmat itu sendiri. Hal itu terwujud dengan pujian dan syukur pada-Nya. Yakni, dengan merasakan karunia-Nya lewat nikmat yang Dia berikan. Yaitu dengan mengenal Sang Pemberi nikmat lewat cara merenungkan pemberian nikmat tersebut. Dengan kata lain, lewat cara merenungkan dan melihat rahmat dan kasih sayang-Nya yang terus tercurah kepadamu.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 58-59
*Allah Yang Menganugerahkan Kehidupan dan Dia Juga Yang Menopang Kebutuhannya*
*Frasa Keenam: (يُحْي۪ى)*
Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan, Dia pula yang menjaganya dengan rezeki yang diberikan. Dia yang menjamin seluruh hajat dan kebutuhannya. Dia pula yang menyiapkan semua faktor penopangnya. Berbagai tujuan kehidupan yang mulia kembali kepada-Nya. Serta berbagai hasil penting dari kehidupan menuju kepada-Nya. Sembilan puluh sembilan persen (99%) buah dan hasilnya mengarah dan kembali kepada-Nya. Begitulah, frasa di atas menyeru manusia yang fana dan lemah serta memberikan kabar gembira seraya menghembuskan harapan kepadanya.
Ia berkata: Wahai manusia, jangan penatkan dirimu dengan membawa beban kehidupan yang berat di atas pundakmu yang lemah. Jangan sampai dirimu menyedihkan fananya kehidupan. Jangan pernah menyesali kedatanganmu ke dunia setiap kali melihat lenyapnya sejumlah nikmat dan buahnya. Ketahuilah bahwa hidupmu yang membangun eksistensimu hanya akan kembali kepada Dzat Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri. Dia yang menjamin seluruh kebutuhan dan penopangnya. Kehidupan hanya akan kembali kepada-Nya berikut seluruh tujuan dan hasilnya yang banyak. Engkau hanyalah pekerja sederhana yang berada dalam bahtera kehidupan.
Karena itu, laksanakan kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Lalu raih upahmu dan nikmati. Ingatlah selalu betapa agungnya kehidupan yang menggerakkan gelombang wujud, berikut hasil dan buahnya, serta kemurahan Pemiliknya dan keluasan rahmat-Nya yang terlimpah. Renungkan semua itu dan terbanglah di angkasa suka cita. Bergembiralah dengannya dan tunaikan syukur yang harus kau persembahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa selama dirimu istikamah, hasil dari bahtera kehidupan ini pertama-tama akan dituliskan dalam lembaran amalmu. Lalu engkau akan diberi kehidupan yang kekal abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 59-60
*Frasa Keenam: (يُحْي۪ى)*
Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan, Dia pula yang menjaganya dengan rezeki yang diberikan. Dia yang menjamin seluruh hajat dan kebutuhannya. Dia pula yang menyiapkan semua faktor penopangnya. Berbagai tujuan kehidupan yang mulia kembali kepada-Nya. Serta berbagai hasil penting dari kehidupan menuju kepada-Nya. Sembilan puluh sembilan persen (99%) buah dan hasilnya mengarah dan kembali kepada-Nya. Begitulah, frasa di atas menyeru manusia yang fana dan lemah serta memberikan kabar gembira seraya menghembuskan harapan kepadanya.
Ia berkata: Wahai manusia, jangan penatkan dirimu dengan membawa beban kehidupan yang berat di atas pundakmu yang lemah. Jangan sampai dirimu menyedihkan fananya kehidupan. Jangan pernah menyesali kedatanganmu ke dunia setiap kali melihat lenyapnya sejumlah nikmat dan buahnya. Ketahuilah bahwa hidupmu yang membangun eksistensimu hanya akan kembali kepada Dzat Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri. Dia yang menjamin seluruh kebutuhan dan penopangnya. Kehidupan hanya akan kembali kepada-Nya berikut seluruh tujuan dan hasilnya yang banyak. Engkau hanyalah pekerja sederhana yang berada dalam bahtera kehidupan.
Karena itu, laksanakan kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Lalu raih upahmu dan nikmati. Ingatlah selalu betapa agungnya kehidupan yang menggerakkan gelombang wujud, berikut hasil dan buahnya, serta kemurahan Pemiliknya dan keluasan rahmat-Nya yang terlimpah. Renungkan semua itu dan terbanglah di angkasa suka cita. Bergembiralah dengannya dan tunaikan syukur yang harus kau persembahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa selama dirimu istikamah, hasil dari bahtera kehidupan ini pertama-tama akan dituliskan dalam lembaran amalmu. Lalu engkau akan diberi kehidupan yang kekal abadi.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 59-60
*Kematian Merupakan Pintu Menuju Kehidupan Abadi*
*Frasa Ketujuh: (وَ يُم۪يتُ)*
Artinya, Dia-lah yang menganugerahkan kematian. Yakni, Dia yang membebaskanmu dari tugas kehidupan, mengganti posisimu di dunia yang fana ini, menyelamatkanmu dari beban pengabdian, serta membebaskanmu dari tanggung jawab yang ada. Dengan kata lain, Dia menarikmu dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang abadi.
