Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
Assalamu alaikum wr.wb,
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*

Tema: *Mencintai Rasulullah SAW Lewat Cahaya Risalahnya*

Narasumber: *Ustadz M. Latiful Khobir, S.S.I (Direktur TPQ Darussalam Lamongan)*

Waktu: Ahad, 7 September 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai

Untuk bergabung ke kajian di Google Meet,
klik link ini:
https://meet.google.com/gux-qmgw-asa

Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: gux-qmgw-asa
Malam ini
*Ilustrasi Perbedaan Manusia yang Taat Kepada Allah dan yang Menghamba Kepada Nafsu*

Ya, kemajuan dan peningkatan spiritual yang hakiki hanya terwujud dengan mengarahkan kalbu, jiwa, roh, dan akal, bahkan khayalan serta seluruh kekuatan manusia menuju kehidupan yang kekal abadi di mana masing-masing sibuk dengan tugas ubudiah yang diembannya. Adapun ilusi kaum yang sesat di mana mereka sibuk dengan berbagai kesenangan dunia yang rendah serta mengarahkan perhatian pada sejumlah kenikmatan parsialnya yang fana tanpa mau melihat kepada keindahan universal dan berbagai kenikmatannya yang abadi, seraya menggunakan kalbu, akal, dan seluruh perangkat halus manusia di bawah perintah nafsu _ammârah_ serta menghamba padanya, semua ini sama sekali bukan merupakan bentuk kemajuan. Sebaliknya, ia merupakan bentuk kejatuhan dan keruntuhan.

Aku telah menyaksikan hakikat ini dalam suatu kejadian imajiner yang akan kujelaskan lewat contoh berikut ini: Aku memasuki sebuah kota besar. Di dalamnya aku melihat sejumlah istana dan bangunan yang megah. Di depan istana tersebut terdapat pesta, festival, dan sejumlah acara yang menarik perhatian. Ia laksana teater dan tempat hiburan. Ia memiliki daya tarik. Akupun memperhatikan bahwa pemilik istana berada di depan pintu sedang bermain-main dengan anjingnya. Lalu para wanita menari bersama para pemuda asing. Kemudian para gadis belia menata beragam permainan anak-anak. Penjaga pintu istana melakukan pengawasan terhadap semuanya. Ketika itulah aku memahami bahwa istana tersebut kosong dan tugas-tugas di dalamnya diabaikan. Akhlak mereka telah terpuruk sehingga mereka terlihat dengan keadaan yang demikian di depan istana.

Kemudian ketika berjalan beberapa langkah, aku melihat sebuah istana lain. Di sana ada seekor anjing yang tidur di depan pintu bersama seorang penjaga yang gagah, tegap, dan tenang. Di depan istana itu tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Aku takjub dan heran dengan suasana hening seperti itu. Aku berusaha mencari tahu tentang sebabnya. Maka, aku pun masuk ke dalam istana itu. Ternyata istana tersebut ramai oleh penghuninya. Ada banyak tugas dan kewajiban penting yang dilakukan oleh mereka. Masing-masing berada di lantai yang diperuntukkan baginya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 28-29
*Membimbing Perangkat Maknawi Manusia Kepada Tujuan Hakikinya*

Di lantai pertama, ada sejumlah orang yang menata istana dan mengelola sejumlah urusannya. Di lantai kedua, beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang belajar. Di lantai ketiga, sekelompok wanita sedang menjahit, menyulam, membuat hiasan warna-warni serta ukiran indah di atas beragam pakaian. Adapun di lantai akhir, terdapat pemilik istana sedang melakukan telekomunikasi lewat telepon dengan raja untuk menjamin kenyamanan, keselamatan, dan kebebasan yang mulia dan menyenangkan bagi penghuni istana. Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya dan menunaikan tugas sesuai dengan kedudukannya. Karena tak terlihat oleh mereka, tidak ada yang menghalangiku untuk berkeliling di seluruh penjuru istana. Karena itu, aku bisa mengetahui semua keadaan dengan sangat bebas.

Kemudian aku meninggalkan istana dan berkeliling di kota. Ternyata kota itu terbagi atas dua jenis istana dan bangunan. Aku pun bertanya tentang sebabnya, lalu ada yang memberi tahu bahwa jenis istana pertama yang tak berpenghuni dan ada pesta di depannya merupakan tempat para pemimpin kafir dan orang-orang yang sesat. Sedangkan istana kedua adalah tempat tokoh orang beriman yang terhormat. Selanjutnya, di sisi kota lainnya terdapat istana yang bertuliskan nama “Said”. Aku pun heran. Saat kuperhatikan, seolah-olah fotoku terlihat olehku. Seketika aku terperanjat, kemudian akhirnya aku tersadar dari imajinasiku. Dengan taufik ilahi, aku ingin menjelaskan kejadian imajiner di
atas sebagai berikut:

Kota yang dimaksud adalah kehidupan sosial dan peradaban umat manusia. Setiap istana yang terdapat padanya merujuk kepada manusia. Adapun penghuni istananya merupakan anggota badan manusia seperti mata, telinga, serta perangkat halus seperti kalbu, jiwa, dan roh, berikut kecenderungannya yang berupa hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah. Setiap perangkat halus ini memiliki tugas ubudiah tertentu dengan segala kenikmatan dan kepedihannya. Sementara hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah, ia laksana penjaga pintu dan laksana anjing penjaga. Maka, menundukkan perangkat mulia itu kepada perintah hawa nafsu seraya membuat lupa tugas-tugas aslinya tentu merupakan bentuk kejatuhan dan kemerosotan, bukan kemajuan. Aspek yang lain engkau bisa menafsirkannya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 29-31
*Meski Sedikit, Usaha yang Halal sudah Cukup Membuahkan Kebahagiaan*

