*Manusia Diciptakan Untuk Menyempurnakan Diri Dengan Belajar Dan Berdoa*
Sementara itu, manusia tidak demikian. Ketika datang ke dunia, manusia dalam kondisi butuh belajar segala hal. Sebab, ia benar-benar tidak mengetahui tentang seluruh rambu-rambu kehidupan. Bisa jadi dalam dua puluh tahun sekalipun ia masih belum memahami seluk-beluk kehidupannya secara keseluruhan. Bahkan, bisa jadi ia butuh belajar sepanjang hidupnya. Apalagi ia dikirim ke dunia dalam kondisi sangat lemah di mana ia baru mampu berdiri tegak setelah berusia dua tahun. Ia juga baru bisa membedakan baik dan buruk setelah berumur lima belas tahun. Ia juga tidak dapat mewujudkan manfaat dan maslahat untuk dirinya serta tidak mampu menghindarkan bahaya kecuali dengan bekerjasama dan berasosiasi dalam kehidupan sosial umat manusia.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tugas alamiah manusia adalah menyempurnakan diri dengan “belajar”, yakni meningkatkan diri dengan jalan mencari ilmu dan pengetahuan, serta melaksanakan ubudiah dengan “doa”, yakni menyadari dan bertanya pada dirinya, “Lewat rahmat dan kasih sayang siapa diriku diatur dengan penuh
hikmah? Lewat kemurahan siapa aku tumbuh dengan berhias kasih sayang? Dengan kelembutan siapa aku mendapatkan nutrisi dalam bentuk demikian sempurna?” Ia melihat bahwa tugas sebenarnya ialah berdoa, bersimpuh, meminta, dan berharap lewat lisan kepapaan dan ketidakberdayaan kepada Sang Pemberi segala kebutuhan guna memenuhi semua pinta dan hajatnya yang tak mampu diraih oleh tangannya.
Hal ini berarti bahwa tugas utamanya adalah terbang dengan dua sayap “ketidakberdayaan dan kefakiran” menuju kedudukan ubudiah yang mulia. Jadi, manusia dihadirkan ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat pengetahuan dan doa. Sebab, segala sesuatu bergantung pada pengetahuan sesuai dengan esensi dan potensi yang ada. Landasan, sumber, cahaya, dan roh semua ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah) sebagaimana inti dari landasan tersebut adalah iman kepada Allah ٍٍٍSWT.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 13-14
Sementara itu, manusia tidak demikian. Ketika datang ke dunia, manusia dalam kondisi butuh belajar segala hal. Sebab, ia benar-benar tidak mengetahui tentang seluruh rambu-rambu kehidupan. Bisa jadi dalam dua puluh tahun sekalipun ia masih belum memahami seluk-beluk kehidupannya secara keseluruhan. Bahkan, bisa jadi ia butuh belajar sepanjang hidupnya. Apalagi ia dikirim ke dunia dalam kondisi sangat lemah di mana ia baru mampu berdiri tegak setelah berusia dua tahun. Ia juga baru bisa membedakan baik dan buruk setelah berumur lima belas tahun. Ia juga tidak dapat mewujudkan manfaat dan maslahat untuk dirinya serta tidak mampu menghindarkan bahaya kecuali dengan bekerjasama dan berasosiasi dalam kehidupan sosial umat manusia.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tugas alamiah manusia adalah menyempurnakan diri dengan “belajar”, yakni meningkatkan diri dengan jalan mencari ilmu dan pengetahuan, serta melaksanakan ubudiah dengan “doa”, yakni menyadari dan bertanya pada dirinya, “Lewat rahmat dan kasih sayang siapa diriku diatur dengan penuh
hikmah? Lewat kemurahan siapa aku tumbuh dengan berhias kasih sayang? Dengan kelembutan siapa aku mendapatkan nutrisi dalam bentuk demikian sempurna?” Ia melihat bahwa tugas sebenarnya ialah berdoa, bersimpuh, meminta, dan berharap lewat lisan kepapaan dan ketidakberdayaan kepada Sang Pemberi segala kebutuhan guna memenuhi semua pinta dan hajatnya yang tak mampu diraih oleh tangannya.
Hal ini berarti bahwa tugas utamanya adalah terbang dengan dua sayap “ketidakberdayaan dan kefakiran” menuju kedudukan ubudiah yang mulia. Jadi, manusia dihadirkan ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat pengetahuan dan doa. Sebab, segala sesuatu bergantung pada pengetahuan sesuai dengan esensi dan potensi yang ada. Landasan, sumber, cahaya, dan roh semua ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah) sebagaimana inti dari landasan tersebut adalah iman kepada Allah ٍٍٍSWT.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 13-14
*Kelemahan Dan Kefakiran Menjadi Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah*
Karena manusia akan menghadapi berbagai jenis ujian, musibah, dan serangan musuh yang jumlahnya tak terhingga sedang ia sama sekali tak berdaya. Ia juga memiliki banyak permintaan dan kebutuhan sementara kondisinya sangat papa, maka tugas fitrinya setelah beriman adalah berdoa. Doa merupakan inti ibadah. Sebagaimana anak kecil yang tak mampu mewujudkan atau merealisasikan keinginannya hanya bisa menangis dan meratap, yakni meminta dengan lisan kelemahannya entah dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan hingga maksudnya tercapai.
Demikian pula dengan manusia yang merupakan makhluk hidup paling halus, paling lemah, dan paling fakir. Ia laksana anak kecil yang lemah. Karena itu, ia harus berlindung di haribaan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta bersimpuh di hadapan-Nya entah dengan menangis seraya menunjukkan kelemahannya, atau berdoa lewat kefakirannya hingga keinginannya terpenuhi. Ketika itulah, ia menunaikan syukur atas pertolongan, pengabulan, dan penundukan Tuhan.
Namun jika manusia berkata dengan angkuh seperti anak kecil yang dungu, “Aku mampu menundukkan segalanya dan mengendalikannya dengan pemikiran dan pengaturanku,” padahal hal itu jauh diluar batas kemampuannya, maka semua itu tidak lain merupakan sikap kufur terhadap nikmat Allah, pembangkangan besar yang bertentangan dengan fitrahnya, serta menjadi sebab yang menjadikannya layak mendapat siksa.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 14-15
Karena manusia akan menghadapi berbagai jenis ujian, musibah, dan serangan musuh yang jumlahnya tak terhingga sedang ia sama sekali tak berdaya. Ia juga memiliki banyak permintaan dan kebutuhan sementara kondisinya sangat papa, maka tugas fitrinya setelah beriman adalah berdoa. Doa merupakan inti ibadah. Sebagaimana anak kecil yang tak mampu mewujudkan atau merealisasikan keinginannya hanya bisa menangis dan meratap, yakni meminta dengan lisan kelemahannya entah dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan hingga maksudnya tercapai.
Demikian pula dengan manusia yang merupakan makhluk hidup paling halus, paling lemah, dan paling fakir. Ia laksana anak kecil yang lemah. Karena itu, ia harus berlindung di haribaan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta bersimpuh di hadapan-Nya entah dengan menangis seraya menunjukkan kelemahannya, atau berdoa lewat kefakirannya hingga keinginannya terpenuhi. Ketika itulah, ia menunaikan syukur atas pertolongan, pengabulan, dan penundukan Tuhan.
Namun jika manusia berkata dengan angkuh seperti anak kecil yang dungu, “Aku mampu menundukkan segalanya dan mengendalikannya dengan pemikiran dan pengaturanku,” padahal hal itu jauh diluar batas kemampuannya, maka semua itu tidak lain merupakan sikap kufur terhadap nikmat Allah, pembangkangan besar yang bertentangan dengan fitrahnya, serta menjadi sebab yang menjadikannya layak mendapat siksa.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 14-15
*Kebaikan Dan Manfaat Iman*
*Kalimat Kedua Puluh Tiga*
(Berisi Dua Pembahasan)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ ف۪ٓى اَحْسَنِ تَقْو۪يمٍ ٭ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ اَسْفَلَ سَافِل۪ينَ ٭ اِلَّا الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (٤-٦)
_“Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”._ (QS. at-Tîn [95]: 4-6.)
*PEMBAHASAN PERTAMA*
Di sini kami akan menjelaskan lima dari ribuan kebaikan dan manfaat iman dalam lima poin berikut ini.
*Poin Pertama*
Berkat cahaya iman, manusia bisa naik menuju tingkatan _a’lâ illiyyîn_ (yang paling tinggi) sehingga mendapatkan kedudukan penting yang membuatnya layak masuk surga. Sebaliknya, dengan gelapnya kekufuran manusia bisa jatuh ke tingkatan _asfalu sâfilîn_ (yang paling rendah) sehingga berada di satu posisi yang membuatnya layak masuk neraka. Hal itu karena iman menghubungkan manusia dengan Penciptanya Yang Mahaagung.
Iman adalah bentuk penisbatan atau afiliasi. Karena itu, dengan iman, manusia meraih kedudukan mulia dilihat dari sisi manifestasi kreasi Ilahi yang terdapat di dalamnya, serta penampakkan tanda ukiran nama-nama Ilahi pada lembaran wujudnya. Sebaliknya, kekufuran memutuskan relasi dan afiliasi ini. Gelapnya kekufuran menutupi kreasi Ilahi sehingga menjatuhkan nilai manusia yang hanya terbatas pada sisi materinya. Sementara nilai materi tidak menjadi ukuran. Ia akan segera sirna karena bersifat fana. Kehidupannya seperti hewan yang bersifat sementara.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 1-3
*Kalimat Kedua Puluh Tiga*
(Berisi Dua Pembahasan)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ ف۪ٓى اَحْسَنِ تَقْو۪يمٍ ٭ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ اَسْفَلَ سَافِل۪ينَ ٭ اِلَّا الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (٤-٦)
_“Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”._ (QS. at-Tîn [95]: 4-6.)
*PEMBAHASAN PERTAMA*
Di sini kami akan menjelaskan lima dari ribuan kebaikan dan manfaat iman dalam lima poin berikut ini.
*Poin Pertama*
Berkat cahaya iman, manusia bisa naik menuju tingkatan _a’lâ illiyyîn_ (yang paling tinggi) sehingga mendapatkan kedudukan penting yang membuatnya layak masuk surga. Sebaliknya, dengan gelapnya kekufuran manusia bisa jatuh ke tingkatan _asfalu sâfilîn_ (yang paling rendah) sehingga berada di satu posisi yang membuatnya layak masuk neraka. Hal itu karena iman menghubungkan manusia dengan Penciptanya Yang Mahaagung.
