Perpustakaan UIN IB
1.43K subscribers
83 photos
10 videos
82 files
167 links
Nomor Pokok Perpustakaan : 1371092D0000002
Download Telegram
*Iman Merupakan Lentera Kehidupan*

Ternyata jembatan gantung yang besar itu adalah jalan datar yang lapang. Pekuburan besar yang tadinya terlihat di sisi kanan tidak lain merupakan majelis zikir, tahlil, perkumpulan mulia, pengabdian agung, dan ibadah yang luhur yang dipimpin oleh orang-orang bercahaya di taman hijau yang indah, di mana ia memancarkan keindahan dan menebarkan kebahagiaan di dalam hati. Lalu jurang dalam yang terlihat di sisi kiri tidak lain merupakan bukit-bukit berisi pepohonan hijau yang sejuk dipandang mata. Di belakangnya terdapat jamuan besar dan taman yang sangat indah. Ya, begitulah yang tampak dalam khayalanku.

Adapun berbagai makhluk menakutkan dan buas yang kulihat ternyata hanyalah hewan jinak seperti unta, kerbau, domba, dan kambing. Ketika itulah aku membaca ayat yang berbunyi:
اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ . . . (٢٥٧)
_“Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…”_ (QS. al-Baqarah [2]: 257). Aku pun terus mengucap, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan cahaya iman”. Setelah itu, aku tersadar dari kejadian di atas.

Demikianlah, kedua gunung yang dimaksud adalah awal dan
akhir dari kehidupan. Yakni, keduanya merupakan alam dunia dan alam barzakh. Sementara jembatan di atas adalah jalan kehidupan. Sisi kanan adalah masa lalu, sementara sisi kiri berupa masa depan. Lalu lenteranya berupa sifat egois manusia yang hanya melihat dirinya serta mengandalkan ilmu yang dimilikinya tanpa mau mendengar wahyu dari langit. Adapun binatang buasnya berupa sejumlah peristiwa alam yang menakjubkan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 6-7
*Menyingkap Hakikat Kehidupan Dengan Kacamata Iman*

Manusia yang mengandalkan egonya lalu jatuh ke dalam jaring gelapnya kelalaian dan rantai kesesatan laksana kondisiku yang pertama dalam peristiwa imajiner di atas di mana masa lalu—lewat cahaya redup yang berupa pengetahuan yang penuh kesesatan—tampak seperti pekuburan besar dalam gelapnya ketiadaan. Lalu ia menggambarkan masa depan seperti sesuatu yang seram berhias sejumlah kesulitan seraya menyandarkannya pada proses kebetulan yang buta. Ia juga menggambarkan semua kejadian dan entitas yang sebetulnya merupakan pesuruh yang tunduk kepada Dzat Yang Mahabijak dan Maha Pengasih laksana binatang buas yang berbahaya. Kondisi yang dialaminya seperti bunyi ayat al-Qur’an:
وَالَّذ۪ينَ كَفَرُٓوا اَوْلِيَٓاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ اِلَى الظُّلُمَاتِ ...(٢٥٧)
_“Orang-orang kafir, wali mereka adalah thagut. Thagut mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan…”._ (QS. al-Baqarah [2]: 257).

Namun jika manusia mendapat petunjuk Ilahi sehingga iman masuk ke dalam kalbu, lalu sifat fir’aunisme hancur lebur, kemudian mau mendengar pesan _kitabullah_, maka ia sama seperti kondisiku yang kedua dalam peristiwa imajiner di atas. Seluruh alam berubah menjadi siang dan diliputi oleh cahaya Ilahi. Semua mengucap ayat yang berbunyi:
اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ ... (٣٥)
_“Allah (sumber) cahaya langit dan bumi…”._ (QS. an-Nûr [24]: 35). Masa lalu bukanlah pekuburan besar seperti yang disangka. Namun, setiap masanya seperti yang disaksikan oleh penglihatan kalbu, penuh dengan sejumlah jamaah yang mengerjakan tugas ubudiah di bawah kendali Nabi utusan atau sekelompok wali saleh yang mengatur dan menyebarkan tugas mulia itu, serta mengokohkan rukun-rukunnya di tengah-tengah umat secara sempurna.

Setelah jama
ah itu menyelesaikan berbagai tugas kehidupan dan kewajiban fitrinya, mereka terbang menuju kedudukan yang tinggi seraya mengucap, _“Allâhu Akbar”_ dengan menembus tirai masa depan. Ketika menoleh ke sisi kiri lewat teropong iman, tampak dari
kejauhan bahwa di balik berbagai kejadian alam barzakh dan akhirat terdapat sejumlah istana kebahagiaan. Di dalamnya terhampar berbagai jamuan Tuhan yang sangat luas. Ia mengetahui bahwa setiap hal yang terjadi di alam ini—seperti topan, gempa, wabah penyakit, dan sejenisnya—merupakan suruhan yang dikendalikan.

Maka, angin yang bertiup di musim semi serta hujan dan sejenisnya yang tampak memilukan sebenarnya penuh dengan hikmah tersembunyi. Bahkan kematian tampak sebagai pendahuluan bagi kehidupan abadi, serta kubur laksana pintu menuju kebahagiaan yang kekal. Engkau bisa menganalogikan aspek lainnya dengan cara seperti di atas; mencocokkan kenyataan dengan contoh yang ada.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 8-10
*Iman Adalah Kekuatan*

*Poin Ketiga*

Di samping merupakan cahaya, iman juga merupakan kekuatan. Manusia yang mendapatkan iman hakiki mampu menantang seluruh alam dan berlepas diri dari himpitan berbagai peristiwa. Dengan bersandar pada kekuatan imannya, ia bisa berlayar di atas bahtera kehidupan di tengah gelombang berbagai peristiwa yang dahsyat dengan aman dan selamat seraya berkata, “Aku bertawakkal kepada Allah.” Ia titipkan seluruh beban beratnya kepada kekuasaan _qudrat_ Dzat Yang Mahakuasa. Dengan itu, ia menempuh kehidupan dunia dalam kondisi tenang, mudah, dan lapang hingga sampai ke alam barzakh dan istirahat di sana. Dari sana ia bisa terbang menuju surga untuk memasuki kebahagiaan abadi.