*Nuktah Ketiga*

Dilihat dari sisi perbuatan, perilaku, dan usahanya secara fisik, manusia merupakan makhluk hidup yang lemah dan tidak berdaya. Wilayah aktivitas dan kepemilikannya pada sisi ini sangat terbatas dan sempit. Ia hanya sejauh jangkauan tangannya. Bahkan sejumlah hewan jinak yang dapat dikendalikan oleh manusia juga telah dipengaruhi oleh sifat lemah dan malas yang ada pada diri manusia. Jika kambing dan sapi jinak—misalnya—dibandingkan dengan kambing dan sapi liar, maka perbedaan yang sangat jauh antara keduanya terlihat jelas. Namun dilihat dari sisi respon, penerimaan, doa, dan permintaannya, manusia merupakan tamu agung dan mulia di tempat jamuan dunia. Ia dijamu oleh Sang Pemurah dengan jamuan yang demikian megah, hingga Dia membukakan untuknya berbagai khazanah rahmat-Nya yang luas serta menundukkan para pelayan dan ciptaan-Nya yang tak terhingga untuknya.

Dia juga menyiapkan sebuah daerah yang sangat besar dan luas untuk manusia sebagai tempat rekreasi dan tamasya di mana setengahnya sejauh mata memandang, bahkan seluas jangkauan khayalan. Jika manusia bersandar pada egonya serta menjadikan kehidupan dunia sebagai akhir impiannya di mana upaya dan usahanya hanya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat sementara, maka ia akan terjerumus ke dalam daerah yang sempit dan usahanya akan sia-sia. Lalu di hari kebangkitan, seluruh organ yang diberikan kepada manusia akan menjadi saksi yang memberatkan dengan mengadukannya.

Sebaliknya, jika ia memahami bahwa dirinya merupakan tamu yang mulia lalu bertindak sesuai dengan izin Dzat Yang Menjamunya, yakni Sang Yang Maha Pemurah, kemudian menggunakan modal umurnya dalam wilayah yang disyariatkan, maka kegiatan dan amalnya akan berada dalam wilayah yang sangat luas di mana ia membentang sampai pada kehidupan abadi. Ia akan hidup tenang, aman, dan nyaman, serta bernapas lega sambil beristirahat. Ia pun bisa naik ke tingkatan yang paling tinggi. Selain itu, di akhirat kelak semua organ dan perangkat yang diberikan padanya akan menjadi saksi yang mendukungnya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 31-32
*Tujuan Dari Organ dan Perangkat Yang Dititipkan Kepada Manusia Adalah Untuk Meraih Kehidupan Abadi*

Ya, organ dan perangkat yang diberikan kepada manusia bukan untuk kehidupan dunia yang fana ini. Namun ia diberikan untuk kehidupan abadi. Ia memiliki peran yang sangat penting. Sebab, kalau kita membandingkan antara manusia dan hewan, kita melihat manusia seratus kali jauh lebih kaya daripada hewan dilihat dari segi perangkat dan organ yang dimiliknya. Namun dari segi kenikmatan dan kesenangan yang didapat di dunia, manusia seratus kali lebih miskin. Pasalnya, dalam setiap kenikmatan yang ia rasakan, manusia menghadapi ribuan derita sesudahnya. Kepedihan masa lalu, kesulitan masa kini, dan kecemasan terhadap masa depan, serta sejumlah derita akibat hilangnya kenikmatan merusak cita rasanya dan meninggalkan jejak penderitaan. Sementara itu, hewan tidak demikian. Ia merasakan kenikmatan tanpa disertai penderitaan. Ia merasakan segala sesuatu tanpa dirusak oleh kekeruhan. Ia tidak didera oleh derita masa lalu serta tidak cemas terhadap masa depan.

Ia hidup tenang dan lapang seraya bersyukur kepada Penciptanya. Jadi, manusia yang tercipta dalam “bentuk terbaik” jika hanya memfokuskan perhatian pada kehidupan dunia semata, maka ia akan jatuh seratus kali jauh lebih rendah daripada hewan meskipun dari sisi modal ia seratus kali lebih tinggi. Hakikat ini telah kujelaskan lewat sebuah perumpamaan yang dimuat dalam bagian lain. Namun di sini aku akan mengutarakannya kembali. Seseorang memberikan uang sebanyak sepuluh koin emas kepada pelayannya. Ia memerintahkan pelayan itu untuk memilih baju dari kain yang paling bagus untuk dirinya. Lalu ia memberikan kepada pelayan yang lain seribu koin emas. Namun selain memberi uang, ia juga memberi daftar kecil berisi sejumlah hal yang harus ia penuhi. Ia memasukkan uang dan daftar tadi ke dalam saku pelayan tersebut. Lalu ia menyuruh mereka pergi ke pasar.