Iman adalah bentuk penisbatan atau afiliasi. Karena itu, dengan iman, manusia meraih kedudukan mulia dilihat dari sisi manifestasi kreasi Ilahi yang terdapat di dalamnya, serta penampakkan tanda ukiran nama-nama Ilahi pada lembaran wujudnya. Sebaliknya, kekufuran memutuskan relasi dan afiliasi ini. Gelapnya kekufuran menutupi kreasi Ilahi sehingga menjatuhkan nilai manusia yang hanya terbatas pada sisi materinya. Sementara nilai materi tidak menjadi ukuran. Ia akan segera sirna karena bersifat fana. Kehidupannya seperti hewan yang bersifat sementara.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 1-3
*Nilai Manusia Sebagai Kreasi Ilahi*
Nilai materi berbeda dengan nilai kreasi yang terdapat pada kreasi manusia. Kadang kala kita melihat nilai keduanya setara. Kadang pula materi lebih bernilai daripada kreasi itu sendiri. Kadang kala besi memiliki nilai seni dan artistik yang sangat tinggi. Kadang pula kreasi yang sangat langka bernilai jutaan meskipun berasal dari materi yang sangat sederhana. Jika barang langka semacam itu dipamerkan di pasar seni di mana para pembeli mengenali pembuatnya yang hebat dan terkenal, maka nilainya bisa jutaan rupiah. Namun jika karya tadi dipamerkan di pasar tukang besi—misalnya—bisa jadi tidak ada yang mau membelinya.
Demikian pula dengan manusia. Ia merupakan kreasi Tuhan yang luar biasa. Ia merupakan salah satu mukjizat qudrat-Nya yang paling tinggi dan paling lembut. Tuhan menjadikannya sebagai makhluk yang memperlihatkan seluruh manifestasi nama-nama-Nya yang mulia (_asmaul husna_). Dia menjadikan manusia sebagai pusat orbit seluruh ukiran-Nya serta menjadikannya sebagai miniatur dan model dari seluruh entitas alam. Ketika cahaya iman masuk ke dalam diri manusia, maka cahaya itu akan memperlihatkan semua ukiran penuh hikmah yang terdapat dalam dirinya. Ia juga mengajak yang lain untuk membacanya.
Mukmin membacanya dengan penuh perenungan, merasakannya dengan penuh kesadaran, serta membuat yang lain dapat membacanya. Yakni, seolah-olah ia berkata, “Aku adalah ciptaan dan makhluk Sang Pencipta. Lihatlah bagaimana rahmat dan kemurahan-Nya termanifestasi dalam diriku.” Dan sejumlah makna luas yang serupa, kreasi Ilahi termanifestasi dalam diri manusia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 2-3
Nilai materi berbeda dengan nilai kreasi yang terdapat pada kreasi manusia. Kadang kala kita melihat nilai keduanya setara. Kadang pula materi lebih bernilai daripada kreasi itu sendiri. Kadang kala besi memiliki nilai seni dan artistik yang sangat tinggi. Kadang pula kreasi yang sangat langka bernilai jutaan meskipun berasal dari materi yang sangat sederhana. Jika barang langka semacam itu dipamerkan di pasar seni di mana para pembeli mengenali pembuatnya yang hebat dan terkenal, maka nilainya bisa jutaan rupiah. Namun jika karya tadi dipamerkan di pasar tukang besi—misalnya—bisa jadi tidak ada yang mau membelinya.
Demikian pula dengan manusia. Ia merupakan kreasi Tuhan yang luar biasa. Ia merupakan salah satu mukjizat qudrat-Nya yang paling tinggi dan paling lembut. Tuhan menjadikannya sebagai makhluk yang memperlihatkan seluruh manifestasi nama-nama-Nya yang mulia (_asmaul husna_). Dia menjadikan manusia sebagai pusat orbit seluruh ukiran-Nya serta menjadikannya sebagai miniatur dan model dari seluruh entitas alam. Ketika cahaya iman masuk ke dalam diri manusia, maka cahaya itu akan memperlihatkan semua ukiran penuh hikmah yang terdapat dalam dirinya. Ia juga mengajak yang lain untuk membacanya.
Mukmin membacanya dengan penuh perenungan, merasakannya dengan penuh kesadaran, serta membuat yang lain dapat membacanya. Yakni, seolah-olah ia berkata, “Aku adalah ciptaan dan makhluk Sang Pencipta. Lihatlah bagaimana rahmat dan kemurahan-Nya termanifestasi dalam diriku.” Dan sejumlah makna luas yang serupa, kreasi Ilahi termanifestasi dalam diri manusia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 2-3
*Nilai Manusia Atas Relasinya Dengan Sang Pencipta*
Jadi, iman yang merupakan relasi manusia dengan Sang Pencipta memperlihatkan seluruh jejak kreasi yang tersimpan dalam diri manusia. Dengan itulah, nilai manusia menjadi jelas sesuai dengan penampakan kreasi Ilahi tersebut dan sejauh mana menjadi cermin-Nya. Maka, manusia yang tadinya tidak penting berubah menuju tingkatan makhluk yang paling mulia di mana ia layak untuk menerima pesan Ilahi dan mendapat kehormatan yang membuatnya pantas menjadi tamu rabbani di surga. Namun jika kekufuran—yang merupakan bentuk putusnya hubungan dengan Allah—masuk ke dalam diri manusia, ketika itu seluruh makna ukiran _asmaul husna_ yang penuh hikmah jatuh ke dalam kegelapan dan pada akhirnya hilang sehingga tak dapat dibaca.
Hal itu karena sisi-sisi maknawi yang mengarah kepada Sang Pencipta tak bisa dipahami dengan melupakan-Nya. Bahkan ia menjadi berbalik. Sebagian besar jejak dan tanda kreasi yang sangat berharga dan penuh hikmah serta sebagian besar tulisan maknawi yang luhur itu pun lenyap. Yang tersisa dan yang terlihat oleh mata akan dikembalikan kepada sebab-sebab sepele, alam, dan proses kebetulan. Lalu pada akhirnya, ia menjadi lenyap di mana setiap permata dari permatanya yang bersinar itu akan berubah menjadi kaca yang hitam dan gelap.
Nilainya juga hanya akan terbatas pada sisi materi hewaninya semata. Sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa tujuan dan buah dari materi adalah menjalani kehidupan yang singkat dan parsial. Pemiliknya merupakan makhluk yang paling lemah, paling butuh, dan paling malang. Dari sana ia pun menjadi lenyap. Dmikianlah, kekufuran melenyapkan esensi manusia dan mengubahnya dari permata berharga menjadi batu bara.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 4-5
Jadi, iman yang merupakan relasi manusia dengan Sang Pencipta memperlihatkan seluruh jejak kreasi yang tersimpan dalam diri manusia. Dengan itulah, nilai manusia menjadi jelas sesuai dengan penampakan kreasi Ilahi tersebut dan sejauh mana menjadi cermin-Nya. Maka, manusia yang tadinya tidak penting berubah menuju tingkatan makhluk yang paling mulia di mana ia layak untuk menerima pesan Ilahi dan mendapat kehormatan yang membuatnya pantas menjadi tamu rabbani di surga. Namun jika kekufuran—yang merupakan bentuk putusnya hubungan dengan Allah—masuk ke dalam diri manusia, ketika itu seluruh makna ukiran _asmaul husna_ yang penuh hikmah jatuh ke dalam kegelapan dan pada akhirnya hilang sehingga tak dapat dibaca.
Hal itu karena sisi-sisi maknawi yang mengarah kepada Sang Pencipta tak bisa dipahami dengan melupakan-Nya. Bahkan ia menjadi berbalik. Sebagian besar jejak dan tanda kreasi yang sangat berharga dan penuh hikmah serta sebagian besar tulisan maknawi yang luhur itu pun lenyap. Yang tersisa dan yang terlihat oleh mata akan dikembalikan kepada sebab-sebab sepele, alam, dan proses kebetulan. Lalu pada akhirnya, ia menjadi lenyap di mana setiap permata dari permatanya yang bersinar itu akan berubah menjadi kaca yang hitam dan gelap.
Nilainya juga hanya akan terbatas pada sisi materi hewaninya semata. Sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa tujuan dan buah dari materi adalah menjalani kehidupan yang singkat dan parsial. Pemiliknya merupakan makhluk yang paling lemah, paling butuh, dan paling malang. Dari sana ia pun menjadi lenyap. Dmikianlah, kekufuran melenyapkan esensi manusia dan mengubahnya dari permata berharga menjadi batu bara.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 4-5
*Iman Sebagai Penerang*
*Poin Kedua*
Sebagaimana iman merupakan cahaya yang menyinari manusia dan memperlihatkan seluruh tulisan Ilahi yang tertera padanya, ia juga menyinari seluruh alam. Ia menyelamatkan masa lalu dan masa yang akan datang dari kegelapan yang pekat. Kami akan menjelaskan rahasia ini dengan sebuah perumpamaan dengan berlandaskan pada salah satu rahasia ayat berikut:
اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ
_“Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan menuju cahaya”._ (QS. al-Baqarah [2]: 257).
Dalam sebuah kejadian imajiner, aku melihat dua gunung besar yang saling berhadapan. Di atas keduanya ditancapkan sebuah jembatan besar yang menakjubkan. Lalu di bawahnya terdapat sebuah lembah yang sangat dalam. Aku berdiri di atas jembatan tersebut. Sementara seluruh sisi dunia diliputi oleh kegelapan yang pekat. Aku melihat ke sisi kanan, ternyata ia berupa pekuburan besar di bawah sayap kegelapan yang tak bertepi.
Demikianlah yang terbayang. Kemudian aku menoleh ke sisi kiri, kulihat gelombang hitam menerjang kuat serta bencana hebat menerpanya seakan-akan ia siap menyerang. Lalu aku melihat ke bawah, terlihat jurang dalam yang dasarnya tak tampak. Yang kumiliki hanya sebuah lentera dengan cahaya yang suram di tengah kegelapan yang mencekam. Hanya itu yang dapat kupergunakan. Situasinya sungguh mengerikan. Pasalnya, aku melihat sejumlah singa dan hewan buas di setiap tempat bahkan sampai ke ujung jembatan.
Ketika itu, aku berharap andai saja tidak memiliki lentera yang justru memperlihatkan makhluk menakutkan tadi. Sebab, ke mana saja aku mengarahkan cahaya lentera itu, sejumlah hal menakutkan terlihat. Aku hanya mengucap, “Lentera ini hanya menjadi petaka dan bencana bagiku.” Kemarahanku meluap lalu kuhempaskan lentera itu ke tanah hingga hancur. Seakan-akan dengan kehancurannya itu aku menekan tombol lampu listrik yang besar. Seketika seluruh alam menjadi terang. Kegelapan itu pun sirna dan seluruh tempat diliputi oleh cahaya. Akhirnya, hakikat segala sesuatu menjadi terlihat dengan jelas.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 5-6
*Poin Kedua*
Sebagaimana iman merupakan cahaya yang menyinari manusia dan memperlihatkan seluruh tulisan Ilahi yang tertera padanya, ia juga menyinari seluruh alam. Ia menyelamatkan masa lalu dan masa yang akan datang dari kegelapan yang pekat. Kami akan menjelaskan rahasia ini dengan sebuah perumpamaan dengan berlandaskan pada salah satu rahasia ayat berikut:
اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ
_“Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan menuju cahaya”._ (QS. al-Baqarah [2]: 257).