Namun jika manusia tidak bertawakkal, maka bukan hanya tidak bisa mengepak sayap dan terbang menuju surga, tetapi juga beban yang berat itu akan menyeretnya menuju tingkatan yang paling rendah. Jadi, iman melahirkan tauhid. Tauhid mengantar kepada sikap pasrah dan tunduk. Sikap pasrah merealisasikan tawakkal. Lalu tawakkal memudahkan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan pernah mengira bahwa tawakkal berarti menolak _sebab_ dan ikhtiar secara keseluruhan.

Akan tetapi, tawakkal adalah menyadari bahwa _sebab_ dan ikhtiar merupakan hijab yang berada di dalam kekuasaan _qudrat_ Ilahi yang harus diperhatikan. Sedangkan mempergunakan atau berpegang pada _sebab_ merupakan satu bentuk doa _fi’li_ (perbuatan). Jadi, meminta akibat dan menanti hasil hanyalah dari Allah Yang Mahabenar. Lalu pujian dan ucapan syukur hanya untuk-Nya semata.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 10-11
*Iman Sebagai Sarana Penyelamat Kesengsaraan Hidup Di Dunia*

Perumpamaan orang yang bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban berat di atas kepala dan pundak mereka. Lalu keduanya naik ke atas kapal besar. Ketika masuk ke dalam kapal, yang satunya meletakkan beban beratnya lalu duduk di atasnya seraya terus mengawasinya. Sementara yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak melakukan hal serupa. Lalu ada yang menegur, “Letakkan beban beratmu agar engkau bisa istirahat.” Ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mau melakukannya karena khawatir hilang. Aku masih kuat untuk membawanya. Dan aku akan menjaga barang milikku ini seraya tetap memikulnya.” Ia pun kembali ditegur, “Namun wahai saudaraku, kapal kerajaan yang aman ini, yang telah mengangkut kita, jauh lebih kuat daripada kita semua. Ia lebih bisa menjaga kita.

Sementara engkau bisa tak sadarkan diri sehingga jatuh dan barangmu masuk ke dalam laut. Apalagi lama-kelamaan engkau akan penat dan kehilangan kekuatan. Badanmu yang bongkok dan kepalamu yang tak berakal ini tidak akan bertahan lama untuk membawanya. Jika kapten kapal melihatmu dalam kondisi seperti ini, ia akan menganggapmu gila dan tidak waras sehingga dapat mengusirmu keluar atau menangkap dan memenjarakanmu seraya berkata, “Orang ini tidak mempercayai kapal kita dan mengolok-olok kita.” Engkau juga akan menjadi tertawaan orang. Karena dengan sifat sombongmu yang memperlihatkan kelemahan dan dengan sikapmu yang mengada-ada yang menyiratkan sifat riya membuatmu ditertawakan. Tidakkah engkau melihat semua orang mulai menertawakan dan mengejekmu.”

Setelah mendengar ucapan ini, orang malang tadi baru sadar dan meletakkan bawaannya di atas lantai kapal seraya duduk di atasnya. Ia berkata, “Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu. Engkau telah menyelamatkanku dari rasa penat, kehinaan, penjara, dan ejekan orang.” Wahai manusia yang tidak mau bertawakkal, sadarlah seperti orang di atas. Bertawakkallah kepada Allah agar engkau tidak lagi meminta-minta kepada makhluk, tidak risau saat menghadapi berbagai peristiwa, serta selamat dari sikap riya, ejekan, derita abadi, dan belenggu dunia.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 11-12
*Iman Sebagai Sarana Penyelamat Kesengsaraan Hidup Di Dunia*

Perumpamaan orang yang bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban berat di atas kepala dan pundak mereka. Lalu keduanya naik ke atas kapal besar. Ketika masuk ke dalam kapal, yang satunya meletakkan beban beratnya lalu duduk di atasnya seraya terus mengawasinya. Sementara yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak melakukan hal serupa. Lalu ada yang menegur, “Letakkan beban beratmu agar engkau bisa istirahat.” Ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mau melakukannya karena khawatir hilang. Aku masih kuat untuk membawanya. Dan aku akan menjaga barang milikku ini seraya tetap memikulnya.” Ia pun kembali ditegur, “Namun wahai saudaraku, kapal kerajaan yang aman ini, yang telah mengangkut kita, jauh lebih kuat daripada kita semua. Ia lebih bisa menjaga kita.

Sementara engkau bisa tak sadarkan diri sehingga jatuh dan barangmu masuk ke dalam laut. Apalagi lama-kelamaan engkau akan penat dan kehilangan kekuatan. Badanmu yang bongkok dan kepalamu yang tak berakal ini tidak akan bertahan lama untuk membawanya. Jika kapten kapal melihatmu dalam kondisi seperti ini, ia akan menganggapmu gila dan tidak waras sehingga dapat mengusirmu keluar atau menangkap dan memenjarakanmu seraya berkata, “Orang ini tidak mempercayai kapal kita dan mengolok-olok kita.” Engkau juga akan menjadi tertawaan orang. Karena dengan sifat sombongmu yang memperlihatkan kelemahan dan dengan sikapmu yang mengada-ada yang menyiratkan sifat riya membuatmu ditertawakan. Tidakkah engkau melihat semua orang mulai menertawakan dan mengejekmu.”