Pelayan pertama membeli sebuah baju yang indah dari bahan yang paling bagus senilai sepuluh koin emas. Sementara pelayan kedua meniru dan mengikuti pelayan pertama. Karena kebodohannya, ia tidak melihat daft ar yang diberikan majikannya. Ia membayarkan seribu koin emas kepada si penjual untuk mendapatkan baju yang bagus. Namun si penjual yang tidak jujur itu memberinya baju yang paling jelek. Nah, ketika pelayan yang malang pulang ke rumah majikan dan berada di hadapannya, ia mendapat teguran dan hukuman yang keras. Orang yang memiliki sedikit kesadaran pun pasti dapat menangkap kalau pelayan kedua yang diberi seribu koin emas tidak disuruh pergi ke pasar untuk membeli baju. Namun ia disuruh pergi ke pasar untuk melakukan perniagaan dalam satu niaga yang sangat penting.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 32-34
*Rahasia Dibalik Pemberian Perangkat Yang Berbeda Antara Manusia dan Hewan*

Demikian halnya dengan manusia yang diberi sejumlah perangkat maknawi dan indra manusiawi yang jika setiap bagiannya dibandingkan dengan apa yang terdapat pada hewan, tentu akan terlihat jelas bahwa peragkat manusia seratus kali lipat lebih luas jangkauannya. Misalnya, mata manusia yang bisa membedakan berbagai jenis tingkat keindahan; daya kecapnya yang bisa membedakan beragam makanan dengan sejumlah cita rasanya; akalnya yang menembus kedalaman hakikat dan detail-detailnya; serta kalbunya yang merindukan semua jenis kesempurnaan. Mana mungkin semua perangkat tersebut dan yang sejenisnya dibandingkan dengan perangkat yang terdapat pada hewan yang sangat sederhana di mana ia hanya bisa menyingkap dua atau tiga tingkatan. Ini tentu saja di luar aktivitas khusus yang terkait dengan perangkat khusus pada hewan tertentu di mana ia melaksanakan pekerjaannya itu dalam bentuk yang bisa jadi mengungguli manusia. Hanya saja hal itu bersifat khusus.

Rahasia mengapa manusia dianugerahi perangkat yang begitu banyak adalah karena indra dan perasaan manusia mendapatkan kekuatan, pertumbuhan, ketersingkapan, dan pembentangan yang lebih banyak lantaran memiliki akal dan pikiran. Karena kebutuhannya banyak, maka muncullah indranya yang sangat beragam. Lalu karena ia memiliki fitrah komprehensif, maka ia menjadi poros dari segala impian dan keinginan. Juga karena banyaknya tugas fitri yang dimiliki, maka perangkatnya juga berkembang dan meluas. Dengan keberadaan fitrah yang disiapkan untuk melakukan berbagai tugas ibadah, manusia diberi potensi yang mencakup seluruh benih kesempurnaan.

Oleh sebab itu, banyaknya perangkat dan besarnya modal manusia tidak mungkin diberikan sedemikian rupa hanya untuk memperoleh kehidupan dunia yang bersifat sementara dan fana. Namun tugas utama manusia adalah bagaimana ia menunaikan tugas-tugasnya yang mengarah kepada tujuan tak bertepi; menampakkan ketidakberdayaan dan kefakirannya di hadapan Allah dalam bentuk ubudiah; melihat tasbih entitas dengan pandangannya yang menyeluruh sehingga bersaksi atasnya; dan mengamati nikmat-nikmat Ilahi yang dianugerahkan pada mereka sehingga bersyukur atasnya; lalu melihat mukjizat qudrah Ilahi pada ciptaan sehingga bertafakkur dengan mengambil pelajaran darinya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 34-35
*Antara Hiburan Sesaat Dan Bekal Abadi*

Wahai penyembah dunia, pencinta kehidupan dunia yang fana dan lalai terhadap rahasia _ahsanu taqwîm_ (bentuk terbaik)! Perhatikan kejadian imajiner berikut yang mencerminkan hakikat kehidupan dunia. Kejadian inilah yang dilihat oleh “Said lama” sehingga dirinya berubah menjadi “Said baru”, yaitu:

Aku melihat diriku seakan-akan sedang berjalan dalam sebuah perjalanan panjang atau sedang diutus ke sebuah tempat yang jauh. Majikanku telah mengalokasikan untukku sebanyak enam puluh koin emas. Setiap hari ia memberiku sebagian darinya. Kemudian aku masuk ke sebuah hotel yang berisi tempat hiburan. Maka, akupun menghabiskan harta yang kumiliki—sekitar sepuluh koin—dalam satu malam saja di atas meja judi seraya begadang untuk mencari popularitas dan rasa kagum orang. Namun di pagi hari aku keluar dengan tangan kosong tanpa melakukan bisnis apa pun. Aku juga tidak dapat membeli sesuatu yang dibutuhkan di tempat yang kutuju. Yang tersisa hanya kepedihan dan sejumlah kesalahan yang lahir dari sejumlah kesenangan menyimpang disertai luka, duka, dan ratapan yang disebabkan oleh sejumlah kebodohan di atas. Ketika berada dalam kondisi lara dan sedih semacam itu tiba-tiba tampak seseorang di hadapanku yang berkata:

“Engkau telah menghabiskan seluruh modalmu dengan sia-sia. Engkau layak mendapat hukuman. Engkau akan pergi ke sebuah negeri yang kau tuju dengan tangan kosong. Jika engkau cerdas dan pintar, pintu tobat masih terbuka. Engkau bisa menyimpan setengah dari yang kau dapatkan, yaitu 15 koin sisanya untuk membeli sebagian barang yang kau butuhkan di tempat tersebut.” Aku pun bertanya kepada diri ini. Ternyata ia tidak rela. Orang itu berkata, “Kalau begitu sepertiganya saja.” Namun diri ini masih tidak rela. Lalu ia berkata, “Kalau begitu seperempatnya.” Ternyata diri ini masih tidak mau meninggalkan kebiasaan lamanya. Seketika orang itu menggelengkan kepalanya dan berpaling dengan penuh marah. Lalu ia pergi.