Demikianlah, frasa ini meneriakkan ke telinga manusia dan jin yang fana dan berkata: Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan kemusnahan, kesia-siaan, kefanaan, kepadaman, dan perpisahan abadi. Kematian bukan ketiadaan dan bukan pula sebuah kebetulan. Ia bukan kelenyapan tanpa ada yang berbuat. Namun ia adalah pembebasan tugas yang dilakukan oleh Dzat Yang Maha Berbuat, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.
Ia adalah perpindahan tempat, pergantian posisi, dan perjalanan menuju kebahagiaan abadi; tanah air yang asli. Artinya, kematian adalah pintu menuju alam barzakh; alam yang menghimpun 99% orang-orang tercinta.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61
*Frasa Ketujuh: (وَ يُم۪يتُ)*
Artinya, Dia-lah yang menganugerahkan kematian. Yakni, Dia yang membebaskanmu dari tugas kehidupan, mengganti posisimu di dunia yang fana ini, menyelamatkanmu dari beban pengabdian, serta membebaskanmu dari tanggung jawab yang ada. Dengan kata lain, Dia menarikmu dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang abadi.
Demikianlah, frasa ini meneriakkan ke telinga manusia dan jin yang fana dan berkata: Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan kemusnahan, kesia-siaan, kefanaan, kepadaman, dan perpisahan abadi. Kematian bukan ketiadaan dan bukan pula sebuah kebetulan. Ia bukan kelenyapan tanpa ada yang berbuat. Namun ia adalah pembebasan tugas yang dilakukan oleh Dzat Yang Maha Berbuat, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.
Ia adalah perpindahan tempat, pergantian posisi, dan perjalanan menuju kebahagiaan abadi; tanah air yang asli. Artinya, kematian adalah pintu menuju alam barzakh; alam yang menghimpun 99% orang-orang tercinta.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61
*Segala Yang Fana Mendapat Pantulan Kekelan Saat Dinisbatkan Kepada Dzat Yang Maha Abadi*
*Frasa Kedelapan: (وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ)*
Artinya, kesempurnaan, keindahan, dan kebaikan lahiriah yang terdapat pada entitas merupakan sarana menuju cinta. Ia terwujud lewat sesuatu yang tak bisa dideskripsikan dan digambarkan yang berasal dari Sang Pemilik keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan. Secercah manifestasi keindahan-Nya menyamai seluruh hal yang dicintai di dunia ini. Tuhan yang dicinta dan disembah memiliki kehidupan abadi dan kekal yang bersih dari kelenyapan dan bayangan kefanaan. Kehidupannya sempurna; jauh dari segala bentuk aib dan cacat.
Jadi, frasa di atas menegaskan hal berikut kepada semua makhluk, baik dari kalangan jin, manusia, maupun seluruh pemilik perasaan, kecerdasan, dan cinta: Kabar gembira untuk kalian! Kalian mendapatkan hembusan harapan dan kebaikan. Kalian memiliki Kekasih azali dan abadi yang bisa mengobati semua luka menganga akibat perpisahan abadi dengan orang-orang dunia yang kalian cintai. Ia memberikan balsam penyembuh lewat salep rahmat-Nya. Selama Dia ada dan kekal, segala sesuatu menjadi ringan.
Karena itu, jangan risau dan kecewa. Keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan yang membuat kalian mencintai sejumlah orang hanyalah kilasan bayangan lemah yang bersumber dari naungan tirai yang sangat tebal di mana ia merupakan salah satu manifestasi keindahan Sang Kekasih abadi. Maka, jangan kalian tersiksa oleh adanya perpisahan dengan mereka. Sebab, mereka semua hanyalah satu bentuk dari cermin yang memberi pantulan. Perubahan dan pergantian cermin akan memperbaharui dan memperindah pantulan manifestasi keindahan yang cemerlang. Selama Dia ada, segala sesuatu juga ada.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61-62
*Frasa Kedelapan: (وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ)*
Artinya, kesempurnaan, keindahan, dan kebaikan lahiriah yang terdapat pada entitas merupakan sarana menuju cinta. Ia terwujud lewat sesuatu yang tak bisa dideskripsikan dan digambarkan yang berasal dari Sang Pemilik keindahan, kesempurnaan, dan kebaikan. Secercah manifestasi keindahan-Nya menyamai seluruh hal yang dicintai di dunia ini. Tuhan yang dicinta dan disembah memiliki kehidupan abadi dan kekal yang bersih dari kelenyapan dan bayangan kefanaan. Kehidupannya sempurna; jauh dari segala bentuk aib dan cacat.
Jadi, frasa di atas menegaskan hal berikut kepada semua makhluk, baik dari kalangan jin, manusia, maupun seluruh pemilik perasaan, kecerdasan, dan cinta: Kabar gembira untuk kalian! Kalian mendapatkan hembusan harapan dan kebaikan. Kalian memiliki Kekasih azali dan abadi yang bisa mengobati semua luka menganga akibat perpisahan abadi dengan orang-orang dunia yang kalian cintai. Ia memberikan balsam penyembuh lewat salep rahmat-Nya. Selama Dia ada dan kekal, segala sesuatu menjadi ringan.