Setelah mendengar ucapan ini, orang malang tadi baru sadar dan meletakkan bawaannya di atas lantai kapal seraya duduk di atasnya. Ia berkata, “Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu. Engkau telah menyelamatkanku dari rasa penat, kehinaan, penjara, dan ejekan orang.” Wahai manusia yang tidak mau bertawakkal, sadarlah seperti orang di atas. Bertawakkallah kepada Allah agar engkau tidak lagi meminta-minta kepada makhluk, tidak risau saat menghadapi berbagai peristiwa, serta selamat dari sikap riya, ejekan, derita abadi, dan belenggu dunia.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 11-12
*Manusia Diciptakan Untuk Menyempurnakan Diri Dengan Belajar Dan Berdoa*

Sementara itu, manusia tidak demikian. Ketika datang ke dunia, manusia dalam kondisi butuh belajar segala hal. Sebab, ia benar-benar tidak mengetahui tentang seluruh rambu-rambu kehidupan. Bisa jadi dalam dua puluh tahun sekalipun ia masih belum memahami seluk-beluk kehidupannya secara keseluruhan. Bahkan, bisa jadi ia butuh belajar sepanjang hidupnya. Apalagi ia dikirim ke dunia dalam kondisi sangat lemah di mana ia baru mampu berdiri tegak setelah berusia dua tahun. Ia juga baru bisa membedakan baik dan buruk setelah berumur lima belas tahun. Ia juga tidak dapat mewujudkan manfaat dan maslahat untuk dirinya serta tidak mampu menghindarkan bahaya kecuali dengan bekerjasama dan berasosiasi dalam kehidupan sosial umat manusia.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tugas alamiah manusia adalah menyempurnakan diri dengan “belajar”, yakni meningkatkan diri dengan jalan mencari ilmu dan pengetahuan, serta melaksanakan ubudiah dengan “doa”, yakni menyadari dan bertanya pada dirinya, “Lewat rahmat dan kasih sayang siapa diriku diatur dengan penuh
hikmah? Lewat kemurahan siapa aku tumbuh dengan berhias kasih sayang? Dengan kelembutan siapa aku mendapatkan nutrisi dalam bentuk demikian sempurna?” Ia melihat bahwa tugas sebenarnya ialah berdoa, bersimpuh, meminta, dan berharap lewat lisan kepapaan dan ketidakberdayaan kepada Sang Pemberi segala kebutuhan guna memenuhi semua pinta dan hajatnya yang tak mampu diraih oleh tangannya.

Hal ini berarti bahwa tugas utamanya adalah terbang dengan dua sayap “ketidakberdayaan dan kefakiran” menuju kedudukan ubudiah yang mulia. Jadi, manusia dihadirkan ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat pengetahuan dan doa. Sebab, segala sesuatu bergantung pada pengetahuan sesuai dengan esensi dan potensi yang ada. Landasan, sumber, cahaya, dan roh semua ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah) sebagaimana inti dari landasan tersebut adalah iman kepada Allah ٍٍٍSWT.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 13-14
*Doa Dan Hikmah Dibalik Waktu Pelaksanaanya*

Selain itu, doa merupakan satu bentuk ubudiah. Buah dan manfaat ibadah bersifat ukhrawi. Adapun berbagai tujuan duniawi merupakan “waktu” pelaksanaan jenis doa dan ibadah tersebut, bukan tujuan itu sendiri. Sebagai contoh, salat _Istisqâ_ (meminta hujan) merupakan satu bentuk ibadah, sementara tidak turunnya hujan merupakan waktu pelaksanaan ibadah tersebut. Ibadah dan doa tadi bukan untuk menurunkan hujan. Jika ibadah dilakukan dengan niat itu semata, maka ia tidak layak dikabulkan lantaran tidak ikhlas karena Allah.

Demikian pula dengan waktu terbenamnya matahari. Ia merupakan waktu salat Magrib. Lalu waktu gerhana matahari dan bulan merupakan waktu pelaksanaan salat _Kusûf_ dan _Khusûf_ (salat gerhana). Artinya, Allah menyeru hamba-Nya kepada satu jenis ibadah berkenaan dengan tertutupinya tanda kekuasaan di siang hari dan di malam hari di mana keduanya menginformasikan keagungan Allah SWT. Jadi, ibadah tadi bukan dilakukan agar matahari dan bulan kembali terlihat sebagaimana hal itu diketahui oleh ahli astronomi. Jika kondisinya demikian, maka waktu tidak turunnya hujan juga merupakan waktu pelaksanaan salat _Istisqâ_.

Kemudian datang nya musibah dan bencana secara bertubi-tubi merupakan waktu untuk memanjatkan doa yang tulus, di mana ketika itu manusia menyadari kelemahan dan kefakirannya seraya bersimpuh dan berdoa di hadapan pintu Sang Mahakuasa. Jika Allah tidak menolak bala dan musibah padahal doa telah dipanjatkan, jangan menganggap doa tersebut tidak dikabulkan. Namun waktu doa belum selesai. Nah, ketika dengan karunia-Nya bala dan musibah tadi diangkat oleh Allah, berarti waktu berdoa telah selesai. Dari sini dapat dipahami bahwa doa merupakan salah satu rahasia ubudiah. Sementara ubudiah harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Yaitu dengan berdoa kepada Tuhan seraya memperlihatkan kepapaan tanpa ikut campur dalam prosedur _rububiyah_-Nya.

Manusia harus menyerahkan segala urusan pada pengaturan-Nya dan bersandar pada hikmah-Nya tanpa putus asa terhadap rahmat-Nya. Ya, dengan ayat-ayat yang jelas terbukti bahwa entitas dalam
kondisi bertasbih kepada Allah SWT. Masing-masing memiliki tasbih sendiri dalam bentuk ibadah yang khusus, dan dalam sujud yang khusus. Dari berbagai bentuk ibadah tersebut yang tak terhingga itu lahirlah jenis-jenis doa yang mengantar kepada perlindungan Tuhan Pemelihara Yang Mahaagung.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 17-18
*Iman Mengangkat Derajat Manusia*

Wahai manusia, jika engkau beriman hanya kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya semata, maka engkau mendapatkan tempat yang tinggi di atas seluruh makhluk. Namun jika engkau berpaling dari ubudiah, maka engkau akan menjadi hamba yang hina di hadapan seluruh makhluk yang lemah. Jika engkau bangga dengan kemampuan dan egomu lalu meninggalkan doa dan tawakkal, serta takabur dan menyimpang dari jalan kebenaran, engkau menjadi lebih lemah daripada semut dan lebah dilihat dari sisi kebaikan dan kreasi. Bahkan lebih lemah daripada lalat dan laba-laba.