*BERSAMBUNG . . .*

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 36-37
*Sebuah Kisah Imajiner Seputar Hakikat Kehidupan Dunia*

*Lanjutan Kutipan Sebelumnya . . .*

Kemudian aku melihat semua keadaan telah berubah. Aku merasa diri ini berada di sebuah kereta yang berjalan dengan kecepatan tinggi di terowongan bawah tanah. Aku menjadi bingung. Namun tidak ada jalan lain bagiku karena aku tidak bisa pergi ke kanan atau ke kiri. Anehnya, di kedua sisi kereta terdapat sejumlah bunga indah serta buah-buahan yang lezat dan beragam. Kuulurkan tanganku padanya—layaknya orang bodoh—untuk memetik bunga dan buah-buahan itu. Namun ia sulit dijangkau. Ketika kusentuh, durinya menancap di tanganku sehingga terluka dan berdarah. Kereta terus berjalan dengan sangat cepat. Aku telah melukai diriku tanpa mendapat apa-apa.

Lalu salah seorang pegawai kereta berkata, “Berikan padaku lima sen. Aku akan memberimu sejumlah bunga dan buah yang kau inginkan. Dengan luka yang kau rasakan, engkau telah mengalami kerugian yang berkali-kali lipat dibandingkan dengan apa yang kau dapat dengan membayar lima sen. Belum lagi hukuman yang akan kau terima atas perbuatanmu tersebut. Sebab, engkau telah memetiknya tanpa izin.” Mendengar hal itu aku bertambah sedih. Dari jendela aku melihat ke depan untuk mengetahui akhir terowongan. Ternyata di dalamnya terdapat banyak lubang yang menggantikan mulut terowongan. Para penumpang dilempar keluar dari kereta menuju lubang itu. Kulihat di hadapanku ada sebuah lubang yang kedua sisinya diletakkan batu nisan. Aku menatapnya dengan cermat. Pada keduanya tertulis dengan huruf besar tulisan “Said”.

Seketika aku terperanjat, “Oh celaka!” Pada saat itulah aku mendengar suara orang yang sebelumnya memberiku nasihat di pintu tempat hiburan. Ia berkata: “Apakah engkau sudah sadar?!” “Ya, namun setelah hilang kesempatan karena kekuatanku telah habis, serta daya dan upayaku tak tersisa lagi” jawabku.
Ia berkata, “Bertobatlah dan bertawakkallah!”
“Hal itu telah kulakukan.”
Kemudian aku tersadar. “Said lama” pun hilang digantikan oleh “Said baru”. Semoga Allah menjadikan kejadian imajiner tersebut sebagai sebuah kebaikan. Aku akan menafsirkan sebagian darinya dan sisanya silakan ditafsirkan sendiri.

*Bersambung . . .*

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 37-38
*Hakikat Perjalanan Hidup Manusia*

Perjalanan tersebut adalah perjalanan yang bermula dari alam arwah, fase-fase alam rahim, masa muda, masa tua, kubur, barzakh, kebangkitan, _shirath_ hingga alam keabadian. Uang yang berjumlah enam puluh koin emas adalah usia enam puluh tahun. Ketika peristiwa ini terjadi aku berusia empat puluh lima tahun—menurut perkiraanku. Tidak ada kepastian bahwa aku bisa hidup sampai enam puluh tahun. Yang jelas salah seorang pelajar al-Qur’an yang tulus telah membimbingku agar aku menggunakan sisa umur—yaitu lima belas tahun—di jalan akhirat.

Hotelnya bagiku adalah kota Istanbul. Keretanya berupa perjalanan waktu. Setiap tahun laksana gerbong darinya. Terowongannya adalah kehidupan dunia. Lalu bunga dan buahnya yang berduri adalah berbagai kenikmatan dan permainan yang terlarang di mana kepedihan yang ditimbulkan oleh bayangan kepergiannya menyayat hati dan melukai jiwa sehingga manusia merasakan pahitnya derita saat membayangkannya.

Adapun makna dari ucapan pegawai kereta, “Berikan padaku lima sen. Aku akan memberimu sejumlah bunga dan buah yang kau inginkan,” adalah bahwa berbagai kesenangan yang dirasakan manusia lewat usaha yang dibenarkan cukup bagi kebahagiaan, ketenangan, dan kelapangan sehingga tidak perlu masuk ke dalam wilayah yang haram. Sisanya dapat kau tafsirkan sendiri.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 38-39
*Meraih Iman Dengan Kesadaran Akan Kekerdilan di Hadapan Allah SWT*

Di alam ini manusia menyerupai anak kecil kesayangan yang lemah. Namun dalam kelemahannya tersimpan kekuatan besar, dan dalam ketidakberdayaannya terdapat kemampuan yang menakjubkan. Sebab, lewat kekuatan lemahnya itu dan lewat kemampuan ketidakberdayaannya seluruh entitas ditundukkan untuknya. Jika manusia menyadari kelemahannya lalu meminta kepada Tuhan, baik lewat lisan, keadaan, maupun perilakunya, kemudian ia menyadari ketidakberdayaannya sehingga meminta tolong kepada Tuhannya seraya bersyukur karena alam ditundukkan untuknya, maka ia akan diberi taufik untuk dapat menggapai permintaannya.