Dalam sebuah kejadian imajiner, aku melihat dua gunung besar yang saling berhadapan. Di atas keduanya ditancapkan sebuah jembatan besar yang menakjubkan. Lalu di bawahnya terdapat sebuah lembah yang sangat dalam. Aku berdiri di atas jembatan tersebut. Sementara seluruh sisi dunia diliputi oleh kegelapan yang pekat. Aku melihat ke sisi kanan, ternyata ia berupa pekuburan besar di bawah sayap kegelapan yang tak bertepi.
Demikianlah yang terbayang. Kemudian aku menoleh ke sisi kiri, kulihat gelombang hitam menerjang kuat serta bencana hebat menerpanya seakan-akan ia siap menyerang. Lalu aku melihat ke bawah, terlihat jurang dalam yang dasarnya tak tampak. Yang kumiliki hanya sebuah lentera dengan cahaya yang suram di tengah kegelapan yang mencekam. Hanya itu yang dapat kupergunakan. Situasinya sungguh mengerikan. Pasalnya, aku melihat sejumlah singa dan hewan buas di setiap tempat bahkan sampai ke ujung jembatan.
Ketika itu, aku berharap andai saja tidak memiliki lentera yang justru memperlihatkan makhluk menakutkan tadi. Sebab, ke mana saja aku mengarahkan cahaya lentera itu, sejumlah hal menakutkan terlihat. Aku hanya mengucap, “Lentera ini hanya menjadi petaka dan bencana bagiku.” Kemarahanku meluap lalu kuhempaskan lentera itu ke tanah hingga hancur. Seakan-akan dengan kehancurannya itu aku menekan tombol lampu listrik yang besar. Seketika seluruh alam menjadi terang. Kegelapan itu pun sirna dan seluruh tempat diliputi oleh cahaya. Akhirnya, hakikat segala sesuatu menjadi terlihat dengan jelas.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 5-6
*Iman Merupakan Lentera Kehidupan*
Ternyata jembatan gantung yang besar itu adalah jalan datar yang lapang. Pekuburan besar yang tadinya terlihat di sisi kanan tidak lain merupakan majelis zikir, tahlil, perkumpulan mulia, pengabdian agung, dan ibadah yang luhur yang dipimpin oleh orang-orang bercahaya di taman hijau yang indah, di mana ia memancarkan keindahan dan menebarkan kebahagiaan di dalam hati. Lalu jurang dalam yang terlihat di sisi kiri tidak lain merupakan bukit-bukit berisi pepohonan hijau yang sejuk dipandang mata. Di belakangnya terdapat jamuan besar dan taman yang sangat indah. Ya, begitulah yang tampak dalam khayalanku.
Adapun berbagai makhluk menakutkan dan buas yang kulihat ternyata hanyalah hewan jinak seperti unta, kerbau, domba, dan kambing. Ketika itulah aku membaca ayat yang berbunyi:
اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ . . . (٢٥٧)
_“Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…”_ (QS. al-Baqarah [2]: 257). Aku pun terus mengucap, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan cahaya iman”. Setelah itu, aku tersadar dari kejadian di atas.
Demikianlah, kedua gunung yang dimaksud adalah awal dan
akhir dari kehidupan. Yakni, keduanya merupakan alam dunia dan alam barzakh. Sementara jembatan di atas adalah jalan kehidupan. Sisi kanan adalah masa lalu, sementara sisi kiri berupa masa depan. Lalu lenteranya berupa sifat egois manusia yang hanya melihat dirinya serta mengandalkan ilmu yang dimilikinya tanpa mau mendengar wahyu dari langit. Adapun binatang buasnya berupa sejumlah peristiwa alam yang menakjubkan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 6-7
Ternyata jembatan gantung yang besar itu adalah jalan datar yang lapang. Pekuburan besar yang tadinya terlihat di sisi kanan tidak lain merupakan majelis zikir, tahlil, perkumpulan mulia, pengabdian agung, dan ibadah yang luhur yang dipimpin oleh orang-orang bercahaya di taman hijau yang indah, di mana ia memancarkan keindahan dan menebarkan kebahagiaan di dalam hati. Lalu jurang dalam yang terlihat di sisi kiri tidak lain merupakan bukit-bukit berisi pepohonan hijau yang sejuk dipandang mata. Di belakangnya terdapat jamuan besar dan taman yang sangat indah. Ya, begitulah yang tampak dalam khayalanku.
Adapun berbagai makhluk menakutkan dan buas yang kulihat ternyata hanyalah hewan jinak seperti unta, kerbau, domba, dan kambing. Ketika itulah aku membaca ayat yang berbunyi:
اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ . . . (٢٥٧)
_“Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…”_ (QS. al-Baqarah [2]: 257). Aku pun terus mengucap, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan cahaya iman”. Setelah itu, aku tersadar dari kejadian di atas.
Demikianlah, kedua gunung yang dimaksud adalah awal dan
akhir dari kehidupan. Yakni, keduanya merupakan alam dunia dan alam barzakh. Sementara jembatan di atas adalah jalan kehidupan. Sisi kanan adalah masa lalu, sementara sisi kiri berupa masa depan. Lalu lenteranya berupa sifat egois manusia yang hanya melihat dirinya serta mengandalkan ilmu yang dimilikinya tanpa mau mendengar wahyu dari langit. Adapun binatang buasnya berupa sejumlah peristiwa alam yang menakjubkan.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 6-7
*Menyingkap Hakikat Kehidupan Dengan Kacamata Iman*
Manusia yang mengandalkan egonya lalu jatuh ke dalam jaring gelapnya kelalaian dan rantai kesesatan laksana kondisiku yang pertama dalam peristiwa imajiner di atas di mana masa lalu—lewat cahaya redup yang berupa pengetahuan yang penuh kesesatan—tampak seperti pekuburan besar dalam gelapnya ketiadaan. Lalu ia menggambarkan masa depan seperti sesuatu yang seram berhias sejumlah kesulitan seraya menyandarkannya pada proses kebetulan yang buta. Ia juga menggambarkan semua kejadian dan entitas yang sebetulnya merupakan pesuruh yang tunduk kepada Dzat Yang Mahabijak dan Maha Pengasih laksana binatang buas yang berbahaya. Kondisi yang dialaminya seperti bunyi ayat al-Qur’an:
وَالَّذ۪ينَ كَفَرُٓوا اَوْلِيَٓاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ اِلَى الظُّلُمَاتِ ...(٢٥٧)
_“Orang-orang kafir, wali mereka adalah thagut. Thagut mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan…”._ (QS. al-Baqarah [2]: 257).
Namun jika manusia mendapat petunjuk Ilahi sehingga iman masuk ke dalam kalbu, lalu sifat fir’aunisme hancur lebur, kemudian mau mendengar pesan _kitabullah_, maka ia sama seperti kondisiku yang kedua dalam peristiwa imajiner di atas. Seluruh alam berubah menjadi siang dan diliputi oleh cahaya Ilahi. Semua mengucap ayat yang berbunyi:
اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ ... (٣٥)
_“Allah (sumber) cahaya langit dan bumi…”._ (QS. an-Nûr [24]: 35). Masa lalu bukanlah pekuburan besar seperti yang disangka. Namun, setiap masanya seperti yang disaksikan oleh penglihatan kalbu, penuh dengan sejumlah jama
kejauhan bahwa di balik berbagai kejadian alam barzakh dan akhirat terdapat sejumlah istana kebahagiaan. Di dalamnya terhampar berbagai jamuan Tuhan yang sangat luas. Ia mengetahui bahwa setiap hal yang terjadi di alam ini—seperti topan, gempa, wabah penyakit, dan sejenisnya—merupakan suruhan yang dikendalikan.
Maka, angin yang bertiup di musim semi serta hujan dan sejenisnya yang tampak memilukan sebenarnya penuh dengan hikmah tersembunyi. Bahkan kematian tampak sebagai pendahuluan bagi kehidupan abadi, serta kubur laksana pintu menuju kebahagiaan yang kekal. Engkau bisa menganalogikan aspek lainnya dengan cara seperti di atas; mencocokkan kenyataan dengan contoh yang ada.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 8-10
Manusia yang mengandalkan egonya lalu jatuh ke dalam jaring gelapnya kelalaian dan rantai kesesatan laksana kondisiku yang pertama dalam peristiwa imajiner di atas di mana masa lalu—lewat cahaya redup yang berupa pengetahuan yang penuh kesesatan—tampak seperti pekuburan besar dalam gelapnya ketiadaan. Lalu ia menggambarkan masa depan seperti sesuatu yang seram berhias sejumlah kesulitan seraya menyandarkannya pada proses kebetulan yang buta. Ia juga menggambarkan semua kejadian dan entitas yang sebetulnya merupakan pesuruh yang tunduk kepada Dzat Yang Mahabijak dan Maha Pengasih laksana binatang buas yang berbahaya. Kondisi yang dialaminya seperti bunyi ayat al-Qur’an:
وَالَّذ۪ينَ كَفَرُٓوا اَوْلِيَٓاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ اِلَى الظُّلُمَاتِ ...(٢٥٧)
_“Orang-orang kafir, wali mereka adalah thagut. Thagut mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan…”._ (QS. al-Baqarah [2]: 257).
Namun jika manusia mendapat petunjuk Ilahi sehingga iman masuk ke dalam kalbu, lalu sifat fir’aunisme hancur lebur, kemudian mau mendengar pesan _kitabullah_, maka ia sama seperti kondisiku yang kedua dalam peristiwa imajiner di atas. Seluruh alam berubah menjadi siang dan diliputi oleh cahaya Ilahi. Semua mengucap ayat yang berbunyi:
اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضِ ... (٣٥)
_“Allah (sumber) cahaya langit dan bumi…”._ (QS. an-Nûr [24]: 35). Masa lalu bukanlah pekuburan besar seperti yang disangka. Namun, setiap masanya seperti yang disaksikan oleh penglihatan kalbu, penuh dengan sejumlah jama
ah yang mengerjakan tugas ubudiah di bawah kendali Nabi utusan atau sekelompok wali saleh yang mengatur dan menyebarkan tugas mulia itu, serta mengokohkan rukun-rukunnya di tengah-tengah umat secara sempurna.
Setelah jamaah itu menyelesaikan berbagai tugas kehidupan dan kewajiban fitrinya, mereka terbang menuju kedudukan yang tinggi seraya mengucap, _“Allâhu Akbar”_ dengan menembus tirai masa depan. Ketika menoleh ke sisi kiri lewat teropong iman, tampak darikejauhan bahwa di balik berbagai kejadian alam barzakh dan akhirat terdapat sejumlah istana kebahagiaan. Di dalamnya terhampar berbagai jamuan Tuhan yang sangat luas. Ia mengetahui bahwa setiap hal yang terjadi di alam ini—seperti topan, gempa, wabah penyakit, dan sejenisnya—merupakan suruhan yang dikendalikan.