Sementara dilihat dari sisi keburukan dan kerusakan, engkau menjadi lebih berat daripada gunung dan lebih berbahaya daripada wabah penyakit. Ya, wahai manusia! Di dalam dirimu terdapat dua dimensi:
_Pertama_, dimensi kreasi, wujud, kebaikan, positif, dan
perbuatan.
_Kedua_, dimensi perusakan, ketiadaan, keburukan, negatif, dan keterpengaruhan. Dengan melihat dimensi pertama, engkau lebih rendah daripada lebah dan burung pipit serta lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Adapun dilihat dari dimensi kedua, engkau dapat mengalahkan bumi, gunung, dan langit serta dapat memikul sesuatu yang enggan mereka pikul.

Karena itu, engkau meraih wilayah yang lebih luas. Hal itu karena ketika melakukan kebaikan dan kreasi, engkau bekerja sesuai kemampuan, potensi, dan kekuatanmu. Namun ketika melakukan kejahatan dan perusakan, kejahatanmu benar-benar melampaui batas dan kerusakan yang kau lakukan menyebar secara luas.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 22-23
Assalamu alaikum wr.wb,
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*

Tema: *Mencintai Rasulullah SAW Lewat Cahaya Risalahnya*

Narasumber: *Ustadz M. Latiful Khobir, S.S.I (Direktur TPQ Darussalam Lamongan)*

Waktu: Ahad, 7 September 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai

Untuk bergabung ke kajian di Google Meet,
klik link ini:
https://meet.google.com/gux-qmgw-asa

Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: gux-qmgw-asa
Malam ini
*Ilustrasi Perbedaan Manusia yang Taat Kepada Allah dan yang Menghamba Kepada Nafsu*

Ya, kemajuan dan peningkatan spiritual yang hakiki hanya terwujud dengan mengarahkan kalbu, jiwa, roh, dan akal, bahkan khayalan serta seluruh kekuatan manusia menuju kehidupan yang kekal abadi di mana masing-masing sibuk dengan tugas ubudiah yang diembannya. Adapun ilusi kaum yang sesat di mana mereka sibuk dengan berbagai kesenangan dunia yang rendah serta mengarahkan perhatian pada sejumlah kenikmatan parsialnya yang fana tanpa mau melihat kepada keindahan universal dan berbagai kenikmatannya yang abadi, seraya menggunakan kalbu, akal, dan seluruh perangkat halus manusia di bawah perintah nafsu _ammârah_ serta menghamba padanya, semua ini sama sekali bukan merupakan bentuk kemajuan. Sebaliknya, ia merupakan bentuk kejatuhan dan keruntuhan.

Aku telah menyaksikan hakikat ini dalam suatu kejadian imajiner yang akan kujelaskan lewat contoh berikut ini: Aku memasuki sebuah kota besar. Di dalamnya aku melihat sejumlah istana dan bangunan yang megah. Di depan istana tersebut terdapat pesta, festival, dan sejumlah acara yang menarik perhatian. Ia laksana teater dan tempat hiburan. Ia memiliki daya tarik. Akupun memperhatikan bahwa pemilik istana berada di depan pintu sedang bermain-main dengan anjingnya. Lalu para wanita menari bersama para pemuda asing. Kemudian para gadis belia menata beragam permainan anak-anak. Penjaga pintu istana melakukan pengawasan terhadap semuanya. Ketika itulah aku memahami bahwa istana tersebut kosong dan tugas-tugas di dalamnya diabaikan. Akhlak mereka telah terpuruk sehingga mereka terlihat dengan keadaan yang demikian di depan istana.

Kemudian ketika berjalan beberapa langkah, aku melihat sebuah istana lain. Di sana ada seekor anjing yang tidur di depan pintu bersama seorang penjaga yang gagah, tegap, dan tenang. Di depan istana itu tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Aku takjub dan heran dengan suasana hening seperti itu. Aku berusaha mencari tahu tentang sebabnya. Maka, aku pun masuk ke dalam istana itu. Ternyata istana tersebut ramai oleh penghuninya. Ada banyak tugas dan kewajiban penting yang dilakukan oleh mereka. Masing-masing berada di lantai yang diperuntukkan baginya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 28-29
*Membimbing Perangkat Maknawi Manusia Kepada Tujuan Hakikinya*

Di lantai pertama, ada sejumlah orang yang menata istana dan mengelola sejumlah urusannya. Di lantai kedua, beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang belajar. Di lantai ketiga, sekelompok wanita sedang menjahit, menyulam, membuat hiasan warna-warni serta ukiran indah di atas beragam pakaian. Adapun di lantai akhir, terdapat pemilik istana sedang melakukan telekomunikasi lewat telepon dengan raja untuk menjamin kenyamanan, keselamatan, dan kebebasan yang mulia dan menyenangkan bagi penghuni istana. Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya dan menunaikan tugas sesuai dengan kedudukannya. Karena tak terlihat oleh mereka, tidak ada yang menghalangiku untuk berkeliling di seluruh penjuru istana. Karena itu, aku bisa mengetahui semua keadaan dengan sangat bebas.