Semua maksudnya menjadi tunduk serta impiannya akan terwujud. Sementara dia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat meraih seperseratusnya. Namun kadang keinginan yang dicapai lewat doa _lisân hâl_ ia nisbatkan pada kemampuannya sendiri. Sebagai contoh: Kekuatan yang terpendam dalam kelemahan anak ayam membuat sang induk menyerang singa. Lalu kekuatan yang tersimpan dalam kelemahan anak singa membuat sang induk yang buas mengalah untuk dirinya di mana ia rela menahan lapar demi anak-anaknya. Jadi, kekuatan besar yang terdapat dalam kelemahan layak diperhatikan.

Bahkan, wujud manifestasi rahmat dalam kelemahan tersebut patut dicermati dan dikagumi. Sebagaimana dengan kelemahan, anak kecil yang manja mendapatkan kasih sayang orang lain. Dan dengan tangisannya, ia memperoleh permintaannya. Maka, orang-orang kuat dan para pembesar pun tunduk padanya, sehingga ia bisa memperoleh apa yang tidak bisa diraihnya satu pun dari seribu keinginannya dengan kekuatannya yang kecil. Dengan demikian, kelemahan dan ketidakberdayaannya itulah yang menggerakkan dan membuat pihak lain mengasihi dan melindunginya.

Bahkan dengan telunjuknya yang kecil, ia dapat menjinakkan orang-orang besar. Andaikan anak kecil itu mengingkari kasih sayang tadi lalu menyangkal perlindungan tersebut di mana dengan sangat bodoh dan sombong ia berkata, “Akulah yang menundukkan semua orang kuat itu dengan kemampuan dan kehendakku sendiri,” tentu saja ia layak mendapat tamparan dan peringatan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 39-40
*Karunia Yang Diperoleh Manusia Bukan Karena Kemampuannya Tapi Karena Rahmat Allah SWT*

Begitu pula kondisi manusia manakala ia mengingkari rahmat Penciptanya serta menyangkal hikmah-Nya lalu berkata dengan penuh kekufuran seperti ucapan Qarun:
اِنَّمَٓا اُوت۪يتُهُ عَلٰى عِلْمٍ . . . (٧٨)
_“Sesungguhnya aku diberi harta tersebut karena ilmu yang ada padaku”_ (QS. al-Qashash [28]: 78.). Tentu saja sikap ini membuatnya layak mendapat siksa. Jadi, kedudukan dan kekuasaan yang diraih manusia, serta kemajuan dan peradaban umat manusia tidak bersumber dari keunggulan dan kekuatannya. Tetapi semua itu ditundukkan kepada manusia karena kelemahannya.

Pertolongan diberikan karena ketidakberdayaannya, karunia diberikan karena kefakirannya, ilham diberikan karena kebodohannya, dan anugerah diberikan karena kebutuhannya. Kekuasaan yang didapat manusia bukan lantaran kekuatan yang ia miliki dan bukan karena pengetahuan yang ia punyai. Tetapi ia merupakan wujud kasih sayang, rahmat, dan hikmah ilahi sehingga segala sesuatu ditundukkan untuknya. Ya, manusia yang kalah oleh kalajengking yang tak memiliki mata, dan oleh ular yang tak memiliki kaki, bukan kekuatannya yang memakaikan ia sutra dari ulat kecil dan bukan pula yang memberi ia madu dari serangga beracun. Tetapi semua itu ia dapat dari buah kelemahannya yang berasal dari penundukan _rabbani_ dan kemurahan _rahmani_.

Wahai manusia! Jika demikian keadaannya, tinggalkan sifat sombong dan egoisme. Perlihatkan kelemahan dan ketidakberdayaanmu di hadapan tangga Tuhan lewat permintaan. Tampakkan kefakiran dan kebutuhanmu dengan lisan doa. Serta tunjukkan bahwa engkau benar-benar hamba Allah seraya berkata:
(حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ)
_'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’_. Lalu naiklah menuju tangga kemuliaan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 41-42
*Ketinggian Derajat Manusia*

Jangan engkau berkata, “Aku tidak berarti. Apa pentingnya diriku sehingga alam ini ditundukkan oleh Dzat Yang Mahabijak dan Maha Mengetahui untukku dengan penuh perhatian, dan bahkan dituntut untuk menunaikan syukur komprehensif.” Pasalnya, jika dilihat dari sisi dirimu dan bentuk lahiriahmu, engkau memang tidak berarti. Namun jika dilihat dari tugas dan kedudukanmu, maka engkau adalah penyaksi dan pengawas yang cerdas terhadap jagat raya. Engkau adalah lisan fasih yang berbicara atas nama seluruh entitas yang penuh hikmah. Engkau juga penelaah yang cermat terhadap kitab alam.

Engkau pengawas yang penuh perenungan terhadap makhluk-makhluk yang bertasbih. Serta engkau laksana profesor dan arsitek yang ahli dari alam yang beribadah dan bersujud ini. Ya, wahai manusia! Dari sisi fisik biologismu dan diri hewanimu, engkau adalah partikel kecil dan hina, makhluk yang fakir, dan hewan yang lemah yang masuk ke dalam ombak entitas yang deras. Namun dari sisi kemanusiaanmu yang menjadi sempurna lewat tarbiah islamiah, yang bersinar dengan cahaya iman yang berisi kilau cinta Ilahi, engkau adalah raja dalam kehambaan ini. Engkau bersifat universal dalam kondisi parsialmu. Engkau adalah alam yang luas dalam kekerdilanmu. Engkau memiliki kedudukan yang tinggi meski tampak remeh.