Maka, angin yang bertiup di musim semi serta hujan dan sejenisnya yang tampak memilukan sebenarnya penuh dengan hikmah tersembunyi. Bahkan kematian tampak sebagai pendahuluan bagi kehidupan abadi, serta kubur laksana pintu menuju kebahagiaan yang kekal. Engkau bisa menganalogikan aspek lainnya dengan cara seperti di atas; mencocokkan kenyataan dengan contoh yang ada.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 8-10
*Iman Adalah Kekuatan*
*Poin Ketiga*
Di samping merupakan cahaya, iman juga merupakan kekuatan. Manusia yang mendapatkan iman hakiki mampu menantang seluruh alam dan berlepas diri dari himpitan berbagai peristiwa. Dengan bersandar pada kekuatan imannya, ia bisa berlayar di atas bahtera kehidupan di tengah gelombang berbagai peristiwa yang dahsyat dengan aman dan selamat seraya berkata, “Aku bertawakkal kepada Allah.” Ia titipkan seluruh beban beratnya kepada kekuasaan _qudrat_ Dzat Yang Mahakuasa. Dengan itu, ia menempuh kehidupan dunia dalam kondisi tenang, mudah, dan lapang hingga sampai ke alam barzakh dan istirahat di sana. Dari sana ia bisa terbang menuju surga untuk memasuki kebahagiaan abadi.
Namun jika manusia tidak bertawakkal, maka bukan hanya tidak bisa mengepak sayap dan terbang menuju surga, tetapi juga beban yang berat itu akan menyeretnya menuju tingkatan yang paling rendah. Jadi, iman melahirkan tauhid. Tauhid mengantar kepada sikap pasrah dan tunduk. Sikap pasrah merealisasikan tawakkal. Lalu tawakkal memudahkan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan pernah mengira bahwa tawakkal berarti menolak _sebab_ dan ikhtiar secara keseluruhan.
Akan tetapi, tawakkal adalah menyadari bahwa _sebab_ dan ikhtiar merupakan hijab yang berada di dalam kekuasaan _qudrat_ Ilahi yang harus diperhatikan. Sedangkan mempergunakan atau berpegang pada _sebab_ merupakan satu bentuk doa _fi’li_ (perbuatan). Jadi, meminta akibat dan menanti hasil hanyalah dari Allah Yang Mahabenar. Lalu pujian dan ucapan syukur hanya untuk-Nya semata.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 10-11
*Poin Ketiga*
Di samping merupakan cahaya, iman juga merupakan kekuatan. Manusia yang mendapatkan iman hakiki mampu menantang seluruh alam dan berlepas diri dari himpitan berbagai peristiwa. Dengan bersandar pada kekuatan imannya, ia bisa berlayar di atas bahtera kehidupan di tengah gelombang berbagai peristiwa yang dahsyat dengan aman dan selamat seraya berkata, “Aku bertawakkal kepada Allah.” Ia titipkan seluruh beban beratnya kepada kekuasaan _qudrat_ Dzat Yang Mahakuasa. Dengan itu, ia menempuh kehidupan dunia dalam kondisi tenang, mudah, dan lapang hingga sampai ke alam barzakh dan istirahat di sana. Dari sana ia bisa terbang menuju surga untuk memasuki kebahagiaan abadi.
Namun jika manusia tidak bertawakkal, maka bukan hanya tidak bisa mengepak sayap dan terbang menuju surga, tetapi juga beban yang berat itu akan menyeretnya menuju tingkatan yang paling rendah. Jadi, iman melahirkan tauhid. Tauhid mengantar kepada sikap pasrah dan tunduk. Sikap pasrah merealisasikan tawakkal. Lalu tawakkal memudahkan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jangan pernah mengira bahwa tawakkal berarti menolak _sebab_ dan ikhtiar secara keseluruhan.
Akan tetapi, tawakkal adalah menyadari bahwa _sebab_ dan ikhtiar merupakan hijab yang berada di dalam kekuasaan _qudrat_ Ilahi yang harus diperhatikan. Sedangkan mempergunakan atau berpegang pada _sebab_ merupakan satu bentuk doa _fi’li_ (perbuatan). Jadi, meminta akibat dan menanti hasil hanyalah dari Allah Yang Mahabenar. Lalu pujian dan ucapan syukur hanya untuk-Nya semata.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 10-11
*Iman Sebagai Sarana Penyelamat Kesengsaraan Hidup Di Dunia*
Perumpamaan orang yang bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban berat di atas kepala dan pundak mereka. Lalu keduanya naik ke atas kapal besar. Ketika masuk ke dalam kapal, yang satunya meletakkan beban beratnya lalu duduk di atasnya seraya terus mengawasinya. Sementara yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak melakukan hal serupa. Lalu ada yang menegur, “Letakkan beban beratmu agar engkau bisa istirahat.” Ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mau melakukannya karena khawatir hilang. Aku masih kuat untuk membawanya. Dan aku akan menjaga barang milikku ini seraya tetap memikulnya.” Ia pun kembali ditegur, “Namun wahai saudaraku, kapal kerajaan yang aman ini, yang telah mengangkut kita, jauh lebih kuat daripada kita semua. Ia lebih bisa menjaga kita.
Sementara engkau bisa tak sadarkan diri sehingga jatuh dan barangmu masuk ke dalam laut. Apalagi lama-kelamaan engkau akan penat dan kehilangan kekuatan. Badanmu yang bongkok dan kepalamu yang tak berakal ini tidak akan bertahan lama untuk membawanya. Jika kapten kapal melihatmu dalam kondisi seperti ini, ia akan menganggapmu gila dan tidak waras sehingga dapat mengusirmu keluar atau menangkap dan memenjarakanmu seraya berkata, “Orang ini tidak mempercayai kapal kita dan mengolok-olok kita.” Engkau juga akan menjadi tertawaan orang. Karena dengan sifat sombongmu yang memperlihatkan kelemahan dan dengan sikapmu yang mengada-ada yang menyiratkan sifat riya membuatmu ditertawakan. Tidakkah engkau melihat semua orang mulai menertawakan dan mengejekmu.”
Setelah mendengar ucapan ini, orang malang tadi baru sadar dan meletakkan bawaannya di atas lantai kapal seraya duduk di atasnya. Ia berkata, “Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu. Engkau telah menyelamatkanku dari rasa penat, kehinaan, penjara, dan ejekan orang.” Wahai manusia yang tidak mau bertawakkal, sadarlah seperti orang di atas. Bertawakkallah kepada Allah agar engkau tidak lagi meminta-minta kepada makhluk, tidak risau saat menghadapi berbagai peristiwa, serta selamat dari sikap riya, ejekan, derita abadi, dan belenggu dunia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 11-12
Perumpamaan orang yang bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban berat di atas kepala dan pundak mereka. Lalu keduanya naik ke atas kapal besar. Ketika masuk ke dalam kapal, yang satunya meletakkan beban beratnya lalu duduk di atasnya seraya terus mengawasinya. Sementara yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak melakukan hal serupa. Lalu ada yang menegur, “Letakkan beban beratmu agar engkau bisa istirahat.” Ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mau melakukannya karena khawatir hilang. Aku masih kuat untuk membawanya. Dan aku akan menjaga barang milikku ini seraya tetap memikulnya.” Ia pun kembali ditegur, “Namun wahai saudaraku, kapal kerajaan yang aman ini, yang telah mengangkut kita, jauh lebih kuat daripada kita semua. Ia lebih bisa menjaga kita.
Sementara engkau bisa tak sadarkan diri sehingga jatuh dan barangmu masuk ke dalam laut. Apalagi lama-kelamaan engkau akan penat dan kehilangan kekuatan. Badanmu yang bongkok dan kepalamu yang tak berakal ini tidak akan bertahan lama untuk membawanya. Jika kapten kapal melihatmu dalam kondisi seperti ini, ia akan menganggapmu gila dan tidak waras sehingga dapat mengusirmu keluar atau menangkap dan memenjarakanmu seraya berkata, “Orang ini tidak mempercayai kapal kita dan mengolok-olok kita.” Engkau juga akan menjadi tertawaan orang. Karena dengan sifat sombongmu yang memperlihatkan kelemahan dan dengan sikapmu yang mengada-ada yang menyiratkan sifat riya membuatmu ditertawakan. Tidakkah engkau melihat semua orang mulai menertawakan dan mengejekmu.”
Setelah mendengar ucapan ini, orang malang tadi baru sadar dan meletakkan bawaannya di atas lantai kapal seraya duduk di atasnya. Ia berkata, “Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu. Engkau telah menyelamatkanku dari rasa penat, kehinaan, penjara, dan ejekan orang.” Wahai manusia yang tidak mau bertawakkal, sadarlah seperti orang di atas. Bertawakkallah kepada Allah agar engkau tidak lagi meminta-minta kepada makhluk, tidak risau saat menghadapi berbagai peristiwa, serta selamat dari sikap riya, ejekan, derita abadi, dan belenggu dunia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 11-12
*Iman Sebagai Sarana Penyelamat Kesengsaraan Hidup Di Dunia*
Perumpamaan orang yang bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban berat di atas kepala dan pundak mereka. Lalu keduanya naik ke atas kapal besar. Ketika masuk ke dalam kapal, yang satunya meletakkan beban beratnya lalu duduk di atasnya seraya terus mengawasinya. Sementara yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak melakukan hal serupa. Lalu ada yang menegur, “Letakkan beban beratmu agar engkau bisa istirahat.” Ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mau melakukannya karena khawatir hilang. Aku masih kuat untuk membawanya. Dan aku akan menjaga barang milikku ini seraya tetap memikulnya.” Ia pun kembali ditegur, “Namun wahai saudaraku, kapal kerajaan yang aman ini, yang telah mengangkut kita, jauh lebih kuat daripada kita semua. Ia lebih bisa menjaga kita.
Sementara engkau bisa tak sadarkan diri sehingga jatuh dan barangmu masuk ke dalam laut. Apalagi lama-kelamaan engkau akan penat dan kehilangan kekuatan. Badanmu yang bongkok dan kepalamu yang tak berakal ini tidak akan bertahan lama untuk membawanya. Jika kapten kapal melihatmu dalam kondisi seperti ini, ia akan menganggapmu gila dan tidak waras sehingga dapat mengusirmu keluar atau menangkap dan memenjarakanmu seraya berkata, “Orang ini tidak mempercayai kapal kita dan mengolok-olok kita.” Engkau juga akan menjadi tertawaan orang. Karena dengan sifat sombongmu yang memperlihatkan kelemahan dan dengan sikapmu yang mengada-ada yang menyiratkan sifat riya membuatmu ditertawakan. Tidakkah engkau melihat semua orang mulai menertawakan dan mengejekmu.”