Kemudian aku meninggalkan istana dan berkeliling di kota. Ternyata kota itu terbagi atas dua jenis istana dan bangunan. Aku pun bertanya tentang sebabnya, lalu ada yang memberi tahu bahwa jenis istana pertama yang tak berpenghuni dan ada pesta di depannya merupakan tempat para pemimpin kafir dan orang-orang yang sesat. Sedangkan istana kedua adalah tempat tokoh orang beriman yang terhormat. Selanjutnya, di sisi kota lainnya terdapat istana yang bertuliskan nama “Said”. Aku pun heran. Saat kuperhatikan, seolah-olah fotoku terlihat olehku. Seketika aku terperanjat, kemudian akhirnya aku tersadar dari imajinasiku. Dengan taufik ilahi, aku ingin menjelaskan kejadian imajiner di
atas sebagai berikut:

Kota yang dimaksud adalah kehidupan sosial dan peradaban umat manusia. Setiap istana yang terdapat padanya merujuk kepada manusia. Adapun penghuni istananya merupakan anggota badan manusia seperti mata, telinga, serta perangkat halus seperti kalbu, jiwa, dan roh, berikut kecenderungannya yang berupa hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah. Setiap perangkat halus ini memiliki tugas ubudiah tertentu dengan segala kenikmatan dan kepedihannya. Sementara hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah, ia laksana penjaga pintu dan laksana anjing penjaga. Maka, menundukkan perangkat mulia itu kepada perintah hawa nafsu seraya membuat lupa tugas-tugas aslinya tentu merupakan bentuk kejatuhan dan kemerosotan, bukan kemajuan. Aspek yang lain engkau bisa menafsirkannya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 29-31
*Meski Sedikit, Usaha yang Halal sudah Cukup Membuahkan Kebahagiaan*

*Nuktah Ketiga*

Dilihat dari sisi perbuatan, perilaku, dan usahanya secara fisik, manusia merupakan makhluk hidup yang lemah dan tidak berdaya. Wilayah aktivitas dan kepemilikannya pada sisi ini sangat terbatas dan sempit. Ia hanya sejauh jangkauan tangannya. Bahkan sejumlah hewan jinak yang dapat dikendalikan oleh manusia juga telah dipengaruhi oleh sifat lemah dan malas yang ada pada diri manusia. Jika kambing dan sapi jinak—misalnya—dibandingkan dengan kambing dan sapi liar, maka perbedaan yang sangat jauh antara keduanya terlihat jelas. Namun dilihat dari sisi respon, penerimaan, doa, dan permintaannya, manusia merupakan tamu agung dan mulia di tempat jamuan dunia. Ia dijamu oleh Sang Pemurah dengan jamuan yang demikian megah, hingga Dia membukakan untuknya berbagai khazanah rahmat-Nya yang luas serta menundukkan para pelayan dan ciptaan-Nya yang tak terhingga untuknya.

Dia juga menyiapkan sebuah daerah yang sangat besar dan luas untuk manusia sebagai tempat rekreasi dan tamasya di mana setengahnya sejauh mata memandang, bahkan seluas jangkauan khayalan. Jika manusia bersandar pada egonya serta menjadikan kehidupan dunia sebagai akhir impiannya di mana upaya dan usahanya hanya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat sementara, maka ia akan terjerumus ke dalam daerah yang sempit dan usahanya akan sia-sia. Lalu di hari kebangkitan, seluruh organ yang diberikan kepada manusia akan menjadi saksi yang memberatkan dengan mengadukannya.

Sebaliknya, jika ia memahami bahwa dirinya merupakan tamu yang mulia lalu bertindak sesuai dengan izin Dzat Yang Menjamunya, yakni Sang Yang Maha Pemurah, kemudian menggunakan modal umurnya dalam wilayah yang disyariatkan, maka kegiatan dan amalnya akan berada dalam wilayah yang sangat luas di mana ia membentang sampai pada kehidupan abadi. Ia akan hidup tenang, aman, dan nyaman, serta bernapas lega sambil beristirahat. Ia pun bisa naik ke tingkatan yang paling tinggi. Selain itu, di akhirat kelak semua organ dan perangkat yang diberikan padanya akan menjadi saksi yang mendukungnya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 31-32
*Tujuan Dari Organ dan Perangkat Yang Dititipkan Kepada Manusia Adalah Untuk Meraih Kehidupan Abadi*

Ya, organ dan perangkat yang diberikan kepada manusia bukan untuk kehidupan dunia yang fana ini. Namun ia diberikan untuk kehidupan abadi. Ia memiliki peran yang sangat penting. Sebab, kalau kita membandingkan antara manusia dan hewan, kita melihat manusia seratus kali jauh lebih kaya daripada hewan dilihat dari segi perangkat dan organ yang dimiliknya. Namun dari segi kenikmatan dan kesenangan yang didapat di dunia, manusia seratus kali lebih miskin. Pasalnya, dalam setiap kenikmatan yang ia rasakan, manusia menghadapi ribuan derita sesudahnya. Kepedihan masa lalu, kesulitan masa kini, dan kecemasan terhadap masa depan, serta sejumlah derita akibat hilangnya kenikmatan merusak cita rasanya dan meninggalkan jejak penderitaan. Sementara itu, hewan tidak demikian. Ia merasakan kenikmatan tanpa disertai penderitaan. Ia merasakan segala sesuatu tanpa dirusak oleh kekeruhan. Ia tidak didera oleh derita masa lalu serta tidak cemas terhadap masa depan.

Ia hidup tenang dan lapang seraya bersyukur kepada Penciptanya. Jadi, manusia yang tercipta dalam “bentuk terbaik” jika hanya memfokuskan perhatian pada kehidupan dunia semata, maka ia akan jatuh seratus kali jauh lebih rendah daripada hewan meskipun dari sisi modal ia seratus kali lebih tinggi. Hakikat ini telah kujelaskan lewat sebuah perumpamaan yang dimuat dalam bagian lain. Namun di sini aku akan mengutarakannya kembali. Seseorang memberikan uang sebanyak sepuluh koin emas kepada pelayannya. Ia memerintahkan pelayan itu untuk memilih baju dari kain yang paling bagus untuk dirinya. Lalu ia memberikan kepada pelayan yang lain seribu koin emas. Namun selain memberi uang, ia juga memberi daftar kecil berisi sejumlah hal yang harus ia penuhi. Ia memasukkan uang dan daftar tadi ke dalam saku pelayan tersebut. Lalu ia menyuruh mereka pergi ke pasar.