Engkau pengawas alam yang memiliki _basirah_ yang menjangkau wilayah yang luas dan terlihat ini, hingga engkau bisa berkata, “Tuhanku Yang Maha Penyayang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggalku, menjadikan matahari dan bulan sebagai lentera, menjadikan musim semi sebagai karangan bunga mawar, menjadikan musim panas sebagai hidangan nikmat, menjadikan hewan sebagai pelayan yang tunduk, serta menjadikan tumbuhan sebagai hiasan bagi rumahku.” Kesimpulan: Jika engkau mendengar bisikan nafsu dan setan, engkau akan jatuh ke tingkat yang paling rendah. Namun jika engkau mendengar hakikat dan al-Qur’an, engkau akan naik ke tingkat yang paling tinggi dan menjadi _ahsanu taqwîm_ di alam ini.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 42-43
*Manusia Dibekali Motivasi dan Ancaman*

*Nuktah Kelima*

Manusia diutus ke dunia sebagai tamu dan petugas. Ia diberi sejumlah bakat dan potensi yang sangat penting. Karena itu, ia juga diberi berbagai tugas penting. Agar manusia dapat menunaikan tugasnya dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuannya, ia diberi motivasi dan ancaman. Di sini kami akan menjelaskan secara global sejumlah tugas manusia berikut landasan ubudiah yang telah kami jelaskan di tempat lain. Hal itu agar rahasia _ahsanu taqwîm_ dapat dipahami Kami tegaskan bahwa setelah datang ke dunia ini, manusia memiliki ubudiah dari dua sisi:

_Sisi pertama_: ubudiah dan tafakkur secara gaib (tidak langsung).
_Sisi kedua_: ubudiah dan munajat dalam bentuk dialog dan komunikasi langsung.
Sisi pertama berupa sikap membenarkan disertai ketaatan terhadap kekuasaan _rububiyah_ yang terlihat di alam ini serta melihat kesempurnaan dan keindahan-Nya dengan penuh takjub. Kemudian sikap mengambil pelajaran dari keindahan goresan Asmaul Husna yang suci serta menyerukan dan memperlihatkannya kepada pandangan sesama makhluk. Lalu menimbang permata dan mutiara nama-nama tersebut—sebagai kekayaan maknawi yang tersembunyi—dengan timbangan pengetahuan sekaligus menghargainya dengan penuh rasa hormat yang bersumber dari kalbu.

Setelah itu, bertafakkur dengan penuh takjub di saat menelaah lembaran bumi dan langit serta seluruh entitas yang laksana tulisan pena _qudrah_. Selanjutnya, mengamati hiasan entitas dan kreasi indah dan halus yang terdapat di dalamnya, merasa senang untuk mengenal Pencipta Yang Mahaindah, dan merasa rindu untuk naik ke tingkatan _hudhûr_ (hadir) di sisi Sang Pencipta Yang Mahasempurna sekaligus mendapat tatapan-Nya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 43-44
*Tingakatan _Hudhûr_ (Hadir) Sebagai Bentuk Ubudiah Langsung Dengan Allah SWT*

Sisi kedua adalah tingkatan _hudhûr_ (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.

Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, _“Allahu akbar, Subhânallah”_ secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh. Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.

Maka, ia menyikapinya lewat ucapan _mâsyâ Allah_ sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan _bârakallah_ sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan _subhânallah_ sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan _Allahu akbar_ sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya. Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan _rububiyah_-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai _ahsanu taqwîm_. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 44-46
*Tingakatan _Hudhûr_ (Hadir) Sebagai Bentuk Ubudiah Langsung Dengan Allah SWT*

Sisi kedua adalah tingkatan _hudhûr_ (hadir) dan dialog langsung dengan-Nya di mana ia tembus dari jejak menuju pemilik jejak. Ia melihat Sang Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan diri lewat berbagai mukjizat ciptaan-Nya. Maka, ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Selanjutnya, ia melihat Tuhan Yang Maha Penyayang menarik simpatinya lewat berbagai buah rahmat-Nya yang indah. Maka, ia pun membalas hal itu dengan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang dicinta lewat cinta dan pengabdiannya yang tulus. Setelah itu, ia melihat Pemberi nikmat Yang Maha Pemurah ingin memberikan nikmatnya yang lezat dalam bentuk materi dan immateri. Maka, ia membalas semua itu dengan perbuatan, kondisi, ucapan, lewat seluruh indra dan perangkatnya semampu mungkin dengan bersyukur dan memuji-Nya.

Kemudian, ia melihat Sang Mahaagung Yang Mahaindah memperlihatkan kebesaran dan kesempurnaan-Nya pada cermin entitas. Dia memperlihatkan keagungan dan keindahan-Nya di dalam cermin tersebut sehingga menarik perhatian semua mata. Maka, ia membalasnya dengan mengucap, _“Allahu akbar, Subhânallah”_ secara berulang-ulang seraya bersujud dengan penuh rasa takjub dan dengan rasa cinta yang mendalam seperti sujudnya orang yang tidak pernah merasa jenuh. Selanjutnya, ia melihat Dzat Mahakaya menawarkan khazanah dan kekayaan-Nya yang berlimpah. Maka, ia menyikapi hal itu dengan meminta dan berdoa dengan menunjukkan kepapaan disertai penghormatan dan pujian. Lalu, ia melihat Tuhan Sang Pencipta Yang Mahagung menjadikan bumi sebagai galeri menakjubkan yang memamerkan seluruh ciptaan unik dan langka.