Setelah mendengar ucapan ini, orang malang tadi baru sadar dan meletakkan bawaannya di atas lantai kapal seraya duduk di atasnya. Ia berkata, “Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu. Engkau telah menyelamatkanku dari rasa penat, kehinaan, penjara, dan ejekan orang.” Wahai manusia yang tidak mau bertawakkal, sadarlah seperti orang di atas. Bertawakkallah kepada Allah agar engkau tidak lagi meminta-minta kepada makhluk, tidak risau saat menghadapi berbagai peristiwa, serta selamat dari sikap riya, ejekan, derita abadi, dan belenggu dunia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 11-12
Perumpamaan orang yang bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal adalah seperti dua orang yang membawa beban berat di atas kepala dan pundak mereka. Lalu keduanya naik ke atas kapal besar. Ketika masuk ke dalam kapal, yang satunya meletakkan beban beratnya lalu duduk di atasnya seraya terus mengawasinya. Sementara yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak melakukan hal serupa. Lalu ada yang menegur, “Letakkan beban beratmu agar engkau bisa istirahat.” Ia menjawab, “Tidak. Aku tidak mau melakukannya karena khawatir hilang. Aku masih kuat untuk membawanya. Dan aku akan menjaga barang milikku ini seraya tetap memikulnya.” Ia pun kembali ditegur, “Namun wahai saudaraku, kapal kerajaan yang aman ini, yang telah mengangkut kita, jauh lebih kuat daripada kita semua. Ia lebih bisa menjaga kita.
Sementara engkau bisa tak sadarkan diri sehingga jatuh dan barangmu masuk ke dalam laut. Apalagi lama-kelamaan engkau akan penat dan kehilangan kekuatan. Badanmu yang bongkok dan kepalamu yang tak berakal ini tidak akan bertahan lama untuk membawanya. Jika kapten kapal melihatmu dalam kondisi seperti ini, ia akan menganggapmu gila dan tidak waras sehingga dapat mengusirmu keluar atau menangkap dan memenjarakanmu seraya berkata, “Orang ini tidak mempercayai kapal kita dan mengolok-olok kita.” Engkau juga akan menjadi tertawaan orang. Karena dengan sifat sombongmu yang memperlihatkan kelemahan dan dengan sikapmu yang mengada-ada yang menyiratkan sifat riya membuatmu ditertawakan. Tidakkah engkau melihat semua orang mulai menertawakan dan mengejekmu.”
Setelah mendengar ucapan ini, orang malang tadi baru sadar dan meletakkan bawaannya di atas lantai kapal seraya duduk di atasnya. Ia berkata, “Alhamdulillah. Semoga Allah meridhaimu. Engkau telah menyelamatkanku dari rasa penat, kehinaan, penjara, dan ejekan orang.” Wahai manusia yang tidak mau bertawakkal, sadarlah seperti orang di atas. Bertawakkallah kepada Allah agar engkau tidak lagi meminta-minta kepada makhluk, tidak risau saat menghadapi berbagai peristiwa, serta selamat dari sikap riya, ejekan, derita abadi, dan belenggu dunia.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 11-12
*Manusia Diciptakan Untuk Menyempurnakan Diri Dengan Belajar Dan Berdoa*
Sementara itu, manusia tidak demikian. Ketika datang ke dunia, manusia dalam kondisi butuh belajar segala hal. Sebab, ia benar-benar tidak mengetahui tentang seluruh rambu-rambu kehidupan. Bisa jadi dalam dua puluh tahun sekalipun ia masih belum memahami seluk-beluk kehidupannya secara keseluruhan. Bahkan, bisa jadi ia butuh belajar sepanjang hidupnya. Apalagi ia dikirim ke dunia dalam kondisi sangat lemah di mana ia baru mampu berdiri tegak setelah berusia dua tahun. Ia juga baru bisa membedakan baik dan buruk setelah berumur lima belas tahun. Ia juga tidak dapat mewujudkan manfaat dan maslahat untuk dirinya serta tidak mampu menghindarkan bahaya kecuali dengan bekerjasama dan berasosiasi dalam kehidupan sosial umat manusia.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tugas alamiah manusia adalah menyempurnakan diri dengan “belajar”, yakni meningkatkan diri dengan jalan mencari ilmu dan pengetahuan, serta melaksanakan ubudiah dengan “doa”, yakni menyadari dan bertanya pada dirinya, “Lewat rahmat dan kasih sayang siapa diriku diatur dengan penuh
hikmah? Lewat kemurahan siapa aku tumbuh dengan berhias kasih sayang? Dengan kelembutan siapa aku mendapatkan nutrisi dalam bentuk demikian sempurna?” Ia melihat bahwa tugas sebenarnya ialah berdoa, bersimpuh, meminta, dan berharap lewat lisan kepapaan dan ketidakberdayaan kepada Sang Pemberi segala kebutuhan guna memenuhi semua pinta dan hajatnya yang tak mampu diraih oleh tangannya.
Hal ini berarti bahwa tugas utamanya adalah terbang dengan dua sayap “ketidakberdayaan dan kefakiran” menuju kedudukan ubudiah yang mulia. Jadi, manusia dihadirkan ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat pengetahuan dan doa. Sebab, segala sesuatu bergantung pada pengetahuan sesuai dengan esensi dan potensi yang ada. Landasan, sumber, cahaya, dan roh semua ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah) sebagaimana inti dari landasan tersebut adalah iman kepada Allah ٍٍٍSWT.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 13-14
Sementara itu, manusia tidak demikian. Ketika datang ke dunia, manusia dalam kondisi butuh belajar segala hal. Sebab, ia benar-benar tidak mengetahui tentang seluruh rambu-rambu kehidupan. Bisa jadi dalam dua puluh tahun sekalipun ia masih belum memahami seluk-beluk kehidupannya secara keseluruhan. Bahkan, bisa jadi ia butuh belajar sepanjang hidupnya. Apalagi ia dikirim ke dunia dalam kondisi sangat lemah di mana ia baru mampu berdiri tegak setelah berusia dua tahun. Ia juga baru bisa membedakan baik dan buruk setelah berumur lima belas tahun. Ia juga tidak dapat mewujudkan manfaat dan maslahat untuk dirinya serta tidak mampu menghindarkan bahaya kecuali dengan bekerjasama dan berasosiasi dalam kehidupan sosial umat manusia.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tugas alamiah manusia adalah menyempurnakan diri dengan “belajar”, yakni meningkatkan diri dengan jalan mencari ilmu dan pengetahuan, serta melaksanakan ubudiah dengan “doa”, yakni menyadari dan bertanya pada dirinya, “Lewat rahmat dan kasih sayang siapa diriku diatur dengan penuh
hikmah? Lewat kemurahan siapa aku tumbuh dengan berhias kasih sayang? Dengan kelembutan siapa aku mendapatkan nutrisi dalam bentuk demikian sempurna?” Ia melihat bahwa tugas sebenarnya ialah berdoa, bersimpuh, meminta, dan berharap lewat lisan kepapaan dan ketidakberdayaan kepada Sang Pemberi segala kebutuhan guna memenuhi semua pinta dan hajatnya yang tak mampu diraih oleh tangannya.
Hal ini berarti bahwa tugas utamanya adalah terbang dengan dua sayap “ketidakberdayaan dan kefakiran” menuju kedudukan ubudiah yang mulia. Jadi, manusia dihadirkan ke alam ini untuk menyempurnakan diri lewat pengetahuan dan doa. Sebab, segala sesuatu bergantung pada pengetahuan sesuai dengan esensi dan potensi yang ada. Landasan, sumber, cahaya, dan roh semua ilmu yang hakiki adalah makrifatullah (mengenal Allah) sebagaimana inti dari landasan tersebut adalah iman kepada Allah ٍٍٍSWT.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 13-14
*Doa Dan Hikmah Dibalik Waktu Pelaksanaanya*
Selain itu, doa merupakan satu bentuk ubudiah. Buah dan manfaat ibadah bersifat ukhrawi. Adapun berbagai tujuan duniawi merupakan “waktu” pelaksanaan jenis doa dan ibadah tersebut, bukan tujuan itu sendiri. Sebagai contoh, salat _Istisqâ_ (meminta hujan) merupakan satu bentuk ibadah, sementara tidak turunnya hujan merupakan waktu pelaksanaan ibadah tersebut. Ibadah dan doa tadi bukan untuk menurunkan hujan. Jika ibadah dilakukan dengan niat itu semata, maka ia tidak layak dikabulkan lantaran tidak ikhlas karena Allah.
Demikian pula dengan waktu terbenamnya matahari. Ia merupakan waktu salat Magrib. Lalu waktu gerhana matahari dan bulan merupakan waktu pelaksanaan salat _Kusûf_ dan _Khusûf_ (salat gerhana). Artinya, Allah menyeru hamba-Nya kepada satu jenis ibadah berkenaan dengan tertutupinya tanda kekuasaan di siang hari dan di malam hari di mana keduanya menginformasikan keagungan Allah SWT. Jadi, ibadah tadi bukan dilakukan agar matahari dan bulan kembali terlihat sebagaimana hal itu diketahui oleh ahli astronomi. Jika kondisinya demikian, maka waktu tidak turunnya hujan juga merupakan waktu pelaksanaan salat _Istisqâ_.
Kemudian datang nya musibah dan bencana secara bertubi-tubi merupakan waktu untuk memanjatkan doa yang tulus, di mana ketika itu manusia menyadari kelemahan dan kefakirannya seraya bersimpuh dan berdoa di hadapan pintu Sang Mahakuasa. Jika Allah tidak menolak bala dan musibah padahal doa telah dipanjatkan, jangan menganggap doa tersebut tidak dikabulkan. Namun waktu doa belum selesai. Nah, ketika dengan karunia-Nya bala dan musibah tadi diangkat oleh Allah, berarti waktu berdoa telah selesai. Dari sini dapat dipahami bahwa doa merupakan salah satu rahasia ubudiah. Sementara ubudiah harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Yaitu dengan berdoa kepada Tuhan seraya memperlihatkan kepapaan tanpa ikut campur dalam prosedur _rububiyah_-Nya.
Manusia harus menyerahkan segala urusan pada pengaturan-Nya dan bersandar pada hikmah-Nya tanpa putus asa terhadap rahmat-Nya. Ya, dengan ayat-ayat yang jelas terbukti bahwa entitas dalam
kondisi bertasbih kepada Allah SWT. Masing-masing memiliki tasbih sendiri dalam bentuk ibadah yang khusus, dan dalam sujud yang khusus. Dari berbagai bentuk ibadah tersebut yang tak terhingga itu lahirlah jenis-jenis doa yang mengantar kepada perlindungan Tuhan Pemelihara Yang Mahaagung.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 17-18
Selain itu, doa merupakan satu bentuk ubudiah. Buah dan manfaat ibadah bersifat ukhrawi. Adapun berbagai tujuan duniawi merupakan “waktu” pelaksanaan jenis doa dan ibadah tersebut, bukan tujuan itu sendiri. Sebagai contoh, salat _Istisqâ_ (meminta hujan) merupakan satu bentuk ibadah, sementara tidak turunnya hujan merupakan waktu pelaksanaan ibadah tersebut. Ibadah dan doa tadi bukan untuk menurunkan hujan. Jika ibadah dilakukan dengan niat itu semata, maka ia tidak layak dikabulkan lantaran tidak ikhlas karena Allah.