Pelayan pertama membeli sebuah baju yang indah dari bahan yang paling bagus senilai sepuluh koin emas. Sementara pelayan kedua meniru dan mengikuti pelayan pertama. Karena kebodohannya, ia tidak melihat daft ar yang diberikan majikannya. Ia membayarkan seribu koin emas kepada si penjual untuk mendapatkan baju yang bagus. Namun si penjual yang tidak jujur itu memberinya baju yang paling jelek. Nah, ketika pelayan yang malang pulang ke rumah majikan dan berada di hadapannya, ia mendapat teguran dan hukuman yang keras. Orang yang memiliki sedikit kesadaran pun pasti dapat menangkap kalau pelayan kedua yang diberi seribu koin emas tidak disuruh pergi ke pasar untuk membeli baju. Namun ia disuruh pergi ke pasar untuk melakukan perniagaan dalam satu niaga yang sangat penting.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 32-34
*Rahasia Dibalik Pemberian Perangkat Yang Berbeda Antara Manusia dan Hewan*

Demikian halnya dengan manusia yang diberi sejumlah perangkat maknawi dan indra manusiawi yang jika setiap bagiannya dibandingkan dengan apa yang terdapat pada hewan, tentu akan terlihat jelas bahwa peragkat manusia seratus kali lipat lebih luas jangkauannya. Misalnya, mata manusia yang bisa membedakan berbagai jenis tingkat keindahan; daya kecapnya yang bisa membedakan beragam makanan dengan sejumlah cita rasanya; akalnya yang menembus kedalaman hakikat dan detail-detailnya; serta kalbunya yang merindukan semua jenis kesempurnaan. Mana mungkin semua perangkat tersebut dan yang sejenisnya dibandingkan dengan perangkat yang terdapat pada hewan yang sangat sederhana di mana ia hanya bisa menyingkap dua atau tiga tingkatan. Ini tentu saja di luar aktivitas khusus yang terkait dengan perangkat khusus pada hewan tertentu di mana ia melaksanakan pekerjaannya itu dalam bentuk yang bisa jadi mengungguli manusia. Hanya saja hal itu bersifat khusus.

Rahasia mengapa manusia dianugerahi perangkat yang begitu banyak adalah karena indra dan perasaan manusia mendapatkan kekuatan, pertumbuhan, ketersingkapan, dan pembentangan yang lebih banyak lantaran memiliki akal dan pikiran. Karena kebutuhannya banyak, maka muncullah indranya yang sangat beragam. Lalu karena ia memiliki fitrah komprehensif, maka ia menjadi poros dari segala impian dan keinginan. Juga karena banyaknya tugas fitri yang dimiliki, maka perangkatnya juga berkembang dan meluas. Dengan keberadaan fitrah yang disiapkan untuk melakukan berbagai tugas ibadah, manusia diberi potensi yang mencakup seluruh benih kesempurnaan.

Oleh sebab itu, banyaknya perangkat dan besarnya modal manusia tidak mungkin diberikan sedemikian rupa hanya untuk memperoleh kehidupan dunia yang bersifat sementara dan fana. Namun tugas utama manusia adalah bagaimana ia menunaikan tugas-tugasnya yang mengarah kepada tujuan tak bertepi; menampakkan ketidakberdayaan dan kefakirannya di hadapan Allah dalam bentuk ubudiah; melihat tasbih entitas dengan pandangannya yang menyeluruh sehingga bersaksi atasnya; dan mengamati nikmat-nikmat Ilahi yang dianugerahkan pada mereka sehingga bersyukur atasnya; lalu melihat mukjizat qudrah Ilahi pada ciptaan sehingga bertafakkur dengan mengambil pelajaran darinya.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 34-35
*Antara Hiburan Sesaat Dan Bekal Abadi*

Wahai penyembah dunia, pencinta kehidupan dunia yang fana dan lalai terhadap rahasia _ahsanu taqwîm_ (bentuk terbaik)! Perhatikan kejadian imajiner berikut yang mencerminkan hakikat kehidupan dunia. Kejadian inilah yang dilihat oleh “Said lama” sehingga dirinya berubah menjadi “Said baru”, yaitu:

Aku melihat diriku seakan-akan sedang berjalan dalam sebuah perjalanan panjang atau sedang diutus ke sebuah tempat yang jauh. Majikanku telah mengalokasikan untukku sebanyak enam puluh koin emas. Setiap hari ia memberiku sebagian darinya. Kemudian aku masuk ke sebuah hotel yang berisi tempat hiburan. Maka, akupun menghabiskan harta yang kumiliki—sekitar sepuluh koin—dalam satu malam saja di atas meja judi seraya begadang untuk mencari popularitas dan rasa kagum orang. Namun di pagi hari aku keluar dengan tangan kosong tanpa melakukan bisnis apa pun. Aku juga tidak dapat membeli sesuatu yang dibutuhkan di tempat yang kutuju. Yang tersisa hanya kepedihan dan sejumlah kesalahan yang lahir dari sejumlah kesenangan menyimpang disertai luka, duka, dan ratapan yang disebabkan oleh sejumlah kebodohan di atas. Ketika berada dalam kondisi lara dan sedih semacam itu tiba-tiba tampak seseorang di hadapanku yang berkata:

“Engkau telah menghabiskan seluruh modalmu dengan sia-sia. Engkau layak mendapat hukuman. Engkau akan pergi ke sebuah negeri yang kau tuju dengan tangan kosong. Jika engkau cerdas dan pintar, pintu tobat masih terbuka. Engkau bisa menyimpan setengah dari yang kau dapatkan, yaitu 15 koin sisanya untuk membeli sebagian barang yang kau butuhkan di tempat tersebut.” Aku pun bertanya kepada diri ini. Ternyata ia tidak rela. Orang itu berkata, “Kalau begitu sepertiganya saja.” Namun diri ini masih tidak rela. Lalu ia berkata, “Kalau begitu seperempatnya.” Ternyata diri ini masih tidak mau meninggalkan kebiasaan lamanya. Seketika orang itu menggelengkan kepalanya dan berpaling dengan penuh marah. Lalu ia pergi.