Maka, ia menyikapinya lewat ucapan _mâsyâ Allah_ sebagai bentuk apresiasi terhadapnya, lewat ucapan _bârakallah_ sebagai bentuk penghargaan atasnya, lewat ucapan _subhânallah_ sebagai bentuk ketakjuban terhadapnya, dan lewat ucapan _Allahu akbar_ sebagai bentuk pengagungan terhadap Penciptanya. Setelah itu, ia melihat Dzat Yang Maha Esa menstempel seluruh entitas dengan stempel tauhid dan cap-Nya yang tak bisa ditiru. Dia tuliskan padanya ayat-ayat tauhid dan Dia tancapkan padanya panji tauhid di cakrawala alam seraya menampakkan _rububiyah_-Nya. Maka, ia menyikapi hal itu dengan sikap pembenaran, iman, tauhid, ketundukan, kesaksian, dan ubudiah. Dengan ibadah dan tafakkur semacam itu, manusia menjadi manusia hakiki sekaligus menampakkan dirinya sebagai _ahsanu taqwîm_. Maka, dengan keberkahan iman ia layak mendapat amanat besar dan menjadi khalifah yang amanah di muka bumi.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 44-46
Ketahuilah bahwa doa merupakan rahasia ibadah yang agung.
Bahkan ia merupakan inti dan ruh ibadah.
Al-Maktûbat, hlm. 505
*"Dua Potret" Keadaan Dunia: Dengan Iman dan Tanpa Iman*

Wahai manusia lalai yang tercipta dalam bentuk terbaik (_ahsanu taqwîm_), namun menuju tingkatan yang paling rendah karena salah memilih dan ceroboh! Dengarkan baik-baik dan perhatikan dua “Potret” yang termuat pada ‘kedudukan kedua’ dari ‘Kalimat Ketujuh Belas’ sehingga engkau juga bisa melihat bagaimana aku tadinya melihat dunia sepertimu tampak manis dan hijau saat aku dalam kondisi lalai dan mabuknya masa muda. Akan tetapi, ketika bangun dari kelalaian masa muda di pagi masa tua, wajah dunia yang tidak mengarah ke akhirat—dan yang tadinya kuanggap indah—ternyata sangat buruk. Sementara wajah dunia yang mengarah ke akhirat sangat indah.

_Potret Pertama_: Menggambarkan dunia kaum lalai. Aku melihatnya—tanpa mabuk padanya—serupa dengan dunia kaum sesat yang tertutupi oleh tirai kelalaian.
_Potret Kedua_: Menunjukkan hakikat kalangan yang mendapat petunjuk dan pemilik kalbu yang tenteram. Aku tidak mengganti kedua potret itu. Keduanya kubiarkan sebagaimana adanya. Meskipun menyerupai syair, namun ia bukanlah syair.

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَٓا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
_Mahasuci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui, kecuali yang Kau ajarkan pada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Mahabijaksana_.

رَبِّ اشْرَحْ ل۪ى صَدْر۪ى ٭ وَيَسِّرْ ل۪ٓى اَمْر۪ى ٭ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَان۪ى ٭ يَفْقَهُوا قَوْل۪ى
_“Ya Tuhan, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan ikatan dari lisanku sehingga mereka memahami ucapanku”_.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اللَّط۪يفَةِ الْاَحَدِيَّةِ شَمْسِ سَمَٓاءِ الْاَسْرَارِ وَ مَظْهَرِ الْاَنْوَارِ وَ مَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلَالِ وَ قُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ
اَللّٰهُمَّ بِسِرِّه۪ لَدَيْكَ وَ بِسَيْرِه۪ٓ اِلَيْكَ اٰمِنْ خَوْف۪ى وَ اَقِلْ عُثْرَت۪ى وَ اَذْهِبْ حُزْن۪ى وَ حِرْص۪ى وَ كُنْ ل۪ى وَ خُذْن۪ٓى اِلَيْكَ مِنّ۪ى وَ ارْزُقْنِى الْفَنَٓاءَ عَنّ۪ى وَ لَا تَجْعَلْن۪ى مَفْتُونًا بِنَفْس۪ى مَحْجُوبًا بِحِسّ۪ى وَاكْشِفْ ل۪ى عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُومٍ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ ٭ وَ ارْحَمْن۪ى وَارْحَمْ رُفَقَٓائ۪ى وَ ارْحَمْ اَهْلِ الْا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰم۪ينَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ وَ يَٓا اَكْرَمَ الْاَكْرَم۪ينَ ٭
_Ya Allah, limpahkan salawat dan salam atas Dzat Muhammad yang halus, mentari langit rahasia, manifestasi cahaya, pusat orbit keagungan, dan poros cakrawala keindahan._
_Ya Allah, dengan rahasianya di sisi-Mu dan dengan perjalanannya menuju kepada-Mu, berikan rasa aman padaku, maafk an kesalahanku, serta hilangkan rasa sedih dan tamak dari diriku. Jadilah Engkau untukku, raihlah diriku agar menuju kepada-Mu, serta anugerahkan diriku rasa fana dari diri ini. Jangan jadikan diriku diuji dengan diri sendiri, dan terhijab dengan perasaan sendiri. Singkapkan untukku semua rahasia yang tersembunyi. Wahai Yang Mahahidup dan Maha Berdiri sendiri. Wahai Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri.Kasihi aku, kasihi teman-temanku, kasihi kaum beriman, dan semua pengemban misi al-Qur’an. Kabulkanlah wahai Dzat Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam._

وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ
_Dan, akhir doa mereka adalah segala puji bagi Allah; Tuhan semesta alam._

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 46-49
*Sebelas Frasa Yang Merangkum Ketauhidan*

*SURAT KEDUA PULUH*

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَر۪يكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ حَىٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ
_(Tiada Tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia pemilik seluruh kerajaaan dan pujian. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Mahahidup; tidak mati. Di tangan-Nya tergenggam segala kebaikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dan kepada-Nya semua kembali)_

Kalimat di atas yang berisi rangkuman tauhid menjelaskan
sebelas frasa. Membacanya selepas shalat subuh dan magrib mendatangkan banyak keutamaan. Sampai-sampai dalam sebuah riwayat sahih disebutkan bahwa ia membawa tingkatan ismul a’zham. Jadi, tidak aneh kalau setiap frasa darinya membersitkan harapan dan kabar gembira serta membawa salah satu tingkatan tauhid rububiyah yang agung.