Demikian pula dengan waktu terbenamnya matahari. Ia merupakan waktu salat Magrib. Lalu waktu gerhana matahari dan bulan merupakan waktu pelaksanaan salat _Kusûf_ dan _Khusûf_ (salat gerhana). Artinya, Allah menyeru hamba-Nya kepada satu jenis ibadah berkenaan dengan tertutupinya tanda kekuasaan di siang hari dan di malam hari di mana keduanya menginformasikan keagungan Allah SWT. Jadi, ibadah tadi bukan dilakukan agar matahari dan bulan kembali terlihat sebagaimana hal itu diketahui oleh ahli astronomi. Jika kondisinya demikian, maka waktu tidak turunnya hujan juga merupakan waktu pelaksanaan salat _Istisqâ_.
Kemudian datang nya musibah dan bencana secara bertubi-tubi merupakan waktu untuk memanjatkan doa yang tulus, di mana ketika itu manusia menyadari kelemahan dan kefakirannya seraya bersimpuh dan berdoa di hadapan pintu Sang Mahakuasa. Jika Allah tidak menolak bala dan musibah padahal doa telah dipanjatkan, jangan menganggap doa tersebut tidak dikabulkan. Namun waktu doa belum selesai. Nah, ketika dengan karunia-Nya bala dan musibah tadi diangkat oleh Allah, berarti waktu berdoa telah selesai. Dari sini dapat dipahami bahwa doa merupakan salah satu rahasia ubudiah. Sementara ubudiah harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Yaitu dengan berdoa kepada Tuhan seraya memperlihatkan kepapaan tanpa ikut campur dalam prosedur _rububiyah_-Nya.
Manusia harus menyerahkan segala urusan pada pengaturan-Nya dan bersandar pada hikmah-Nya tanpa putus asa terhadap rahmat-Nya. Ya, dengan ayat-ayat yang jelas terbukti bahwa entitas dalam
kondisi bertasbih kepada Allah SWT. Masing-masing memiliki tasbih sendiri dalam bentuk ibadah yang khusus, dan dalam sujud yang khusus. Dari berbagai bentuk ibadah tersebut yang tak terhingga itu lahirlah jenis-jenis doa yang mengantar kepada perlindungan Tuhan Pemelihara Yang Mahaagung.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 17-18
*Iman Mengangkat Derajat Manusia*
Wahai manusia, jika engkau beriman hanya kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya semata, maka engkau mendapatkan tempat yang tinggi di atas seluruh makhluk. Namun jika engkau berpaling dari ubudiah, maka engkau akan menjadi hamba yang hina di hadapan seluruh makhluk yang lemah. Jika engkau bangga dengan kemampuan dan egomu lalu meninggalkan doa dan tawakkal, serta takabur dan menyimpang dari jalan kebenaran, engkau menjadi lebih lemah daripada semut dan lebah dilihat dari sisi kebaikan dan kreasi. Bahkan lebih lemah daripada lalat dan laba-laba.
Sementara dilihat dari sisi keburukan dan kerusakan, engkau menjadi lebih berat daripada gunung dan lebih berbahaya daripada wabah penyakit. Ya, wahai manusia! Di dalam dirimu terdapat dua dimensi:
_Pertama_, dimensi kreasi, wujud, kebaikan, positif, dan
perbuatan.
_Kedua_, dimensi perusakan, ketiadaan, keburukan, negatif, dan keterpengaruhan. Dengan melihat dimensi pertama, engkau lebih rendah daripada lebah dan burung pipit serta lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Adapun dilihat dari dimensi kedua, engkau dapat mengalahkan bumi, gunung, dan langit serta dapat memikul sesuatu yang enggan mereka pikul.
Karena itu, engkau meraih wilayah yang lebih luas. Hal itu karena ketika melakukan kebaikan dan kreasi, engkau bekerja sesuai kemampuan, potensi, dan kekuatanmu. Namun ketika melakukan kejahatan dan perusakan, kejahatanmu benar-benar melampaui batas dan kerusakan yang kau lakukan menyebar secara luas.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 22-23
Wahai manusia, jika engkau beriman hanya kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya semata, maka engkau mendapatkan tempat yang tinggi di atas seluruh makhluk. Namun jika engkau berpaling dari ubudiah, maka engkau akan menjadi hamba yang hina di hadapan seluruh makhluk yang lemah. Jika engkau bangga dengan kemampuan dan egomu lalu meninggalkan doa dan tawakkal, serta takabur dan menyimpang dari jalan kebenaran, engkau menjadi lebih lemah daripada semut dan lebah dilihat dari sisi kebaikan dan kreasi. Bahkan lebih lemah daripada lalat dan laba-laba.
Sementara dilihat dari sisi keburukan dan kerusakan, engkau menjadi lebih berat daripada gunung dan lebih berbahaya daripada wabah penyakit. Ya, wahai manusia! Di dalam dirimu terdapat dua dimensi:
_Pertama_, dimensi kreasi, wujud, kebaikan, positif, dan
perbuatan.
_Kedua_, dimensi perusakan, ketiadaan, keburukan, negatif, dan keterpengaruhan. Dengan melihat dimensi pertama, engkau lebih rendah daripada lebah dan burung pipit serta lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Adapun dilihat dari dimensi kedua, engkau dapat mengalahkan bumi, gunung, dan langit serta dapat memikul sesuatu yang enggan mereka pikul.
Karena itu, engkau meraih wilayah yang lebih luas. Hal itu karena ketika melakukan kebaikan dan kreasi, engkau bekerja sesuai kemampuan, potensi, dan kekuatanmu. Namun ketika melakukan kejahatan dan perusakan, kejahatanmu benar-benar melampaui batas dan kerusakan yang kau lakukan menyebar secara luas.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 22-23
Assalamu alaikum wr.wb,
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Mencintai Rasulullah SAW Lewat Cahaya Risalahnya*
Narasumber: *Ustadz M. Latiful Khobir, S.S.I (Direktur TPQ Darussalam Lamongan)*
Waktu: Ahad, 7 September 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai
Untuk bergabung ke kajian di Google Meet,
klik link ini:
https://meet.google.com/gux-qmgw-asa
Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: gux-qmgw-asa
Mhn hadiri *Kajian Online Risalah Nur*
Tema: *Mencintai Rasulullah SAW Lewat Cahaya Risalahnya*
Narasumber: *Ustadz M. Latiful Khobir, S.S.I (Direktur TPQ Darussalam Lamongan)*
Waktu: Ahad, 7 September 2025
Pukul: 20.00 wib-selesai
Untuk bergabung ke kajian di Google Meet,
klik link ini:
https://meet.google.com/gux-qmgw-asa
Atau buka Meet lalu masukkan kode ini: gux-qmgw-asa
*Ilustrasi Perbedaan Manusia yang Taat Kepada Allah dan yang Menghamba Kepada Nafsu*
Ya, kemajuan dan peningkatan spiritual yang hakiki hanya terwujud dengan mengarahkan kalbu, jiwa, roh, dan akal, bahkan khayalan serta seluruh kekuatan manusia menuju kehidupan yang kekal abadi di mana masing-masing sibuk dengan tugas ubudiah yang diembannya. Adapun ilusi kaum yang sesat di mana mereka sibuk dengan berbagai kesenangan dunia yang rendah serta mengarahkan perhatian pada sejumlah kenikmatan parsialnya yang fana tanpa mau melihat kepada keindahan universal dan berbagai kenikmatannya yang abadi, seraya menggunakan kalbu, akal, dan seluruh perangkat halus manusia di bawah perintah nafsu _ammârah_ serta menghamba padanya, semua ini sama sekali bukan merupakan bentuk kemajuan. Sebaliknya, ia merupakan bentuk kejatuhan dan keruntuhan.
Aku telah menyaksikan hakikat ini dalam suatu kejadian imajiner yang akan kujelaskan lewat contoh berikut ini: Aku memasuki sebuah kota besar. Di dalamnya aku melihat sejumlah istana dan bangunan yang megah. Di depan istana tersebut terdapat pesta, festival, dan sejumlah acara yang menarik perhatian. Ia laksana teater dan tempat hiburan. Ia memiliki daya tarik. Akupun memperhatikan bahwa pemilik istana berada di depan pintu sedang bermain-main dengan anjingnya. Lalu para wanita menari bersama para pemuda asing. Kemudian para gadis belia menata beragam permainan anak-anak. Penjaga pintu istana melakukan pengawasan terhadap semuanya. Ketika itulah aku memahami bahwa istana tersebut kosong dan tugas-tugas di dalamnya diabaikan. Akhlak mereka telah terpuruk sehingga mereka terlihat dengan keadaan yang demikian di depan istana.
Kemudian ketika berjalan beberapa langkah, aku melihat sebuah istana lain. Di sana ada seekor anjing yang tidur di depan pintu bersama seorang penjaga yang gagah, tegap, dan tenang. Di depan istana itu tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Aku takjub dan heran dengan suasana hening seperti itu. Aku berusaha mencari tahu tentang sebabnya. Maka, aku pun masuk ke dalam istana itu. Ternyata istana tersebut ramai oleh penghuninya. Ada banyak tugas dan kewajiban penting yang dilakukan oleh mereka. Masing-masing berada di lantai yang diperuntukkan baginya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 28-29
Ya, kemajuan dan peningkatan spiritual yang hakiki hanya terwujud dengan mengarahkan kalbu, jiwa, roh, dan akal, bahkan khayalan serta seluruh kekuatan manusia menuju kehidupan yang kekal abadi di mana masing-masing sibuk dengan tugas ubudiah yang diembannya. Adapun ilusi kaum yang sesat di mana mereka sibuk dengan berbagai kesenangan dunia yang rendah serta mengarahkan perhatian pada sejumlah kenikmatan parsialnya yang fana tanpa mau melihat kepada keindahan universal dan berbagai kenikmatannya yang abadi, seraya menggunakan kalbu, akal, dan seluruh perangkat halus manusia di bawah perintah nafsu _ammârah_ serta menghamba padanya, semua ini sama sekali bukan merupakan bentuk kemajuan. Sebaliknya, ia merupakan bentuk kejatuhan dan keruntuhan.
Aku telah menyaksikan hakikat ini dalam suatu kejadian imajiner yang akan kujelaskan lewat contoh berikut ini: Aku memasuki sebuah kota besar. Di dalamnya aku melihat sejumlah istana dan bangunan yang megah. Di depan istana tersebut terdapat pesta, festival, dan sejumlah acara yang menarik perhatian. Ia laksana teater dan tempat hiburan. Ia memiliki daya tarik. Akupun memperhatikan bahwa pemilik istana berada di depan pintu sedang bermain-main dengan anjingnya. Lalu para wanita menari bersama para pemuda asing. Kemudian para gadis belia menata beragam permainan anak-anak. Penjaga pintu istana melakukan pengawasan terhadap semuanya. Ketika itulah aku memahami bahwa istana tersebut kosong dan tugas-tugas di dalamnya diabaikan. Akhlak mereka telah terpuruk sehingga mereka terlihat dengan keadaan yang demikian di depan istana.