*BERSAMBUNG . . .*

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 36-37
*Sebuah Kisah Imajiner Seputar Hakikat Kehidupan Dunia*

*Lanjutan Kutipan Sebelumnya . . .*

Kemudian aku melihat semua keadaan telah berubah. Aku merasa diri ini berada di sebuah kereta yang berjalan dengan kecepatan tinggi di terowongan bawah tanah. Aku menjadi bingung. Namun tidak ada jalan lain bagiku karena aku tidak bisa pergi ke kanan atau ke kiri. Anehnya, di kedua sisi kereta terdapat sejumlah bunga indah serta buah-buahan yang lezat dan beragam. Kuulurkan tanganku padanya—layaknya orang bodoh—untuk memetik bunga dan buah-buahan itu. Namun ia sulit dijangkau. Ketika kusentuh, durinya menancap di tanganku sehingga terluka dan berdarah. Kereta terus berjalan dengan sangat cepat. Aku telah melukai diriku tanpa mendapat apa-apa.

Lalu salah seorang pegawai kereta berkata, “Berikan padaku lima sen. Aku akan memberimu sejumlah bunga dan buah yang kau inginkan. Dengan luka yang kau rasakan, engkau telah mengalami kerugian yang berkali-kali lipat dibandingkan dengan apa yang kau dapat dengan membayar lima sen. Belum lagi hukuman yang akan kau terima atas perbuatanmu tersebut. Sebab, engkau telah memetiknya tanpa izin.” Mendengar hal itu aku bertambah sedih. Dari jendela aku melihat ke depan untuk mengetahui akhir terowongan. Ternyata di dalamnya terdapat banyak lubang yang menggantikan mulut terowongan. Para penumpang dilempar keluar dari kereta menuju lubang itu. Kulihat di hadapanku ada sebuah lubang yang kedua sisinya diletakkan batu nisan. Aku menatapnya dengan cermat. Pada keduanya tertulis dengan huruf besar tulisan “Said”.

Seketika aku terperanjat, “Oh celaka!” Pada saat itulah aku mendengar suara orang yang sebelumnya memberiku nasihat di pintu tempat hiburan. Ia berkata: “Apakah engkau sudah sadar?!” “Ya, namun setelah hilang kesempatan karena kekuatanku telah habis, serta daya dan upayaku tak tersisa lagi” jawabku.
Ia berkata, “Bertobatlah dan bertawakkallah!”
“Hal itu telah kulakukan.”
Kemudian aku tersadar. “Said lama” pun hilang digantikan oleh “Said baru”. Semoga Allah menjadikan kejadian imajiner tersebut sebagai sebuah kebaikan. Aku akan menafsirkan sebagian darinya dan sisanya silakan ditafsirkan sendiri.

*Bersambung . . .*

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 37-38
*Hakikat Perjalanan Hidup Manusia*

Perjalanan tersebut adalah perjalanan yang bermula dari alam arwah, fase-fase alam rahim, masa muda, masa tua, kubur, barzakh, kebangkitan, _shirath_ hingga alam keabadian. Uang yang berjumlah enam puluh koin emas adalah usia enam puluh tahun. Ketika peristiwa ini terjadi aku berusia empat puluh lima tahun—menurut perkiraanku. Tidak ada kepastian bahwa aku bisa hidup sampai enam puluh tahun. Yang jelas salah seorang pelajar al-Qur’an yang tulus telah membimbingku agar aku menggunakan sisa umur—yaitu lima belas tahun—di jalan akhirat.

Hotelnya bagiku adalah kota Istanbul. Keretanya berupa perjalanan waktu. Setiap tahun laksana gerbong darinya. Terowongannya adalah kehidupan dunia. Lalu bunga dan buahnya yang berduri adalah berbagai kenikmatan dan permainan yang terlarang di mana kepedihan yang ditimbulkan oleh bayangan kepergiannya menyayat hati dan melukai jiwa sehingga manusia merasakan pahitnya derita saat membayangkannya.

Adapun makna dari ucapan pegawai kereta, “Berikan padaku lima sen. Aku akan memberimu sejumlah bunga dan buah yang kau inginkan,” adalah bahwa berbagai kesenangan yang dirasakan manusia lewat usaha yang dibenarkan cukup bagi kebahagiaan, ketenangan, dan kelapangan sehingga tidak perlu masuk ke dalam wilayah yang haram. Sisanya dapat kau tafsirkan sendiri.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 38-39
*Meraih Iman Dengan Kesadaran Akan Kekerdilan di Hadapan Allah SWT*

Di alam ini manusia menyerupai anak kecil kesayangan yang lemah. Namun dalam kelemahannya tersimpan kekuatan besar, dan dalam ketidakberdayaannya terdapat kemampuan yang menakjubkan. Sebab, lewat kekuatan lemahnya itu dan lewat kemampuan ketidakberdayaannya seluruh entitas ditundukkan untuknya. Jika manusia menyadari kelemahannya lalu meminta kepada Tuhan, baik lewat lisan, keadaan, maupun perilakunya, kemudian ia menyadari ketidakberdayaannya sehingga meminta tolong kepada Tuhannya seraya bersyukur karena alam ditundukkan untuknya, maka ia akan diberi taufik untuk dapat menggapai permintaannya.

Semua maksudnya menjadi tunduk serta impiannya akan terwujud. Sementara dia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat meraih seperseratusnya. Namun kadang keinginan yang dicapai lewat doa _lisân hâl_ ia nisbatkan pada kemampuannya sendiri. Sebagai contoh: Kekuatan yang terpendam dalam kelemahan anak ayam membuat sang induk menyerang singa. Lalu kekuatan yang tersimpan dalam kelemahan anak singa membuat sang induk yang buas mengalah untuk dirinya di mana ia rela menahan lapar demi anak-anaknya. Jadi, kekuatan besar yang terdapat dalam kelemahan layak diperhatikan.