Dari sisi ismul a’zham ia menjelaskan keesaan dan kesempurnaan tauhid. Karena hakikat yang luas dan mulia ini telah dijelaskan secara terang benderang dalam seluruh al-Kalimât, pembaca bisa merujuk kepadanya. Di sini kami hanya akan mengemukakan daftar isi darinya seperti yang telah dijanjikan sebelumnya dalam bentuk yang ringkas dan sangat global terdiri dari dua kedudukan dan sebuah pendahuluan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 51-52
*Urgensi Mengenal Allah dan Cinta Kepada-Nya*

Ketahuilah dengan yakin bahwa tujuan penciptaan yang paling utama dan buah fitrah yang paling agung adalah “Iman kepada Allah”. Ketahuilah bahwa tingkatan kemanusian yang paling tinggi dan derajat _basyariyah_ yang paling baik adalah “Mengenal Allah” (_makrifatullah_) yang terkandung dalam keimanan di atas. Ketahui pula bahwa kebahagiaan dan nikmat terindah bagi jin dan manusia adalah “Cinta kepada Allah” yang lahir dari makrifat tadi. Serta ketahuilah bahwa kegembiraan jiwa yang paling bening dan suka cita kalbu yang paling murni adalah “Kenikmatan Spiritual” yang tepercik dari cinta tadi. Ya, seluruh jenis kebahagiaan sejati, kegembiraan murni, dan kenikmatan tiada tara hanya terdapat dalam ‘makrifatullah’ dan ‘cinta kepada Allah’.

Tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kenikmatan yang sebenarnya tanpa makrifatullah. Setiap orang yang benar-benar mengenal Allah lalu mengisi kalbunya dengan cahaya cinta pada-Nya, pasti ia layak menda patkan kebahagiaan yang tak pernah berakhir, kenikmatan yang tak pernah habis, serta cahaya dan rahasia yang tak pernah pudar. Ia akan meraihnya secara nyata, atau dalam bentuk potensi. Sementara, orang yang tidak mengenal Penciptanya dengan benar dan tidak memiliki perasaan cinta yang layak, akan sengsara secara materiil dan moril. Ia juga senantiasa mengalami penderitaan dan kesulitan yang tak terhingga. Ya, orang malang tersebut yang menderita akibat tidak menemukan Tuhan dan Pelindungnya serta gelisah lantaran hidup nya yang hina dan tak bermakna, sementara ia dalam kondisi lemah di tengah-tengah manusia yang tidak bahagia, apa yang bisa membantunya dalam menghadapi kondisi yang ia hadapi, meskipun ia penguasa seluruh dunia?

Betapa malangnya orang tersebut yang terombang-ambing dalam kehidupan yang fana dan berada di antara kumpulan manusia liar jika tidak menemukan Tuhan yang Mahabenar, serta tidak mengenal Pemilik dan Rabb-nya dengan benar. Namun ka lau ia menemukan Tuhannya dan mengenal Pemiliknya, tentu ia menuju kepada dekapan rahmat-Nya yang luas dan bersandar pada keagungan qudrah-Nya yang mutlak, maka dunia yang buas ini akan berubah baginya menjadi taman yang menyenangkan dan pasar bisnis yang menguntungkan

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 52-54
*Kabar Gembira Yang Lahir Dari Tauhid*

KEDUDUKAN PERTAMA

Setiap Frasa dari kalimat tauhid yang menakjubkan tersebut memberikan kabar gembira dan mengembuskan harapan hangat. Pada setiap kabar gembira terdapat obat dan balsam penyembuh. Serta pada setiap balsam terdapat kenikmatan dan kesenangan maknawi.

*Frasa Pertama: (لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ )*

Frasa ini memberikan kabar gembira dan harapan sebagai berikut: Jiwa manusia yang mendambakan kebutuhan tak terhingga dan pada waktu bersamaan menjadi sasaran dari musuh yang tak terbilang, jiwa yang diuji dengan kebutuhan tak terhingga dan musuh tak terbilang itu, menemukan sumber bantuan dari frasa yang agung di atas di mana ia membukakan untuknya sejumlah pintu khazanah rahmat yang luas yang mengalirkan sesuatu yang dapat memenuhi dan menjamin segala kebutuhan.

Di dalamnya ia juga menemukan sandaran yang kokoh yang bisa menangkal semua kejahatan dan menyingkirkan mara bahaya. Yaitu dengan memperlihatkan kekuatan Tuhannya Yang Mahabenar kepada manusia, membimbing kepada Pemiliknya Yang Mahakuasa, serta menunjukkan kepada Pencipta dan Dzat yang disembahnya. Lewat pandangan yang lurus tersebut dan pengenalan terhadap Allah Yang Mahaesa, frasa di atas menyelamatkan kalbu manusia dari gelap sunyi dan ilusi serta menolong jiwanya dari pedihnya kesedihan. Bahkan ia mendatangkan kegembiraan abadi.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 54-55