Kemudian ketika berjalan beberapa langkah, aku melihat sebuah istana lain. Di sana ada seekor anjing yang tidur di depan pintu bersama seorang penjaga yang gagah, tegap, dan tenang. Di depan istana itu tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Aku takjub dan heran dengan suasana hening seperti itu. Aku berusaha mencari tahu tentang sebabnya. Maka, aku pun masuk ke dalam istana itu. Ternyata istana tersebut ramai oleh penghuninya. Ada banyak tugas dan kewajiban penting yang dilakukan oleh mereka. Masing-masing berada di lantai yang diperuntukkan baginya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 28-29
*Membimbing Perangkat Maknawi Manusia Kepada Tujuan Hakikinya*
Di lantai pertama, ada sejumlah orang yang menata istana dan mengelola sejumlah urusannya. Di lantai kedua, beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang belajar. Di lantai ketiga, sekelompok wanita sedang menjahit, menyulam, membuat hiasan warna-warni serta ukiran indah di atas beragam pakaian. Adapun di lantai akhir, terdapat pemilik istana sedang melakukan telekomunikasi lewat telepon dengan raja untuk menjamin kenyamanan, keselamatan, dan kebebasan yang mulia dan menyenangkan bagi penghuni istana. Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya dan menunaikan tugas sesuai dengan kedudukannya. Karena tak terlihat oleh mereka, tidak ada yang menghalangiku untuk berkeliling di seluruh penjuru istana. Karena itu, aku bisa mengetahui semua keadaan dengan sangat bebas.
Kemudian aku meninggalkan istana dan berkeliling di kota. Ternyata kota itu terbagi atas dua jenis istana dan bangunan. Aku pun bertanya tentang sebabnya, lalu ada yang memberi tahu bahwa jenis istana pertama yang tak berpenghuni dan ada pesta di depannya merupakan tempat para pemimpin kafir dan orang-orang yang sesat. Sedangkan istana kedua adalah tempat tokoh orang beriman yang terhormat. Selanjutnya, di sisi kota lainnya terdapat istana yang bertuliskan nama “Said”. Aku pun heran. Saat kuperhatikan, seolah-olah fotoku terlihat olehku. Seketika aku terperanjat, kemudian akhirnya aku tersadar dari imajinasiku. Dengan taufik ilahi, aku ingin menjelaskan kejadian imajiner di
atas sebagai berikut:
Kota yang dimaksud adalah kehidupan sosial dan peradaban umat manusia. Setiap istana yang terdapat padanya merujuk kepada manusia. Adapun penghuni istananya merupakan anggota badan manusia seperti mata, telinga, serta perangkat halus seperti kalbu, jiwa, dan roh, berikut kecenderungannya yang berupa hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah. Setiap perangkat halus ini memiliki tugas ubudiah tertentu dengan segala kenikmatan dan kepedihannya. Sementara hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah, ia laksana penjaga pintu dan laksana anjing penjaga. Maka, menundukkan perangkat mulia itu kepada perintah hawa nafsu seraya membuat lupa tugas-tugas aslinya tentu merupakan bentuk kejatuhan dan kemerosotan, bukan kemajuan. Aspek yang lain engkau bisa menafsirkannya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 29-31
Di lantai pertama, ada sejumlah orang yang menata istana dan mengelola sejumlah urusannya. Di lantai kedua, beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang belajar. Di lantai ketiga, sekelompok wanita sedang menjahit, menyulam, membuat hiasan warna-warni serta ukiran indah di atas beragam pakaian. Adapun di lantai akhir, terdapat pemilik istana sedang melakukan telekomunikasi lewat telepon dengan raja untuk menjamin kenyamanan, keselamatan, dan kebebasan yang mulia dan menyenangkan bagi penghuni istana. Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya dan menunaikan tugas sesuai dengan kedudukannya. Karena tak terlihat oleh mereka, tidak ada yang menghalangiku untuk berkeliling di seluruh penjuru istana. Karena itu, aku bisa mengetahui semua keadaan dengan sangat bebas.
Kemudian aku meninggalkan istana dan berkeliling di kota. Ternyata kota itu terbagi atas dua jenis istana dan bangunan. Aku pun bertanya tentang sebabnya, lalu ada yang memberi tahu bahwa jenis istana pertama yang tak berpenghuni dan ada pesta di depannya merupakan tempat para pemimpin kafir dan orang-orang yang sesat. Sedangkan istana kedua adalah tempat tokoh orang beriman yang terhormat. Selanjutnya, di sisi kota lainnya terdapat istana yang bertuliskan nama “Said”. Aku pun heran. Saat kuperhatikan, seolah-olah fotoku terlihat olehku. Seketika aku terperanjat, kemudian akhirnya aku tersadar dari imajinasiku. Dengan taufik ilahi, aku ingin menjelaskan kejadian imajiner di
atas sebagai berikut:
Kota yang dimaksud adalah kehidupan sosial dan peradaban umat manusia. Setiap istana yang terdapat padanya merujuk kepada manusia. Adapun penghuni istananya merupakan anggota badan manusia seperti mata, telinga, serta perangkat halus seperti kalbu, jiwa, dan roh, berikut kecenderungannya yang berupa hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah. Setiap perangkat halus ini memiliki tugas ubudiah tertentu dengan segala kenikmatan dan kepedihannya. Sementara hawa nafsu, syahwat, dan kekuatan amarah, ia laksana penjaga pintu dan laksana anjing penjaga. Maka, menundukkan perangkat mulia itu kepada perintah hawa nafsu seraya membuat lupa tugas-tugas aslinya tentu merupakan bentuk kejatuhan dan kemerosotan, bukan kemajuan. Aspek yang lain engkau bisa menafsirkannya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 29-31
*Meski Sedikit, Usaha yang Halal sudah Cukup Membuahkan Kebahagiaan*
*Nuktah Ketiga*
Dilihat dari sisi perbuatan, perilaku, dan usahanya secara fisik, manusia merupakan makhluk hidup yang lemah dan tidak berdaya. Wilayah aktivitas dan kepemilikannya pada sisi ini sangat terbatas dan sempit. Ia hanya sejauh jangkauan tangannya. Bahkan sejumlah hewan jinak yang dapat dikendalikan oleh manusia juga telah dipengaruhi oleh sifat lemah dan malas yang ada pada diri manusia. Jika kambing dan sapi jinak—misalnya—dibandingkan dengan kambing dan sapi liar, maka perbedaan yang sangat jauh antara keduanya terlihat jelas. Namun dilihat dari sisi respon, penerimaan, doa, dan permintaannya, manusia merupakan tamu agung dan mulia di tempat jamuan dunia. Ia dijamu oleh Sang Pemurah dengan jamuan yang demikian megah, hingga Dia membukakan untuknya berbagai khazanah rahmat-Nya yang luas serta menundukkan para pelayan dan ciptaan-Nya yang tak terhingga untuknya.
Dia juga menyiapkan sebuah daerah yang sangat besar dan luas untuk manusia sebagai tempat rekreasi dan tamasya di mana setengahnya sejauh mata memandang, bahkan seluas jangkauan khayalan. Jika manusia bersandar pada egonya serta menjadikan kehidupan dunia sebagai akhir impiannya di mana upaya dan usahanya hanya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat sementara, maka ia akan terjerumus ke dalam daerah yang sempit dan usahanya akan sia-sia. Lalu di hari kebangkitan, seluruh organ yang diberikan kepada manusia akan menjadi saksi yang memberatkan dengan mengadukannya.
Sebaliknya, jika ia memahami bahwa dirinya merupakan tamu yang mulia lalu bertindak sesuai dengan izin Dzat Yang Menjamunya, yakni Sang Yang Maha Pemurah, kemudian menggunakan modal umurnya dalam wilayah yang disyariatkan, maka kegiatan dan amalnya akan berada dalam wilayah yang sangat luas di mana ia membentang sampai pada kehidupan abadi. Ia akan hidup tenang, aman, dan nyaman, serta bernapas lega sambil beristirahat. Ia pun bisa naik ke tingkatan yang paling tinggi. Selain itu, di akhirat kelak semua organ dan perangkat yang diberikan padanya akan menjadi saksi yang mendukungnya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 31-32
*Nuktah Ketiga*
Dilihat dari sisi perbuatan, perilaku, dan usahanya secara fisik, manusia merupakan makhluk hidup yang lemah dan tidak berdaya. Wilayah aktivitas dan kepemilikannya pada sisi ini sangat terbatas dan sempit. Ia hanya sejauh jangkauan tangannya. Bahkan sejumlah hewan jinak yang dapat dikendalikan oleh manusia juga telah dipengaruhi oleh sifat lemah dan malas yang ada pada diri manusia. Jika kambing dan sapi jinak—misalnya—dibandingkan dengan kambing dan sapi liar, maka perbedaan yang sangat jauh antara keduanya terlihat jelas. Namun dilihat dari sisi respon, penerimaan, doa, dan permintaannya, manusia merupakan tamu agung dan mulia di tempat jamuan dunia. Ia dijamu oleh Sang Pemurah dengan jamuan yang demikian megah, hingga Dia membukakan untuknya berbagai khazanah rahmat-Nya yang luas serta menundukkan para pelayan dan ciptaan-Nya yang tak terhingga untuknya.
Dia juga menyiapkan sebuah daerah yang sangat besar dan luas untuk manusia sebagai tempat rekreasi dan tamasya di mana setengahnya sejauh mata memandang, bahkan seluas jangkauan khayalan. Jika manusia bersandar pada egonya serta menjadikan kehidupan dunia sebagai akhir impiannya di mana upaya dan usahanya hanya untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat sementara, maka ia akan terjerumus ke dalam daerah yang sempit dan usahanya akan sia-sia. Lalu di hari kebangkitan, seluruh organ yang diberikan kepada manusia akan menjadi saksi yang memberatkan dengan mengadukannya.
Sebaliknya, jika ia memahami bahwa dirinya merupakan tamu yang mulia lalu bertindak sesuai dengan izin Dzat Yang Menjamunya, yakni Sang Yang Maha Pemurah, kemudian menggunakan modal umurnya dalam wilayah yang disyariatkan, maka kegiatan dan amalnya akan berada dalam wilayah yang sangat luas di mana ia membentang sampai pada kehidupan abadi. Ia akan hidup tenang, aman, dan nyaman, serta bernapas lega sambil beristirahat. Ia pun bisa naik ke tingkatan yang paling tinggi. Selain itu, di akhirat kelak semua organ dan perangkat yang diberikan padanya akan menjadi saksi yang mendukungnya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 31-32
*Tujuan Dari Organ dan Perangkat Yang Dititipkan Kepada Manusia Adalah Untuk Meraih Kehidupan Abadi*
Ya, organ dan perangkat yang diberikan kepada manusia bukan untuk kehidupan dunia yang fana ini. Namun ia diberikan untuk kehidupan abadi. Ia memiliki peran yang sangat penting. Sebab, kalau kita membandingkan antara manusia dan hewan, kita melihat manusia seratus kali jauh lebih kaya daripada hewan dilihat dari segi perangkat dan organ yang dimiliknya. Namun dari segi kenikmatan dan kesenangan yang didapat di dunia, manusia seratus kali lebih miskin. Pasalnya, dalam setiap kenikmatan yang ia rasakan, manusia menghadapi ribuan derita sesudahnya. Kepedihan masa lalu, kesulitan masa kini, dan kecemasan terhadap masa depan, serta sejumlah derita akibat hilangnya kenikmatan merusak cita rasanya dan meninggalkan jejak penderitaan. Sementara itu, hewan tidak demikian. Ia merasakan kenikmatan tanpa disertai penderitaan. Ia merasakan segala sesuatu tanpa dirusak oleh kekeruhan. Ia tidak didera oleh derita masa lalu serta tidak cemas terhadap masa depan.