Bahkan, wujud manifestasi rahmat dalam kelemahan tersebut patut dicermati dan dikagumi. Sebagaimana dengan kelemahan, anak kecil yang manja mendapatkan kasih sayang orang lain. Dan dengan tangisannya, ia memperoleh permintaannya. Maka, orang-orang kuat dan para pembesar pun tunduk padanya, sehingga ia bisa memperoleh apa yang tidak bisa diraihnya satu pun dari seribu keinginannya dengan kekuatannya yang kecil. Dengan demikian, kelemahan dan ketidakberdayaannya itulah yang menggerakkan dan membuat pihak lain mengasihi dan melindunginya.

Bahkan dengan telunjuknya yang kecil, ia dapat menjinakkan orang-orang besar. Andaikan anak kecil itu mengingkari kasih sayang tadi lalu menyangkal perlindungan tersebut di mana dengan sangat bodoh dan sombong ia berkata, “Akulah yang menundukkan semua orang kuat itu dengan kemampuan dan kehendakku sendiri,” tentu saja ia layak mendapat tamparan dan peringatan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 39-40
*Karunia Yang Diperoleh Manusia Bukan Karena Kemampuannya Tapi Karena Rahmat Allah SWT*

Begitu pula kondisi manusia manakala ia mengingkari rahmat Penciptanya serta menyangkal hikmah-Nya lalu berkata dengan penuh kekufuran seperti ucapan Qarun:
اِنَّمَٓا اُوت۪يتُهُ عَلٰى عِلْمٍ . . . (٧٨)
_“Sesungguhnya aku diberi harta tersebut karena ilmu yang ada padaku”_ (QS. al-Qashash [28]: 78.). Tentu saja sikap ini membuatnya layak mendapat siksa. Jadi, kedudukan dan kekuasaan yang diraih manusia, serta kemajuan dan peradaban umat manusia tidak bersumber dari keunggulan dan kekuatannya. Tetapi semua itu ditundukkan kepada manusia karena kelemahannya.

Pertolongan diberikan karena ketidakberdayaannya, karunia diberikan karena kefakirannya, ilham diberikan karena kebodohannya, dan anugerah diberikan karena kebutuhannya. Kekuasaan yang didapat manusia bukan lantaran kekuatan yang ia miliki dan bukan karena pengetahuan yang ia punyai. Tetapi ia merupakan wujud kasih sayang, rahmat, dan hikmah ilahi sehingga segala sesuatu ditundukkan untuknya. Ya, manusia yang kalah oleh kalajengking yang tak memiliki mata, dan oleh ular yang tak memiliki kaki, bukan kekuatannya yang memakaikan ia sutra dari ulat kecil dan bukan pula yang memberi ia madu dari serangga beracun. Tetapi semua itu ia dapat dari buah kelemahannya yang berasal dari penundukan _rabbani_ dan kemurahan _rahmani_.

Wahai manusia! Jika demikian keadaannya, tinggalkan sifat sombong dan egoisme. Perlihatkan kelemahan dan ketidakberdayaanmu di hadapan tangga Tuhan lewat permintaan. Tampakkan kefakiran dan kebutuhanmu dengan lisan doa. Serta tunjukkan bahwa engkau benar-benar hamba Allah seraya berkata:
(حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ)
_'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’_. Lalu naiklah menuju tangga kemuliaan.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 41-42
*Ketinggian Derajat Manusia*

Jangan engkau berkata, “Aku tidak berarti. Apa pentingnya diriku sehingga alam ini ditundukkan oleh Dzat Yang Mahabijak dan Maha Mengetahui untukku dengan penuh perhatian, dan bahkan dituntut untuk menunaikan syukur komprehensif.” Pasalnya, jika dilihat dari sisi dirimu dan bentuk lahiriahmu, engkau memang tidak berarti. Namun jika dilihat dari tugas dan kedudukanmu, maka engkau adalah penyaksi dan pengawas yang cerdas terhadap jagat raya. Engkau adalah lisan fasih yang berbicara atas nama seluruh entitas yang penuh hikmah. Engkau juga penelaah yang cermat terhadap kitab alam.

Engkau pengawas yang penuh perenungan terhadap makhluk-makhluk yang bertasbih. Serta engkau laksana profesor dan arsitek yang ahli dari alam yang beribadah dan bersujud ini. Ya, wahai manusia! Dari sisi fisik biologismu dan diri hewanimu, engkau adalah partikel kecil dan hina, makhluk yang fakir, dan hewan yang lemah yang masuk ke dalam ombak entitas yang deras. Namun dari sisi kemanusiaanmu yang menjadi sempurna lewat tarbiah islamiah, yang bersinar dengan cahaya iman yang berisi kilau cinta Ilahi, engkau adalah raja dalam kehambaan ini. Engkau bersifat universal dalam kondisi parsialmu. Engkau adalah alam yang luas dalam kekerdilanmu. Engkau memiliki kedudukan yang tinggi meski tampak remeh.

Engkau pengawas alam yang memiliki _basirah_ yang menjangkau wilayah yang luas dan terlihat ini, hingga engkau bisa berkata, “Tuhanku Yang Maha Penyayang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggalku, menjadikan matahari dan bulan sebagai lentera, menjadikan musim semi sebagai karangan bunga mawar, menjadikan musim panas sebagai hidangan nikmat, menjadikan hewan sebagai pelayan yang tunduk, serta menjadikan tumbuhan sebagai hiasan bagi rumahku.” Kesimpulan: Jika engkau mendengar bisikan nafsu dan setan, engkau akan jatuh ke tingkat yang paling rendah. Namun jika engkau mendengar hakikat dan al-Qur’an, engkau akan naik ke tingkat yang paling tinggi dan menjadi _ahsanu taqwîm_ di alam ini.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 42-43