Karena itu, jangan risau dan kecewa. Keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan yang membuat kalian mencintai sejumlah orang hanyalah kilasan bayangan lemah yang bersumber dari naungan tirai yang sangat tebal di mana ia merupakan salah satu manifestasi keindahan Sang Kekasih abadi. Maka, jangan kalian tersiksa oleh adanya perpisahan dengan mereka. Sebab, mereka semua hanyalah satu bentuk dari cermin yang memberi pantulan. Perubahan dan pergantian cermin akan memperbaharui dan memperindah pantulan manifestasi keindahan yang cemerlang. Selama Dia ada, segala sesuatu juga ada.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 61-62
*Segala Kebaikan Berasal Dari Allah dan Dicatat Dalam Kitab-Nya*
*Frasa Kesembilan: (بِيَدِهِ الْخَيْرُ)*
Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Semua amal baik kalian dicatat dalam kitab-Nya. Seluruh amal salih yang kalian lakukan ada padanya. Frasa di atas menyeru jin dan manusia, memberikan kabar gembira kepada mereka, serta menghembuskan harapan dan kerinduan. Ia berkata: Wahai orang-orang malang! Ketika kalian meninggalkan dunia menuju kubur, jangan berujar, “Oh, sungguh sangat sedih. Harta kami lenyap begitu saja. Amal kami hilang percuma. Kami masuk ke dalam kubur yang sempit setelah berada di dunia yang luas...” Jangan... Jangan kalian meratap putus asa. Pasalnya, semua milik kalian terpelihara di sisi-Nya. Semua amal yang kalian kerjakan telah dicatat pada-Nya.
Jadi, tidak ada yang hilang. Tidak ada usaha yang terlupakan. Sebab, Allah Yang Mahaagung yang menggenggam segala kebaikan akan membalas amal kalian. Dia akan memanggil kalian untuk menghadap kepada-Nya setelah Dia meletakkan kalian di dalam tanah, tempat sementara kalian. Maka, betapa kalian sangat bahagia! Kalian telah menunaikan pengabdian dan telah menyelesaikan tugas. Kalian telah bebas. Hari-hari penat dan lelah telah berakhir. Sekarang kalian berjalan untuk mendapatkan upah dan menerima keuntungan.
Ya, Sang Mahakuasa dan Mahaagung yang memelihara seluruh benih dan biji yang merupakan lembaran amal, daftar pengabdian, dan ruang tugas musim semi masa lalu, kemudian Dia menebarkannya di musim semi yang indah saat ini dalam bentuk yang istimewa, sangat berkilau, penuh berkah, dan menakjubkan. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaindah tersebut sudah pasti juga menjaga hasil kehidupan dan amal kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan dalam bentuk yang terbaik dan berlimpah.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 62-63
*Frasa Kesembilan: (بِيَدِهِ الْخَيْرُ)*
Artinya, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya. Semua amal baik kalian dicatat dalam kitab-Nya. Seluruh amal salih yang kalian lakukan ada padanya. Frasa di atas menyeru jin dan manusia, memberikan kabar gembira kepada mereka, serta menghembuskan harapan dan kerinduan. Ia berkata: Wahai orang-orang malang! Ketika kalian meninggalkan dunia menuju kubur, jangan berujar, “Oh, sungguh sangat sedih. Harta kami lenyap begitu saja. Amal kami hilang percuma. Kami masuk ke dalam kubur yang sempit setelah berada di dunia yang luas...” Jangan... Jangan kalian meratap putus asa. Pasalnya, semua milik kalian terpelihara di sisi-Nya. Semua amal yang kalian kerjakan telah dicatat pada-Nya.
Jadi, tidak ada yang hilang. Tidak ada usaha yang terlupakan. Sebab, Allah Yang Mahaagung yang menggenggam segala kebaikan akan membalas amal kalian. Dia akan memanggil kalian untuk menghadap kepada-Nya setelah Dia meletakkan kalian di dalam tanah, tempat sementara kalian. Maka, betapa kalian sangat bahagia! Kalian telah menunaikan pengabdian dan telah menyelesaikan tugas. Kalian telah bebas. Hari-hari penat dan lelah telah berakhir. Sekarang kalian berjalan untuk mendapatkan upah dan menerima keuntungan.
Ya, Sang Mahakuasa dan Mahaagung yang memelihara seluruh benih dan biji yang merupakan lembaran amal, daftar pengabdian, dan ruang tugas musim semi masa lalu, kemudian Dia menebarkannya di musim semi yang indah saat ini dalam bentuk yang istimewa, sangat berkilau, penuh berkah, dan menakjubkan. Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaindah tersebut sudah pasti juga menjaga hasil kehidupan dan amal kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan dalam bentuk yang terbaik dan berlimpah.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 62-63