Ia hidup tenang dan lapang seraya bersyukur kepada Penciptanya. Jadi, manusia yang tercipta dalam “bentuk terbaik” jika hanya memfokuskan perhatian pada kehidupan dunia semata, maka ia akan jatuh seratus kali jauh lebih rendah daripada hewan meskipun dari sisi modal ia seratus kali lebih tinggi. Hakikat ini telah kujelaskan lewat sebuah perumpamaan yang dimuat dalam bagian lain. Namun di sini aku akan mengutarakannya kembali. Seseorang memberikan uang sebanyak sepuluh koin emas kepada pelayannya. Ia memerintahkan pelayan itu untuk memilih baju dari kain yang paling bagus untuk dirinya. Lalu ia memberikan kepada pelayan yang lain seribu koin emas. Namun selain memberi uang, ia juga memberi daftar kecil berisi sejumlah hal yang harus ia penuhi. Ia memasukkan uang dan daftar tadi ke dalam saku pelayan tersebut. Lalu ia menyuruh mereka pergi ke pasar.
Pelayan pertama membeli sebuah baju yang indah dari bahan yang paling bagus senilai sepuluh koin emas. Sementara pelayan kedua meniru dan mengikuti pelayan pertama. Karena kebodohannya, ia tidak melihat daft ar yang diberikan majikannya. Ia membayarkan seribu koin emas kepada si penjual untuk mendapatkan baju yang bagus. Namun si penjual yang tidak jujur itu memberinya baju yang paling jelek. Nah, ketika pelayan yang malang pulang ke rumah majikan dan berada di hadapannya, ia mendapat teguran dan hukuman yang keras. Orang yang memiliki sedikit kesadaran pun pasti dapat menangkap kalau pelayan kedua yang diberi seribu koin emas tidak disuruh pergi ke pasar untuk membeli baju. Namun ia disuruh pergi ke pasar untuk melakukan perniagaan dalam satu niaga yang sangat penting.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 32-34
Ya, organ dan perangkat yang diberikan kepada manusia bukan untuk kehidupan dunia yang fana ini. Namun ia diberikan untuk kehidupan abadi. Ia memiliki peran yang sangat penting. Sebab, kalau kita membandingkan antara manusia dan hewan, kita melihat manusia seratus kali jauh lebih kaya daripada hewan dilihat dari segi perangkat dan organ yang dimiliknya. Namun dari segi kenikmatan dan kesenangan yang didapat di dunia, manusia seratus kali lebih miskin. Pasalnya, dalam setiap kenikmatan yang ia rasakan, manusia menghadapi ribuan derita sesudahnya. Kepedihan masa lalu, kesulitan masa kini, dan kecemasan terhadap masa depan, serta sejumlah derita akibat hilangnya kenikmatan merusak cita rasanya dan meninggalkan jejak penderitaan. Sementara itu, hewan tidak demikian. Ia merasakan kenikmatan tanpa disertai penderitaan. Ia merasakan segala sesuatu tanpa dirusak oleh kekeruhan. Ia tidak didera oleh derita masa lalu serta tidak cemas terhadap masa depan.
Ia hidup tenang dan lapang seraya bersyukur kepada Penciptanya. Jadi, manusia yang tercipta dalam “bentuk terbaik” jika hanya memfokuskan perhatian pada kehidupan dunia semata, maka ia akan jatuh seratus kali jauh lebih rendah daripada hewan meskipun dari sisi modal ia seratus kali lebih tinggi. Hakikat ini telah kujelaskan lewat sebuah perumpamaan yang dimuat dalam bagian lain. Namun di sini aku akan mengutarakannya kembali. Seseorang memberikan uang sebanyak sepuluh koin emas kepada pelayannya. Ia memerintahkan pelayan itu untuk memilih baju dari kain yang paling bagus untuk dirinya. Lalu ia memberikan kepada pelayan yang lain seribu koin emas. Namun selain memberi uang, ia juga memberi daftar kecil berisi sejumlah hal yang harus ia penuhi. Ia memasukkan uang dan daftar tadi ke dalam saku pelayan tersebut. Lalu ia menyuruh mereka pergi ke pasar.
Pelayan pertama membeli sebuah baju yang indah dari bahan yang paling bagus senilai sepuluh koin emas. Sementara pelayan kedua meniru dan mengikuti pelayan pertama. Karena kebodohannya, ia tidak melihat daft ar yang diberikan majikannya. Ia membayarkan seribu koin emas kepada si penjual untuk mendapatkan baju yang bagus. Namun si penjual yang tidak jujur itu memberinya baju yang paling jelek. Nah, ketika pelayan yang malang pulang ke rumah majikan dan berada di hadapannya, ia mendapat teguran dan hukuman yang keras. Orang yang memiliki sedikit kesadaran pun pasti dapat menangkap kalau pelayan kedua yang diberi seribu koin emas tidak disuruh pergi ke pasar untuk membeli baju. Namun ia disuruh pergi ke pasar untuk melakukan perniagaan dalam satu niaga yang sangat penting.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 32-34
*Rahasia Dibalik Pemberian Perangkat Yang Berbeda Antara Manusia dan Hewan*
Demikian halnya dengan manusia yang diberi sejumlah perangkat maknawi dan indra manusiawi yang jika setiap bagiannya dibandingkan dengan apa yang terdapat pada hewan, tentu akan terlihat jelas bahwa peragkat manusia seratus kali lipat lebih luas jangkauannya. Misalnya, mata manusia yang bisa membedakan berbagai jenis tingkat keindahan; daya kecapnya yang bisa membedakan beragam makanan dengan sejumlah cita rasanya; akalnya yang menembus kedalaman hakikat dan detail-detailnya; serta kalbunya yang merindukan semua jenis kesempurnaan. Mana mungkin semua perangkat tersebut dan yang sejenisnya dibandingkan dengan perangkat yang terdapat pada hewan yang sangat sederhana di mana ia hanya bisa menyingkap dua atau tiga tingkatan. Ini tentu saja di luar aktivitas khusus yang terkait dengan perangkat khusus pada hewan tertentu di mana ia melaksanakan pekerjaannya itu dalam bentuk yang bisa jadi mengungguli manusia. Hanya saja hal itu bersifat khusus.
Rahasia mengapa manusia dianugerahi perangkat yang begitu banyak adalah karena indra dan perasaan manusia mendapatkan kekuatan, pertumbuhan, ketersingkapan, dan pembentangan yang lebih banyak lantaran memiliki akal dan pikiran. Karena kebutuhannya banyak, maka muncullah indranya yang sangat beragam. Lalu karena ia memiliki fitrah komprehensif, maka ia menjadi poros dari segala impian dan keinginan. Juga karena banyaknya tugas fitri yang dimiliki, maka perangkatnya juga berkembang dan meluas. Dengan keberadaan fitrah yang disiapkan untuk melakukan berbagai tugas ibadah, manusia diberi potensi yang mencakup seluruh benih kesempurnaan.
Oleh sebab itu, banyaknya perangkat dan besarnya modal manusia tidak mungkin diberikan sedemikian rupa hanya untuk memperoleh kehidupan dunia yang bersifat sementara dan fana. Namun tugas utama manusia adalah bagaimana ia menunaikan tugas-tugasnya yang mengarah kepada tujuan tak bertepi; menampakkan ketidakberdayaan dan kefakirannya di hadapan Allah dalam bentuk ubudiah; melihat tasbih entitas dengan pandangannya yang menyeluruh sehingga bersaksi atasnya; dan mengamati nikmat-nikmat Ilahi yang dianugerahkan pada mereka sehingga bersyukur atasnya; lalu melihat mukjizat qudrah Ilahi pada ciptaan sehingga bertafakkur dengan mengambil pelajaran darinya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 34-35
Demikian halnya dengan manusia yang diberi sejumlah perangkat maknawi dan indra manusiawi yang jika setiap bagiannya dibandingkan dengan apa yang terdapat pada hewan, tentu akan terlihat jelas bahwa peragkat manusia seratus kali lipat lebih luas jangkauannya. Misalnya, mata manusia yang bisa membedakan berbagai jenis tingkat keindahan; daya kecapnya yang bisa membedakan beragam makanan dengan sejumlah cita rasanya; akalnya yang menembus kedalaman hakikat dan detail-detailnya; serta kalbunya yang merindukan semua jenis kesempurnaan. Mana mungkin semua perangkat tersebut dan yang sejenisnya dibandingkan dengan perangkat yang terdapat pada hewan yang sangat sederhana di mana ia hanya bisa menyingkap dua atau tiga tingkatan. Ini tentu saja di luar aktivitas khusus yang terkait dengan perangkat khusus pada hewan tertentu di mana ia melaksanakan pekerjaannya itu dalam bentuk yang bisa jadi mengungguli manusia. Hanya saja hal itu bersifat khusus.
Rahasia mengapa manusia dianugerahi perangkat yang begitu banyak adalah karena indra dan perasaan manusia mendapatkan kekuatan, pertumbuhan, ketersingkapan, dan pembentangan yang lebih banyak lantaran memiliki akal dan pikiran. Karena kebutuhannya banyak, maka muncullah indranya yang sangat beragam. Lalu karena ia memiliki fitrah komprehensif, maka ia menjadi poros dari segala impian dan keinginan. Juga karena banyaknya tugas fitri yang dimiliki, maka perangkatnya juga berkembang dan meluas. Dengan keberadaan fitrah yang disiapkan untuk melakukan berbagai tugas ibadah, manusia diberi potensi yang mencakup seluruh benih kesempurnaan.
Oleh sebab itu, banyaknya perangkat dan besarnya modal manusia tidak mungkin diberikan sedemikian rupa hanya untuk memperoleh kehidupan dunia yang bersifat sementara dan fana. Namun tugas utama manusia adalah bagaimana ia menunaikan tugas-tugasnya yang mengarah kepada tujuan tak bertepi; menampakkan ketidakberdayaan dan kefakirannya di hadapan Allah dalam bentuk ubudiah; melihat tasbih entitas dengan pandangannya yang menyeluruh sehingga bersaksi atasnya; dan mengamati nikmat-nikmat Ilahi yang dianugerahkan pada mereka sehingga bersyukur atasnya; lalu melihat mukjizat qudrah Ilahi pada ciptaan sehingga bertafakkur dengan mengambil pelajaran darinya.
Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 34-35